spocjournal.com

Pengalaman Spiritual: Sebuah Perjalanan Hidup

 

Oleh: Mario Tando

Pendahuluan

Latar Belakang
Istilah dan pengertian iman dalam Agama Khonghucu ialah berasal dari kata 誠(chéng), berakar dari kata 言  (yán) yang bermakna bicara/ sabda, kalam, dan 成 (chéng) yang bermakna sempurna/ jadi.Maka dari itu iman mengandung makna, 'sempurnanya kata batin dan perbuatan'.1

Sudah seharusnya iman itu sendiri akan membawa kita kepada hal-hal positif yang membawa hidup kita ke arah yang lebih baik.Karena iman menurut ajaran Ru Khonghucu merupakan sebuah Jalan Suci Tuhan, sedangkan berusaha beroleh iman merupakan Jalan Suci manusia (Zhong Yong). Menurut ajaran Ru Khonghucu, iman merupakan sebuah Jalan Suci Tuhan, bahwa Tian sebagai khalik pencipta alam semesta memiliki jalan/ cara dalam penyelenggaraan kehidupan itu sendiri. Dimana usaha untuk beroleh Jalan Suci Tuhan, ialah Jalan Suci seorang manusia. Maka dikatakan bahwa iman merupakan pangkal dan ujung segenap wujud, tanpa iman suatupun tiada. Maka seorang Junzi memuliakan iman (Zhong Yong). Iman ialah cara manusia untuk mencapai Jalan Suci Tuhan.

Iman itu harus disempurnakan sendiri dan Jalan Suci itu harus dijalani sendiri pula. Iman itulah pangkal dan ujung segenap wujud. Tanpa iman, suatupun tiada. Maka seorang susilawan memuliakan iman. Iman itu bukan dimaksudkan selesai dengan menyempurnakan diri sendiri, melainkan menyempurnakan segenap wujud juga. Cinta kasih itulah penyempurnaan diri dan Bijaksana itulah menyempurnakan segenap wujud. Inilah Kebajikan Watak Sejati dan inilah Keesan luar-dalam daripada Jalan Suci. Maka setiap saat jangan dilalaikan”.2 Pembinaan keimanan itu sendiri harus dijalani dan disempurnakan sendiri, maka dari itu segala sesuatunya tergantung pada individu masing-masing. Bagaimana seseorang merefleksikan perasaan keimanan itu ke dalam kehidupan mereka masing-masing sebagai tuntunan hidup mencapai Jalan Suci Tuhan.

Sedangkan iman menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah kepercayaan (yang berkenaan dengan agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dan sebagainya, yang tidak akan bertentangan dengan ilmu; bermakna pula ketetapan hati; keteguhan batin; keseimbangan batin.3

Maka sesungguhnya iman amat berkaitan dengan keyakinan yang berasal dari ketetapan hati dan perasaan batin akan sesuatu hal yang pada umumnya berkaitan dengan ajaran keagamaan dan mungkin bersifat tidak logis. Dimana iman itu sendiri menghasilkan sebuah sikap, sikap sempurnanya kata batin dengan perbuatan.
Unsur-unsur iman itu sendiri antara lain berkaitan dengan kepercayaan, kejujuran, ketulusan, keyakinan, perenungan, pengalaman spiritual, meneliti hakekat tiap perkara, dan keberkahan. 4

Adapun dalam makalah ini penulis ingin lebih menonjolkan tentang keimanan yang berkaitan dengan pengalaman spiritual. Setiap individu umumnya memiliki tujuan yang kenyataannya dapat terlaksana oleh karena keyakinan atas iman itu sendiri. Atas dasar keyakinan itu, iman berkembang menjadi pengalaman spiritual yang menunjukkan adanya kuasa Tian dalam setiap langkah yang kita lalui.

Kata spiritual menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yakni berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin).5 Maka dari itu pengalaman spiritual berarti berhubungan dengan perjalanan hidup seseorang berdasar perasaan rohani/ batin yang membawa manusia kepada keyakinan akan sesuatu hal, dan tercapainya hal tersebut didasari atas keyakinan terhadap nilai-nilai spiritualitas itu.

 

Pengalaman Spiritual

Perjalanan Hidup: Sebuah Pengantar
Penulis sejak kecil sekolah TK-SMA di Sekolah Katolik, dimana pendidikan agama katolik menjadi sesuatu hal yang wajib untuk diketahui dan dipelajari terhadap murid-murid disana. Tetapi kenyataannya hal tersebut tidak menjadikan penulis mengimani iman kristiani. Padahal ditambah lagi dengan seluruh kawan yang mayoritas beriman katolik juga. Sejak kecil, walaupun secara umum anggota keluarga mengimani ajaran khonghucu sebenarnya lingkungan tidak begitu menunjang menjadikan penulis mengimani ajaran khonghucu. Yang pertama seperti yang kita ketahui bersama, bahwa sebelum tahun 2000, saat Sang Presiden mencabut Inpres no. 14 tahun 1967, ajaran khonghucu belum begitu bebas berkembang, sungguh menjadi hal yang mustahil untuk mendapatkan ajaran agama khonghucu di sekolah. Padahal sekolah merupakan rumah kedua bagi seorang murid, dimana hampir setengah harinya dihabiskan di lingkungan sekolah.

Penulis merasakan keadaan itu, terutama di masa-masa sekolah dasar. Walaupun sebenarnya harus diakui keadaan itu penulis rasakan sampai dengan masa kuliah. Karena masa transisi yang harus jujur diakui kesiapan kita belum terlalu menunjang dalam mengisi segala lini yang umumnya ada. Di masa sekolah dasar, penulis sempat mengambil nilai ke vihara di sekitar rumah. Tapi hal itu lantas tidak menjadikan penulis meneruskan trend penulis untuk beribadah ke vihara. Entah apa yang meliputi hati penulis, penulis mengalir begitu saja berusaha mendalami ajaran khonghucu. Yang mungkin juga diikuti karena penulis melihat lingkungan keluarga yang umumnya mengimani ajaran khonghucu. Semasa SMP sampai dengan SMA penulis tidak pernah mendapatkan ajaran agama khonghucu secara formal, tetapi secara tidak langsung penulis mengakui bahwa penulis mengimani ajaran khonghucu (walaupun pada kenyataannya belum terlalu memahami apa itu khonghucu sendiri).

Mungkin penulis waktu itu lebih memahami ajaran Kristiani daripada Khonghucu sebagai akibat pengetahuan wajib bagi para murid di sekolah katolik. Banyak dinamika yang terjadi, yang mungkin sebenarnya bisa saja mempengaruhi iman penulis. Tapi kenyataannya tidak dapat menggoyahkan iman penulis sama sekali. Penulis baru benar-benar mencoba aktif memahami ajaran Khonghucu ialah ketika masa SMA berakhir. Saat itu penulis diwajibkan untuk membawakan ujian praktek agama (penulis mendapat tawaran untuk mempraktekkan ajaran katolik atau ajaran khonghucu yang penulis Imani). Saat itu agama khonghucu sebenarnya baru saja berkembang (kembali), sehingga sekolah pun hampir tidak dapat memfasilitasi dan mengakui tentang agama khonghucu itu sendiri. Tapi dengan ketetapan hati penulis, penulis tetap bersikeras mengatakan bahwa khonghucu sebagai agama yang penulis yakini, dan akan membawakan nilai praktek agama sesuai dengan ajaran agama khonghucu.

Saat itu tugas akhirnya ialah menguraikan ayat-ayat suci agama. Penulis dengan percaya diri membawa kitab suci dan mencoba menguraikan ayat (yang masih sangat penulis ingat) tentang pembinaan diri, yakni “Hal memanah itu seperti sikap seorang Susilawan. Bila memanahnya meleset, si pemanah berbalik mencari sebab-sebab kesalahan kepada diri sendiri” (Zhong Yong). Penulis sekaligus menohok kepada para guru penguji waktu itu dengan menganalogikan tentang seorang guru yang harusnya dapat memeriksa dirinya sendiri (misal) jika ada kegaduhan didalam ruang kelas yang mereka ajar, atau jika ada murid yang tidak dapat memahami pelajaran yang mereka sampaikan. Karena banyak dari guru umumnya hanya menyalahkan murid atas apayang terjadi dilingkungan sekolahyang bersifat negatif, tapi tidak mau berusaha mencoba mencari sebab-sebab hal itu terjadi, yakni introspeksi diri selama ini mungkin ada cara pengajaran yang keliru. Namun penulis katakan juga bahwa penulis sebagai murid pun harus dapat mengintrospeksi diri juga. Murid yang baik ialah murid yang tidak sekedar menyalahkan gurunya ketika tidak memahami materi yang diajarkan, tapi mencoba memeriksa dirinya kembali agar dapat lebih memahami apa yang diajarkan oleh para guru.

Semasa kuliah penulis harus meneruskan studi di universitas yang umumnya seluruh mahasiswanya berkeyakinan muslim, bukan hanya itu penulis harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa dari 1 universitas (terdiri dari beberapa fakultas), hanya penulis seorang yang beragama khonghucu. Itu dapat terlihat saat masa orientasi yang membagi seluruh murid 1 angkatan menjadi satu kelompok. Saat sesi sharing agama, semua dibagi menjadi masing-masing kelompok agama. Hanya penulis yang kebingungan, harus masuk kepada kelompok agama yang mana. Karena kelompok agama khonghucu juga tidak ada, dan pada waktu itu khonghucu juga menjadi sebuah ‘makanan’ yang amat asing terdengar ditelinga para panitia waktu itu. Penulis mencoba memberikan sedikit pemahaman kepada panitia, sehingga akhirnya pada sesi itu penulis dibebas tugaskan.
Tidak selesai sampai disitu, penulis juga merasakan bagaimana harus berjuang mendapatkan nilai mata kuliah agama yang menjadi mata kuliah wajib dalam studi sarjana penulis. Sebenarnya penulis bisa saja ‘merepotkan’ para pemuka agama khonghucu untuk turun tangan langsung mengenalkan kembali apa itu khonghucu sehingga bisa diakui sebagai sebuah agama yang difasilitasi oleh universitas. Tapi penulis memilih cara yang lain, penulis tidak ingin merepotkan para tokoh untuk membuang-buang waktu untuk penulis. Karena penulis paham betul situasi yang ada dan pada waktu itu amat tidak memungkinkan itu terjadi. Penulis memilih mengikuti mata kuliah agama Buddha (dengan catatan penulis tidak pernah mengakui bahwa penulis mengimani ajaran agama Buddha). Penulis dengan amat sadar tetap mengisi kolom agama Khonghucu (dibuat sendiri) ditengah pilihan 5 kolom agama yang disediakan. Hingga akhirnya penulis menemui dosen agama Buddha dan memohon izin untuk mengikuti mata kuliahnya selama 1 semester, dengan ketegasan di awal dengan memberikan informasi bahwa penulis ialah seorang beragama Khonghucu. Setelah bercerita, akhirnya dosen pun menyetujui hal itu. Dan pada akhirnya justru penulis semakin kaya akan pengetahuan tentang agama, yang seharusnya dapat membawa dampak positif bagi penulis, tanpa mengurangi ketegasan pengakuan tentang adanya agama Khonghucu itu sendiri.

Sejak kecil, sebenarnya tidak pernah ada yang mendoktrin secara penuh bahwa penulis harus mengimani ajaran khonghucu. Hanya saja, keluarga mencontohkan dengan realita nyata misalnya tentang peribadahan di altar leluhur maupun Litang yang umumnya wajib dilaksanakan oleh hampir seluruh keluarga besar dilingkungan keluarga penulis. Beranjak dewasa, dari situlah penulis mencoba menggali pemikiran sendiri tentang pemahaman ajaran khonghucu, yang pada akhirnya membawa penulis menjadi seseorang yang mengakui kehebatan ajaran Ru Jiao dan Kong Zi sebagai sosok sentral dalam meneruskan ajaran tersebut.

Perjalanan Hidup: Tentang Sebuah Kenyataan
Kematian adalah proses seperti yang dikatakan Damm: “Ketika semua sel tubuh mengalami Necrosis (berhenti bekerja), tidak ada lagi proses kehidupan dalam tubuh yang bersangkutan, tetapi kematian bukan momen itu sebab belum semua sel dalam tubuhnya mengalami Necrosis. Proses kehidupan masih berlangsung pada bagian tubuh tertentu”.6

Setiap manusia mempunyai perasaan yang sangat mempengaruhi kehidupannya. Saat orang merasa sedih karena ditinggalkan untuk selamanya oleh orang yang disayangi pengaruhnya sangat besar. Pada saat Nabi Khongcu menghadapi kepergian ibunya selama tiga tahun tidak dapat menikmati musik dan tidak dapat menikmati makanan lezat. Kesedihan Nabi Khongcu selama tiga tahun ini kemudian menjadi ukuran berkabung kepada orang tua. Kesedihan yang dirasakan oleh Nabi Khongcu saat ditinggalkan orangtuanya juga dirasakan oleh semua orang.7

Zhuang Zi saat menghadapi kenyataan bahwa istrinya telah meninggal dunia dia menangis keras-keras. Pada sore harinya saat banyak orang datang untuk menyampaikan bela-sungkawa Zhuang Zi sudah bernyanyi dan main musik.Murid-muridnya mengira dia sudah gila. Zhuang Zi menjelaskan bahwa apabila dia bersedih arwah istrinya akan ikut bersedih karena melihat dia bersedih.Rasa sedih itu juga dirasakan oleh Zhuang Zi sebagai orang yang meyakini bahwa kelahiran dan kematian itu sudah hukum alam. 8 Mungkin agak bertentangan dengan Li Ji yang sedikit banyak tersirat tentang kedukaan, dimana umunya harus ada rasa sedih yang benar setiap kali seseorang ditinggalkan oleh orang yang disayanginya. Namun jika kita lihat lebih mendalam, maksud dari Zhuang Zi tidak lain dan tidak bukan bahwa ia tidak ingin larut dalam kesedihan. Karena sesungguhnya memberlakukan orang yang telah mati benar-benar seperti orang mati itu tidak berperi Cinta Kasih; memperlakukan orang mati seolah-seolah seperti masih hidup itu juga tidak bijaksana, maka janganlah dikerjakan [Li Ji].

Penulis juga merasakan kesedihan semacam itu, saat sesekali mengingat bahwa kenyataan penulis harus ditinggalkan oleh Sang Ayah sejak penulis berumur 4 tahun karena penyakit leukemia. Seringkali jiwa penulis berteriak, karena daripada keadaan itu kehidupan penulis bisa dikatakan kering kasih sayang secara langsung dan utuh. Karena keadaan itu, Ibunda penulis harus bekerja sebagai karyawan swasta hingga penulis bertumbuh besar untuk menafkahi penulis. Kenyataan itu memaksa kasih sayang langsung yang utuh tidak didapatkan penulis dari orangtua. Saat Ibunda harus pergi berangkat bekerja, saat penulis masih terjaga dalam tidur. Saat Ibunda harus pulang di gelap malam, saat penulis sudah terjaga dalam tidur. Seringkali penulis merasa iri terhadap mereka yang mendapatkan kasih sayang langsung yang tulus dari kedua orangtua masing-masing, sehingga merekapun dengan sangat mudah dapat membalas perasaan cinta itu ketika dewasa.

Tentu saja penulis juga merasakan kasih sayang atas pengorbanan Ibunda penulis, tapi penulis harus jujur ada rasa yang berbeda yang dirasakan, ialah mungkin karena kurangnya kedekatan secara langsung yang memaksa penulis menghadapi kecanggungan kasih sayang terhadap Sang Ibunda. Namun hal itu bukan berarti penulis mengurangi usaha perjuangan mewujudkan rasa bakti penulis terhadap Ibunda.

Adapun menurut Meng Zi, manusia harus menerima segala kejadian yang menimpa diri kita sebagai Tian Ming atau kehendak Tuhan. Keikhlasan menerima kehendak Tuhan itu dapat mengurangi kesedihan kita. Penghayatan terhadap pengalaman batin dan perasaan yang mendalam dapat membawa manusia pada penghayatan spiritual.9
Singkat cerita, karena keyakinan akan iman yang tersirat juga dalam Delapan Pengakuan Iman Agama Khonghucu yang ke-4, “Sepenuh Iman menyadari adanya Nyawa dan Roh” membawa penulis kedalam keyakinan bahwa hidup mati ialah sebuah Firman Tian yang tidak boleh disesali.

Menurut Kongzi, “Semangat (Qi), itulah perwujudan tentang adanya Rokh; Kehidupan Jasad (Bo) itulah perwujudan tentang adanya Nyawa. Bersatu harmonisnya Nyawa dan Rokh, itulah tujuan pengajaran Agama. Semua yang dilahirkan/ tumbuh mesti mengalami kematian; yang mati itu mesti pulang kepada tanah, inilah yang berkaitan dengan Nyawa. Semangat itu mengembang naik ke atas, memancar cemerlang diantar semerbaknya bau dupa, itulah sari beratus benda dan makhluk, inilah kenyataan daripada Rokh.” 10

Menurut XS. Tjhie Tjay Ing, “Hidup adalah kekal, baik di dalam Xian Tian(alam sebelum penciptaan/ penjelmaan makhluk) maupun Hou Tian(alam setelah penciptaan/ penjelmaan makhluk)”. Manusia dan segenap makhluk dijelmakan Tuhan dengan Firman-Nya dari alam Xian Tian menuju alam Hou Tian; setelah menunaikan segenap tugas kewajibannya suatu saat Rokh manusia akan berpulang ke alam Xian Tian.11

Maka dari itu kewajaran dalam hidup yang telah di Firmankan Tuhan menjadi suatu hal yang harus penulis terima apa adanya. Dan oleh karena iman khonghucu, penulis meyakini bahwa koneksi antara penulis dengan Ayahanda di alam Xian Tiantetap dapat terjaga melalui ketulusan hati, salah satunya lewat persembahyangan.
Di dalam Kitab Lun Yu dikatakan bahwa, “Pada waktu sembahyang kepada leluhur, hayatilah akan kehadirannya”. Maka dari itu sesungguhnya penulis dapat dengan sadar dengan keyakinan yang tulus diwaktu persembahyangan ataupun bahkan dalam kehidupan sehari-hari penulis masih dapat memiliki ikatan batin yang dapat terasakan dengan cukup baik dengan Ayahanda. Karena seperti yang tersurat diatas, bahwa Semangat (Qi) sebagai perwujudan Rokh itu kekal di alam Xian Tian.
Atas dasar keimanan yang ada, penulis mengerti bahwa penulis masih memiliki tugas bakti terhadap orangtua. Karena bakti tidak selesai hanya karena ‘jarak yang jauh’. Penulis masih memiliki kewajiban untuk menyembahyangi Ayahanda sampai tiba saatnya penulis berpulang ke alam Xian Tian pula. Seperti yang tersirat dalam Kitab Meng Zi, Pada saat hidup layanilah dengan kesusilaan, ketika meninggal dunia makamkanlah dengan kesusilaan dan selanjutnya sembahyangilah dengan kesusilaan. Dengan demikian barulah dapat dikatakan berbakti”.

Jika bukan karena keyakinan iman yang dalam, hal itu mustahil untuk dilakukan penulis hingga saat ini. Bahwa penulis meyakini hal tersebut, sehingga hal tersebut nyata adanya. Karena iman itulah pangkal dan ujung segenap wujud; tanpa iman, suatupun tiada [Zhong Yong].

Seseorang yang telah meninggal dunia itu Rohnya masih ada dan bisa melihat, mendengar, merasakan bahkan menyadari bahwa badan (jasadnya) sudah hancur dan tidak berfungsi. Kenyataan semacam itu sungguh suatu hal yang membuat ajaran agama Khonghucu selalu menghormati roh sebagai bagian dari rasa Cinta Kasih itu. Maka ajaran Khonghucu juga mengutamakan bakti sebagai sarana Li (penghormatan kepada orang-orang yang telah meninggal dunia, khususnya kepada orang tua kita).12
Melayani kepada yang telah mangkat sebagai melayani yang masih hidup, melayani kepada yang sudah tiada sebagai melayani kepada yang masih ada. Demikianlah Laku Bakti yang sempurna.
[Zhong Yong]

 

Perjalanan Hidup: Organisasi
Penulis umumnya aktif didalam organisasi keagamaan semasa pertengahan kuliah. Di tengah keaktifan penulis beribadah di Litang, suatu masa mengadapkan penulis kepada sebuah pilihan yang sulit. Dengan minimnya pemahaman dan pengalaman penulis mengenai agama khonghucu, penulis harus dihadapkan dengan kenyataan tentang pencalonan penulis sebagai Ketua Pakin (Makin Cibinong-Bogor). Suatu hal yang amat mustahil mengingat keaktifan dan akseptabilitas penulis waktu itu. Tapi dengan banyaknya masukan dan perenungan pribadi penulis, penulis akhirnya mengambil pilihan itu. Tidak seperti pemilihan ketua-ketua organisasi lain yang umumnya berebut, justru pemilihan ketua pakin semua kandidat malah menjauh dari kesempatan itu. Suatu hal yang sebenarnya membuat hati miris, karena berarti tidak ada yang ingin terjun langsung untuk membantu jalannya organisasi dengan tanggung jawab sosial yang ada, murni non profit oriented, organisasi yang menuntut kesadaran pribadi, umumnya hanya ada hak dan hampir tidak ada kewajiban.

Pada akhirnya penulis terpilih sebagai Ketua Pakin (Makin Cibinong-Bogor). Dari situlah penulis belajar bagaimana memahami seseorang, belajar memaksa diri untuk berani tampil di muka umum, belajar ikhlas dan sabar ketika ada kritik dan ocehan, belajar sebuah kenyataan hidup seperti apa yang dikatakan Tokoh Bangsa Haji Agus Salim,memimpin itu menderitabukan memupuk harta(leiden is leijden)13 .

Atas dasar keyakinan dan ketetapan iman, penulis terus belajar melewati kesalahan-kesalahan penulis sendiri hingga akhirnya memahami bahwa sesuatu yang berhasil itu harus dilalui oleh kesalahan (baik kecil maupun besar). Karena (dahulu) penulis berpegang pada sebuah kata, “jika bukan kita, siapa lagi?”.Perjalanan organisasi umumnya relatif berjalan baik dan harmonis ditengah kenyataan adanya kelompok-kelompok yang mungkin bertentangan dengan penulis. Ini menjadi sebuah hal yang biasa di dalam perjalanan kehidupan organisasi. Sudah dikatakan sejak dahulu oleh Kongzi, bahwa “Ada pujian yang datang tanpa diharapkan, ada celaan yang datang walau kita sudah berusaha sebaik-baiknya”.

Di samping organisasi Pakin, penulis juga aktif di dalam organisasi Gemaku yang lebih luas jendela organisasinya. Dari situ penulis dapat belajar lebih banyak lagi, melihat dengan titik pandang yang luas dengan jendela organisasi yang lebih besar. Semakin memahami tentang sesuatu yang dalam dan besar tentang dinamika perkembangan agama khonghucu dan isu-isu nasional lainnya. Waktu itu, keyakinan iman lah yang membawa penulis kepada jalan itu, karena seperti yang diketahui bersama lagi, bahwa ini organisasi non profit oriented yang umumnya hanya mengajari kita tentang nilai-nilai pengalaman hidup yang lebih luas tanpa memikirkan kepentingan/ keuntungan materi semata. Mungkin atas dasar ini kita bisa mendapat nama, tapi bukan itu yang penulis cari, melainkan keinginan untuk mengembangkan ajaran agama khonghucu dengan cara yang lain.

Di Gemaku, penulis salah satu pencetus untuk mendorong Gemaku menjadi organisasi filantropis yang mempunyai kewajiban untuk melihat kepentingan sesama dan membantunya sesuai dengan kemampuan organisasi waktu itu. Dengan kekuatan media sosial, Gemaku berjuang menyalurkan kebajikan lewat program Gerakan Umat Khonghucu Peduli. Dengan keadaan organisasi yang sangat minim SDM (Sumber Daya Materi), penulis bersama kawan-kawan sepakat untuk berjuang dengan memberi contoh terlebih dahulu. Dengan memanfaatkan dana pribadi masing-masing, program tersebut mulai berjalan. Karena sejak awal kami yakin, bahwa “Kebajikan tidak akan terpencil, ia pasti beroleh tetangga” (Lun Yu).

Diawali dengan program Gemaku Peduli Bencana, dimana penulis bersama kawan-kawan organisasi megumpulkan pakaian layak pakai untuk segera didistribusikan kepada pihak-pihak yang membutuhkan secara langsung saat bencana banjir di Jakarta (misalnya). Banyak nilai yang didapat ketika kami turun langsung ke lapangan bersama warga, bukan hanya untuk khonghucu, tetapi untuk tionghoa secara umum. Fisik kami yang merepresentasikan ke-Tionghoa-an menjadi sesuatu yang mudah diingat oleh para warga. Ketika si sipit mampu berbagi secara langsung ke lapangan, ditengah kondisi banjir dan kumuh yang ada. Tidak ada sekat, yang ada murni keikhlasan dan ketulusan.

Beberapa program lain juga terus berjalan, semisal program berbagi kasih, dan program beasiswa SPP yang masih berjalan hingga saat ini. Program berbagi kasih antara lain ketika anggota kami bergerak secara langsung ke lapangan untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan (umumnya karena penyakit yang dihadapi), program bedah rumah, dan semacamnya. Seperti biasa, dengan modal kepekaan anggota organisasi yang ada kami memulainya secara pribadi dengan memberikan donasi secara ikhlas kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Kemudian kami mengajak semua pihak untuk bersama-sama bergabung di dalam rumah kebajikan. Hasilnya memang diluar dugaan, banyak pihak yang selalu saja menjadi kawan kami dalam berbagi. Mereka yang tidak kenal secara fisik pun selalu ada setiap kami membagikan gerakan kami. Dan itu semua sesuai dengan keyakinan kami, bahwa Tian selalu menyertai ketulusan, kebajikan selalu beroleh kawan.

Program Beasiswa SPP pun berawal dari kepekaan dan kepedulian serupa anggota kami. Program ini terus berjalan kontinyu, kurang lebih 3 tahun sudah berjalan, dan saat ini tidak kurang 15 orang dari berbagai daerah menjadi peserta program Beasiswa SPP. Dan itu semua lagi-lagi berjalan karena keyakinan kami akan kebajikan yang tulus, yang tidak akan pernah hadir sendirian. Kami memiliki analogi sebagai sebuah pipa, pipa yang menyalurkan air disuatu tempat bernama kebajikan. Kita hanya mengumpulkan air tersebut agar jatuh ke tempat yang semestinya. Sehingga jatuhnya air tersebut bermanfaat bagi sesama, dan turut serta mengembangkan kebajikan itu sendiri. Orang-orang yang terpanggil oleh kasih Tian lah yang selalu senantiasa ada menjadi air yang tak pernah kering.

Secara logika dan jika melihat kemampuan dan keterbatasan, sebenarnya kami tidak akan pernah mampu menjalani program-program tersebut sendirian. Tapi iman lah yang menuntun kami kepada keberanian berfikir dan bertindak. Iman yang didasari keyakinan yang tulus selalu membawa setiap hal ke arah yang positif. Seperti yang telah kami lakukan bersama, itu semua nyata adanya. Iman membawa kami kedalam ruang keyakinan akan kebajikan yang selalu beroleh kawan, tak pernah tinggal sendirian. Karena iman ialah Jalan Suci Tian, ia berisi nilai-nilai positif dari Tian tentang rahasia kehidupan. Semua berasal dari pikiran yang berbuah menjadi sebuah kenyataan.
Pikiran memiliki kekuatan, kita dapat merubah kenyataan melalui pikiran kita.Pikiran sudah pasti dapat mengubah kenyataan. Tapijika kita tidak mempercayainya maka kenyataan pun tidak akan berubah. 14

Seperti itulah ‘jalan dakwah’ yang kami yakini, berusaha berbuat bajik melalui perilaku nyata lewat hal-hal kecil yang dapat kita jalani sesuai kemampuan kita masing-masing. Dari yang kecil itulah kita menjadi besar. Mimpi besar penulis hanya satu, mendirikan organisasi sosial yang menampung anak-anak muda untuk bisa berkreasi dan berusaha di depan muka halaman kantor yang disesaki dengan ratusan buku bacaan yang dapat dibaca oleh semua orang dengan gratis secara tenang dan nyaman. “Dakwah yang utama itu bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik itu sudah berdakwah." 15

Sejatinya agama adalah untuk manusia agar bisa kembali ke fitrahnya yang semula, bersih suci karena berasal dari Tuhan itu sendiri. Dengan demikian setiap orang yang mengaku beragama (apapun agamanya) harus mampu mencintai sesamanya sebelum ia berani mengakui mencintai Tuhan-Nya sebagai Sang Pencipta.16


Penutup

Iman sudah sewajarnya membawa kita kepada hal-hal yang bersifat positif. Ia berguna sebagai pedoman hidup manusia melangkah dalam kehidupan. Beruntunglah yang selalu di dalam iman, karena iman akan menuntun kita kepada Jalan Suci Tuhan. Dengan iman kita dapat bersama-sama hidup bahagia didalam kebahagiaan Tuhan.
Hidup bahagia di dalam Tuhan senantiasa menunjukan sikap yang tidak pernah menganggap masalah sebagai halangan hidup. Masalah dianggapnya sebagai bagian kehidupan yang harus dihadapinya. Dalam mengahadapi masalah atau tidak mereka selalu menunjukan sikapnya yang wajar, gembira dan yakin bahwa pada akhirnya masalah itu bisa terselesaikannya. Orang yang masuk dalam kebahagiaan Tuhan dapat merasakan kebahagiaan meskipun hidupnya serba kekurangan (miskin). Bahagia dalam Tuhan adalah obat mujarap dan sekaligus solusi bagi kehidupan manusia.17

 

Daftar Pustaka:

Cahyo, Agus N. Kebiasaan Sehari-hari Para Guru Bangsa. Jogjakarta: 2014.
Ongky Setio Kuncono, WS., “Pejuang Tian Yang Bahagia dalam Tian”.
Ongky Setio Kuncono, WS., “Bahagia di dalam Tuhan, Doa & Syukur”.
Ongky Setio Kuncono, WS., “Pengalaman Spiritual”, SPOC: 2016.
Oesman Arif, WS., “Pengalaman Spiritual dalam Agama Khonghucu”.
Tjhie Tjay Ing, XS.,Pedoman Pengajaran Dasar Agama Khonghucu, MATAKIN: 2006.
PKUB, Kementerian Agama. Kerukunan Umat Beragama dalam Sorotan. Jakarta: 2011.

Catatan:

  1. Tjhie Tjay Ing, XS., Panduan Pengajaran Dasar Agama Khonghucu. MATAKIN, 2006.
  2. Kitab Zhong Yong dalam Buku Panduan Pengajaran Dasar Agama Khonghucu, Tjhie Tjay Ing. MATAKIN, 2006.
  3. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) via online
  4. Ws. Ongky Setio Kuncono, SH., SE., MM., “Mata Kuliah Keimanan I”. UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
  5. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) via online
  6. Ongky Setio Kuncono, WS., Pengalaman Spiritual, SPOC: 2016.
  7. Oesman Arif, WS., Pengalaman Spiritual dalam Agama Khonghucu.
  8. Kisah Zhuang Zi, dalam “Pengalaman Spiritual Dalam Agama Khonghucu”, Karya: Ws. Oesman Arif.
  9. Oesman Arif, WS., Pengalaman Spiritual dalam Agama Khonghucu.
  10. Li Ji, dalam Panduan Pengajaran Dasar Agama Khonghucu, Karya: XS. Tjhie Tjay Ing.
  11. Tjhie Tjay Ing, XS., Panduan Pengajaran Dasar Agama Khonghucu, MATAKIN, 2006.
  12. Ongky Setio Kuncono, WS., Pengalaman Spiritual, SPOC: 2016.
  13. Agus Nur Cahyo, “Kebiasaan Sehari-hari Para Guru Bangsa”, Yogyakarta: 2014.
  14. Makoto Sichida, dalam “Pejuang Tian Yang Bahagia dalam Tian”, Karya; WS. Ongky Setio Kuncono.
  15. Emha Ainun Nadjib, dalam “Kebiasaan Sehari-hari Para Guru Bangsa”. Karya: Agus Nur Cahyo.
  16. Budi Santoso Tanuwibowo, dalam “Kerukunan Umat Beragama dalam Sorotan”, PKUB: 2011.
  17. Ongky Setio Kuncono, WS.,Bahagia di dalam Tuhan, Doa & Syukur.

 

 

 

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Ketua Matakin Babel Turba Lagi

14-01-2018 Hits:186 Berita Foto

Ketua Matakin Babel Turba Lagi

Pengurus Matakin Prov Bangka Belitung, Dq. Tjhia Tet Hian, Dq. Suryanto Chandra, Js. Ngiat Hiung, Js. Jony Periady, dan beberapa...

Read more

Mengapa Ujian Rohaniwan Di Gunung Sindur ?

11-01-2018 Hits:214 Berita Foto

Mengapa Ujian Rohaniwan Di Gunung Sindur ?

Dalam khotbah Dr Ws.Ongky bercerita ketika nabi Konzi di negeri Chou mengatakan tiga hal yakni 1.dipadatkan 2. dimakmurkan 3. diberi...

Read more

Pembukaan Tahun Persatuan di Keuskupan Agung Jakarta

08-01-2018 Hits:395 Berita Foto

Pembukaan Tahun Persatuan di Keuskupan Agung Jakarta

Gereja Keuskupan Agung Jakarta, menyelenggarakan pembukaan tahun Persatuan secara serentak diseluruh penggembalaan gereja - gereja se-Keuskupan Agung Jakarta pada hari...

Read more

Ujian Terbuka Calon Rohaniwan

07-01-2018 Hits:300 Berita Foto

Ujian Terbuka Calon Rohaniwan

Ujian terbuka ini sudah pernah dilakukan di Pangkal Pinang Bangka Belitung dan menghasilkan rohaniwan sebanyak 6 rohaniwan dari 14 calon...

Read more

Rohaniwan Taat Asas

07-01-2018 Hits:128 Berita Foto

Rohaniwan Taat Asas

DAK Diklat Agama Khonghucu adalah salah satu program Matakin Pusat di bawah pengawasan Kabid Agama adalah progran pendidikan dan pelatihan...

Read more

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:704 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:1018 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:176 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:300 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:188 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 451-460

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 56 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com