spocjournal.com

Pengalaman Spiritual : Damai Dunia Bagian 2

 

Oleh:  Dr. Drs. Ws. Ongky Setio Kuncono, SH, MM

C. Membina Diri

Pada tahun 1988, sebanyak tujuh puluh empat pemenang hadiah Nobel Dunia membuat pernyataan di Paris, Perancis sebagai berikut: “If human beings want to live in peace and prosperity in the 21st century, they must look 2,500 years and seek the wisdom of Confucius” ( Zhang Youmin and Li Tianchen ).

Pernyataan tersebut diatas bukan hanya sekedar berupa etika Khonghucu saja yang bisa digali dalam  memberikan kontribusi terhadap perdamaian dunia, melainkan semua agama yang ada di dunia ini bisa menggali nilai-nilai agamanya masing-masing yang dapat menuju pada etika global dan universal dalam mencapai perdamaian dunia. Seperti halnya juga yang sudah disepakati secara bersama- sama oleh semua anggota FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Provinsi Jawa Timur tentang “Etika beragama”, maka etika Khonghucu selalu bersesuaian, bahkan menjadi nilai universal yang dapat digunakan dalam menata kehidupan yang harmonis menuju masyarakat yang adil dan beradab.  Seperti juga tercantum dalam Deklarasi Awal Menuju Etika Global pada bagian butir ke tujuh dinyatakan bahwa,    “Bumi tidak bisa merubah menjadi lebih  baik  jika  kesadaran  individual  (diri  sendiri)  kita tidak berubah terlebih dahulu”. Dalam Kitab suci agama Khonghucu dinyatakan bahwa, “Sesungguhnya untuk mencapai Kegemilangan itu hanya tergantung pada usaha orang itu sendiri “ (Ajaran Besar/Daxue I : 1).

Maka berdasarkan pernyataan di atas bagaimana pandangan Khonghucu terhadap perdamaian, pertama-tama harus dikaji dari diri sendiri (individu) terlebih dahulu, baru kemudian diterapkan di dalam hubungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Hal ini sejalan pula dengan pandangan Prof. Tu Wei-ming   yang mengatakan bahwa,” Bukan tanpa humor jika kelompok pimpinan tertarik membicarakan Konfusianisme atau mempromosikannya, tugas pertama mereka adalah mengkaji diri sendiri untuk melihat dapatkah kepemimpinan mereka menjadi teladan “

Apabila dikaitkan dengan konsep kedamaian, menurut Khonghucu bahwa kedamaian itu berawal atau tergantung pada dari diri kita sendiri sebagai anggota keluarga. Apabila tiap-tiap individu dalam keluarga itu mampu membina dirinya dan wawas diri ,maka akan terciptalah tatanan yang harmonis dalam kehidupan keluarga, masyarakat, negara dan bahkan dunia. Dalam hal ini Khonghucu mengajarkan perlunya pembinaan diri bagi semua orang tanpa terkecuali seperti berikut ini:

  • Karena itu dari Raja sampai rakyat jelata mempunyai satu kewajiban yang sama, yaitu mengutamakan pembinaan diri sebagai pokok” (Daxue Bab Utama:6).
  • Tiap hari aku memeriksa diri dalam tiga hal; sebagai manusia apakah aku sampai tidak Satya. Bergaul dengan  kawan  dan  sahabat  apakah  aku  sampai berlaku tidak dapat dipercaya ? Dan apakah ajaran Guru sampai tidak kulatih “(Lunyu I:4).
  • Bila bersalah janganlah takut untuk memperbaiki diri “ (Lunyu I : 8/4)

Apabila tiap-tiap individu sebagai  anggota keluarga telah mampu membina dirinya dengan baik dan benar, maka akan terciptalah keluarga yang harmonis, saling kasih mengasihi satu sama lain. Seperti tersurat dalam kitab Ajaran Besar/ Daxue IX:3 sebagai berikut:

Bila dalam keluarga saling mengasihi niscaya seluruh Negara akan di dalam Cinta Kasih. Bila dalam tiap keluarga saling mengalah, niscaya seluruh Negara akan di dalam suasana saling mengalah. Tetapi bila mana orang tamak dan curang, niscaya seluruh Negara akan terjerumus ke dalam kekalutan; demikianlah semuanya itu berperanan. Maka dikatakan, sepatah kata dapat merusak perkara dan satu orang dapat berperan menentramkan Negara”.

Dalam ayat lain Kitab Ajaran Besar/Daxue X:9 dikatakan ; ”Adapun yang dikatakan ‘damai di dunia itu berpangkal pada teraturnya negara’, ialah: Bila para pemimpin dapat hormat kepada yang lanjut usia, niscaya rakyat bangun rasa baktinya ; bila para pemimpin dapat bersikap rendah hati kepada atasannya, niscaya bangun rasa rendah hatinya ; bila para pemimpin dapat berlaku kasih dan memperhatikan anak yatim piatu, niscaya rakyat tidak mau ketinggalan “.

Pembinaan diri (Xiushen) adalah merupakan suatu proses pembelajaran yang harus dilakukan secara terus menerus untuk menjadi manusia yang ideal yakni seorang Junzi (insan Kamil). Proses “Learning to be human9 semacam ini disebut dengan “Nei sheng Wai wang“, yakni membina diri ke dalam sehingga berwatak Nabi dan keluar menjadi pemimpin rakyat (mencapai perdamaian dunia) yang dijiwai oleh Iman kepada Tian Yang Maha Esa. Ajaran tersebut tentunya akan membentuk kepribadian umat manusia   seperti halnya sifat- sifat kenabian yang sesuai dengan Kebajikan di dunia ini. Di sisi lain kepribadian yang dimiliki akan meraga keluar sebagai tingkah laku dan perbuatan yang baik dalam hubungannya dengan sesama manusia, lingkungan hidupnya sekaligus rasa sujud dan bakti kepada Khalik Penciptanya.

Dalam   hal   ini   ada   hubungan   yang   erat   antara “pembinaan diri”  dengan  “kedamaian dunia  “  seperti kita lihat  dalam Kitab Ajaran Besar/Daxue Bab Utama:4, sebagai berikut:

Orang Jaman dahulu yang hendak menggemilangkan Kebajikan Yang Bercahaya itu pada tiap umat di dunia, ia lebih dahulu berusaha mengatur negerinya; untuk mengatur negerinya, ia lebih dahulu membereskan rumah tangganya; untuk membereskan rumah tangganya, ia lebih dahulu membina dirinya; untuk membina dirinya, ia lebih dahulu meluruskan hatinya; untuk meluruskan hatinya, ia lebih dahulu mengimankan tekatnya; untuk mengimankan tekadnya ia lebih dahulu mencukupkan pengetahuannya; dan untuk mencukupkan pengetahuannya, ia meniti hakekat tiap perkara”.Selanjutnya dikatakan “Dengan meniti hakekat tiap perkara dapat cukuplah pengetahuannya; dengan cukup pengetahuannya akan dapatlah mengimankan tekatnya; dengan tekad yang beriman akan dapatlah meluruskan hatinya; dengan hati yang lurus akan dapat membina dirinya; dengan diri yang terbina akan dapatlah membereskan rumah tangganya; dengan rumah tangga yang beres  akan dapatlah mengatur  negerinya; dan dengan negeri yang teratur akan dapat mencapai damai  di  dunia”  (Ajaran  Besar/Daxue  Bab  Utama:5).

Oleh sebab itulah dalam kaitannya dengan pembinaan diri  (Xiushen)  Nabi  Kongzi  bersabda,  ”Seorang  muda, di rumah hendaknya berlaku Bakti,10 di luar hendaknya bersikap Rendah Hati, hati-hati sehingga dapat dipercaya, menaruh   cinta   kepada   masyarakat   dan   berhubungan erat dengan orang yang ber-Peri Cinta Kasih. Bila telah melakukan hal-hal ini dan masih mempunyai kelebihan tenaga, gunakanlah untuk mempelajari kitab-kitab.” (Sabda Suci/Lunyu I:6)

Disisi lain dikatakan bahwa seorang yang berbakti itu sebenarnya telah membantu pemerintahan dan ikut serta mencapai   ketertiban,   kedamaian   dalam   masyarakat.
Didalam Shu Jing tertulis, ’Berbaktilah! Berbakti dan mengasihi saudara maupun teman , ini sudah berarti membantu pemerintah!’.... (Sabda Suci/Lunyu II :21/2).

 

D.  Nilai Ren (Kemanusiaan) sebagai landasan

Ren (Cinta Kasih) bilamana dipraktikkan di lingkungan terkecil dalam rumah tangga maka akan terjadi hubungan harmonis yang tumbuh dan berkembang, terciptanya suasana saling menghormati antara suami-isteri, adanya kasih sayang antara orang tua dan anak-anaknya dan adanya saling tolong menolong antara kakak-adik yang disebut dengan Lima Hubungan Kemasyarakatan (Wulun).   Oleh karean itu, jadilah keluarga sebagai tempat belajar pertama untuk belajar bertoleransi, belajar untuk menghargai orang lain, belajar untuk hidup bermasyarakat, disitulah terjadi proses adaptasi atau penyesuaian yang dibuat oleh orang lain. Maka diharapkan keharmonisan yang tumbuh dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga akan memancar keluar sehingga terbina sikap saling dapat dipercaya antara kawan dan sahabat tanpa memandang suku, bangsa, jenis kelamin, faham, keyakinan dan keimanannya. Menyadari sepenuhnya  bahwa manusia adalah sebagai ‘mandatarisTian di dunia ini, maka setiap manusia berkewajiban untuk taat dan satya kepada Tian dan mencintai sesamanya (Ren).

Oleh karena itu maka bagi seorang yang memiliki Ren, ia tentu akan bepegang teguh pada pedoman ini, bahwa “Apa yang diri sendiri tiada inginkan, janganlah diberikan kepada orang lain.”  (Sabda Suci/Lunyu XI:2)

Seorang yang berperi Cinta Kasih ingin dapat tegak, maka ia berusaha agar orang lain-pun tegak; ia ingin maju, maka ia berusaha agar orang lain-pun maju “ (Sabda Suci/Lunyu VI:20)

Seorang Junzi menjadikan kebaikan orang, tidak menjadikan keburukan orang. Seorang rendah budi (xiaoren) berbuat sebaliknya.” (Sabda Suci/Lunyu XII:16)

Konsep Ren di atas diharapkan mampu menjadikan umat manusia untuk mempraktikkan sekaligus membangkitkan kecintaannya  terhadap  sesama  manusia  tanpa  pandang bulu, baik agama, golongan, suku bangsa bahkan dari mana asal-usulnya. Mereka yang memiliki Ren, akan menghargai nilai-nilai kemanusiaan bahkan lebih daripada itu ia akan selalu hidup di atas kepentingan umum bukan demi kepentingan pribadinya sendiri saja. Hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Nabi KongZi ,”Seorang Junzi mengutamakan kepentingan umum, bukan kepentingan kelompok; seorang rendah budi (xiaoren) mengutamakan kelompok, bukan kepentingan umum” (Sabda Suci/Lunyu II:14).

E.  Nilai    Li-Yi ( Kesusilaan dan Kebenaran ) dalam bergaul

Nabi Kongzi  bersabda, “ Yang tidak Li (Susila) jangan dilihat, yang tidak Li jangan didengar, yang tidak Li jangan dibicarakan,  dan yang tidak Li jangan dilakukan” (Sabda Suci/Lunyu XII:1-2 )

Dari ayat tersebut di atas mengingatkan agar manusia berhati-hati dalam berucap dan bertindak sehingga jauh dari kesalahan yang berakibat dapat menyinggung perasaan orang lain. Dalam kaitannya dengan dialog khususnya dalam berhubungan dengan agama atau keyakinan yang lain, Nabi Kongzi memberikan kiat,   ”Kalau berlainan Jalan Suci (Dao), janganlah saling berdebat”    (Sabda Suci/Lunyu XV: 40).

Perbedaan adalah merupakan suatu keniscayaan dan sekaligus sebagai khazanah keaneka-ragaman  yang harus dijunjung tinggi dan dihormati seperti halnya kita melihat dan memandang para Nabi yang ada diturunkan ke dunia ini yang berasal dari berbagai bangsa yang ada di dunia ini. Dalam konteks ini Agama Khonghucu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu menghormati para Nabi yang ada termasuk Nabi-nabi dalam agama lain sebagai Shenming atau orang-orang besar, karena jasa dan perannya dalam memajukan peradaban manusia dan agama.

Seperti tersurat dalam kitab Sabda Suci/LunyuXVI:8, bahwa:

Seorang Junzi memuliakan tiga hal: memuliakan Firman Tian Yang  Maha  Esa,  memuliakan orang-  orang  besar dan memuliakan sabda para Nabi. Seorang rendah budi (xiaoren) tidak mengenal dan tidak memuliakan Firman Tian, meremehkan orang -orang besar dan mempermainkan sabda para Nabi“ .

Ajaran agama Khonghucu    sangat menghargai dan menghormati para nabi, termasuk nabi-nabi dalam agama lain yang merupakan cerminan dari upaya menghargai iman atau keyakinan diluar Khonghucu. Terhadap umat agama lain  Khonghucu  melarang  untuk  melakukan  kekerasan fisik bahkan melarang untuk menyebarkan agama atau menjadikan orang lain untuk ikut dalam agama dengan cara melakukan tindakan kekerasan meskipun   mereka melakukan penyimpangan dari ajaran Tian. Kenyataan tersebut bisa kita lihat ketika salah seorang murid Nabi Kongzi berkeinginan untuk menyerang mereka yang telah menyimpang dari ajaran agama, Nabi Kongzi melarangnya seperti tersurat dalam kitab Sabda Suci/Lunyu XII:19, berikut ini: “Ji bertanya kepada Nabi Kongzi, bagaimanakah bila dibunuh oleh orang-orang yang ingkar dari Jalan Suci (ingkar dari agama), untuk mengembangkan Jalan Suci (Dao)?”

Nabi Kongzi menjawab,”Kamu memangku jabatan pemerintahan mengapa harus membunuh? Bila kamu berbuat baik, niscaya rakyat akan mengikuti baik. Kebajikan seorang pembesar laksana angin, dan kebajikan rakyat  laksana  rumput;  kemana  angin  bertiup,  kesitu
rumput mengarah!”(Sabda Suci/ Lunyu XIV:35)

Bagi Khonghucu kejahatan itu haruslah dibalas dengan kelurusan dan kebajikan harus dibalas dengan kebajikan.

Seorang Junzi (Luhur Budi) memegang Kebenaran (Yi) sebagai pokok pendiriannya, Kesusilaan (Li) sebagai pedoman perbuatannya, mengalah dalam pergaulan, dan menyempurnakan diri dengan laku dapat dipercaya.” (Sabda Suci/Lunyu XV : 18 ). Mereka yang mengenal kebenaran (Yi) tidak sepadan dengan mereka yang mencintai kebenaran, dan mereka yang mencintainya tidak sepadan pula dengan mereka yang berbahagia dalam kebenaran (Yi). Dengan demikian adalah sangat  bijaksana  apabila  dalam  membina  persahabatan itu, orang tidak lagi melihat latar belakang apa keyakinan seseorang. Biarlah agama-agama itu berkembang semuanya dengan baik, biarkanlah mereka hak hidup dan berkembang dengan subur sehingga disukai oleh seluruh umat manusia untuk mengagumkan Tian Yang Maha Esa.

F.  Semua saudara
Dalam hubungannya dengan persaudaraan haruslah dilandasi dengan jiwa saling percaya sehingga jauh dari rasa saling curiga. Dengan adanya rasa saling percaya, maka akan menjadikan hubungan menjadi lebih dekat dan saling mengasihi. Hubungan yang baik antar sesama wajib dilakukan mengingat umat manusia di dunia ini berasal dari Tian dan akan kembali pula kepada Tian (Yak King,Toan Zhuan,Sabda1:1/4). Sesungguhnya, kita semuanya ini berasal dari yang satu, yakni Tian Yang Maha Esa.

Dalam Kitab Sabda Suci/Lunyu XII:5 dinyatakan bahwa, ”Di empat penjuru lautan, semuanya bersaudara”.

Dengan keyakinan bahwa semua manusia di dunia ini diciptakan oleh Tian sebagai satu keluarga besar (saudara) yang harus saling sayang menyayangi, saling berhubungan satu sama lain berdasarkan pada kesamaan derajat dan saling tolong-menolong. Sebagai saudara dalam keluarga besar tentu saja tidak akan saling menyakiti atau mencelakai, melainkan kita wajib saling tolong-menolong dalam hal kebaikan hidup dan kehidupan ini.

G. Dialog Dengan Iman Lain

Dalam kaitannya dengan hubungan dengan antar umat beragama khususnya  dialog untuk mencapai kekeluargaan dan persahabatan, ajaran agama Khonghucu tidak membatasi diri pada kelompoknya saja, melainkan bergaul  dengan semua orang termasuk dengan para penganut agama yang berbeda sekalipun. Dalam kitab Sabda Suci/Lunyu XIX:3/2 dengan jelas dinyatakan bahwa seorang Junzi itu bergaul dengan siapa saja, tanpa pandang bulu. Tauladan diatas telah dipraktikkan sendiri oleh Nabi Kongzi dimana pada suatu hari beliau pernah bertemu dengan Laozi di suatu tempat untuk berdiskusi masalah agama. Pertemuan dan dialog kedua nabi besar tersebut hendaknya menjadikan tauladan bagi kita semua untuk selalu berdialog dalam memecahkan suatu permasalahan,  yang terpenting dalam dialog adalah harus adanya saling menghormati dan menghargai pendapat orang lain yang mungkin berbeda dengan kita. Selain itu, berdialog juga harus memperhatikan tingkat dan wawasan pengetahuan orang yang kita ajak berdialog itu bagaimana.

Hal ini untuk menghindari terjadinya perdebatan yang tidak perlu. Oleh karena itu, Nabi Kongzi memberikan petunjuk bagaimana cara kita melakukan dialog dengan orang lain, seperti berikut ini:

  • Seorang  yang  pengetahuannya sudah  melampaui tingkat pertengahan, boleh diajak membicarakan hal- hal yang tinggi, seorang yang pengetahuannya masih di bawah tingkat pertengahan, tidak boleh diajak membicarakan hal-hal yang tinggi “  (Sabda Suci/Lunyu VI:21)
  • “Seorang Junzi didalam berkata-kata selalu ingat akan perbuatan, dan didalam berbuat selalu ingat akan kata-kata”   (Tengah Sempurna/ Zhongyong XII:4)

Petunjuk diatas tentunya harus kita renungi bersama bahwa para tokoh agama perlu meningkatkan pemahaman dan kedewasan para umatnya dengan cara memperbanyak para pemikir yang berjiwa pluralis. Melalui dialog dan belajar secara terus menerus, maka akan menambah wawasan dan pandangan lebih luas. Hanya dengan cara inilah kedamaian dunia akan terwujud.

H. Kesimpulan

Nilai-nilai yang ada dalam Watak Sejati (Xing), yaitu Ren,Yi, Li, Zhi yang kemudian berkembang menjadi Xin (dapat dipercaya) merupakan modal dasar sebagai etika moral yang dapat digunakan sebagai etika global dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara menuju masyarakat yang damai dan sejahtera. Xing merupakan unsur ritual sekaligus etika sosial yang harus dikembangkan oleh umat Khonghucu khususnya untuk menjadi manusia Junzi sebagaimana kehendak Tian Yang Maha Esa.

Melalui pembinaan diri dengan mengkoreksi diri disertai dengan kemauan belajar untuk menjadi manusia seutuhnya “ learning to be human“, berlaku bijaksana dan berbuat kebajikan serta menghadap dan sujud kepada Tian dengan sungguh-sungguh, maka ia akan menjadi insan kamil (Junzi) yang dikehendaki oleh Tian Yang Maha Esa. Hanya dengan demikian maka akan terciptalah pergaulan yang harmonis secara ritual maupun sosial menuju masyarakat madani, masyarakat yang damai, bahagia dan sejahtera serta jauh dari konflik. Dengan demikian pastilah akan tercapai damai di dunia! Shanzai!

 

Daftar Pustaka

  1. Setio  Kuncono  ongky.2013.Bisnis  Yang  Beriman  $  Beretika.Gerbang Kebajikan Ru. Jakarta. Hal 97
  2. Istilah Bakti tercantum dalam  Kitab Zhong Yong XVIII : 2 “ Adapun yang dinamai bakti ialah dapat baik baik meneruskan pekerjaan mulia manusia atau orang tuangya”. Dalam hal ini melakukan kebajikan yang beretika moral dan sujud sembahyang kepada Tian ,Tuhan YME.

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Perlunya Jeda

21-05-2018 Hits:89 Berita Foto

Perlunya Jeda

Pagi hari ini, kami sengaja berjalan di persawahan Ubud. Tidak sengaja kami berkenalan dengan peternak bebek yang sangat ramah.

Read more

Jalan Santai Dalam Rangka Memperingati Hut Ke 211 Gereja Keuskupan Agung Jakarta

12-05-2018 Hits:239 Berita Foto

Jalan Santai Dalam Rangka Memperingati Hut Ke 211 Gereja Keuskupan Agung Jakarta

Tanggal 08 Mei 2018 Gereja Keuskupan Agung Jakarta memperingati Hari Ulang Tahun yang ke 211 (08 Mei 1807 – 08...

Read more

Kebaktian Akbar Depok

30-04-2018 Hits:320 Berita Foto

Kebaktian Akbar Depok

Kebaktian spektakuler di Depok Jabar yang dihadiri 1000 umat lebih dengan pembicara Ws. Ir Budi ST, MM dan Ws. HT....

Read more

Tokyo Ke Jakarta

13-04-2018 Hits:257 Berita Foto

Tokyo Ke Jakarta

Perjalanan pulang dari airport Haneda Tokyo. Tidak terasa 1 minggu perjalanan di negara Sakura. Kenangan indah untuk dilupakan.

Read more

Menuju Ke Tokyo

12-04-2018 Hits:135 Berita Foto

Menuju Ke Tokyo

Setelah sarapan pagi di hotel Marusansou, kami menuju ke Karuizawa Factory Outlet yang merupakan factory outlet terbesar. 

Read more

Gasho Village

11-04-2018 Hits:100 Berita Foto

Gasho Village

Setelah semalam mandi onsen, tidur bisa nyenyak sekali sehingga badan menjadi segar. Pagi ini harus bangun pagi untuk siap siap...

Read more

Dari Kobe Menuju Nara

10-04-2018 Hits:119 Berita Foto

Dari Kobe Menuju Nara

Perjalanan dari Kobe munuju Nara. Ada tempat berbelanja di Naramachi. Sebelumnya rombongan menyempatkan diri ke Todaiji Temple sebuah kuil dibangun...

Read more

Negara Sakura

09-04-2018 Hits:138 Berita Foto

Negara Sakura

Tiba di Kanzai-Osaka pagi tanggal 7 April 2018. Udara waktu itu 11 derajat celcius. Sesampainya di airport langsung menuju Osaka...

Read more

Bersama Setiadi Joyosentoso

04-03-2018 Hits:553 Berita Foto

Bersama Setiadi Joyosentoso

Setiadi Joyosetoso bos PT. Surya Putra Barutama yang beralamat di jalan Kedurus 23 adalah sosok seorang bisnisman yang merangkak dari...

Read more

Pasar Turi Tradisionil Singkawang

03-03-2018 Hits:265 Berita Foto

Pasar Turi Tradisionil Singkawang

Pagi ini rombongan menuju pasar tradisionil. Pasar tersebut tidak seperti pasar lainnya yang kelihatan jorok. Di dekat pasar ada bubur...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 471-480

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Menurut Anda apa yang paling penting dilakukan saat Imlek ?

Bersembahyang leluhur - 0%
Menerima Angpao - 0%
Membeli baju baru - 0%
Sembahyang di Kelenteng - 0%
Berkunjung ke sanak-saudara - 0%

Total votes: 0
The voting for this poll has ended on: March 30, 2018

Who's Online

We have 61 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com