spocjournal.com

Pengalaman Spiritual : Nilai Religius Dalam Daxue, Kesadaran Bathin

 

 Oleh: Dr. Drs. Ws. Ongky Setio Kuncono, SH, MM

 

Kesadaran  bathin  adalah  puncak  dari  pemahaman akan kebenaran, baik kebenaran menentukan prinsip kehidupan maupun kebenaran akan Iman. Manusia yang telah memiliki kesadaran bathin akan memiliki kebajikan dan kebaikan hidup, memiliki keyakinan   kokoh yang mendorong semangat hidupnya. Itulah Iman yang tumbuh dan meraga keluar, menjadikan prisnsip hidup yang tumbuh sepanjang masa.

Seorang yang telah memiliki kesadaran bathin, akan meyakini dengan kesungguhan bahwa hidupnya telah mendapatkan  perlindungan  dari  Tian  Yang  Maha  Esa serta berkahnya melimpah. Mereka akan secara konsisten mengimani agamanya dalam kondisi apapun. Contoh semacam ini bisa kita lihat bagaimana Uung Sendana seorang aktivis hingga saat sekarang masih terus aktif berjuang untuk agama Khonghucu. Kematian istrinya tidak merontokkan keyakinan dan imannya terhadap Khonghucu. Hidup sebagai single parent dengan 3 orang anak, beliau masih menyempatkan diri untuk bisa mengantar sekolah maupun menjemput sekolah anak-anaknya. Pekerjaan rutin tersebut dilakukan tanpa ada beban buatnya. Saya sangat kagum  sekali  dengan  beliau,  bagaimana  seorang  pria harus berperan ganda dengan menanak nasi, menyiapkan masakan kepada anak- anaknya sebelum melakukan tugas suci. Sebagai Ketua Umum Matakin dengan kesibukannya, beliau menyempatkan diri untuk bersama anak-anaknya pergi menikmati indahnya kota Jakarta. Semua pekerjaan dilakukannya dengan tanpa  menggerutu bahkan dengan kesibukannya masih bisa memimpin   Matakin dengan cemerlang. Hal ini bisa dilakukan karena telah memiliki kesadaran bathin yang menjadi modal dalam setiap melangkah.

Kesadaran bathin menjadi katalisator yang sangat berperan bagi kehidupan manusia, bagi pengambilan keputusan untuk seseorang beriman. Meskipun kadang kita menemukan seorang yang telah memiliki kesadaran bathin dan tidak mengimani agama, namun kesadaran bathin tersebut memiliki keyakinan kuat akan kebenaran akan agama tersebut meski tidak mengimaninya.

Sebagai contoh nyata adalah sahabat saya Jusi Qwensi, beliau telah memilki kesadaran bathin yang menjadi keyakinan  dan  kebenaran  dalam  hidupnya,  meskipun beliau tidak beriman Khonghucu, beliau merasakan pengalaman hidupnya mendapatkan pertolongan dari Nabi Kongzi. Pengalaman hidupnya yang sangat tragis, pernah diceritakan di Boen Bio, Pak Kik Bi, Hok San Kiong Mojokerto, Poo San Lin Kiong Sumenep. Beliau yang memiliki dua orang tua dan empat saudara, satu persatu dari orang tuanya, kakaknya hingga adiknya sepanjang tahun meninggal dunia secara tidak wajar. Bukan karena dibunuh dan bukan karena sakit yang terdeteksi, melainkan meninggal dunia akibat dari santet (cara magic). Percaya atau tidak, ini adalah cerita yang tragis dimana ada keluarga orang tuanya yang sengaja membuat kematian orang tua dan saudaranya tersebut oleh karena masalah harta warisan. Tinggallah Jusi Qwensi hidup sebatang kara, mengapa dia bisa bertahan dari santet ? mulanya Jusi terkena santet juga hingga beliau sakit beberapa bulan tanpa diketahui sebab penyakitnya, sama seperti kejadian yang menimpa orang tua dan ketiga saudaranya. Pastilah Jusi akan mati karena perbuatan santet tersebut. Namun Jusi telah ditolong sama engkongnya yang beragama Khonghucu. Diambilnya abu sembahyangan Nabi Kongzi, akhirnya Jusi bisa selamat dari santet. Inilah keyakinan dan kesaksian yang dilakukan oleh seorang Khatolik, ia percaya bahwa Nabi Kongzi bisa menjadi penyelamat hidupnya.

Saya tidak berbaksud untuk mengajari para pengikut Khonghucu untuk berpikir secara takhayul, namun ini bukan sekedar takhayul, melainkan kesadaran bathin, suatu keyakinan yang sungguh menarik.  Jika seorang Khatolik saja bisa percaya akan kebesaran  mujizat Nabi Kongzi, bagaimana dengan Anda sebagai umat agama Khonghucu ? Tentu Anda sendirilah yang akan menjawab hal ini.

 

Do’a Yang Terkabulkan

Saya dilahirkan pada tanggal 2 Desember 1961 di Bekasi, Jawa Barat. Anak ke-10  dari sembilan bersaudara, empat  orang  kakak  perempuan  dan  lima  orang  kakak laki-laki. Kedua orang tua saya tidak begitu mengenal agama Khonghucu, mereka adalah umat tradisional yang mempraktikkan tata-upacara sembahyang sebagaimana pada dilakukan oleh orang Tionghoa pada umumnya. Kebetulan di dekat rumah saya juga ada sebuah kelenteng namanya kelenteng Cosu Kong yang berada di dekat persawahan. Ayah saya meninggal dunia ketika saya berusia lima tahun, sehingga saya tidak begitu banyak mengenal sosok ayah. Saya lebih banyak mendapat bimbingan dan asuhan dari ibu sejak ayah meninggal dunia karena sakit.

Ketika saya berusia 13 tahun dan duduk di kelas 2
SMP, ibu saya memutuskan untuk pindah rumah dari tempat kelahiran saya di sebuah desa Cibarusah, Kabupaten Bekasi ke kampung Sidamukti Kecamatan Cimanggis. Sayapun harus pindah sekolah dan mendafatar ke SMP “Segar” Cimanggis di kelas 2, sebuah sekolah milik MAKIN Cimanggis. Mulai saat itulah saya baru mengenal agama Khonghucu, karena di sekolah ini adalah satu-satunya sekolah yang mengajarkan agama Khonghucu di wilayah Kecamatan Cimanggis. Saya masih ingat di papan namanya tertulis “Taman Pendidikan Khonghucu, SMP SEGAR”. Sejak saat itu sayapun mulai aktif mengikuti kebaktian di  Sekolah  Minggu  Sidamukti.  Setelah  pulang  sekolah saya sering berdiskusi dengan Ws.Setianda Tirtarasa sebagai Wakil Kepala Sekolah di SMP Segar dan beliau adalah seorang rohaniwan senior yang sangat aktif. Pada tahun 1975 saya melanjutkan sekolah ke SMEA Negeri 19 (Sekolah Menengah Ekonomi Atas) di Jakarta Timur. Saya mulai aktif mengajar Sekolah Minggu dan mengikuti kebaktian serta kegiatan di PAKIN. Bilamana ada kegiatan rapat MAKIN Cimanggis maupun MATAKIN di SMP Segar, saya sering diminta untuk menjadi notulen.  Sejak saat itulah saya mulai mengenal beberapa tokoh senior Khonghucu seperti Xs. Tjhie Tjay Ing, Xs.Suryo Hutomo (alm.), Xs. Bunyamin, Ws.Lie Ki Seng (Surabaya), Bapak Tan Kim Pa, Bapak Suratmo dan tokoh-tokoh senior lainnya, bahkan saya bisa mengetahui bagaimana suka dukanya perjuangan para tokoh Khonghucu saat itu agar agama Khonghucu mendapat pengakuan dari Negara dan memperoleh hak yang sama seperti agama-agama lain yang ada di Indonesia.

Pada bulan September tahun 1979, saya baru berusia 18 tahun telah mendapat kesempatan diutus untuk mengikuti Kongres MATAKIN kesembilan yang diadakan di Solo. Namun, sayang Kongres tersebut dibatalkan oleh pemerintah Orde Baru melalui radiogram yang dikirimkan oleh Mendagri Amir Machmud saat itu. Padahal seluruh peserta Kongres dari berbagai daerah di Indonesia sudah hadir semua di aula gedung PMS (Persatuan Masyarakat Surakarta) dan dihadiri pula oleh seorang tokoh veteran Dr.Moestopo yang selalu konsisten mendukung dan membantu perjuangan agama Khonghucu di Indonesia saat itu.

Sejak saat itulah perkembangan agama Khonghucu mulai  mengalami  kemunduran,  bahkan  kolom  agama pada KTP tidak boleh mencantumkan agama Khonghucu. Pencatatan pernikahan umat Khonghucupun tidak bisa dicatatkan  di  Kantor  Catatan  Sipil,  siswa  Khonghucu tidak lagi bias memperoleh pendidikan agama Khonghucu di sekolahnya dsb. Hampir semua pelayanan sipil dan kependudukan bagi umat Khonghucu mengalami hambatan di pemerintahan. Hal ini berdampak pada banyaknya umat Khonghucu terutama dari generasi muda yang dengan terpaksa harus mengganti agamanya dengan agama yang lain meskipun bukan menjadi keyakinan dan imannya. Meskipun demikian, umat Khonghucu pantang menyerah terutama para tokoh senior yang terus berjuang untuk menegakkan  kebenaran.  Sampai  akhirnya  pada  masa pemerintahan Gus Dur, kondisi umat Khonghucu mulai mengalami titik terang terutama sejak dicabutnya Inpres No.14 tahun 1967 oleh Gusdur sehingga umat Khonghucu bisa merayakan kembali Tahun Baru Imlek secara terbuka. Pada tahun 2000 untuk pertama kali perayaan Tahun Baru Imlek diadakan secara nasional di Balai Sudirman Jakarta yang dihadiri oleh Presiden Gusdur. Ketika menghadiri acara Imlek Nasional tersebut saat memanjatkan doa, saya merasa terharu dan bangga, bahkan dengan tidak terasa air matapun menetes membasahi pipi saya karena saya tidak percaya apakah ini sebuah mimpi atau kenyataan? hingga perayaan Tahun Baru Imlek bisa dirayakan secara nasional dan dihadiri oleh seorang kepala negara dan untuk pertama kalinya Khonghucu mendapatkan pengakuan sebagai agama di Indonesia melalui pidatonya Gus Dur. Mulai saat itulah secara bertahap pelayanan hak-hak sipil terhadap umat Khonghucupun mulai dipulihkan. Setelah masa pemerintahan Gus Dur, kebijakan tersebut terus dilanjutkan oleh Ibu Megawati Soekarno Putri yang menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional juga disampaikan langsung  pada  saat  beliau  menghadiri  perayaan  Tahun Baru Imlek Nasional di Kemayoran Jakarta. Kemudian dilanjutkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang  menuntaskan masalah  umat  Khonghucu  berkaitan dengan pendidikan dan pelayanan sipil sampai sebelum beliau menyelesaikan masa jabatannya dengan menerbitkan Peraturan Presiden tentang pembentukan Direktorat Khonghucu yang belum terealisasi sampai saat ini.

Pengalaman saya berkecimpung dalam oganisasi MAKIN dan MATAKIN: pada tahun 1998 saya terpilih menjadi ketua MAKIN Cimanggis sampai dengan tahun
2010. Saya juga pernah menjadi Ketua Bidang Luar Negeri MATAKIN pada masa kepemimpinan Ws.Budi Santoso Tanuwibowo, menjadi Ketua MATAKIN Provinsi Jawa Barat pada masa kepemimpinan Ws.Wawan Wiratma, dan saat ini saya duduk sebagai Kabid Pendidikan Dasar dan Menengah di bawah kepemimpinan Dq.Uung Sendana Lingaraja, S.H.

Selama aktif di organisasi MAKIN dan MATAKIN, sayapun merasakan berkah dan rahmat Tian karena saya sering diminta untuk mewakili MATAKIN di berbagai kegiatan seperti pertemuan lintas agama di Bangkok Thailand, Kamboja, dan Konferensi Interreligious yang diadakan baik di Jakarta maupun di Amsterdam Belanda. Bahkan saya pernah menyaksikan upacara Seokjeon pada tahun 2009 di Sung Kyu Kwan, Seoul Korea Selatan atas undangan dari Mr.Choe Geun Deuk sebagai Presiden Sung Kyu Kwan saat itu. Begitu pula saya terlibat diberbagai kegiatan bidang pendidikan seperti penyusunan instrumen buku pelajaran agama Khonghucu di BSNP bersama Xs.Dr. Oesman Arif, MPd., kegiatan workshop penyusunan buku pelajaran agama Khonghucu sampai saat ini.

 

Pengalaman rohani sebagai penganut Khonghucu

Sejak saya menjadi aktivis sebagai pengasuh Sekolah Minggu dan pengurus PAKIN di Cimanggis, telah banyak pengalaman hidup yang saya rasakan. Saya merasakan bahwa ajaran Khonghucu telah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari saya sejak saya mengenalnya. Terutama ajaran Khonghucu telah menjadikan diri saya menjadi percaya diri, hingga memiliki semangat belajar dan dapat bersosialisasi dengan banyak orang. Pada waktu muda, saya memiliki cita-cita dapat memasuki sebuah perguruan tinggi negeri. Meskipun saya telah memperoleh kesempatan itu, dalam perjalanannya tidak semulus dan sesuai dengan harapan saya karena pada tahun kedua saya harus memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah karena kondisi ekonomi yang tidak mendukung untuk membiayai kuliah saya. Sayapun memutuskan untuk bekerja di sebuah perusahaan pada tahun 1982. Semangat untuk menuntut ilmu tidak pernah padam dalam diri saya, maka sayapun memutuskan untuk melanjutkan kuliah disebuah Perguruan Tinggi sampai saya lulus pada tahun 1986. Hal ini saya lakukan dengan berdoa dan berusaha sekuat tenaga. Pada pagi hari saya bekerja di sebuah perusahaan, dan sore harinya saya naik bus jemputan karyawan dari Bogor berangkat ke Jakarta untuk mengikuti perkuliaahan. Saya kembali pulang ke rumah pada pukul 23.---24.00 setiap harinya. Hal ini berlangsung selama dua tahun.  Saya terus bekerja sambil menyisihkan uang yang saya dapatkan setiap bulan dari gaji saya dengan cara menabung, karena saya ingin membahagiakan orang tua yang sudah lanjut usia. Saya senantiasa bermohon kehadirat Tian, agar ibu saya dipanjangkan usianya dan diberikan kesehatan sehingga ia dapat menyaksikan saya ketika saya melangsungkan pernikahan nanti. Bahkan sampai saya mempunyai anak nanti. Ternyata doa saya senantiasa dikabulkan Tian; pertama ketika saya masih kuliah, saya bermohon agar ibu saya dapat menyaksikan ketika saya lulus nanti. Ternyata doa saya dikabulkan oleh Tian. Meskipun sebelum saya lulus kuliah, ibu saya jatuh sakit dan cukup serius. Namun, Tian masih memberikan kesempatan kepadanya hingga ia dapat sembuh dan sehat kembali seperti sedia kala. Maka sayapun  melaksanakan sembahyang syukur  atas  berkah dan rahmat Tian hingga saya dapat lulus dan ibu saya bisa pulih kembali   kesehatannya seperti sedia kala. Kedua, permohonan saya telah dikabulkan Tian karena ibu saya masih dapat menyaksikan pernikahan saya sampai saya mempunyai dua orang putri. Ketiga, pada saat ibu saya mengalami sakit yang sangat serius dan dalam keadaan koma di rumah sakit untuk ketiga kalinya. Bahkan dokter telah memvonis bahwa ibu saya harus dipasang selang melalui hidung supaya bisa mendapatkan asupan ke dalam tubuhnya dan dipindahkan ke rumah sakit yang lebih lengkap peralatannya. Setelah berunding dengan keluarga, akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengikuti saran dokter tadi dan esok harinya orang tua saya akan dibawa pulang ke rumah. Karena kejadian tersebut terjadi pada malam hari dalam kondisi orang tua saya sedang tidak sadarkan diri. Denyut nadinyapun tinggal di leher saja. Pada malam itu juga, saya pulang ke rumah orang tua saya dan menyulut tiga batang dupa dan bersembahyang ke hadirat Tian untuk memohon agar Tian memberikan jalan terbaik bagi ibu; apabila Tian masih menghendaki beliau hidup, berikanlah ia  kesembuhan; namun bila Tian telah menghendaki dan tiba waktunya untuk kembali kami sekeluarga telah siap untuk menerimanya.

Esok harinya di pagi hari, saya memutuskan untuk membawa pulang ibu saya dari rumah sakit ke rumah kediamannya. Sayapun sudah pesan ambulan yang akan membawa ibu saya pulang ke rumah. Ambulanpun sudah siap, ibu saya dalam keadaan terbaring tak sadarkan diri dan dipasang infus pada tubuhnya, dibawa keluar dari ruang perawatan oleh perawat. Setibanya di dekat ambulan yang sudah siap untuk membawanya pulang, tiba-tiba ibu saya terbangun dan sadarkan diri. Lalu ia bertanya, “Aku ada dimana sekarang?”, saya menjawab, “Ibu sedang ada di rumah sakit, mari kita pulang ke rumah!” Semua orang merasa terheran-heran atas kejadian ini. Maka sayapun pulang membawa ibu saya dengan menggunakan ambulan tersebut. Tetangga dan semua orang di sekitar rumah saya menyangka bahwa ibu saya telah meninggal dunia pada hari itu, tapi dugaan mereka ternyata keliru. Justru saya pagi itu membawa pulang ibu saya yang segar bugar, seolah tidak pernah sakit sebelumnya. Sejak kejadian tersebut, saya bertambah yakin dan percaya akan kuasa Tian. Dengan doa yang tulus kepada Tian, maka Tian akan mendengar dan mengabulkan doa kita. Setiap kali saya mengingat peristiwa ini, tanpa terasa air mata saya selalu menetes mengingat kasih sayang dan hubungan bathin yang kuat dengan ibu saya. Ia adalah seorang sosok yang tegar dan memiliki cita- cita yang tinggi bagi masa depan anak-anaknya, meskipun ia tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah.

Sesungguhnya masih banyak hal-hal yang kadang membuat diri ini merasa khawatir, hal ini saya alami ketika putri saya yang pertama pada usia 8 bulan harus dirawat di rumah sakit karena terserang kejang-kejang (step) karena kondisi tubuhnya yang tidak tahan ketika suhu tubuhnya melebihi 38 derajat celcius. Saya dan istri hanya dapat berdoa dan melantunkan lagu-lagu rohani ketika menemani putri saya tercinta yang sedang dirawat. Putri saya yang pertama, seringkali sakit panas dengan tiba-tiba, saya dan istri berusaha kemanapun untuk memberikan pengobatan dengan harapan ia dapat sembuh dan sehat seperti anak- anak lain. Sampai usia 10 tahun..XieTian Zhien,  akhirnya putri saya kondisinya sehat dan tidak mengalami gangguan sakit semacam itu lagi. Saat ini saya memiliki tiga orang putri, mereka semua aktif di PAKIN. Putri pertama dan kedua saya saat ini sebagai pengasuh Sekolah Minggu di MAKIN Cimanggis. Sejak kecil, ketika saya mengikuti kegiatan Matakin atau Makin kedaerah-daerah, saya selalu membawa istri dan anak-anak saya agar mereka juga mengetahui kegiatan saja dan dapat merasakan kebahagiaan ketika berkumpul dan berjumpa dengan saudara-saudara seiman dalam Khonghucu.

Saya pernah bermimpi untuk dapat mengunjungi tempat kelahiran Nabi Kongzi di Qufu, Shandong. Tapi bagaimana saya dapat mewujudkan impian tersebut? Pada saat Matakin untuk pertama kalinya mengadakan ziarah ke makam nabi Kongzi di Qufu, saya pernah mendapatkan brosurnya lalu saya tunjukkan kepada salah seorang umat yang berasal dari Pontianak, namanya Dq. Kajadi Handoko, saya biasa menyebutnya Akong (Asuk) karena usianya sudah lebih dari 70 tahun sekarang ini. Dia sering pergi ke Zhongguo, tapi diapun belum pernah berkunjung ke tempat kelahiran nabi. Ia mengatakan nanti saja, kalau mau pergi bersama saya. Saya akan pergi dulu dengan istri saya kesana. Maka merekapun pada tahun 2011 berangkat ke Qufu dan Taishan. Sekembalinya dari sana, banyak hal yang ia ceritakan tentang keindahan dan kemegahan tempat kelahiran dan makam nabi Kongzi. Dia mengatakan, tahun depan ia akan mengajak dan mengantarkan saya pergi kesana kalau mau. Saya menjadi tambah bersemangat dan berkeinginan untuk pergi kesana, namun saya berpikir bagaimana dengan biayanya nanti? Apakah saya mampu? XieTian   zhien, rupanya Tian senantiasa mendengar dan mengabulkan doa saya. Setelah sepuluh tahun lamanya saya menunggu sejak menerima brosur perjalan ke Qufu dari Matakin tersebut, akhirnya niat dan doa saya terkabulkan. Maka pada bulan Juni 2012, kami berangkat ke Qufu bersama delapan orang teman. Bahkan salah satu dari rombongan kami ada pak

Haji dari Bandung, teman rekan saya Dq.Irwanto yang juga berkeinginan untuk pergi berziarah kesana. Maka sayapun bisa mengunjungi tanah kelahiran Nabi Kongzi di Qufu, melakukan sujud syukur dan bersembahyang di hadapan makam nabi, mengunjungi Tai Shan, dan Tembok Raksasa (The Great Wall) di Beijing. Sungguh suatu perjalanan ziarah yang sangat berkesan dalam kehidupan saya.

Untuk  mengakhiri  pengalaman  rohani  saya,  sekali lagi Tian senantiasa mengabulkan segala harapan dan cita- cita saya. Hal ini terbukti,  pada saat saya berkeinginan untuk berkunjung ke Korea Selatan dan ingin menyaksikan kemegahan tarian Pat Iet (Delapan Baris) yang biasanya dipertunjukkan pada  saat  perayaan hari  lahir  nabi Kongzi. Pada suatu kesempatan, ketika saya menghadiri Interreligious Conference di Amsterdam Belanda dan mewakili MATAKIN, saya bertemu dengan Prof. Kim utusan dari Korea Selatan. Ketika saya berbincang-bincang dengan beliau saya bertanya, siapakah Presiden Sung Kyu Kwan saat ini. Beliau menjawab, Choi Geun Deuk. Saya teringat ketika beliau pernah berkunjung ke Indonesia bersama rombongannya. Lalu saya katakana kepada Prof. Kim, mohon disampaikan salam saya kepada Mr. Choi. Sekitar tiga bulan kemudian sayapun mendapatkan surat undangan  dari  beliau  dalam  bahasa  Indonesia,  maka sayapun memutuskan untuk berangkat ke Seoul bersama istri saya hingga dapat menyaksikan upacara Seok Jeon, yakni upacara penghormatan kepada Nabi Kongzi yang diadakan di Kuil Khonghucu Sung Kyu Kwan.Bukan hanya itu saja, sayapun berkesempatan memberikan kuliah umum di  hadapan  mahasiswa Pasca  Sarjana  Universitas Sung Kyu Kwan jurusan Confucianism Study disana, hal ini berkat dukungan dan bantuan dari Xs.Dr.Thomas Hosuck Kang (alm) yang berdomisili di Washington D.C.Amerika Serikat. Beliau pernah berkunjung tiga kali ke Indonesia dan dilantik sebagai Xs kehormatan di MAKIN Ciamis oleh Xs.Tjhie Tjay Ing. Bahkan saya diantar oleh dua orang guide yang juga sebagai penterjemah untuk mengunjungi tempat kelahiran tokoh Khonghucu Korea yang sangat disegani, yakni Yi Hwang (Yi To Gye) di Andong sekitar 3 jam perjalanan dari Seoul dengan menggunakan bus kesana. Saya berkesempatan pula mengunjungi Akademi Konfusius (Confucius Academy) yang ada di sana dan diantar langsung oleh keturunan Yi Hwang yang ke 14. Sayapun dikenalkan dengan salah seorang keturunannya yang lebih senior di rumah kediamannya. Sungguh suatu pengalaman yang sangat berkesan dalam hidup saya. Semua ini saya peroleh atas berkah dan rahmat Tian.

Pada tanggal 28 November 2015, saya mengikuti wisuda  S2  di  Universitas  Islam  Syarif  Hidayatullah, Jakarta setelah dinyatakan lulus ujian pada tanggal 13 Juli  2015 sebagai mahasiswa Khonghucu angkatan pertama yang mengikuti program studi Perbandingan Agama di Fakultas  Ushuluddin  Konsentrasi  Agama  Khonghucu. Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Ws.Wawan Wiratama sebagai Ketua MATAKIN yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mendapatkan beasiswa hingga saya bisa mendapatkan kesempatan mengikuti pendidikan S2 di UIN dan lulus memperoleh gelar Magister Agama (MAg.). Puji dan syukur atas berkah dan rahmat Tian yang telah memberikan semua ini kepada saya.

Saya menjadi bertambah yakin bahwa ajaran Khonghucu benar-benar sangat luar biasa dan telah memberikan tuntunan dalam hidup bagi diri pribadi dan keluarga saya. Saya merasakan gembira dan bahagia berada dalam istana nabi Kongzi. Puji dan syukur atas rahmat dan karunia Tian serta bimbingan nabi Kongzi, hingga saya merasakan kebahagiaan di dalamnya karena saya sudah merasakan sendiri betapa megah dan indahnya ajaran nabi Kongzi. Huang Yi Shang Di, Wei Tian You De.Shanzai!

(Cimanggis, Depok 04 Juni 2015 Ws.Mulyadi Liang)

“Yang mengerti belum sebanding dengan yang memahami. Yang memahami belum sebanding dengan yang merasa gembira di dalamnya.”

 

 

 

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Ketua Matakin Babel Turba Lagi

14-01-2018 Hits:186 Berita Foto

Ketua Matakin Babel Turba Lagi

Pengurus Matakin Prov Bangka Belitung, Dq. Tjhia Tet Hian, Dq. Suryanto Chandra, Js. Ngiat Hiung, Js. Jony Periady, dan beberapa...

Read more

Mengapa Ujian Rohaniwan Di Gunung Sindur ?

11-01-2018 Hits:214 Berita Foto

Mengapa Ujian Rohaniwan Di Gunung Sindur ?

Dalam khotbah Dr Ws.Ongky bercerita ketika nabi Konzi di negeri Chou mengatakan tiga hal yakni 1.dipadatkan 2. dimakmurkan 3. diberi...

Read more

Pembukaan Tahun Persatuan di Keuskupan Agung Jakarta

08-01-2018 Hits:395 Berita Foto

Pembukaan Tahun Persatuan di Keuskupan Agung Jakarta

Gereja Keuskupan Agung Jakarta, menyelenggarakan pembukaan tahun Persatuan secara serentak diseluruh penggembalaan gereja - gereja se-Keuskupan Agung Jakarta pada hari...

Read more

Ujian Terbuka Calon Rohaniwan

07-01-2018 Hits:300 Berita Foto

Ujian Terbuka Calon Rohaniwan

Ujian terbuka ini sudah pernah dilakukan di Pangkal Pinang Bangka Belitung dan menghasilkan rohaniwan sebanyak 6 rohaniwan dari 14 calon...

Read more

Rohaniwan Taat Asas

07-01-2018 Hits:128 Berita Foto

Rohaniwan Taat Asas

DAK Diklat Agama Khonghucu adalah salah satu program Matakin Pusat di bawah pengawasan Kabid Agama adalah progran pendidikan dan pelatihan...

Read more

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:704 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:1018 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:176 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:300 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:188 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 451-460

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 61 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com