Lebih Dekat dengan Kardinal Suharyo
Oleh : Ws. Liem Liliany Lontoh, S.Pd., S.E., M.Ag.

Surabaya, Spocjournal. Wawancara dengan WS. Liem Liliany Lontoh, S.Pd., S.E., M.Ag. pada Selasa 25 November 2025. Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, Uskup Agung Jakarta, telah menjadi sosok penting dalam Gereja Katolik Indonesia. Lahir pada 9 Juli 1950 di Sedayu, Bantul, Yogyakarta, Kardinal Suharyo memiliki latar belakang keluarga yang kuat dalam iman Katolik. Ia merupakan anak ketujuh dari sepuluh bersaudara, dengan satu saudara laki-laki yang menjadi biarawan dan dua saudara perempuan yang menjadi biarawati. Kardinal Suharyo memulai panggilannya sebagai imam sejak usia 11 tahun dengan memasuki Seminari Menengah Santo Petrus Canisius di Mertoyudan. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan filsafat dan teologi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Ia kemudian melanjutkan studi ke Pontifical Urbaniana University di Roma, memperoleh gelar lisensiat (1979) dan doktor (1981) dalam bidang Kitab Suci. Kardinal Suharyo ditahbiskan menjadi imam pada 26 Januari 1976 oleh Kardinal Justinus Darmojuwono. Selain tugas formasi, ia juga menjalani tugas-tugas akademik, termasuk menjadi Kepala Departemen Filsafat dan Sosiologi di Universitas Sanata Dharma. Pada 21 April 1997, ia diangkat sebagai Uskup Agung Semarang oleh Paus Yohanes Paulus II. Pada 2009, ia diangkat menjadi Uskup Agung Koajutor Jakarta dan memimpin Ordinariat Militer Indonesia (Keuskupan TNI/Polri) sejak 2006.
Ji Kang Zi (季康子) (Bangsawan)
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Dalam Kitab Lun Yu (Analek Konfusius), tokoh Ji Kang Zi (季康子) adalah salah seorang kepala keluarga besar bangsawan klan Ji (季氏) di Negara Lu (鲁国), negeri tempat Kongzi (孔子, Confucius) lahir dan mengajar. Nama aslinya: Ji Kang Zi (季康子, kadang disebut Ji Kang, nama keluarga Ji). Ia adalah keturunan dari keluarga bangsawan Ji Sun (季孙氏), salah satu dari tiga keluarga besar yang sangat berkuasa di Negara Lu, sehingga sering melebihi kekuasaan raja (gōng 公) sendiri.Dalam Lun Yu, Ji Kang Zi sering digambarkan sebagai tokoh yang datang bertanya kepada Kongzi tentang pemerintahan, kebajikan, dan cara mengatur rakyat.Ji Kang Zi bertanya, : Bagaimanakah agar rakyat mau bersikap Hormat, Satya dan bersedia menerima nasehat-nasehat ?” Nabi menjawab,” Hadapilah mereka dengan keluhuran budi, niscaya mereka bersikap Hormat. Teladanilah dengan sikap Bakti dan Kasih Sayang, niscaya mereka akan bersikap Satya. Angkatlah orang-orang yang baik untuk mendidik yang belum mengerti, niscaya mereka mau menerima nasehat-nasehat.” (Lun Yu II : 20, hal 61) Berikut makna terdalam Lun Yu II:20 (Ji Kangzi) dan terjemah praktik modernnya singkat tapi menyeluruh. a) “Hadapilah dengan keluhuran budi (德 dé)” maka akan lahir hormat (敬 jìng). Wibawa moral membawa adil, konsisten, rendah hati akan menumbuhkan legitimasi.
Khonghucu Lebih Menekankan De dan Li Dalam Memperkuat Hukum
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Kongzi (551–479 SM) pernah menjabat sebagai 大司寇 (Da Sikou) yaitu Menteri Hukum / Menteri Kehakiman di Negara Lu (鲁国). Melengkapi penjelasan tentang masa jabatan Kongzi (Confucius) sebagai 大司寇 (Da Sikou, Menteri Hukum/ Menteri Kehakiman) di Negeri Lu (鲁国). Dalam posisinya ini, ia juga sempat merangkap menjadi Perdana Menteri (宰相) untuk waktu tertentu. Masa jabatannya tidak lama (hanya sekitar 3 tahun), tetapi banyak catatan bahwa negeri Lu sempat menjadi lebih tertib dan damai. Artinya sejak Nabi Kongzi menjabat, beliau telah menerapkan metode yang diajarkan dan berhasil. Metode itu adalah melalui edukasi kepada masyarakat pentingnya menerapkan etika kebajikan kepada masyarakat. Jadi masyarakat perlu dididik agar memiliki kesadaran hukum sehingga tidak sampai melanggar hukum. Sementara Kedudukan Kongzi sebagai 大司寇 (Da Sikou) dimana Da Sikou (大司寇) adalah jabatan tinggi dalam pemerintahan Tiongkok Kuno, biasanya berarti Menteri Hukum atau Menteri Kehakiman. Kongzi diangkat oleh penguasa Lu Ding Gong 鲁定公 (Duke Ding of Lu, memerintah 509–495 SM). Menurut catatan sejarah, Kongzi memegang jabatan ini sekitar tahun 501 SM, ketika usianya kurang lebih 50 tahun. Peran dan Kebijakan Kongzi sebagai Da Sikou, Kongzi bukan hanya mengurusi hukum, tetapi juga terlibat dalam administrasi negara. Karena kedudukannya yang sangat penting, ia bahkan sempat merangkap peran sebagai Perdana Menteri (宰相, Zai Xiang).
Pandangan Pemikiran Modern Lin Wenqing dan Pandangan Klasik Xs.Tjhie Tjay Ing Tentang Konfusianisme
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Lin Wenqing (林文庆, 1869–1957) dalam pemikiran modern Konfusianisme serta kaitannya dengan perkembangan modernisasi. Dari latar belakang Lin Wenqing sebagai tokoh Tionghoa modern awal yang dikenal sebagai dokter, intelektual, dan pembaharu pendidikan.Beliau aktif dalam pergerakan kebudayaan Tiongkok di Asia Tenggara, khususnya Singapura, dan berperan dalam mempertahankan nilai-nilai Konfusianisme di tengah arus modernisasi, kolonialisme Barat, serta kebangkitan nasionalisme Tionghoa. Dalam dunia medis ia dikenal sebagai dokter, tetapi dalam dunia intelektual ia dianggap sebagai salah satu pelopor revitalisasi Konfusianisme di Asia Tenggara. Inti Pandangan Lin Wenqing tentang Konfusianisme sebagai Fondasi Moral Bangsa. (1) Menurut Lin, ajaran Khonghucu bukan sekadar tradisi kuno, melainkan fondasi moral dan etika yang diperlukan untuk membangun masyarakat modern. Ia menekankan lima kebajikan utama (ren 仁, yi 義, li 禮, zhi 智, xin 信) sebagai pilar pendidikan moral.(2) Konfusianisme dan Modernisasi. Lin tidak menolak ilmu pengetahuan Barat, tetapi menekankan pentingnya integrasi ilmu modern dengan nilai-nilai etika Konfusianisme. Modernisasi tanpa moral dianggap berbahaya, karena akan menghasilkan masyarakat materialistis tanpa arah. Pendidikan sebagai Jalan Pembaruan, baginya, pendidikan adalah kunci untuk membentuk “Junzi modern” (君子), yakni manusia berpengetahuan sekaligus bermoral. Lin mendorong reformasi sekolah Tionghoa di Asia Tenggara dengan memasukkan pelajaran klasik Konfusius sekaligus sains modern. Berkaitan dengan pembangunan dan perkembangan Konfusianisme menurut Lin reformasi Kurikulum Sekolah Tionghoa: ia mendorong agar teks klasik seperti Lun Yu (Analek) dan Da Xue (Pembelajaran Besar) tetap diajarkan di sekolah, namun sejalan dengan pelajaran modern. Gerakan Sosial Konfusianisme: Lin mendukung pendirian perkumpulan-perkumpulan Konfusianisme yang menghidupkan kembali ritual, studi teks klasik, dan diskusi etika.
Kerangka Berpikir Yin Yang
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc

Berpikir Yin-Yang (陰陽思維) adalah cara pandang khas filsafat Tiongkok khususnya Khonghucu yang berakar pada Yi Jing (Kitab Perubahan). Yin dan Yang bukanlah dua hal yang mutlak bertentangan, melainkan dua aspek yang saling melengkapi, berubah, dan menyeimbangkan. Maka, berpikir Yin-Yang bukan berpikir hitam–putih (binary/absolut), melainkan: (1) Dinamis yakni melihat perubahan, bukan keadaan statis.(2) Relasional yakni sesuatu bermakna karena hubungannya dengan yang lain.(3) Komplementer yakni lawan bukan musuh, tapi pasangan yang saling mengisi(Ongky, Manajemen Strategi, Jadikanlah Pesaing Menjadi Mitra Kerja). Dalam berpikir Yin-Yang bahwa : Sesuatu bisa benar dan salah tergantung konteks. Prinsip Yin-Yang: Relatif & Kontekstual. Dalam cara berpikir Yin-Yang, tidak ada sesuatu yang mutlak benar atau mutlak salah. Benar dan salah dipahami secara relatif, bergantung pada waktu, tempat, dan situasi. Apa yang benar di satu konteks bisa salah di konteks lain, dan sebaliknya. Contoh dalam Kehidupan(1) Ucapan jujur vs bijaksana. Benar secara moral: selalu berkata jujur. Tapi dalam konteks: bila kejujuran menyakiti hati seseorang yang sedang rapuh, kadang lebih bijak menunda atau mengemas kebenaran itu. Yin-Yang melihat: kebenaran bisa sekaligus benar (jujur) dan salah (menyakiti), tergantung konteks. (2)Keras vs lembut dalam kepemimpinan. Seorang pemimpin keras bisa benar saat menghadapi krisis (tegas, cepat). Tapi salah jika menghadapi tim yang sedang butuh motivasi dan dukungan. Benar salahnya bergantung pada konteks situasi.
Guan Zhong (管仲) (Perdana Menteri Dibicarakan Nabi Kongzi)
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc.

Guan Zhong (管仲, Guǎn Zhòng) memang disebut dalam Lun Yu (Analek). Ia bukan murid Kongzi, melainkan seorang tokoh besar dari periode sebelumnya. Guan Zhong (管仲), nama kehormatan Yizhong (夷仲). Masa hidup: ± 720–645 SM, jauh sebelum Kongzi (551–479 SM).Kedudukan: Ia adalah perdana menteri (宰相 zǎixiàng) dari Negara Qi (齐国).Peran sejarah: Di bawah kepemimpinannya, Qi Huan Gong (齐桓公) menjadi salah satu Hegemon (霸主 bàzhǔ) pada masa Dinasti Zhou Timur. Guan Zhong dianggap sebagai negarawan, reformis ekonomi, dan perancang sistem hukum serta administrasi yang membuat Qi makmur. Kongzi menyinggung Guan Zhong dalam beberapa pasal, di antaranya: Nabi bersabda,” Sesungguhnya sangat kecil kepribadian Guan Zhong.” (Lun Yu III: 22, hal 67).2.Ada orang bertanya,” Bukanlah itu disebabkan Guan Zhong sangat hemat?” Nabi menjawab,” Guan Zhong mempunyai panggung San Gui, dan mempunyai banyak pegawai yang khusus mengerjakan satu tugas saja.Bagaimanakah ia dapat dikatakan hemat? 3.” Tetapi bukankah itu menunjukkan Guan Zhong banyak mengerti Kesusilaan?” Nabi menjawab pula, “ Para raja muda membangun tembok di muka pintu gerbang istananya. Guan Zhong juga membangun tembok di muka pintu rumahnya. Para raja membangun panggung untuk menerima raja muda lain yang datang berkunjung ke istananya, Guan Zhong membangunnya berkunjung ke istananya, Guan Zhong membangunnya juga. Maka Guan Zhong dikatakan mengerti Kesusilaan, siapakah yang tidak mengerti Kesusilaan “(Lun Yu III : 22, hal 67). Baik, mari kita bahas secara rinci makna dari sabda Nabi Kongzi (Lun Yu III:22) mengenai Guan Zhong (管仲).
Nan Rong (南容) Murid Biasa Nabi Kongzi (Menantu-kongzi-menantu-kakak-nabi-kongzi Kakak Nabi Kongzi)
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc.

Nan Rong (南容), nama pribadinya Nan Gong Kuo (南宮适), masa hidup: Sekitar abad ke-6 SM – abad ke-5 SM, sejaman dengan Nabi Kongzi (551–479 SM). Nan Rong adalah salah satu murid Nabi Kongzi (孔子) yang tercatat dalam Lun Yu (Analek). Ia dikenal sebagai murid yang berbudi baik dan berperilaku halus. Karena kebajikannya, Konfusius (Nabi Kongzi) menikahkan salah satu keponakannya (putri dari saudara perempuan Kongzi) dengan Nan Rong.Ia termasuk murid yang memiliki reputasi moral tinggi, walaupun bukan bagian dari “Sepuluh Orang Bijak Utama” (十大弟子) tetapi tetap dihormati (sebagai murid biasa Nabi Kongzi).Beliau termasuk dalam 72 murid Nabi yang bijaksana. Meski demikian Nan Rong adalah murid Kongzi yang terkenal karena kesopanannya, keutamaan moralnya, dan sikapnya yang rendah hati. Meskipun nama Nan Rong hanya disebut dua kali dalam Kitab Lun Yu, namun Nan Rong telah memberikan pelajaran yang berarti bagi kita semua. Jika kita bedah panjang-lebar maksud dari dua kutipan yang Anda sebutkan tentang Nan Rong (南容) dalam Lun Yu (Analek)diatas, teks yang dimaksud Lun Yu V:2 (Gongye Chang 公冶長篇第二章) 子謂南容:「邦有道,不廢;邦無道,免於刑戮。」以其兄之子妻之。Terjemahan: Nabi bersabda tentang Nan Rong: “Jika suatu negeri berjalan di atas Dao (Jalan Suci), ia tidak akan tersisih; jika negeri tidak berada di atas Dao, ia tetap akan terhindar dari hukuman.”Maka Nabi menikahkan keponakannya (anak dari kakaknya) dengan dia.
Tokoh Lin Fang (林放) (Dari Menerapkan Li Menuju He)
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc.

Tokoh Lin Fang (林放) adalah salah seorang murid Nabi Kongzi (孔子, Konfusius) yang disebut dalam Lun Yu (Analek).Nama: Lin Fang (林放).Hidup sezaman dengan Kongzi (551–479 SM).Peran: Murid Kongzi, penanya dalam Lun Yu tentang esensi ritual (li). Sumbangsih: Memunculkan penjelasan Kongzi yang menjadi salah satu prinsip utama Ru Jiao, yaitu kesederhanaan dan ketulusan dalam adat kesusilaan. Lin Fang bukan termasuk 12 murid utama (shi er zhe 十二哲) yang paling menonjol dalam kebajikan tertentu, melainkan masuk dalam kelompok murid lain dari jumlah besar (disebut “72 murid terkemuka” atau bahkan lebih dari 3.000 murid menurut tradisi). Dalam Lun Yu, ia muncul sebagai murid yang bertanya mengenai dasar pokok dari kesusilaan (礼 li). Lin Fang digambarkan sebagai orang yang suka bertanya hal-hal mendasar. Meskipun tidak seterkenal Zi Gong, Zi Lu, atau Yan Hui, ia menunjukkan sisi pemikiran filosofis: menekankan bahwa yang penting dari ritual adalah kesungguhan hati dan makna moral, bukan sekadar kemewahan bentuk. Kalau boleh diartikan bahwa dalam ritual adalah “ niat baik” nya. "Lin Fang bertanya tentang pokok utama dalam tata krama. Nabi bersabda: ‘Suatu pokok yang penting! Dalam tata krama, yang utama ialah keselarasan. Jalan para Raja terdahulu yang indah, kecil atau besar, semuanya bersumber pada hal itu. Tetapi, apabila segala sesuatu hanya dikerjakan untuk mencari keselarasan, tanpa diatur oleh tata krama, itu tidak dapat dilaksanakan.’” Lin Fang bertanya tentang Pokok Kesusilaan .2.Nabi menjawab,”:Sungguh sebuah pertanyaan besar !” 3. Di dalam upacara, daripada mewah menyolok, lebih baik sederhana, di dalam upacara duka , daripada meributkan perlengkapan upacara, lebih baik ada rasa sedih yang benar” (Versi Matakin, Lun Yu III : 4, hal 63).
Empat Pantangan Untuk Memotivasi Hidup
Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, S.Pd., SH., SE., MM., MBA., MSc.

Dalam hidup ini jangan pernah berkata itu tidak mungkin, jangan pernah berkata saya tidak bisa, jangan pernah berkata saya sudah tahu, dan jangan pernah berkata Nanti saja (Dr.Ongky SK). Bahwa motivasi segalanya mungkin bisa terjadi, segalanya bisa dijalani, segalanya jangan menganggap pandai, dan segalanya jangan menunda. Hanya dengan orang yang memperhatikan empat di atas, akan menjadi orang sukses dalam kehidupan di dunia ini. Suatu kemungkinan itu pasti ada di dalam ketidak mungkinan. Jika kita berpikir Yin Yang maka tidak ada kata kata tidak mungkin. Di dalam ketidakmungkinan itu ada suatu kemungkinan. Jika kita telah berkata tidak mungkin maka sama saja kita tidak meyakini keajaiban keajaiban atau pengalaman spiritual. Sama saja kita telah meremehkan keberadaan Tuhan yang Maha Segalanya. Disisi lain kita telah menutup segala upaya dengan putus asa , padahal ada kemungkinan yang bisa kita raih dari kondisi yang sulit itu. Penjelasan dari pandangan dan ajaran Khonghucu (Ru Jiao) terhadap pernyataan “Jangan pernah berkata itu tidak mungkin” dapat diuraikan dari aspek filsafat moral, metafisika (Tian dan Dao), dan pembinaan diri (Xiushen 修身) sebagai berikut: Dalam ajaran Khonghucu, segala sesuatu di alam semesta bersumber dari Tian (天, Tuhan Yang Maha Esa dan berjalan sesuai dengan Dao (道). Jalan Kebenaran yang menyelaraskan segala hal. Dalam kitab Zhong Yong (Doktrin Tengah) disebutkan:"Hanya orang yang sungguh-sungguh tuluslah yang dapat mengembangkan kodratnya sepenuhnya. Dengan itu, ia ikut serta dalam perubahan dan perkembangan langit dan bumi."






















































