spocjournal.com

Rohaniwan Yang Melayani Adalah Pejuang Tuhan Yang Bahagia Dalam Tuhan

Oleh: Dr. Drs. Ws. Ongky Setio Kuncono, SH, MM

 

 

Menjadi seorang rohaniwan bukan sekedar dituntut  memiliki keahlian agama yang menyangkut pengetahuan kitab, pengetahuan sejarah suci, pengetahuan upacara (Li), pengetahuan sanjak dan musik saja dll. Melainkan rohaniwan harus memiliki kesiapan mental untuk menjadi pelayan umat. Rohaniwan dituntut untuk menyesuaikan diri sebagai rohaniwan pelayan umat, khususnya bagi mereka yang dalam kehidupannya  merangkap sebagai seorang pengusaha atau professional lainnya. Banyak yang harus dipelajari dan  dijalani  agar menjadi rohaniwan yang bisa turun kebawah untuk lebih dekat dengan umat dan bersama-sama umat membangun hubungan harmonis serta bisa menerima kedaan di lapangan.    

Proses pembelajaran untuk menjadi rohaniwan yang mampu menyesuaikan diri pada kebutuhan umat perlu  dilakukan mengingat banyak  rohaniwan dewasa ini yang memiliki latar belakang sebagai guru, dosen, anggauta Dewan, pejabat negara bahkan pengusaha (entrepreneur). Para profesi itu tentunya memiliki gaya hidup dan kebiasaan hidup yang sangat berbeda dan bila itu diterapkan dalam sebagai posisi rohaniwan yang bercermin pada pelayani umat tentunya tidak akan cocok.   

Melayani umat harus memposisikan diri sebagai seorang yang rendah hati,  tulus, menerima setiap keluhan dan pengaduan, memperhatikan kebutuhan dan tuntutan umat. Bukan sebaliknya menghadapi umat seperti menghadapi anak buah atau karyawan dalam sebuah perusahaan. Hal ini sering dilakukan oleh sebagian dari rohaniwan yang terbiasa hidup dalam kegandaan fungsi.  
Pola-pola yang diterapkan dan juga gaya kehidupannya bagi rohaniwan yang memiliki fungsi ganda harus bisa merubah sikap dan tindakan  180 derajat untuk bisa menjadi rohaniwan yang melayani. Perubahan ini sangat sulit dilakukan apabila kehidupan rohaniwan sudah menjadi kebiasaan yang melekat pada dirinya. Namun demikian sesulit apapun, upaya merubah pola pikir rohaniawan menuju pada pelayaan umat harus menjadi program utama  dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan umat melalui ketauladanan.

Ada suatu pengalaman yang menarik setelah saya berkeliling di beberapa daerah dengan meninggalkan isteri, anak  dan pekerjaan  dalam tugas pelayanan. Suatu pengalaman yang menyenangkan dan sekaligus terapi buat saya sehingga saya  memiliki kesadaran yang berharga. Kesadaran diri dari sikap yang ingin selalu dilayani menjadi seorang yang melayani, dari sikap dan gaya hidup yang mewah, menjadi hal yang sederhana, rendah hati, menjauhkan diri dari rasa ego, menerima kondisi yang ada ( mesyukuri), tidak kukuh, angkuh dan jauh dari rasa emosi, meskipun proses pembelajaran itu masih berlangsung, saya telah merasakan hikmahnya.  

Sikap-sikap itu justru muncul ketika saya bisa menerima posisi saya sebagai pelayan umat, bukan sebagai seorang manajer sebuah perusahaan. Kesadaran tersebut  muncul ketika saya bisa  berbahagia dengan umat ketika membaur beberapa hari secara bersama-sama. Saya mulai merasakan nikmatnya melayani bukan dilayani, nikmatnya memberi bukan diberi.

Selama ini kita berpikir terbalik, bahwa umat harus datang kepada rohaniwan bila menghadapi masalah, rohaniwan merasa dibutuhkan oleh umat dalam segala hal termasuk do’a, memberikan nasehat-nasehat. Nampaknya padangan diatas salah sehingga timbul  kesadaran baru bahwa perlu menerapkan konsep bahwa rohaniwan itu  pelayan umat. Dalam hal ini  rohaniwan harus mendatangi umat, menanyakan permasalahan yang dialami umat, menyelesaikan masalah melalui pendekatan pengetahuan kitab. Jiwa-jiwa luhur rohaniwan  akan terbentuk sendiri dalam proses interaksi dengan umatnya secara timbal balik. Seperti yang dikatakan oleh Ws. Chandra Setiawan dalam khotbah “Kepempinan Yang Melayani”,  jiwa luhur seorang pemimpin itu jauh dari tindakan “ mutung” melainkan terus secara konsisten memiliki semangat juang yang tiada pernah putus. Inilah yang saya katakan sebagai rohaniwan yang tahan banting, konsisten, tidak mudah menggerutu sebab rohaniwan sebagai penampung keluhan umat bukan sebaliknya.  
Dibutuhkan sikap dan mental untuk bisa terciptanya rohaniwan yang bisa menjadi penanpung masalah umat dan mampu menyelesaikan persoalan umat melalui  pengelaman yang dimilikinya. Mengingat bahwa kebahagiaan yang tertinggi adalah timbulnya kesadaran bagi rohaniwan dalam  menerima kesederhanaan, mampu menurunkan vasilitas yang biasa digunakan dengan vasilitas baru yang sederhana.
Ketika dalam kehidupan sehari hari menjadi seorang manajer dengan sikap yang selalu mengambil keputusan, memerintah anak buah, membuat program dan langsung menerapkan tanpa harus menunggu persetujuan dari bawah. Sikap itu harus dirubah menjadi seorang yang tidak hanya belajar mempimpin saja, melainkan  menjadi seorang yang belajar dipimpin. Kebiasaan hidup dilayani oleh karyawan, sekarang harus belajar melayani umat. Bahkan ketika makan, minum bahkan segala urusan harus dibantu dengan orang lain entah itu karyawan, istri atau anggota keluarga lain, akhirnya kita harus belajar hidup mandiri tanpa ada pelayanan khusus.  

Kita bisa membayangkan, seorang manajer yang terbiasa tidur di hotel berbintang,   harus bisa tidur di area tempat ibadah di suatu desa yang segala vasilitasnya sangat minim. Mandi air dingin, tidur tanpa AC serta kamar yang sangat sederhana,semua itu harus bisa dijalani dengan bahagia. Pelajaran ini sungguh merupakan pelajaran yang sangat berharga dalam hidup ini. Menjadikan kedewasan mental dan bertumbuhnya Iman, sebab menurunkan strata kehidupan akan sulit dilakukan tanpa ada semangat Iman  yang mampu menciptakan kebahagiaan.
Berkaitan dengan hal diatas, tentunya saat sekarang kita semua dihadapkan pada minimnya fasilitas dari pemerintah, apalagi dengan dilarangnya acara- acara keagamaan di sebuah hotel. Semua aktivitas harus dalam lingkungan departemen yang ada dengan fasilitas yang sangat sederhana. Kondisi semacam ini merupakan bentuk pembelajaran bagi kita semua untuk menempa mental, menjalani hidup kesederhadaan dan serba kekurangan. Kondisi ini janganlah menjadi beban buat pekerjaan dan perjuangan kita dalam melayani umat, melainkan jadikanlah sebagai pembelajaran pribadi untuk menjadi rohaniawan yang melayani. Kuncinya adalah bagaimana kita melihat tugas dan pekerjaan sebagai pengabdian umat bukan menjadi beban, melainkan menjadi hal yang menggembirakan. Apabila kita sudah bisa menempatkan posisi semacam tersebut berarti kita telah menjadi pejuang Tuhan ( Tian YME) yang hidup bahagia dalam Tuhan ( Tian YME ).

Banyak rohaniwan yang mengaku sebagai pejuang Tuhan, tetapi dalam kenyataannya suka mutung, suka menggerutu dan suka menghakimi. Sikap- sikap semacam itu belum mencerminkan sebagai seorang rohaniwan yang melayani umat. Maka dengan berkurangnya vasilitas, menurunnya anggaran, menurunnya honor yang kita terima, jadikan sebagai hal yang menggembirakan sebab dengan cara ini kita telah menjadi pejuang Tuhan yang telah hidup dalam Tuhan dengan gembira. Kegembiraan adalah modal utama kita menjadi seorang rohaniwan yang melayani umat. Inilah surga yang sesungguhnya yang harus kita nikmati dengan enjoy life. Semoga pengalaman hidup saya ini bisa dirasakan oleh teman-teman lainnya atau setidaknya pengalaman ini dapat digunakan sebagai cara menghibur diri dalam menghadapi kondisi saat sekarang. Kita semua masih dalam proses belajar menjadi rohaniwan yang melayani dan bukan dilayani, belajar menjadi pejuang Tuhan yang bisa bahagia bersama Tuhan. Syukurilah vasilitas yang Anda terima dengan keterbatasan meskipun itu semakin buruk dari sebelumnya. Ini adalah ujian bagi para rohaniwan pelayan umat. Saya yakin bahwa apa yang telah kita perjuangkan dengan ikhlas, pastilah ada berkah yang kita terima di tempat lain bukan ketika kita bekerja dalam pelayanan ini. Inilah yang dikatakan dengan Wei De Dong Tian ( hanya dengan Kebajikan Tuhan berkenan), kebajikan adalah Jalan menuju Tuhan sekaligus Jalan mempermudah kita mendapatkan berkah dariNya. Berkah ( Tian-ming) akan datang kepada orang-orang yang tulus hatinya karena ketika manusia dalam keadaan bersih dan suci, Tian akan kembali bersemayam dalam diri kita, dalam hati dan jiwa kita, sebaliknya ketika hawa jahat/ buruk memenuhi aura tubuh kita, Tian tidak akan pernah hadir dalam diri kita. Bukanlah dikatakan bahwa mereka yang berbuat baik saja berkah itu akan diturunkan ? Seperti yang tertera dalam kitab dibawah ini :

Shang Di Tuhan Yang Maha Tinggi itu tidak terus menerus mengaruniakan hal yang sama kepada seseorang; kepada yang berbuat baik akan diturunkan beratus berkah; kepada yang berbuat tidak baik akan diturunkan beratus kesengsaraan. Engkau hendaknya selalu dalam Kebajikan”  …..(Kitab Shu Jing IVShang Shu : 7 p 77 ) .
Banyak diantara kita yang sering mengeluh mengapa Tian tidak juga memberikan berkah yang berlimpah kepada kita. Padahal kita telah berusaha berbuat baik dan selalu aktif dalam organisasi agama ? sembahyang yang rutin, giat menjadi pejuang Tuhan dan berkorban baik materi maupun tenaga namun demikian nasib ini tetap saja tiada berubah ! keluhan-keluhan itu sama saja dengan doa negative. Ketika kita sering mengeluh dan menggerutu, maka apa yang kita gerutui malah terjadi. Pikiran negative yang ada pada diri kita akan terus memancar menjadi doa negative yang justru bisa muncul. Seperti ketika kita selalu curiga kepada suami –suami yang pulang malam pasti dia selingkuh. Bila pikiran negative itu terus dimunculkan dalam diri kita, maka suatu saat suami- suami Anda akan selingkuh juga. Untuk itulah jangan sekali kali dalam pikiran kita muncul hal- hal yang kotor, sehingga hal yang kotor itu akan muncul kepermukaan. Sebaliknya kita harus memiliki pikiran yang positif, sehingga akan menjadi doa yang hidup dan memberi kehidupan yang positif bagi kita. Pikiran positif itu memiliki kekuatan yang positive pula seperti apa yang dikatakan Makoto sebagai berikut :

“ Pikiran memiliki kekuatan, kita dapat merubah kenyataan melalui pikiran kita. Pikiran sudah pasti dapat mengubah kenyataan. Tapi, jika kita tidak mempercayainya maka kenyataan pun tidak akan berubah ( Makoto Shichida.2014: P 5) 
Jauhnya berkah yang turun dari Tian, semata mata kita harus koreksi diri apakah sudah melakukan kebaikan dalam hidup ini ? apakah kita sudah tulus dalam menjadi pejuang Tuhan sehingga Tuhan akan benar-benar melimpahkan berkahNya kepada kita. Sering kita tidak sadari bahwa perjuangan kita masih jauh dari ketulusan atau juga kita belum menyadari bahwa Tian dalam kehidupan ini selalu menguji umatnya. Dikala kita diuji oleh Tian, maka kita harus memiliki mental yang kuat, tahan bantingan serta jiwa yang stabil sehingga Tian akan justru memberikan berkah setelah kita lulus dari ujian itu. Ujian Tian tidak akan melampau kemampuan Anda, sebab setiap ujian yang diberikan kepada manusia pasti di batas kemampuannya. Ujian ujian itulah yang menjadikan diri kita semakin tabah serta selalu menyukuri apa yang telah kita terima dari Tuhan. Tanpa ada rasa syukur, maka kita menjadi seorang yang mudah menyalahkan orang lain dan menjadikan hati kita berprasangka buruk, emosi, marah yang memalukan. Disilah letak kebesaran Tuhan itu, Tuhan ingin umatnya menjadi seorang yang sabar dan syukur, tahan ujian dan godaan sehingga setelah ujian itu lulus maka berkah yang datang bisa dinikmati dengan benar- benar. Pernahkan kita rasakan bahwa ketika selama satu minggu kita hidup dalam kesenangan dan foya foya, maka ketika  hari  minggu tiba, kita tidak bisa merasakan nikmatnya hari minggu. Namun ketika selama seminggu itu kita memiliki beban pekerjaan yang berat, pekerjaan yang membosankan, tugas-tugas kampus yang menjengkelkan, maka ketika tugas itu bisa diselesaikan dengan baik, dan tibalah hari minggu  suatu hari yang Anda nantikan pastilah Anda menemukan hari yang sangat berarti. Maka kenikmatan hidup itu bukan suatu hal yang diobral, Tuhan tahu kapan Anda harus menerima ujian dengan kesengsaraannya, Tuhan juga tahu kapan Anda bisa menikmati indahnya berkah dari-Nya. Hanya dengan demikian maka Anda telah hidup dalam keharmonisan Agung dengan Tuhan. Inilah bagian dari Yin Yang  seperti roda mobil berputar. Ada saatnya roda itu diatas dan ada kalanya roda itu di bawah. Ketika roda diatas, maka jangan tamak dan sombong sebab pada saatnya nanti Anda akan juga dibawah. Ada kalanya dompet kita kosong dan ada kalanya dompet kita penuh uang. Begitulah roda berputar, jika saat roda di bawah, Anda harus yakin bahwa suatu saat terang akan datang dan kebahagiaan, kenikmatan akan hadir pada Anda. Anda cukup  berdoa dalam Tuhan secara sungguh-sungguh, doa yang progresif melalui ketekuanan  dan ketulusan, diimbangi dengan perbuatan baik maka Tuhan tidak akan tinggal diam. Berdoalah kepada Tian sebab hanya Tian sajalah tempat untuk kita meminta itu .  
“ Ji (Sembahyang/ ibadah) oleh orang yang bijaksana yang berkebajikan ( Xian Zhe) pasti akan menerima berkah bahagia”  (Li Ji XXII , Ji Tong :2, hal. 529 ).
Diantara kita sering lupa bahwa sembahyang bukan saja secara progresif dan kontinu, melainkan kita berdoa harus dengan sungguh- sungguh meskipun berkah Tian itu sangat sederhana berupa sayur sekalipun. Rasa menyukuri berkah Tian tidak boleh memilih- milih, artinya bahwa ketika mendapatkan rejeki besar baru berdoa, namun mendapatkan rejeki kecil mengabaikan doa. Tidak demikian, Nabi mengajarkan kepada kita dari hal yang sangat sederhana meski hanya makan nasi dan lauk sayurpun harus berdoa dengan sungguh-sungguh.

Meskipun makan nasi dengan sayur yang sangat sederhana, niscaya disembahyangkan . Sembahyang dilakukan dengan sungguh-sungguh  ( Lun Yu X :11 ).
Dianatara kita masih banyak yang tidak memperhatikan ajaran Nabi, kita harus selalu berdoa kepada Tuhan dalam keterbatasan kita dan dalam posisi berkah itu ada maupun belum ada. Kerutinan doa kita akan menjadi hal yang diperhatikan oleh Tuhan seperti apa yang telah dijanjikan oleh Nabi KongZi.

Rohaniwan pelayan umat pasti memahami bahwa perlunya menjadi pejuang Tuhan yang bahagia dalam Tuhan dengan memenuhi dirinya dengan Iman. Melalui pendekatan pendekatan dengan Iman maka akan jauh dari rasa gerutu baik gerutu kepada Tian maupun gerutu kepada manusia. Menyadari akan pentingnya kebahgian dalam setiap langkah perjuangannya, menjadikan hidup ini penuh arti. Sehingga ketika mereka jauh dari keluarga, hidup dalam keterbatasan, gaji dan honor masih belum tiba sementara kantong ini kosong, mereka masih bisa merasakan kebahagiaan dalam Tuhan. Beda dengan ketika seorang itu jauh dari Iman, maka akan timbul sikap egoisnya, mudah tersinggung dan suka emosi dalam menghadapi perjobaan hidup. Sikap inilah yang saya katakan sebagai seorang yang telah berjuang atas nama Tuhan, namun jiwa dan hatinya kosong akan Iman. Kondisi yang demikian ini menjadikan rohaniwan yang lemah hatinya, kering jiwanya dan tipis Imannya. Rohaniwan- rohaniwan yang dibentuik dari jiwa yang kering ini akan mudah mengeluh, suka marah, suka menghakimi, ingin berdebat kusir. Pada umumnya rohaniwan model seperti ini akan mudah lari dari Iman Khonghucu dan lari kepada Iman lain atau juga akan menjadi racun yang selalu menghambat rohaniwanlain untuk memajukan agama Khonghucu.

Maka kita semua harus melakukan perubahan mental secara keseluruhan, banyaknya rumor belakangan ini dimana banyak rohaniwan kita yang temperamen emosinya tinggi serta mudah tersinggung adalah venomena ( gejala ) yang tidak sehat dalam lingkungan keagamaan. Kita harus mencari sebab-sebab sampai pada akar permasalahannya. Sikap memarginalkan rohaniwan yang terjadi bertahun-tahun, membiarkan permasalahan yang muncul tanpa ada penyelesaian secara bijaksana, konflik antar rohaniawan, jauhnya sikap ketauladanan dll menjadikan budaya buruk yang harus dirubah dan dibenahi.

Ketika saya berjumpa dengan salah satu Tokoh Kelenteng DR.Ir.Nelwan ( dosen ) sebagai pemprakarsa Gus Dur sebagai bapak Tionghoa, beliau juga seorang yang memberikan fasilitas Ruko kepada Matakin Kota Semarang dengan cuma-cuma. Beliau sangat prihatin dengan sikap para pejuang agama di Kelenteng yang dalam pertemuan dan rapat-rapat sangat liar dalam bertutur kata serta kasar dalam bertindak. Suasana rapat keagamaan yang menjadikan gelas- gelas terbang, sungguh sangat memalukan. Apa yang akan di cari dalam agama ini ? bukankah kedamainan dan kebahagiaan, kekeluargaan. Sementara diluar diri kita, mereka saling mengunjungi orang-orang kita yang sakit, mendoakan, mengajak untuk melakukan persekutuan yang damai, tentram dan lagu-lagu yang menggairahkan sehingga keluarga kita menjadi simpatik.Bukan sebaliknya di lingkungan kita yang selalu cekcok dan konflik yang tidak jelas tujuannya. Bahkan menurut beliau, ada seorang tokoh dan pejuang di Kelenteng gak Lombok yang betul-betul memiliki  iman dan prinsip agamanya kuat harus pindah agama karena anaknya yang sakit kanker telah sembuh berkat doa dari kaum misionaris !. Kenyataan pahit inilah yang harus dibuka oleh para rohaniwan Khonghucu. Nampaknya cerita Pak Nelwan bukan saja terjadi di Kelenteng gang Lombok saja. Hampir diberbagai tempat aktifitas Khonghucu saya juga mendapatkan cerita yang sangat memprihatinkan berkaitan dengan banyaknya sikap rohaniwan dan umat kita yang jauh dari misi dan visi agama. Apabila tempat ibadah kita telah dimasuki oleh racun kebiadatan dan jauh dari nilai moral agama, maka kita akan terjebak pada permasalahan baru dimana generasi muda kita mulai tidak simpati lagi dengan agama kita. Hal inilah menjadi panggilan bagi kita semua untuk merubah, membenahi, melakukan langkah langkah baru guna menata rohaniwan kita menuju pada visi dan misi yang jelas agar tujuan agama ini bisa tercapai dengan baik.

Saya berkeyakinan bahwa dengan memantapkan Iman para rohaniwan serta melakukan perbaikan dalam sistem pengangkatan rohaniwan melalui sistem yang benar, maka akan didapatkan peningkatan mutu rohaniwan dengan benar pula. Kesemuanya itu bisa terlaksana apabila kita masuk dalam visi yang sama yakni rohaniwan itu melayani bukan dilayani. Perubahan visi ini sangat sulit sekali, tetapi kita harus melakukannya dalam memasuki kebutuhan umat saat sekarang ini.

Daftar Pustaka
Makoto Shichida.2014.Whole Brain Power.PT.Gramedia.Jakarta.
Kitab Li JI Agama Khonghucu
Kitab Shu Jing Agama Khonghucu

 

 

 

 

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:186 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:179 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:112 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:651 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

05-09-2017 Hits:601 Berita Foto

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

Talkshow interaktif dengan Nara Sumber Js. Liem Liliany Lontoh; Hotel Aston ruang Asoka Lt. 2; Manado, 01 September 2017.

Read more

Anti Narkoba

28-08-2017 Hits:111 Berita Foto

Anti Narkoba

Surabaya, 28 Agustus 2017 pertemuan BNN (Badan Narkotika Nasional) di Hotel Santika Surabaya yang dihadiri oleh beberapa sukarelawan.

Read more

Pulau Nan Indah

22-08-2017 Hits:191 Berita Foto

Pulau Nan Indah

Kami mengajak para pencinta alam Indonesia untuk berkeliling ke tiga pulau di Wilayah Sumenep-Madura.

Read more

Tokoh Matakin Berpulang

08-08-2017 Hits:1145 Berita Foto

Tokoh Matakin Berpulang

Wu Hu Ai Zai, telah kembali ke Haribaan Huang Tian, Xs Hanom Pramana Buanadjaja (Phwa Tjhiang Han/Pan Chang Han 潘昌汉)...

Read more

Nganjuk Penuh Kedamaian

27-07-2017 Hits:307 Berita Foto

Nganjuk Penuh Kedamaian

Kunjungan FKUB provinsi Jatim hari kedua di FKUB Kabupaten Nganjuk. Kunjungan di Nganjuk diterima di kantor Kesbangpol. Hadir dalam pertemuan...

Read more

FKUB Jatim Turba

26-07-2017 Hits:178 Berita Foto

FKUB Jatim Turba

Rapat koordinasi dan silaturahim FKUB Kabupaten Mojokerto yang dihadiri oleh jajaran pengurus FKUB Kabupaten Mojokerto, Bupati dan para Camat, Bakesbangpol,...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 68 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com