spocjournal.com

Pendapat Hukum Dan Penjelasan Berkaitan Dengan Tahun Baru Imlek Sebagai Hari Raya Umat Khonghucu

 

 

 

 

 

 

Oleh : Js. Sofyan Jimmy Yosadi, SH.
(Yang Chuan Xian 楊 传 贤)

MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) / Pimpinan Pusat MATAKIN 印尼 孔教總會 Yinni Kongjiao Zonghui), adalah Lembaga Keagamaan umat Khonghucu di Indonesia yang diakui eksistensinya oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Sesuai dengan Anggaran Dasar MATAKIN Hasil Penyempurnaan berdasarkan Musyawarah Nasional (Munas) MATAKIN pada tanggal 20-22 Desember 2018, pada Bab I Pasal 1 Anggaran Dasar MATAKIN :
“Majelis ini bernama Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia atau The Supreme Council for Confucian Religion In Indonesia atau ‘Yinni Kongjiao Zhonghui (印尼 孔教總會)’ dan disingkat MATAKIN. Spirit Majelis ini berawal dari berdirinya Ming Cheng Shu Yuan tahun 1729 dan Tionghoa Hwee Kwan tahun 1900, Majelis ini mula-mula mengadakan Kongres nasional pertama kali di Jokyakarta pada tahun 1923. Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia, Majelis ini mengadakan kongres kembali di Solo Jawa Tengah, Indonesia, pada tanggal 16 April 1955 (sebelumnya disebut Perserikatan Khung Chiau Hui Indonesia), untuk jangka waktu yang tidak terbatas”. (Keputusan Musyawarah Nasional XVIII / 2018 Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia Nomor : 006/Munas XVIII/MATAKIN/2018 yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 21 Desember 2018.

Setahun setelah Republik Indonesia Merdeka, tepatnya tahun 1946, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Penetapan Pemerintah tentang Hari Raya, Nomor 2/OEM-1946 yang ditandatangani Presiden Soekarno dimana menurut Pemerintah RI, Hari Raya Agama Khonghucu adalah Tahun Baru Imlek, Hari Lahir Nabi Kongcu, Ching Bing, Hari Wafat Nabi Kongcu. Ada empat hari raya Khonghucu yang diakui Pemerintah Republik Indonesia saat itu.

Tahun 1965, Terbitlah Penetapan Presiden No. 1 tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan / atau Penodaan Agama. Penpres ini ditandatangani Presiden Soekarno. Dalam Penjelasan Penpres No. 1 tahun 1965 disebutkan bahwa agama-agama yang dipeluk oleh Penduduk Indonesia ialah Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha dan Khonghucu (Confusius).

Pada tahun 1967, terbitlah Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 14 tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 6 Desember 1967 dan ditandatangani Pejabat Presiden Republik Indonesia Jenderal TNI Soeharto. Sejak saat itu, perayaan tahun baru Imlek sebagai hari raya umat Khonghucu dan turut dirayakan masyarakat Tionghoa yang bukan beragama Khonghucu mulai dibatasi dan tidak boleh dilaksanakan dimuka umum sebagaimana ketentuan dalam Inpres No. 14 tahun 1967 tersebut.

Pada tahun 1969, terbitlah UU No. 5 tahun 1969 tentang Pernyataan berbagai Penetapan Presiden dan Peraturan Presiden menjadi Undang-Undang. Penetapan Presiden No. 1 tahun 1965 menjadi Undang-Undang melalui UU No. 5 tahun 1969 yang disahkan di Jakarta pada tanggal 5 Juli 1969 dan ditandatangani Presiden Republik Indonesia Jenderal TNI Soeharto.

Pada tahun 2000, Presiden KH. Abdurrahman Wahid menerbitkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 6 tahun 2000 tentang Pencabutan Instruksi Presiden No. 14 tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan dan adat Istiadat Cina. Keppres No. 6 tahun 2000 ditetapkan di Jakarta pada tanggal 17 Januari 2000 dan ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid.

Sejarah dibalik terbitnya Keputusan Presiden No. 6 tahun 2000 adalah jawaban Gus Dur sebutan akrab KH. Abdurrahman Wahid ketika diminta tokoh-tokoh umat Khonghucu pimpinan MATAKIN yang memohon Gus Dur memulihkan hak-hal sipil umat Khonghucu dan berkenan memberikan “restu” penyelenggaraan Perayaan tahun baru Imlek Nasional yang disingkat Imleknas.  Inisiatif para Tokoh MATAKIN menyelenggarakan Imleknas saat itu masih terbelenggu dengan adanya Instruksi Presiden No. 14 tahun 1965 yang ditandatangani Presiden Soeharto. Maka, suatu saat di Istana Negara dihadapan para tokoh Lintas agama, Presiden KH. Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa beliau baru saja membereskan persoalan yang membelenggu umat dan kelembagaan Khonghucu dengan mencabut Inpres no. 14 tahun 1967 dengan menerbitkan Kepres nomor 6 tahun 2000.

Pada tanggal 17 Februari 2000, diselenggarakan Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional (Imleknas) 2551 Kongzili oleh Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) yang dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid dan Ibu Negara Hj. Shinta Abdurrahman Wahid, Wakil Presiden RI Megawati Soekarno Putri dan Taufik Kemas serta Ketua MPR RI Amin Rais, Ketua DPR RI Akbar Tanjung, puluhan Menteri dan duta besar, ratusan tokoh agama dan masyarakat kurang lebih 3000-an undangan yang memadati Balai Sudirman Jakarta.

Presiden Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah memulihkan hak-hak sipil umat Khonghucu. Pada tahun 2001, terbitlah Keputusan Presiden Nomor 19 tahun 2001 tertanggal 9 April 2001 yang ditandatangani Presiden KH. Abdurrahman Wahid, menyatakan tahun baru Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Pada tanggal 28 Januari 2001 Presiden KH. Abdurrahman Wahid hadir untuk kedua kalinya saat penyelenggaraan Imleknas 2552 Kongzili yang diselenggarakan MATAKIN.

Pada tanggal 17 Februari 2002, diselenggarakan Imleknas 2553 Kongzili yang dihadiri Presiden Megawati Soekarno Putri. Saat memberikan Sambutan pada perayaan Imleknas, Presiden Megawati Soekarno Putri menyatakan memberi kado istimewa bagi umat Khonghucu dan masyarakat Tionghoa yang turut merayakan tahun baru Imlek dengan memberikan kebijakan untuk libur nasional bukan lagi libur fakultatif. Hal tersebut ditindaklanjuti dengan terbitnya Keputusan Presiden No. 19 tahun 2002 tentang Hari Tahun Baru Imlek yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 9 April 2002 dan ditandatangani Presiden RI Megawati Soekarno Putri.

Bagi sebagian masyarakat menafsirkan terbitnya Keputusan Presiden nomor 19 tahun 2002 yang ditandatangani Presiden Megawati Soekarno Putri dimana dalam Kepres tersebut dalam diktum Menimbang (b) menyatakan bahwa Tahun Baru Imlek merupakan tradisi masyarakat Cina yang dirayakan secara turun temurun di berbagai wilayah di Indonesia, seolah-olah pemerintah mengakui Tahun Baru Imlek sebagai tradisi belaka bukan hari raya keagamaan. Padahal, diktum menimbang adalah suatu kesatuan.  Hal ini dapat dilihat secara komprehensif pada menimbang (a) yang menyatakan bahwa penyelenggaraan kegiatan agama, kepercayaan, dan adat istiadat, pada hekekatnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hak asasi manusia. Ada kata agama, kepercayaan dan adat istiadat. Yang terpenting dan harus dipahami bahwa substansi Keputusan Presiden No. 19 tahun 2002 adalah Menetapkan Hari Tahun Baru Imlek sebagai Hari Nasional (pasal 1 Keputusan Presiden RI Nomor 19 tahun 2002).

Keputusan Presiden No. 19 tahun 2002 ini kemudian ditindaklanjuti Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia nomor 331 tahun 2002 tentang Penetapan Hari Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional dan kemudian yang memutuskan mencabut Keputusan Menteri Agama No. 13 tahun 2001 tentang Penetapan Imlek sebaga Hari Libur Fakultatif. Keputusan Menteri Agama Nomor 331 tahun 2002 ditandatangani dan ditetapkan di Jakarta pada tanggal 25 Juni 2002 oleh Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. H. Said Agil Husin Al Munawar, MA. Jika berkaitan dengan urusan keagamaan maka adalah hak & wewenang Menteri Agama. Maka dapat dipandang bahwa Keputusan Menteri Agama tersebut berkaitan dengan Perayaan Tahun Baru Imlek sebagai hari raya bagi umat Khonghucu.

Pada tanggal 28 Desember 2005, Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia dalam suratnya yang ditujukan kepada MATAKIN memberikan penjelasan bahwa UU No. 1 tahun 1965 jo. UU No. 5 tahun 1969 masih berlaku dan mempunyai kekuatan hukum yang mengikat.

Sejak tahun 2006, umat dan kelembagaan Khonghucu mengalami puncak pemulihan Hak-hak sipil dimasa Presiden RI Dr. Susilo Bambang Yudhoyono. Pelayanan hak sipil tersebut adalah umat Khonghucu bisa mencantumkan agama Khonghucu pada kolom KTP, perkawinan pasangan Khonghucu mulai dicatat oleh negara dalam hal ini Catatan Sipil, murid-murid dan Mahasiswa Khonghucu mendapatkan pendidikan agama Khonghucu, guru-guru dan Dosen agama Khonghucu dapat memberikan pelajaran dan mata kuliah agama Khonghucu, umat dan lembaga MATAKIN mendapatkan pelayanan di Kementrian agama Republik Indonesia dan diberikan bantuan oleh negara, tokoh-tokoh Khonghucu menjadi pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) baik tingkat Provinsi maupun tingkat Kabupaten Kota, serta masih banyak lagi pelayanan hak sipil bagi umat Khonghucu yang dilayani oleh negara.

Perayaan tahun baru Imlek nasional yang diselenggarakan oleh MATAKIN dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia setiap tahunnya. Namun, belakangan Presiden RI Joko Widodo belum pernah sekalipun hadir saat Imleknas dan memutus mata rantai sejarah yang ditorehkan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarno Putri hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Walaupun sejumlah Menteri hadir saat Imleknas bahkan Menteri Agama setiap tahun hadir saat Imleknas namun kerinduan umat Khonghucu di seluruh pelosok negeri akan hadirnya Presiden Joko Widodo terus menjadi pergumulan dan penantian bersama.

Perayaan tahun baru Imleknas berkali-kali menghadapi banyak tantangan dimana banyak elemen masyarakat yang berusaha menyelenggarakan Imleknas dengan mengabaikan Imleknas yang diselenggarakan MATAKIN. Bahkan upaya terus menerus yang dilakukan secara sistematis dan masif dari berbagai elemen tersebut diantaranya membuat banyak tulisan atau artikel yang menyatakan bahwa tahun baru Imlek bukan perayaan keagamaan artinya bukan hari raya agama Khonghucu namun hanya budaya Cina semata.

Ada pula berbagai artikel dan argumentasi yang sengaja mengaburkan sejarah dan makna penanggalan Imlek dengan “tidak mengakui” penanggalan Kongzili dimana hari raya tahun baru Imlek dihitung dari usia Nabi Kongzi yakni 551 sM. Tahun ini disebut Tahun Baru Imlek 2570 Kongzili karena dihitung usia kelahiran Nabi Kongzi 551 ditambah 2019 menjadi 2570. Padahal justru pemerintah Republik Indonesia dalam menetapkan hari libur nasional memakai penanggalan Kongzili artinya mengakui penanggalan Imlek berdasarkan usia kelahiran Nabi Kongzi.

Tentu saja hal-hal seperti ini perlu diluruskan, bahwa adalah hal yang tidak mungkin Pemerintah Republik Indonesia membuat keputusan berkaitan dengan Hari libur nasional karena perayaan etnis tertentu. Apakah terlalu istimewa Etnis Tionghoa atau etnis Cina jika hari raya Imlek karena adat istiadat budaya Tionghoa semata ?. Jika ada perayaan yang berkaitan dengan etnis tertentu dan pemerintah Republik Indonesia mengakomodirnya menjadi hari libur nasional maka etnis yang lain di Republik ini akan menuntut hal yang sama. Bayangkan, Ada lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia atau tepatnya 1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010. Jika pemerintah Republik Indonesia mengakomodir hari libur nasional berdasarkan etnis maka setiap hari adalah hari libur nasional.

Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, Menteri Pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi Republik Indonesia Nomor : 617 tahun 2018, nomor 262 tahun 2018, Nomor 16 tahun 2018 tentang Hari Libur Nasional dan Hari Cuti Bersama tahun 2019 yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 2 November 2018 oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri,    Menteri Pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi Syafrudin, ada 15 Hari Libur Nasional yang terdiri dari 12 Hari Raya Keagamaan (Islam 5 Hari Raya, Kristiani  4 hari raya, Hindu 1 hari raya, Buddha 1 hari raya, dan Khonghucu 1 hari raya). Khusus Hari Raya Khonghucu oleh pemerintah ditetapkan tahun baru Imlek 2570 Kongzili, memakai penanggalan Kongzili. Sedangkan libur nasional umum ada tiga yakni Hari Buruh International, Hari Lahir Pancasila dan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bagi umat Khonghucu, tahun baru Imlek adalah hari raya keagamaan. Hal ini berdasarkan kitab suci agama Khonghucu 儒 教 經 書 Ru Jiao Jing Shu yakni Kitab Si Shu (四书) dan Kitab Wu Jing (五经). Banyak ayat suci dalam kitab suci agama Khonghucu yang menjadi dasar kajian teologis, historis dan filosofis yang tentu saja diimani oleh umat Khonghucu. Perintah agama tersebut disadari dan diimani setiap umat Khonghucu yang melaksanakan berbagai ritual keagamaan sejak seminggu jelang tahun baru Imlek hingga 15 hari sesudah tahun baru Imlek. Kitab suci agama Khonghucu yang usianya ribuan tahun menjadi dasar agamis dan iman setiap insan Khonghucu untuk memaknai perayaan tahun baru Imlek bukan sekedar budaya semata. Tentu saja disadari setiap agama diperkaya budaya dimana asal agama tersebut dan mengalami akulturasi budaya saat penyebaran agama tersebut termasuk agama Khonghucu yang diiringi budaya Tionghoa dimana asal agama Khonghucu dari China / Tiongkok.

Bagi masyarakat Tionghoa yang bukan beragama Khonghucu dan ikut merayakannya sebagai budaya Tionghoa tentu saja tidak dilarang tapi alangkah bijaknya jika turut pula menghormati umat Khonghucu yang mengimani berdasarkan kitab suci, kajian historis dan filosofis dengan tidak menyatakan bahwa tahun baru Imlek bukan hari raya keagamaan. Marilah kita menghargai perbedaan masing-masing dan menyambut tahun baru Imlek dengan suka cita, persaudaraan dan kekeluargaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) / Pimpinan Pusat MATAKIN 印尼 孔教總會 Yinni Kongjiao Zonghui) akan menyelenggarakan Perayaan tahun baru Imlek Nasional (Imleknas) di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta pada hari Minggu tanggal 10 Februari 2019 dengan harapan Presiden RI Joko Widodo akan menghadiri Kegiatan Imleknas dan tentu saja dirindukan kehadiran Presiden oleh semua umat Khonghucu diseluruh Indonesia.

Adapun jika ada elemen masyarakat Indonesia yang turut pula merayakan Tahun Baru Imlek dari sisi budaya semata adalah hal biasa dan patut kita hormati bersama sebagaimana undangan yang beredar dimana-mana, bahwa akan ada Imleknas yang diselenggarakan beberapa organisasi Tionghoa Indonesia pada tanggal 7 Februari 2019.

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan, saling menghormati perbedaan dan keyakinan merupakan rahmat dan berkat mulia dari sang pencipta. Hidup rukun dan damai dalam bingkai kebhinekaan dengan landasan ideologi Pancasila adalah anugerah terindah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Manado, 27 Januari 2019
Jiaosheng 教生 (Js) Sofyan Jimmy Yosadi, SH. (Yang Chuan Xian 楊 传 贤)
Advokat, anggota Dewan Rohaniwan / Pimpinan Pusat MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) / Pimpinan Pusat MATAKIN 印尼 孔教總會 Yinni Kongjiao Zonghui), Ketua Tim Hukum & Advokasi MATAKIN.

 

 

 

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Papa Dan Mama Mertuaku Pergi Selamanya

21-03-2019 Hits:111 Berita Foto

Papa Dan Mama Mertuaku Pergi Selamanya

Pagi itu seperti biasa, saya datang ke rumah papa dan membawa mie pangsit.

Read more

Sarasehan Kerukunan

21-02-2019 Hits:103 Berita Foto

Sarasehan Kerukunan

Sarasehan kerukunan antar umat beragama se Jawa Timur tahun 2019 di Harris Hotel & Conventions, Kota Malang berlangsung dari tanggal...

Read more

Imlek Hari Raya Khonghucu

10-02-2019 Hits:450 Berita Foto

Imlek Hari Raya Khonghucu

Dihadapan kaca mata pemerintah bahwa Imlek adalah Hari Raya Keagamaan yakni Hari Raya Khonghucu meski didalam masyarakat Tionghoa ada yang...

Read more

Marina Bay Sands

04-02-2019 Hits:120 Berita Foto

Marina Bay Sands

Malam kedua, pindah hotel dari Hard Rock Sentosa Island menuju Marina Bay Sands. Hotel Marina Bay Sands lebih mewah dari...

Read more

Embun Pagi Hard Rock Hotel Dan Begadang Di Clarke Quay

03-02-2019 Hits:60 Berita Foto

Embun Pagi Hard Rock Hotel Dan Begadang Di Clarke Quay

Photo didepan hotel Hard Rock, Sentosa Island. Udara cukup sejuk meski siang hari terasa panas. Nampak pantai-pantai buatan yang dirancang...

Read more

Dari Sentosa Island Dan Bendera

03-02-2019 Hits:64 Medissa

Dari Sentosa Island Dan Bendera

Bertemu dengan kawan lama bila direncanakan biasanya malah sulit. Nanum sebaliknya bila dilakukan dengan spontanitas justru bisa berjumpa. Seperti apa...

Read more

Mas Danang Melestarikan Kearifan Lokal

02-02-2019 Hits:135 Medissa

Mas Danang Melestarikan Kearifan Lokal

Meskipun mas Danang baru saja bergabung dalam groub WA Medissa namun sudah kelihatan bakat serta semangat hidupnya dalam mengembangkan kearifan...

Read more

Warung Ndiko Dan Reuni Kecil

02-02-2019 Hits:98 Medissa

Warung Ndiko Dan Reuni Kecil

Bertemu dengan kawan lama bila direncanakan biasanya malah sulit. Nanum sebaliknya bila dilakukan dengan spontanitas justru bisa berjumpa. Seperti apa...

Read more

Amora Lagoon Srilanka

27-01-2019 Hits:48 Berita Foto

Amora Lagoon Srilanka

Sebelum meninggalkan South Point Villas berpoto bersama didepan Villa. Photo bersama dan selanjutnya rombongan menuju Pagoda.

Read more

Ishq Villas

26-01-2019 Hits:73 Berita Foto

Ishq Villas

Prosesi pernikahan sekaligus jamuan makan malam di Ishq Villas. Mulai jam 15 prosesi upacara secara Srilanka yang kental dengan Hinduisme...

Read more

Jurnal Penelitian Pengaruh Etika Confucius Terhadap Kewirausahaan, Kemampuan Usaha Dan Kinerja Usaha Pedagang Eceran Etnis Tionghoa Di Surabaya.,
karya dari DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA


Wei De Dong Tian, Jalan Menuju Tuhan, Sebuah Kumpulan Khotbah Minggu
karya dari DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Untuk informasi lebih lanjut Contact Us

Gallery Download

Download Cahaya Setia 471-480

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Menurut Anda apa yang paling penting dilakukan saat Imlek ?

Bersembahyang leluhur - 0%
Menerima Angpao - 0%
Membeli baju baru - 0%
Sembahyang di Kelenteng - 0%
Berkunjung ke sanak-saudara - 0%

Total votes: 0
The voting for this poll has ended on: March 30, 2018

Who's Online

We have 26 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com