spocjournal.com

Pentingnya Pendidikan Moral Etika Konfusiani Untuk Menciptakan Generasi Muda Khonghucu Yang Berkarakter Junzi

Oleh: Ngiat Hiung (Makin Trubus)

Pengertian Moral
Moral berasal dari bahasa Latin Moralitas, adalah istilah manusia menyebut orang lain dalam tindakan yang memiliki nilai posif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral, artinya orang tersebut tidak memiliki nilai yang positif di mata orang lainnya. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu. Tanpa moral manusia tidak akan bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang ini memliki nilai implisit, karena banyak orang yang memiliki moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral adalah suatu nilai ke-absolutan dan kehidupan masyarakat secara utuh.

Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang tersebut akan dinilai memiliki moral yang baik. Moral adalah produk-dari budaya dan agama. Setiap budaya memiliki standar moral yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku  yang telah terbangun sejak lama.
Sedangkan Etika adalah suatu kata yang sederhana yang memiliki makna yang mendalam. Etika berasal dari kata Yunani “ ETHOS “, yang berarti watak atau kebiasaan. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia , etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk tentang hak dan kewajiban moral.

Etika moral generasi muda  saat ini sangat memprihatinkan, banyak pelajar yang  terpelajar yang notabene orang-orang pintar, yang saat ini lebih mementingkan intelektualitas semata dengan mengabaikan etika moralnya. Hal ini dapat kita lihat banyak anak-anak remaja tumbuh menjadi pribadi yang sama sekali tidak memiliki rasa hormat terhadap orang lain, dan berprilaku semaunya yang sama sekali tidak mencerminkan etika moral. Misalnya kebut-kebutan dijalan, berbicara tidak sopan, memakai pakaian yang tidak sesuai dengan adat ketimuran dll.  

Sesungguhnya setiap orang yang lahir di dunia ini mendapatkan sifat- sifat baik dari Tian YME sehingga memungkinkan manusia untuk berbuat baik, bertingkah laku sesuai dengan jalan kebaikan bahkan memungkinkan memiliki etika moral yang baik pula.  Setiap orang pada dasarnya memiliki warisan  Ren, Zhi, Yi dan Li yang kesemuanya itu disebut dengan Xing ( Watak Sejati ). Xing inilah apabila tidak dibina dengan baik akan menjadikan manusia jauh dari perbuatan yang baik termasuk jauh dari etika moral. Untuk itulah manusia hidup didunia ini wajib membina diri untuk mengembalikan Xing ketika seperti baru lahir didunia.

Namun  demikian meskipun manusia memiliki warisan Xing dari Tian YME, mereka banyak yang bertingkahlaku negative termasuk amoral dan jauh dari etika. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh dari lingkungannya disamping ia sendiri tidak membina diri dengan baik.

Perilaku dan perbutan manusia tentu saja dipengaruhi banyak oleh lingkungan hidupnya. Mereka yang tinggal pada lingkungan yang tidak baik mendorong untuk memiliki etika moral yang tidak baik pula.Sebaliknya mereka yang hidup pada lingkunan yang baik akan mendorong seseorang tersenbut untuk memiliki etika moral yang baik pula. Oleh karena itulah mengapa Mengzi ketika masih kecil dipindahkan oleh ibunya dari lingkungan kuburan dan pasar ke lingkungan pendidikan. Tujuannya agar Mengzi memiliki sifat yang baik khususnya mau menjadi seorang yang suka belajar.

Jadi, etika lebih merupakan pola perilaku atau kebiasan yang terbentuk  lewat pembelajaran dan pengalaman yang di dapat dari lingkungannya. Bila hal-hal yang buruk yang dilihat akan mendorong seseorang itu mencotoh hal yang buruk tersebut atau cenderung memiliki etika yang buruk pula.

Oleh sebab itu perlu menciptakan lingkungan yang baik dalam pergaulan agar memberikan dorongan yang baik terhadap generasi muda kita. Penerapan etika moral  dapat ditanamkan pada setiap orang melalui pembinaan diri kedalam diri dan melalui pendidikan baik secara formal maupun non  formal seorang  melalui pengalaman dan pengajaran secara langsung dari lingkungannya, baik di rumah , di sekolah maupun di lingkungan masyarakat dimana anak tersebut berada. Pengajaran dan pengalaman di rumah dapat dilakukan oleh anggota keluarga, misalnya dengan mengucapkan terima kasih kepada siapa saja atas apa yang dia dapatkan.

Pembelajaran  moral etika Konfusiani bagi generasi muda bisa dibentuk dari sekolah minggu Khonghucu yang merupakan salah satu solusi yang paling tepat dewasa ini. Disamping sekolah minggu juga bisa dilakukan pada acara- acara intensif seperti pendalaman iman Khonghucu. Tanpa ada aktivitas yang progresif, maka sulit untuk bisa menciptakan generasi muda Khonghucu yang memadai.

Melalui pendidikan dan sekolah minggu itulah akan mampu mendorong genersasi muda  memiliki moral dan etika yang baik akan dapat menumbuhkan karakter yang luhur pada anak-anak Khonghucu, yang akan dapat menjadikan generasi muda Khonghucu menjadi generasi yang berakhlak mulia,  menjadi generasi muda Khonghucu Indonesia yang tidak hanya berguna buat dirinya sendiri saja, melainkan juga akan berguna buat keluarga, masyarakat , bangsa dan Negara.

Karakter
Apakah yang dimaksud dengan karakter ? . Karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku yang ditampilkan ( Philips,2008 ).

Karakter merupakan  kata dari bahasa Latin yang berarti dipahat ( Mark Rutland : 2009 ). Kehidupan ini seperti balok besi, bila dipahat dengan penuh kehati-hatian akan menjadi suatu karya yang agung. Dalam agama Khonghucu ada istilah “dipahat dan digosok” seperti batu mulia yang digosok itulah cara membina diri membentuk karakter (Dr. Ongky).  Maka, karakter merupakan kualitas atau kekuatan moral, akhlak atau budi pekerti individu yang menjadi kepribadian khusus sebagai penggerak/pendorong yang akan membedakannya dengan orang lain. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa karakter itu berkaitan dengan kekuatan moral yang berkonotasi positif. Jadi, orang yang berkarakter baik adalah orang yang mempunyai kualitas moral yang positif.

Mengingat betapa besarnya peranan moral dan etika di dalam pembentukan karakter, maka sudah selayaknya bila anak-anak Khonghucu diberi pendidikan moral etika Konfusiani sejak dini. Dewasa ini  sudah banyak masyarakat yang sikapnya menyimpang dari nilai-nilai moral, budaya dan agama. Bahkan mayoritas adalah anak-anak remaja yang masih duduk di bangku sekolah.

Winnie ( 2005 ) memahami bahwa istilah karakter memiliki dua pengertian . Pertama ia menunjukan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam dan tidak memiliki rasa hormat sama sekali, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya , apabila seseorang berperilaku jujur, suka menolong dan penuh rasa hormat, orang tersebut memanifestasikan karakter muliah. Kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan personality. Seseorang baru bisa disebut sebagai orang yang berkarakter apabila tingkah lakunya sesuai dengan kaidah-kaidah moral.
Oleh sebab itu dapat dipahami bahwa karakter berkaitan dengan moral dan etika yang memiliki arti positif.  Jadi orang yang berkarakter adalah orang yang mempunyai kualitas moral yang positif, secara implisit memiliki arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari dengan dimensi moral yang positif/baik.

Generasi muda Khonghucu adalah generasi penerus keluarga dan bangsa. Jika generasi muda Khonghucu tidak berkarakter baik, bagaimana nasib keluarga dan bangsa dimasa mendatang ?.  Generasi Muda Khonghucu adalah generasi penerus , dan bila dididik dengan ajaran moral etika Konfusiani akan dapat menjadi produk anak bangsa yang berkarakter Junzi.

Dan untuk mewujudkan generasi muda bangsa yang berkarakter Junzi adalah merupakan tangggung jawab bersama. Maka, sudah sepatutnya seluruh stoke holder meniadakan ego pribadi maupun kelompok untuk memfasilitasi dan memudahkan proses pengajaran moral etika Konfusiani bagi peserta didik yang beragama Khonghucu  di sekolah-sekolah negeri maupun swasta sejak sekarang.

Pendidikan moral etika Konfusiani bagi anak-anak Khonghucu sejak dini menjadi salah satu solusi untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang berkarakter, yang akan berimbas ke segala aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara di masa mendatang.

Berdasarkan Undang-Undang nomor 20 tahun 2008 tentang sistem pendidikan nasional, dijelaskan bahwa tujuan pendidikan keperibadian ( moral etika ) mengarahkan pada moral yang diharapkan terwujud dalam kehidupan sehari-hari, yaitu perilaku yang memancarkan Iman dan Takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai golongan agama, kebudayaan dan beraneka ragam kepentingan, perilaku yang mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan perorangan dan golongan, sehingga perbedaan pemikiran , diarahkan pada perilaku yang mendukung upaya untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata didik, dengan diberi awalan “pe” dan akhiran “ an “ yang berarti “ proses pengubahan sikap dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran “. Sedangkan arti mendidik itu sendiri adalah memelihara dan memberikan latihan (ajaran) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.  Atau dengan kata lain pendidikan adalah bimbingan yang diberikan dengan sengaja  terhadap anak-anak didalam pertumbuhannya, baik jasmani maupun rohani agar dapat menjadi orang yang berguna buat dirinya sendiri dan masyarakat.
Demikian pula tujuan pendidikan moral etika Konfusiani bagi anak-anak Khonghucu.

Nabi Agung Kong Zi percaya, bahwa dunia ini dibangun atas dasar-dasar moral. Jika masyarakat secara moral rusak, maka tatanan alam juga akan terganggu. Nabi Agung Kong Zi juga percaya, bahwa seseorang itu asalnya adalah baik, dan akan kembali ke sifat yang baik dengan bimbingan seorang guru yang berbudi yang melaksanakan sungguh-sungguh  ajarannya, serta menjadi contoh teladan bagi orang-orang lain sebagaimana yang Beliau sabdakan di dalam Lun Yu jilid II : 13. Zi Gong bertanya hal seorang Jun Zi. Nabi menjawab, “ ia mendahulukan pekerjaan; dan selanjutnya, kata-katanya disesuaikan;.
Sabda Nabi itu berarti bahwa ; pertama-tama seorang guru mempraktekan apa yang ia ajarkan , dan kemudian mengajarkan apa yang ia praktekan. Menurut Nabi Kong Zi langkah pertama ke arah tranformasi dari dunia yang tidak teratur adalah melakukan upaya agar setiap orang sadar akan tempatnya masing-masing (berhenti pada tempat hentian).

Profesor Dr. Lin Yu Tang, dalam bukunya yang berjudul “ my country and my people “  1936, mengartikan bahwa, moral Konfusiani itu sebagai “ upaya manusia untuk memperoleh kebajikan dalam garis-garis kebijaksanaan dan berperilaku sebagai raja.
Dilihat dari ajaran-ajaran agama Khonghucu, dan dari kitab-kitab suci agama Khonghucu, jelas sekali bahwa agama Khonghucu sangat menekankan pentingnya nilai-nilai moral dan etika. Menurut Nabi Agung Kong Zi , etika itu sangat penting untuk mencapai tujuan yang lebih  besar.

Pendidikan moral dan etika Konfusiani sejak dini akan menjadikan anak-anak  Khonghucu sebagai seorang Jun Zi yang akan selalu “ memegang kebenaran sebagai pokok pendiriannya. Kesusilaan sebagai pedoman perbuatannya, mengalah dalam pergaulan, dan menyempurnakan diri dengan laku dapat dipercaya “ ( Lun Yu XV : 18 ).

Dari uraian-uraian diatas kita ketahui betapa pentingnya pendidikan moral etika Konfusiani bagi anak-anak Khonghucu sejak dini. Dengan mendapatkan pendidikan moral etika Konfusiani akan terbentuklah karakter anak Khonghucu yang Jun Zi dimasa mendatang.

Sesungguhnya ajaran moral dan etika itu bersumber pada ajaran  keimanan Konfusiani. Keimanan Khonghucu yang mengarah pada keyakinan pada Tian YME akan mendorong pula tiap insan untuk berperilaku etika moral yang baik. Begitu pula sebaliknya orang yang memiliki etika moral baik akan mendorong seseorang tersebut memilki Iman yang kuat kepada Tian YME. Oleh karena itu ajaran  dasar keimanan Agama Khonghucu mengandung nilai etika moral yakni  mengajarkan  perilaku di dalam penghidupan yang bersifat praktis. Maka seorang yang beriman tentunya akan mencerminkan tingkah laku etika moral yang baik dalam kehidupan di masyarakat.

Ajaran Iman Agama Khonghucu membimbingkan umat mengimani bahwa hidup manusia adalah oleh Firman Tian dan Firman itu menjadi Watak Sejatinya yang merupakan harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan, maka dalam kehidupan ini umat Khonghucu wajib berupaya mampu satya menegakkan Firman dengan menggemilangkan kebajikan yang dikaruniakan Tian dalam wujud Watak Sejatinya.

Adapun ajaran moral dan etika Khonghucu yang dikutip dari pendapat Xs.Tjhie  Tjay Ing tersebut diantaranya adalah meliputi tentang ajaran :

1 . SATYA DAN TEPASALIRA ( ZHONG SHU )
Ajaran Satya dan Tepasalira ini disebut Nabi Kongzi sebagai “ Jalan Suci Yang Satu Yang Menembusi Semuanya “, karena ajaran ini secara vertikal menjalinkan manusia kepada Tuhan, dan horizontal menjalinkan manusia kepada sesama dan lingkungan hidupnya. Dalam hal ini kita wajib mengerti mana yang pokok dan  mana yang ujung, mana yang wajib didahulukan dan mana yang wajib dikemudiankan. Tersurat di dalam Tengah Sempurna Utama : 3 , “ Tiap benda mempunyai pangkal dan ujung  dan tiap perkara itu mempunyai awal dan akhir. Orang yang mengetahui mana hal yang dulu dan mana hal yang kemudian, ia sudah dekat dengan Jalan Suci.”
Untuk berlaku Satya terhadap Tuhan Yang Maha Esa kita dapat melihat ayat yang tersurat di Mengzi VII A:1, “ Menjaga hati ,  merawat Watak Sejati, demikianlah mengabdi kepada Tuhan. Tentang usia pendek atau panjang jangan bimbangkan. Siaplah dengan membina diri. Demikianlah menegakkan Firman.”
Sedangkan untuk dapat berlaku tepasalira kepada sesama , tersurat di Sabda Suci XV : 24.  Zi Gong bertanya, “ Adakah satu kata yang boleh menjadi pedoman sepanjang hidup ?” Nabi bersabda, “ Itulah Tepasalira ! Apa yang diri sendiri tiada inginkan, janganlah diberikan kepada orang lain.”

2 . TRIPUSAKA : BIJAKSANA, CINTA KASIH, BERANI ( ZHI, REN, YONG )
Tripusaka adalah bekal paling ampuh dalam menghadapi kehidupan dengan segala persoalannya. Dengan Cinta Kasih, manusia mendapatkan landasan dan sandaran bagi motif perbuatannya, bahwa segala langkah dan perbuatan tidak boleh meninggalkan sisi kemanusiaannya, sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal budi; dengan Kebijaksanaan , manusia akan mampu menangani dan memecahkan segala persoalan secara Tepat dan Harmonis. Dan dengan Keberanian , manusia akan mendapatkan Semangat dan Ketahanan dalam menghadapi tantangan hidup maupun dalam meraih cita-cita. Agar TRIPUSAKA menjadi tritunggal dalam diri kita, mari kita simak ayat yang tersurat di Tengah Sempurna XIX : 8.  “ Adapun Jalan Suci yang harus ditempuh di dunia ini mempunyai Lima Perkara dan Tiga Pusaka di dalam menjalankannya, yakni : hubungan raja dengan menteri, ayah dengan anak, suami dengan istri, kakak dengan adik dan kawan dengan sahabat. Lima Perkara inilah Jalan Suci yang harus ditempuh di dunia. Kebijaksanaan, Cinta Kasih dan Berani ; Tiga Pusaka inilah Kebajikan yang harus ditempuh. Maka yang hendak menjalaninya, harus satu tekadnya.”

3 . BAKTI DAN RENDAH HATI ( XIAO TI )
Perilaku bakti dan rendah hati menyangkut hubungan yang paling mula dan paling dekat dalam kehidupan tiap manusia, menyangkut hubungan bagaimana kita wajib mengabdi, menghormati dan mencintai ayah bunda dan menyangkut hubungan bagaimana kita wajib mencitai saudara-saudara. Karena jalinan hubungan ini paling dekat dan paling mula, maka dalam moral Konfusiani kedua masalah ini dijadikan dasar dan landasan untuk pembinaan diri dalam jangkauan yang lebih luas dan kompleks. Mengzi berkata , “ Mencintai orang tua itulah Cinta Kasih, dan Hormat kepada yang lebih tua itulah Kebenaran.” ( Mengzi VII A : 15 )    Nabi Kongzi bersabda, “ Seorang yang dapat berlaku Bakti dan Rendah Hati, tetapi suka menentang atasan, sungguh jarang terjadi; tidak suka menentang atasan, tetapi suka mengacau, ini belum pernah terjadi. Maka seorang Junzi mengutamakan pokok, sebab setelah pokok itu tegak, Jalan Suci akan tumbuh dengan sendirinya. Laku Bakti dan Rendah Hati itulah pokok peri Cinta Kasih.” ( Sabda Suci I : 2 )

4. SATYA DAN DAPAT DIPERCAYA ( ZHONG XIN )
Jalan Suci Kebajikan di dalam melaksanakan Cinta Kasih dan Tepasalira, dimulai dengan Bakti dan Rendah Hati, sedangkan Satya dan Dapat Dipercaya adalah menjadi pokok utama. Satya ialah yang menjadikan manusia Menggemilangkan Kebajikan, dan Dapat Dipercaya ialah kemampuan untuk disandari dalam mengamalkan Kebajikan itu. Satya itu menyatakan Ketulusan Iman dalam menjunjung Kebajikan dan Dapat Dipercaya itu menyatakan Kesungguhan dalam mengamalkan Kebajikan. Nabi Kongzi bersabda, “ Perkataanmu hendaklah kau pegang dengan Satya dan Dapat Dipercaya, perbuatanmu hendaklah kau perhatikan sungguh-sungguh.............Kalau engkau sedang berdiri , hendaklah hal ini kau bayangkan seolah-olah di mukamu, kalau sedang naik kereta, bayangkan seolah-olah hal ini tampak di atas gandaran keretamu. Dengan demikian tingkah lakumu dapat diteriama.”

5. KESUSILAAN DAN KEBENARAN ( LI YI )
Perilaku yang didukung oleh jiwa yang berperi Cinta Kasih dan dilaksanakan dengan Bijaksana akan melahirkan perbuatan yang bernilai Kebenaran, yang menegakkan Keadilan, memenuhi Kewajiban ; bila perilaku itu didorong dan dikendalikan oleh perasaan Keindahan, itulah laku Susila yang terbabar di dalam berbagai tata sopan santun dan tata upacara dan peribadahan. Nabi Kongzi bersabda,” Seorang susilawan memegang Kebenaran sebagai pokok pendiriannya, Kesusilaan sebagai Pedoman Perbuatannya , mengalah dalam pergaulan dan menyempurnakan diri dengan Laku Dapat Dipercaya.” (Sabda Suci XV : 18)

6 . SUCI HATI DAN TAHU MALU ( LIAN CHI )
Dengan tanpa memperhatikan Kesusilaan dan Kebenaran dalam mengejar kekayaan dan kemulian , itu pasti karena kurangnya Kesucian Hati dan Merosotnya rasa Tahu Malu, perasaan harga diri. Ini adalah menodahkan dan merusakkan kemuliaan karunia Tuhan yang menjadi Watak Sejati manusia.  Tersurat di Mengzi VII A : 6, 7. Mengzi berkata, “ Orang tidak boleh tidak tahu malu. Malu bila tidak tahu malu, menjadikan orang tidak menanggung malu. “ rasa malu itu besar artinya bagi manusia. Kalau orang bangga dapat berbuat muslihat dan licin, itulah karena tidak menggunakan rasa tahu malunya. Yang tidak mempunyai rasa malu, tidak layak sebagai manusia, dalam hal apa ia layak sebagai manusia ?”

7 . HORMAT DAN SUNGGUH-SUNGGUH ( GONG JING )
Di dalam kehidupan orang perlu ada rasa dan perilaku hormat dalam pergaulan maupun hormat terhadap tugas kewajiban. Kalau ingin hak-hak asasi  kita dihormati dan dijunjung, kita juga harus menghormati dan menjunjung hak asai orang lain. Jalan Suci daripada perilaku hormat dan sungguh-sungguh ini adalah perwujudan daripada Jalan Suci Cinta Kasih dan Tepasalira. Nabi bersabda, “ Seorang Junzi  selalu bersikap sungguh-sungguh, maka tiada khilaf. Kepada orang lain bersikap hormat dan selalu susila . Di Empat penjuru lautan, semuanya saudara.” ( Sabda Suci XII : 5 )

8. SEDERHANA DAN SUKA MENGALAH ( QIAN RANG )
Manusia dikodratkan Tuhan sebagai makhluk yang bermasyarakat, dalam pergaulan kemasyarakatan selalu ada perilaku yang saling timbal balik. Agar perilaku kita berkenan kepada orang lain, hidup sederhana dan suka mengalah sangat diperlukan. Di dalam Yi Jing tersurat, “ Jalan Suci Tuhan Yang Maha Esa mengurangi yang berkelebihan dan memberkati yang sederhana, Jalan Suci bumi merubah yang berkelebihan dan mengalirkannya kepada yang di bawah-bawah ; Tuhan Yang Maha Rokh menghukum yang sombong dan membahagiakan yang rendah hati, Jalan Suci manusia membenci kesombongan dan menyukai kesederhanaan, kesederhanaan itu muliah gemilang, tidak dapat dilampaui/dirusak perbuatan durjana, demikianlah paripurnanya seorang Susilawan/Junzi.”

9 . TENGAH TEPAT DAN LURUS ( ZHONG ZHENG )
Memang hati manusia mudah menyeleweng, ingkar dari jalan suci, berbuat kurang atau keterlaluan, tidak mencapai atau melampaui, sungguh tidak mudah membina sikap hidup Tengah Sempurna.  Suatu kenyataan seperti tersurat di Shu Jing, “ Hati manusia senantiasa dalam rawan, agar hati di dalam jalan suci, itu muskil. Maka senantiasalah pada Yang Esa, pada yang sari pati, pegang teguh Tepat Tengah.”  Di dalam Tengah Sempurna Utama : 5 tersurat, “ Bila dapat terselenggara Tengah dan Harmonis , maka kesejahteraan akan meliputi langit dan bumi, segenap makhluk dan benda akan terpelihara.”

10 . MEMPERBAIKI KESALAHAN ( GAI GUO )
Di dalam hidup, manusia tidak mungkin tanpa berbuat kesalahan, besar maupun kecil, sengaja maupun tidak sengaja karena hidup manusia senantiasa melalui proses belajar. Orang tidak mungkin tidak pernah berbuat salah, tetapi yang paling penting, mampu dan maukah kita memperbaiki kesalahan, dengan demikian dapat dihindarkan kesalahan itu berubah menjadi dosa, yang merusak jalinan indah manusia dengan Tuhan, terhadap sesamanya maupun terhadap lingkungannya. Nabi bersabda, “ Bersalah tetapi tidak mau memperbaiki, inilah benar-benar Kesalahan.”

11 . MENEGAKKAN JASA ( LI GONG )
Hidup adalah mengemban firman Suci Tian , menegakkan nilai-nilai luhur kemanusiaan kita; upaya menegakkan firman, mengembangkan kebajikan, bermakna bahwa hidup kita mempunyai nilai positif terhadap masyarakat dan lingkungan kita. Kita wajib berusaha mampu berbuat jasa, berbuat pahala bagi keluarga,masyarakat dan lebih luas lagi terhadap negara , bangsa dan dunia.  Maka Nabi Kongzi bersabda, “ Seorang Junzi tidak hanya khawatir setelah mati namanya tidak disebut-sebut lagi. “ ( Sabda Suci XV : 20 ) ; ia sepenuh hati berupaya menegakkan jasa/pahala. Itulah pernyataan satyanya terhadap Tuhan, dan pernyataan cintanya terhadap sesama.

12 . AKRABLAH KEPADA PARA BIJAKSANA ( QIN XIAN )
Bila kita inginkan kemajuan diri , mampu memperbaiki kesalahan , menegakkan jasa , meluaskan kemampuan dan kecakapan, maka perlu pandai-pandai dalam pergaulan, sangat dipujikan dapat menjalin hubungan dekat dengan para Bijaksana. Nabi bersabda, “ Bertempat tinggal dekat tempat kediaman orang yang berperi cinta kasih, itulah yang sebaik-baiknya. Bila tidak mau memilih tempat yang disuasanai cinta kasih itu, bagaimanakah memperoleh Kebijaksanaan?” (Sabda Suci IV : 1)

13 . MEMBENCI KEPALSUAN ( E WEI )
Nabi Kongzi tidak menyukai kepalsuan dan membenci perilaku munafik. Perilaku munafik tidak hanya ingkar dari Jalan Suci, tetapi sangat menghinakan dan memerosotkan harkat dan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Maka Nabi bersabda , “ Aku benci kepada hal-hal yang mirip tetapi palsu. Aku benci akan rumput perusak yang dapat mengacaukan tunas yang baik. Aku benci akan kata-kata muslihat yang dapat mengacaukan kebenaran. Aku benci akan mulut yang tajam , yang dapat mengacaukan sikap dapat dipercaya. Aku benci akan musik negeri Zheng yang dapat mengacaukan musik yang baik. Aku benci warna ungu yang dapat mengacaukan warna merah. Aku benci akan orang yang hanya pandai menarik perhatian untuk mendapat pujian di kampung halamannya, karena akan menagcaukan Kebajikan.” Demikianlah, perilaku yang bersifat kepalsuan harus dihindari.

14 . MENGERTI ORANG LAIN ( ZHI REN )
Kita perlu mengenal siapa orang bijaksana dan siapa orang yang munafik, karena itu perlu memahami bagaimana untuk mengerti tentang orang lain. Dalam hal ini kita tidak boleh berprasangka dan sebaliknya juga tidak boleh hanya percaya apa kata orang. Nabi bersabda, “ Tidak berprasangka kecurangan orang lain, tidak mencurigai apakah seseorang tidak mempercayai dirinya, tetapi dapat merasa kalau ada sesuatu yang tidak benar, inilah perilaku seorang yang Bijaksana,” (Sabda Suci XIV : 31 ) Dalam hal ini Nabi Kongzi memberi suri teladan agar kita dapat lepas dari Empat Cacat : tidak berangan-angan kosong, penuh prasangka, tidak memestikan atau mengharuskan, tidak kukuh pada anggapan sendiri dan tidak menonjolkan keakuannya. ( Sabda Suci IX : 4 )

15 . MENUNTUT DIRI SENDIRI ( QIU JI )
Jikalau kita memahami Jalan Suci dari peri laku tenggang rasa, tegas bahwa kita perlu banyak menuntut kepada diri sendiri . Mengzi berkata, “ Kalau mencintai seseorang, tetapi orang itu tidak menjadi dekat, periksalah apakah kita sudah berlandas Cinta Kasih. Kalau memerintah seseorang, tetapi orang itu tidak mau menurut; periksalah apakah kita sudah berlaku Bijaksana. Kalau kita sudah bersikap susila kepada seseorang, tetapi tidak mendapat balasan; periksalah apakah kita sudah benar-benar mengindahkan. Melakukan sesuatu bila tidak berhasil, semuanya semuanya harus berbalik memeriksa diri sendiri. Kalau diri kita benar-benar lurus, niscaya dunia mau tunduk. Di dalam kitab Sanjak tertulis, “ Ingatlah selalu laku yang sesuai Firman, ini akan memberi banyak bahagia.” (Mengzi IV A : 6)

16 . MELINDUNGI DIRI ( BAO SHEN )
Seorang Junzi/Susilawan dengan Cinta Kasih dan Tepasalira menjaga hatinya , dari dasar inilah ia berfikir dan menghadapi segenap tantangan dan persoalan hidup, di dalamnyalah ia mendapatkan tempat berlindung yang setosa bagi dirinya . “ Cinta Kasih itulah Rumah Sentosa dan Kebenaran itulah Jalan Lurus.” (Mengzi IV A : 10) “ Sesungguhnya Cinta Kasih itu adalah anugerah Tuhan YME yang sangat Mulia dan Rumah Sentosa bagi manusia.Karena orang tidak dapat menghalangi kita berbuat demikian, bila kita tidak berperi Cinta Kasih, itu tidak Bijaksana.” (Mengzi II A : 7)

17 . BAHAGIA DI DALAM JALAN SUCI ( LE DAO )
Dunia dengan segala romantika dan pergolakannya adalah bagai lautan dengan gelombang dan badainya, kita hidup di dunia ini sebagai perahu yang harus mengarungi lautan itu. Dapatkah kita mendapatkan Kebahagiaan dan kedamaian ?. Sesungguhnya yang menjadi masalah itu bukan hal yang bergantung pada dunia dan persoalannya, tetapi bagaimanakah Iman/diri kita menghadapi semuanya itu. Nabi Kongzi bersabda, “ Aku tidak menggerutu kepada Tian, Tidak pula menyesali sesama manusia. Aku hanya belajar dari tempat yang rendah ini menuju tinggi. Tianlah yang mengerti diriku.” ( Sabda Suci XIV : 35 )

18 . MELAKSANAKAN AJARAN AGAMA DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH ( GONG XING )
Jalan Suci yang dibawakan para Nabi, bukan sekedar untuk didengar dan dijadikan bahan percakapan, melainkan wajib dengan penuh Iman diamalkan, dilaksanakan ; dengan sungguh-sungguh dikerjakan dan diwujudkan. Tersurat himbauan akan hal itu di Kitab Tengah Sempurna bab XIX : 19, “ Banyak-banyaklah belajar, pandai-pandailah bertanya, hati-hatilah memikirkannya, jelas-jelaslah menguraikannya dan sungguh-sungguhlah melaksanakannya.”

19 . YANG BERPRIBADI SUSILAWAN  ( JUNZI )
Dari 18 pokok bahasan yang telah kita kaji, dapat kita ketahui bahwa pokok-pokok bahasan itu memberikan bimbingan bagaimana menempuh Jalan Suci sebagai makhluk ciptaan Tuhan, yang berakal budi ini sebaik-baiknya , sehinggah mampu mewujudkan Firman Tuhan yang kita emban sebagai nilai-nilai Luhur kemanusiaan kita di dalam kehidupan ini. Insan yang berpribadi susilawan adalah insan yang mampu merawat dan mengembangkan watak sejatinya,  hidup menempuh Jalan Suci, Menggemilangkan Kebajikan, Mencintai dan tenggang rasa kepada sesama sampai batas kemampuannya. Hidupnya senantiasa patuh kepada hukum Tuhan dan suasana batinnya senantiasa bahagia di dalam Tuhan YME. Nabi bersabda,” Seorang susilawan berhati longgar dan lapang, seorang rendah budi berhati sempit dan berbelit-belit.” (Sabda Suci VII : 37)

20 . CINTA BELAJAR ( HAO XUE )
Manusia diciptakan Tuhan bukan sekedar sebagai makhluk nafsu dan naluri belaka, melainkan manusia wajib mampu mengembangkan diri melalui proses belajar. Nabi bersabda, “ Beratus tukang itu dengan mempunyai tempat bekerja baharulah dapat menyempurnakan hasilnya; seorang Susilawan dengan belajar baharulah dapat mencapai Jalan Suci.” ( Sabda Suci XIX : 7 )

21. HATI-HATI / CERMAT BERFIKIR ( SHEN SI )
Masalah belajar banyak menyangkut kecerdasan berfikir. Kalau proses belajar boleh kita umpamakan seperta minum dan makan, maka berfikir adalah seumpama mencerna minuman dan makanan itu. Belajar tanpa berfikir adalah laksana minuman dan makanan yang tidak dicerna. Belajar dan berfikir itu akan sangat berpengaruh terhadap pembinaan suasana hati, kehidupan rokhani manusia, karena itu di dalam belajar dan berfikir, tidak boleh menjadikan hati, suasana batin kita menjadi lepas dari sifat benih-benih Kebajikan Watak Sejati insani. Kecerdasan dan pengetahuan bukan sekedar demi kecerdasan dan pengetahuan itu sendiri, tetapi dapat mendukung hati menegakkan nilai-nilai luhur kemanusiaan, menempuh Jalan Suci sebagai manusia. Nabi bersabda, “ Belajar tanpa berfikir sia-sa, berfikir tanpa belajar berbahaya.” (Sabda Suci II : 15)

22 . SATU PRINSIP YANG MENEMBUS SEMUANYA ( YI GUAN ZHI DAO )
Di dalam belajar dan berfikir , kita harus mengerti hakekat daripada masalah yang kita pelajari; belajar dan berfikir bukan sekedar memupuk pengetahuan dan kecakapan tetapi harus membawa kita kepada kecerahan batin, melihat prinsip yang satu yang menembusi semuanya. Nabi Kongzi bersabda,” Chan, ketahuilah, Jalan SuciKu itu satu, tapi menembusi semuanya.” Setelah Nabi pergi, murid-murid lain bertanya, “ Apakah maksud kata-kata tadi?”  Zeng Zi menjawab, “ Jalan Suci guru, tidak lebih tidak kurang ialah Satya dan Tepasalira.” ( Sabda Suci IV : 15 )

23 . MENUNTUT KENYATAAN ( QIU SHI )
Belajar dan berfikir perlu didasarkan kenyataan, kalau kita mengerti , mengertilah sesungguhnya, bukan sekedar berpura-pura mengerti, hal itu tidak membawa faedah bahkan mengundang bahaya. Maka Nabi bersabda, “  You, kuberi tahu apa artinya “ mengerti “ itu ! Bila mengerti berlakulah sebagai orang yang mengerti ; bila tidak mengerti , berlakulah sebagai orang yang tak mengerti. Itulah yang dinamai ‘MENGERTI’ (Sabda Suci II : 17 ) Janganlah berlaku sebagaimana disinyalir ole Mengzi, “ Menjalankan tetapi tidak mengerti maksudnya, berkebiasaan tetapi tidak mau memeriksa ; Sepanjang hidup mengikuti tetapi tidak mengenal Jalan Suci, begitulah kebanyakan orang.” (Mengzi VII : 5)

24 . MENJAGA KEWAJARAN ( SHOU CHANG )
Penyakit yang wajib dihindari seorang ilmuwan ialah jangan hanya menerawang langit, sehingga lupa berpijak kepada bumi dan manusianya. Tersurat di dalam Tengah Sempurna XII : 1. “ Jalan Suci itu tidak jauh dari manusia. Bila orang memaksudkan jalan Suci itu ialah hal yang menjauhi  manusia, itu bukanlah Jalan Suci.” Mengzi pun berkata, “ Jalan Suci itu di dalam kamu, mengapakah mencari ketempat yang jauh ? Untuk melakukan itu mudah, tetapi mengapakah mencari yang sukar?” (Mengzi IV A : 11)

25 . MEMILIKI KEULETAN SEMANGAT ( YOU HENG )
Di dalam belajar dan berfikir harus memiliki keuletan, hanya dengan keuletan itulah akan dapat menyempurnakan hasil belajar dan karyanya. Kita tidak perlu mendambakan  adanya kesempurnaan bakat; Asal ada keuletan , itu jaminan yang dapat diandalkan. Bukanlah belajar itu untuk sekedar pameran, tetapi benar-benar karena terdorong oleh cita yang luhur dan menghayati tanggung jawab sebagai makhluk ciptaan Tuhan YME yang berakal budi. “ Bila orang lain dapat melakukan hal itu dalam satu kali, diri sendiri harus berani melakukannya seratus kali” (Tengah Sempurna XIX : 20)

26 . MELURUSKAN DIRI ( ZHENG JI )
Lakukan pekerjaan sebaik-baiknya, baik di dalam keluarga maupun masyarakat. Pertama-tama untuk berhasilnya pekerjaan itu, kita wajib mampu meluruskan diri. Nabi Kongzi bersabda, “ Bila diri telah lurus, dengan tanpa memerintah semuanya akan berjalan dengan beres. Bila diri tidak lurus, sekalipun memerintah tidak akan diturut.” Kalau seseorang dapat meluruskan diri, apa sukarnya mengurus pemerintahan? Kalau tidak dapat meluruskan diri bagaimanakah mungkin meluruskan orang lain?” (Sabda Suci XIII : 5,13)

27 . MENGATUR PEKERJAAN ( QIU ZHI )
Untuk mampu mengatur pekerjaan , wajib ada rasa tanggung jawab yang besar, jangan meremehkan persoalan. Rawatlah semangat mencintai rakyat, anak buah atau bawahan dan perhatikanlah kepentingannya. Jagalah agar masing-masing menempati fungsinya . Tersurat di Sabda Suci XII : 22 . “ Cinta Kasih, yaitu mencintai manusia. Kebijaksanaan, yaitu mengenal manusia.” Angkatlah orang-orang yang lurus di atas orang-orang yang bengkok, dengan demikian dapat merubah yang bengkok menjadi lurus.

Demikianlah sekedar petikan ajaran moral dan etika Konfusiani. Bila pendidikan moral dan etika Konfusiani dilakukan sejak dini terhadap anak-anak Khonghucu , maka akan terbentuklah generasi muda Khonghucu yang berkarakter Junzi. Sesungguhnya ajaran moral dan etika adalah sekedar penjabaran keimanan Agama Khonghucu. Ajaran Iman Agama Khonghucu membimbing umat mengimani bahwa hidup manusia adalah oleh Firman Tian dan Firman Tian itulah yang menjadi Watak Sejati manusia, yang merupakan harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan YME. Watak Sejati yang berisikan Benih-Benih Kebajikan inilah yang wajib dikembangkan untuk menggemilangkan Kebajikan.

Huang Yi Shang Di
Wei Tian You De
Shanzai !

Daftar Pusaka  
Pokok-Pokok Ajaran Moral dan Etika Konfusiani , oleh Xs. Tjhie Tjai Ing
Ajaran Konfusiani : gudang tugasku.blog spot.co.id
Hidup bahagia di dalam Jalan Suci Tian, oleh Lim Khung Sen
id.wikipedia.org/wik/moral
Pendidikan Agama dalam pembentukan karakter, http/chacha blog spot

Sumber Gambar: http://www.bccci.net/wp-content/uploads/2015/05/Students-recite-the-traditional-Chinese-moral-classic-Dizigui.jpg

 

 

 

 

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:499 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:955 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:140 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:261 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:158 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:422 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:312 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:246 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:188 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:740 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 37 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com