Seorang Junzi Memuliakan Firman Tian, Orang-Orang Besar dan Sabda Para Nabi
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc
“Seorang Junzi memuliakan tiga hal; memuliakan Firman Tian YME, memuliakan orang-orang besar, dan memuliakan Sabda para Nabi……. (Lun Yu XVI : 8). Ayat Lun Yu XVI:8 berbunyi: 君子有三畏:畏天命,畏大人,畏圣人之言。 “Seorang Junzi memuliakan tiga hal: memuliakan Firman Tian Yang Maha Esa, memuliakan orang-orang besar, dan memuliakan sabda para Nabi.” Ayat ini adalah salah satu inti ajaran Konfusius tentang kerendahan hati, kesadaran kosmis, dan penghormatan pada sumber kebenaran. Mari kita uraikan maknanya secara mendalam: 1. 畏天命 (wèi tiānmìng) — Memuliakan Firman Tian (Mandat Langit) “Tian Ming” (天命) berarti Mandat Langit atau ketetapan Tian (Tuhan Yang Maha Esa) atas tatanan alam semesta dan kehidupan manusia. Bagi seorang Junzi (君子), kesadaran bahwa ada kekuatan lebih tinggi yang mengatur segala sesuatu menjadikannya rendah hati, tidak congkak, dan penuh rasa hormat terhadap kehidupan. Makna mendalamnya: Ia menyadari bahwa hidup, bakat, dan kedudukan bukan hasil usahanya semata, tetapi juga bagian dari kehendak Tian. Ia tidak menentang hukum alam dan moral universal, melainkan hidup selaras dengan Dao (道) — Jalan Suci yang ditetapkan Tian. Ia tidak bertindak sewenang-wenang, sebab ia tahu segala perbuatannya berada di bawah pengawasan langit. Contoh nyata: seorang pemimpin Junzi tidak arogan atas kekuasaan; ia memandang jabatannya sebagai amanah yang harus dijalankan untuk kebaikan rakyat sesuai kehendak Tian.
Junzi Menolong Yang Membutuhkan
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Nabi bersabda,” Apa yang telah dengar, seorang Junzi menolong kepada yang membutuhkan dan tidak memupuk harta bagi yang telah kaya.” (Lun Yu VI : 4, 2 hal 80). Ayat Lun Yu VI:4,2 ini berbunyi: 「君子周急,不繼富。」"Apa yang telah didengar, seorang Junzi menolong kepada yang membutuhkan dan tidak memupuk harta bagi yang telah kaya.” Mari kita telaah maknanya secara mendalam: 1. Hakikat Perbuatan Junzi: Menolong Sesuai Kebutuhan. Kata 周急 (zhōu jí) berarti “membantu yang dalam kesulitan” atau “menolong yang sedang membutuhkan.” Seorang Junzi (君子) — insan luhur berwatak mulia — tidak berpangku tangan melihat penderitaan orang lain. Ia tanggap terhadap kebutuhan sesama, menolong bukan demi pamrih, tetapi karena dorongan Ren (仁 – cinta kasih) dan Yi (義 – kebenaran). Artinya, Junzi menggunakan kekuatannya (baik harta, ilmu, atau pengaruh) untuk meringankan beban orang yang lemah, bukan untuk mencari keuntungan pribadi. 2. “Tidak Memupuk Harta bagi yang Telah Kaya” Frasa 不繼富 (bù jì fù) berarti “tidak menambah kekayaan bagi yang sudah kaya.” Maksudnya, Junzi tidak memperkuat posisi orang yang sudah berlimpah harta dan kuasa hanya demi keuntungan pribadi atau hubungan politik. Ia tahu prioritas keadilan sosial: yang lemah perlu ditopang, bukan yang kuat ditambah kekuatannya. Ini mengandung kritik moral: jika seseorang mengabaikan yang miskin tetapi sibuk menyenangkan yang kaya, ia telah melenceng dari jalan kebajikan. Junzi justru menjaga keseimbangan sosial (中庸 Zhong Yong) dengan berpihak pada yang membutuhkan.
Junzi Melaksanakan Pekerjaan Besar
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc
Ayat Lun Yu XV:34 ini adalah salah satu ajaran penting tentang perbedaan kualitas dan kapasitas antara seorang Junzi (君子 – manusia luhur) dan seorang Xiao Ren (小人 – manusia rendah budi). Berikut penjelasan makna terdalamnya: 1. Arti Harfiah dan Makna Umum 「君子可小知也,不可小使也。小人可小使也,不可大任也。」“Seorang Junzi mungkin tidak dapat terkenal dalam perkara-perkara kecil, tetapi dapat diberi beban melaksanakan perkara besar. Seorang rendah budi tidak dapat diberi beban melaksanakan perkara besar, tetapi mungkin dapat terkenal dalam perkara-perkara kecil.” Secara sederhana, ayat ini menunjukkan perbedaan orientasi, kapasitas, dan tanggung jawab antara dua tipe manusia: Junzi tidak selalu menonjol dalam urusan kecil atau teknis, tetapi memiliki kapasitas moral dan batin untuk memikul tanggung jawab besar. Sementara Xiao Ren sebaliknya: mereka mungkin terlihat cakap dalam hal-hal kecil dan teknis, tetapi tidak memiliki kedalaman watak untuk mengemban tanggung jawab besar. 2. Fokus Junzi: Visi Besar dan Tanggung Jawab Luhur Seorang Junzi tidak diukur dari kemampuannya menyelesaikan urusan kecil yang remeh, melainkan dari kemampuannya menjaga prinsip dan menyelesaikan tanggung jawab besar yang berdampak luas. Hal-hal kecil mungkin bukan keunggulannya karena: Ia tidak mencari ketenaran dari detail kecil, melainkan berfokus pada arah dan tujuan jangka panjang. Ia berpikir strategis dan prinsipil, melihat kaitan setiap tindakan kecil terhadap Dao (道 – jalan benar) dan misi besar. Ia menjaga moralitas dan integritas, sehingga tidak terseret dalam ambisi kecil atau permainan dangkal.
Junzi Mempelajari Yang Lama, Mampu Mengaplikasikan Yang Baru
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Ayat dari Lun Yu XXVI:6 ini adalah salah satu penggambaran paling luhur tentang hakikat seorang Junzi (君子) yakni manusia yang berjiwa besar, berakhlak tinggi, dan menjadi teladan dalam peradaban. Ucapan Nabi ini menyampaikan bahwa menjadi Junzi bukan hanya soal moralitas dangkal, melainkan perjalanan batin yang menyeluruh: dari mengenal Watak Sejati (性 Xing) hingga mencapai Tengah Sempurna (中 Zhong). Berikut penjelasan mendalamnya langkah demi langkah: 1. Memuliakan Kebajikan Watak Sejati (性德) Sebagai dasar dari Junzi. “Maka seorang Junzi memuliakan Kebajikan Watak Sejatinya…” Watak Sejati (性 Xing) adalah kodrat moral yang diberikan oleh Tian (天 – Langit) kepada manusia sejak lahir , seperti benih kebajikan yang tertanam dalam diri. Memuliakan watak sejati berarti: Menyadari bahwa di dalam diri setiap manusia sudah tertanam benih Ren (仁 – cinta kasih), Yi (义 – kebenaran), Li (礼 – kesusilaan), Zhi (智 – kebijaksanaan), dan Xin (信 – dapat dipercaya). Mengembangkan benih-benih itu melalui pembinaan diri (xiū shēn 修身) agar tumbuh menjadi karakter yang luhur. Tidak mengkhianati kodrat kemanusiaannya demi hawa nafsu atau kepentingan rendah. Makna mendalam: Junzi tidak berusaha menjadi orang lain, tetapi menyempurnakan potensi moral yang sudah ada dalam dirinya. Inilah awal dari segala kebijaksanaan. 2. Suka Bertanya dan Rendah Hati adalah Jalan Menuju Pengetahuan Sejati “…dan menjalankan sifat suka bertanya.” Seorang Junzi tidak sombong dengan pengetahuan yang dimilikinya. Ia selalu haus belajar, bersedia bertanya bahkan tentang hal-hal yang tampak sederhana.
Iman, Pembinaan diri dan Kepalsuan dalam Pandangan Khonghucu
Oleh : Gwyneth Sharon

Dalam Konfusianisme, xing (性) bukan sekadar sifat psikologis, melainkan kodrat moral yang berasal dari Tian (天). Karena itu, segala praktik yang mampu menenangkan, menjernihkan, dan menyelaraskan batin akan berdampak langsung pada manifestasi watak sejati tersebut. 敬坐 (jing zuo) berfungsi sebagai disiplin internal yang menenangkan pikiran dan mengarahkan kesadaran pada kejernihan moral. Dalam praktik ini, seseorang tidak “mengosongkan diri” secara pasif, tetapi menjaga sikap hormat (jing, 敬) yang sadar, sehingga hati terbebas dari gangguan nafsu dan bias. Ketika batin menjadi tenang, xing tidak lagi tertutup, melainkan mulai tampak dalam bentuk kejernihan hati nurani (良知). Dengan demikian, “mengaktifkan iman” di sini bukan melalui sugesti emosional, tetapi melalui pemurnian kesadaran moral. Di sisi lain, musik dalam tradisi Confucius memiliki fungsi etis yang sangat penting. Musik (樂 / yue) dipandang sebagai sarana untuk menata emosi dan menyelaraskan perasaan manusia dengan harmoni kosmos. Musik yang benar tidak sekadar menghibur, tetapi membentuk karakter—melembutkan hati, menyeimbangkan emosi, dan mengarahkan manusia pada kebajikan. Karena itu, musik rohani atau musik yang bernilai luhur dapat menjadi medium yang “menggerakkan” xing, dalam arti membangkitkan resonansi moral yang sudah ada dalam diri manusia. Adapun praktik doa, jika dipahami dalam konteks Khonghucu, bukan terutama permohonan supranatural, melainkan ekspresi kesadaran dan komunikasi batin dengan Tian. Doa membantu memfokuskan niat (誠意) dan meneguhkan orientasi moral, sehingga hati menjadi lebih peka terhadap kebenaran. Dalam kondisi ini, xing “meraga keluar” bukan dalam arti mistis, tetapi dalam arti termanifestasi dalam kesadaran dan tindakan nyata.
Junzi Membina Diri, Memberi Sentosa Kepada Orang Lain, Memberi Sentosa Kepada Segenap Rakyat
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc
Ayat dari Lun Yu XIV:42 ini menggambarkan tahapan perkembangan moral dan sosial seorang Junzi (君子), yaitu manusia luhur yang membina diri bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi terus memperluas pengaruh kebajikannya bagi masyarakat dan dunia. Penjelasan mendalamnya dapat diuraikan sebagai berikut: “Ia membina dirinya dengan penuh hormat.” Tahap pertama dari kehidupan seorang Junzi adalah perbaikan dan pembinaan diri sendiri (修身 xiū shēn). “Penuh hormat” (敬 jìng) berarti ia menjaga diri dalam sikap, ucapan, dan tindakan, tidak sembrono, tidak ceroboh, selalu sadar akan nilai moral dan norma. Ia menghormati Tian (天 – Kehendak Langit), menghormati orang tua, guru, sesama manusia, dan bahkan dirinya sendiri. Ini mencakup pembinaan Ren (仁 – cinta kasih), Yi (义 – kebenaran), Li (礼 – kesusilaan), Zhi (智 – kebijaksanaan), dan Xin (信 – dapat dipercaya) dalam dirinya. Maknanya: Tidak ada kebajikan yang bisa ditularkan kepada dunia sebelum seseorang mampu menguasai dirinya sendiri. Seperti air yang tenang memantulkan bayangan, diri yang tertata menjadi sumber ketertiban bagi sekitar. “Setelah dapat berbuat demikian lalu bagaimana?” “Ia membina dirinya untuk memberi sentosa kepada orang lain.” Setelah dirinya tertata, seorang Junzi tidak berhenti pada kesempurnaan pribadi. Ia melangkah ke tahap berikutnya: menjadikan keberadaannya bermanfaat bagi orang lain, bagi keluarga, sahabat, tetangga, dan orang-orang di sekitarnya. “Memberi sentosa” berarti menghadirkan ketenangan, ketenteraman, dan kesejahteraan batin maupun lahir.
After Life, Kehadiran Tuhan dan Liang Zhi dalam Agama Khonghucu
Oleh : Gwyneth Sharon

Dalam agama Khonghucu, konsep kehidupan setelah mati (after life) bukan sesuatu yang ditolak atau diabaikan, melainkan ditempatkan sebagai rahasia Tuhan (Tian Li) yang tidak wajib diperdebatkan manusia. Fokus utama ajaran Khonghucu bukan pada kemewahan detail afterlife, melainkan pada kualitas hidup saat ini sebagai persiapan menuju kematian dan kehidupan selanjutnya. Pendekatan ini bersifat strategis dan bijaksana — bukan karena tidak percaya afterlife, melainkan karena memahami bahwa tanpa membenahi hidup sekarang, pembicaraan tentang afterlife menjadi sia-sia. "Sebelum mengenal hidup, bagaimana mau mengenal hal sesudah mati?" — Lun Yu XI:12. Sabda Nabi di atas sering disalahpahami sebagai penolakan terhadap konsep afterlife. Namun Tu Weiming (2013:9) memberikan bantahan tegas: ayat ini bukan penolakan terhadap afterlife, melainkan pernyataan bahwa mengetahui hidup adalah prakondisi untuk mengetahui kematian. Khonghucu tidak menolak afterlife — beliau meletakkan masalah tersebut dalam 'kesakralan tak terukur' (知止於神明不測之中 -Mengetahui batas di dalam ranah yang tak terukur dari yang ilahi). Inilah sikap ketiga yang bijaksana: antara menganggap orang mati sepenuhnya musnah (tidak berperi Cinta Kasih) dengan memperlakukan orang mati seolah masih hidup sepenuhnya (tidak bijaksana).
Perempuan dalam Cahaya Ajaran Khonghucu: Merayakan Hari Kartini 2026
Oleh : Afat,S.Pd

Perempuan dalam Cahaya Ajaran Khonghucu: Merayakan Hari Kartini 2026 Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai penghormatan kepada Raden Ajeng Kartini, sosok perempuan yang memperjuangkan kesetaraan dan pendidikan. Namun jauh sebelum Kartini lahir, peradaban Tiongkok yang dilandasi ajaran Khonghucu telah melahirkan perempuan-perempuan luar biasa yang menjadi teladan sepanjang zaman. Semangat mereka bukan sekadar catatan sejarah, melainkan cahaya yang terus menerangi kehidupan keluarga, masyarakat, dan bangsa. Dalam ajaran Khonghucu atau Ru Jiao (儒教, Rú Jiào), perempuan menempati kedudukan yang mulia sebagai penjaga nilai-nilai kemanusiaan di dalam rumah tangga. Kitab Liji (禮記, Lǐjì) mengajarkan bahwa perempuan adalah tiang moral keluarga, sebab dari tangan perempuanlah karakter generasi penerus pertama kali dibentuk. Konsep Ren (仁, Rén) atau cinta kasih yang menjadi inti ajaran Khonghucu justru pertama kali dialami seorang anak melalui kasih sayang seorang ibu. Kongzi (孔子, Kǒngzǐ) sendiri sangat menghormati ibunya, Yan Zheng Zai (顏徵在, Yán Zhēng Zài). Beliau adalah contoh nyata bagaimana seorang perempuan mampu mendidik seseorang yang kelak mengubah wajah peradaban dunia. Ajaran Khonghucu tidak menempatkan perempuan sebagai makhluk lemah, melainkan sebagai kekuatan moral yang mengakar kuat di dalam keluarga dan masyarakat. Dalam agama Khonghucu, kedudukan nabi tidak hanya disandang oleh kaum laki-laki.
Hari Kartini, Ws. Liem Lontoh: Perempuan Khonghucu Harus Tangguh Rawat Bangsa dengan Wu Lun & Ba De
Oleh : Ws. Liem Liliany Lontoh, S.Pd., S.E., M.Ag.

Jakarta, SPOC Journal – Peringatan Hari Kartini 21 April menjadi refleksi bagi Ws. Liem Liliany Lontoh, S.Pd., S.E., M.Ag. tentang kekuatan perempuan yang beragam. Menurut rohaniwan Khonghucu ini, setiap perempuan punya talenta berbeda, tapi pendidikan adalah kunci untuk mengasahnya.“Perempuan itu unik. Ada yang talentanya mengajar, ada yang pandai berdagang, ada yang ahli merawat, ada yang kuat di organisasi, dan lain-lain. Kartini mengajarkan satu hal: semua talenta itu hanya bersinar kalau perempuan diberi pendidikan,” ujar Ws. Liem, Senin (21/04/2026). Ws. Liem tercatat pernah menjadi pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jakarta Barat dan pengurus FKUB Provinsi DKI Jakarta pada periode sebelumnya. Di tingkat nasional, ia menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi FKUB Indonesia (AFKUBI) sejak periode sebelumnya hingga saat ini. Di dunia akademik, Ws. Liem aktif sebagai dosen di Sekolah Tinggi Khonghucu Indonesia (STIKIN). Ia juga turut memperkenalkan Sekolah Tinggi Agama Khonghucu Negeri (SETIAKIN) Pangkal Pinang sebagai kampus negeri pertama agama Khonghucu. Di STIKIN, ia mengampu Tata Ibadah Agama Khonghucu 1 & 2 serta Moderasi Beragama, dan merupakan lulusan Program Moderasi Beragama Tingkat Nasional. “Bagi saya, xiushen atau membina diri itu wajib bagi perempuan. Mau talentanya di dapur, di kelas, atau di meja sidang FKUB, semua butuh ilmu. Wu Lun (五伦) adalah lima landasan hubungan sosial yang teratur dan harmonis, pedoman etika dalam berkeluarga, bermasyarakat, hingga bernegara.






















































