spocjournal.com

Pengalaman Spiritual : Pejuang Tian Yang Bahagia Dalam Tian

 

Oleh : Dr. Drs. Ws. Ongky Setio Kuncono, SH, MM

Menjadi seorang rohaniwan bukan sekedar dituntut memiliki keahlian agama yang menyangkut pengetahuan kitab, pengetahuan sejarah suci, pengetahuan tata upacara (Li), pengetahuan sanjak dan musik saja, melainkan seorang rohaniwan harus memiliki kesiapan mental untuk menjadi pelayan umat. Rohaniwan dituntut untuk menyesuaikan diri sebagai rohaniwan pelayan umat, khususnya bagi mereka yang dalam kehidupannya   merangkap sebagai seorang pengusaha atau profesional lainnya. Banyak yang harus dipelajari dan dijalani agar menjadi rohaniwan yang bisa turun ke bawah untuk lebih dekat dengan umatnya dan bersama-sama umat membangun hubungan yang harmonis serta bisa menerima keadaan di lapangan.

Proses pembelajaran untuk menjadi seorang rohaniwan yang  mampu  menyesuaikan  diri  pada  kebutuhan  umat perlu   dilakukan mengingat banyak   rohaniwan dewasa ini yang memiliki latar belakang beragam sebagai guru, dosen, anggota dewan, pejabat negara bahkan pengusaha (entrepreneur). Para profesinal tersebut tentunya memiliki gaya hidup dan kebiasaan hidup yang sangat berbeda dan apabila hal itu diterapkan dalam posisinya sebagai seorang rohaniwan yang bercermin pada pelayan umat tentunya hal itu tidak akan cocok. Oleh karena itu perlu adanya pembelajaran mental bagi rohaniawan atau semacam orientasi diri agar menjadi rohaniwan sebagai pelayan umat.

Dalam melayani umat, seorang rohaniwan harus memposisikan dirinya sebagai seorang yang rendah hati, tulus, mau menerima setiap keluhan dan pengaduan, memperhatikan kebutuhan dan tuntutan umat. Bukan sebaliknya menghadapi umat seperti menghadapi anak buah atau karyawan dalam sebuah perusahaan. Hal ini sering dilakukan oleh sebagian dari rohaniwan yang terbiasa hidup dalam fungsi ganda. Sikap-sikap pelayanan umat harus dibangun agar terbentuk budaya pelayanan dalam rangka meningkatkan kuantitas umat. Hal semacam ini perlu dilakukan mengingat dari hasil penelitian penulis di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah pada tahun 2015, menunjukkan adanya penurunan jumlah umat di tiap-tiap kebaktian, yaitu sebesar 21 %dengan tingkat keramah- tamahan rohaniwan 68 %. Hal ini menunjukkan bahwa 32 % rohaniwan kita tidak mencerminkan sikap ramah sebagai pelayan umat.

Pola-pola yang diterapkan dan juga gaya kehidupannya bagi rohaniwan yang memiliki fungsi ganda harus bisa merubah sikap dan tindakan 180 derajat untuk bisa menjadi rohaniwan yang melayani. Perubahan ini sangat sulit dilakukan apabila kehidupan rohaniwan sudah menjadi kebiasaan yang melekat pada dirinya. Namun demikian sesulit apapun, upaya merubah pola pikir rohaniawan menuju pada pelayan umat harus menjadi program utama dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan umat melalui ketauladanan.

Ada suatu pengalaman yang menarik setelah saya berkeliling  di  beberapa  daerah  dengan  meninggalkan isteri, anak  dan pekerjaan  dalam tugas pelayanan. Suatu pengalaman yang menyenangkan dan sekaligus terapi buat saya sehingga saya  memiliki kesadaran yang berharga. Kesadaran diri dari sikap yang ingin selalu dilayani menjadi seorang yang melayani, dari sikap dan gaya hidup yang mewah, menjadi hal yang sederhana, rendah hati, menjauhkan diri dari rasa ego, menerima kondisi yang ada (mesyukuri), tidak kukuh, angkuh dan jauh dari rasa emosi, meskipun proses pembelajaran itu masih berlangsung, saya telah merasakan hikmahnya.

Sikap-sikap itu justru muncul ketika saya bisa menerima posisi saya sebagai pelayan umat, bukan sebagai seorang manajer sebuah perusahaan. Kesadaran tersebut muncul ketika saya bisa  berbahagia bersama umat ketika membaur beberapa hari secara bersama-sama. Saya mulai merasakan nikmatnya melayani bukan dilayani, nikmatnya memberi bukan diberi.

Selama ini kita berpikir terbalik, bahwa umat harus datang kepada rohaniwan bila menghadapi masalah, rohaniwan merasa dibutuhkan oleh umat dalam segala hal termasuk do’a, memberikan nasehat-nasehat. Nampaknya pandangan tersebut di atas adalah keliru sehingga timbul kesadaran baru bahwa perlu menerapkan konsep bahwa rohaniwan itu   pelayan umat. Dalam hal ini   rohaniwan harus mendatangi umat, menanyakan permasalahan yang dialami umat, menyelesaikan masalah melalui pendekatan pengetahuan kitab. Jiwa-jiwa luhur rohaniwan   akan terbentuk dengan sendirinya dalam proses interaksi dengan umatnya secara timbal balik. Seperti yang dikatakan oleh Ws.Chandra  Setiawan  dalam  khotbahnya,  "Pemimpin Yang Melayani" di Kongmiao Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, jiwa luhur seorang pemimpin itu jauh dari tindakan "mutung" melainkan terus secara konsisten memiliki semangat juang yang tiada pernah putus. Inilah yang saya katakan sebagai rohaniwan yang tahan banting, konsisten,  tidak  mudah  menggerutu  sebab  rohaniwan sebagai penampung dan yang menerima keluhan umatnya bukan sebaliknya justru rohaniwan itu yang mengeluh.

Memang dalam hal ini dibutuhkan sikap dan mental untuk bisa terciptanya rohaniwan yang bisa menjadi penampung masalah umat dan mampu menyelesaikan persoalan umat melalui   pengalaman yang dimilikinya. Mengingat bahwa kebahagiaan yang tertinggi adalah timbulnya kesadaran bagi rohaniwan dalam   menerima kesederhanaan, mampu menurunkan fasilitas yang biasa digunakan dengan fasilitas baru yang sederhana, sabar, rendah hati dan jauh dari emosi. Sikap tersebut di atas bukan menjadi karakter asli seseorang, melainkan kita bisa mempelajarinya.

Ketika dalam kehidupan sehari hari menjadi seorang manajer dengan sikap yang selalu mengambil keputusan, memerintah anak buah, membuat program dan langsung menerapkan tanpa harus menunggu persetujuan dari bawah. Sikap itu harus dirubah menjadi seorang yang tidak hanya belajar memimpin saja, melainkan  menjadi seorang yang belajar dipimpin. Kebiasaan hidup dilayani oleh karyawan, sekarang harus belajar melayani umat, bahkan ketika makan, minum dan segala macam urusan harus dibantu oleh orang lain entah itu karyawan, istri atau anggota keluarga yang lain, akhirnya kita harus belajar hidup mandiri tanpa ada pelayanan khusus.

Kita bisa membayangkan, seorang manajer yang terbiasa tidur di hotel berbintang,   harus bisa tidur di area tempat ibadah di suatu desa yang segala fasilitasnya sangat minim. Mandi air dingin, tidur tanpa AC serta kamar yang sangat sederhana, semua itu harus bisa dijalani dengan bahagia. Pelajaran ini sungguh merupakan pelajaran yang sangat berharga dalam hidup ini. Menjadikan kedewasan mental dan bertumbuhnya iman, sebab menurunkan falisitas akan sulit dilakukan tanpa ada semangat Iman yang mampu menciptakan kebahagiaan.

Berkaitan dengan hal tersebut diatas, tentunya saat sekarang kita semua dihadapkan pada minimnya fasilitas dari pemerintah, apalagi dengan dilarangnya acara-acara keagamaan di sebuah hotel. Semua aktivitas harus dalam lingkungan departemen yang ada dengan fasilitas yang sangat sederhana. Kondisi semacam ini merupakan bentuk pembelajaran bagi kita semua untuk menempa mental, menjalani hidup kesederhadaan dan serba kekurangan. Kondisi ini janganlah menjadi beban buat pekerjaan dan perjuangan kita dalam melayani umat, melainkan jadikanlah sebagai pembelajaran pribadi untuk menjadi rohaniawan yang melayani. Kuncinya adalah bagaimana kita melihat tugas dan pekerjaan sebagai pengabdian bukan menjadi beban,  melainkan  menjadi  hal  yang  menggembirakan.

Apabila kita sudah bisa menempatkan posisi seperti itu berarti kita telah menjadi pejuang Tian Yang Maha Esa yang hidup bahagia di dalam Tian (Letian).

Banyak rohaniwan yang mengaku sebagai pejuang Tian, tetapi dalam kenyataannya suka mutung, suka menggerutu dan suka menghakimi, mudah emosi, angkuh. Sikap-sikap semacam itu belum mencerminkan sebagai seorang rohaniwan yang melayani umat. Maka dengan berkurangnya fasilitas, menurunnya anggaran, menurunnya honor yang kita terima, jadikanlah itu sebagai hal yang menggembirakan sebab dengan cara ini kita telah menjadi pejuang Tian yang telah hidup dalam Jalan Suci Tian dengan rasa suka-cita. Kegembiraan adalah modal utama bagi kita untuk menjadi seorang rohaniwan yang melayani umat. Inilah surga yang sesungguhnya yang harus kita nikmati dengan  enjoy  life.  Semoga  pengalaman hidup  saya  ini bisa dirasakan oleh teman-teman lainnya atau setidaknya pengalaman ini dapat digunakan sebagai cara menghibur diri dalam menghadapi kondisi saat sekarang. Kita semua masih dalam proses belajar menjadi rohaniwan yang melayani dan bukan dilayani, belajar menjadi pejuang Tian yang bisa bahagia bersama Tian. Syukurilah fasilitas yang anda terima saat ini dengan segala keterbatasannya, meskipun itu tidak lebih baik dari sebelumnya. Ini adalah ujian bagi para rohaniwan pelayan umat. Saya yakin bahwa apa yang telah kita perjuangkan dengan tulus dan ikhlas, pastilah ada berkah yang kita akan terima di tempat lain bukan ketika kita bekerja dalam pelayanan ini. Inilah yang dikatakan dengan Wei De Dong Tian ( hanya dengan Kebajikan Tian berkenan), Kebajikan adalah Jalan menuju Tian sekaligus Jalan mempermudah kita mendapatkan berkah dariNya. Berkah  (Tianming)  akan  datang  kepada  orang-orang yang tulus hatinya karena ketika manusia dalam keadaan bersih dan suci, Tian akan kembali bersemayam dalam diri kita, dalam hati dan jiwa kita, sebaliknya ketika hawa jahat/ buruk memenuhi aura tubuh kita, Tian tidak akan pernah hadir dalam diri kita. Bukankah dikatakan bahwa kepada mereka yang berbuat baik sajalah berkah itu akan diturunkan? Seperti yang tersurat dalam ayat dibawah ini :

Shangdi, Tian Yang Maha Tinggi itu tidak terus menerus mengkaruniakan hal yang sama kepada seseorang; kepada yang berbuat baik akan diturunkan beratus keberkahan; kepada yang berbuat tidak baik akan diturunkan beratus kesengsaraan. Engkau hendaknya selalu dalam Kebajikan
…..(Shu Jing IV, Shang Shu : 7, halaman 77)

Banyak diantara kita yang sering mengeluh mengapa Tian tidak juga memberikan berkah yang berlimpah kepada kita. Padahal kita telah berusaha berbuat baik dan selalu aktif dalam organisasi agama? sembahyang secara rutin, giat menjadi pejuang Tian dan berkorban baik materi maupun tenaga namun demikian nasib ini tetap saja tidak juga berubah! Keluhan-keluhan itu sama saja dengan do’a negatif.  Ketika  kita  sering  mengeluh  dan  menggerutu, maka apa yang kita gerutui malah terjadi. Pikiran negatif yang ada pada diri kita akan terus memancar menjadi do’a negatif yang justru bisa muncul. Seperti ketika kita selalu curiga kepada suami–suami yang pulang malam pasti dia akan selingkuh, karena selalu dicurigai oleh istrinya.

“Jika anda membayangkan kekasih anda berselingkuh, maka tak lama kemudian anda akan mendapati diri anda berada dalam kondisi gusar dan marah. Ingatlah bahwa anda tidak memiliki bukti bahwa hal itu benar, tetapi tubuh anda menganggapnya seolah-olah benar sehingga pada saat orang yang anda cintai pulang, anda merasa curiga dan marah kepadanya. Ingatlah bahwa orang yang anda cintai mungkin tidak melakukan apapun, tetapi perilaku yang Anda hasilkan dari kondisi semacam itu mungkin akan membuatnya ingin bersama orang lain (BERSELINGKUH)! “ (Anthony Robbins, Unlimited Power.PT. Ufuk Publishing Home.Jakarta. P 70)

Apabila pikiran negatif itu terus dimunculkan dalam diri kita, maka suatu saat suami-suami anda akan selingkuh juga. Untuk itulah jangan sekali-kali dalam pikiran kita muncul hal-hal yang kotor, sehingga hal yang kotor itu akan muncul kepermukaan. Sebaliknya kita harus memiliki pikiran yang positif, sehingga akan menjadi do’a yang hidup dan memberi kehidupan yang positif bagi kita. Pikiran positif itu memiliki kekuatan yang positive pula seperti apa yang dikatakan Makoto sebagai berikut :

Pikiran memiliki kekuatan, kita dapat merubah kenyataan melalui pikiran kita. Pikiran sudah pasti dapat mengubah kenyataan. Tapi, jika kita tidak mempercayainya maka kenyataan pun tidak akan berubah“ (Makoto Shichida.2014: P 5).

Menjauhnya berkah yang diturunkan oleh Tian, seyogyanya kita harus mengkoreksi diri apakah sudah melakukan kebaikan dalam hidup ini? Apakah kita sudah tulus dalam mengeban tugas sebagai pejuang Tian, sehingga Tian akan benar-benar melimpahkan berkahNya kepada kita. Seringkali kita tidak menyadari bahwa perjuangan kita masih jauh dari ketulusan atau juga kita belum menyadari bahwa Tian dalam kehidupan ini selalu menguji umatnya. Dikala kita diuji oleh Tian, maka kita harus memiliki mental yang kuat, tahan banting serta jiwa yang stabil sehingga Tian  justru  akan  memberikan berkah  setelah  kita  lulus dari ujian tersebut. Ujian Tian tidak akan melampaui batas kemampuan kita, sebab setiap ujian yang diberikan kepada manusia pastilah masih berada dalam batas kemampuannya. Ujian-ujian itulah yang menjadikan diri kita semakin tabah serta selalu menyukuri apa yang telah kita terima dari Tian. Tanpa ada rasa syukur, maka kita menjadi seorang yang mudah menyalahkan orang lain dan menjadikan hati kita berprasangka  buruk,  emosi,  marah  dan  berbuat  hal-hal yang memalukan. Disilah letak kebesaran Tian itu, Tian meinginkan umatnya menjadi seorang yang sabar dan senantiasa bersyukur, tahan uji dari godaan sehingga setelah ujian itu lulus maka berkah yang datang bisa dinikmati dengan benar-benar. Pernahkan kita merasakan bahwa ketika selama satu minggu kita hidup dalam kesenangan dan berfoya-foya, maka ketika hari Minggu tiba, kita tidak bisa merasakan nikmatnya hari Minggu. Namun ketika selama seminggu itu kita memiliki beban pekerjaan yang berat, pekerjaan yang membosankan, tugas-tugas kampus yang menjengkelkan, maka ketika tugas itu bisa diselesaikan dengan baik, dan tibalah hari Minggu suatu hari yang anda nantikan pastilah anda akan menemukan hari yang sangat berarti dalam hidup anda. Maka kenikmatan hidup itu bukanlah sesuatu hal yang diobral, Tian tahu kapan anda harus menerima ujian dengan kesengsaraannya, Tian juga tahu kapan anda bisa menikmati indahnya berkah dari-Nya.

Hanya dengan cara demikian maka anda telah hidup dalam Keharmonisan Agung (Datong) dengan Tian. Inilah bagian dari Yin Yang seperti roda mobil yang senantiasa berputar. Ada saatnya roda itu berada diatas dan ada kalanya pula berada di bawah. Ketika roda berada di atas, maka janganlah tamak dan sombong sebab pada saatnya nanti anda juga akan merasakan berada dibawah. Ada kalanya dompet kita kosong dan ada kalanya dompet kita penuh dengan uang. Begitulah roda itu selalu berputar, pada saat roda itu berada di bawah anda harus yakin bahwa pada suatu saat cahaya terang akan datang dari kegelapan dan kebahagiaan serta kenikmatan akan hadir pada diri anda. Anda cukup berdo’a kepada Tian dengan sungguh-sungguh, do’a yang progresif melalui ketekunan dan ketulusan hati yang diimbangi dengan perbuatan baik, maka Tian tidak akan tinggal diam. Berdo’alah kepada Tian sebab hanya Tian sajalah tempat untuk kita bermohon.

"Ji  (Sembahyang/ibadah)  oleh  orang  yang  bijaksana yang berkebajikan (Xianzi) pasti akan menerima berkah bahagia” (Li Ji XXII, Jitong :2, hal. 529).

Diantara kita mungkin seringkali lupa bahwa bersembahyang itu bukan saja dilakukan secara progresif dan kontinyu, melainkan kita berdo’a harus dengan sungguh-sungguh   meskipun   berkah   Tian   itu   sangat sederhana berupa sayur sekalipun. Rasa syukur atas berkah Tian tidak boleh memilih-milih, artinya bahwa ketika mendapatkan rejeki yang besar baru kita berdo’a, namun pada saat mendapatkan rejeki yang kecil kita mengabaikan do’a. Seharusnya tidaklah demikian, Nabi mengajarkan kepada kita dari hal yang sangat sederhana meski hanya makan nasi dan lauk-pauk sederhanapun, kita harus tetap berdo’a dengan sungguh-sungguh.

Meskipun makan nasi dengan sayur yang sangat sederhana, niscaya disembahyangkan. Sembahyang dilakukan dengan sungguh-sungguh  (Sabda Suci/Lunyu X :11 ).

Diantara kita masih banyak yang tidak memperhatikan ajaran Nabi, kita harus selalu berdo’a kepada Tian dalam keterbatasan kita dan pada saat menerima berkah maupun ketika berkah itu belum ada. Kerutinan dalam berdo’a akan menjadi hal yang diperhatikan oleh Tian seperti apa yang telah dijanjikan oleh Nabi Kongzi.

Rohaniwan pelayan umat pastilah memahami tentang perlunya ia  menjadi  pejuang  Tian  yang  bahagia  dalam Tian dengan memenuhi dirinya dengan Iman. Melalui pendekatan-pendekatan  dengan  Iman  maka  akan  jauh dari sifat keluh gerutu, baik gerutu kepada Tian maupun penyalahan kepada manusia. Menyadari akan pentingnya kebahagian dalam setiap langkah perjuangannya, menjadikan hidup ini penuh arti. Sehingga ketika mereka jauh dari keluarga, hidup dalam keterbatasan, gaji dan honor masih belum tiba sementara kantong ini kosong, mereka masih bisa merasakan kebahagiaan dalam Tian. Berbeda dengan seorang yang jauh dari Iman, maka akan timbul sikap egoisnya, mudah tersinggung dan suka emosi dalam menghadapi tantangan hidup. Sikap inilah yang saya katakan sebagai seorang yang telah berjuang atas nama Tian, namun jiwa dan hatinya kosong akan Iman. Kondisi yang demikian ini menjadikan rohaniwan tersebut lemah hatinya, kering jiwanya dan tipis Imannya. Rohaniwan- rohaniwan yang dibentuk dari jiwa yang kering ini akan mudah mengeluh, suka marah, suka menghakimi, ingin berdebat kusir. Pada umumnya rohaniwan model seperti ini akan mudah lari dari Iman Khonghucu dan lari kepada Iman lain atau juga akan menjadi racun yang selalu menghambat rohaniwan lain untuk memajukan agama Khonghucu.

Maka kita semua harus melakukan revolusi mental secara keseluruhan, banyaknya rumor belakangan ini dimana banyak rohaniwan kita yang temperamental, emosinya tinggi serta mudah tersinggung adalah suatu fenomena (gejala) yang tidak sehat dalam lingkungan keagamaan.

Kita harus mencari sebab-sebabnya sampai pada akar permasalahannya.    Sikap    memarginalkan    rohaniwan yang terjadi bertahun-tahun, membiarkan permasalahan yang muncul tanpa ada penyelesaian secara bijaksana, konflik antar rohaniwan, jauhnya sikap ketauladanan dan sebagainya, menjadikan budaya buruk yang harus dirubah dan dibenahi. Hasil penelitian ini didapatkan angka yang sangat memprihatinkan yakni 55 % saja rohaniwan kita sangat rukun, 33 % tidak terlalu erat serta 12 % terjadi konflik antar rohaniwan. Kondisi ini tentunya sangat memprihatinkan bagi jajaran rohaniwan Khonghucu.

Ketika saya berjumpa dengan seorang tokoh kelenteng yang juga   seorang dosen, yaitu DR.Ir.Nelwan sebagai pemrakarsa  Gus  Dur  sebagai  bapak  Tionghoa,  beliau juga seorang yang memberikan fasilitas Ruko kepada Matakin Kota Semarang dengan cuma-cuma. Beliau sangat prihatin dengan sikap para pejuang agama di kelenteng yang dalam pertemuan dan rapat-rapat sangat liar dalam bertutur kata serta kasar dalam bertindak. Suasana rapat keagamaan yang menjadikan gelas-gelas berterbangan, sungguh sangat memalukan dan jauh dari sikap seorang tokoh atau agamawan. Sesungguhnya apa yang mau dicari dalam agama ini? Bukankah kedamaian, kebahagiaan, dan kekeluargaan. Sementara mereka yang berada diluar sana, saling mengunjungi orang-orang kita yang sakit, mendoakan, mengajak untuk melakukan persekutuan yang damai, merasa tentram dengan lagu-lagu yang menggairahkan sehingga keluarga kita menjadi simpatik. Sebaliknya di lingkungan kita sendiri selalu cekcok dan konflik tanpa jelas ujung-pangkal dan tujuannya. Bahkan menurut beliau, ada seorang tokoh dan pejuang di kelenteng gang Lombok yang betul-betul memiliki iman dan prinsip agamanya kuat harus berpindah agama karena anaknya menderita sakit kanker telah sembuh karena dido’akan oleh kelompok iman yang lain!  Kenyataan pahit  inilah yang  seharusnya diketahui oleh para rohaniwan Khonghucu. Nampaknya cerita Pak Nelwan bukan saja terjadi di kelenteng gang lombok saja. Mungkin hampir terjadi pula diberbagai tempat aktifitas umat Khonghucu. Saya juga mendapatkan cerita yang sangat memprihatinkan berkaitan dengan banyaknya sikap rohaniwan dan umat kita yang jauh dari misi dan visi agamanya. Apabila tempat ibadah kita telah dimasuki oleh racun kebiadaban dan jauh dari nilai moral agama, maka kita akan terjebak pada permasalahan baru dimana generasi muda kita mulai tidak simpati lagi dengan agama kita. Hal inilah menjadi panggilan bagi kita semua untuk merubah, membenahi, melakukan langkah-langkah baru guna menata kembali kondisi rohaniwan kita menuju pada visi dan misi yang jelas agar tujuan agama ini bisa tercapai dengan baik.

Kita harus membuka mata lebar-lebar, bahwa sekitar 19 %  umat yang mengikuti kebaktian Khonghucu pernah mengikuti kebaktian di luar rumah ibadah dan 9 % umat kita sering mengikuti kebaktian di luar rumah ibadah Khonghucu. Ini berarti umat kita sedang membanding- bandingkan para rohaniwan kita dalam berkhotbah, dalam melayani umat dan hal-hal lainnya. Jikalau ini tidak pernah kita perhatikan dengan seksama, maka tidak heran bila pada suatu saat akan banyak umat kita yang berpaling dan pindah pada agama lain. Ini adalah suatu kesalahan yang betul-betul fatal. Oleh karena itu, maka kita harus mulai memperbaiki kompetensi dan profesionalisme rohaniwan Khonghucu secara serius!

Saya   berkeyakinan   bahwa   dengan   memantapkan Iman para rohaniwan serta melakukan perbaikan dalam sistem pengangkatan rohaniwan melalui sistem yang tepat, maka akan didapatkan peningkatan kualitas rohaniwan yang kompeten dan profesional. Kesemuanya itu bisa terlaksana  apabila  kita  mempunyai  visi  dan  misi  yang sama, yakni rohaniwan itu seharusnya melayani bukan dilayani. Perubahan visi dan misi ini tidaklah mudah untuk dilakukan, tetapi kita  tidak bias menunda-nunda lagi dan harus melakukannya untuk memenuhi kebutuhan umat yang lebih kritis pada saat ini.

Konflik Antar Pengurus

Salah satu kelenteng di Jawa Timur, pernah terjadi konflik antar pengurusnya hingga masuk dipersidangan karena ada tuduhan penganiayaan. Saya sebagai perwakilan Khonghucu di FKUB Provinsi Jawa Timur saat itu sangat faham betul permasalahannya karena semua berkas, laporan yang ditukukan kepada Presiden, surat-surat pengaduan dari kedua belah pihak sudah saya baca.

Sebagai seorang rohaniwan jangan sampai masuk dalam wilayah konflik dan jangan sampai membela salah satu pengurus Kelenteng. Rohaniawan harus netral dalam menyikapi hal ini. Rohaniwan harus berdiri di atas Etika Rohaniwan sehingga kasus semacam ini sudah barang tentu harus dipahami, namun demikian kadangkala masih terjadi kurangnya pemahaman sebagian pengurus Kelenteng dalam meletakkan posisi rohaniwan. Ada seorang rohaniwan Khonghucu yang kebetulan berdo’a dalam salah satu kubu yang bertikai dianggap telah condong kesalah satu kubu. Kejadian ini disamping tidak dipahaminya posisi dan fungsi rohaniwan, mereka belum memahami fungsi dan peran rohaniwan. Rohaniwan adalah pelayan umat dan tidak boleh ditarik masuk kedalam konflik bahkan dikorbankan demi konflik. Rohaniwan secara bebas boleh mengunjungi siapa saja dan berdoa untuk siapa saja tanpa harus dilarang dan ditekan. Jangankan mendoakan umat, bahkan rohaniwan harus mendoakan seorang perampok, penjahat bahkan pengecut sekalipun bila mereka memintanya.

Agama ini ditujukan bukan kepada orang-orang yang baik saja, melainkan agama diperuntukkan untuk merubah orang-orang yang jahat sekalipun agar menjadi baik. Begitu pula rohaniwan harus melayani semua umat tidak pandang bulu. Kalau hal ini disadari, maka para pengurus Kelenteng tidak selayaknya membawa rohaniwan yang netral itu ke dalam wilayah konflik. Sebaliknya pengalaman diatas sebagai pelajaran bagi semua rohaniwan agar meletakkan fungsi dan perannya sebagai rohaniwan yang bisa memberikan tauladan dan berada dalam posisi netral.

Saya sendiri sebagai rohaniwan yang sempat datang di tempat konflik tersebut dianggap membela salah satu kubu yang bertikai dikarenakan saya mendoakan mereka yang ada di penjara. Umat yang ada di penjara butuh dorongan mental, butuh siraman rohani, butuh bimbingan sehingga wajib bagi rohaniwan untuk mengunjunginya untuk berdoa. Sungguh sangat ironis sekali apabila hal doa rohaniwan didalam penjara dianggap sebagai pendukung orang yang dipenjara. Pikiran sempit, pandangan yang dangkal ini jangan sampai terjadi di tempat lembaga agama yang seharusnya justru memiliki wawasan dan pandangan yang luas. Jangan sampai terjadi pembunuhan karakter rohaniwan dalam lembaga agama pada era saat sekarang. Untuk itulah perlu ada penyuluhan bagi para pengurus Kelenteng agar mereka faham tentang prinsip-prinsip   manajemen dan sistem organisasi yang benar sehingga dapat menyelesaikan setiap persoalan yang berkaitan dengan agama berdasarkan nilai-nilai ajaran agama yang luhur.

Ketika Nabi Kongzi akan berjumpa dengan Nanzi salah satu selir dari raja negeri Wei, seorang muridnya bernama Zilu   mencoba untuk melarangnya. Larangan tersebut dengan  alasan  dikhawatirkan  akan  terjadi  hal-hal  yang tidak diinginkan kepada Sang Guru dan dapat merendahkan martabat beliau, karena Nanzi adalah seorang wanita yang pandai memikat hati dan masih muda usianya baru 17 tahun. Meskipun demikian, Nabi Kongzi tetap saja memutuskan untuk menemui Nanzi (Sabda Suci/Lunyu VI : 28).

Pelajaran ini menunjukkan kepada kita bahwa agama diperuntukkan  untuk  memberi  bimbingan  bagi  orang- orang yang salah jalan (diluar Dao) termasuk Nanzi untuk menjadi seorang yang patuh dan taat pada Tian. Kita harus datang  kepada  mereka  yang  membutuhkan pertolongan dan bimbingan tanpa pandang bulu apapun yang profesi yang disandangnya. Kepada WTS sekalipun, apabila mereka  membutuhkan  pertolongan,  rohaniwan wajib memberi bimbingan, mendoakan, menyelesaikan masalah kehidupannya.

 

 

 

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Silaturahmi Pengurus Matakin Di Hari Idul Fitri 1439 H Selama Tiga Hari

19-06-2018 Hits:25 Berita Foto

Silaturahmi Pengurus Matakin Di Hari Idul Fitri 1439 H Selama Tiga Hari

Bagi umat Islam, hari raya Idul Fitri adalah merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa. Idul Fitri memiliki arti yang berkaitan...

Read more

Matakin Prov. DKI melaksanakan sembahyang Duan Yang di Kelenteng Kongmiao TMII

19-06-2018 Hits:104 Berita Foto

Matakin Prov. DKI melaksanakan sembahyang Duan Yang di Kelenteng Kongmiao TMII

Tanggal 5 bulan 5 Yinli (Kongzili) tahun ini jatuh pada tanggal 18 Juni 2018. Umat Khonghucu dari wilayah prov. DKI...

Read more

Perlunya Jeda

21-05-2018 Hits:214 Berita Foto

Perlunya Jeda

Pagi hari ini, kami sengaja berjalan di persawahan Ubud. Tidak sengaja kami berkenalan dengan peternak bebek yang sangat ramah.

Read more

Jalan Santai Dalam Rangka Memperingati Hut Ke 211 Gereja Keuskupan Agung Jakarta

12-05-2018 Hits:293 Berita Foto

Jalan Santai Dalam Rangka Memperingati Hut Ke 211 Gereja Keuskupan Agung Jakarta

Tanggal 08 Mei 2018 Gereja Keuskupan Agung Jakarta memperingati Hari Ulang Tahun yang ke 211 (08 Mei 1807 – 08...

Read more

Kebaktian Akbar Depok

30-04-2018 Hits:353 Berita Foto

Kebaktian Akbar Depok

Kebaktian spektakuler di Depok Jabar yang dihadiri 1000 umat lebih dengan pembicara Ws. Ir Budi ST, MM dan Ws. HT....

Read more

Tokyo Ke Jakarta

13-04-2018 Hits:295 Berita Foto

Tokyo Ke Jakarta

Perjalanan pulang dari airport Haneda Tokyo. Tidak terasa 1 minggu perjalanan di negara Sakura. Kenangan indah untuk dilupakan.

Read more

Menuju Ke Tokyo

12-04-2018 Hits:167 Berita Foto

Menuju Ke Tokyo

Setelah sarapan pagi di hotel Marusansou, kami menuju ke Karuizawa Factory Outlet yang merupakan factory outlet terbesar. 

Read more

Gasho Village

11-04-2018 Hits:135 Berita Foto

Gasho Village

Setelah semalam mandi onsen, tidur bisa nyenyak sekali sehingga badan menjadi segar. Pagi ini harus bangun pagi untuk siap siap...

Read more

Dari Kobe Menuju Nara

10-04-2018 Hits:151 Berita Foto

Dari Kobe Menuju Nara

Perjalanan dari Kobe munuju Nara. Ada tempat berbelanja di Naramachi. Sebelumnya rombongan menyempatkan diri ke Todaiji Temple sebuah kuil dibangun...

Read more

Negara Sakura

09-04-2018 Hits:169 Berita Foto

Negara Sakura

Tiba di Kanzai-Osaka pagi tanggal 7 April 2018. Udara waktu itu 11 derajat celcius. Sesampainya di airport langsung menuju Osaka...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 471-480

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Menurut Anda apa yang paling penting dilakukan saat Imlek ?

Bersembahyang leluhur - 0%
Menerima Angpao - 0%
Membeli baju baru - 0%
Sembahyang di Kelenteng - 0%
Berkunjung ke sanak-saudara - 0%

Total votes: 0
The voting for this poll has ended on: March 30, 2018

Who's Online

We have 73 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com