spocjournal.com

孝順 孫子 Xiao Shun Sun Zi “Bakti Seorang Cucu Kepada Nenek”

 

Oleh: Ws. Mulyadi Liang.,S.Pd.Ing.,MA

Agama Khonghucu (Rujiao) sangat menekankan tentang laku bakti (Xiao), karena bakti dianggap sebagai dasar atau pondasi dari ajaran agama seperti tersurat dalam Xiaojing I.4, “Sesungguhnya Laku Bakti itu ialah Pokok Kebajikan. Dari situ Agama berkembang….”  Selanjutnya dalam ayat yang lain tersurat pula,

“Diantara watak-watak yang terdapat diantara langit dan bumi, sesungguhnya manusialah yang termulia. Diantara perilaku manusia tiada yang lebih besar daripada Laku Bakti (Xiao). Di dalam Laku Bakti tiada yang lebih besar daripada menaruh hormat dan memuliakan orangtua, dan hormat memuliakan orangtua itu tiada yang lebih besar daripada selaras dan harmonis kepada Tian” (Xiaojing IX:1)

Untuk lebih jelasnya mari kita kaji pengertian kata Xiao dari karakter huruf aslinya. Kata Xiao terdiri dari dua karakter, yaitu “lao” artinya orang tua atau yang dimuliakan dan “zi” artinya anak atau yang memuliakan. Jadi jelasnya bahwa seorang anak itu harus memuliakan/menghormati orang tuanya. Sesungguhnya tidak peduli bagaimanapun rupa dan perilaku orang tua kita, sepantasnyalah kita hormati, kita cintai dan kita layani mereka dengan tulus karena seperti apa yang kita lakukan kepada orang tua kita, demikian pula di kemudian hari seperti itulah perlakuan anak-anak kita kepada diri kita.



Mengapa agama Khonghucu memandang laku Bakti (Xiao) itu sebagai pokok dasar atau pondasi agama, hal ini dapat kita fahami dari makna karakter huruf Rujiao (Agama Ru/Khonghucu) itu sendiri. Huruf Ru terdiri dari dua karakter, yakni ren = manusia dan xu = perlu; dan huruf jiao terdiri dari dua karakter, yakni xiao = memuliakan dan wen = ajaran, hubungan. Jadi Rujiao (Agama Khonghucu) mengajarkan bagaimana memuliakan hubungan yang perlu bagi manusia yang berhubungan dengan Sancai: Tian, Di, Ren.



Untuk memahami lebih jauh tentang Laku Bakti ini, mari kita simak kisah berikut ini mengenai seorang cucu yang berbakti kepada neneknya.

  1. Dikisahkan ada seorang nenek tua yang hidup bersama anak, menantu dan cucu laki-lakinya. Si nenek di usia senja sering sakit-sakitan dan lemah sejak suaminya meninggal dunia ketika anaknya masih kecil-kecil dia seorang diri harus bekerja keras merawat anak-anak dan menghidupi keluarganya.
  2. Keadaan si nenek yang sakit-sakitan membuat gundah anak menantunya mereka merasa kerepotan harus melayani entah sampai kapan?
  3. Maka secara diam-diam merekapun mempunyai rencana bagainama caranya untuk bisa melepaskan beban dan tanggung jawab tsb.
  4. Suatu hari anak dan si menantu mengajak si nenek berjalan-jalan ke tengah hutan dengan alasan untuk menghirup udara segar sambil mereka membawa sebuah kurungan. Merasa penasaran si cucu diam-diam mengikutinya dari belakang.
  5. Sesampainya di hutan, si nenek dimasukan ke dalam kurungan dan ditinggalkan begitu saja. Sepeninggal ayah dan ibunya, si cucu merasa sedih dan membebaskan neneknya dan setelah disembunyikan disuatu tempat, diapun pulang dengan membawa kurungan tsb.
  6. Setelah kembali ke rumah dan bertemu kedua orang tuanya, diapun berkata: “Ayah ibu, saya menemukan kurungan ini di tengah hutan!”kedua orangtuanya menarik nafas lega dan menerka bahwa si nenek sudah dimangsa binatang buas sehingga mereka berfikir bahwa tujuannya menyingkirkan si nenek telah berhasil. Kemudian dia bertanya, “Lalu untuk apa kurungan seperti ini kamu bawa pulang?”
  7. “Oh, akan aku simpan ayah! Suatu hari nanti apabila ayah dan ibu sudah tua dan sakit-sakitan seperti nenek, kurungan itu akan kupakai untuk ayah dan ibu, sama seperti ayah dan ibu sekarang memperlakukan nenek.
  8. Ayah dan ibunya sangat terkejut mendengar jawaban anaknya. Merakapun merasa malu dan sadar bahwa apa yang telah diperbuatnya adalah salah. Justru anaknyalah yang mengajarkan untuk belajar menghargai kasih orang tua dan arti tanggung jawab sebagai seorang anak.

Makna apa yang bisa kita petik dari kisah tersebut :

  1. Hidup adalah tanggung jawab. Tanggung jawab kepada Tuhan, kepada orangtua, terhadap keluarga, orang lain, diri sendiri dan alam sekitarnya.
  2. Jika kita hidup hanya memikirkan keuntungan dan kepentingan diri sendiri saja dengan mengabaikan tanggung jawab apalagi membuat orang lain menderita, bisa dipastikan kehidupan kita akan mengalami ketidak harmonisan dan pasti akan berakhir dengan penderitaan.
  3. Sejelek apapun rupa dan sifat orang tua kita, mereka tetap layak untuk dihormati. Seburuk apapun kondisi mereka, sepantasnya pula kita melayaninya dengan tulus.
  4. Kalau kita tidak bisa xiao shun (berbakti), mengasihi dan melayani orang tua kita sendiri dengan baik, jangan berharap anak-anak kita kelak mau melakukan hal yang sama kepada kita.

Mungkin dalam benak kita timbul pertanyaan, bolehkan seorang anak memperingatkan orang tuanya ketika ia berbuat kesalahan? Coba baca dan simak ayat suci berikut ini:

  1. “Didalam melayani ayah bunda boleh memperingatkan tetapi hendaknya dengan lembah lembut. Bila tidak diturut bersikaplah lebih hormat dan janganlah melanggar. Meskipun harus bercapai lelah, janganlah menggerutu” (Lunyu IV: 18)
  2. “…. Seorang bawahan bila mempunyai kawan yang berani memberi peringatan, niscaya tidak kehilangan nama baiknya dan seorang ayah (orangtua) yang mempunyai anak yang berani memberi peringatan, niscaya tidak sampai terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak benar. Seorang anak tidak boleh tidak memberi peringatan kepada ayahnya (orangtuanya) dan seorang pembantu tidak boleh tidak memberi pimpinannya. Maka didalam hal-hal yang tidak benar harus diberi peringatan, bagaimana seorang anak yang hanya menurut perintah ayahnya dapat dinilai berlaku bakti?” (Xiaojing XV:2)

Jadi tidaklah benar apabila kita menganggap bahwa orang tua itu selalu benar dan tidak boleh diingatkan bila ia berbuat hal yang keliru, tentu dalam hal ini sebagai seorang anak tetap harus menjaga Li (kesopanan) dalam memberi peringatan kepada orang tua kita. Janganlah dengan cara yang kasar atau memaksaksn kehendak. Demikian pula sebagai orangtua hendaklah tidak bersikap otoriter dan selalu merasa dirinya paling benar. Disini hendaknya ada hubungan yang saling mendukung dan menghargai antara seorang anak dengan orangtuanya.
Bagaimana seorang anak menjaga martabat orang tuanya, yaitu dengan cara menjaga tubuh jasmani sebagai warisan dari orang tua dan menjaga nama baik orang tua dengan sebaik-baiknya sebagaimana tersurat dalam ayat berikut ini:

  1. Zengzi berkata: Tubuh dan diri ini ialah warisan ayah bunda; memperlakukan warisan ini , beranikah tidak penuh hormat (memuliakan)?
  2. Rumah tangga tidak diatur baik-baik, itu tidak berbakti;
  3. Mengabdi pimpinan tidak setia, itu tidak berbakti;
  4. Menjalankan Kewajiban dalam jabatan tidak sungguh-sungguh itu tidak berbakti;
  5. Dalam persahabatan tidak dapat dipercaya itu tidak berbakti;
  6. Bertugas di medan peperangan tidak ada keberanian, itu tidak berbakti.
  7. Tidak melakukan lima perkara itu, berarti akan mencemarkan nama orangtua. Maka beranikah tidak bersungguh-sungguh?
    (Kitab  Li  Ji XXIV -  Ji  Yi  禮 記 - 祭 義;    Xiaojing I:4)

Yang dinamakan Laku Bakti itu tidak hanya cukup dengan memberikan makanan saja kepada orang tua kita tanpa disertai adanya rasa hormat,  bila demikian lalu apa bedanya  seperti kita memperlakukan hewan peliharaan.  Murid Nabi Kongzi yang bernama Zi You  bertanya hal Laku Bakti. Nabi menjawab, “Sekarang yang dikatakan Laku Bakti katanya asal dapat memelihara, tetapi anjing dan kudapun dapat memberi pemeliharaan. Bila tidak disertai hormat, apa bedanya?” (Lunyu IIL7)

Setiap kali kita merayakan Tahun Baru Kongzili ada persembahyangan kepada leluhur yang dilaksanakan sebelumnya, hal ini menunjukkan bakti kepada leluhur yang telah tiada. Kemudian pada saat hari Tahun Baru kitapun memberikan hormat kepada orang tua kita yang masih ada sebagai wujud bakti kita. Demikianlah hal ini selalu ditanamkan dari generasi ke generasi, ajaran bakti ini terus dilanjutkan. Maka bakti dalam agama Khonghucu sesungguhnya memiliki 6 dimensi ruang, yaitu ke atas ia berbakti kepada Tian, ke bawah ia berbakti kepada bumi/alam sekitarnya, ke depan ia mendidik dan memberikan teladan kepada keturunannya, ke belakang ia berbakti kepada leluhurnya, ke kiri ia berbakti kepada lingkungan dan ke kanan ia berbakti kepada bangsa dan negaranya.

“SELAMAT TAHUN BARU KONGZILI – 1 ZHENG YUE 2570”
SEMOGA BERKAH DAN RAHMAT TIAN SENANTIASA DILIMPAHKAN
SHANZAI!    

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Camat Ploso Menampilkan Hanoman

17-08-2019 Hits:480 Medissa

Gerak Jalan 16 Agustus 2019 Ploso Jombang umum kemaren sengaja ditampilkan regu Hanoman Medissa oleh bapak Camat Drs.Ec.Suwignyo,MSc.

Read more

SMP N Ploso dan Medissa

16-08-2019 Hits:282 Medissa

SMP N Ploso dan Medissa

Jumat, 16 Agustus 2019 gerak jalan SD dan SMP Sekecamatan Ploso dimulai pada jam 8 pagi. Pada pembukaan gerak jalan...

Read more

Pak Tjiptoadi Dan Hobinya

13-05-2019 Hits:438 Medissa

Pak Tjiptoadi Dan Hobinya

Siapa yang tidak kenal dengan Tjiptoadi ? Semua teman-teman Medissa pasti banyak mengenalnya.

Read more

Optimis Reuni Akbar

03-05-2019 Hits:326 Medissa

Optimis Reuni Akbar

Ketika banyak angkatan mau mengadakan reuni sendiri sendiri, dalam benak pikiran ini adalah semakin sedikit yang ikut Reuni Akbar.

Read more

Berbagi

02-05-2019 Hits:300 Medissa

Berbagi

Memberi itu lebih baik daripada menerima. Mengunjungi itu lebih baik daripada dikunjungi.

Read more

Nurul Hidayat Di Medissa

01-05-2019 Hits:384 Medissa

Nurul Hidayat Di Medissa

Nurul Hidayat, lahir di Jombang 28 Januari 1971 merupakan angkatan 1987 SMP N Ploso.

Read more

Komitmen Menyatukan Semua Angkatan

30-04-2019 Hits:300 Medissa

Komitmen Menyatukan Semua Angkatan

Tanggal 9 Juni 2019 di SMP N Negeri Ploso yang kita nantikan adalah moment untuk menyatukan semua angkatan dalam sebuah...

Read more

Papa Dan Mama Mertuaku Pergi Selamanya

21-03-2019 Hits:366 Berita Foto

Papa Dan Mama Mertuaku Pergi Selamanya

Pagi itu seperti biasa, saya datang ke rumah papa dan membawa mie pangsit.

Read more

Sarasehan Kerukunan

21-02-2019 Hits:331 Berita Foto

Sarasehan Kerukunan

Sarasehan kerukunan antar umat beragama se Jawa Timur tahun 2019 di Harris Hotel & Conventions, Kota Malang berlangsung dari tanggal...

Read more

Imlek Hari Raya Khonghucu

10-02-2019 Hits:746 Berita Foto

Imlek Hari Raya Khonghucu

Dihadapan kaca mata pemerintah bahwa Imlek adalah Hari Raya Keagamaan yakni Hari Raya Khonghucu meski didalam masyarakat Tionghoa ada yang...

Read more

Jurnal Penelitian Pengaruh Etika Confucius Terhadap Kewirausahaan, Kemampuan Usaha Dan Kinerja Usaha Pedagang Eceran Etnis Tionghoa Di Surabaya.,
karya dari DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA


Wei De Dong Tian, Jalan Menuju Tuhan, Sebuah Kumpulan Khotbah Minggu
karya dari DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Untuk informasi lebih lanjut Contact Us

Gallery Download

Download Cahaya Setia 541-550

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Menurut Anda apa yang paling penting dilakukan saat Imlek ?

Bersembahyang leluhur - 0%
Menerima Angpao - 0%
Membeli baju baru - 0%
Sembahyang di Kelenteng - 0%
Berkunjung ke sanak-saudara - 0%

Total votes: 0
The voting for this poll has ended on: March 30, 2018

Who's Online

We have 20 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com