spocjournal.com

Pengalaman Spiritual : Nyawa & Roh

 Oleh: Dr. Drs. Ws. Ongky Setio Kuncono, SH, MM

 

Nabi Kongzi bersabda,” Terhadap orang yang telah mati, bila memperlakukannya benar-benar sama sekali sudah mati, itu tidak berperi Cinta Kasih, maka jangan dilakukan. Terhadap orang yang sudah mati , memperlakukannya seperti benar benar masih hidup , itu tidak bijaksana dan janganlah dikerjakan….”(Kitab Li Ji II A. II : 3 ,p 74 )

Memperlakukan orang mati benar sama sekali mati dianggap tidak Cinta Kasih (Ren), memperlakukan orang mati benar- benar masih hidup dianggap tidak Bijaksana (De). Kedua pernyataan tersebut seolah- olah bertentangan satu dengan lainnya ( kontradiktif ). Sebenarnya kedua pernyataan tersebut ingin menjelaskan kepada kita bahwa seorang yang sudah mati bukan keseluruhannya telah mati, melainkan masih ada proses kematian dimana seseorang itu masih bisa mendengarkan, merasakan lingkungan disekitarnya. Artinya bahwa kematian itu adalah jasadnya yang mulai tidak berfungsi secara medis, namun rohnya masih ada disekitar tubuhnya. Sementara Nyawa yang berkaitan dengan  jasad  itu  selama  2-4  jam  dari  kematian  secara medis masih bisa merasakan dan mendengar lingkungan disekitarnya. Kenyataan ini sangat masuk akal, sebab dari pengalaman seorang yang tugasnya memandikan jenasah, mereka mengalami kesulitan ketika mengganti baju jenasah karena kakinya sangat kaku sekali. Dengan memberikan bisikan kepada jenasah: “ jangan kaku- kaku, saya mau pasang baju”, jenasah tersebut menjadi lemas dan mudah di pasang baju. Ini menandakan bahwa jenasah yang telah meninggal dunia itu masih bisa mendengarkan suara-suara di lingkungannya.

Kesaksian  dari  Xs.  Hanompramana,  hasil  penelitian orang yang telah meninggal dunia, bahwa alat pendengaran adalah panca indra manusia yang terakhir masih berfungsi. Orang Tionghoa akan membisikan sesuatu ke telingga jenasah untuk pesan terakhirnya. Sementara orang Islam membacakan adhan di dekat telinganya. Semua itu menunjukan kepada kita betapa agama Khonghucu sangat bijak dalam menghadapi jenasah dimana jangan sampai jenasah  itu  diperlakukan    betul-  betul  mati  karena  itu tidak Cinta Kasih. Mengingat  jenasah tersebut masih bisa mendengarkan dan merasakan apa yang ada di lingkungan kita. Disamping itu juga kita harus menghormati roh yang tidak lenyap begitu saja ketika manusia meninggal dunia.

Menurut  saya  bahwa  kematian  adalah  tidak  fungsinya jasad ( organ manusia ) sementara roh masih ada. Lepasnya roh dari jasad itulah yang disebut dengan kematian itu. Sementara dalam bahasa kitabnya sebagai berikut :

“ Pada waktu manusia meninggal ( berpulang ) Qi semangat) akan naik ke atas kembali kepada Qian (Tian Yang Maha Esa) dan Po ( Jasad ) akan turun kembali kepada Kun ( Tanah/Bumi ). Sedang Ling ( daerah rohani ) dan Hun ( daerah jasmani ) bila telah sempurna menjadi Shen Ming atau Roh Gemilang, apabila belum sempurna maka akan menjadi tanggung jawab para keturunannya untuk menyempurnakannya ( P 18 ).

Agama Khonghucu mengenal adanya daya hidup jasmani GUI dan daya hidup rohani SHEN, ini berarti bahwa kehidupan umat manusia dipengaruhi oleh hal tersebut dan untuk menjalani/mencapai kehidupan yang ideal seperti apa yang ditumtunkan agama yakni keharmonisan daya hidup jasmani Gui dan daya hidup rohani Shen menjadi sangat penting ( Bratayana,2008 : 1)

Gui atau anima, nyawa yang mendukung dan menjadikannya memiliki hidup jasmani (daya hidup jasmani ). Shen animus, roh  yang  mendukung dan  menjadikan hidup  rohaninya ( daya hidup rohani ) sebagai ladang tenpat benih Kebajikan (De) yang difirmankan Tian (Tian Ming) tumbuh dan berkembang ( P 17 )

Kematian adalah proses seperti yang dikatakan Damm : “Ketika semua sel tubuh mengalami NECROSIS ( berhenti bekerja), tak ada lagi proses kehidupan dalam tubuh yang bersangkutan, tetapi kematian bukan momen itu sebab belum semua sel dalam tubuhnya mengalami NECROSIS, proses kehidupan masih berlangsung pada bagian tubuh tertentu“ ( Damm 2011 : 42-43 )

Kajian ilmiah Muhammad Damm diatas tentunya sangat masuk akal apalagi ayat dalam agama Khonghucu menegaskan bahwa jangan memperlakukan seorang yang telah mati itu betul-betul mati karena belum semua sel mengalami necrosis, sehingga jenasah itu masih bisa mendengar dan merasakannya. Kalau itu dilakukan berarti kita tidak Cinta Kasih kepada jenasah tersebut. Disamping karena alasan diatas memang kita sebagai umat Khonghucu memiliki suatu kewajiban bakti kepada orang yang telah meninggal dunia. Semasa hidup kita harus melayani dengan baik, dan ketika mereka sudah meninggal dunia juga harus kita  layani  dengan  baik  pula.  Pelayanan  kepada  orang yang telah meninggal dunia sama besarnya dengan ketika melayani mereka semasa masih hidup didunia. Iniliah ajaran agama yang harus dipegang teguh oleh umat Khonghucu.

Gambaran kematian yang bisa kita lihat dari Kitab seperti kesaksian Zen Zi. Tatkala Zeng Zi sakit, dikumpulkan murid-muridnya, lalu berkata, “ Singkaplah selimut kakiku, singkaplah selimut tanganku! ( lihat baik- baik) “ Didalam Kitab Sanjak ( Shi Jing ) tertulis ,” Hati hati lah, was- waslah seolah-olah berjalan di tepi jurang dalam, seolah olah berdiri menginjak lapisan es tipis.’sekarang dan selanjutnya sudah bebaslah aku dari tanggungjawab atas tubuhku.Ingatlah ini, hai anak anakku ! ( Kitab Lunyu Jilid VIII:3 )

Gambaran Zen Zi bila kita bandingkan dengan kajian ilmiah tentunya tidak ada bedanya. Ada semacam pengalaman yang  sangat  mirip  yang  bisa  kita  petik  dalam  hal  ini. Pengalaman seorang wanita yang hidup kembali setelah mengalami serangan jantung. “ Pada saat terluka aku merasakan perasaan sakit yang amat hebat, tapi kemudian segala rasa sakit hilang. Aku seperti mengambang dalam ruangan gelap. Hari amat dingin, tapi sementara aku dalam kegelapan itu, aku hanya merasakan kehangatan dan suatu perasaan menyenangkan yang belum pernah kurasakan…. Aku ingat bahwa suatu pikiran terlintas dalam benakku,” Aku tentu sudah mati. “ ( Moody 2013 : 17 )

Pengalaman seorang tenggelam sebagai berikut “Aku timbul tenggelam dalam air, dan tiba-tiba aku merasa seolah-olah berada diluar badanku, jauh dari semua orang, seorang diri di angkasa. Meskipun aku merasa tetap berada dalam ketinggian sama, aku melihat tubuhku timbul tenggelam di air dalam jarak tiga atau empat meter. Aku melihat tubuhku dari belakang dan sedikit disebelah kanan. Aku tetap merasa bahwa aku mempunyai tubuh utuh, walaupun aku berada di luar tubuhku sendiri. Aku merasa ringan, seringan kapas. Suatu perasaan yang sukar dilukiskan “ ( P 24 )

Dari sana aku melihat mereka berusaha menghidupkan aku kembali. Badanku tanpak jelas terbaring di atas tempat tidur, dan mereka semua berdiri mengelilinginya. Aku mendengar seorang perawat berkata,” Oh Tianku!   Dia telah  meninggal!”Sementara  perawat  lain  memberikan

pernapasan buatan melalui mulut ke mulut. Aku memandang belakang kepalanya sementara mereka melakukannya. Aku tak dapat melupakannya bentuk rambutnya, rambutnya dipotong pendek. Pada saat itu mereka membawa sebuah mesin ke dalam kamar, dan lengan serta kakiku. mereka mulai memberikan kejutan-kejutan pada dadaku. Ketika hal itu mereka lakukan, aku mendengar gemertaknya setiap tulang dalam tubuhku. Sangat mengerikan. Sementara aku melihat mereka memukul dadaku dan menggosok. (P 25)

Pengalaman orang yang telah mati suri lalu hidup kembali hampir semuanya sama yakni antara jasad (badan) dan roh memisah 2-4 meter, mereka bisa melihat tubunya sendiri. Inilah bentuk dari memisahnya nyawa (jasad) dan roh itu.

Pengalaman Aiko Gibo (spiritual kelas dunia), seorang yang bisa bicara dengan roh   mengatakan : ” Sebagai seorang yang sejak kecil sudah melihat roh-roh dan berkomunikasi dengan mereka , saya tidak lagi bisa menerima pendapat umum bahwa jiwa manusia lenyap begitu saja seiring dengan lenyapnya tubuh “ (1995 )

Ayako sebagai sahabat karip Aiko Gibo yang pada usia muda telah meninggal dunia dan bisa menampakan diri serta bercakap-cakap dengan Aiko Gibo. Aiko Gibo bukan saja bisa melakukan komunikasi dengan Ayako saja, melainkan dengan roh-roh lainnya (P 4-5 )

 

Yang Telah Meninggal Bisa Menangis

Saya memiliki sahabat bisnis yang sempat bercerita tentang seorang anak laki yang selalu bertengkar dengan Papa-nya. Ucapan dan kata-kata sedikit saja bisa menimbulkan perang mulut hingga tidak nyaman bagi keluarga lainnya. Mama dan saudara-saudara lainnya hingga tak kerasan tinggal di rumah karena hampir setiap hari Anak dan Papa selalu bertengkar mulut.

Entah anaknya yang nakal atau orang tuanya yang kaku dan selalu menekan anak- anaknya, yang jelas hubungan Anak dan Papa ini menjadi buah bibir di keluarga.  Inilah yang dikatakan dengan “Jiong” dalam istilah Tionghoa itu.

Suatu hari Anaknya bekerja di Amerika dan jauh dari Papanya. Pekerjaan nan jauh seolah memisahkan hubungan anak dan Papanya. Dalam kodisi semacam itu tentunya disamping sebagai cara untuk memisahkan Anak dan Papa juga merupakan cara yang paling efektif agar tidak terjadi perselisihan yang sering terjadi. Inilah Kuncing dan Tikus itu atau “ Tom and Jerry “ dalam sebuah film karton yang saya saksikan waktu masih kecil. Gambaran Tom dan Jerry yang gak pernah rukun dalam hidupnya, selalu banyak akal untuk melakukan perlawanan cerdik diantaranya.

Suatu ketika Papanya sakit keras dan masuk di ICU tak sadarkan diri, saudara- saudara lainnya menghuhungi anak lakinya yang ada di Amerika. Diceritakan bahwa Papanya sudah  diujung  tanduk  kematian  dan  tak  sadarkan  diri, maka anak laki-laki tersebut bergegas pulang ke tanah air. Bagaimanapun bahwa itu adalah orang tua yang ikut andil membesarkan anak-anaknya, memberikan pendidikan yang layak, memberi uang saku semasa remaja hingga biaya kuliah di luar negeri. Bagaimanapun sikap dan perbuatan orang tua, dia tetap orang tua yang wajib untuk dihormati. Harus ada pemakluman-pemakluman bagi anak dalam menghadapi orang tua yang cerewet sekalipun. Pertimbangan itulah yang menyebabkan anak itu harus datang jauh-jauh dari Amerika untuk memberi penghormatan terakhir jenasah orang tuanya.

Sampainya di Jakarta, masih butuh waktu 2 -3 jam untuk perjalanan ke Surabaya, tiba-tiba mendengarkan kabar dari family lainnya bahwa Papa-nya telah meninggal dunia. Semuanya sudah terlanjur, semuanya sudah berakhir.

Anak laki-laki yang mendengar kematian Papanya, berpikir bahwa   Papa adalah orang tuanya yang menjadi darah dagingnya, yang juga membesarkan anak- anaknya meski sikap dan perbuatan yang kaku Papanya, dia adalah orang tua yang wajib untuk dihormati.

Dihadapan jenasah Ayah, Anak laki-laki menangis sekeras- kerasnya, memohon ampun dan meminta maaf pada Papa nya dimana selama hidupnya tidak pernah bisa membahagiakan orang tua. Dan saat sekarang Papa telah meninggalkanya selama-lamanya pada saat dia belum bisa meminta maaf. Dengan tangisnya yang menderu deru dan penuh dengan dosa, Papanya yang telah menjadi jenasah hampir 2-4 jam masih bisa meneteskan air matanya. Keluarlah air mata pada jenasah yang telah meninggal dunia.

Seorang yang telah meninggal ternyata masih bisa menangis atas tangisan yang dibuat oleh anak laki-laki nya. Hal ini menunjukan kepada kita betapa ajaran Khonghucu memberikan pemahaman Iman yang paling dalam bahwa perlunya menghormati orang yang telah meninggal dunia, karena kematian itu masih dalam proses. Kematian masih memerlukan waktu yang panjang sehingga   kita harus memperlakukan mereka tidak seperti benar- benar mati.

Kesimpulannya adalah seorang yang telah meninggal dunia itu  Rohnya    masih ada dan bisa melihat, mendengar, merasakan bahkan menyadari bahwa badan ( jasadnya) sudah hancur dan tidak berfungsi. Kenyataan semacam itu sungguh suatu hal yang membuat ajaran agama Khonghucu selalu menghormati roh sebagai bagian dari rasa Cinta Kasih itu. Maka   ajaran Khonghucu juga mengutamakan

bakti sebagai sarana Li ( penghormatan kepada orang-orang yang telah meninggal dunia, khsusunya kepada orang tua kita ).

“…melayani kepada yang telah mangkat sebagai melayani yang masih hidup, melayani kepada yang sudah tiada sebagai melayani kepada yang masih ada . Demikianlah Laku Bakti yang sempurna”( Tengah Sempurna BAB XVIII
: 5 .p 35 ).

Melayani baik kepada orang tua sendiri maupun orang lain, harusnya dilandasi pada ayat diatas. Sehingga dengan demikian ada dua pelayanan yakni pelayaan ketika orang tua masih didup dan pelayanan orang tua ketika sudah meninggal. Alangkah baiknya ketika orang tua itu masih hidup kita memberikan pelayanan secara kasih sayang sehingga kita akan menjadi umat Khonghucu yang taat pada nilai agama seperti yang dicita-citakan Naibi Kongzi sekaligus memahami arti Bakti itu.

 

Kemana Roh Pergi ?

Badan jasad ( nyawa) turun ke bawah, semangat ( roh ) yang berkesadaran naik ke atas “( Kitab Li Ji VII.1.7 )

Nyawa ( jasad ) akan turun ke bawah akhirnya hancur menjadi tanah, namun semangat ( roh )  itu akan naik ke atas menuju kepada Tian Yang Maha Esa. Mereka yang semasa hidupnya baik ( berkebajikan ) tentunya Tian akan berkenan ( Wei De Dong Tian ). Tian Yang Maha Esa akan menerimanya Roh itu dengan istilah lain “ Keharibaan Tian “.

Roh yang bersifat semangat pulang kepada Tian, badan dan nyawa pulang kepada tanah; maka di dalam upacara sembahyang timbul gagasan yang berdasar sifat Yin Yang”( Kitab Li Ji IX.III.17 )

Roh akan naik langsung pulang kepada Tian Yang Maha Esa tidak harus berada pada tempat tertentu, melainkan langsung menuju Tian Yang Maha Esa. Diterimalah roh itu oleh Tian Yang Maha Esa,  hal inilah yang menjadi keyakinan bagi umat Khonghucu after life itu. Keyakinan bahwa masih ada kehidupan yang abadi setelah kematian manusia. Namun hal ini tidak harus diketahui manusia serta manusia tidak berhak mengetahuinya secara mendalam sebab hal itu menjadi hak Tian Yang Maha Esa ( itulah Tian Li = Hukum Tian) dimana manusia tidak boleh ikut cempur didalamnya.

Yang terpenting bagi umat Khonghucu adalah bagaimana mengisi kehidupan di dunia ini dengan baik, menghormati sesama manusia, berbakti kepada Orang Tua serta memulikan Tian Yang Maha Esa. Tentang usia pendek atau panjang, itu adalah Firman Tian. “ Pagi mendengar akan  Dao, sore hari matipun Iklhas” ( Lunyu Jilid IV : ).

Dibalik perbuatan baik kita dengan melakukan Kebajikan, tentunya sependapat dengan Uung Sendana , bahwa kita hidup  beragama  itu  memiliki  tujuan.  Bagi  saya  tujuan akhir adalah kebahagiaan di dunia ( damai dunia ) dan juga kebahagian hidup bersama Tian Yang Maha Esa ( Le Tian ). Bahagia dengan Tian adalah tujuan akhir dari hidup beragama. Kita menuju ke atas, suatu tempat yang sangat tinggi, hidup didalam Tian Yang Maha Esa. Semuanya itu hanya bisa dicapai dengan mengisi kehidupan di dunia ini dengan sebaik-baiknya melalui We De Dong Tian sebagai jalan kesuksesan hidup sekaligus sebagai jalan keselamatan.

Sepengetahuan saya selama saya pelajari agama Khonghucu ini serta berdasarkan perasaan Iman yang terdalam, melalui pengalaman spiritual, saya berkeyakinan bahwa tempat yang tinggi itu adalah hidup bersama Tian Yang Maha Esa di tempat yang paling tinggi ( Langit ). Itulah tujuan akhir dari kehidupan ini. Bukan sekedar tempat, tetapi  sandaran hidup kita yang penuh dengan kebahagiaan yang cemerlang itu.  Jikalau Anda  telah mendapatkan pencerahan agama, maka Anda akan menyimpulkan sendiri pengalam spiritual Anda secara jujur. Itulah sebenarnya Iman yang saya pegang selama ini. Saya yakini dalam sepanjang hidup saya, meski banyak orang-orang yang diluar sana mencemooh saya tentang hal ini, namun ini adalah bagian keagaman pribadiku yang tidak semua orang boleh mengusiknya.

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Perlunya Jeda

21-05-2018 Hits:89 Berita Foto

Perlunya Jeda

Pagi hari ini, kami sengaja berjalan di persawahan Ubud. Tidak sengaja kami berkenalan dengan peternak bebek yang sangat ramah.

Read more

Jalan Santai Dalam Rangka Memperingati Hut Ke 211 Gereja Keuskupan Agung Jakarta

12-05-2018 Hits:239 Berita Foto

Jalan Santai Dalam Rangka Memperingati Hut Ke 211 Gereja Keuskupan Agung Jakarta

Tanggal 08 Mei 2018 Gereja Keuskupan Agung Jakarta memperingati Hari Ulang Tahun yang ke 211 (08 Mei 1807 – 08...

Read more

Kebaktian Akbar Depok

30-04-2018 Hits:320 Berita Foto

Kebaktian Akbar Depok

Kebaktian spektakuler di Depok Jabar yang dihadiri 1000 umat lebih dengan pembicara Ws. Ir Budi ST, MM dan Ws. HT....

Read more

Tokyo Ke Jakarta

13-04-2018 Hits:257 Berita Foto

Tokyo Ke Jakarta

Perjalanan pulang dari airport Haneda Tokyo. Tidak terasa 1 minggu perjalanan di negara Sakura. Kenangan indah untuk dilupakan.

Read more

Menuju Ke Tokyo

12-04-2018 Hits:135 Berita Foto

Menuju Ke Tokyo

Setelah sarapan pagi di hotel Marusansou, kami menuju ke Karuizawa Factory Outlet yang merupakan factory outlet terbesar. 

Read more

Gasho Village

11-04-2018 Hits:100 Berita Foto

Gasho Village

Setelah semalam mandi onsen, tidur bisa nyenyak sekali sehingga badan menjadi segar. Pagi ini harus bangun pagi untuk siap siap...

Read more

Dari Kobe Menuju Nara

10-04-2018 Hits:119 Berita Foto

Dari Kobe Menuju Nara

Perjalanan dari Kobe munuju Nara. Ada tempat berbelanja di Naramachi. Sebelumnya rombongan menyempatkan diri ke Todaiji Temple sebuah kuil dibangun...

Read more

Negara Sakura

09-04-2018 Hits:138 Berita Foto

Negara Sakura

Tiba di Kanzai-Osaka pagi tanggal 7 April 2018. Udara waktu itu 11 derajat celcius. Sesampainya di airport langsung menuju Osaka...

Read more

Bersama Setiadi Joyosentoso

04-03-2018 Hits:553 Berita Foto

Bersama Setiadi Joyosentoso

Setiadi Joyosetoso bos PT. Surya Putra Barutama yang beralamat di jalan Kedurus 23 adalah sosok seorang bisnisman yang merangkak dari...

Read more

Pasar Turi Tradisionil Singkawang

03-03-2018 Hits:265 Berita Foto

Pasar Turi Tradisionil Singkawang

Pagi ini rombongan menuju pasar tradisionil. Pasar tersebut tidak seperti pasar lainnya yang kelihatan jorok. Di dekat pasar ada bubur...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 471-480

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Menurut Anda apa yang paling penting dilakukan saat Imlek ?

Bersembahyang leluhur - 0%
Menerima Angpao - 0%
Membeli baju baru - 0%
Sembahyang di Kelenteng - 0%
Berkunjung ke sanak-saudara - 0%

Total votes: 0
The voting for this poll has ended on: March 30, 2018

Who's Online

We have 61 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com