spocjournal.com

Rakernas Rohaniwan 2016 : Panduan Pelaksanaan Kebaktian Khonghucu

 

Oleh: Tim Rakernas Rohaniwan 2016

Makna dan Fungsi Kebaktian
Kebaktian dari asal kata bakti yang mengandung arti tunduk dan hormat, perbuatan yang menyatakan setia (kasih, hormat, tunduk). Kebaktian berarti rasa tunduk dan khidmat; kesetiaan; perbuatan bakti (lihat: KBBI).

Umat Khonghucu wajib takwa dan satya terhadap “perintah” dan “larangan” Seng Jin/Sheng Ren atau Nabi seperti yang disampaikan dalam kitab Lunyu VI:13, bahwa jadilah engkau seorang umat Ru yang bersifat Junzi (Luhur Budi), janganlah menjadi umat Ru yang bersifat Xiaoren (Rendah Budi).                                                   

Selanjutnya dalam Lunyu. XVI: 8, Nabi Kongzi menegaskan bahwa seorang Junzi memuliakan tiga hal yakni memuliakan Firman Tuhan Yang Maha Esa memuliakan orang-orang besar dan memuliakan sabda para nabi. Seorang Xiaoren tidak mengenal dan tidak memuliakan Firman Tuhan Yang Maha Esa, meremehkan orang-orang besar, dan mempermainkan sabda para nabi.

Dalam kitab Zhongyong XV nabi menyatakan, bahwa sungguh Mahabesar Kebajikan Tuhan Yang Maharoh. Dilihat tiada nampak, didengar tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia. Demikianlah menjadikan umat manusia di dunia berpuasa, membersihkan hati, dan mengenakan pakaian lengkap, sujud bersembahyang kepada-Nya. Sungguh Maha Besar Dia, terasakan di atas dan di kanan kiri kita. Adapun kenyataan Tuhan Yang Maharoh itu tidak dapat diperkirakan, lebih-lebih tidak dapat ditetapkan. Maka sungguh jelas sifat-Nya yang halus itu, tidak dapat disembunyikan dari Iman kita. Demikianlah Dia.

Maka Kebaktian yang diselenggarakan oleh Makin bertujuan untuk memberi dan menyediakan fasilitas kepada umat Khonghucu agar dapat memenuhi kewajibannya sebagai umat yang beriman, takwa, hormat dan setia dalam wujud sujud kepada Dia, Khalik Semesta Alam, juga kepada Sheng Ren yang telah menurunkan bimbingan hidup jasmani dan rohani, serta kepada Leluhur dan/atau orang tua yang telah melahirkan, mengasuh, merawat dan membina kita sepanjang hayat Beliau.

Selain itu, melalui Kebaktian umat akan dapat secara bersama-sama memahami ajaran agama melalui ayat-ayat yang terdapat dalam kitab-kitab suci.

Tercatat pada kitab Liji XXII: 1 & 12 (hal. 529 & 535), bahwa di antara semua Jalan Suci yang mengatur kehidupan manusia, tiada yang lebih penting daripada Li (upacara). Li itu mempunyai lima pokok (Wujing), dan daripadanya tiada yang lebih perlu daripada Sembahyang/ibadah (Ji). Adapun Ji itu bukanlah sesuatu yang datang dari luar, melainkan dari tengah bathin keluar dan lahir di hati; bila hati itu dalam-dalam tergerak, perwujudannya meraga di dalam Li. Karena itu hanya orang bijaksana yang berkebajikan dapat penuh-penuh mewujudkan kebenaran daripada Ji (sembahyang/ibadah).

Ji (sembahyang/ibadah) yang dilaksanakan oleh orang bijaksana yang berkebajikan (Xian Zhe) itu pasti akan menerima berkah bahagia; ini bukan berkah bahagia yang biasa dikatakan oleh dunia. Berkah bahagia disini berarti kesempurnaan (siapnya segala sesuatu). Kesempurnaan di sini ialah untuk menanamkan tentang patuh lancarnya beratus perkara. Bila tiada yang tidak patuh lancar untuk terselenggara itulah yang dinamai siap sempurna(Bei) yaitu : di dalam diri terpacu penuh-penuh, dan diluar, patuh lancar di dalam Jalan Suci. Patuh setianya seorang Menteri mengabdi kepada Rajanya dan bakti seorang anak mengabdi kepada orang tuanya itu berpokok satu.

Keatas patuh-taqwa (Shun) kepada Tian Yang Maha Roh (Gui Shen), keluar (di tengah masyarakat) taat patuh kepada raja dan atasan, ke dalam (ditengah keluarga) bakti kepada orang tua, demikianlah yang dinamai siap sempurna.

Hanya seorang yang bijakasana berkebajikan dapat siap sempurna. Orang yang siap sempurna barulah kemudian dapat melakukan sembahyang/ibadah. Maka, sembahyang/ibadah seorang yang bijaksana berkebajikan itu dipenuhi iman dan kepercayaan, dengan semangat penuh satya dan hormat-sujud (Cheng Xin Zhong Jing) dengan suasana batin yang demikian itu dipersembahkan sesuatu, diungkapkan didalam Li (Kesusilaan, upacara), disentosakan/dimantapkan dengan musik, digenapkan pada waktunya. Dalam kecerahan batin disajikan semuanya itu, dikerjakan semuanya itu tidak karena suatu pamrih. Demikianlah hati seorang anak berbakti.

Iman dan kepercayaannya, itulah yang dinamai mengerjakan dengan sepenuh hati memacu diri (jin), dan mengerjakan dengan sepenuh hati memacu diri itulah yang dinamai hormat/sujud (Jing). Orang yang penuh hormat-sujud itulah kemudian ia boleh melayani mengabdi kepada Yang Maha Roh Yang Terang (Shenming) demikianlah Jalan Suci di dalam sembahyang.

Oleh karena itu dalam melakukan sembahyang, harus dibina suasana batin yang dipenuhi:

  • Iman (Cheng)
  • Percaya (Xin)
  • Satya (Zhong)
  • Hormat/sujud (Jing)

Hal-hal pokok yang perlu diperhatikan dalam sembahyang adalah:

Kesusilaan (Li)
“Raja yang telah mendahulu itu, di dalam menegakkan Kesusilaan memiliki pokok/akar (Ben) dan bentuk luarnya indah (Wen). Satya dan dapat dipercaya (Zhong Xin), itulah pokok Kesusilaan. Kebenaran dan Hukum (Yi dan Li yang alami) itulah wujud keindahan Kesusilaan. Bila tiada pokok, tidak dapat ditegakkan. Bila tiada wujud yang indah tidak dapat berjalan.” (Liji VIII. I. 2).

Perwujudan semangat penuh iman, percaya, satya dan hormat/sujud dalam tata peribadahan. Dalam Liji IA:19 disebutkan ”Di dalam melakukan doa dan sembahyang sykur dan menyampaikan persembahan kepada Gui Shen (Yang Maha Roh), tanpa Kesusilaan (Li) tidak akan terbentuk ketulusan iman dan kekhidmatan.”
”Seorang Junzi dalam hal Kesusilaan, ia menggunakan seluruh perasaan dan memacu sikap hati-hatinya, ia sungguh-sungguh penuh hormat sebagai perwujudan imannya. Demikianlah menimbulkan rasa keindahan dan tertib menarik. Itu juga perwujudan iman (Cheng).” (Liji VIII.II.2)
Nabi Kongzi bersabda,”...Janganlah meremehkan Tata Upacara Kesusilaan (Yi Li).” (Liji VIII.II.20).

Musik (Yue)
”Di dalam Yue (musik) didapati ungkapan perasaan yang tidak membolehkan adanya perubahan; di dalam Li (kesusilaan) terkandung hukum (Li) atau azas yang tidak membolehkan adanya alternatif. Yue itu mencakup segenap kesamaan; Li memilahkan adanya perbedaan (antara manusia dengan mahluk lain). Teori tentang Yue dan Li mencakup segenap hal yang menyangkut perasaan manusia.

Mendalami sampai ke akar (perasaan) dan mengerti tentang perubahannya, itulah rasa yang terkandung di dalam musik; membabarkan iman (ketulusan) dan menyingkirkan semua yang palsu, itulah Jing (hormat/sujud – hukum besar dari Li). Li dan Yue mencerminkan sifat dari Tian dan Di (langit dan bumi). Menembus sampai kepada Shen Ming (cahaya Tian), menurunkan dan menaikkan roh yang di atas dan yang di bawah. Menjadikan berbentuk kepada yang bersifat saripati, dan mengatur kewajiban antara ayah dengan anak dan penguasa dengan menteri.”(Liji XVII bagian III.3.1 dan 3.2)

Seorang Junzi berkata, ”Kesusilaan dan Musik, biar sekejab tidak boleh dilalaikan lepas dari diri. Bila orang telah sempurna menguasai musik, mengatur hatinya, batinya akan menjadi lurus. Hati yang lurus, lembut, benar dan alami akan Mudah berkembang. Dan dengan Berkembang lurusnya batin ini, akan menumbuhkan kegembiraan di dalam hati. Kegembiraan itu menimbulkan perasaan - aman dan sentosa.Yang sentosa itu akan lama berlangsung. Yang lamaberlang-sung itu berkenan kepada Tian. Yang berkenan kepada Tian memiliki kekuatan rohani atau Shen. Yang berkenan kepada Tian itu, Yang mempunyai kekuatanrohani (Kharisma) tanpa marah akan disegani. Demikianlah orang yang dengan menguasai musik mengatur hatinya. (Liji XVII Bab bagian III 3.23).

”Karena itu suasana yang ditimbulkan oleh musik menggerakkan batin yang di dalam dan suasana yang ditimbulkan oleh Li menggerakkan perilaku di luar. Hasil dari musik itu ialah sempurnanya keharmonisan,, dan yang dihasilkan dari Li itu ialah sempurnanya perilaku...” (Liji XVII bagian III 3.25).

  Waktu
“Sedang rumah ibadah itu setelah diperlengkapi dengan hewan-hewan korban, sudah diatur sajian dari hasil bumi, dan dilakukan upacara tepat pada waktunya;… “ (Mengzi VII B : 14.4)

“Maka Tian mengaruniakan waktu/kesempatan, bumi menumbuhkan sumber kekayaan; manusia lahir dari orangtua, dan guru mendidiknya. Penguasa wajib dengan lurus memanfaatkan ke empat hal itu;..” (Liji VII. II.14)

“Maka, Nabi di dalam membentuk peraturan, mesti berpokok kepada Tian dan Bumi, sifat Yin dan Yang sebagai pangkal, ke empat musim sebagai pegangan, matahari dan bintang-bintang sebagai catatan (waktu), bulan sebagai ukuran (dalam bekerja), nyawa adan roh sebagai penyerta, ..” (Liji VII. III.8)

Kesusilaan itu serasi berpadu dengan waktu/kesempatan karunia Tian. Diambil dari kekayaan yang disediakan bumi, patuh selaras dengan (tuntutan) Yang Maha Roh (Gui Shen) dan bersatu padu dengan hati manusia – semuanya sesuai dengan hokum yang berlaku bagi berlaksa benda..” (Liji VIII. I. 3).

“Di dalam Li, masalah waktu adalah hal yang paling besar yang wajib dipatuhi. Kepatuhan kepada yang alami, yang menyangkut benda-benda sajian, dan selanjutnya apa yang semestinya atau apa yang disebutkan semuanya adalah yang kedua..” (Liji VIII. I. 5).
Liji VIII.I.22 menyebutkan:

Seorang Junzi berkata,”Sasaran melakukan upacara sembahyang bukan hanya untuk meminta-minta; waktunya jangan tergesa-gesa. Besarnya peralatan bukan yang dituntut. Indahnya peralatan bukanlah yang dianggap baik. Hewan kuraban tidak harus gemuk dan besar. Banyaknya berbagai sajian bukanlah yang dianggap indah atau dipujikan.”

Sesungguhnya, sembahyang/ibadah ialah yang terbesar dari semua hal. Segala pirantinya disiapkan lengkap, tetapi kelengkapannya itu mengikuti keperluannya; bukankah ini menjadi pokok daripada agama? Maka agama yang diamalkan seorang Junzi (Susilawan) di luar dibimbingkan bagaimana memuliakan pemimpin dan sesepuh, dan di dalam dibimbingkan bagaimana berbakti kepada orang tuanya. Maka bila raja/pemimpin yang cerah bathin tampuk di atas, para menteri/pembantunya akan tunduk mengikutinya. Bila penuh sujud dilakukan sembahyang di Miao leluhur, dan di hadapan altar Malaikat Bumi dan Gandum, tentulah anak-cucunya akan patuh-berbakti; sungguh-sungguh akan menempuh Jalan Suci, dengan tulus hidup dalam kebenaran; dan akan semarak tumbuh ajaran agama. Maka seorang Junzi dalam melayani/mengabdi kepada pemimpin, pasti dilaksanakan sebagaimana diharapkan kepada diri sendiri. Apa yang tidak memberi kesentosaan/kepuasan dari atasannya, tidak akan dilakukan dalam menyuruh bawahan; dan apa yang tidak disukai dari bawahannya tidak akan dilakukan dalam mengabdi kepada atasan. Apa yang tidak disetujui dari orang lain tetapi diri sendiri melakukannya, itu bukan Jalan Suci agama. Karena itu amalan agama seorang Junzi pasti berlandas kepada pokok hingga yang akhir; diikuti dengan patuh sampai mencapai puncak; (yang pokok) yaitu sembahyang/ibadah. Maka dikatakan, “Sembahyang/ibadah itulah pokok/akar dari agama.”

Dengan demikian patut disadari bahwa Kebaktian bukan suatu ajang pertemuan atau temu akrab atau pun temu kangen. Kebaktian merupakan kegiatan peribadatan ritual yang sakral (suci), disitu berlangsung komunikasi satu arah (monolog), bukan dua arah (dialog), karena berlangsung Puja dan Puji serta permohonan atau harapan kepada Tian Yang Maha Esa yang dikemas dalam do’a, juga penghormatan kepada Shengren atau Nabi, dan para Leluhur. Dari kegiatan spiritual ini terjalin hubungan vertikal (kepada Tuhan), dan hubungan horisontal dengan terjalin pula kerjasama antar sesama (antara umat dengan rohaniwan serta para pengurus).

Oleh karena itu, semua pihak yang terkait wajib memelihara atau menjaga kelangsungan Kebaktian dengan sepenuh hati agar terselenggara dalam suasana tertib, khidmat dan khusuk. Kebaktian dilaksanakan semata-mata sebagai wujud bakti kepada Tian yang dilandasi suasana batin yang penuh Iman, Percaya, Satya dan Hormat/Sujud (Cheng Xin Zhong Jing). Sebagai wujud syukur atas karunia Tian Ming (Xing) yang telah diterima yang wajib diamalkan dalam hidup.

Petugas Kebaktian
Demi terwujudnya suasana tersebut, dalam Kebaktian terdapat beberapa petugas, yakni:
1. Pemandu Kebaktian

  • Sebagai pemandu kebaktian, perlu menguasai susunan/rangkaian Kebaktian yang akan diarahkannya dari awal hingga akhir. Berpakaian rapi dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.

(lihat lampiran 1: panduan kata-kata untuk pemandu kebaktian)

  • Sebelum Kebaktian dimulai, hendaknya memeriksa kembali persiapan, baik perlengkapan sembahyang yang akan digunakan, maupun tempat duduk bagi petugas yang akan memimpin dan mendampingi sembahyang serta yang akan membawakan khotbah (Jiang Dao). Sementara itu, pemandu musik mengajak umat yang sudah hadir untuk menyanyikan lagu–lagu pujian.

Catatan: istilah Jiang Dao adalah bahasa  Hua Yi  dari khotbah

  • Jika terdapat petugas yang berhalangan, segera berkoordinasi dengan Pengurus terkait (Seksi kerohanian) agar dapat ditentukan penggantinya.
  • Saat Kebaktian akan dimulai, pemandu kebaktian membunyikan genta 3 kali, juga saat petugas selesai memanjatkan do’a pembuka dan penutup. Tenggang waktu memukul genta, hendaknya tidak terlalu cepat apalagi sebagai aba-aba untuk menghormat (Jugong).
  • Setelah membacakan susunan Kebaktian dan membunyikan genta 1 kali, peserta kebaktian menyanyikan lagu Kong Sheng Jing sebagai pengantar untuk memulai kebaktian.
  • Tidak memberi komentar atas uraian agama/khotbah.
  • Menyampaikan warta kebaktian dari tempat tugas, kecuali terdapat berita yang perlu disampaikan langsung oleh pihak Pengurus. Warta disampaikan oleh pengurus tidak perlu dari mimbar. Pengurus yang akan menyampaikan warta perlu melakukan hormat ke hadapan Altar baik pada saat hendak menyampaikan maupun usai menyampaikan warta, dengan membongkokkan badan tiga kali (San Jugong) atau Dingli (salah satu saja dilakukan).

Catatan: sikap Ju Gong tubuh tegak (posisi siap, sikap sempurna), dibongkokkan 45 derajat.

2.  Petugas Sembahyang

  • Terdiri dari seorang Pemimpin Sembahyang (Zhu Ji), pendamping kanan dan pendamping kiri (Pei Ji).
  • Petugas hendaknya berpakaian rapih (mengenakan Chang San khusus untuk Kebaktian, bukan Chang San untuk upacara lain).
  • Secara serentak (bersamaan) Petugas Sembahyang (Zhu Ji) maju ke hadapan Altar dengan sikap Bao Tai Ji Ba De dan mengambil posisi hingga berjarak  kurang lebih 50-60 Cm dari Altar. Selanjutnya melakukan San Jugong atau Dingli (salah satu saja dilakukan) disarankan Ju Gong
  • Kedua pendamping (Pei Ji) maju secara bersamaan untuk:
  • Pendamping kanan mengambil lilin penyulut lalu menyulut lilin (penyulut) pada Shen Deng (baca: Sen Teng)
  • Pendamping kanan memberikan api kepada pendamping kiri dengan cara diangsurkan (yang menerima Bai sebagai penghormatan), selanjutnya meyalahkan lilin pada altar dengan tetap mendahulukan lilin sebelah kiri (dari altar)

Catatan:

  • Penyalahan lilih pada Shen Deng bisa dilakukan bersamaan, oleh pendamping, hanya yang perlu diperhatikan bahwa lilin penyulut sebelah kiri dinyalahkan lebih dahulu baru kemudian penyulut sebelah kanan, termasuk menyalahkan lilin pada altar didahulukan lilin sebelah kiri baru kemudian lilin sebelah kanan. (kiri/kanan dari sisi altar)
  • Selanjutnya lilin (penyulut) dipadamkan dengan cara dikipas dengan telapak tangan, lalu diletakkan pada tempatnya.
  • Pendamping kiri menuang air teh ke cawan (Jiu Zhong) yang tersedia dengan urutan sama dengan cara menancapkan hio/xiang (tengah, kiri, kanan), dilanjutkan dengan menyalahkan dupa kerucut (Shen Xiang) lalu diletakkan pada Xuan Lu.    

Catatan:
Alasan filosofi menyulut hio/xiang pada Shen Deng bisa dilihat dari nama Shen Deng itu sendiri (Shen= roh/rohani, dan Deng = pelita) jadi Sheng Deng artinya pelita rohani.

Alasan kedua bahwa posisi lilin sama atau sejajar dengan hio/xiang itu sendiri.

  • Bersamaan dengan pendamping kiri menuangkan teh dan meyalakan dupa kerucut, pendamping kanan menyalahkan hio/xiang dengan mengambil api pada Shen Deng menggunakan tangan kiri, dengan demikian otomatis ujungnya menghadap altar.  
  • Selanjutnya para pendamping melangkah mundur, pendamping kiri langsung memposisikan diri hingga setengah kaki di belakang pimpinan. Sementara pendamping kanan mengangsurkan hio/xiang kepada pimpinan (Zhu Ji) pada saat posisi sejajar (posisi hio/xiang horisontal dengan nyala api mengarah ke arah altar).
  • Selanjutnya pendamping kanan mengambil jarak setengah kaki di belakang Pimpinan Sembahyang  (Zhu Ji) sejajar dengan pendamping kiri.

Catatan: dianjurkan untuk kedua pendamping (Pei Ji) melangkah mundur bersamaan.

  • Pimpinan Sembahyang (Zhu Ji) bertugas: menaikkan hio/xiang, membacakan do’a, memberi aba-aba untuk melakukan Ju Gong.
  •   Pimpinan Sembahyang (Zhu Ji) menaikkan hio/xiang 3 (tiga) kali diiringi pujian “Wei De Dong Tian.” hio/xiang dinaikkan (pertama) pada saat lirik Xian You Yi De (bait ketiga), dan seterusnya.
  • Kalimat yang diucapkan pada saat penaikan  hio/xiang, sebagai berikut:
  • Penaikan hio pertama: “Kehadirat Huang Tian Shang Di di    Tempat Yang Mahamulia, sebagai pencipta alam semesta. Dipermuliakanlah!
  • Penaikan hio kedua: “Kehadapan Nabi Agung Kongzi dan para Shenming sebagai pembimbing dan penyedar rohani umat manusia. Dipermuliakanlah!
  • Penaikan hio ketiga: “Kehadapan para leluhur yang kami hormati. “Terima hormat bakti kami. Shanzai!
  • Usai menaikkan hio/xiang, Pimpinan Sembahyang (Zhu Ji) menyerahkan hio/xiang (dengan posisi hio/xiang tegak kepada pendamping kiri.
  •  Pendamping kiri menerima hio/xiang dari Pimpinan Sembahyang (Zhu Ji) dengan Bai lebih dahulu (sebagai tanda hormat) dan membawanya dengan posisi hio/xiang tegak untuk  ditancapkan pada Xiang Lu (tidak perlu Ding Li).
  •   Penancapkan hio/xiang satu per satu dengan urutan: tengah, kiri, kanan dari arah altar.

Catatan:

  • Saat menancapkan hio/xiang di sebelah kiri altar tidak perlu ditancapkan lewat belakang hio/xiang tengah.
  • hio/xiang ditancapkan dengan menggunakan tangan kiri. Ketika hendak menancapkan hio/xiang yang ketiga, tangan kanan tidak diturunkan tetapi tetap dikepal dan diletakkan di dada.
  • Dupa ditancapkan tegak, tidak miring dan membentuk seperti kipas
  • Saat menancapkan hio/xiang, posisi pendamping tidak membelakangi Pimpinan Sembahyang (Zhu Ji), posisi 45 derajat menghadap ke altar.
  •   Bersamaan dengan pendamping kiri menancapkan hio/xiang, pendamping kanan maju untuk mengambil Surat Do’a pembuka (tidak perlu Ding Li). Melangkah mundur dan mengansurkan surat doa kepada Pimpinan Sembahyang (Zhu Ji) yang menerimanya dengan didahului Bai sebagai tanda hormat.
  •   Pimpinan Sembahyang (Zhu Ji)  membaca do’a, Pendamping dan umat bersikap  Bao Xin Ba De.

Catatan:

  • Kata “Doa Pembuka dan Penutup” Kebaktian tidak perlu diucapkan oleh Pimpinan Sembahyang juga tidak perlu mengajak umat untuk membuka hati dan sebagainya sebelum doa dibacakan.
  • Pembacaan ikrar Ba Cheng Zhen Gui diutamakan untuk kebaktian sekolah minggu, Remaja, dan Pakin.
  • Sebagai himbauan, do’a pembuka dan penutup tanpa membaca teks  atau dihafal.
  • Usai membacakan doa, Pimpinan Sembahyang (Zhu Ji) menyerahkan surat do’a kepada pendamping kiri untuk dikembalikan ke altar. Pendamping kiri menerima surat doa dengan Bai sebagai tanda hormat.
  • Pendamping kiri meletakan surat doa di posisi tengah altar. Selanjutnya  pendamping kiri kembali ke tempat dan mengambil posisi sejajar dengan Pimpinan Sembahyang (Zhu Ji), pendamping kanan menyesuaikan.
  • Selanjutnya, dengan sikap sempurna melakukan hormat dengan membongkokkan badan tiga kali (San Ju Gong) mengikuti aba-aba bunyi genta yang dipukul oleh Pemandu Kebaktian, diikuti oleh seluruh peserta kebaktian.
  • Para petugas sembahyang (Zhu Jui dan Pai Ji) mndur selangkah lalu membalikkan badan ke kiri menghadap ke arah peserta kebaktian dan menyampaikan salam peneguh iman dengan sikap Bai, lalu kembali ke tempat duduk dengan tetap bersikap Bao Tai Ji Ba De.
  • Doa penutup diawali dengan dilantunkannya pujian “Damai di Dunia,” Pimpinan Sembahyang (Zhu Ji) dengan kedua pendamping (Pei Ji) bersama-sama kembali menghadap Altar dengan Bao Tai Ji Ba De  dan kembali (dengan sikap sempurna) melakukan San Ju Gong.
  • Pendamping kanan mengambil surat doa dengan terlebih, lalu melangkah mundur hingga di sisi Pimpinan Sembahyang (Zhu Ji)  untuk menyerahkan teks surat doa  kepada Pemimpin Sembahyang (Zhu Ji). Pemimpin Sembahyang (Zhu Ji) menerima surat doa dengan terlebih dahulu Bai sebagai tanda hormat. Lalu kembali ke tempat berdiri di sisi kanan berjarak setengah langkah di belakang Pimpinan Sembahyang (Zhu Ji) (pendamping kiri menyesuaikan).
  • Setelah selesai pembacaan doa, Pimpinan Sembahyang (Zhu Ji) menyerahkan teks doa kepada pendamping kiri untuk diletakan kembali di tempat semula. Pendamping kiri mundur dan mengambil posisi sejajar dengan Pimpinan Sembahyang (Zhu Ji) dan pendamping kanan menyesuaikan.

Catatan:

  • Tek surat doa bisa juga diletakan di depan altar (posisi tengah) dengan standing doa. Dengan demikian pendamping kanan tidak perlu mengambil doa dan pedamping kiri tidak perlu mengembalikan teks doa.
  • Pimpinan Sembahyang (Zhu Ji) langsung mengambilnya dari standing doa yang berada de depannya.
  • Selanjutnya peserta kebaktian melantunkan lagu pujian ‘Terima Kasihku’.
  • Setelah selesai melantunkan pujian ‘Terima Kasihku,’ selanjutnya dengan sikap sempurna melakukan hormat dengan membongkokkan badan tiga kali (San Ju Gong) mengikuti aba-aba bunyi genta yang ditabuh oleh Pemandu Kebaktian, diikuti oleh seluruh peserta Kebaktian.

Mundur selangkah lalu membalikkan badan ke kiri menghadap ke arah peserta kebaktian dan menyampaikan salam peneguh iman dengan sikap Bai, lalu kembali ke tempat duduk dengan tetap bersikap Bao Tai Ji Ba De.

3.  Pengkhotbah/Jiang Dao Shi
Bagi Rohaniwan wajib berpakaian rapih dan mengenakan Hong Ling Dai   serta menyematkan lencana kerohaniwanannya. Dalam upacara-upacara hendaknya berpakaian safari (koko) hitam dan atau Chang San rohaniwan. Bagi yang non Rohaniwan atau Dao Qin hendaknya menyesuaikan diri paling tidak berbusana Batik (lengan panjang), dan tidak ditolerir hanya berbusana Kaos.

  • Sebelum ke mimbar terlebih dahulu melakukan hormat dengan San Ju Gong   di hadapan Altar, begitu juga setelah selesai menyampaikan uraian agama/khotbah.
  • Terkait dengan renungan ayat suci yang ditiadakan, maka pembacaan ayat dikondisikan oleh pengkhotbah sendiri, bisa dengan cara mengajak umat untuk membacakan ayat yang ditentukan.

  Catatan:

  • Setelah pengisi Khotbah turun, berdoa, Ju Gong  dan kembali ke kursinya. Pemandu Kebaktian kembali lagi membunyikan genta tanpa mengeluarkan kata-kata atau kalimat-kalimat yang mengomentari isi Khotbah.
  • Pemain musik mengumandangkan lagu yang sesuai dengan isi Khotbah (sebaiknya pengisi khotbah sudah berkordinasi dengan Bp. Makin atau petugas kebaktian sebelum kebaktian dimulai) pemain musik menyampaikan judul dan halaman lagu.
  • Peserta kebaktian menyanyikan 2 buah lagu pujian (1 lagu yang berhubungan dengan Khotbah, 1 lagu rohani lainnya – tidak menyanyikan lagu pujian diluar lagu-lagu rohani Khonghucu).

Petugas kebaktian sebaiknya diumumkan minimal seminggu sebelumnya. Hal ini dimaksudkan agar para petugas dapat mempersiapkan dirinya dengan sebaik-baiknya.
Seksi Kerohanian setempat perlu menyampaikan briefing awal kepada para petugas kebaktian sehubungan dengan tugas suci yang diembannya. Hal-hal yang perlu dipersiapkan terutama adalah kondisi batin para petugas kebaktian, pemahaman akan pelaksanaan teknis dan persiapan-persiapan lain yang menunjang terlaksananya kebaktian dengan khidmad dan khusyuk  sehingga boleh memberikan kesentosaan batin dan pencerahan rohani bagi umat yang datang kebaktian. (Poin-poin briefing terlampir).

Adapun hal pokok yang perlu diperhatikan petugas kebaktian:

  • Bakti kepada Tian

Kebaktian dilaksanakan semata-mata sebagai wujud bakti kepada Tian yang dilandasi suasana batin yang penuh Iman, Percaya, Satya dan Hormat/Sujud (Cheng Xin Zhong Jing). Sebagai wujud syukur atas karunia Tian Ming (Xing) yang telah diterima yang wajib diamalkan dalam hidup.

  • Waktu

Kebaktian dilaksanakan pada jam dan waktu yang telah ditentukan sebagai wujud patuh taqwa kepada Tian.

  • Tata upacara

Kebaktian dilaksanakan dengan tata upacara sebagai perwujudan Li (Kesusilaan). Petugas kebaktian perlu memahami tata upacara kebaktian, sehingga dapat mantap dalam melaksanakan tugas yang diembannya.

  • Instrumen Pengiring Lagu-lagu  Pujian

Apabila terdapat beberapa instrumen musik yang akan mengiringi lagu-lagu dalam  Kebaktian, hendaknya dipersiapkan sebaik-baiknya (lihat Lunyu. III: 23). Dan lagu-lagu yang akan dilantunkan sudah diketahui, sehingga tidak perlu mencari-cari halaman pada buku nyanyian.
Sebaiknya ada lagu pujian yang sesuai dengan tema khotbah yang akan dibawakan.

Susunan/ Rangkaian Kebaktian

Pra kebaktian

  • 10-15 menit sebelum Kebaktian dimulai pemain musik mengajak umat untuk menyanyikan lagu-lagu pujian.
  • Petugas sembahyang bersiap mengenakan Chang San putih, lalu duduk di tempat khusus untuk petugas kebaktian  yaitu di deretan kursi depan.

Susunan/ rangkaian Kebaktian

  • Pembukaan oleh Pemandu Kebaktian
  • Pemandu Kebaktian membunyikan genta  3 (tiga) kali tanda kebaktian akan dimulai.
  • Pemandu kebaktian memberikan salam dan kata pembuka, dan membacakan susunan dan para petugas kebaktian.
  • Menyanyikan lagu Kong she jing
    • Doa Pembukaan diawali dengan lagu pujian “Ya Tuhanku.”
    • Lagu pujian:
        • Sinar Pancaran
        • Lagu pujian: Pilihan
    • Khotbah
    • Lagu pujian:
        • Yang berhubungan dengan Khotbah
        • Lagu pujian: Pilihan
    • Warta-warta kebaktian

Dalam Warta Kebaktian dapat disampaikan nama-nama yang akan bertugas untuk Kebaktian berikutnya.

    • Lagu pujian : Terpujilah Nama Mu
    • Doa penutup

didahului dengan  lagu  pujian Damai di Dunia yang dilantunkan sambil berdiri dan diakhiri lagu pujian “Terima Kasihku”

Pasca Kebaktian
Kebaktian selesai. Musik/lagu-lagu pujian tetap mengalun sayup-sayup untuk menghantar umat pulang ke rumah masing-masing.
Badan Pengurus Makin dan rohaniwan mengambil posisi di depan pintu untuk menyampaikan salam dan ucapan terima kasih  ke umat-umat yang sudah hadir saat itu.

  • Panduan Doa
  • Doa Pembuka Kebaktian

Teks doa pembukaan disesuaikan dengan tim Doa dan Persembahyangan
Maha besar Tian Khalik semesta alam,
Tian senantiasa melindungi kebajikan.

Huang Yi Shang Di, Wei Tian You De.
Huang Yi Shang Di, Wei Tian You De.  (diikuti oleh umat)
Shanzai

  • Doa Penutup Kebaktian

Teks doa pembukaan disesuaikan dengan tim Doa dan Persembahyangan
Maha besar Tian Khalik semesta alam,
Tian senantiasa melindungi kebajikan.

Huang Yi Shang Di, Wei Tian You De.
Huang Yi Shang Di, Wei Tian You De.  (diikuti oleh umat)
Shanzai

 

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:499 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:955 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:140 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:261 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:158 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:422 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:312 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:246 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:188 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:740 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 39 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com