spocjournal.com

Pengalaman Spiritual : Damai Dunia Bagian 1

 

 Oleh:  Dr. Drs. Ws. Ongky Setio Kuncono, SH, MM

A.  Pendahuluan
Agama   Khonghucu   yang   sering   disebut   dengan Rujiao memiliki garis tarekat1  dari   Nabi Fuxi ( 2.953- 2.838 SM ), Nabi Shennong (2.838-2.698 SM), Maharaja Kuning (Huangdi), Nabi Yao, Nabi Shun, Nabi Yu, Nabi Tang, Nabi Wen dan Nabi Wu, Pangeran Zhougongdan, Nabi Kongzi (551-479 SM) hingga Mengzi dikembangkan secara damai dan harmonis tanpa ada konflik. Hal tersebut terjadi karena dalam perkembangannya agama Khonghucu secara horizontal melakukan sosialisasi dengan masyarakat melalui kebudayan dan tradisi dan secara vertikal menjalin hubungan dengan para raja (pemerintahan) secara harmonis. Baik secara pemerintahan (melalui para raja-raja) maupun secara sosial kultural agama Khonghucu dapat tumbuh berkembang secara damai tanpa ada konflik maupun peperangan. Khususnya  di  Indonesia, Agama  Khonghucu  telah menunjukkan eksistensinya selama beratus ratus tahun dan pengaruh ajaran agama Khonghucu di bumi Nusantara ini sudah sejak jaman akhir prasejarah. Kedatangan orang- orang Tionghoa pada jaman Hindu tentu saja membawa serta unsur-unsur Khonghucu. Adanya uang keping logam Tiongkok yang sampai saat sekarang masih digunakan untuk upacara ritual umat Hindu di Bali merupakan contoh nyata adanya interaksi antara umat Khonghucu dengan umat Hindu pada waktu itu. Hal ini ditegaskan oleh Drs.Djohan Effendi yang menyatakan bahwa,”berbarengan dengan kedatangan bangsa Tiongkok yang kebanyakan beragama Khonghucu, maka agama tersebut pun ikut memperkaya dunia keagamaan di Indonesia “.2

Perkembangan agama Khonghucu di Indonesia dapat dibuktikan dengan didirikannya beberapa tempat ibadah di seluruh peloksok tanah air, seperti pada tahun 1688 didirikan kelenteng Tian Ho Kiong di Makasar dan pada tahun 1819 didirikan kelenteng Ban Hing Kiong di Manado. Selain itu, Rumah Abu Kong Tik Su di Manado didirikan pada tahun 1839. Kelenteng tua lainnya antara lain terdapat di Ancol
Jakarta, Tuban, Rembang, Lasem.

Pada tahun 1886  di  Jl.Kapasan Surabaya didirikan pula rumah ibadah dengan nama Boen Tjhiang Soe yang kemudian dipugar kembali dan disebut sebagai Boen Bio
atau Geredja Khonghoetjoe (de kerk van Confucius). Tahun 1729 sebenarnya terdapat pula sebuah lembaga agama Khonghucu semacam Pesantren di Jakarta yang bernama Bing Sing Su Wan, artinya taman Kitab/Taman Pendidikan Menggemilangkan Iman3. Saat sekarang hampir disetiap propinsi ada aktivitas dan lembaga Khonghucu yang eksis, ikut andil dalam membangun Indonesia menuju masa depan yang lebih cerah.

Perkembangan agama Khonghucu di Indonesia menunjukkan   kepada   kita   bahwa   disamping   terjalin adanya hubungan harmonis di antara penganut Khonghucu dengan  masyarakat  setempat  juga  adanya  penerimaan dari penduduk setempat terhadap masyarakat Khonghucu. Hal ini merupakan suatu kenyataan telah adanya hidup berdampingan yang baik diantara pemeluk agama yang sudah berjalan cukup lama. Hubungan harmonis tersebut terjalin dikarenakan adanya jalinan yang baik berdasarkan pada keyakinan agama bahwa di seluruh penjuru lautan kita semua adalah bersaudara.

 

B.  Konsep Ajaran Khonghucu

1.   Anugerah Tian berupa Xing
Tian Yang Maha Esa dengan FirmanNya (Tian Ming)4 menjadikan manusia yang memiliki Xing (Watak Sejati). Xing sebagai Roh Kebajikan/Roh Asli dari Tian Yang Maha Esa menjadikan manusia itu sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya. Xing merupakan nilai-nilai Kebajikan yakni Ren = Cinta Kasih, Yi = Kebenaran, Li = Kesusilaan, Zhi = Kebijaksanan harus dikembangkan agar manusia menjadi suci/ bersih. Upaya manusia untuk mengendalikan nafsu dan membangkitkan Xing itulah tujuan daripada ajaran agama. Oleh karena itu dengan mengembangkan nilai-nilai luhur dari Tian (Tian Ming) itulah, manusia akan menjadi seorang Junzi yang bisa diterima oleh Tian Yang Maha Esa. Oleh karena itulah salam dalam agama Khonghucu Wei De Dong Tian (Hanya dengan Kebajikan sajalah, Tian berkenan) (Shu Jing II.II.III.21). Artinya tidak ada jalan lain yang bisa menyelamatkan manusia kecuali dengan berbuat bajik/ kebaikan. Bagi agama Khonghucu jalan menuju hakekat Tian atau pemahaman akan Tian diawali dengan perbuatan bajik kepada sesama manusia. Maka Wei

De Dong Tian disamping sebagai jalan keselamatan juga jalan menuju kesuksesan hidup.

Maka seorang Junzi tidak boleh tidak membina diri; bila berhasrat membina diri, tidak boleh tidak (harus) mengabdi kepada orang tua; bila berhasrat mengabdi kepada orang tua, tidak boleh tidak (harus)  mengenal manusia, dan bila berhasrat mengenal manusia, tidak boleh tidak (harus)  mengenal kepada Tian Yang Maha
Esa.” (Kitab Tengah Sempurna/Zhongyong XIX:7).

Jarang didalam kehidupan ini bisa menghormati Tiannya dengan benar apabila manusia itu sendiri tidak bisa menghormati sesamanya dengan benar pula (lihat teori Tahapan Iman dalam Tomorrow Spirit). Maka tuntunan ajaran agama Khonghucu mengharuskan manusia hidup di dunia ini untuk menjadikan dirinya seorang Junzi (seorang yang berbudi luhur), seorang yang bermoralitas baik, yang hidup dalam lingkungan masyarakat dengan menerapkan kebajikannya sehingga hidupnya bisa memberi manfaat bagi masyarakat banyak. Hanya dengan menyempurnakan dirinya setiap hari melalui pembinaan diri yang tiada pernah berhenti, maka dia akan memahami Xing (Roh Kebajikan) sehingga bisa mengabdi kepada Tian dengan suci dan bersih.

Yang benar-benar dapat menyelami Hati, akan mengenal Watak Sejatinya (Xing); yang mengenal Watak Sejatinya akan mengenal Tian Yang Maha Esa”.” Menjaga Hati, merawat Watak Sejati (Xing), demikianlah mengabdi kepada Tian Yang Maha Esa” (Mengzi VIIA: 1:1/2).

Inilah yang dikatakan bahwa untuk mencapai transedental itu melalui perbuatan yang bajik didunia ini. Mereka yang telah mencapai puncak kebaikan tentunya akan mencapai puncak Iman sekaligus mencapai puncak Jalan Suci (Dao)5. Maka yang telah mencapai Puncak Iman itulah akan menjadi manusia Junzi yang diharapkan agama. Dia akan hidup damai, tentram dan bahagia dalam Tian/ Tian yakni akan menuju keatas (Heaven)6.

Di dalam Kitab Daxue Bab Utama :1 “ Adapun Jalan Suci (Dao) yang   dibawakan Ajaran Besar (Daxue) ini, ialah: menggemilangkan Kebajikan Yang Bercahaya (Mingde), mengasihi rakyat( Qinmin), dan berhenti pada puncak Kebaikan (Zhishan)”

Berpijak    dari    ayat-ayat   diatas,   maka    ajaran    agama Khonghucu  itu  mementingkan hubungan baik  termasuk moralitas yakni hubungan antara manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya dan hubungan manusia dengan Tian sebagai Khalik Pencipta Alam. Khususnya hubungan manusia dengan sesama manusia dibahas dalam lima hubungan Wulun (Five relationship)7  yakni menyangkut bagaimana hubungan antara raja dan menteri, ayah dan anak, suami dan isteri, kakak dan adik,  kawan dan sahabat. Kelima hubungan kemasyarakatan itulah yang dilandasi dengan etika moral Khonghucu yakni Kebajikan8.

2.   Dimensi Iman
Tiang Ming berupa Xing (Watak Sejati) disamping memiliki dimensi etika moral (kebajikan) juga memiliki dimensi religi (ritual). Artinya bahwa dalam memahami Xing tidak bisa hanya dengan menggunakan konsep filosofis saja, melainkan harus disertai dengan adanya suatu keyakinan dan iman yang mendalam.

Pemahaman ini bisa di lihat di dalam kitab Lunyu (Sabda Suci V: 12), yakni :

Zigong berkata, ”Ajaran Guru tentang kitab-kitab, dapat diperoleh dengan mendengar, tapi Ajaran Guru tentang Xing (Watak Sejati) dan Jalan Suci Tian (Dao) tidak dapat kuperoleh hanya dengan mendengar “.

Pemahaman dari ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa untuk dapat memahami Xing tidak bisa dengan hanya mengandalkan akal dan pikiran melalui pendengaran saja, melainkan  dibutuhkan  perasaan,  keyakinan,  kepercayan dan iman. Oleh karena itulah disamping etika moral dan perbuatan baik manusia, maka ada unsur kepercayaan dan Iman kepada Tian sebagai Khalik Pencipta Alam, ada Li (peribadatan/persembahyangan) kepada Tian Yang Maha Esa. Peribadatan dan persembahyangan kepada Tian akan mendorong bangkitnya Xing (Watak Sejati), meraga keluar sehingga manusia akan terdorong kembali menjadi suci/ kembali ke fitrah, kembali seperti pada awal mulanya pada saat Tian memberikan Xing kepada manusia. Oleh karena perjalanan hidup manusia dengan pengaruh lingkungan sekitarnya sehingga Xing itu menjadi buram dan tertutup oleh nafsu-nafsu. Upaya manusia untuk menggembalikan Xing seperti sediakala itulah dengan cara melalui kebajikan dan peribadatan kepada Tian Yang Maha Esa (Zhong Shu, Satya dan Tepasalira).

3.   Tian sebagai obyek Iman
Maha Besar Khian/Tian, Khalik Yang Maha Sempurna, berlaksana benda bermula dari padaNya ; semuanya kepada Tian, Tian Yang Maha Esa” (Kitab Yak King,Toan Zhuan, Sabda 1:1,4).

Semua makhluk di dunia ini  berasal dari Tian akan kembali kepada Tian, maka manusia memiliki tugas mulia di dunia untuk membantu  pekerjaan Tian dengan menata kehidupan di dunia ini dengan baik, tertib, damai sejahtera. Manusia juga memiliki tugas untuk memuliakan Tian melalui persembahyangan (Li), sebab anugerah Tian kepada manusia yang tidak terbatas itu harus disikapi dengan rasa syukur melalui do’a/sembah sujud. Dalam hal ini  Nabi Kongzi mengajarkan segala yang diterima meski hal yang paling sederhana, harus diawali dengan do’a sebagai rasa syukur.

Meskipunmakan nasi dengan sayur yang sangat sederhana, niscaya disembahyangkan. Sembahyang dilakukan dengan sungguh- sungguh” (Lunyu X : 11).

Nabi Kongzi bersabda,”Kalau Aku tidak ikut sembahyang sendiri, Aku tidak mersa sudah sembahyang “ (Lunyu III: 12/2).

Sembahyang dan bersujud kepada Tian adalah merupakan kodrat manusia sebagai mahkluk cinptaanNya. Oleh karena itu hidup manusia di dunia ini berkewajiban untuk bersujud kepadaNya, hal ini  tersurat dalam kitab Zhongyong XV:1- 3:

Sungguh Maha Besarlah Kebajikan Guishen (Tian Yang Maha Roh). Dilihat tidak nampak, didengar tidak terdengar, namun tiap wujud tiada tanpa Dia. Demikianlah menjadikan umat manusia didunia berpuasa, membersihkan hati dan mengenakan pakaian lengkap sujud bersembahyang kepadaNya. Sungguh Maha Besar Dia, terasakan di atas dan di kanan kiri kita”.

Nabi Kongzi bersabda,” …..siapa berbuat dosa kepada Tian, tiada tempat lain ia dapat meminta do’a” (Lunyu Jilid III :13/2)

Dalam hal ini Nabi Kongzi ingin menegaskan bahwa, bilamana seseorang itu berbuat kesalahan atau dosa maka tiada tempat lain baginya untuk memohon pengampunan melainkan ia harus memintanya kepada Tian Yang Maha Esa itu sendiri.

 

Daftar Pustaka:

  1. Prof.DR.DR.DR.Lee  T  Oei.2011.Chu  Hsi  Dan  Penyempurna  Agama Konfucianinya.Matakin. hal 20.
  2. Setiawan  Chandra.1998.Kehadiran  Agama  Khonghucu  di  Indonesia. Matakin.Solo. hal 48.
  3. Ibit.hal 51
  4. Firman Tian Tuhan Yang Maha Esa ( Tian Ming) itulah dinamai Watak sejati (Xing). Hidup mengikuti watak Sejati itulah dinamai menempuh Jalan Suci( Dao). Bimbingan menempuh Jalan Suci(Dao) itulah dinamai Agama ( Jiao ) ( Kitab Tengah Sempuran /Zhong Yong Bab Utama )
  5. “ Kalau bukan yang telah mencapai Puncak Kebajikan, tidak akan dapat Dia mencapai puncak Jalan Suci ( Dao ) ( Kitab Zhong Yong Bab XXVI : 5).
  6. Nabi Bersabda,” Majunya seorang Jun Zi itu menuju keatas, dan majunya seorang rendah budi ( Xiao Ren) itu menuju ke bawah ( Kitab Lun Yu Jilid XIV
    : 23).
  7. Rarick Charles A.2007.Confucius on Management .Journal of Internasional Manajement Studies.August
  8. Kitab Zhong Yong Bab XIX : 8 , hal 36

 

 

 

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Berita Kebaktian Chee It / Chuyi di Kongmiao TMII

17-07-2018 Hits:57 Berita Foto

Berita Kebaktian Chee It / Chuyi di Kongmiao TMII

Kebaktian Chee It / Chuyi di Kongmiao Jumat 13 Juli 2018 kali ini diisi dengan khotbah bertema menarik, yaitu "Rahasia...

Read more

Mengikuti Wisata Rohani Berziarah Ke Makam Nabi Kongzi Di Kota Qufu, 17-25 Juni 2018

06-07-2018 Hits:193 Berita Foto

Mengikuti Wisata Rohani Berziarah Ke Makam Nabi Kongzi Di Kota Qufu, 17-25 Juni 2018

Untuk yang ketiga kalinya penulis berkesempatan untuk berziarah dan mengunjungi makam nabi Kongzi di kota Qufu, pada perjalanan kali ini...

Read more

Kegiatan Jambore Penyuluh Agama Islam-Lintas Agama & Halal Bihalal 1439H

05-07-2018 Hits:180 Berita Foto

Kegiatan Jambore Penyuluh Agama Islam-Lintas Agama & Halal Bihalal 1439H

Kegiatan Jambore Penyuluh Agama Islam-Lintas Agama & Halal Bihalal 1439H di Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur bersama Menteri Agama.

Read more

Ketua MATAKIN DKI Jakarta Memimpin Doa Pada Acara Halal Bihalal 1439 H Dan HUT Ke 19 WKPUB DKI Jakar…

02-07-2018 Hits:178 Berita Foto

Ketua MATAKIN DKI Jakarta Memimpin Doa Pada Acara Halal Bihalal 1439 H Dan HUT Ke 19 WKPUB DKI Jakarta

Sabtu, 30 Juni 2018, Wadah Komunikasi & Pelayanan Umat Beragama (WKPUB) mengadakan acara Halal Bihalal 1439 H dan Hari Ulang...

Read more

Kebaktian Kelenteng "Kong Miao" Taman Mini Indonesia Indah

29-06-2018 Hits:121 Berita Foto

Kebaktian Kelenteng "Kong Miao" Taman Mini Indonesia Indah

Kelenteng Kong Miao Taman Mini Indonesia Indah yang terletak di kawasan Taman Mini Indonesia Indah setiap Chuyi (Chee It) dan...

Read more

Matakin Provinsi DKI Memperingati 3 Tahun Berpulangnya Xs. Tjandra Rahardja Muljadi Dan Ibu Oey Lauw…

25-06-2018 Hits:165 Berita Foto

Matakin Provinsi DKI Memperingati 3 Tahun Berpulangnya Xs. Tjandra Rahardja Muljadi Dan Ibu Oey Lauw Nio, Di Makin Jakarta Pusat

Hari Minggu tanggal 24 Juni 2018, bertempat di Litang Makin Jakarta Pusat Jalan Mangga Besar XIII Jakarta Pusat, Matakin Prov....

Read more

Bromo Saat Sekarang

20-06-2018 Hits:102 Berita Foto

Bromo Saat Sekarang

Liburan lebaran menjadikan gunung Bromo semakin ramai pengunjung. Sekitar 1000 kendaraan naik ke penanjakan, tentu saja membuat jalan macet.

Read more

INTI Menyatukan Suku Dan Agama Lewat Sahur Bersama Di Kalijodo

20-06-2018 Hits:87 Berita Foto

INTI Menyatukan Suku Dan Agama Lewat Sahur Bersama Di  Kalijodo

Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) melaksanakan Sahur Bersama Dra.Shinta Nuriyah Wahid M. Hum di RPTRA Kalijodo,

Read more

Silaturahmi Pengurus Matakin Di Hari Idul Fitri 1439 H Selama Tiga Hari

19-06-2018 Hits:59 Berita Foto

Silaturahmi Pengurus Matakin Di Hari Idul Fitri 1439 H Selama Tiga Hari

Bagi umat Islam, hari raya Idul Fitri adalah merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa. Idul Fitri memiliki arti yang berkaitan...

Read more

Matakin Prov. DKI melaksanakan sembahyang Duan Yang di Kelenteng Kongmiao TMII

19-06-2018 Hits:157 Berita Foto

Matakin Prov. DKI melaksanakan sembahyang Duan Yang di Kelenteng Kongmiao TMII

Tanggal 5 bulan 5 Yinli (Kongzili) tahun ini jatuh pada tanggal 18 Juni 2018. Umat Khonghucu dari wilayah prov. DKI...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 471-480

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Menurut Anda apa yang paling penting dilakukan saat Imlek ?

Bersembahyang leluhur - 0%
Menerima Angpao - 0%
Membeli baju baru - 0%
Sembahyang di Kelenteng - 0%
Berkunjung ke sanak-saudara - 0%

Total votes: 0
The voting for this poll has ended on: March 30, 2018

Who's Online

We have 44 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com