spocjournal.com

Menjadi Orang Suci atau Menjadi Orang Kuat

Oleh : Xs. Dr. Oesman Arif, M.Pd

Ajaran Nabi Kongzi menegaskan bahwa orang mempunyai dua tujuan, yaitu membina diri dan menyelamatkan orang lain, atau xiu ji an ren ( 修 己  安  人  ). Membina diri pribadi menjadi orang suci, agar seperti nabi.  Membina moral kepemimpinan menjadi orang kuat seperti raja yang dapat menolong rakyat banyak.  Konsep ini disebut : ke-dalam menjadi nabi dan ke-luar menjadi raja atau nei sheng wai wang ( 内 圣 外 王 ). Para ahli filsafat Tiongkok berkomentar bahwa ajaran Meng Zi titik beratnya pada membina diri pribadi agar seperti nabi atau nei sheng ( 内  圣 ). Sedangkan, ajaran Xun Zi titik beratnya pada  pembinaan moral kepemimpinan atau wai wang ( 外  王 ).  Dengan perkataan lain, ajaran Meng Zi arahnya pada ajaran agama, sedangkan ajaran Xun Zi arahnya ke filsafat.

Xun Zi mengajarkan filsafat meliputi filsafat manusia, filsafat politik, filsafat hukum, filsafat pendidikan, dan filsafat kebudayaan. Jelasnya, agama Konghucu dan Filsafat Xun Zi di Tiongkok pada waktu itu tidak dipermasalahkan (Li Jing Quan, dalam Kongzi Jijinhui, 1993: 51).

Pembedaan antara ajaran Xun Zi dan Meng Zi berdasarkan moral kenabian dan  moral kepemimpinan itu tidak bersifat extrem. Meng Zi selain mengajarkan moral kenabian juga mengajarkan moral kepemimpinan. Sedangkan Xun Zi, mendasarkan pembinaan diri pada pembinaan moral kenabian, kemudian diteruskan pada moral kepemimpinan.

1. Moral Kepemimpinan Perlu Dikembangkan
Menurut Xun Zi, moral kenabian saja belum cukup karena negara membutuhkan pemimpin duniawi. Moral kepemimpinan ini wajib dimiliki semua pemimpin, dari pusat sampai ke daerah. Moral kenabian juga perlu dimiliki para pemimpin negara karena mereka juga merangkap pemimpin agama Khonghucu. Zaman itu sistem komunikasi masih sulit. Komunikasi antara pusat dan daerah belum lancar, alat transportasi juga masih sederhana. Pemimpin di daerah harus dapat membuat keputusan sendiri tidak perlu menunggu persetujuan pusat, yang penting semua keputusan tidak bertentangan dengan nilai moral. Oleh karena itu, Xun Zi menentukan persyaratan untuk menjadi pegawai pemerintah orang harus mengimani agama Khonghucu dan mempelajari filsafat politik yang disusunnya itu.

Xun Zi menganggap ada urutan yang tidak bisa dibalik, yaitu, orang harus mempelajari Agama Khonghucu, setelah mencapai tahap tertentu baru belajar Filsafat Xun Zi. Dalam bukunya pada bab I (Zhang, 1993: 20) Xun Zi menekankan bahwa semua perilaku manusia itu harus didasari iman dan ketulusan hati atau Cheng (  诚  ). Apabila orang melakukan pekerjaan tidak didasari ketulusan hati dan keyakinan iman, pekerjaannya tidak sempurna atau tidak beres karena hanya setengah hati. Orang taat pada hukum, apabila hatinya tidak tulus ketaatan itu cuma pura-pura. Contoh lain, jika orang mengerjakan pekerjaan demi mendapat uang itu tanda tidak tulus, tetapi apabila ia mempunyai keyakinan bahwa itu  tugas mulia, maka ia mengerjakannya dengan hati tulus.        

Keyakinan iman dan ketulusan hati tidak dapat diajarkan dengan tergesa-gesa. Anak-anak perlu dilatih sejak kecil, yaitu melalui pendidikan agama. Di Tiongkok anak-anak mengenal cerita yang berjudul: ”Kakek tolol memindah gunung“, yang menceritakan seorang kakek dengan anggota keluarganya yang bertempat tinggal di bawah gunung. Di sebelah lain gunung itu terdapat pasar. Sang kakek berpikir: andaikan gunung itu dipindah, letak rumah mereka sekeluarga menjadi tidak jauh dari pasar karena tidak perlu memutari gunung jika pergi ke pasar. Kakek itu lalu memerintahkan semua anggota keluarganya untuk memindah gunung. Siang malam mereka bekerja bergantian mencangkuli gunung itu, sehingga akhirnya gunung itu berhasil dipindahkan.

Kakek itu bodoh bukan untuk dicontoh, yang dicontoh adalah kerja keras seluruh anggota keluarga untuk dapat mewujudkan ide yang tidak masuk akal itu menjadi kenyataan. Andaikata semua anggota keluarga itu tidak patuh pada sang kakek, gunung itu tidak dapat dipindahkan. Xun Zi mengakui dalam ajaran agama ada kekuatan yang mengatasi rasio (Zhang, 1993:  109).

Xun Zi  menegaskan bahwa kesuksesan itu hanya dapat dicapai dengan Iman atau keyakinan, disertai hormat dan patuh kepada pemimpin. Sikap hormat dan patuh kepada pemimpin bukan sikap masyarakat feodal. Dalam masyarakat yang paling demokratis di zaman modern sekarang sikap itu tetap dipegang teguh. Pemimpin dalam semua organisasi adalah simbol dari sistem. Orang yang hidup dalam masyarakat wajib menghormati sistem masyarakatnya. Oleh karena itu, orang yang hormat dan patuh kepada pemimpin sebenarnya dia menghormati dan mematuhi sistem itu.

Xun Zi menekankan kesusilaan atau Li (  礼  ), konsep yang sangat ditekankan oleh Nabi Kongzi karena kesusilaan itu adalah dasar terwujudnya sistem kemasyarakatan di mana saja. Dalam sistem kesusilaan itu pemimpin harus dihormati dan dipatuhi perintahnya. Negara mempunyai sistem kesusilaan, presiden sebagai pemimpin tertinggi adalah simbol dari negara. Orang yang tidak menghormati presidennya dan tidak patuh pada undang=undang yang diumumkan oleh presiden adalah orang yang tidak mengerti kesusilaan.   


2. New Text School dan Old Text Shool
Pada zaman Qin Shi Huang Di berkuasa, kitab Klasik Nabi Kongzi dilarang dipelajari oleh rakyat. Semua buku tang disimpan rakyat dirampas dan dibakar. Kitab Klasik yang disimpan di istana juga terbakar saat istana itu dibakar musuh.

Pada saat dinasti Han berkuasa, kitab Klasik itu dituliskan kembali oleh para ahli yang telah menghafalkannya. Tulisan atau text yang dituliskan berdasarkan hafalan itu disebut New Text atau Teks baru. Para pendukung teks baru ini disebut aliran Teks Baru atau New Text School atau Jin Wen Jia ( 今 文 家 ). Mereka ini adalah pengikut Meng Zi. Munculnya pada awal zaman Han (200 S M).  Isi teks baru condong ke ajaran agama Khonghucu. Nabi Kongzi dipandang sebagai Nabi oleh mereka. Ajaran Yin Yang dan Lima Unsur dimasukkan dalam ajaran Nabi Kongzi. Tokohnya antara lain Dong Zhong Shu.

Pada awal Masehi (04 M), muncul aliran lain yang disebut Old Text School atau Gu Wen Jia ( 古 文  家 ).  Isinya condong pada filsafat Realisme Xun Zi. Unsur-unsur mistiknya dihilangkan. Tokoh aliran Old Text School ini antara lain Yang Xiong dan Wang Zhong. Menurut cerita, teks ini ditemukan dalam tembok rumah Nabi Kongzi yang saat itu sedang direnovasi oleh kerajaan. Teks ini disebut Teks Lama karena dianggap teks asli milik Nabi Kongzi.

Namun, banyak ahli sejarah kuna menyangsikan bahwa teks tersebut benar ditemukan dari tembok rumah Nabi Kongzi. Orang menduga teks ini dibuat oleh para pengikut Xun Zi. Di kemudian hari, muncul dua aliran yang berseberangan dalam ajaran Nabi Kongzi, yaitu adanya aliran Teks Lama dan aliran Teks Baru. Dua teks ini mewakili pertentangan antara Meng Zi dan Xun Zi (Fung, 1952).

Xun Zi telah berjuang agar ajaran Nabi Kongzi menjadi pedoman hidup bagi rakyat Tiongkok sepanjang masa. Dia seorang praktisi, ide yang dipikirkan dilaksanakan sendiri dan diwujudkannya sendiri, dan lemudian dilanjutkan muridnya. Semangat Xun Zi ini dicontohnya dari Nabi Kongzi yang ingin mewujudkan cita-citanya sendiri dengan mengelilingi negara Tiongkok selama empat belas tahun, kemudian pulang mendirikan sekolah.

Semangat untuk mewujudkan idenya dan memperjuangkannya sendiri seperti itu dirumuskan oleh Wang Yang Ming dengan istilah “Mengerti dan melaksanakan itu satu kesatuan” atau Zhi Xing He Yi ( 知  行 合 一 ). Semangat itu juga telah menjadi semangat masyarakat yang mempelajari agama Khonghucu maupun Filsafat Xun Zi. Banyak orang bisnis sukses karena telah memiliki semangat ini, bila mempunyai ide yang baik segera laksanakan sendiri, jangan menunggu orang lain untuk melaksanakannya. Apabila yang memiliki ide itu belum berhasil mencapai cita-citanya, penerusnya yang akan mencapainya.
 

3. Perjuangan Xun Zi menyatukan Tiongkok
a. Desentralisasi yang Memecah Belah
Pada saat Zhou Gong ( 周 公) menjadi raja, ia mengangkat para bangsawan menjadi raja muda di berbagai wilayah di Tiongkok. Mereka diberi kekuasaan di daerah-daerah sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat. Maksud Zhou Gong untuk meringankan beban pemerintah pusat. Pertimbangannya, pemerintahan lebih efektif dengan sistem desentralisasi. Namun, setelah beberapa puluh tahun kemudian para raja muda itu saling berebut wilayah. Masing-masing bangsawan menyatakan diri sebagai raja yang tidak tunduk pada pemerintah pusat.  

Pada zaman Nabi Kongzi, perpecahan di Tiongkok sudah parah. Tiongkok terpecah menjadi puluhan negara kecil. Pada zaman Xun Zi kerajaan daerah yang masih bertahan ada tujuh. Zaman ini disebut dengan zaman Peperangan Antar Negara atau Zan Guo ( 战  国 ). Kerajaan pusat, ibu kota dinasti Zhou, sudah jatuh di tangan raja Qin (  秦  ).

Tujuh negara yang masih bertahan pada zaman Zan Guo itu disebut “ Tujuh Jagoan” atau Qi Xiong ( 七 雄 ). Di antara tujuh negara itu yang paling kuat dan ditakuti adalah negeri Qin ( 秦 ). Enam negeri yang lain berusaha menggagalkan usaha negeri Qin ( 秦 ) untuk menyatukan Tiongkok. Keenam negeri itu lebih senang bertahan dengan keadaan Tiongkok terpecah menjadi tujuh negara. Banyak cerita rakyat tentang kepahlawanan orang-orang yang menggagalkan negeri Qin menyatukan Tiongkok. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa (1) Banyak orang Tiongkok pada saat itu tidak senang kepada negeri Qin karena dianggap negeri barbar. (2). Banyak orang Tiongkok saat itu tidak menyadari perpecahan di Tiongkok sebagai bahaya terhadap keutuhan bangsa Tionghua. (3) Orang-orang Tiongkok pada waktu itu sudah bosan dengan keadaan perang berkepanjangan. Mereka ingin hidup tenang, maka mereka mengharapkan tidak ada perang meskipun keadaan Tiongkok terpecah menjadi tujuh negara.   

Pada zaman Zhan Guo belum banyak orang yang berpandangan jauh seperti yang diajarkan Nabi Kongzi, Meng Zi, dan Xun Zi. Pemikiran mereka belum dapat menjangkau kesadaran nasional yang luas. Mereka hanya melihat daerahnya diperintah oleh siapa, dan pemimpin daerah itu dianggap rajanya dan daerahnya dianggap negerinya. Guna menyadarkan rakyat bahwa mereka mempunyai negeri Tiongkok yang besar sebelum terpecah belah, Nabi Kongzi mengeluarkan konsep Tian Xia Wei Gong( 天  下  为  公  ), artinya Bawah Langit Untuk Kita Semua. Ungkapan itu tujuannya untuk menyadarkan rakyat Tiongkok bahwa negerinya adalah seluruh wilayah bawah langit, yaitu wilayah Tiongkok.

Xun Zi dan Nabi Kongzi saat itu menyebut Tiongkok dengan Tian Xia artinya bawah langit. Sekarang istilah Tian Xia diartikan jagat. Sebutan negeri China itu mungkin dari nama negeri Qin yang berhasil menyatukan Tiongkok pada tahun 221 SM. Dari kenyataan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pada zaman Zhan Guo semangat nasionalisme Tiongkok belum merata. Nabi Kongzi dan Xun Zi ingin membangun nasionalisme Tiongkok dengan kebudayaan Konfusianisme, bukan berdasar etnis atau wilayah.

Pada awal abad XX, Sun Yat Sen mengajarkan ideologi baru yang disebut San Min Zhu Yi (  三  民  主  义 ). Artinya  Ideologi  Tiga Sila yaitu Demokrasi atau Min Quan (  民  劝 ), Sosialisme atau Min Sheng (  民  生 ), dan Nasionalisme atau  Min Zu ( 民 族 ). Menurut XieYou Zhong ajaran Sun Yat Sen itu diambil dari kitab Klasik Konfusianisme (Xie, tanpa tahun).

Ada hal yang menarik di negeri Tiongkok yaitu negara besar dengan daerah luas dan penduduk sangat banyak, tetapi tidak menggunakan sistem negara federasi seperti Amerika Serikat atau India. Orang Tiongkok tidak ingin mengulangi pengalaman pahitnya dengan memakai sistem federasi karena takut zaman Zhan Guo terulang lagi. Di RRT ada beberapa daerah otonom karena mempunyai kekhususan budaya atau tradisi, tetapi tetap dalam kerangka negara kesatuan.   

b. Tantangan untuk Menyatukan Tiongkok
Meng Zi dan Xun Zi hidup pada zaman yang sama, zaman ZhanGuo. Perpecahan ini membuat Meng Zi dan Xun Zi merasa tertantang untuk menyatukan kembali Tiongkok.  Perpecahan itu sudah berlangsung selama 400 tahun, apabila berlanjut terus negara Tiongkok tidak akan ada lagi. Cara Meng Zi dan Xun Zi menyatukan Tiongkok berbeda.

Meng Zi berusaha untuk menyadarkan para raja-muda agar mau bergabung secara damai. Ia sama sekali tidak menganjurkan kekerasan atauperang untuk menyatukan Tiongkok. Sebaliknya, Xun Zi menyadari bahwa para raja-muda itu tidak mungkin berdamai. Menurutnya, perlu ada salah satu negara yang kuat yang dapat menundukkan enam negara yang lain. Menurut sejarah, di negeri Qi (  齐 ) pernah ada orang kuat. Xun Zi berharap saat itu negeri itu masih ada orang kuat. Ternyata, di negeri ini Xun Zi tidak menemukan orang kuat, dan tidak melihat potensi negara ini untuk menyatukan Tiongkok. Penataan pemerintahan di negara Qi saat itu tidak memungkinkan menjadi negara yang kuat.

Xun Zi mendapat pekerjaan sebagai penasihat kerajaan, antara lain di negeri Zhao (  赵 ) dan negeri Qin ( 秦 ). Selama Xun Zi menjadi penasihat kerajaan juga melakukan penelitian, untuk mencari cara menyatukan Tiongkok. Dari hasil analisisnya, ia yakin bahwa negara Qin yang paling kuat untuk mengalahkan enam negara yang lain. Hasil analisisnya itu didiskusikannya dengan raja Zhao. Ia menceritakan cara raja Qin mengatur strategi perangnya, dan menjelaskan mengapa negara Qin selalu menang perang. Negeri Qin menggunakan orang miskin menjadi prajurit dengan janji akan diberi jabatan bila menang perang. Orang-orang miskin ini hanya sekali berperang, tidak bisa digunakan dua kali karena harapannya hanya menjadi pejabat bisa hidup kaya. Xun Zi berkomentar bahwa cara negeri Qin ini tidak bisa dipakai membangun angkatan perang yang kuat. Cara seperti itu sifatnya hanya darurat.

Li Si, murid Xun Zi yang dikenal ambisius, mengajukan diri kepada Xun Zi untuk membantu negara Qin menyatukan Tiongkok. Li Si menjadi Perdana Menteri di negara Qin atas rekomendasi Xun Zi. Pada tahun 221 SM negeri Qin menguasai seluruh Tiongkok. Raja negeri Qin menyatakan dirinya sebagai Kaisar Pertama atau Qin Shi Huang Di ( 秦 始 皇 帝). Dalam cerita yang beredar, Qin Shi Huang Di adalah kaisar yang kejam, tidak segan membunuh orang yang tidak bersalah karena ia takut pembalasan dendam atau takut pada orang yang dicurigai berbahaya untuk dirinya.  

Akibat buruk menimpa nama baik Xun Zi karena muridnya menjadi Perdana Menteri negeri Qin mendampingi Qin Shi Huang Di yang  menjalankan pemerintahan dengan kekejaman. Nama Xun Zi ikut menjadi buruk. Sebenarnya kerajaan Qin sejak beberapa generasi sebelumnya telah menjadi negara yang kuat dan bernuansa barbar. Jauh sebelum Xun Zi lahir, kerajaan Qin sudah terkenal paling kuat dibandingkan dengan negara lain. Peran Xun Zi dalam mendukung keberhasilan Qin Shi Huang Di menyatukan Tiongkok adalah dukungan moral dan strategi perang yang diajarkan kepada  Li Si, dan dukungan ajaran Han Fei Zi. Han Fei Zi juga murid Xun Zi, ia menjadi tokoh penting aliran Legalisme.

Para ahli sejarah Tiongkok zaman sekarang mengakui jasa Qin Shi Huang Di menyatukan Tiongkok. Dari pertimbangan yang jujur jasa Qin Shi Huang Di harus diakui karena waktu itu Tiongkok sudah terpecah belah selama 400 tahun. Apabila tidak ada orang yang ambisinya besar seperti Xun Zi dan Qin Shi Huang Di tidak jelas bagaimana nasib negeri Tiongkok sekarang. Bandingkan Kekaisaran Romawi yang akhirnya lenyap.

Nabi Kongzi merasa khawatir apabila keadaan kacau di Tiongkok berlanjut dan negara Tiongkok akan hilang karena dikuasai oleh bangsa lain dari luar Tiongkok. Nabi Kongzi berusaha keras untuk menyatukan Tiongkok dengan mengajarkan moral kepada para raja-muda itu. Nabi Kongzi mengunjungi beberapa raja muda bersama murid-miridnya, tetapi tidak mendapat perhatian dari para-raja muda itu. Kemudian Nabi Kongzi kembali ke negerinya sendiri, negeri Lu, menulis dan mendidik murid-muridnya. Nabi Kongzi masih melihat harapan untuk menyatukan Tiongkok yaitu melalui pendidikan seluas-luasnya. Cita-cita menyatukan Tiongkok itu harus diajarkan kepada generasi selanjutnya melalui pendidikan yang intensif dan sistematis. Usahanya mendidik generasi muda itu membawa hasil yang luar biasa manfaatnya untuk bangsa Tiongkok dan untuk perkembangan agama Khonghucu dan Konfusianisme.

Nabi Kongzi mendirikan sekolah, menampung orang-orang yang berminat belajar, muridnya berjumlah 3000 orang. Dalam usaha mendirikan sekolah ini Kongzi dibantu oleh murid-muridnya yang senior, antara lain oleh Zi Gong, dia seorang kaya. Dari sekolah ini banyak murid Nabi Kongzi yang berhasil dan menjadi pejabat pemerintah. Banyak juga murid-murid Nabi Kongzi yang mendirikan perguruan meneruskan cita-cita gurunya. Pada zaman selanjutnya, perguruan Konfusianisme ini menjadi pusat pendidikan calon pejabat negara sampai dengan akhir dinasti Qing (1911).

Nabi Kongzi merintis penyatuan Tiongkok kembali dengan cara yang terencana dan sistematis yaitu dengan mendirikan sekolah. Cara ini juga menjadi model perjuangan orang-orang zaman modern. Gerakan Budi Utomo pada awal abad XX di Indonesia untuk memerdekakan Indonesia juga dimulai dengan mendirikan sekolah-sekolah. Perjuangan mulai dengan menyiapkan kader lewat pendidikan juga dilakukan di Eropa maupun di Asia. Kapitalisme berkembang dari pendidikan pertukangan di Eropa yang disebut Gilde. Negara-negara komunis juga mendirikan pendidikan kader. Namun pendidikan hanya sebagian dari perjuangan, masih banyak pekerjaan lain yang harus dilakukan antara lain mendirikan organisasi yang rapi dan dinamis.      

c. Usaha Xun Zi Menyatukan Tiongkok
Xun Zi mengingatkan bahwa cita-cita menyatukan Tiongkok sudah dirintis Nabi Kongzi sejak ratusan tahun sebelumnya, tetapi belum berhasil. Andai kata generasi selanjutnya tidak lagi mempunyai cita-cita menyatukan Tiongkok tentu Tiongkok akan hilang untuk selamanya. Oleh karena itu, Xun Zi menudukung ajaran bakti dari Nabi Kongzi. Menurut Nabi Kongzi, berbakti yang utama yaitu meneruskan cita-cita orang tua dan nenek moyangnya (Lun Yu, jilid 1).

Selain Nabi Kongzi dan Xun Zi juga banyak tokoh lain yang ingin menyatukan Tiongkok, tetapi mereka tidak mempunyai konsep yang matang. Mereka bukan filsuf, tetapi para jenderal yang ahli perang. Kegagalan mereka disebabkan adanya semangat nasionalisme kedaerahan, dan kekhawatiran timbulnya perang besar yang menyengsarakan rakyat. Nabi Kongzi dan Meng Zi termasuk orang yang menghindari perang, tetapi Xun Zi melihat bahwa tanpa perang Tiongkok tidak dapat disatukan kembali.

Masyarakat Tiongkok sendiri pada zaman itu juga sudah jemu pada peperangan. Hal itu terbukti dengan adanya pemujaan terhadap Qi Yuan, seorang tokoh yang mencegah penyatuan Tiongkok oleh negara Qin. Dia pernah menjadi Perdana Menteri di negara Chu ( 楚 ). Selama menjadi Perdana Menteri ia dapat menyatukan enam negara untuk menghadapi negara Qin. Akan tetapi, negara Qin dapat menjatuhkannya dengan cara mengadu domba dia dengan rajanya sendiri. Pada saat dia sudah tidak menjadi Perdana Menteri di negara Chu, suatu hari negara Chu diserang oleh negara Qin. Qi Yuan sangat sedih mendengar berita itu, kemudian ia bunuh diri dengan terjun ke sungai. Pada badannya diikatkan batu besar. Ia bunuh diri tepat pada hari perayaan Duan Yang, tanggal 5 bulan 5 Imlik. Sejak peristiwa itu setiap perayaan Duan Yang, setahun sekali, diadakan sembahyang Bak Cang. Makanan yang dibuat dari ketan diisi daging dibungkus daun bambu, dimasukkan ke sungai sebagai sesaji untuk arwah Qi Yuan. Dengan adanya kenyataan ini dapat dipahami betapa berat dan besar tantangan Xun Zi dalam berusaha menyatukan Tiongkok kembali.

d. Strategi Xun Zi Menyatukan Tiongkok
Sudah sejak lama negeri Qin mempunyai niat untuk menundukkan enam negeri lain, tetapi belum berhasil. Raja-muda negeri lain sebenarnya juga mempunyai keinginan yang sama, tetapi mereka menyadari kelemahan sendiri. Enam negeri itu lebih memilih bersatu menghadapi negeri Qin. Sebaliknya, negeri Qin menggunakan berbagai cara untuk memisahkan mereka. Dalam penelitiannya, Xun Zi melihat bahwa enam negeri itu sudah merasa lelah bertahan. Beberapa kali Xun Zi dimintai tolong untuk menyelamatkan negeri-negeri itu dari serangan musuh. Hubungan antara enam negeri itu sudah retak. Mereka sering konflik di antara mereka sendiri.

Xun Zi juga mengetahui bahwa raja negeri Qin bukan raja yang baik, tetapi raja yang mempunyai ambisi untuk menguasai Tiongkok. Xun Zi menyadari bahwa usaha menyatukan Tiongkok bukan pekerjaan mudah, selain diperlukan orang pandai juga perlu orang yang mempunyai ambisi besar. Xun Zi bermaksud menjadikan negeri Qin sebagai target antara, artinya setelah negeri Qin berhasil menyatukan Tiongkok pasti ada kekuatan lain yang dapat menggulingkan negeri Qin, apabila rajanya tidak dapat memerintah negara dengan benar.

Xun Zi menunjuk Li Si menjadi Perdana Menteri di negeri Qin. Keputusan Xun Zi ini mendapat banyak perhatian dari para sejarawan. Li Si yang ambisinya besar dan serakah justru yang dipilih. Menurut komentar ahli sejarah, bila Xun Zi mengambil keputusan selalu mempertimbangkan psikologi seseorang. Fung Yu Lan berpendapat bahwa Xun Zi dikenal juga sebagai ahli Psikologi (Fung, 1952: 200).

Negara Qin akhirnya berhasil menyatukan Tiongkok pada tahun 221 S.M, namun, kekuasaan dinasti Qin tidak lama (221- 206 S M). Seperti yang pernah dikatakan oleh Xun Zi kepada Li Si, “keserakahan itu akan mendatangkan banyak musuh maka kemenanganmu hanya sementara.” (Zhang, 1993: 313).

Dinasti Qin tumbang dan diganti dinasti Han (207 S M). Ajaran Xun Zi dilaksanakan juga dalam pemerintahan dinasti Han. Sejak zaman itu semua pejabat negara disyaratkan lulus ujian negara. Materi ujiannya adalah ajaran isi Kitab Wu Jing, Ajaran Nabi Kongzi mendapat tempat paling terhormat dibandingkan dengan ajaran lain. Ajaran Xun Zi tentang mengatur negara dilaksanakan di Tiongkok. Dinasti Han menjadi dinasti yang sangat kuat dan pengaruhnya sampai negara tetangga seperti Vietnam, Jepang dan Korea.

Ajaran Xun Zi berpengaruh pada zaman dinasti Han karena pejabat dinasti Han mencontoh pendahulunya, yaitu dinasti Qin yang terbukti kuat dapat mengalahkan enam negeri. Sistem pemerintahan dinasti Qin menggunakan ajaran Han Fei Zi, murid Xun Zi, akan tetapi, dinasti Han tidak berani mengakuinya karena takut dibenci rakyat. Pemerintah dinasti Han mengatakan bahwa mereka memakai ajaran Nabi Kongzi yang diambil dari ajaran Xun Zi.

Pada zaman itu, semua faham atau aliran mengaku sebagai bagian dari ajaran Nabi Kongzi. Banyak ajaran lain diberi label ajaran Nabi Kongzi. Ajaran Tao dan ajaran Legalisme juga memakai label ajaran Nabi Kongzi. Apabila memakai label lain tidak laku di pemerintahan. Akibatnya, ajaran Nabi Kongzi menjadi campur aduk dan kacau. Pada tahun 79 Masehi para cendekiawan agama Khonghucu mulai menentukan sikap dengan mengadakan seminar dan diskusi agar ajaran agama Khonghucu dapat dipisahkan dari ajaran yang lain. Seminar tersebut diadakan di gedung istana yang diberi nama Gua Harimau Putih.

Sumber dari Disertasi Xs. Dr. Oesman Arif M.Pd yang berjudul : Penyelenggaraan Negara menurut Filsafat Xun Zi.

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:186 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:179 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:112 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:651 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

05-09-2017 Hits:601 Berita Foto

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

Talkshow interaktif dengan Nara Sumber Js. Liem Liliany Lontoh; Hotel Aston ruang Asoka Lt. 2; Manado, 01 September 2017.

Read more

Anti Narkoba

28-08-2017 Hits:111 Berita Foto

Anti Narkoba

Surabaya, 28 Agustus 2017 pertemuan BNN (Badan Narkotika Nasional) di Hotel Santika Surabaya yang dihadiri oleh beberapa sukarelawan.

Read more

Pulau Nan Indah

22-08-2017 Hits:191 Berita Foto

Pulau Nan Indah

Kami mengajak para pencinta alam Indonesia untuk berkeliling ke tiga pulau di Wilayah Sumenep-Madura.

Read more

Tokoh Matakin Berpulang

08-08-2017 Hits:1145 Berita Foto

Tokoh Matakin Berpulang

Wu Hu Ai Zai, telah kembali ke Haribaan Huang Tian, Xs Hanom Pramana Buanadjaja (Phwa Tjhiang Han/Pan Chang Han 潘昌汉)...

Read more

Nganjuk Penuh Kedamaian

27-07-2017 Hits:307 Berita Foto

Nganjuk Penuh Kedamaian

Kunjungan FKUB provinsi Jatim hari kedua di FKUB Kabupaten Nganjuk. Kunjungan di Nganjuk diterima di kantor Kesbangpol. Hadir dalam pertemuan...

Read more

FKUB Jatim Turba

26-07-2017 Hits:178 Berita Foto

FKUB Jatim Turba

Rapat koordinasi dan silaturahim FKUB Kabupaten Mojokerto yang dihadiri oleh jajaran pengurus FKUB Kabupaten Mojokerto, Bupati dan para Camat, Bakesbangpol,...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 44 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com