Tafsir Zhong Yong Bab XI (Luasnya Jalan Suci)
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc
“Jalan Suci seorang Junzi sangat luas guna, dan sangat rahasia hakikatnya.” (Zhong Yong XI:1). Makna: Ayat ini menegaskan dua dimensi Dao, luas (guang 廣) dan rahasia (shen 深).“Luas guna” berarti Dao meliputi semua bidang kehidupan: pribadi, keluarga, masyarakat, negara, bahkan hubungan antara manusia dan Tian (Langit). Seorang Junzi menghayati Dao bukan hanya dalam upacara dan kata-kata, tetapi juga dalam pekerjaan, keputusan, dan sikap hidup sehari-hari. Luas menyangkut spiritual yakni berkaitan dengan dimensi religius (ketuhanan), keimanan, persembahan, pengorbanan atau sesaji. Juga menyangkut dimensi kehidupan modern manusia, teknologi, ilmu pengetahuan dll. Dalam kehidupan modern kita bisa mengenal manajemen modern, maka seorang pemimpin perusahaan itu memiliki Dao nya sendiri, yakni Dao seorang pemimpin atau Dao seorang manajer. Jika kita ingin menjadi profesional katakan ahli memasak, maka ada Dao seorang ahli memasak. Begitulah dikatakan Dao itu sangat luas karena mencakup aspek kehidupan yang sangat luas. “Rahasia hakikatnya” berarti meskipun Dao bisa diterapkan dalam tindakan nyata, hakikat terdalamnya sulit dijangkau oleh akal biasa. Ia tersembunyi dalam batin yang suci dan tenang, sebuah harmoni antara Tian ming (Mandat Langit) dan xing (Watak Sejati). Rahasia hakikatnya juga menyangkut alam gaib, after life dimana manusia tidak mampu menjangkau, bisa juga menyangkut hakikat Ketuhanan yang panca indra manusia tidak bisa menjangkaunya.
Marah-Marah Apa Mabuk Agama ?
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Kata “mabuk” dan “agama” secara makna bertentangan. Mabuk mengarah pada aktivitas tidak baik, setidaknya, dalam norma masyarakat kita. Sebaiknya, agama justru muasal berbagai ajaran kebaikan (Ahmadul Faqih Mahfudz, 09 Mei 2023, Kompas.id). Menurut Mahfudz ungkapan mabuk agama lahir dari ketergesa-gesaan kita dalam menilai, dan semoga tidak dari kesinisan kita pada agama atau kepada kaum agama. Artinya bahwa istilah mabuk agama tidak cocok untuk disampaikan, karena jika seseorang bertindak kriminal, itu bukan karena agama, walau mereka membawa simbol-simbol agama. Kriminalitas itu terjadi karena mereka keliru dalam membaca dan menghayati ajaran agama. Namun demikian dengan banyaknya muncul suatu kasus dilapangan dimana banyak orang yang memakai atribut agama untuk digunakan tindakan yang justru bertentangan dengan nilai agama melalui kekerasan, intoleransi serta tindakan brutal itulah maka istilah “mabuk agama” muncul sebagai bagian dari kritik yang harus diperhatikan bersama. Meskipun istilah mabok agama hanya istilah saja, namun belakangan muncul menjadi istilah yang ramai dibicarakan. Dalam tulisan NU Jateng bahwa : Mabok agama adalah perilaku seseorang dalam mengamalkan ajaran agama secara berlebihan sehingga mengabaikan ilmu dan akal sehat. Mereka beragama tapi tak menyadari makna agama. Salah satu ciri seseorang yang sedang mabuk agama adalah mengesampingkan logika, akal sehat, budi bahkan kemanusiaan untuk melaksanakan agama tanpa mempertimbangkan dampak baik-buruk, benar-salah, bagus-tidak terhadap lingkungan sekitar (Jangan berlebihan dalam beragama,Jumat, 7 Mei 2021, Jateng.nu.or.id)
Harmoni Majikan dan Buruh Untuk Mencapai Kesejahteraan Pandangan Agama Khonghucu
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Hari Buruh (1 Mei) atau Hari Buruh Internasional bukan sekadar hari libur, tetapi memiliki tujuan dan cita-cita, perjuangan panjang kaum pekerja di dunia. Sejarah telah membuktikan bahwa buruh menjadi kaum yang kadang tidak diperlakukan secara adil dimana tenaga dan pikirannya diperas, sementara kesejahteraannya diabaikan. Hal inilah maka hari buruh selalu diperingati sebagai bagian dari upaya memperjuangkan buruh agar hak-haknya diperhatikan dengan sebaik baiknya. Organisasi buruh didirikan dalam rangka membentuk kekuatan dalam memperjuangkan kesejahteraannya. Disisi lain bahwa para pengusaha yang kadang memiliki kepentingan yang bertolak belakang dimana perlunya efektivitas, efisiensi, penekanan biaya agar produksi bisa bersaing dengan perusahaan lain, maka upaya gaji yang murah menjadi tujuan daripada perusahaan untuk menekan biaya. Hal ini banyak perusahaan yang berusaha mencari tempat usahanya pada UMR yang paling rendah. Bahkan sebagian pengusaha memindahkan tempat usahanya di negara-negara yang upahnya rendah dengan kinerjanya yang tinggi. Kedua kepentingan yang berbeda itulah yang harus dicarikan jalan tengahnya agar jangan sampai pengusaha menjadi rugi dan usahanya tidak bisa maju serta para buruh tetap memiliki haknya atas kesejahteraan. Harus ada jalan tengah yang dianggap sebagai keadilan dalam mencapai kesejahteraan bersama.
Tafsir Zhong Yong Bab X (Yang Wajar dan Tekun)
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Nabi bersabda, “ Hidup dalam kerahasiaan dan melakukan perbuatan aneh- aneh agar termasyhur pada zaman mendatang, Aku takkan melakukannya.”(Zhong Yong X : 1). Seorang Junzi yang bertekad hidup di dalam Jalan Suci, tetapi setengah jalan membatalkan tekadnya; bagiku tidak dapat tidak melanjutkannya.” (Zhong Yong X : 2). Seorang Junzi yang dapat terus di dalam Tengah Sem0urna, sekalipun tidak kenal dunia, ia tidak menyesal; hanya seorang Nabi mampu berbuat demikian.”(Zhong Yong X : 3). Tiga ayat Zhong Yong Bab X ini membahas tiga tingkat kematangan moral dan spiritual seorang Junzi (君子) dalam menempuh Dao (道 – Jalan Suci), sekaligus memperlihatkan perbedaan mendasar antara kemuliaan sejati dan pencitraan semu, antara tekad sejati dan setengah hati, serta antara kesempurnaan manusia biasa dan kesempurnaan seorang Nabi (聖人 – Sheng Ren). Berikut penjelasan mendalamnya: 1. “Hidup dalam kerahasiaan dan melakukan perbuatan aneh-aneh agar termasyhur pada zaman mendatang, Aku takkan melakukannya.” (X:1). Mulanya ayat di atas diterjemahkan sebagai perbuatan mujizat agar termasyhur di masa mendatang. Jika itu diartikan perbuatan mukjizat, berarti tindakannya semacam menontonkan kemampuan dirinya yang bisa melakukan tindakan yang tidak bisa dinalar dengan pikiran, diluar pikiran manusia tetapi bisa terjadi. Semacam menyembuhkan suatu penyakit yang secara medis dokter tidak bisa lakukan. Namun belakangan di dalam peterjemahan terbaru (Matakin) disesuaikan dengan mengganti mukjizat dengan “ hidup dalam kerahasiaan.”
Zilu (子路), Nama Asli Zhong You (仲由)
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Tokoh Zilu (子路, nama asli Zhong You 仲由) adalah salah satu murid utama Nabi Kongzi (孔子 / Confucius) yang paling terkenal karena keberanian, ketegasan, dan semangatnya yang tinggi dalam bertindak. Ia sering muncul dalam berbagai bagian Lun Yu (Analek), Zhong Yong, dan Da Xue, terutama ketika pembahasan menyangkut keberanian (勇 yǒng), loyalitas (忠 zhōng), dan pengabdian (義 yì). Berikut penjelasan mendalam tentang sosoknya: Identitas dan Latar Belakang, Nama: 仲由 (Zhong You), bergelar Zilu (子路). Asal: Negeri Bian, wilayah Lu, tempat yang sama dengan Confucius. Umur: Lebih muda sekitar 9 tahun dari Nabi Kongzi. Karakter dasar: Jujur, spontan, gagah berani, dan pekerja keras. Dalam Analek dikatakan: “Zilu berani, namun kadang kurang berhati-hati; Yan Hui bijak, namun sering lembut.” Zilu adalah simbol keberanian “Utara” dalam bab Zhong Yong IX yang Anda kutip. Ia siap mati di medan bahaya tanpa sesal, tetapi kadang emosional dan impulsif. Nabi sering menegur Zilu agar keberaniannya disertai kebijaksanaan (智 zhi) dan kepatutan (禮 li). Contoh dalam Lun Yu XIII:20: “Zilu berani tapi kurang dalam moral; Zengzi berhati lembut tapi teguh dalam moral. Aku lebih memilih Zengzi.” Dengan kata lain, keberanian tanpa moral bisa menjadi nekat. Karena itu, ketika Zilu bertanya tentang keperwiraan dalam Zhong Yong, Nabi justru memaparkan tingkatan keberanian, agar Zilu memahami bahwa berani sejati bukanlah melawan, melainkan bertahan dalam kebenaran dan keselarasan.
Tafsir Zhong Yong Bab IX (Keperwiraan)
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Zilu bertanya hal keperwiraan. Nabi bersabda,” Keperwiraan dari daerah Selatan-kah, keperwiraan dari Utara-kah, atau keperwiraan sejati ?“ Dengan lemah lembut mendidik sesama, tidak membalas perbuatan yang ingkar dari Jalan Suci; itulah keperwiraan dari Selatan yang juga dipegang teguh oleh seorang Junzi.” Rebah dengan tetap mengenakan pakaian perang dan senjata, mati dengan tidak menaruh sesal; itulah keperwiraan dari Utara yang juga dipegang teguh oleh seorang yang gagah berani.” Maka seorang Junzi bersikap harmonis, tidak melanda; betapa perwira ia! Bersikap Tengah dalam pendirian dan tidak goyah, betapa perwira ia ! Negara di dalam Jalan Suci ia tidak mengubah cita-cita, betapa perwira ia! Negara ingkar dari Jalan Suci, sekalipun binasa ia tidak berubah sikap, betapa perwira ia ! (Zhong Yong Bab IX : 1-5, hal 26,27). Makna mendalam Zhong Yong Bab IX:1–5 — tiga wajah “keperwiraan” dan puncaknya pada Junzi. Garis besar: Nabi (Kongzi) membedakan tiga corak keberanian: “Keperwiraan Selatan” (civil courage) — keberanian yang lembut, membina, dan menahan diri. “Keperwiraan Utara” (martial courage) — keberanian fisik yang siap berkorban dalam bahaya. “Keperwiraan sejati” — keberanian moral Junzi: harmonis tanpa menggilas, teguh di Tengah (Zhong), konsisten dalam zaman baik maupun buruk, bahkan hingga berani “membayar” dengan nyawa demi kebenaran. Di bawah ini penjelasan butir-per-butir: 1) Zilu bertanya tentang “keperwiraan” Zilu terkenal berani tapi mudah meledak. Nabi tidak menjawab dengan pujian pada nyali, melainkan mengklasifikasi kualitas keberanian. Artinya: berani itu perlu, tetapi arah dan kadar keberanian harus ditata oleh moralitas dan kebijaksanaan. 2) Tiga kategori: Selatan, Utara, dan “sejati”
Tafsir Zhong Yong Bab VII (Mendekap Tengah Sempurna)
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Ayat Zhong Yong Bab VII:1 ini sangat mendalam dan merupakan refleksi tertinggi dari ajaran Tengah Sempurna (中庸, Zhong Yong) merupakan inti moral, spiritual, dan filosofis dari kehidupan seorang Junzi (君子). Mari kita uraikan maknanya secara mendalam dalam beberapa lapisan: “Negara-negara di dunia dapat dibagi-bagi, kedudukan tinggi dan gaji besar dapat ditolak, mata senjata tajam dapat diinjak-injak, namun hidup dalam Tengah Sempurna belum tentu dapat dilaksanakan.” Secara lahiriah, Nabi menunjukkan bahwa:(1) Ada orang yang berani dan mampu menaklukkan dunia (politik, kekuasaan); (2),Ada yang sanggup menolak kemewahan dan jabatan tinggi (moralitas luhur); (3) Ada pula yang tidak takut pada kematian (keberanian fisik); Namun, menjaga keseimbangan batin, dimana hidup dalam Tengah Sempurna (Zhong Yong) adakah jauh lebih sulit daripada semua itu. Hidup dalam Tengah Sempurna berarti: Tidak berlebih dan tidak kurang dalam segala hal; Menjaga keseimbangan antara perasaan, pikiran, dan tindakan; Selalu selaras dengan prinsip Tian (天, Hukum Langit) tanpa tergelincir oleh emosi, ambisi, atau kepentingan pribadi. Banyak orang bisa ekstrem dalam kebaikan atau keberanian, tetapi sedikit yang bisa tenang dan bijak di tengah dua ekstrim itu. Itulah sebabnya Zhong Yong disebut “Jalan Suci yang sulit dilaksanakan meski diketahui semua orang”. Menolak harta dan jabatan memerlukan keberanian moral. Menginjak mata pedang memerlukan keberanian fisik. Tetapi menaklukkan diri sendiri, emosi, keserakahan, kesombongan, kebencian memerlukan keberanian spiritual yang sejati.
Tafsir Zhong Yong Bab V (Suka Bertanya dan Meneliti) & Bab VI (Jangan Berbangga Pandai)
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc
“Ia suka bertanya dan meneliti kata-kata yang sederhana sekalipun.”Ini menggambarkan kerendahan hati intelektual. Oʻ Raja Shun tidak merasa cukup dengan pengetahuan dan kedudukannya; ia selalu haus akan kebenaran. Ia tidak memandang rendah kata-kata rakyat kecil atau ucapan sederhana, karena ia tahu bahwa hikmat sering tersembunyi di balik hal yang tampak biasa. Dalam ajaran Khonghucu, hal ini menunjukkan sikap Zhong (kesungguhan batin) dan Jing (hormat), yakni kesadaran bahwa belajar dan meneliti kebenaran tidak berhenti pada tingkat sosial atau jabatan. “Yang buruk disembunyikan dan yang baik diluaskan.” Raja Shun tidak menyebarkan aib orang lain, melainkan menonjolkan kebajikan mereka. Ini bukan berarti menutupi kesalahan secara membabi buta, melainkan mengutamakan sisi pembangunan moral daripada penghukuman sosial. Ia menanamkan semangat optimisme moral dan memperluas kebajikan agar rakyat terdorong meniru yang baik, bukan terjebak dalam mencela yang buruk. Inilah De Zheng (kebajikan sebagai dasar pemerintahan). “Dengan mengambil kedua ujung tiap perkara dan menetapkan Tengahnya, ia mengatur rakyat.” Ini inti dari ajaran Zhong Yong (Tengah Sempurna). Shun tidak berpihak pada ekstrem manapun dan tidak pada kerasnya hukum tanpa belas kasih, dan tidak pula pada belas kasih tanpa keadilan. Ia menimbang kedua sisi (dua ujung) suatu perkara, lalu menetapkan titik Tengah Sempurna (中庸 zhōng yōng), yaitu keseimbangan dinamis antara prinsip dan situasi.
Makna Hari 清明 Qingming Bagi Umat Khonghucu
Oleh : Ws.Mulyadi Liang, S.Pd.Ing.,M.Ag.

Inti dari perayaan Qingming adalah pengamalan nyata dari konsep bakti (xiao). Sebagaimana telah kita bahas sebelumnya dari sabda Nabi Kongzi dalam Lunyu II:5.3, bakti tidak berakhir saat orang tua meninggal, tetapi berlanjut dalam bentuk sembahyang dan ziarah. Qingming adalah momen di mana laku bakti pada fase "sembahyangilah sesuai dengan Kesusilaan (Li)" ini dijalankan dengan penuh khidmat . Ini adalah bukti bahwa hubungan anak dan orang tua bersifat abadi, melampaui batas ruang dan waktu. Berziarah dan bersembahyang kepada leluhur adalah perintah agama sebagai wujud laku bakti, karena tanpa mereka, kita tidak akan ada di dunia ini. Seperti ada pepatah yang mengatakan, seumpama meminum air, jangan melupakan sumbernya; seumpama pohon, jangan melupakan akarnya. Qingming mengajarkan umat untuk selalu ingat dari mana mereka berasal, sehingga tidak menjadi pribadi yang "kering" dan kehilangan arah. Ajaran Nabi Kongzi menekankan bahwa esensi dari persembahan bukanlah pada materi atau makanan yang diberikan, melainkan pada ketulusan hati dan rasa hormat. Dalam Kitab Li Ji ditegaskan bahwa meskipun roh yang meninggal tidak memakan sajian tersebut, persembahan itu adalah dorongan dari ketulusan dan rasa hormat di dalam hati.






















































