spocjournal.com

Tiong Hoa Hwee Koan (THHK)

 

Selayang Pandang Wawasan Kebangsaan

Sebuah Organisasi Swasta Nasional Sebagai Pioner Di Era Kolonial BelandaYang Berazaskan Ajaran Ru Jiao (Agama Khonghucu)

Bratayana Ongkowijaya, SE, XDS
Ketua Bid. Organisasi dan Lintas Agama
Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN)

 

Tiong Hoa Hwee Kwan Sungailiat, Bangka, 1914. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Tiong_Hoa_Hwee_Koan)

 

Pendahuluan

Migrasi orang Tionghoa ke bumi Nusantara jauh lebih-dulu dari bangsa-bangsa Eropah dan sangat berperanan di dalam aspek pendidikan, seni-budaya & satra, ketrampilan dalam bidang tehnik pertukangan, pengobatan, agrikultural termasuk perdagangan, dll.  Dalam sejarah dunia dan sejarah Nusantara kita mengenal, bahwa ada dua kelompok migrasi besar-besaran ke bumi Nusantara, sebelum migrasi ketiga yang dikenal secara umum (era Sriwijaya dan Majapahit). Dalam era migrasi pertama para akhli menemukan peninggalan-sejarah, yang berasal dari era 20 abad sM. (setara dengan era Dinasti I, Xia); merekalah yang membawa budaya Deutro Melayu, Papua-melanesoide ke Asia-tenggara. Kemudian pada era migrasi kedua diketemukan situs-sejarah Neutro Melayu, Austronesoide, yaitu nenek-moyang bangsa-bangsa di kawasan Asia-tenggara dewasa ini, yang berasal dari Yunnan, Dongson, dll. di era 5 abad sM (setara dengan era Chun Qiu, akhir Dinasti III, Zhou)

Sebenarnya sebelum organisasi swasta nasional THHK berdiri sebagai pioner di era kolonial Belanda seperti tersebut di atas, sudahbanyak perkumpulan-perkumpulan yang didirikan untuk kepentingan umum, hanya saja sifatnya masih sangat tradisional dan dalam skup ‘sempit’. Lain halnya dengan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK), yang didirikan di awal tahun 1900 pada tanggal 17 Maret dan diakui secara sah dengan besluit Gouverneur Generaal pada tanggal 3 Juni 1900 dan diumumkan pada tanggal 8 Juni 1900 di Harian ‘Javasche Courant’.

Dengan berdirinya THHK, mempunyai dampak bagi orang Tionghoa pada khususnya dan masyarakat di Bumi Nusantara pada umumnya, kesadaran akan kehidupan bermasyarakat modern (menentang ‘kungkungan’ kolonial Belanda), yang mendorong  bangkitnya  Kesadaran  Nasional. (berdirinya Boedi Oetomo, l908).

Berdirinya THHK ini dilandasi dengan spirit ajaran Ru Jiao (agama Khonghucu), sebagaimana yang diimani oleh para tokoh-pendiri dan masyarakat pendukungnya di Bumi Nusantara (a.l.: THHK mengupayakan kepada Pemerintah Kolonial waktu itu, agar Hari Lahir & Wafat Nabi Khonghoetjoe, Hari Sientjia dan Tjhing Bing sebagai Hari Raja Oemoem; di era Presiden Soekarno Hari-Hari tersebut juga diberlakukan sebagai Hari Raya Nasional; (Penetapan Pemerintah Tentang Hari Raja No. 2 / Oem - 1946);  Yang pada era Presiden Soeharto mendapat perlakuan diskriminatif dengan terbitnya Inpres No.14 / 1967; Baru di era Presiden KH. Abdurrahman Wahid perlakuan diskriminatif itu dihapuskan dengan diterbitkannya Keppres. No.6 / 2000 dan ditindak-lanjuti dalam era Presiden Megawati Soekarnoputri, Siencia menjadi Hari Raya Nasional.

Maka dapat dikatakan berdirinya Khong Kauw Hwee (Institusi Agama Khonghucu di Bumi Nusantara) serta perkumpulan-perkumpulan kerohanian lainnya, diilhami dari berdirinya THHK tersebut.  Begitu pula berdirinya Institusi Pendidikan Swasta Nasional Tiong Hoa Hwee Koan yang menolak memakai pengantar berbahasa Belanda sebaliknya menggunakan bahasa Melayoe Populair ; diikuti oleh Institusi Pendidikan Swasta Nasional Di Bumi Nusantara pada umumnya, seperti : Muhammadiyah (1912), Taman Siswa (1922), Nahdlatoel Oelama (1926), dll. Sedangkan Pemerintah Kolonial Belanda juga ikut tergerak untuk mendirikan persekolahan dengan pengantar berbahasa Belanda, untuk kalangan umum a.l. : H.C.SH.I.S, MULO, dll. Juga di bidang olah-ragapun THHK menjadi pioner dengan didirikannya Perkumpulan OlahragaTiong Hoa Oen Tong Hwee’, yang dikelola oleh pengurus, anggota dan para guru THHK Batavia.            Meskipun pada saat itu THHK masih amat muda, namun di dalamnya telah terhimpun semangat kejuangan untuk bekerja, merubah, memperbaiki, menolong, memajukan dan mengangkat derajad dari ‘Kebangsaan’ !  Perkumpulan-perkumpulan yang muncul kemudian, seperti : Khong Kauw Hwee, Siang Hwee, Shiong Tih Hui, Chung Hsioh, Hoa Chiao, Tsing Nien Hui dan sebagainya, yang bergerak dalam aspek keagamaan, ekonomi/perdagangan, sosial, pendidikan dll. dapat dikatakan mengikuti keteladanan dari THHK yang sudah membuka jalan terlebih-dahulu sebagai pioner, yang memiliki visi dan misi keorganisasian yang bersifat nasional.

Perlu dipahami bahwa organisasi swasta nasional THHK murni hasil perjuangan para tokoh Tionghoa yang ada di Bumi Nusantara, tidak ada hubungan dengan tokoh-tokoh di luar Bumi Nusantara. Seperti yang sempat berkembang pendapat yang sama-sekali keliru, bahwa THHK ‘diberdirikan’ oleh Kang Yoe Wei, seorang tokoh daratan Tiongkok yang mempunyai visi dan misi pembaharuan di Tiongkok saat itu. Atau ada juga yang mengatakan, bahwa THHK ‘diberdirikan’ oleh dr. Liem Boen Keng dari Singapore; Ternyata justru dr. Liem sendiri menyatakan, bahwa Sekolah THHK di Nusantara sudah lebih maju daripada di Singapore pada masa itu.

 

Tujuan didirikannya  THHK.

Latar-belakang didirikannya Tiong Hoa Hwee Koan di Batavia ketika itu tidaklah sesederhana seperti banyak anggapan orang; melainkan memiliki semangatnasional’ sebagai kebutuhan kehidupan dalam kebersamaan di Bumi Nusantara pada era Kolonial Belanda. Para tokoh pendiri THHK jelas memiliki visi tentang makna ‘Kebangsaan’ yang menjadi perjuangan mereka melawan penindasan kolonial Belanda; jadi ‘Kebangsaan’ yang dimaksud adalah ‘KebangsaanNusantara(Hindhia Belanda), bukan ‘Kebangsaan’ seperti yang diperjuangkan di daratan Tiongkok.

Jadi jelas tujuannya berbeda dengan Perkumpulan-Perkumpulan Tionghoa yang ada di berbagai kawasan di luar Bumi Nusantara. Lebih-lebih kalau dianggap ber’kiblat’ atau ber’afiliasi’ pada ‘negeri leluhur’. Atau anggapan, bahwa THHK adalah organisasi yang didirikan untuk mendukung perjuangan para tokoh Tiongkok untuk mengadakan perubahan di sana. Satu hal yang paling mendasar dalam misi pendirian Tiong Hoa Hwee Koan adalah justru memperjuangkan pencerdasan masyarakat secara inklusif lewat institusi pendidikan THHK, yang dilandasi oleh nilai-nilai pendidikan-moral dalam Ru Jiao (agama Khonghucu).     Semangat ini merupakan syarat-utama menjadi anggota THHK.

Disamping itu bertujuan melaksanakan ‘pendidikan’ agar masyarakat tidak berprilaku melanggar kebajikan, sesuai ajaran Ru Jiao (agama Khonghucu) di atas, dapat harmonis dengan adat-istiadat setempat dalam arti yang seluas-luasnya (demi kepentingan umum), serta jangan sampai melanggar undang-undang negeri; untuk menunjang kesemuanya ini juga diselenggarakan perpustakaan. Inilah yang kemudian direalisasikan melalui institusi pendidikan formal, berupa Sekolah Swasta Nasional Tiong Hoa Hwee Koan (Sekolah THHK), semenjak 17 Maret 1901 di Batavia dan diikuti didirikannya Sekolah THHK diberbagai kota di kawasan Hindhia Belanda. 

 

Hubungan  THHK  Dengan  KHONG KAUW

Meskipun tokoh pendiri THHK adalah kaum intelek yang berwawasan luas, tetapi di era itu jumlahnya relatif kecil dibanding jumlah masyarakat yang masih tradisionil, yang  begitu kuat dan kukuh (kolot) terhadap adat istiadatnya. Untuk mengatasi kendala inilah maka ajaran Ru Jiao (agama Khonghucu) dipakai sebagai sandaran yang dijunjung tinggi serta diindahkan  bersama untuk pegangan.

Namun pada dasarnya, THHK memakai ajaran Ru Jiao (agama Khonghucu) sebagai fondamen bukanlah semata-mata untuk melakukan perubahan seperti yang dimaksud di atas, melainkan ajaran Ru Jiao (agama Khonghucu) memang sudah menjadi keyakinan iman para tokoh pendiri THHK dan pendidikan moralnya yang bernilai universil serta inklusif dianggap sangat berfaedah untuk mensukseskan tujuan diberdirikannya THHK bagi masyarakat luas.

Bermula dari spirit inilah, karya karya bernafaskan ajaran Ru Jiao (agama Khonghucu) yang sudah ada sebelum berdirinya THHK seperti al; ‘Hikayat Khong Hoe Tjoe’, karya Lie Kim Hok (l896) diterbitkan oleh  G. Kolff  & Co (l897) . Juga salinan kitab Tai Hak  dan  kitab Tiong Yong dalam bahasa Melayukarya Tan Ging Tiong  dibantu Yoe Tjai Siang (24 Februarie l900), terbitan Sukabumische Snelpers Drukkerij, Sukabumi, lebih disosialisasikan dan dikembangkan.

Bahkan Lie Kim Hok sebagai tokoh Ru Jiao (agama Khonghucu) waktu itu ingin segera merealisasikan cita-citanya  untuk mendirikan sebuah institusi keagamaan (Khong Hoe Tjoe) yang kemudian hari dikenal dengan Khong Kauw Hwee. Dan ini mendapat dukungan dari beberapa weekblad seperti ‘Li Po’ di Sukabumi, ‘Loen Boen’ di Surabaya ‘Ik Po’ di Solo, ‘Ho Po’ di Bogor, dll. Khong Kauw Hwee yang ada bergabung dalam Khong Kauw Tjong Hwee, yang dikemudian hari disebut LASKI (Lembaga Ajaran Sang Kongcu Indonesia), GAPAKSI (Gabungan Perkumpulan Agama Khonghucu Seluruh Indonesia) dan sekarang dikenal dengan sebutan  MAKIN (Majelis Agama Khonghucu Indonesia) dan MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia).  

 

Hubungan  THHK  Dengan  Institusi  Pendidikan  Swasta  Nasional.

Seperti sudah disebut terdahulu bahwa THHK adalah sebuah institusi pendidikan swasta nasional (bahkan dengan swadaya murni), dimana Phoa Keng Hek sebagai tokoh pendiri mempunyai pandangan luas di dalam misinya untuk mendesak Pemerintah Kolonial Belanda agar menaruh perhatian masalah pendidikan untuk masyarakat umum.

Karena hanya melalui pendidikanlah bisa memajukan dan mengangkat derajad masyarakat secara luas. Mengingat pada saat itu sangat sukar bagi anggota masyarakat umum dapat mengenyam pendidikan, yang ketika itu hanya diperuntukkan terbatas kaum Belanda dan Ningrat saja, dengan beaya tak terjangkau bagi masyarakat umum, disamping persyaratan yang sangat eksklusif, a.l: harus mampu berbahasa Belanda, mengenal segala aturan, keagamaan Kristen yang dipeluk oleh orang Belanda, dll.

Perhatian dan perjuangan tokoh THHK dalam pendidikan ini, terlebih dengan diberikannya pelajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah THHK membuat Pemerintahan kolonial Belanda mulai insyaf akan pentingnya pendidikan bagi masyarakat umum. Ini nampak (l908) dengan sekolah-sekolah berbahasa Belanda yang didirikan Kolonial Belanda, baik untuk kalangan masyarakat Tionghoa (H.C.S.) yang disusul beberapa tahun kemudian dengan sekolah untuk kalangan Boemipoetera (H.I.S.); yang sebelumnya hanya ada sekolah untuk kalangan ‘bangsa’ Eropah (E.L.S.). Disamping itu, juga bermunculan sekolah-sekolah yang didirikan oleh Khong Kauw Hwee di berbagai daerah, yang mendukung upaya pendidikan secara insklusif dan umum dari THHK tsb.

THHK - Pioner Pembaharuan
Dengan  Semangat  Persatuan  Di  Bumi  Nusantara.

Seperti telah kita ketahui, bahwa sebelum THHK berdiri sudah ada organisasi-organisasi kemasyarakatan, walaupun sifatnya masih tradisionil dan lokal, yang dikenal dengan sebutan ‘Kong Koan’ ( mis.: ‘Kong Koan’ Batavia ).

Kong Koan yang ada tatkala itu sebenarnya juga sudah memikirkan masalah ‘pendidikan’ khususnya pendidikan bagi masyarakat miskin, walau dengan konsekuensi tidak memungut beaya ( gratis ), misal : sekolahGie Oh’ yang didirikan oleh ‘Kong Koan’ Batavia. Disamping kesulitan-kesulitan yang dihadapi , diantaranya : dengan ‘minim’nya minat-belajar, disebabkan belum tumbuhnya ‘kesadaran’ akan manfaat pendidikan; yang ujung-ujungnya menjadikan kurangnya perhatian / respon terhadap upaya positip dari ‘Kong Koan’ tersebut.

Keadaan yang memprihatinkan inilah yang menggerakkan hati para tokoh THHK untuk mengambil langkah guna mengatasi permasalahan yang ada. Antara-lain: mengajukan penawaran pada sekolah ‘Gie Oh’  untuk menjadi bagian dari satu-kesatuan sistem pendidikan THHK.  Namun hal ini tidak semudah seperti yang direncanakan, karena meski pada awalnya sekolah ‘Gie Oh’ setuju, namun oleh issue yang berkembang saat itu bahwa THHK justru mengambil-keuntungan dari sekolah-sekolah ‘Kong Koan’ yang ada, berakibat sekolah ‘Gie Oh’ berbalik menjadi keberatan. 

Baru melalui beberapa kesepakatan, misalnya  dengan diadakan ‘ujian’ antar murid THHK dan sekolah ‘Gie Oh’ Batavia; sebagai upaya penilaian yang obyektif mengenai mutu maupun keberhasilan dalam mendidik murid yang di’menang’kan murid THHK (dimana murid sekolah ‘Gie Oh’ mampu membaca dan menulis serta menghafal Si Shu dan Wu Jing, namun arti dan maksudnya mereka tidak-tahu; berbeda dengan murid sekolah THHK selain bisa baca, tulis dan hafal, merekapun tahu artinya serta mampu pula mengaplikasikannya dalam keseharian); barulah ‘Gie Oh’ mau menerima peng’gabung’an sistem pendidikan tersebut. 

Namun demikian, bukan berarti peng’gabung’an di atas bisa berjalan mulus, karena masih ada kendala-lain, seperti : dengan diserahkannya murid-murid ‘Gie Oh’ pada sekolah THHK, pengurus sekolah ‘Gie Oh’ juga menyerahkan Altar Persembahyangan Nabi Khongcu, Cu Su (cucu Nabi Khongcu) yang merupakan bagian dari sistem pendidikan sekolah ‘Gie Oh’ yang ditolak oleh pihak sekolah THHK. 

Sebenarnya THHK adalah sebuah institusi yang berlandaskan ajaran Ru Jiao (agama Khonghucu), bahkan THHK menetapkan persyaratan bagi anggotanya berlandaskan keyakinan iman dan pendidikan moral Ru Jiao (agama Khonghucu) serta mengusulkan Hari Lahir & Wafat Nabi Khong Hoe Tjoe, Sientjia, Tjhing Bing sebagai Hari Raya Oemoem, seperti yang telah dijelaskan di atas;  namun di dalam sistem pendidikannya THHK tidak ingin mencampur-adukkan hal tersebut, untuk menghindari sifat ‘eksklusif’ (semacam pada isnstitusi pendidikan kolonial Belanda). Untunglah kebijaksanaan tersebut dapat dimengerti dan diterima oleh ‘Gie Oh’ Batavia; adapun Altar Persembahyangan yang dipermasalahkan di atas, akhirnya disepakati untuk ‘dimuliakan’ sebagai Altar Persembahyangan dalam Institusi Keagamaan  yang ada, atau yang khusus untuk itu. Kejadian ini membuka jalan bagi ‘Kong Koan’ yang lainpun akhirnya ikut bergabung  dengan THHK; yang bahkan membawa dampak positif bagi persatuan dan kesatuan berbagai eksponen untuk lebih berfikir secara nasional (tidak eksklusif ‘kelompok’).

Peran-serta THHK dan sekolah-sekolah yang didirikannya ternyata cukup besar membawa pengaruh-positif secara lebih luas, baik terhadap masyarakat peranakan Tionghoa sebagai bagian masyarakat Nusantara saat itu, maupun kepedulian THHK (bersama-sama eksponen masyarakat Nusantara waktu itu) guna mengangkat tingkat kesadaran ‘Kebangsaan’, terutama sekali mengingat peri-kehidupan masyarakat Nusantara waktu itu masih dalam kungkungan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda. Antara-lain: kritikan-kritikan tajam Phoa Keng Hek (Presiden THHK) atas prilaku semena-mena pemerintah kolonial Belanda terhadap rakyat di Bumi Nusantara; maupun dibentuknya komisi-komisi khusus oleh THHK, untuk membahas dan mencari ‘way-out’ penyelesaian berbagai permasalahan-sosial yang timbul di ‘Nation-root’.

Inilah perjuangan dan kepedulian THHK terhadap masyarakat Nusantara (yang sedang menderita) dalam tekanan ‘kekuasaan’ pemerintah kolonial Belanda yang menjadi pendorong bangkitnya semangat ‘Nasional’ Indonesia !

Tokoh Pendiri dan Pengurus Pertama Tiong Hoa Hwee Koan.

Phoa Keng Hek
Yang memiliki intelektual dan pergaulan yang luas dengan kalangan orang Eropah membuat beliau punya kapasitas untuk mendapatkan segala informasi yang dibutuhkan dalam suatu organisasi modern, guna melakukan perubahan (a.l.: debat intelektual dengan Pendita L.Tiemersma membela kelurusan Ru Jiao (agama Khonghucu), atas pertanyaan Lauw Tjiang Seng, Lied THHK - Tangerang)
Beliau tercatat juga sebagai Ridder dari Oranye Nassau Orde dan meninggal dalam usia 80 tahun (19 Juli 1937).

Lie Hiem Lian.
Berpandangan liberal dan pekerja keras, baik tenaga maupun pikiran, disamping  sebagai penyandang-dana.

Lie Kim Hok.
Seorang terpelajar, yang sumbangsihnya begitu besar dalam tulis-menulis, seperti menyusun berbagai peraturan, penerbitan, sirkuler dan pengumuman dalam bahasa Melayoe, dengan gaya yang indah dan rapih, sehingga orang yang membaca menjadi tertarik.
Beliau tokoh Ru Jiao (agama Khonghucu) – Nusantara, yang meski tidak terlalu mahir dalam huruf Kitab, namun berupaya menyusun Kitab Hikajat Khong Hoe Tjoe (1896), dalam bahasa Melayoe populer; sekaligus perintis berdirinya Institusi Keagamaan Ru Jiao (agama Khonghucu) di Nusantara, Khong Kauw Hwee !
Dengan banyak beroleh bantuan kawan-kawan beliau yang lebih memahami Huruf Kitab Suci Ru Jiao (agama Khonghucu), yaitu: Tan Kie Lam, Tee Pek Thay dari Bogor dan Khoe Siauw Eng dari Batavia. Disamping tokoh Ru Jiao (agama Khonghucu) lainnya, yakni : Tan Ging Tiong dan Yoe Tjai Siang, yang telah menerbitkan Kitab Tay Hak dan Tiong Yong dalam bahasa Melayoe populer.
Tokoh berikut yang turut berperan selaku ‘dosen’ kehormatan dalam Khong Kauw Hwee di Nusantara adalah: Louw Koei Hong dari Khong Kauw Hwee di Singapore, yang direkomendasikan oleh dr. Liem Boen Keng,  Pendiri Khong Kauw Hwee – Singapore.

Khoe Siauw Eng.
Yang paham huruf dan Kitab Klasik Tionghoa serta sanggup mentransformasikan ke dalam bahasa Melayoe. Sebagai Penasehat, beliau memikul tanggung-jawab atas segala urusan tanya-jawab (penerangan) tentang permasalahan yang berhubungan dengan Ru Jiao (agama Khonghucu), dan prihal adat-lembaga Tionghoa.

Khoe A Fan.
Yang memiliki wawasan luas dalam keorganisasian ‘modern’

Tan Kim San.
Berpendidikan ‘modern’, menguasai bahasa Inggris dan Tionghoa, serta memiliki tekad untuk memperbaiki keadaan masyarakat.

Tan Tjong Long.
Juga seorang berpendidikan ‘modern’, menguasai bahasa Inggris maupun Tionghoa, serta mampu berkarya di dalam bahasa Melayoe.

Tan Kim Bo.
Sebagai Sekretaris memikul tugas berat dalam hal mengurus dan menjawab segala surat-surat, notulensi, arsip dan sebagainya. Menguasai bahasa Belanda dan mampu menulis dengan baik dalam bahasa Melayoe.

Disamping nama–nama tokoh THHK di atas, tercatat pula nama tokoh lainnya: Hee Kim Hok, Khouw Lam Tjiang, Mayoor Khouw Kim An, Thung Bouw Kiat, Tjoa Tjeng Yang, Ang Sioe Tjiang, Oeij Koen Ie, dll.

Seperti yang dicatat oleh Kwee Tek Hoay; yang dilahirkan di Bogor 1886 dan meninggal di Cicurug 1951; dikenal di dunia internasional sebagai redaktur pelbagai media-masa. Selain sastrawan dan jurnalis, dikenal pula sebagai penulis masalah-masalah politik dan agama. Keseluruhan karyanya mencapai lebih dari 200 buah, termasuk naskah drama dan terjemahan dari bahasa Inggris dan Belanda. Karya politiknya: Atsal moelahnja timboel pergerakan Tionghoa yang modern di Indonesia’ (Tiong Hoa Hwee Koan) 1933, yang dimuat di majalah ‘Moestika Romans’, diterjemahkan oleh Prof. Lea Williams (Penerbit ‘Cornell University Press’). Ratusan karya keagamaan telah ditulis/diterjemahkannya agar masyarakat Tionghoa lebih memahami ajaran agama mereka. Lebih jauh, supaya masyarakat Tionghoa berkesempatan untuk mempelajari agama lain, ia juga menulis tentang Teosofi Agama Kristen dan Islam.

Karya-karya Kwee Tek Hoay juga mengangkat interaksi antar etnis, seperti dalam novelnya ‘Bunga Roos Dari Tjikembang’ yang oleh Prof. John B. Kwee dari Selandia Baru dinilai terungkapnya di dalam alur-ceritera itu beberapa situasi yang menunjukkan membaurnya kebudayaan peranakan Tionghoa, Pribumi dan Eropah.
‘Drama Di Boven Digoel’ merupakan karya beliau yang paling gemilang. Beberapa akhli menempatkan novel ini di posisi terhormat. Jakob Soemardjo menyebut novel ini sebagai ‘Sebuah Maha Karya’, sementara Thomas Rieger memujinya sebagai ‘Salah-satu Karya Monumental Kesastraan Melayoe-Tionghoa’. Dalam pengantarnya, Liang Liji menilai novel ini sebagai ‘Adhikarya’ yang mutunya setara dengan novel Abdoel Moeis ‘Salah Asuhan’.

Beliau menekankan dalam buah-tangannya, bahwa bangsa Indonesia tidak boleh melupakan ‘karya besar’ Tiong Hoa Hwee Koan, yang merupakan ‘bibit’ atau ‘sumber’ dari organisasi-modern yang menentang ‘kungkungan’ kolonial Belanda. Bahkan tercatat, memberikan inspirasi wawasan kebangsaan, dengan berdirinya ‘Boedhi Oetomo’ (1908), institusi pendidikan Moehamadiyah, Taman Siswa, Nahdlatoel Oelama. Jasa para pendiri THHK tersebut diatas menunjukkan perjuangannya yang begitu keras (THHK eksis pada era Kolonial Belanda!) untuk merealisasikan tujuan-tujuannya yang mulia demi mengangkat derajat ‘Kebangsaan’ Indonesia !.

Catatan :

Peran orang Tionghoa pada umumnya dan umat Khonghucu pada khususnya dalam lintasan sejarah tanah air Indonesia, tentu tidak hanya terwakili dalam Tiong Hoa Hwee Koan saja, melainkan dibanyak sektor seperti misalnya dalam karya kesusastraan yang diulas dalam sebuah buku berjudulKesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia’ terbitan Jakarta, Markus A.S. dan Pax Benedanto; KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation, 2000. Disamping itu, juga bisa kita lihat beberapa fakta sejarah yang tercatat dalam buku berjudul Nusa Jawa Silang Budaya’ dan ‘Panggung Sejarah’ karya Prof. DR. Denys Lombard (ed. Henri ChambertLoir dan Hasan Mu’arif Ambary; Ecole Francaise D’extreme-Orient, Pusat penelitian Arkeologi Nasional; Yayasan Obor Indonesia, 1999).

Didalam semangat reformasi, tentu juga menyangkut sikap terhadap ‘kebenaran’ dan ‘kelurusansejarah; karya-karya tersebut diatas bisa dijadikan referensi dan titik awal untuk lebih memberi porsi perhatian terhadap peran-serta orang Tionghoa pada umumnya dan khususnya umat Khonghucu dalam lintasan sejarah Indonesia.
Beberapa catatan sejarah dapat kita simak sebagai contoh;

  • Bing Sing Su Wan sebagai institusi ‘sekolah’ mungkin adalah yang pertama di Indonesia (berdiri 1729, punya ‘sekolah1732; sebagai perkembangan dari ‘sekolah’ yang sudah ada sebelumnya pada tahun 1690 di Batavia). Penggunaan ‘kurikulum’ Khonghucu beriring dengan bahasa ‘kitab’ dan ‘lokal’ (melayu). Jelas sangat menarik untuk menempatkan peran-serta orang Tionghoa khususnya umat Khonghucu dalam (upaya) dunia pendidikan di Indonesia ! Apalagi bila diteruskan dengan kiprah Tiong Hoa Hwee Kwan yang tegas dan jelas berazazkan ajaran (agama) Ru (Khonghucu) yang didalam perjalanannya membumi pada ke’Indonesia’an-nya tentu adalah hal yang ‘perlu’ dikaji bersama.

Penguasaan bahasa melayu dan latar belakang yang ter’didik’ ini memungkinkan lahirnya karya-karya tertulis (sastra). Maka peran kesusastraan dan pada gilirannya pers jelas menempatkan orang Tionghoa bukan hanya ‘pedagang’ saja dalam peran serta / sumbangsih pada perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dalam kurun 100 tahun (1870-an – 1960-an) kesusastraan melayu Tionghoa melibatkan 806 penulis dengan menghasilkan paling tidak 3005 karya. Hal ini tentu menarik bila dibandingkan dengan karya kesustraan Indonesia modern, yang dalam kurun waktu 50 tahun (1918-1967) yang melibatkan 175 penulis dan sekitar 400 karya atau bila dihitung hingga 1979 melibatkan 284 penulis dengan 770 karya.

NB. Bila diingat penguasaan bahasa melayu yang dirintis oleh sekolah berbasis Khonghucu, maka tidak bisa dipungkiri bahwa tidak sedikit dari penulis tersebut berasal dari komunitas umat Khonghucu, bahkan beberapa ‘isikarya-karya mereka terwarnai ajaran (agama) Ru (Khonghucu).

ini juga terangkai dengan peran dunia pers Tionghoa seperti ‘Pembrita Betawi’ (1884-1914), ‘Bintang Soerabaja’ (1887-1924), ‘Bintang Betawi’ (1893-1906) dan sebagainya. Belum terhitung surat kabar yang bernafaskan ajaran (agama)  Ru (Khonghucu) yang sudah ada sejak awal 1900.
Hal diatas bisa kita kaji dalam;

  • Kai ba li-dai shi-ji; Hsu Yun Tsiao; Nan-yang Xue-bao- 1955 hal 34.
  • Oud Batavia, Gadenkboek uitgegeven ter gelegenheid van het 300 yarig bestaan der stad in 1919 De Haan; Batavia 1922; 3 jilid, jilid I hal 506.
  • Relia, register op de generale Resolutien van het Kasteel Batavia; tahun 1632-1805; jilid I hal 281.
  • Buletin/ majalah “masa awal” lembaga Khonghucu seperti : Bok Tok Gwat Khan, Khong Khauw Gwat Po, Kudus 1925; Li Po, Sukabumi 1901; Ik Po, Surakarta, 1903; Ho Po, Bogor 1904; Loen Boen, Surabaya 1930; Suara Khung Chiau / SAK (Suara Agama Khonghucu), Malang 1956; dsb.
  • Kamus Edja A.B.C. Karya tokoh Khonghucu, baik di Tiong Hoa Hwee Koan yang juga pendiri Khong Kauw Hwee; Lie Kim Hok (juga sebagai penyusun “Riwayat Nabi Khonghucu” dan penterjemah “Su-Si” dalam bahasa melayu, 1884), disamping seorang tokoh pers dan berperanan penting dalam perkembangan kebudayaan melayu Tionghoa khususnya di bidang kesusastraan hingga tak heran beliau diberi gelar “Bapak Melayu Tionghoa”. Seperti yang disebutkan dalam buku; Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia’ terbitan Jakarta, Markus A.S. dan Pax Benedanto; KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation, 2000.
  • Auw Tjoei Lan / Ny. Lie Tjian Tjoen (1889-1965) seorang tokoh wanita keturunan Tionghoa dengan latar belakang ‘Khonghucu’ yang kental; mempunyai kepekaan dan kepedulian terhadap masalah wanita, meninggalkan jejak-jejak amal bakti sbb:
  • Mendirikan organisasi kemanusiaan yang bernama Ati Soetji (1929) yang sangat berjasa dalam memerangi “jual-beli” perempuan.
  • Tahun 1937 beliau mewakili Indonesia dalam sebuah konfrensi Liga Bangsa-Bangsa mengenai perdagangan perempuan yang diselenggarakan di Bandung.
  • Pada tahun yang sama Ny. Lie menerima penghormatan dari pemerintah Belanda yaitu sebuah bintang Ridder in de Orde Van Oranje Nassau (beliau adalah perempuan keturunan Tionghoa pertama yang menerima penghormatan setinggi itu dari pemerintah Belanda)
  • Beliau juga berperanan dalam serikat perkumpulan ‘Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia’ (PPPI) yang didirikan sebagai hasil konggres Perempoean pertama di Jogjakarta tahun 1928 (diperingati sebagai hari Ibu)
  • Tahun 1939 membuka Tjie Liang Soh, rumah untuk anak perempuan yang diselamatkan dari prostitusi; rumah perlindungan untuk anak-anak perempuan yang di ‘eksploitasi’.
  • Beliau juga sebagai ketua Fu Nu Hui (organisasi perempuan Khonghucu)
  • Seorang Kapitan Tionghoa dengan latar belakang Khonghucu; ketika mendapat misi memajukan penggilingan tebu, dengan memikirkan kelancaran transportasi pedagang ‘pribumi’ agar mudah dan cepat mengangkut hasil buminya sekaligus bisa mengendalikan banjir yang selalu mengancam, ditahun 1648 telah membangun terusan / kanal besar, Molenvliet di Batavia (dikenal sebagai Sungai Ciliwung yang legendaris dengan diapit Jln. Hayam Wuruk dan Jln. Gajahmada di Jakarta). Peristiwa itu terjadi dimasa pemerintahan Gubenur Jendral Jan Pitersoon Coen. Yang bersangkutan adalah kapitan Tionghoa kedua yang menggantikan kapitan Tionghoa pertama So Bing Kong / Su Ming Kang dan bernama Phoa Bin Gam / Pan Ming yan. Juga patut dicatat inisiatifnya bersama-sama dengan dewan Tionghoa (Kong Koan) untuk mendirikan Rumah Sakit modern di Batavia bagi kesejahteraan dan kesehatan masyarakat dengan misi sosial, namun ditutup oleh pihak Belanda ketika mereka mendirikan CBZ (kini R.S. Cipto Mangunkusumo-RSCM).

NB. Seperti yang tercatat dalam “Priangan”; de Haan Batavia 1910-1912, II, hal 142, juga pada “Arsip Nasional” dimana terdapat catatan dokumen Belanda dan ‘Prasasti’ berbahasa Cina yang menyebutkannya, bahkan lengkap dengan daftar penyumbangnya.

  • Ada telaah sejarah yang menyebutkan bahwa awal tahun 1400-an telah datang rombongan armada China (dinasti Ming, kaisar Yung Lo 1403-1424); ada yang dipimpin Cheng Ho dan ada yang dipimpin Khong Bu Peng / Kong Wu Ping; Haji Khong Bu Peng / Kong Wu Ping ini adalah keturunan Nabi Khonghucu yang datang ke tanah Jawa dan membawa misi penyebaran agama Islam ! Keturunan beliau, Khong Sam Pak alias Haji Mohammad Nurjani adalah tokoh Sembung penyebar agama Islam di Jawa Barat. Ini berlanjut dengan penyebaran agama Islam di pulau Jawa yang sangat menarik dan menantang bagi sejarahwan dan ilmuwan untuk menyingkap lebih lugas (beberapa dari Wali Songo adalah orang Tionghoa; Raden Patah, raja kerajaan Islam pertama di Jawa-Demak juga orang Tionghoa). Tertulis dalam “Chinese moeslem in Java in the 15th and 16th Centuries The Malay Annals of Semarang and Cerbon; H. J. De Graaf; Merle Ricklefs; 1984
  • Pembantaian orang Tionghoa, Oktober 1740 yang menelan korban lebih dari 5.000 jiwa (hingga memerahkan sungai yang sekarang disebut Angke / Sungai Merah di Jakarta); salah satu penyebab utamanya adalah kekuatiran pihak Belanda (Kompeni / VOC) akan “keintiman” hubungan Tionghoa dan “Pribumi”, dimana tujuan semula untuk “memperalat” orang Tionghoa sebagai pedagang perantara ternyata ber’belok’ dengan banyaknya orang Tionghoa yang menjalani profesi per’tukang’an dan lebih lagi banyak diantaranya menjadi petani, jelas membuat mereka lebih me’mihak’ penduduk ‘pribumi’ (ini tidak disukai Belanda, apalagi mereka sering tak setuju dengan cara kompeni / VOC dalam segala policy dagang mereka, bahkan orang Tionghoa ini sering menentang dan pada ujungnya melawan Belanda); pada akhirnya memecahkan peperangan yang dikenal sebagai ‘Perang Cina’ atau pihak Belanda menyebutnya sebagai ‘Kerusuhan orang Cina’ di tahun 1741-1742. Walau pihak Belanda bisa mendesak pihak Tionghoa namun untuk mengatakan berhasil menumpas habis mereka adalah salah. Karena secara sporadis masih muncul perlawanan terhadap Belanda yang dikemudian hari diantaranya dalam perang Jawa pada umumnya dan khususnya penyerangan Tangsi Loji di Semarang yang disebut sebagai “Perang Kuning1742-1743; ini tersurat dalam Babat Tanah Jawa”; de Moord / H.J. De Graaf; The Crisis of 1740-1741 in Java…/ M.C. Ricklefs.

 

Dari beberapa tokoh perlawanan ini ada yang lari ke Jawa Tengah bahkan ke Jawa Timur; disana mereka menyamar dan melanjutkan sikap anti dan melawan (perlawanan) terhadap pihak Belanda / Kompeni / VOC. Dengan sikap keseharian mereka yang sangat dekat dengan rakyat, maka sepeninggalan mereka terjadilah pemujaan bak Dewa terhadap mereka. Ini terlihat dengan penghormatan (pemujaan) yang ada di kelenteng-kelenteng dimana yang menyembahyangi mereka tidak terbatas orang Tionghoa dan tak lagi memandang agama yang bersangkutan. (mereke menjadi Sien Bing ‘lokal’ di kelenteng-kelenteng tersebut).  Diantara mereka…

  • Tek Hay Cin Jin / Ze Hai Zhen Ren

Nama asli ‘Sien Bing’ ini adalah Kwe Lak Kwa (Guo Liu Kuan) tokoh perjuangan melawan Belanda di tahun 1741-1742 dalam penyamarannya sebagai pedagang dan ‘pengajar’ Bun Bu / Wen Wu sangat banyak jasanya pada penduduk setempat di pesisir utara Jawa (bahkan berpengaruh hingga pantai Timur Sumatra); sangat dermawan dan punya kesaktian hingga sepeninggalannya dipuja dan disembahyangi oleh penduduk dan masyarakat. (Kelenteng yang mempunyai ‘Sien BingKwe Lak Kwa / Tek Hay Cin Jin diantaranya : Bagansiapi-api, Tangerang, Jakarta, Tegal, Pekalongan, Semarang).

  • Tan Oei Ji Sian Sing / Chen Huang Erl Xian Sheng

‘Sien Bing’ yang dikenal sebagai Gie Yong Kong Kong / Yi Yong Gong Gong ini terdiri dari dua orang yang juga menyingkir sejak peperangan melawan Belanda tahun 1741-1742, Beliau bernama Tan Pan Ciang dan Oei Ing Kiat. Yang dalam keseharian berusaha sebagai pengusaha keramik (genteng) dan memimpin penyerbuan  Tangsi Loji di Semarang dengan (hanya) 200-an prajurit namun akhirnya wafat di Welahan. Peperangan heroik ini dikenal dalam Babad Tanah Jawa sebagai Perang Kuning (1742-1743).
Karena sifat budiman mereka dan jasa / kedekatan dengan masyarakat, maka merekapun akhirnya diperlakukan sebagai orang suci dan disembahyangi oleh berbagai lapisan penduduk. (kelenteng yang menyembahyangi ‘Sien Bing’ Gie Yong Kong kong diantaranya : Lasem, Rembang, Juwana, Madiun ).
Dr. Peter Cerey dalam bukunya “Changing Javanese Communities in Central Java, 1755-1825 “ menulis peran orang Tionghoa dan umat Khonghucu diantaranya :

  • Ong Tae Hae,  Sang Guru yang Budiman.
  • Tan Jing Sing,  Pendekar yang melatih pengawal P. Diponegoro
  • Lip Sing,  Tuan tanah dan Majikan yang Murah-Hati serta pelindung penduduk.
  • P. Jayakusuma anak sinshe yang menjadi komandan utama pasukan P. Diponegoro.

Dan masih banyak lagi yang memerlukan telaah serta kajian lebih mendalam untuk pernik ingatan kita akan sesuatu yang di / terbuang jangan…..

 

 

 

Comments   

 
0 #1 kevin septiawan 2014-01-13 18:55
WDDT, saya Kevin Septiawan dari MAKIN Cimanggis-Kota Depok, mohon izin share artikel ini di buku kenangan Imlek 2565 MAKIN Cimanggis,
Xie-xie
 

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:245 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:894 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:115 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:240 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:135 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:404 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:298 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:234 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:176 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:719 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 44 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com