spocjournal.com

Filsafat Manusia & Filsafat Kejiwaan Menurut Xun Zi



Oleh : Xs. Dr. Oesman Arif, M.Pd

Filsafat Manusia menurut Xun Zi

Filsafat Manusia atau Anthropologi Metafisika adalah bagian dari metafisika yang perlu perhatian khusus terkait dengan pembahasan semua kegiatan manusia. Setiap manusia mempunyai konsep tentang manusia, bertolak dari konsepnya itu mereka menjalani kehidupannya. Bagi orang yang berpendapat bahwa nasib manusia itu sepenuhnya ditentukan oleh Tuhan orang tersebut tidak bekerja keras untuk mengubah nasibnya. Hal yang sebaliknya, orang yang berpendapat bahwa hidup itu sebagai medan perjuangan untuk mendapatkan kekuasaan dan harta sebagai prestasi umat Tuhan yang terpilih, orang tersebut menjadi agresif dan pekerja keras. Dalam pembahasan epistemologi, filsafat kebudayaan, filsafat politik, filsafat hukum, dan filsafat pendidikan perlu diawali dengan pembahasan filsafat manusia, supaya pembahasannya jelas dan tidak tumpang tindih atau saling bertentangan.      

Pernyataan Xun Zi yang terkenal berkaitan dengan filsafat manusia sebagai berikut: “Benda mati mempunyai Qi, tetapi tidak mempunyai kehidupan; tumbuhan mempunyai kehidupan dan Qi, tetapi tidak mempunyai rasa; hewan mempunyai kehidupan, dan rasa, dan Qi, tetapi tidak mempunyai yi ( 义 ) atau prinsip keadilan. Manusia mempunyai kehidupan, mempunyai rasa, mempunyai Qi (  气   ), dan mempunyai Yi ( 义   ). Manusia adalah makhluk mulia di antara makhluk lain“. Dalam pengertian Xun Zi prinsip keadilan atau Yi itu mengandung unsur berani mengorbankan yang buruk untuk tujuan yang lebih mulia. Dia menulis “Raja Yao rela mengorbankan satu atau dua orang untuk menyelamatkan negara“  (Zhang,1993: 163).

Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang memiliki kecerdasan lebih dari makhluk lain. Manusia juga memiliki perasaan yang halus serta memiliki nafsu dan emosi. Kecerdasan, perasaan, emosi dan nafsu itu sebagai perlengkapan manusia untuk hidup bahagia dan sejahtera. Dalam kenyataannya di masyarakat, banyak orang yang tidak dapat menggunakan perlengkapan itu dengan benar. Akibatnya, banyak orang yang hidup menderita karena perbuatannya sendiri atau perbuatan orang lain.

Manusia hidup di dunia ini mempunyai perlengkapan rohani dan jasmani yang telah diberi oleh Tuhan. Manusia wajib menggunakan kecerdasaanya itu untuk menempuh jalan hidupnya sendiri dan dapat menyelamatkan kelestarian jenisnya. Menurut Xun Zi, hubungan antara-manusia bergantung pada sifat cinta kasih, atau kebajikan atau ren ( 仁 ), dan sifat keadilan atau yi ( 义 ) yang telah dikembangkannya. Dua sifat ini tidak diberikan Tuhan kepada manusia, tetapi manusia harus belajar untuk memilikinya. Apabila sekelompok manusia telah memiliki sifat kebajikan dan keadilan, mereka dapat bekerja sama dan hidup rukun. Apabila sifat kebajikan dan keadilan ini belum dimiliki oleh masyarakat,  tidak ada kerukunan dan kedamaian dalam masyarakat itu (Zhang, 1993: 10).

Menurut Meng Zi, sifat Ren (  仁    ) dan Yi ( 义   ) itu sudah dimiliki manusia sejak lahir sebagai pemberian Tuhan, Dalam agama Khonghucu pemberian Tuhan itu disebut Tian Ming ( 天 命  ). Xun Zi tidak setuju dengan pendapat Meng Zi tersebut. Xun Zi justru menyatakan bahwa manusia itu diberi Tuhan emosi atau Tian Qing ( 天 情 ). Meng Zi menyebutkan watak sejati manusia itu baik, sebaliknya Xun Zi menyebutkan watak sejati manusia itu buruk karena pengertian mereka tentang watak sejati berbeda. Xun Zi menekankan pemberian Tuhan kepada manusia adalah kecerdasan. Kebajikan atau Ren (  仁 ) dan rasa keadilan atau Yi (  义    ) bukan pemberian Tuhan, tetapi hasil usaha manusia disebutnya Ren Wei ( 人 伪  ). 

Manusia hidup dalam alam, mendapat makan dari alam, hubungan manusia dengan alam bergantung pada pemahaman manusia terhadap sifat alam dan hukum alam, yang disebut pengetahuan alam. Manusia yang mempunyai pengetahuan alam yang banyak dan mendalam dapat memanfaatkan sumber daya alam untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Masyarakat yang kurang menguasai ilmu pengetahuan alam hanya dapat memanfaatkan sedikit saja sumber daya alam. Masyarakat yang sudah lebih menguasai ilmu pengetahuan alam dapat memanfaatkan sumberdaya alam lebih banyak.

Menurut Xun Zi, manusia lahir ke dunia bukan kebetulan atau sebagai kecelakaan, seperti istilah "terlemparkan" yang digunakan Heidegger (Berling, 1966). Manusia lahir ke dunia ini diperintahkan oleh Tuhan untuk belajar, membina diri, dan membuat dunia ini lebih indah. Kata perintah dalam bahasa Tionghua disebut ming ( 命 ). Kata ini kemudian berkembang artinya menjadi nasib. Dengan pengertian nasib manusia sudah ditentukan oleh Tuhan. Xun Zi tidak sependapat bahwa kata ming (命) itu berarti nasib yang ditentukan Tuhan. Menurut Xun Zi, nasib manusia adalah hasil proses yang tidak dapat ditelusuri faktor apa yang menyebabkannya. Manusia harus selalu berusaha menghindari hal yang buruk dan membawa bencana, apabila bencana tidak dapat dihindari lagi itu diartikan sebagai hasil proses atau nasib (Zhang, 1993: 9).

a. Manusia dan Yin Yang
Manusia memiliki dua unsur yang berlawanan yaitu “ Yin -Yang ”. Dua unsur ini dalam diri manusia saling mempengaruhi dan membentuk kepribadian. Misalnya, orang yang unsur Yin-nya dominan orangnya menjadi lemah, atau sakit-sakitan, atau kurang bersemangat. Sebaliknya, orang dengan unsur Yang sangat dominan, ia berwatak keras dan mudah marah. Idealnya, manusia mempunyai unsur Yin Yang seimbang. Pengertian Yin Yang seimbang itu artinya ada kelebihan sedikit unsur Yang dari pada unsur Yin.

Unsur Yang pada manusia tidak boleh terlalu besar karena akan menyebabkan sakit. Supaya unsur Yang pada manusia lebih besar harus ada pendidikan yang baik, ada aktivitas yang positif, dan lingkungan yang positif. Negara dan masyarakat wajib berusaha agar lingkungan hidup selalu positif (Wilhelm, 1980). Ilmu Feng Shui dikembangkan untuk mengusahakan lingkungan yang positip, yang bermanfaat bagi kesehatan manusia.

Kebajikan dan keadilan perlu diajarkan kepada manusia supaya mereka dapat bekerja sama, dan saling tolong-menolong. Sifat kebajikan dan keadilan itu diajarkan lewat pendidikan akan menjadi dasar terbentuknya tata susila atau li ( 禮 ) dalam masyarakat. Apabila kedua sifat ini tidak tumbuh dalam hati manusia maka tatanan moral masyarakat itu tidak terbentuk. Pendidikan mengutamakan pembentukan kepribadian, bukan hanya membekali siswa dengan ketrampilan.

Sifat kebajikan dan keadilan itu sudah banyak dijelaskan dalam kitab Klasik, jadi sudah ada pedoman mengartikannya. Naluri manusia dapat dibentuk dan ditumbuhkan menjadi sifat kebajikan dan keadilan melalui pendidikan. Misalnya naluri menyayangi dibentuk menjadi sifat cinta kasih. Naluri disayangi dapat dibenruk menjadi rasa keadilan. Naluri ingin lebih unggul dari orang lain dapat dibentuk menjadi semangat belajar dan berprestasi. Dan naluri mempertahankan diri dapat dibentuk menjadi jiwa patriotisme (Zhang,1993: 509).
         Menurut Xun Zi, semua sifat bawaan manusia yaitu naluri, emosi, nafsu, kecerdasan, dan hati nurani itu perlu dijaga keseimbangannya. Manusia perlu mentransendensi diri yaitu mengangkat dirinya ke atas ke tingkat yang ideal. Manusia ideal yang dimaksud ialah manusia unggul yang bijaksana disebut Junzi ( 君 子 ). Manusia unggul ini dapat mewujudkan kehidupan yang indah dan berbudaya. Semakin tinggi tingkat keunggulan budinya semakin tinggi pula kebudayaan yang diwujudkan. Transendensi diri manusia itu dapat digambarkan sebagai tonggak yang menjulang tinggi ke langit, semakin tinggi tonggak itu berarti semakin unggul manusianya. Negara sebagai bentuk kehidupan bersama yang paling konkret dan juga sebagai wujud dari kebudayaan manusia yang tertinggi (Zhang, 1993: 338).

b.  Negara sebagai wujud  kebudayaan
Manusia sebagai individu terlalu lemah untuk mengendalikan dan membentuk nalurinya menjadi kekuatan kebudayaan, meskipun sudah mendapat pendidikan. Manusia perlu bekerja sama dan saling membantu dalam mengendalikan nafsu dan membentuk nalurinya. Kerja sama itu bisa berwujud apabila dikoordinasi oleh pemimpin yang berwibawa dalam organisasi yang kuat. Organisasi yang besar dan kuat yaitu negara.   

Dalam negara manusia disatukan, dan mendapat pembinaan serta perlindungan. Menurut Xun Zi, negara adalah kodrat manusia karena tanpa negara manusia tidak ada artinya. Negar adalah tuntutan kebutuhan manusia dalam meningkatkan derajat kemanusiaannya. Kehidupan manusia perlu saling membantu dan saling terikat dalam sistem masyarakat yang teratur. Dalam negara ada organisasi-organisasi kemasyarakatan yang dibentuk oleh negara atau oleh masyarakat sendiri, yang dapat membantu melaksanakan program pemerintah (Zhang, 1993: 328).

Negara sebagai kodrat manusia adalah teori yang dipakai Xun Zi untuk menyatukan rakyat. Teori Perjanjian Mayarakat yang diajukan oleh John Locke memberikan kebebasan orang memilih kewarganegaraannya. Menurut John Locke, negara itu bukan kodrat manusia, melainkan secara sukarela orang mengikatkan diri dalam negara. Jeremy Waldron (dalam Bucher dan Keely,1974: 51) mempertanyakan kebenaran teori John Locke. "Apakah dalam zaman modern ini manusia masih menyetujui teori itu?".

Pertanyaan Waldron itu juga dapat ditujukan kepada Xun Zi tentang negara sebagai kodrat manusia. Zaman globalisasi ini setiap saat orang bisa pergi ke luar negeri, mungkin dia memilih kewarganegaraan  negara lain, yang bukan tempat kelahirannya. Menurut Xun Zi, orang menjadi warganegara dari suatu negara itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Setiap orang lahir di suatu tempat di wilayah negara, dan dia juga mewarisi kewarganegaraan orang tuanya, maka dikatakan negara itu kodrat manusia.

Xun Zi menekankan, negara sebagai kodrat manusia bertujuan agar rakyat mencintai negaranya. Apabila suatu negara penduduknya pergi meninggalkan negerinya, dan tidak lagi peduli dengan tanah kelahirannya, maka negeri itu pasti diambil oleh bangsa lain. Menurut Xun Zi, orang yang lahir di suatu negara wajib mempertahankan kejayaan negaranya meskipun dia terpaksa merantau ke negeri lain.

Negara yang tertata dengan baik dapat mengatur kehidupan warganya untuk bekerja sama, memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Kecakapan menata organisasi negara menjadi sangat penting. Apabila gagal mengatur rakyatnya, negara bisa bubar. Pada zaman dahulu banyak negara yang hilang dan rakyatnya juga musnah. Negara itu akhirnya dikuasai oleh bangsa lain dan menjadi negara baru, yang dipimpin oleh orang yang lebih pandai dan lebih kuat. Banyak suku-suku bangsa yang tidak mampu menyatukan rakyatnya membentuk negara akhirnya digulung oleh bangsa lain. Contohnya, suku-suku Indian di benua  Amerika dan suku-suku asli di benua Australia.

Pada zaman sekarang, masih banyak negara yang sangat miskin. Pertumbuhan ekonominya minus. Rakyat sangat menderita karena tidak mempunyai pemimpin yang kuat dan pandai untuk menyatukan rakyatnya membangun negara. Masih banyak pemimpin di negara berkembang yang hanya mencari keuntungan untuk dirinya sendiri dari pada membina rakyatnya (Khor, 2002 : 19).

Menurut Xun Zi, agar suatu bangsa tidak berantakan dan dihancurkan oleh bangsa lain perlu memiliki pemimpin yang kuat disebutnya Ba ( 霸 ). Kuat artinya cerdas, berwibawa, pemberani, dan dapat membawa negara itu menjadi kuat. Suatu bangsa yang selama beratus tahun tidak memiliki pemimpin yang kuat akhirnya terpecah belah atau lenyap.

c.  Manusia unggul sebagai pemimpin
Xun Zi menyebutkan bahwa manusia harus membina diri dengan belajar agar potensinya dapat teraktualisasi menjadi kekuatan spiritual, kekuatan intelektual, dan kekuatan moral. Manusia yang mempunyai tiga kekuatan tersebut disebut manusia unggul yang dapat memimpin manusia-manusia lain mencapai hidup lebih sejahtera dan bahagia. Pada zaman dahulu, manusia unggul itu menjadi raja dan nabi, disebut raja suci.

Xun Zi menegaskan, bahwa manusia sebaiknya mempunyai keahlian spesialis dan menjadi orang kuat. Manusia unggul dapat memilih menjadi orang suci seperti nabi atau menjadi orang kuat dan kaya seperti raja. Menurut Xun Zi, menjadi nabi atau menjadi raja sama-sama mulia karena dapat memberikan bimbingan kepada rakyat untuk hidup lebih sejahtera. Menurutnya, menjadi nabi sulit, lebih mudah menjadi raja.  Raja yang kuat dapat memberikan manfaat nyata kepada rakyat. Pekerjaan seorang nabi memerlukan beberapa generasi baru tampak hasilnya. Hal yang sebaliknya, bila menjadi orang kuat dan kaya seperti raja, dalam beberapa tahun sudah dapat dilihat hasilnya. Xun Zi mengatakan lebih realistis menjadi raja atau menjadi orang kuat dan kaya (Zhang, 1993: 519).

Pengertian raja sama dengan pemimpin duniawi. Raja tidak harus pemimpin negara yang menguasai wilayah kerajaan. Seorang pemimpin organisasi yang besar juga sama dengan raja kewibawaaanya. Para konglomerat Jepang zaman sekarang juga beranggapan bahwa pekerjaan mereka sebagai pemimpin perusahaan sama mulia seperti pendeta  yang membawa kesejahteraan kepada umat manusia. Hal ini dikatakan oleh Konosuke Matsushita, seorang pengusaha besar dari negara Jepang (dalam Dayao, 2001: 39)    

Xun Zi menyadari bahwa tidak mudah mencari pemimpin yang bijaksana dan dapat memberikan bimbingan kepada rakyatnya. Munculnya pemimpin yang baik bergantung pada proses yang terjadi dalam masyarakat. Peran negara dalam mendidik generasi mudanya sangat penting untuk melahirkan pemimpin yang kuat (Zhang, 1993: 146).

Dunia bisnis modern mampu memunculkan banyak pemimpin-pemimpin yang kuat, yang dapat mengelola kerajaan bisnis besar karena hasil pendidikan yang baik, di sekolah dan di masyarakat. Para pengusaha besar di Jepang dan Tiongkok tidak terlepas dari pengaruh ajaran Xun Zi. Ajaran Xun Zi  telah masuk ke Jepang 2000 tahun lamanya. Sumbangan Xun Zi atas nama ajaran Nabi Kongzi kepada negara-negara industri baru di Asia telah diakui oleh masyarakat internasional. Negara-negara ini terbukti dapat bersaing dengan negara-negara Barat yang sudah maju. Partai Komunis Tiongkok dan Vietnam juga sudah mengakui bahwa negara hukum yang diajarkan oleh Xun Zi sebagai syarat kebangkitan bangsa-bangsa mereka, terutama dalam pembangunan ekonomi. Ajaran Xun Zi tentang pembangunan negara dan ekonomi dinyatakan dengan terbuka.

Filsafat Kejiwaan 
Xun Zi menggambarkan jiwa manusia sebagai berikut, manusia mempunyai  naluri untuk mempertahankan hidup, mempunyai naluri untuk memiliki keturunan, mempunyai naluri memiliki benda, mempunyai naluri menyayangi dan disayangi, dan mempunyai naluri untuk melindungi keluarganya. Apabila manusia terpenuhi nalurinya dia gembira. Apabila nalurinya tidak terpenuhi dia sedih atau kecewa.. Kecewa, sedih,  gembira, dan marah itu termasuk emosi.

Pada manusia umumnya, yang berperan besar dalam kehidupannya adalah naluri dan emosi, pikirannya mengabdi pada kepentingan naluri. Xun Zi mengatakan bahwa watak sejati manusia itu buruk.Watak sejati yang dimaksud Xun Zi adalah naluri dan nafsu yang tidak terkendali. Untuk memperbaiki watak yang buruk itu, manusia harus dididik dan dilatih menggunakan otaknya mengendalikan nafsu. (Zhang, 1993: 502).

Pendidikan untuk memberi bentuk naluri agar tidak kasar dan memalukan. Naluri dapat dibentuk menjadi kegiatan yang enak dipandang sebagai kegiatan berbudaya. Misalnya disalurkan dalam kegiatan kesenian, olah raga, ilmu pengetahuan, dan ketrampilan. Menurut Xun Zi, kebudayaan manusia dibentuk untuk membungkus naluri manusia. Contohnya, naluri mempunyai keturunan diwujudkan dalam upacara pernikahan yang sakral. Naluri berkuasa disalurkan dalam bentuk organisasi politik, pertandingan olah raga, dan menduduki jabatan pemerintahan. Naluri memiliki benda dibentuk dalam kegiatan perdagangan dan jual jasa, atau membuat perusahaan. 

Apabila manusia hanya ingin memuaskan nalurinya saja secara alami, maka tidak akan tercipta kebudayaan manusia. Hidup manusia tidak berbeda dengan hewan. Pendidikan mengenalkan anak didik dengan kebajikan, keadilan, tatasusila. Manusia mempunyai kemampuan berpikir dengan daya imajinasinya itu, dan manusia dapat memberi bentuk pada nalurinya menjadi hasil budaya yang indah dan lebih halus. Pembentukan naluri menjadi produk budaya adalah proses pembudayaan manusia.

Pendidikan membekali siswa dengan kemampuan berbahasa, kemampuan menulis, kemampuan melukis, kemampuan menyanyi, kemampuan berlaku sopan, dan kemampuan mengabstraksikan naluri dalam bentuk kesenian yang indah. Pendidikan membentuk naluri dapat dilakukan di rumah, di sekolah, dan dalam kegiatan bermasyarakat. Naluri adalah pemberian Tuhan, naluri adalah modal hidup manusia, maka naluri tidak boleh dimatikan, melainkan harus diberi jalan untuk direalisasikan menjadi produk budaya (Zhang,1993: 505).

Kemampuan suatu masyarakat memberi bentuk pada naluri itu menjadi ukuran tinggi rendah kebudayaan. Masyarakat yang berbudaya tinggi mampu memberi bentuk naluri itu menjadi karya budaya yang indah dan tidak tampak sifat “alaminya“. Misalnya, orang marah tidak harus berteriak-teriak atau memukul meja. Kemarahan bisa dinyatakan dengan musik atau lagu yang enak didengarkan, bisa juga dinyatakan dengan puisi, atau dengan kata-kata jenaka.

Selain naluri, pikiran, dan emosi, manusia juga mempunyai hati nurani yang perlu diisi dengan nilai-nilai moral luhur dan keyakinan kepada Tuhan. Dengan pendidikan yang serius dan sistematis, kesadaran religius dapat ditanamkan kepada anak didik sehingga mempunyai iman yang kuat. Orang yang hati nuraninya telah diisi penuh dengan ajaran agama mempunyai pegangan hidup yang kuat. Ajaran agama diterima melalui pemahaman, tetapi perlu dilatih terus sehingga masuk dalam hati nuraninya. Dalam ajaran Xun Zi hati nurani yang aktif dan sudah terlatih, sangat penting peranannya dalam mengambil keputusan bagi seseorang sebelum bertindak (Zhang, 1993: 49).

Merunut Xun Zi, hati nurani digamberkan sebuah “tabung” yang perlu diisi dengan nilai-nilai luhur yang sudah tertulis dalam Kitab Klasik atau Liu Jing ( 六 经  ). Saat orang akan mengambil keputusan sudah memiliki nilai-nilai yang tersimpan dalam “tabung” hati nurani itu sebagai dasar pertimbangan. Apabila orang tidak mempelajari Kitab Liu Jing dengan cermat, “tabung” hati nurani itu isinya sedikit dan tidak teratur. Akibatnya, saat orang mencari bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan dasar pertimbangan itu tidak memadai. Keputusan yang sudah diambil tidak tepat dan tidak dapat menyelesaikan masalah.

Orang dianggap pandai dan cerdas apabila dia dapat mengambil keputusan yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Untuk mengambil keputusan diperlukan dasar pertimbangan yang cukup. Orang perlu banyak belajar, banyak membaca buku, banyak berdiskusi dengan orang lain, dan mempunyai pedoman untuk membedakan antara yang baik dan buruk. Xun Zi menekankan bahwa isi Kitab Liu Jing itu sebagai pedoman yang baik untuk mengambil keptusuan demi kesejahteraan masyarakat Tionghua. 


Sumber dari Disertasi Xs. Dr. Oesman Arif M.Pd yang berjudul : Penyelenggaraan Negara menurut Filsafat Xun Zi.

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:186 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:179 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:112 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:651 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

05-09-2017 Hits:601 Berita Foto

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

Talkshow interaktif dengan Nara Sumber Js. Liem Liliany Lontoh; Hotel Aston ruang Asoka Lt. 2; Manado, 01 September 2017.

Read more

Anti Narkoba

28-08-2017 Hits:111 Berita Foto

Anti Narkoba

Surabaya, 28 Agustus 2017 pertemuan BNN (Badan Narkotika Nasional) di Hotel Santika Surabaya yang dihadiri oleh beberapa sukarelawan.

Read more

Pulau Nan Indah

22-08-2017 Hits:191 Berita Foto

Pulau Nan Indah

Kami mengajak para pencinta alam Indonesia untuk berkeliling ke tiga pulau di Wilayah Sumenep-Madura.

Read more

Tokoh Matakin Berpulang

08-08-2017 Hits:1145 Berita Foto

Tokoh Matakin Berpulang

Wu Hu Ai Zai, telah kembali ke Haribaan Huang Tian, Xs Hanom Pramana Buanadjaja (Phwa Tjhiang Han/Pan Chang Han 潘昌汉)...

Read more

Nganjuk Penuh Kedamaian

27-07-2017 Hits:307 Berita Foto

Nganjuk Penuh Kedamaian

Kunjungan FKUB provinsi Jatim hari kedua di FKUB Kabupaten Nganjuk. Kunjungan di Nganjuk diterima di kantor Kesbangpol. Hadir dalam pertemuan...

Read more

FKUB Jatim Turba

26-07-2017 Hits:178 Berita Foto

FKUB Jatim Turba

Rapat koordinasi dan silaturahim FKUB Kabupaten Mojokerto yang dihadiri oleh jajaran pengurus FKUB Kabupaten Mojokerto, Bupati dan para Camat, Bakesbangpol,...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 42 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com