spocjournal.com

Prasasti Hari Kehidupan

Oleh: Xs.Tan Tjoe Seng

Setiap tahun kalau sudah mendekati saat Go Gwee Ce Go (Wu Yue Chu Wu) , bulan ke lima tanggal lima Khongcu Lek (Kongzi-li = Tahun Kongzi) , umat Khonghucu (Kongfuzi) , terutama kaum ibu, biasanya sibuk mencari, membeli daun bambu, memilih butir-butir beras ketan, bahan pokok pembuata kue cang (Guozong) dan bacang (Ruozong) ; dua diantara banyak sajian khas umat Khonghucu.

Pada hari Twan Yang (Duan Yang) , saat letak matahari tepat tengah, antara jam 11.00 – 13.00, tepatnya jam 12.00, saat terik sinar matahari 90 derajat tegak lurus (Duan Wu), membuat terang benderang daerah tempat kelahiran Agama Khonghucu; umat Khonghucu, setelah bermandi keramas, bersuci diri, mengenakan pakaian yang rapih dan bersih, menyulut dupa dan menaikkannya, dengan sikap Pat Tik (Ba De) memanjatkan do’a, dengan sikap Delapan Kebajikan Mendekap Hati (Bao Xin Ba De) menyampaikan rasa syukur kepada Thian (Tian) , Khalik alam semesta.

Pada hari Twan Yang (Duan Yang) , sesuai arti namanya Sinar Matahari, sinar matahari yang menjadi lambang kehidupan, lambang rakhmat dan kasih Thian atas segala makhluk dan benda ciptaan-Nya. Banyak orang percaya bahwa segala akar dan daun ramuan obat tradisional, mempunyai khasiat yang lebih mujarab jika dicabut atau dipetik di hari Twan Yang (Duan Yang) . Disamping itu, karena gaya tarik matahari yang begitu kuat saat itu, telur ayam pun dapat ditegakkan.
Agama Khonghucu (Kong Jiao) atau Ji Kau (Ru Jiao) yang diturunkan oleh Para Nabi (Sheng Ren) dan Para Raja Suci (Sheng Wang)  lalu disempurnakan oleh Nabi Khongcu  (Kongzi) , yang merupakan salah satu diantara Sinar Matahari Kebenaran, yang menerangi manusia dari kegelapan bathin, membimbing manusia membina diri menempuh Jalan Suci, atau hidup mengikuti Watak Sejatinya sesuai dengan Kehendak Thian (Tian), Tuhan YME , maka wajarlah jika umat Khonghucu (Kongfuzi) beriman, percaya, sujud dan taqwa, kehadirat Thian (Tian) Yang Maha Esa pada hari raya Twan Yang (Duan Yang).

Hari raya Twan Yang (Duan Yang) , salah satu hari yang suci dan sacral bagi umat Khonghucu, telah dilaksanakan umat Khonghucu atau Jie Kauw (Ru Jiao) sejak jaman purbakala, tidak hanya sekedar dengan melakukan persembahyangan, melainkan pula ditindak lanjuti disemarakkan dengan Phe Chun (Bai Chuan) , perlombaan dengan banyak perahu di perairan muara sungai atau laut, yang kemudian melahirkan salah satu jenis cabang  olah raga, yang ditujukan untuk kehidupan yang sehat, berprestasi dan kebahagiaan bersama manusia, selaras dengan aqidah Konfusiani, bahwa kepercayaan akan Thian (Tian), Tuhan Yang Maha Esa itu, wajib menumbuhkan kesadaran jiwa untuk berbuat Kebajikan kepada sesama manusia.

Sedikit catatan tentang Phe Cun  (Bai Chuan) pada hari raya Twan Yang (Duan Yang)  konon pada jaman penjajahan Belanda, di sungai Cisadane Tangerang yang landai, diselenggarakan orang Pesta Air setiap Go Gwee Ce Go (Wu Yue Chu Wu) . Pesta ini adalah pesta rakyat yang sangat menarik perhatian, bahkan sempat mengundang para wisatawan manca Negara untuk ikut berlomba, atau hanya menyewa perahu sambil mendengarkan musik dan menikmati makanan Guozong dan Ruozong yang lezat, mendayung perahu hilir mudik sambil menyaksikan perlombaan, atau hanyalah sekedar datang bersama keluarga berdiri berjejer di tepi sungai menonton Phe Chun (Bai Chuan) di kali Tangerang. Dapat kita bayangkan betapa semarak meriahnya kota Tangerang waktu itu. Suara tambur yang ditabuh bertalu-talu, suara canang dan cecer tak henti dibunyikan mengiringi perlombaan perahu, bercampur aduk dengan suara gambang keromong ditepi sungai, dan gegap gempitanya sorak sorai orang yang mengelu-elukan tim pemenang perlombaan. Suasana seperti tersebut diatas sejak  tahun 1978 – 1999 hanyalah tinggal kenangan belaka, ataukah mungkin Thian, Tuhan YME  sudah tidak berkenan karena orang sudah terlampau jauh tenggelam didalam pesta-pora hanya mengejar kesenangan sehingga melupakan makna suci hari raya Twan Yang, atau mungkin karena orang sudah melupakan atau sama sekali tidak tahu bahwa Phe Cun (Bai Chuan) itu adalah tugu atau Prasasti didalam hatinya manusia hingga ada cerita hampir setiap kali acara itu digelar ada saja orang yang kehilangan jiwa – mati tenggelam.

Namun demikian sejak tahun 2000 hingga kini , ternyata sejarah kembali berulang dan bahkan Phe Cun (Bai Chuan) telah dijadikan pesta budaya tahunan yang mendapat sambutan hangat dari pemerintah dan warga kota Tangerang, dan juga  dengan tidak melupakan tugu atau Prasasti yang diawali dengan upacara sembahyang besar kepada Tian,Tuhan Y.M.E., dengan harapan hendaknya tugu prasasti itu melekat terpatri didalam hati untuk memperingatkan orang agar menjadi Warga Negara yang baik, menjadi Warga dunia yang bersifat Kunzu, menghormati hak azazi manusia, mempunyai rasa cinta akan nusa bangsa dan tanah airnya, dan anti penjajahan dan penindasan manusia atas sesamanya, yang telah disuriteladani oleh Sien Beng Khut Gwan  (Shen Ming Qu Yuan)  (340-278 SM) yang pada masa hidupnya adalah seorang tokoh jaman Cian Kok (Zhangguo) , suatu jaman yang sangat kacau karena berbagai Negara saling perang memerangi, sehingga Khut Gwan (Qu Yuan)  yang dikenal sebagai seorang negarawan, seorang filosof dan penyair kenamaan itu, rela berkurban membuang diri di sungai Bik Lo (Mi Luo) karena rasa cintanya kepada bangsa, raja, rakyat dan tanah airnya.

Tugu atau Prasasti itu juga mengingatkan bahwa segelas air Kebajikan tidak akan dapat memadamkan segerobak api kebatilan sebagaimana dialami Khut Gwan dalam kisah hidupnya, mempunyai raja yang tidak adil, mempunyai kolega yang berkhianat karena bekerjasama dengan musuh, sehingga Raja, Negara dan rakyat yang dicintainya itu dibunuh, terjajah dan tertintas, manakala usianya telah senja.

Tugu atau Prasasti itu juga mengingatkan betapa pentingnya persatuan dan kesatuan sebagaimana telah disuriteladani Khut Gwan (Qu Yuan) yang telah berkenan meintis persekutuan enam Negara untuk menahan atau melawan negeri Chin (Qin)  yang aggressor, hanya saja amat disayangkan, keberhasilan Khut Gwan sama sekali tidak dihargai rajanya (Cho Hwai Ong (Chu Huai wang) dan Cho Cing Siang Ong (Chu Qing Xiang Wang), bahkan keberhasilannya itu menumbuhkan iri hati dan kedengkian dari para menteri lainnya (Kongcu Lan (Gong Zilan), Khien Siang (Jinshang) dan Siang Kwan Thai Hu (Shangguan Dafu) ) sehingga Khut Gwan (Qu Yuan) di fitnah, dipecat, dihukum buang disekitar danau Tong Ting (Dongting) dan sungai Bik Lo (Mi luo), sehingga sepeninggal Khut Gwan (Qu Yuan) , persekutuan 6 negara yang dengan susah payah dibangun, menjadi hancur berantakan, melincinkan jalan negeri Chin (Qin) yang kuat itu meluaskan daerah dan kekuasaannya.

Alkisah, ditempat pembuangannya, tat kala Khut Gwan mendengar berita bahwa negeri Chou (Chu) telah dapat dihancurkan oleh negeri Chin (Qin) , tak dapatlah dilukiskan betapa sangat dalam kepedihan hatinya. Dengan sebuah perahu direngkuhnya dayung sehingga perahu kearah tengah sungai, dikumandangkanlah sanjak-sanjak buah karyanya dengan kepiluan kesedihan yang tak terperikan. Khut Gwan (Qu Yuan)  meratap menangis tetapi bukan menangisi kesepian dan akhir hidupnya. Ia menangis, menangisi nasib buruk rajanya, rakyat dan tanah airnya. Dengan penuh pilu Khut Gwan (Qu Yuan) mengeluh, kini habislah sudah, daripada aku melihat rakyat dan Negara hancur dan dalam cengkeraman penjajahan dan penindasan, dan menampak orang menari-nari diatas penderitaan orang lain, akan jasad ini biarlah terkubur didalam perut ikan.
Demikianlah pada tahun 299 SM Khut Gwan (Qu Yuan) berkurban menjadikan dirinya sebagai tugu dan prasasti. Hidup manusia memang difitrahkan Thian untuk berbuat lurus, siapa yang lurus akan terpelihara. Tetapi jika tidak lurus hidupnya terpelihara juga, itu hanya suatu kebetulan saja, tidak masuk hitungan karena tidak bermakna (Lun Yu). Memang terkadang orang harus mengurbankan jiwa raganya untuk menunjukkan dan menyempurnakan Cinta kasih, karena untuk melaksanakan Cinta kasih dan berbagai nilai Kebajikan yang menyertainya yang Thian kehendaki bagi hidup setiap manusia (Mengzi).

Gi Hu (Yu Fu) (Bapak Nelayan, kawan Khut Gwan (Qu yuan)  dalam pengasingan) orang bijaksana yang mengasingkan diri, orang yang pernah membujuk Khut Gwan (Qu Yuan)  untuk melupakan masa lalunya menjadi sangat terkejut. Segera ia mengerahkan para nelayan untuk mencari jenazah Khut Gwan (Qu yuan), maka berates perahu di sungai Bik Lo (Mi Luo) seolah saling berlomba didalam pencarian namun hasilnya sia-sia belaka.

Demikian juga Gi Hu (Yu Fu) telah meminta agar para petani disekitar itu membuat tabung bambu yang diberi isi beras kemudian dilemparkan kedalam sungai agar mayat Khut Gwan (Qu yuan) tak sampai dimakan ikan-ikan  buas didasar sungai, juga sia2 saja. Hanya saja pada suatu ketika antara sadar dan tidak dalam mimpinya, Gi Hu(Yufu) seolah menampak kedatangan seseorang ber-Changshan -Jubah- putih yang berkata kepadanya bahwa makanan yang dikirimkan didalam tabung bambu itu telah habis dilahap oleh para roh jahat Pada tahun berikut pada hari raya Twan Yang (Duan Yang) , makanan itu diganti dengan Kuecang  (Guozong) dan Bacang  (Ruozong)  yang berbentuk piramida atau segitiga sama sisi yang dibungkus dengan daun bambu, maka bertambahlah perbendaharaan jenis makanan di dunia.

Demikianlah upacara sembahyang di hari Twan Yang (Duan Yang) yang merupakan manifestasi ajaran tentang iman akan Thian yang wajib menimbulkan kesadaran jiwa untuk berbuat bajik kepada Negara, bangsa dan sesama manusia. Semangat setia, cinta negaranya Khut Gwan (Qu yuan) kiranya dapat menjiwai umat Khonghucu, dibumi yang kita pijak ini, disitu langit kita junjung. Langit dan Bumi, tanah air Indonesia yang tercinta ini tentunya. Upacara sembahyang kepada Thian di hari raya Twan Yang  (Duan Yang) adalah bimbingan ajaran Nabi bagi umatnya yang belajar agar dapat senantiasa harmonis dengan Thian, (Tian), Tuhan Yang Maha Esa,harmonis dengan semesta alam dan lingkungan hidup, dan harmonis dengan sesama manusia. Semogalah kita akan dapat menunaikan tugas hidup di dunia ini yaitu hidup mengikuti Watak Sejati menempuh Jalan Suci didalam bimbingan Agama (Zhong Yong), menggemilangkan Kebajikan mengasihi rakyat/sesama hidup, dan berhenti pada puncak kebaikan (Da Xue ) serta menegakkan Firman (Li Ming) ), hidup menempuh Jalan Suci (Dao) sehingga dapat membawakan kebahagiaan bagi rakyat Tuhan (Tian Min) sehingga kita mendapat kedamaian jiwa, menengadah tidak usah malu kepada Thian Yang Mah Esa dan menunduk kebawah tidak merah muka terhadap sesama manusia. (Mengzi).  Shan Zhai.  (Ws.T.).

Buku bacaan:

  • Kitab Su Si - MATAKIN
  • Brosur Kitab Ngo King – MATAKIN
  • SAK No.43/44 Th.ke XV – MATAKIN
  • Tata Agama dan Tata Laksana Upacara Agama Khonghucu – MATAKIN.
  • Nio Yu Lan – Peradaban Tiong Hoa selayang pandang.
  • Han Swan Tiem – Jakarta -  Hari Raya Tiong Hoa.
  • Ws.Januardi,SE – Istilah-istilah yang dipakai dalam bahasa kitab.

 

 sumber gambar: http://img.theepochtimes.com

 

 

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Silaturahmi Pengurus Matakin Di Hari Idul Fitri 1439 H Selama Tiga Hari

19-06-2018 Hits:25 Berita Foto

Silaturahmi Pengurus Matakin Di Hari Idul Fitri 1439 H Selama Tiga Hari

Bagi umat Islam, hari raya Idul Fitri adalah merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa. Idul Fitri memiliki arti yang berkaitan...

Read more

Matakin Prov. DKI melaksanakan sembahyang Duan Yang di Kelenteng Kongmiao TMII

19-06-2018 Hits:104 Berita Foto

Matakin Prov. DKI melaksanakan sembahyang Duan Yang di Kelenteng Kongmiao TMII

Tanggal 5 bulan 5 Yinli (Kongzili) tahun ini jatuh pada tanggal 18 Juni 2018. Umat Khonghucu dari wilayah prov. DKI...

Read more

Perlunya Jeda

21-05-2018 Hits:214 Berita Foto

Perlunya Jeda

Pagi hari ini, kami sengaja berjalan di persawahan Ubud. Tidak sengaja kami berkenalan dengan peternak bebek yang sangat ramah.

Read more

Jalan Santai Dalam Rangka Memperingati Hut Ke 211 Gereja Keuskupan Agung Jakarta

12-05-2018 Hits:293 Berita Foto

Jalan Santai Dalam Rangka Memperingati Hut Ke 211 Gereja Keuskupan Agung Jakarta

Tanggal 08 Mei 2018 Gereja Keuskupan Agung Jakarta memperingati Hari Ulang Tahun yang ke 211 (08 Mei 1807 – 08...

Read more

Kebaktian Akbar Depok

30-04-2018 Hits:353 Berita Foto

Kebaktian Akbar Depok

Kebaktian spektakuler di Depok Jabar yang dihadiri 1000 umat lebih dengan pembicara Ws. Ir Budi ST, MM dan Ws. HT....

Read more

Tokyo Ke Jakarta

13-04-2018 Hits:295 Berita Foto

Tokyo Ke Jakarta

Perjalanan pulang dari airport Haneda Tokyo. Tidak terasa 1 minggu perjalanan di negara Sakura. Kenangan indah untuk dilupakan.

Read more

Menuju Ke Tokyo

12-04-2018 Hits:167 Berita Foto

Menuju Ke Tokyo

Setelah sarapan pagi di hotel Marusansou, kami menuju ke Karuizawa Factory Outlet yang merupakan factory outlet terbesar. 

Read more

Gasho Village

11-04-2018 Hits:135 Berita Foto

Gasho Village

Setelah semalam mandi onsen, tidur bisa nyenyak sekali sehingga badan menjadi segar. Pagi ini harus bangun pagi untuk siap siap...

Read more

Dari Kobe Menuju Nara

10-04-2018 Hits:151 Berita Foto

Dari Kobe Menuju Nara

Perjalanan dari Kobe munuju Nara. Ada tempat berbelanja di Naramachi. Sebelumnya rombongan menyempatkan diri ke Todaiji Temple sebuah kuil dibangun...

Read more

Negara Sakura

09-04-2018 Hits:169 Berita Foto

Negara Sakura

Tiba di Kanzai-Osaka pagi tanggal 7 April 2018. Udara waktu itu 11 derajat celcius. Sesampainya di airport langsung menuju Osaka...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 471-480

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Menurut Anda apa yang paling penting dilakukan saat Imlek ?

Bersembahyang leluhur - 0%
Menerima Angpao - 0%
Membeli baju baru - 0%
Sembahyang di Kelenteng - 0%
Berkunjung ke sanak-saudara - 0%

Total votes: 0
The voting for this poll has ended on: March 30, 2018

Who's Online

We have 74 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com