spocjournal.com

Pemuliaan Hubungan

Oleh: Xs.Tan Tjoe Seng

Laku Bakti atau xiao adalah salah satu ajaran Agama Khonghucu yang terpenting dan merupakan pengamalan pengakuan iman yang kelima yakni: Adanya perwalian orang tua atas anak-nya atau iman memupuk cita berbakti, sepenuh iman memupuk cita berbakti, tegakkan diri menempuh Jalan suci, demi meluhurkan ayah dan bunda. Bahkan Agama atau Jiao  atau bimbingan hidup benar atau tuntunan hidup menempuh Jalan suci dapat pula diartikan sebagai pelajaran tentang berbakti. Gabungan antara aksara Jiao atau Agama dengan aksara Wen atau sastra atau pelajaran  dapat diejawantahkan  berbakti kepada orang tua, Leluhur, Roh suci, Nabi, Tian, Tuhan YME, Masyarakat, Bangsa, Negara, Sesama manusia di Dunia.

Pentingnya Bakti: 

Pentingnya ajaran hal Pri-Laku Bakti bagi seorang anak kepada orang tua, dibuktikan dengan adanya kitab Bakti (Xiao Jing)  dan 24 cerita tentang prilaku anak2 yang berbakti (er shi si xiao). Kitab2  itu  se-akan mengingatkan bahwa, sehari  semalam  selama  24 jam  bahkan  setiap  jam  setiap  saat,   seorang anak   tidak boleh melupakan kebaktian kepada orang tua dan orang tua kepada Para Leluhur. Seorang anak diharapkan senantiasa mengingat  orang yang paling dekat hubungannya sejak semula, guru pertama dan bahkan  sumber keberadaan-nya, bahwa kelahiran-nya adalah karena  kasih sayang ibu bapa dan Firman Tian, Tuhan Yang Maha Kuasa. Hal tsb. tersimpulkan dalam makna sikap berdo’a dalam tata tertib bersalam Soja atau Bai, “Aku selalu ingat dijelmakan Tian, Tuhan YME melalui ayah bunda sebagai manusia, untuk melakukan Ba De atau 8 Kebajikan yang terdiri dari  Laku Bakti (Xiao), Rendah hati (Ti), Setia (Zhong), Dapat Dipercaya (Xin), Susila (Li), Laku Benar (Yi), Hati suci (Lian), dan Tahu malu atau rasa harga diri (chi).” Nampak  jelas  Laku Bakti  berada  pada  urutan  pertama.

Wakil Tuhan: 

Dalam  upaya  memuliakan  dan  memelihara  semangat  serta cita  berbakti , ternyata laku bakti  telah  menimbulkan suatu keyakinan bahwa kedudukan orang tua itu adalah nomor dua setelah Tian, Tuhan YME, atau dengan perkataan yang lebih jelas, orang tua adalah wakilnya Tian. Dalam hal ini yang dimaksud dengan perkataan wakil-nya Tian itu adalah karena Tian-lah yang  telah berkenan menjelmakan dan menitipkan seorang anak kepada ibu bapa-nya, supaya anak itu  diperhatikan kehidupannya, dijaga dan dirawat kesehatan badan  jasmani maupun rohaninya, disayang dan diopeni, diberi pendidikan dan dipersiapkan se-baik2nya, untuk kemudian diterjunkan kedalam  masyarakat sebagai tunas harapan yang bermanfaat bagi nusa  bangsa dan sesama manusia , itulah tugas ibu-bapa atau orang tua didalam mengemban Firman untuk anaknya dan sekaligus juga merupakan kewajiban seorang anak terhadap kedua orang-tua yang merawat dan mendidik setelah dijelmakan Tian,Tuhan YME.
Hal ini dapat dikiaskan dengan aksara TIAN (Tuhan Yang Maha Esa) bisa diejawantahkan dengan  DA - I atau SATU -  YANG MAHA BESAR, disamping itu bisa juga diejawantahkan dengan ER - REN atau DUA DIATAS MANUSIA atau ANAK itulah Ibu dan Bapa. Aksara BAKTI (Xiao) itu sendiri terdiri dari gabungan  aksara ORANGTUA (Lao) dengan ANAK (Zi) yang dapat disimpulkan sebagai ORANG TUA YANG MELINDUNGI ANAKNYA ketika masih kecil dan ANAK YANG MENDUKUNG ORANG TUA-NYA ketika ibu-bapa-nya sudah lanjut usia. Dalam hal ini Nabi Kongzi bersabda,”Aku ingin membahagiakan orang yang sudah lanjut usianya, bersikap dapat dipercaya kepada kawan dan sahabat, dan mengasuh para muda dengan kasih sayang.” (Lun Yu V:26).

Tidak saling paksa:  

Menurut Rasul Meng Zi, antara orang tua dan anak didalam pemuliaan hubungan tidak boleh saling paksa untuk berbuat baik, karena hal itu akan menodai Cinta Kasih, yang semestinya tumbuh diantara keduanya. Dalam hal ini orang tua jaman dahulu punya cara, agar tidaklah Cinta kasih itu ternoda, segala usaha dilakukan diantaranya telah saling bertukar anak didalam memberikan pendidikan tentang prilaku bakti, agar kelak anaknya masing2  dapatlah  menjadi seorang anak yang berbakti. Hal itu dilakukan karena kasih sayang atau Cinta Kasih orang tua kepada anaknya, hingga ia sendiri selaku orang tua, tidak akan   dianggap sebagai seorang  yang  tidak berbakti pula kepada orang tua maupun para leluhur-nya. Memang, ajaran tentang prilaku bakti ini sesungguhnya bersumber dari Cinta Kasih sebagaimana tersurat dalam kitab Lunyu I:2:  You Zi berkata ”Seorang yang dapat berlaku Bakti dan Rendah hati tetapi suka menentang atasannya, sungguh jarang terjadi. Tidak suka menentang atasannya tetapi suka mengacau, inipun belum pernah terjadi. Maka seorang Junzi mengutamakan pokok; sebab setelah pokok tegak, Jalan suci itu akan tumbuh. Laku Bakti dan Rendah hati itulah pokok Peri cinta kasih.”

Berpacu dengan diri:
Untuk tidaklah saling paksa berbuat baik, Nabi Kongzi bersabda, “Jalan Suci seorang Junzi ada empat hal yang khawatir belum dapat kulakukan. Apa yang kuharapkan dari anakku belum dapat kulakukan terhadap orang tuaku, apa yang kuharapkan dari atasanku belum dapat kulakukan terhadap bawahanku, apa yang kuharapkan dari adikku belum dapat kulakukan terhadap kakakku, dan apa yang kuharapkan dari temanku belum dapat kulakukan terlebih dahulu. Didalam melaksanakan Kebajikan sempurna, didalam ber-hati2 membicarakannya, bila ada kekurangannya, aku tidak berani tidak sekuat tenaga mengusahakan; dan bila ada yang berlebihan aku tidak berani menghamburkan, maka didalam ber-kata2 selalu ingat akan perbuatan dan didalam berbuat selalu ingat akan kata2, bukankah demikian ketulusan hati seorang Junzi?” ( Zhong Yong  XII:4 ) Demikianlah Nabi Kongzi mengingatkan agar sesama manusia itu dapat bersama membina dirinya masing2  dan  janganlah seseorang itu, selalu  merasa dirinya lebih baik dari orang lain, dengan perkataan lain alangkah baiknya berpacu dengan   diri sendiri agar yang hari ini, lebih baik dari yang kemarin, dan yang akan datang, menjadi lebih baik dari yang hari ini, bukan dengan sekedar hanya menuntut orang lain.

Perhatian Orang tua:
Dalam salah satu episode hikayat Nabi, ketika Nabi Kongzi menjabat sebagai Menteri Kehakiman, suatu hari datanglah kehadapan Nabi Kongzi seorang ayah mengadukan anak laki2-nya dituduh telah tidak berbakti. Mendengar pengaduan itu Nabi Kongzi menyuruh tangkap dan menahan ayah bersama anak itu. Tiga bulan kemudian sang ayah itu dapat menginsyafi, bahwa dalam hal ini ia pun ikut melakukan kesalahan, dan karena itu ditariklah kembali pengaduannya itu. Melihat keinsyafan sang ayah itu Nabi Kongzi tersenyum lalu melepaskan mereka kembali dalam suasana yang dipenuhi kerukunan. Namun demikian, seorang  Kepala keluarga Ji dari negeri Lu ketika mendengar peristiwa itu, beliau  merasa kurang  senang  dan  berkata, ”Menteri  Kehakiman  telah  mengecewakan  daku, katanya sesuatu negeri harus diatur berdasarkan laku bakti (xiao), tetapi kenyataannya sekarang, ada seorang anak yang tidak berbakti,  ternyata tidak dihukum bahkan sebaliknya diberi kebebasan. Dengan cara seperti ini bagaimana mungkin dapat mendidik rakyat untuk berlaku bakti?” Dalam hal ini Ran You, seorang murid Nabi yang bekerja dikeluarga bangsawan tersebut telah menyampaikan kata2 itu kepada Nabi Kongzi. Maka bersabdalah Nabi,”Sesuatu pemerintahan setelah meninggalkan Jalan suci lalu membunuh bawahannya itulah tidak benar. Kepada seseorang yang belum pernah diajarkan prilaku menghormat,  lalu diadukan perihal perbuatannya yang tidak hormat, itulah membunuh seseorang yang tidak bersalah. Kalau sebagai seorang atasan telah berlaku lalai karena tidak memberi pendidikan, kesalahan sebagai seorang bawahan tidaklah boleh dibebankan pada bawahannya.”

Gerbang Kebajikan:
Meng Yi Zi bertanya hal Laku Bakti. Nabi menjawab,”Jangan melanggar!” Ketika Fan Xu menyaisi kereta Nabi memberitahukan hal itu kepadanya,”Tadi Meng Sun bertanya hal Laku Bakti dan kujawab Jangan melanggar.” Fan Xu bertanya,”Apakah yang guru maksudkan?” Nabi menjawab,”Pada saat hidup layanilah sesuai dengan Kesusilaan, ketika meninggal dunia makamkanlah sesuai dengan Kesusilaan dan sembahyangilah sesuai dengan Kesusilaan pula!” (Lun Yu II:5) Dalam hal ini Rasul Mengzi berkata, ”Memberi makan tanpa mencintai itu ialah seperti memperlakukan babi, mencintai dengan tanpa menghormati itu ialah seperti memperlakukan hewan piaraan.” Demikianlah bimbingan Nabi Kongzi bagaimana hendaknya  melakukan prilaku Bakti kepada orangtua, saat orangtua  masih hidup, saat orangtua  meninggal dunia,  dan setelah orangtua meninggal dunia, Kesusilaan atau sopan santun hidup tidaklah boleh dilupakan, agar tidak sampai terjadi maksud yang baik diterima oleh seseorang menjadi tidak baik karena melanggar Kesusilaan atau caranya yang salah atau tidaklah tepat. Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa Kesusilaan atau cara hidup yang benar merupakan pintu atau Gerbang Kebajikan Prilaku Bakti.

Saat hidup:
Rasul Mengzi berkata,”Memberi makan tanpa mencintai, itu ialah seperti memperlakukan babi. Mencintai dengan tanpa menghormati, itu ialah seperti memperlakukan hewan piaraan.” “Laku Hormat dan Mengindahkan , itu harus ada sebelum menyampaikan sesuatu.” “Laku Hormat dan Mengindahkan itu, kalau tidak dengan Kesungguhan, seorang Junzi tidak mau menerima.” Dalam hubungan antara anak dengan orang tua, rasa Santun, Hormat, Patuh dan Berbakti haruslah  diutamakan.” (Mengzi VII-A:37)

Wejangan anak2:

  1. Bila orang tua memanggil harus  segera dijawab, jangan  mengabaikannya, jangan  pula acuh tak acuh.
  2. Bila orang tua menugaskan kita untuk melakukan sesuatu, segeralah laksanakan, janganlah mencari-cari  alasan untuk menundanya, jangan malas, apa lagi menolak tugas itu.
  3. Bilamana orang tua member petunjuk dan nasehat, dengarkanlah dengan seksama dan ikutilah dengan perbuatan.
  4. Orang tua tentu akan mengajarkan kita ilmu dan adab yang luhur, bersih dan lurus, nasehat itu tentu akan menyelamatkan kita dalam bergaul di masyarakat luas.
  5. Bila kita terlanjur salah, khilaf atau keliru lalu kita ditegur atau dimarahi orang tua, janganlah membantah, kita harus menerima teguran itu dengan lapang hati dan berjanji pada beliau untuk tidak mengulangi kesalahan.
  6. Janganlah membuat orang tua bersedih hati melihat kelakuan kita yang salah, tetapi tidak mau memperbaiki diri.
  7. Seorang anak yang berbakti akan senang hati menerima petunjuk ini, sementara seorang anak yang durhaka tak akan senang dan bahkan marah
  8. Orang tua akan sangat cemas dan khawatir bila kita sakit, terluka atau badan kumuh dan tidak terawat. Oleh karena itu kita harus menjaga kesehatan jasmani jangan sampai sakit, terkilir dan terluka.
  9. Janganlah sampai kelalaian membuat orang tua kita cemas. Orang tua juga akan merasa malu, bila tingkah laku kita tidak baik. (Confucian Ethics).

Memperingati: 
Nabi bersabda,”Didalam melayani ayah bunda, boleh memperingatkan, tetapi hendaknya lemah lembut. Bila tidak diturut, bersikaplah lebih hormat dan janganlah melanggar meskipun harus bercapai lelah, janganlah menggerutu.” (Lun Yu IV:18).  Demikianlah Laku Bakti seorang anak itu juga tidak inginkan orang tuanya  bertindak keliru, tidak akan membiarkan  orang tuanya tertimpa malapetaka karena tindakkannya yang keliru, karena itu ia akan memperingatinya dengan tidak melanggar Susila. Dalam Lun Yu XII:1 dijelaskan oleh Nabi bahwa Cinta Kasih akan dapat terlaksana bila seseorang dapat mematuhi empat pantangan yaitu tidak melihat, mendengar, mengucapkan dan melakukan yang tidak Susila, akan tetapi sebaliknya bila empat pantangan itu dilanggar itu berarti melakukan perbuatan yang diluar Cinta Kasih atau melakukan perbuatan yang salah atau dosa, maka bersalah dan berdosalah pula seorang anak yang sudah mengetahui tetapi membiarkan saja orangtuanya berbuat keliru.

Tujuan Bakti:
Nabi bersabda,”Laku Bakti itu pokok Kebajikan. Dari Laku Bakti Agama berkembang. Tubuh, anggauta badan, rambut dan kulit diterima dari ayah bunda. Perbuatan tak berani membiarkannya rusak, itulah permulaan Laku Bakti. Menegakkan diri hidup menempuh Jalan Suci sehingga memuliakan ayah ibu itulah akhir atau tujuan Laku Bakti. Laku Bakti itu dimulai dengan melayani orang tua, selanjutnya mengabdi kepada pemimpin (nusa, bangsa, Negara) dan akhirnya menegakkan diri.” (Xiao Jing I) Dalam hal ini Nabi pernah menegur Zeng Zi yang membiarkan dirinya dipukuli ayahnya hingga sakit dan menjadikan ayahnya menyesal karena merasa seperti memukuli darah dagingnya sendiri. Sebaliknya Nabi memuji cara Nabi Shun ketika kerapkali akan keluarganya ( er si shi xiao ) dan mengembangkan diantara rakyat kewajiban melaksanakan 5 hubungan dalam Jalan suci: Ketulusan diantara raja dan menteri, kepengasuhan diantara orangtua dan anak, kewajiban diantara suami dan isteri, keselarasan diantara kakak dan adik, dan kepercayaan antara kawan dan sahabat.

Saat meninggal:
Nabi bersabda,”Didalam upacara daripada mewah menyolok lebih baik sederhana, didalam upacara duka daripada meributkan perlengkapan upacara lebih baik ada rasa sedih yang benar.” (Lunyu III:4). Mengzi berkata,”Menangisi orang mati itu ialah karena sedih, bukan untuk dilihat yang masih hidup.” (Mengzi VII-B,33,3). Zi Zhang berkata,”Seorang siswa Nabi Kongzi dalam saat berkabung ingat akan pentingnya rasa sedih.” (Lunyu XIX:1). Merasa sedih karena sebagai seorang  anak merasa  belum dapat mencurahkan segenap Cinta Kasih kepada ibu bapak, merasa sedih karena belum dapat membalas budi ayah dan ibu, dan karena itulah dengan penuh kasih ibu bapak menyayangi anak sampai dengan  cucu buyut karena besarnya jasa bakti orang tua dan leluhur.

Setelah neninggal:
Zeng Zi berkata,”Hati2lah saat orang tua meninggal dunia dan janganlah lupa memperingati sekalipun telah jauh, dengan demikian rakyat akan tebal kembali Kebajikannya,” (Lunyu I:9). Janganlah lupa memperingati karena dari alam Sian Tian manusia dijelmakan Tian di alam Ho Tian ini dan ke alam Sian Tian pula seseorang itu hendaknya kembali melalui proses pembinaan diri karena keberadaan seorang anak itu ada sesuatu yang dari orangtuanya, keberadaan orangtua itu ada sesuatu yang dari leluhurnya, dan keberadaan leluhur itu ada sesuatu yang dari Maha leluhur yakni Tian sendiri yang menjelmakan  manusia hidup mengemban Firman-yang wajib dipertanggung jawabkan kepada-Nya. Dan seseorang itu baru dapat sempurna apabila perbuatannya,”Menengadah tidak malu kepada Tian, menunduk kebawah tidak merah muka kepada sesama manusia.” (Mengzi VII-A:20). Tidak malu kepada Tian karena Firman-Nya telah dapat ditaati dan tidak malu kepada sesama manusia karena hidupnya telah dapat dipercaya.

Kelanjutan Bakti:
Nabi mengingatkan,”Pada waktu sembahyang kepada Leluhur hayatilah akan kehadirannya dan pada waktu sembahyang kepada Tian hayatilah pula akan kehadiran-Nya. Kalau Aku idak ikut sembahyang sendiri Aku tidak merasa sudah bersembahyang.” (Lun Yu III:12). Nabi bersabda,”Memperlakukan yang sudah tiada seperti masih hidup tiada bijaksana, sebaliknya memperlakukan yang sudah tiada telah hilang musnah keseluruhannya adalah tiada Cinta Kasih, maka perlakukanlah seseorang yang sudah tiada itu sebagai Roh yang terhormat!” (Li Ji III:48). Bersembahyang Kepada Tian untuk  Roh orang tua dan leluhur dengan disertai prilaku bajik anak yang berbakti, penuh dengan pengharapan agar orang tua yang sudah tiada dan para leluhur itu, jadilah Roh suci yang Tian berkenan hingga auranya yang suci dan bersih, akan memberikan motivasi dan berkah bagi kebahagiaan anak dan cucunya akan suatu kehidupan yang lebih baik didunia ini.

Peduli sesama manusia:
Nabi Kongzi nengajarkan,”Diempat penjuru lautan, semua Saudara.” (Lun Yu XII:5) Karena itu umat Khonghucu disamping bersembahyang kepada Tian untuk arwah orangtua dan leluhurnya, juga tidak melupakan bersembahyang kepada Tian untuk  Para arwah yang karena satu dan lain hal tidak disembahyangi agar para arwah itu juga menjadi Roh yang suci yang sudah barang tentu Tian-pun berkenan. Sembahyang ini dinamai Jing He Ping atau sembahyang arwah umum setiap tanggal 29 bulan 7 penanggalan Kongzili, dengan menggunakan 5 batang Xiang yang mengandung makna bahwa kewajiban hidup manusia didunia didalam mengemban Firman adalah menjunjung dan melaksanakan 5 Kebajikan terhadap sesama manusia yakni Cinta Kasih, Kebenaran/keadilan/kewajiban, berlaku Susila, Bijaksana dan Dapat dipercaya dalam hidup se-hari2. Bagi yang sungguh2 hormat memuliakan Kebajikan, do’anya kepada Tian akan dikaruniakn sebagai firman (Shu Jing V:XII:20)

Kesimpulan:
Demikianlah Laku Bakti, pelajaran agama Kongfuzi yang sejak dulu telah diajarkan secara generative. Sejak dulu orang sudah menyadari betapa Laku Bakti merupakan hal penting bagi hubungan antar manusia. Dengan Laku Bakti atau pemuliaan hubungan hidup manusia akan harmonis, yang tua akan mendapat perlakuan hormat dari yang muda, dan yang muda akan mendapat kasih sayang dari yang tua. Rakyat akan mendapat perlindungan dari para pemimpin, para pemimpinpun mendapat simpati, mendapat dukungan dan perintahnya akan dipatuhi. Manusia sebagai makhluk akan berbakti dan berterimakasih kepada Tian yang telah melimpahkan kehidupan dan kebahagiaan. Laku Bakti merangsang manusia mempunyai tanggung jawab, setia, serta mengetahui kedudukan dirinya sendiri, sehingga seseorang dapat menempatkan diri tepat dengan kedudukan dan tugas hidupnya masing2.

Penutup: 
Yang lebih penting dari semua itu, Laku Bakti bukanlah merupakan sekedar pelajaran yang perlu diketahui saja, melainkan melaksanakan Bakti dalam tindak hidup se-hari2 hingga dapat membawa kebahagiaan, kemakmuran dan kesejahteraan  yang sangat didambakan oleh setiap bangsa, Negara, dan rakyat atau sesama manusia di muka bumi ini,  itulah yng terpenting.  Huang Yi Shang Di, Wei Tian You De.  Shan Zhai.  (Xs.Tan Tjoe Seng).

Daftar Pustaka:

  1. Kitab Si Shu – MATAKIN 2. Kitab Xiao Jing – MATAKINKitab Wu Jing – MATAKIN
  2. Tata Agama dan Tata Laksana Upacara Agama Khonghucu – MATAKIN
  3. Kursus Rohaniwan Agama Khonghucu 1968 – MATAKIN
  4. Riwayat hidup Nabi Khongcu – MATAKIN
  5. Riwayat hidup para murid Nabi Khongcu – SGSK: 29 / 2006.
  6. Pelajaran Praktis Agama Khonghucu – Js.Oey Keng Liang – MATAKIN.
  7. Pelopor Kitab Shu Shih – Thio Tjoan Tek – Khong Kauw Hwee Bandung
  8. Sendi Perkawinan – I.J.Istiadi – Yayasan Kanisius Semarang.
  9. Peribadahan Umat Ru – XDS.Bratayana Ongko Wijoyo,SE
  10. Lim Khung Sen – Hidup Bahagia Dalam Jalan Suci.

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Silaturahmi Pengurus Matakin Di Hari Idul Fitri 1439 H Selama Tiga Hari

19-06-2018 Hits:25 Berita Foto

Silaturahmi Pengurus Matakin Di Hari Idul Fitri 1439 H Selama Tiga Hari

Bagi umat Islam, hari raya Idul Fitri adalah merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa. Idul Fitri memiliki arti yang berkaitan...

Read more

Matakin Prov. DKI melaksanakan sembahyang Duan Yang di Kelenteng Kongmiao TMII

19-06-2018 Hits:104 Berita Foto

Matakin Prov. DKI melaksanakan sembahyang Duan Yang di Kelenteng Kongmiao TMII

Tanggal 5 bulan 5 Yinli (Kongzili) tahun ini jatuh pada tanggal 18 Juni 2018. Umat Khonghucu dari wilayah prov. DKI...

Read more

Perlunya Jeda

21-05-2018 Hits:214 Berita Foto

Perlunya Jeda

Pagi hari ini, kami sengaja berjalan di persawahan Ubud. Tidak sengaja kami berkenalan dengan peternak bebek yang sangat ramah.

Read more

Jalan Santai Dalam Rangka Memperingati Hut Ke 211 Gereja Keuskupan Agung Jakarta

12-05-2018 Hits:293 Berita Foto

Jalan Santai Dalam Rangka Memperingati Hut Ke 211 Gereja Keuskupan Agung Jakarta

Tanggal 08 Mei 2018 Gereja Keuskupan Agung Jakarta memperingati Hari Ulang Tahun yang ke 211 (08 Mei 1807 – 08...

Read more

Kebaktian Akbar Depok

30-04-2018 Hits:353 Berita Foto

Kebaktian Akbar Depok

Kebaktian spektakuler di Depok Jabar yang dihadiri 1000 umat lebih dengan pembicara Ws. Ir Budi ST, MM dan Ws. HT....

Read more

Tokyo Ke Jakarta

13-04-2018 Hits:295 Berita Foto

Tokyo Ke Jakarta

Perjalanan pulang dari airport Haneda Tokyo. Tidak terasa 1 minggu perjalanan di negara Sakura. Kenangan indah untuk dilupakan.

Read more

Menuju Ke Tokyo

12-04-2018 Hits:167 Berita Foto

Menuju Ke Tokyo

Setelah sarapan pagi di hotel Marusansou, kami menuju ke Karuizawa Factory Outlet yang merupakan factory outlet terbesar. 

Read more

Gasho Village

11-04-2018 Hits:135 Berita Foto

Gasho Village

Setelah semalam mandi onsen, tidur bisa nyenyak sekali sehingga badan menjadi segar. Pagi ini harus bangun pagi untuk siap siap...

Read more

Dari Kobe Menuju Nara

10-04-2018 Hits:151 Berita Foto

Dari Kobe Menuju Nara

Perjalanan dari Kobe munuju Nara. Ada tempat berbelanja di Naramachi. Sebelumnya rombongan menyempatkan diri ke Todaiji Temple sebuah kuil dibangun...

Read more

Negara Sakura

09-04-2018 Hits:169 Berita Foto

Negara Sakura

Tiba di Kanzai-Osaka pagi tanggal 7 April 2018. Udara waktu itu 11 derajat celcius. Sesampainya di airport langsung menuju Osaka...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 471-480

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Menurut Anda apa yang paling penting dilakukan saat Imlek ?

Bersembahyang leluhur - 0%
Menerima Angpao - 0%
Membeli baju baru - 0%
Sembahyang di Kelenteng - 0%
Berkunjung ke sanak-saudara - 0%

Total votes: 0
The voting for this poll has ended on: March 30, 2018

Who's Online

We have 75 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com