spocjournal.com

Universitas Kartini Surabaya : Hukum Perbankan (Bagian V) Bank Syariah

 Oleh : Ir. Leny Poernomo, SH, MH

I. PANDANGAN ISLAM

A. ISLAM SEBAGAI AGAMA YANG LENGKAP DAN UNIVERSAL

Islam merupakan suatu Agama yang lengkap, komprehensif dan berlaku bagi Umat Manusia secara keseluruhan, mengatur ritual keagamaan dan mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk masalah perekonomian, keuangan, perbankan, industri, perdagangan dan sebagainya.
Khususnya perbankan, bahwa sejak jaman Nabi kegiatan- kegiatan yang mirip perbankan sudah ada, misalnya penyimpan harta, pengiriman harta dan perniagaan lainnya.

B. ISLAM SEBAGAI SUATU SISTEM HIDUP

Syariah Islam sebagai suatu aturan dan sistem Keagamaan dan kehidupan yang komprehensif dan Universal, merupakan sistim hidup seluruh manusia :

  1. Komprehensif berarti Syariah Islam merangkum seluruh aspek kehidupan, baik RITUAL (ibadah) maupun SOSIAL (muamalah)
  2. Universal berarti Syariah Islam dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat, serta tidak membeda –bedakan suku bangsa, warna kulit, strata sosial, Muslim non Muslim dan lain sebagainya.

Syariat Islam yang berkaitan dengan Muamalah (kegiatan social) terdiri dari 2 PRINSIP penting yaitu :
TAWABIT WA MUTAGHAYYIRAT yaitu :

PRINCIPLES

Prinsip disektor Perekonomian antara lain :
Larangan RIBA (memungut BUNGA), SISTEM BAGI HASIL, boleh mengambil keuntungan dalam Perdagangan, dll.
Sebagai contoh antara lain :

  • Prinsip jual-beli dalam Modal kerja
  • Azas mudarabah (Bagi Hasil) dalam Investasi
  • Akad Bai’assalam (Pembiayaan Usaha Pertanian)

 

SKEMA SYARIAH ISLAM
DALAM KEGIATAN MUAMALAH (SOSIAL)

ISLAM
!­­­­­­­-----------------------------!------------------------------!
AQIDAH                             SYARIAH                           AKHLAQ
!
MUAMALAH
!
PUBLIC RIGTS
!
INTERIOR AFFAIR
!
ECONOMI
!
FINANCE
!
LEASING ! INSURANCE ! BANKING ! MORTAGAGE !

! VENTURE CAPITAL !

 

C. PANDANGAN ISLAM TERHADAP HARTA DAN EKONOMI

Dalam rangka tugas kekhalifahan didunia manusia berkewajiban mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan dalam hidup dan kehidupan, serta tugas pengabdian atau ibadah dalam arti luas.
Untuk menunaikan tugas tersebut manusia diberi dua pegangan oleh Allah SWT, yaitu :

a. MANHAJ AL HAYAT (Sistem Kehidupan)

Adalah seluruh Aturan Kehidupan Manusia yang bersumber kepada AL QUR’AN dan SUNNAHRASUL yang berbentuk :

  1. Keharusan melakukan atau sebaliknya melakukan sesuatu,
  2. Larangan melakukan atau sebaiknya meninggalkan sesuatu.

Aturan tersebut terkenal sebagai HUKUM LIMA, yakni :

  1. WAJIB (dilakukan berpahala, ditinggal berdosa)
  2. SUNNAH (dilakukan berpahala, ditinggal tidak apa apa)
  3. MUBAH (dikerjakan tidak apa-apa, ditinggal tidak apa-apa)
  4. MAKRUH (dikerjakan tidak apa-apa, ditinggal berpahala)
  5. HARAM (dikerjakan berdosa, ditinggal berpahala)

b. WASILAH AL HAYAT (Sarana Kehidupan)

Adalah sarana dan prasarana kehidupan yang diciptakan ALLAH SWT untuk kepentingan hidup manusia secara keseluruhan. Sarana dan prasarana kehidupan yang diberikan Allah berbentuk : Udara, air, tumbuh-tumbuhan, hewan ternak, barang tambang, hasil laut, harta benda lainnya yang berguna dalam kehidupan.

PANDANGAN ISLAM TERHADAP HARTA DAN EKONOMI adalah sebagai berikut :

Pertama   :    Pemilik mutlak segala sesuatu yang ada di muka Bumi ini, termasuk HARTA BENDA adalah ALLAH SWT. Kepemilikan oleh manusia hanya bersifat RELATIF DAN SEMENTARA, sebatas untuk melaksanakan AMANAH mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuan NYA dan sebatas umut hidupnya didunia.

Kedua     :    Status harta yang dimiliki manusia adalah sebagai berikut :

  1. Harta sebagai titipan atau AMANAH dari Allah dalam rangka menunaikan tugas ke Khalifahan didunia.
  2. Harta sebagai perhiasan hidup yang memungkinkan manusia bisa menikmatinya dengan baik dan idak berlebih-lebihan.
  3. Harta sebagai ujian keimanan, terutama menyangkut cara mendapatkan dan memanfaatkannya, apakah sesuai dengan ajaran Islam atau tidak.
  4. Harta sebagai bekal ibadah, yakni unuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan melaksanakan muamalah (aktifitas sosial) diantara sesama manusia, melalui kegiatan zakat, infak, sodakoh dll.

Ketiga   :    Pemilikan harta dapat dilakukan antara lain melalui USAHA atau MATA PENCAHARIAN yang halal dan sesuai dengan aturan Allah.

Keempat :Dilarang mencari harta, berusaha, atau bekerja yang dapat melupakan KEMATIAN, melupakan DZIKRULLAH (tidak ingat kepada Allah), melupakan SHALAT DAN ZAKAT dan dilarang MEMUSATKAN KEKAYAAN hanya pada sekelompok orang kaya saja.

Kelima   :    Dilarang menempuh usaha yang HARAM,seperti melalui kegiatan RIBA, perjudian, jual-beli barang terlarang, mencuri, merampok, curang dalam timbangan, suap menyuap dll.

D. NILAI-NIALI SISTEM PEREKONOMIAN ISLAM

1. PEREKONOMIAN MASYARAKAT SECARA LUAS, BUKAN HANYA KAUM MUSLIMIN SAJA, AKAN MENJADI BAIK, BILA MENGGUNAKAN KERANGKA KERJA DAN NORMA ISLAM.

Firman Allah dalam Al Qur’an, Surat Al Baqarah, Ayat 168: “Hai manusia, makanlah dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.
Surat Al JUMU’AH – Ayat 10 : “Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah dimuka bumi dan carilah karunia Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.
Karakteristik Sistem Ekonomi Islam adalah penyeimbangan antara ASPEK DUNIA DAN AKHIRAT, perpaduan antara UNSUR MATERI DAN SPIRITUAL, hal mana tidak terdapat pada sistem perekonomian KAPITALIS maupun SOSIALIS (Komunis)

  2. KEADILAN DAN PERSAUDARAAN PENYELURUH

Islam bertujuan untuk membentuk masyarakat dengan tatanan yang SOLID, setiap indivisu diikat oleh persaudaraan dan kasih sayang bagai satu keluarga sebuah persaudaraan yang universal dan tidak diikat batas geografis.
Keadilan dalam islam memiliki implikasi sbb :

a. KEADILAN SOSIAL PERSAUDARAAN MENYELURUH

Islam bertujuan untuk membentuk masyarakat dengan tatanan yang SOLID, setiap individu diikat oleh persaudaraan yang universal dan tidak siikat batas geografis.
Keadilan dalam Islam memiliki implikasi sbb :

 a.  KEADILAN SOSIAL

Islam menganggap Ummat Manusia sebagai suatu keluarga, semua anggota keluarga ini mempunyai derajat yang sama dihadapan Allah tindak membedakan yang kaya dan yang miskin, yang hitam dan yang putih. Secara sosial, nilai yang membedakan satu dengan yang lain adalah KETAKWAAN, KETULUSAN HATI, KEPEDULIAN DAN PELAYANANNYA PADA KEMANUSIAAN.
Perlakuan adil akan membawa kesejahteraan, karena kesejahteraan sangat bergantung pada diberlakukannya HUKUM ALLAH.

  b. KEADILAN EKONOMI

Konsep Keadilan ekonomi dalam islam mengharuskan setiap orang mendapatkan HAK nya dan tidak mengambil hak atau bagian orang lain. Setiap indivisu harus terbebas dari exploitasi indivisu lainnya. Islam melarang seseorang Muslim merugikan orang lain.
Peringatan akan ketidakasihan dan exploitasi ini dimaksudkan untuk melindungi hak-hak indivisu dalam masyarakat dan untuk meningkatkan kesejahteraan umum sebagai tujuan utama islam.

 3. KEADILAN DISTRIBUSI PENDAPATAN

Kesenjangan pendapatan dan kekayaan alam yang ada dalam masyarakat berlawanan dengan Komitmen Islam terhadap persaudaraan dan keadilan sosial serta ekonomi.  Kesenjangan harus diatasi dengan cara-cara yang islami, sebagai berikut :

Pertama :

  1. Menghapus Monopoli disegala bidang usaha (kecuali oleh Pemerintah untuk bidang tertentu)
  2. Menjamin hak dan kesempatan semua pihak untuk beraktifitas dibidang ekonomi, baik produksi, distribusi, sirkulasi, konsumsi dsb.
  3. Menjamin kebutuhan dasar hidup bagi setiap anggota masyarakat
  4. Melaksanakan SOCIAL ECONOMI SECURTY INSURANCE (Amananah at – takaaful al – ijtima’i) dimana orang yang mampu menanggung dan membantu orang yang tidak mampu.

Konsep keadilan Islam dalam distribusi pendapatan menghendaki setiap individu mendapatkan imbalan sesuai amal dan karyanya. Ketidak samaan pendapatan dimungkinkan karena kontribusi masing-masing orang kepada masyarakat berbeda-beda.

Kedua :
Islam membenarkan sesorang memiliki kekayaan lebih dari yang lain, dengan syarat :

  1. Kekayaan tersebut diperoleh secara benar (halal)
  2. Ybs telah menunaikan kewajibannya bagi kesejahteraan masyarakat, antara lain sudah membayar ZAKAT, INFAK, SODAKOH dsb.
  3. Orang yang dikaruniai banyak harta oleh Allah hendaknya tetap TAWADHU (rendah hati), tidak sombong, tidak pamer kekayaan.

4. KEBEBASAN INDIVIDU DALAM KONTEKS KESEJAHTERAAN SOSIAL

Manusia diciptakan oleh Allah, ia tidak tunduk kepada siapapun kecuali kepada Allah. Ini merupakan dasar bagi Konsep Kebebasan Ummat Islam dari segala bentuk PERBUDAKAN.
Islam mengakui PANDANGAN UNIVERSAL bahwa Kebebasan Individu bersinggungan atau dibatasi oleh kebebasan individu orang lain. Berkaitan dengan hak individu dengan masyarakat, kaum Muslimin berpegang pada prisnsip-prinsip sbb :

  1. Kepentingan masyarakat luas harus didahulukan dari kepentingan individu.
  2. MELEPAS KESULITAN harus diprioritaskan dibanding MEMBERI MANFAAT.
  3. Kerugian yang lebih besar tidak dapat diterima untuk menghilangkan kerugian yang lebih kecil. Manfaat yang lebih besar tidak dapat dikorbankan untuk manfaat yang lebih kecil. Bahaya yang lebih kecil harus diterima untuk menghindarkan bahaya yang lebih besar. Manfaat yang lebih kecil dapat dikorbankan untuk mendapat manfaat yang lebih besar.

 

II. PERKEMBANGAN SISTEM PERBANKAN SYARIA’AH

  1. AWALAKELAHIRAN SISTEM PERBANKAN SYARI’AH
  2. PEMBENTUKAN BANK-BANK SYARI’AH
  3. PERKEMBANGAN BANK-BANK SYARI’AH DI BERBAGAI NEGARA
  4. PERKEMBANGAN BANK SYARI’AH DI INDONESIA
  5. BAGAN INSTITUSI KEUANGAN ISLAM PADA SAAT SEKARANG (THEEXISTING ISLAMIC INSTITUTION)

 

A. AWAL SISTEM PERBANKAN SYARIAH

Tujuan utama pendirian Lembaga Keuangan berlandaskan Syaria’ah ini tiada lain sebagai upaya kaum muslimin untuk mendasari segenap aspek kehidupan ekonominya berlandaskan AL QUR’AN dan AS SUNNAH (AL HADIS). Titik awal penerapan system keuangan dan perbankan Syaria’ah adalah :

  1. Di pakistan dimulai penerapan system profit and loss sharing secara syari’ah pada Tahun 1940
  2. Di Malaysia kegiatan pengelolaan dana Jamaah Haji secara Non Conventional (secara Syari’ah) dimulai Tahun 1940
  3. Di  kota Kairo (Mesir) rintisan pendirian Islamic Rural Bank di desa MIT GHAMR pada 1963

Setelah rintisan awal yang cukup sederhana itu bank islam tumbuh dengan sangat pesat, sampai dengan akhir 1999 tercatat lebih dari DUA RATUS Lembaga Keuangan Islam yang beroperasi diseluruh dunia, baik di negara-negara berpenduduk Muslim maupun di Eropa, Australia, dan Amerika.
Saat ini banyak nama besar dalam dunia Keuangan International seperti Citibank, Jardine Flemming, Chase Chemical Bank dll. Telah membuka cabang berdasarkan Syaria’ah.
Para AHLI PERBANKAN diseluruh dunia menyatakan bahwa BANK ISLAM merupakan parter baru dalam pembangunan ekonomi dan keuangan.
Pada tahun 1970 dalam sidang OKI (Organisasi Koferensi Islam) di Karachi, Pakistan, diusulkan Proposal untuk mendirikan Bank Syari’ah, meliputi :

  1. Pendirian Bank Islam Internasional untuk Perdagangan dan Pembangunan (International Islamic Bank For Trade and Development)
  2. Federasi Bank Islam (Federation of Islamic Bank)
  3. Sistem keungan berdasarkan bunga harus digantikan dengan suatu sistem kerja sama dengan skema bagi hasil keuntungan maupun kerugian.

Proposal pada sidang OKI di Karachi tsb. Antara lain mengusulkan :

  1. Mengatur institusi pembangunan dan investasi
  2. Merumuskan masalah transfer, kliring, dll antar Bank Sentral Negara-Negara Islam, sebagai langkah awal menuju terbentuknya system ekonomi Islam yang terpadu.
  3. Membantu mendirikan Bank Sentral Syariah di Negara Islam.
  4. Mengatur administrasi dan menggunakan Dana Zakat.
  5. Mengatur kelebihan likuiditas Bank Sentral Negara Islam

Pada sidang OKI th. 1973 di Libya, diputuskan  OKI mempunyai Bidang yang khusus menangani ekonomi dan keuangan.
Pada 1974 OKI membuat Anggaran Dasar dan Rumah tangga Bank Islam pada sidangnya di Jedah, Saudi Arabia.
Pada 1975 OKI menyetujui pembentukan BANK PEMBANGUNAN ISLAM (Islamic Devopment Bank atau IDB) dengan modal awal sebesar Dinar Islam (DI) 2 milyar dan semua Negara OKI menjadi anggota IDB.

IDB ternyata mampu memainkan peran yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan Negara Islam untuk pembangunan dan jumlah anggotanya meningkat dengan pesat, yang semula hanya 22 negara menjadi 43 negara.

ISLAMIC RESEARCH AND TRAINING
IBD membantu mendirikan Bank-Bank Islam di berbabagai Negara.
Untuk pengembangan system ekonomi Syariah, IBD membangun sebuah institusi Riset dan Pelatihan ekonomi Islam dalam bidang Perbankan maupun Keuangan, yang diberi nama IRTI (Islamic Reseach and Training Institute).

 

PEMBENTUKAN BANK-BANK SYARI’AH

Berdirinya IDB memotivasi banyak Negara Islam untuk mendirikan Lembaga Keuangan Syari’ah. Pada sekitar 1970-1980 Bank-bank Syari’ah bermunculan di Mesir, Sudan, Negara-negra Teluk (TIMTENG),Pakistan, Iran, Malaysia, Bangladesh, dan Turki.
Lembaga-lembaga Keuangan Islam tersebut terdiri dari dua katagori, yaitu :

 a. Bank Islam Komersial (Islamic Comercial Bank)

Antara lain :

  1. Faisal Islamic Bank (Mesir dan Sudan)
  2. Kuwait Finance House
  3. Dubai Islamic Bank
  4. Jordan Islamic Bank
  5. Bahrain Islamic Investmen Bank

Lembaga Investasi dalam bentuk Internasional Holding Companies, antara lain :

  1. Daar al-Maal al-Islami (Jenewa)
  2. Islamic Investment Company of the Gulf
  3. Islmaic Investment Company (Bahama, Sudan, Amman dan Bahrain).

 

C. PERKEMBANGAN BANK – BANK SYARIA’AH DI BERBAGAI NEGARA

1. PAKISTAN

Pakistan merupakan PELOPOR dibidang perbankan Syariah. Pada th. 1979 sistem bunga dihapuskan dari tiga institusi keuangan penting, yaitu :

  1. National Investmen
  2. House Building Finance Corporation
  3. Mutual Funds of the  Investmen Corporation.

Pada 1979-80 Pemerintah Pakistan mensosialisikan skema pinjaman TANPA BUNGA kepada petani dan nelayan.
Pada 1981 diberlakukan UU Perusahaan Mudharabah dan Murahahah, dan mulai beroperasi 7000 cabang Bank Komersial Nasional diseluruh Pakistan dengan menggunakan system BAGI HASIL. Pada awal 1985 seluruh sistem perbankan Pakistan dikonversi dengan system Perbankan SYARIAH

2. MESIR

Bank syariah pertama yang didirikan di Mesir adalah FAISAL ISLAMIC BANK pada tahun 1978, berkembang dengan baik dan mampu mencapai keuntungan yang cukup mengesankan. Kemudian didirikan Islmaic International Bank for Investment and Development, dengan jaringan yang luas dan beroperasi sebagai Investment Bank, Merchant Bank, dan Commercial Bank.

3. SIRPUS

Pada tahun 1983  didirikan Faisal Islamic Bank of Kibris yang melaksanakan pembiayaan dengan system Musyarakah dan Mudharabah. Dan selanjutnya didirikan Bank baru bernama Faisal Islamic Investmen Corp.

4. KUWAIT

Kuwait Finance House didirikan pada tahun 1977 sejak awal beroperasi dengan system Syariah (tanpa bunga), memiliki puluhan Kantor Cabang diseluruh negara, dan memperoleh keuntungan usaha yang cukup tinggi.

5. BAHRAIN

Sejak th. 1999 telah beroperasi sekitar 22 Bank Syariah di Bahrain, antara lain:
Citi Islamic Bank of Banrain, Faisal Islamic Bank, dan AL Barakah Bank.

6. UNI EMIRAT ARAB

Pelopor perkembangan Bank Syariah di UEA adalah Dubai Islamic Bank yang didirikan pada 1975. Kegiatannya meliputi pembiayaan investasi Perumahan, Proyek-proyek Industri, dan Komersial.

7. MALAYSIA

Bank Islam Malaysia Berhand (BIMB) didirikan pada th. 1983 yang merupakan Bank Syariah pertama di Malaysia bankan di Asia Tenggara.
Sampai akhir 1999 BIMB telah memiliki 70 cabang yang tersebar hampir di setiap Negara Bagian. Pada tahun1999 berdiri bank Syariah baru bernama Bank Bumi Putra Muamalah.
Disamping Full Piedge Islamic Banking (Bank Islam sepenuhnya), pemerintah Malaysia mengizinkan juga system Islamic Window, yaitu pemberian pelayanan Syariah pada Bank Konvensional.

8. IRAN

Tahun 1979 pada saat terjadi Revolusi Islam di Iran sudah mulai muncul ide pembentukan Bank Islam di negeri tersebut, sedangkan perkembangan dalam arti riil baru dimulai pada tahun 1984. Setelah UU Perbankan Syariah dikeluarkan oleh Pemerintah Tahun 1983.
Sejak saat itu seluruh sistem perbankan di Iran berjalan sesuai dengan Syariah Islam dibawah kontrol penuh Pemerintah, seluruh Industri Perbankan dinasionalisir dan diatur dalam dua kelompok besar, yaitu :

  1. Perbankan Komersial, dan
  2. Lembaga Pembiayaan Khusus.

9. TURKI

Pada tahun 1984 Pemerintah Turki memberikan izin pendirian Bank DAAR AL MAAL AL ISLAMI, yang beroperasi berdasarkan prinsip bagi hasil (syariah). Pada tahun 1985 didirikan pula Faisal Finance In Stitution dan ribuan Lembaga Wakaf yang memberikan fasilitas pinjaman dan bantuan kepada masyarakat.

 

D. PERKEMBANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA

1. LATAR BELAKANG BANK SYARIAH

Perkembangan Bank Syariah di negara-negara Islam pada periode 1980 an, berpengaruh ke Indonesia.
Prakarsa lebih nyata untuk mendirikan Bank Islam baru terjadi di sekitar tahun 1990. Majelis Ulama Indonesia (MUI) membentuk Kelompk Kerja untuk mendirikan Bank Syariah yang diberi nama TIM PERBANKAN MUI.

2. PT. BANK MUAMALAT INDONESIA (BMI)

Pada tgl. 01-11-1991 Tim Perbankan MUI mendirikan BANK MUAMALAH INDONESIA (BMI), dengan Modal Awal sebesar Rp. 106 milyar. Sejak mulai beroperasi secara resmi tgl. 01-05-0992 s/d 1999 BMI telah memiliki Kantor Cabang 45 buah tersebar di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Balikpapan dan Makassar.
Pada periode awal beroperasinya Bank Syariah di Indonesia, belum ada landasan hukum Syariah yang jelas serta jenis-jenis usahayang diperbolehkan, karena didalam UU.NO.7/1992 tidak tercantum secara rinci tetapi hanya merupakan SISIPAN saja.

3. ERA REFORMASI DAN PERKEMBANGAN SYARIAH

Pada era reformasi Pemerintah menerbitkan UU.No.10 Th.1998 tentang Perbankan. Didalam UU Tsb. Diatur dengan rinci landasan hukum dan jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan oleh Bank Syariah, serta memberikan izin kepada Bank –bank Konvensional untuk membuka cabang Syariah, atau mengkonversi diri total menjadi bank syariah. Bank Indonesia mengadakan “Pelatihan Perbankan Syariah” bagi para pejabat BI sendiri dan perbankan secara menyeluruh.
BANK SYARIAH YANG DIDIRIKAN DI ERA REFORMASI :

4. BANK UMUM SYARIAH

BANK SYARIAH MANDIRI (BSM) merupakan Bank milik Pemerintah pertama yang melandaskan operasionalnya pada prinsip syariah. BSM merupakan anak perusahaan Bank Mandiri yang dikonvers menjadi bank syariah penuh.BSM memiliki keunggulan dibanding bank-bank syariah yang lain yaitu :

  • BSM merupakan anak perusahaan Bank Mandiri yang mempunyai asset triliunan dan networking yang sangat luas.
  • Seluruh Kantor Cabang Bank Mandiri di Provinsi Naggro Aceh DS dikonversi menjadi Bank Syariah
  • Pada awal pendiriannya BSM hanya terdiri dari 8 Kantor Cabang, dalam tempo 12 tahun telah berkembang menjadi ratusan cabang di kota besar dan kecil di seluruh Indonesia.

CABANG BANK SYARIAH DARI BANK KONVENSIONAL

  1. BANK BNI
  2. BANK BTN
  3. BANK BRI
  4. BANK BUKOPIN
  5. BANK CMB NIAGA

Dan lain lain.

 

III.PERBEDAAN ANTARA BANK SYARIAH DAN KONVENSIONAL

BANK SYARIAH DAN BANK KONVENSIONAL MEMPUNYAI PERSAMAAN DAN PERBEDAAN :
PERSAMAAN antara lain :

  • Teknis Penerimaan Uang
  • Mekanisme Transfer
  • Teknologi Komputer yang digunakan
  • Syarat-syarat umum untuk memperoleh Pembiayaan (Kredit), antara lain : KTP, NPWP, Proposal, Laporan Keuangan, dll.

PERBEDAAN antara lain :

A. AKAD DAN ASPEK LEGALITAS

Dalam Bank Syariah :

  1. Akad (Perjanjian) dibuat berdasarkan HUKUM ISLAM
  2. Mempunyai konsekwensi (tanggung jawab) DUNIAWI dan UKHROWI

Dalam Bank Konvensional Akad dibuat hanya berdasarkan HUKUM POSITIF yang bersifat DUNIAWI belaka.
AKAD DALAM PERBANKAN SYARIAH harus memenuhi ketentuan sbb.

  1. RUKUN, seperti : a. Penjual, b. Pembeli, c. Barang, d. Harga dan e. Ijab-qabul
  2. SYARAT, seperti : a. Barang dan jasa harus HALAL, b. Harga harus jelas, c. Tempat penyerahan barang harus jelas, d. Barang harus sepenuhnya dalam KEPEMILIKAN penjual.

B. LEMBAGA PENYELESAIAN SENGKETA

BANK KONVENSIONAL apabila bersengketa dengan nasabah diselesaikan di PENGADILAN NEGERI.
BANK SYARIAH menyelesaikan persengketaan dengan nasabahnya melalui BADAN ARBITRASE MUAMALAT INDONESIA (BAMUI) yang didirikan oleh KEJAKSAAN AGUNG RI DAN MAJLIS ULAMA INDONESIA (MUI).

C. STRUKTUR ORGANISASI

Bank Konvensional, terdiri dari :
a. Dewan Komisaris dan
b.Dewan Direksi Bank

Bank Syari’ah, terdiri dari :
a. Dewan Pengawas Syari’ah
b.Dewan Komisaris, dan
c.Dewan Direksi Bank

Karateristik Dewan Pengawas Syariah :

  1. Bertugas mengawasi Operasional Bank dan Produk-produknya agar sesual dengan garis-garis Syariah
  2. Posisinya setingkat Dewan Komisaris Bank
  3. Penetapan Anggota DPS dilakukan dalam RUPS, setelah mendapat rekomendasi dari DEWAN SYARIAH NASIONAL.

PERAN DAN TUGAS DEWAN PENGAWAS SYARIAH (DPS) :

  1. Mengawasi jalannya operasional Bank agar selalu sesuai dengan ketentuan-ketentuan Syariah
  2. Membuat dan menentukan Garis Panduan (Guidelines) transaksi-transaksi Bank berdasarkan prinsip Syariah
  3. Membuat Laporan Berkala (tiap tahun) yang dimuat didalam LAPORAN TAHUNAN BANK (Annual Report) berupa PERNYATAAN bahwa Bank yang diawasinya telah berjalan sesuai dengan ketentuan Syariah.
  4. Meneliti dan membuat REKOMENDASI produk baru dari Bank yang diawasi, sebelum dimintakan persetujuan atau FATWA dari Dewan Syariah Nasional (DSN)

MEKANISME RAPAT Dewan Pengawas Syariah (DPS) : lihat halaman 31.

FUNGSI DEWAN SYARIAH NASIONAL (DSN)
DSN dibentuk pada tahun 1997 oleh MUI sebagai payung dari Lembaga dan Organisasi Keislaman di Indonesia. DSN merupakan Lembaga otonom (berdiri sendiri) dibawah MUI, dipimpin oleh KETUA dan SEKRETARIS MUI secara ex-ifficio, yang kegiatan sehari-hari dijalankan oleh BADAN PELAKSANA HARIAN DSN.
FUNGSI DSN ADALAH :

  1. Mengawasi produk-produk Lembaga Keuangan Syariah
  2. Lembaga Keuangan Syariah yang diawasi meliputi : Bank Syariah, Asuransi, Reksadana, Modal Ventura Syariah, dll.
  3. Membuat Garis Panduan Produk Syariah berdasarkan Hukum Islam, yang dipakai sebagai dasar pengawasan oleh DPS terhadap Lembaga Keuangan Syariah dan menjadi dasar pengembangan produk-produknya.
  4. Meneliti dan memberi FATWA bagi produk-produk yang dikembangkan oleh Lembaga Keuangan Syariah.
  5. Memberikan REKOMENDASI para ulama yang akan ditugaskan sebagai DPS pada suatu Lembaga Keuangan Syariah.
  6. Memberikan TEGURAN kepada LKS yang menyimpan dari Garis Panduan yang telah ditetapkan, berdasarkan laporan dari DPS ybs.
  7. Lembaga Keuangan Syariah (LKS) yang tidak mengindahkan teguran, DSN dapat mengusulkan kepada BI dan Deparemen Keuangan agar LKS ybs dikenakan sanksi.

D. BISNIS DAN USAHA YANG DIBIAYAI

Bank Syariah tidak bisa membiayai usaha yang terkandung didalamnya hal-hal yang diharamkan didalam Syariah Islam.
Pembiayaan tidak akan disetujui sebelum dipastikan beberapa hal pokok sebagai berikut :

  1. Apakah objek pembiayaan HALAL atau HARAM
  2. Apakah projek menimbulkan KEMUDHARATAN untuk masyarakat
  3. Apakah projek berbau ASUSILA
  4. Apakah projek berkaitan dengan perjudian
  5. Apakah usaha berkaitan dengan Industri senjata illegal
  6. Apakah projek dapat merugikan SYIAR ISLAM.

E. LINGKUNGAN KERJA DAN CORPORATE CULTURE

Sebuah Bank Syariah selayaknya memiliki lingkungan kerja yang sejalan dengan Prinsip Syariah, antara lain :

1. ETIKA :

  1. Amanah : bisa dipercaya dan taat terhadap peraturan
  2. Shiddiq : jujur
  3. Profesionalitas kerja karyawan :
  4. Skillfull, tenaga kerja berkualitas tinggi

2. Profesional atau Fathanah, cerdas dan trampil

  1. Mampu melakukan tugas secara TEAM WORK
  2. Informasi merata diseluruh Lembaga, transparan (Tabligh)

3. Prinsip Keadilan berdasar Syariah berupa REWARD AND PUNISHMENT

4. Penampilan dan tingkah laku karyawan :

  1. Berpakai secara Islami, tidak ada IURAT yang terbuka, tetapi rapi.
  2. Bertingkah laku sopan, ramah dan tidak kasar.

 

IV.RIBA DALAM PERSPEKTIF AGAMA DAN SEJARAH

  1. DEFINISI RIBA
  2. JENIS-JENIS RIBAWI
  3. KONSEP RIBA DALAM PERSPEKTIF NON MUSLIM
  4. LARANGAN RIBA DALAM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH
  5. ALASAN PEMBENARAN PENGAMBILAN RIBA
  6. PERBEDAAN ANTARA INVESTASI DAN MEMBUNGAKAN UANG
  7. PERBEDAAN ANTARA UTANG UANG DAN UTANG BARANG
  8. PERBEDAAN ANTARA BUNGA DAN BAGI HASIL
  9. BERBAGAI FATWA TENTANG RIBA
  10. DAMPAK NEGATIF RIBA

 

URAIAN :

A. DEFINISI RIBA

Secara bahasan Riba bermaksan Ziyadah yaitu Tambahan atau Tumbuh atau Membesar. Menurut istilah Tehnis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam islam. Allah SWT berfirman dalam Kitab Suci Al-Qur’an, Surat AN-Nisaa ayat 29 : “Hal orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.”
Sistem Riba dianggap Batil karena terjadi transaksi TIDAK SEIMBANG DAN TIDAK ADIL antara sipemilik Modal dengan si pemakai modal atau di peminjam, dimana di pemilik modal SELALU MENERIMA TAMBAHAN dalam bentuk BUNGA tanpa memperhatikan keadaan usaha si peminjam, berhasil atau merugi. Dan di pemakai modal atau peminjam DIWAJIBKAN UNTUK SELALU TIDAK BOLEH TIDAK, MUTLAK DAN PASTI usahanya SUKSES SERTA UNTUNG, karena itu wajib membayar BUNGAN secara terus-menerus.

PENDAPAT BEBERAPA JUMHUR ULAMA ISLAM TENTANG RIBA :

1. BADR AD-DIN AL-AYNIT
“Prinsip utama dalam riba adalah penambahan. Menurut syariah riba berarti penambahan atas harta pokok tanpa adanya transaksi bisnis rill.”

2. IMAM AN NAWAWI DARI MAZHAB SYAFI’IT
“Salah satu bentuk riba yang dilarang Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah penambahan atas harta pokok karena unsur waktu. Dalam dunia perbankan hal tersebut dikenal dengan bunga kredit sesuai dengan lamanya waktu pinjaman.”

3. ZAID BIN ASLAM
“Yang dimaksud dengan riba jahiliah yang berimplikasi pelipat gandaan sejalan dengan waktu adalah seseorang yang memiliki piutang atau mitranya, pada saat jatuh tempo ia berkata,” Bayar sekarang atau tambah.”

B. JENIS-JENIS RIBA

RIBA terbagi menjadi dua kelompok :

Riba UTANG-PIUTANG     :

1. RIBA QARDH T
2.RIBA JAHILIYAH

RIBA JUAL – BELI             :

3. RIBA FADHL
4.RIBA NASI’AH

URAIAN :

1. RIBA QARDH :
Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang ber – utang.

2. RIBA JAHILIYAH :
Utang dibayar lebih dari pokoknya karena sipeminjam tidak mampu dibayar utangnya pada waktu yang ditetapkan.

3. RIBA FADHL :
Pertukaran antara barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda atas barang yang termasuk barang RIBAWAI.

4. RIBA NASI’AH :
Penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang Ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Timbul Riba Nasi’ah karena adanya PERBEDAAN, PERUBAHAN, ATAU TAMBAHAN, antara barang yang diserahkan sekarang dan yang diserahkan kemudian hari.

C. JENIS BARANG RIBAWI

Menurut Para Ahli Fikih Islam Brang-barang RIBAWI meliputi :

  1. EMAS DAN PERAK, baik dalam bentuk UANG maupun bentuk lainnya
  2. BAHAN MAKANAN POKOK DAN MAKANAN TAMBAHAN :

Bahan Makanan Pokok seperti : beras, jagung, gandum dll.
Bahan Makanan Tambahan : sayur-sayuran, buah-buahan dll
Dalam kaitannya dengan perbankan Syariah, ketentuan tukar-menukar Antar barang-barang RIBAWI sbb. :

1. Jual beli barang-barang ribawi sejenis, diwajibkan :

  • Jumlah dan kadarnya harus sama
  • Diserahterimakan pada saat transaksi terjadi
  • Contoh : Uang Rupiah 10.000,- ditukar dengan uang upiah 10.000,- juga (pecahan 10.000, 1 lembar ditukar dengan pecahan 5.000,- 2 lembar)

2. Jual beli antara baran-barang ribawi yang berlainan jenis diperbolehkan dengan JUMLAH DAN KADAR yang berbeda, misalnya uang Rp. 9.000,- dengan US$.1,-  dengan syarat serah terima barang pada saat AKAD JUAL BELI.

3. Jual beli brang ribawi dengan barang bukan ribawi bisa dilakukan misalnya antara mata uang emas, perak atau kertas dengan pakaian, dan tidak disyaratkan : *sama dengan jumlah dan tidak harus diserahkan pada saat akad.

4. Jual beli antara barang-barang BUKAN RIBAWI boleh dilakukan :

  • Tanpa persamaan jumlah dan kadar
  • Tidak diserahkan pada saat akad
  • Contoh : Barang-barang pakaian dan Barang Electronic.  

 

D. KONSEP RIBA DALAM PERSPEKTIF NON MUSLIM

Riba bukan hanya persoalan masyarakat Islam, tetapi berbagai kalangan diluar Islam seperti kalangan Yahudi, Yunani, Romawi, Nasrani memandang riba sebagai perbuatan KEJI DAN TERLARANG karena tidak manusiawi. Perlu kita kaji perspektif dari kalangan Non Muslim tentang riba dengan alasan sbb :

  1. Agama Islam mengimami dan menghormati Nabi-nabi dari Agama-agama terdahulu seperti Nabi Ibrahim, Ishak, Musa dan Isa yang oleh Allah juga dikarunia Al Kitab (Taurat dan Injil)
  2. Sangat banyak tulisan mengenai bunga yang dibuat oleh Kaum Yahudi dan Nasrani.
  3. Orang Yunani dan Romawi memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap peradaban manusia, pemikiran mereka banyak mempengaruhi Kaum Yahudi, Kristen dan Islam.

 

KONSEP BUNGA DIKALANGAN NON MUSLIM :

1. KONSEP BUNGA DIKALANGAN YAHUDI

Orang Yahudi dilarang mempraktekkan pengambilan bunga. Pelarangan ini banyak terdapat dalam Kitab Suci mereka, baik dalam Kitab Perjanjian Lama (Taurat) maupun dalam UU. Negaranya yang di Sebut UU. Talmud.

2. KONSEP BUNGA DIKALANGAN YUNANI DAN ROMAWI

Para ahli filsafat Yunani dan Romawi serta masyarakat luas menganggap bahwa bunga adalah sesuatu yang HINA DAN KEJI.
PLATO ( Filosof Yunani ) mengecam system bunga berdasarkan dua alasan :

  1. Bunga menyebabkan perpecahan dan perasaan tidak puas dalam masyarakat.
  2. Bunga merupakan alat golongan kaya untuk mengeksploitasi golongan miskin.

ARISTOTELES (Filosof) menyatakan keberatan terhadap praktek bunga dengan alasan :

  1. Fungsi uang adalah sebagai alat tukar (medium of exchange), bukan alat untuk menghasilkan tambahan melalui bunga
  2. Bunga adalah uang yang berasal dari uang, yang keberadaannya dari sesuatu yang belum pasti terjadi (untung atau rugi penggunaan uang dalam sesuatu usaha adalah hal yang belum pasti), oleh karenanya pengambilan bunga merupakan sesuatu yang tidak adil. 

3. KONSEP BUNGA DI KALANGAN KRISTEN

Berbagai pandangan dikalangan pemuka Agama Kristen  dapat dikelompokkan menjadi 3 periode yaitu :

  1. PANDANGAN PARA PENDETA AWAL KRISTEN ABAD I-XII : “MENGHARAMKAN BUNGA”
  2. PANDANGAN PARA SARJANA KRISTEN ABAD XII-XVI : “BERKEINGINAN AGAR BUNGA DIPERBOLEHKAN “
  3. PANDANGAN PARA REFORMIS KRISTEN ABAD XVI-XIX :

“AGAMA KRISTEN MENGHALALKAN BUNGA”

F. LARANGAN RIBA DALAM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH

Ummat Islam dilarang mengambil RIBA APAPUN JENISNYA. Larangan riba ini bersumber dari AL-QUR’ANUL KARIEM DAN AL-HADIS RASULULLAH SAW.

1. LARANGAN RIBA DALAM AL-QUR’AN

Larangan riba yang terdapat dalam Al-Qur’an tidak diturunkan Sekalugus, melainkan turun dalam EMPAT TAHAP :

TAHAP PERTAMA :
Firman Allah Surat Ar-Ruum ayat 39 menyatakan : “Suatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.” Pada tahap pertama ini Islam menolak anggapan bahwa pinjaman riba yang seolah-olah menolong orang yang memerlukan, sebaliknya islam menganggap merupakan perbuatan keji yang tidak berperikemanusiaan.

TAHAP KEDUA :
Firman Allah dalam Surat An-Nisaa, ayat 160 – 161 : “Disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksa yang pedih.” Pada tahap kedua ini riba digambarkan sebagai sesuatu yang buruk dan Allah mengancam akan memberi siksa yang keras kepada orang yang memakan riba.

TAHAP KETIGA :
Pada tahap ini riba dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat ganda. Firman Allah dalam Surat All Imran ayat 30 : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”

TAHAP KE EMPAT :
Allah SWT dengan tegad mengharamkan apapun jenis tambahan yang diambil dari pinjaman. Tambahan bunga seberapapun jumlahnya tetap HARAM. Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 278-279, yang merupakan ayat terakhir yang diturunkan menyangkut riba, berbunyi sbb : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan maka Allah dan Rasul Nya akan memerangi kamu. Jika kamu bertobat dari perbuatan riba, maka bagimu seluruh hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.”

2. LARANGAN RIBA DALAM HADIS

Pelarangan riba dalam islam tidak hanya merujuk pada Al-Qur’an melainkan juga pada Al-Hadis, karena posisi umum AL-Hadis berfungsi untuk menjelaskan lebih lanjut aturan yang telah digariskan didalam Al-Qur’an, pelarangan riba didalam Al-Hadis lebih rincidan lebih lengkap. Dalam amanat terakhirnya pada tgl. 9 Dzulhijjah th. 11 Hijriah, pada waktu melakukan Haji Wada’, Rasulullah mempertegaskan sikap Islam yang melarang riba :
“INGATLAH BAHWA KAMU AKAN MENGHADAP TUHANMU DAN DIA PASTI AKAN MENGHITUNG AMALMU. ALLAH TELAH MELARANG KAMU MEMAKAN RIBA. OLEH KARENA ITU HUTANG AKIBAT RIBA HARUS DIHAPUSKAN. MODAL POKOK KAMU ADALAH HAK KAMU. KAMU TIDAK AKAN MENDERITA ATAUPUN MENGALAMI KETIDAKADILAN”
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sahabat ABU HURAIRAH dinyatakan bahwa RASULULLAH SAW bersabda sbb :
“PADA MALAM  PERJALANAN  MI’RAJ, AKU MELIHAT ORANG-ORANG YANG PERUT MEREKA SEPERTI RUMAH, DIDALAMNYA SIPENUHI ULAR-ULAR YANG KELIHATAN DARI LUAR. AKU BERTANYA KEPADA JIBRIL SIAPA MEREKA ITU. JIBRIL MENJAWAB BAHWA MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG MEMAKAN RIBA.”

V. RIBA DALAM PERSPEKTIF EKONOMI

  1. PENDAHULUAN
  2. POKOK PERMASALAHAN
  3. TEORI ABSTINENCE (MENAHAN DIRI)
  4. BUNGA SEBAGAI IMBALAN SEWA
  5. PRODUKTIF – KONSUMTIF
  6. OPPORTUNITY COST (BIAYA ATAS KESEMPATAN PENGGUNAAN UANG/ DANA)
  7. TEORI KEMUTLAKAN PRODUKTIVITAS MODAL
  8. TEORI NILAI UANG PADA MASA YANG AKAN DATANG LEBIH RENDAH DIBANDING MASA SEKARANG
  9. INFLASI
  10. BUNGA DAN EGOISME MORAL SPIRITUAL
  11. BUNGA DAN KEPONGAHAN SOSIAL-BUDAYA
  12. BUNGA DAN KEZALIMAN EKONOMI
  13. PERINGATAN DARI IMAM AR-RAZI

 

A. PENDAHULUAN

Dalam bagian  ini akan menganalisa tentang bunga dengan berbagai implikasinya, baik dari segi Ekonomi, Produktivitas Usaha, Dampak Kejiwaan, Hubungan antar anggota masyarakat dan Akumulasi Utang Negara Berkembang.
Syarat utama untuk memahami Bunga dan kaitannya Riba sbb. :

  1. Praktik pembangunan uang yang dilakukan Lembaga-lembaga keuangan Yahudi TIDAK SEJALAN DENGAN RUH DAN SEMANGAT ISLAM.
  2. Umat Islam harus PATUH DAN TUNDUK kepada aturan ALLAH DAN RUSULULLAH dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam hal EKONOMI DAN PERBANKAN.
  3. Meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala sesuatu yang dilarang Allah pasti mengandung KEMUDARATAN DAN KEZALIMAN.

B. POKOK PERMASALAHAN

Pertanyaan paling mendasar tentang bunga antara lain sbb :

  1. Apakah pembayaran bunga atas uang pinjaman merupakan hal yang wajar?
  2. Adilkah bila seseorang yang memberi pinjaman menuntut pihak berutang membayar bunga atas utangnya?
  3. Adilkah bila orang yang berutang diminta membayar bunga, sehingga harus mengembalikan uang lebih banyak dari yang dipinjam?

PANDANGAN PARA PENDUKUNG DOKTRIN BUNGA :

  1. Para ahli berbeda pandangan soal alasan untuk apa bunga harus dibayar oleh yang berutang kepada sipemberi pinjaman.
  2. Para pelopor isntitusi bunga tidak dapat mencapai kata sepakat bahwa bunga merupakan harga uang yang dipinjamkan kepada orang. Mereka mempertanyakan, harga untuk apa?

C. TEORI ABSTINENCE (MENAHAN DIRI)

Teori Abstinence berpandangan bahwa pemilik uang menahan diri tidak menggunakan sendiri uangnya karena akan dipinjamkan kepada orang lain yang membutuhkan modal. Dengan memanfaatkan uang tersebut peminjam memperoleh keuntungan. Pemilik uang berhak menuntut sipeminjam membayar sewa atas uang yang dipinjamnya, sebagaimana dalam persewaan sebuah rumah, mobil, perabotan dsb.
Teori abstinence hanya sebagai pembenaran terhadap praktik pemungutan bunga. Kreditor adalah orang yang mempunyai surplus uang yang berlebihan. Dia meminjamkan uang yang tidak diperlukannya sendiri. Kreditor tidak menahan diri atas apapun, karena itu dia tidak berhak menuntut imbalan (bunga) atas tindakan menahan diri yang tidak dialakukannya tersebut.

D. BUNGA SEBAGAI IMBALAN SEWA

Para pendukung praktik menganggap bahwa bunga merupakan sewa dari uang yang dipinjamkan kepada orang lain. Menurut Prinsip Syariah hal tsb. Tidak benar. Karena uang memiliki karakter yang berbeda dengan barang, baik menyangkut Daya Tukar, Kepercayaan masyarakat, maupun posisi Hukumnya. Biaya SEWA hanya layak dibayarkan terhadap barang yang bisa RUSAK SUSUT, HABIS, KEHILANGAN SEBAGAIAN NILAINYA, dan memerlukan biaya perawatan, seperti rumah, mobil, perabotan dsb. Sedangkan uang tidak termasuk kategori barang-barang tsb. Karena itu menuntut SEWA UANG tidak beralasan dan tidak layak.

E. PRODUKTIF – KONSUMTIF

Untuk pinjaman Produktif, terhadap dua kemungkinan :

  1. Peminjam memperoleh keuntungan atau
  2. Mengalami kerugian,

Lalu atas dasar apa kreditor menarik keuntungan (bunga) secara tetap setiap bulan atau setiap tahun dari peminjam. Atau Debitor berusaha membanting tulang, bekerja keras untuk memperoleh keuntungan lebih besar dari bunga yang ditetapkan Kreditor, tetapi nasibnya kurang baik, dia tidak rugi tetapi keuntungan yang diperoleh lebih kecil dari bunga yang harus dibayar, dalam kasus ini terjadi kezaliman oleh kreditor terhadap debitor. Dalam rangka menghilangkan ketidak adilan dan kezaliman oleh kreditor terhadap debitor Syariah islam mengaplikasikan PEMBIAYAAN DENGAN SISTEM BAGI HASIL, yaitu pembagian RETURN yang diperoleh oleh peminjam, dibagi secara adil sesuai perjanjian yang disepakati.

F. OPPORTUNITY CIST :

Para pelopor Sistem Bunga beranggapan bahwa dengan meminjamkan uangnya berarti kreditor memberikan waktu kepada peminjam untuk memanfaatkan uangnya. Dengan waktu itulah peminjam memiliki kesempatan untuk memperoleh keuntungan. Dengan demikian waktu mempunyai HARGA yang makin meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Kreditor barhak menuntut harga (bunga) sesuai dengan lamanya waktu pinjaman.
Dalam praktiknya dilapangan Teori ini pun menyebabkan terjadinya kezaliman terhadap Debitor, karena usaha atau bisnis yang dijalankan dengan menggunakan modal pinjaman itu belum tentu memperoleh keuntungan yang mencukupi untuk membayar bunga, bahkan bisa terjadi usahanya mengalami kerugian. Peminjam bekerja keras tetapi tidak memperoleh hasil apa-apa, sedangkan kreditor hanya ongkang-ongkang selalu memperoleh keuntungan.

G. TEORI KEMUTLAKAN PRODUKTIVITAS MODAL

Para Ahli Ekonomi berpendapat bahwa MODAL ADALAH PRODUKTIF dengan banyak dari pada tanpa modal dan mempunyai daya untuk menghasilkan nilai tambah. Maka pemberi pinjaman layak untuk mendapat imbalan bunga. Pendapat diatas tidak sepenuhnya benar, karena dalam kenyataannya terdapat masalah sbb :

  1. Modal yang digunakan untuk tujuan konsumtif, sama sekali tidak produktif.
  2. Modal yang digunakan untuk keperluan produksipun belum tentu menghasilkan nilai tambah. Dalam keadaan ekonomi yang sedang merosot keuntungan penanaman modal bisa sangat tipis, bahkan bisa berubah jadi kerugian.
  3. Produktif atau tidaknya modal sangat bergantung pada beberapa kegiatan lain seperti : Bagian Produksi, riset, pengembangan, marketing, keuangan, inventory, pengalaman dari Pengguna Modal. Serta sangat dipengaruhi juga oleh factor external seperti : Kestabilan ekonomi, keadaan social dan Politik suatu Negara

Apabila persyaratan tersebut tidak terpenuhi, keuntungan yang diharapkan penanam Modal tersebut bisa berubah menjadi kerugian. Karena itu pembebanan bunga tetap oleh pemilik modal kepada pemain jam bertentangan dengan prinsip keadilan. Sistem yang paling tepat untuk penanaman modal adalah memakai Prinsip Syariah atau Bagi Hasil.

H. TEORI NILAI UANG PADA MASA MENDATANG LEBIH RENDAH DIBANDING MASA SEKARANG

Beberapa ahli ekonomi berpendapat bahwa manusia pada dasarnya lebih mengutamakan kehendak sekarang , dibanding kehendaknya dimasa depan. Manusia mengedepakan kepuasan untuk masa sekarang. Fenomena bunga dirumukan :” Menurunnya nilai barang di waktu mendatang dibanding dengan nilai barang diwaktu sekarang”. Bunga adalah SELISIH NILAI ATAU AGIO yang diperoleh dari barang-barang pada waktu sekarang terhadap perubahan barang pada waktu yang akan datang. Pendapat BOEHM BAWERK.
Paham ini ternyata mempunyai beberapa kelemahan antara lain :

  1. Tidak benar bahwa manusia menganggap kehendak masa sekarang lebih penting dan berharga dari pada keinginan masa depan. Terbukti banyak orang tidak mau membelanjakan seluruh pendapatnya sekarang, tetapi menyimpannya untuk keperluas pada masa yad. Manusia mengupayakan berbagai cara untuk meraih masa depan yang lebih baik dari sekarang. Masa depan yang lebih bahagia dan sejahtera.
  2. Teori NILAI WAKTU ATAS UANG sangat tidak adil. Filosofi orang Barat TIME IS MONEY, waktu adalah uang. Penghargaan terhadap waktu diwujudkan dalam uang atau prosentase bunga.

Islam sangat menghargai waktu, yang direalisasikan dalam bentuk kemitraan dan nisbah bagi hasil semua pihak SHARING THE RISK AND PROFIT secara bersama.

I. INFLASI

Inflasi secara umum dipahami sebagai meningkatnya harga barang dalam keseluruhan. Terjadi penurunan daya beli uang atau Decreasing purchasing Power of Money. Para penganut paham pengambil bunga uang, sangat logis menerima bunga sebagai kompensasi penurunan daya beli argumentasi selama dipinjamkan, tetapi argumentasi mereka tidak sepenuhnya benar, karena dalam dunia Ekonomi dan Keuangan yang terjadi bukan hanya INFLASI, tetapi bisa juga terjadi DEFLISA (nilai uang menguat, harga barang turun), dan Kondisi Keuangan STABIL (nilai uang dan harga barang tetap). Berdasarkan Prinisp Syariah Inflasi tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan pengumutan bunga atas pinjaman (Sistem Riba)

 

J. BUNGA DAN EGOISME MORAL-SPIRITUAL

Bunga menumbuhkan sikap logis, bakhil, berwawasan sempit, berhati batu dan cenderung bersikap tidak mengenal belas-kasihan, antara lain :

  1. Bila peminjam dalam kesulitan, asset apapun yang dimiliki harus diserahkan untuk melunasi akumulasi pinjaman termasuk bunga berbunganya. Pengumut bunga bersikap bersikap tamak, rakus dan kikir.
  2. Secara psychologis, praktik pembungaan uang, menjadikan orang malas berinvestasi dalam dunia usaha. Para pemilik dana lebih memilih membungakan uangnya, diam dirumah, menunggu kucuran bunga. Mereka hidup dalam system RIBAWI.

K. BUNGA DAN KEPONGAHAN SOSIAL

Secara social, praktik bunga merusak semangat berkhidmat (berbuat kebajikan) kepada masyarakat. Masyarakat ribawi hanya mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Kebutuhan dan keperluan hidup seseorang dianggap peluang bagi orang lain untuk meraup keuntungan. Tidak ada solidaritas bagi kepentingan bersama. Orang-orang kaya bersikap sombong dan pongah serta memandang rendah terhadap orang miskin. Secara pelan-pelan tetapi pasti timbul perpecahan dimana-mana, baik dalam komunitas local, regional maupun internasional. Rendah terhadap orang miskin. Secara pelan-pelan tetapi pasti timbul perpecahan dimana-mana, baik dalam komunitas local, regional maupun internasioanal.

L. BUNGA DAN KEZALIMAN EKONOMI

Terhadap banyak jenis pinjaman dengan system bunga yang menjadi beban masyarakat ekonomi lemah dan Negara-negara berkembang, yang mengakibatkan kesengsaraan dan kemiskinan struktual, antara lain :

  1. PINJAMAN KAUM DHUA’FA :
    Sebagian besar Kaum Dhu’afa mengambil pinjaman untuk memenuhi sehari-hari. Penghasilan mereka habis untuk membayar utang dan bunganya kepada para pemilik modal. Pembayaran utang secara terus menerus mengakibatkan rendahnya standar kehidupan masyarakat serta melemahkan bahkan menghancurkan perekonomian suatu Negara berkembang.
  2. MONOPOLI SUMBER DANA 
    Pinjaman ? Modal Kerja umumnya digunakan oleh para Pedagang, Pengrajin, Petani, dll. Untuk tujuan yang produktif. Namun usaha mereka sering mengalami kegagalan bahkan kehancuran karena penguasaan dan monopoli dana oleh para pemilik modal besar, seperti contoh berikut ini :
    1. Penguasaan besar atau Konglomerat umumnya sangat dekat dengan para Penguasa Negara dan mengusai sumber dana. Mereka sering kali mengorbankan kepentingan pengusaha kecil. Dalam meminjamkan modalnya kepada pengusaha kecil., mereka membebani bunga yang lebih tinggi dibandingkan terhadap pengusaha menengah dan bekepanjangan untuk membayar kembali pinjamannya, karena Product Domestic nya sangat kecil. Pinjaman dengan sistem bunga ini mengakibatkan semakin paranya kemiskinan  dinegara berkembang.

 

M. PERINGATAN DARI IMAM AR-RAZI

Iman Ar-Razi telah menjelaskan ALASAN-ALASAN mengapa islam melarang system bunga, antara lain sbb:

1. MERAMPAS KEKAYAAN OANG LAIN

Transaksi dengan melibatkan bunga sama halnya dengan merampas harta orang lain. Karena satu pihak yaitu pemilik uang menerima kelebihan tanpa melakukan kegiatan apa-apa, sedangkan pihak lainnya yaitu yang berutang berada dalam tekanan eksploitasi, diharuskan membayar tambahan bunga kepada orang berpiutang. Transakisi semacam ini merupakan perampasan harta seorang oleh orang yang tidak berhak. Perbuatan ini tergolong batil yang diharamkan oleh Syarak. Dalam satu hadits Rosululloh bersabda : “Harta seseorang diharamkan bagi orang lain, sama seperti darahnya. Oleh karena itu mengambil harta orang lain dilarang. “

2. MERUSAK MORALITAS

Ketulusan seseorang akan runtuh bila EGOISME PEMBUANGAN UANG sudah merusak didalam hatinya. Dia akan tega merampas apa saja yang dimiliki si peminjam untuk mengembalikan uang beserta bunganya. Menurut syariah moral penganut sistim bunga itu sudah rusak dan menyimpang sari hukum islam.
“Jika orang yang berutang dalam kesukaran , berilah tangguh sampai dia berkelapangan.”

3. MELAHIRKAN BENIH KEBENCIAN DAN PERMUSUHAN

Akibat dari egoisme dan perampasan harta si peminjam dalam keadaan apapun sudah dihalalkan , maka akan timbul benih kebencian dan permusuhan antara si kaya dan si miskin. Karena orang yang kaya tidak mungkin mau membantu orang miskin kecuali dengan harga yang mahal.

4. YANG KAYA SEMAKIN KAYA, YANG MISKIN SEMAKIN MISKIN

Dalam keadaan Resesi Ekonomi seperti sekarng ini, harga barang dan jasa sangat tinggi . orang-orang kaya dengan mudah meraup keuntungan dengan jalan membungakan uangnya dipasar uang dan pasar modal, di bank-bank, di lembaga-lembaga keuangan (kredit) atau langsung ke peminjam-peminjam individual, dengan bunga tinggi. Sementara itu si ekonomi lemah dan si miskin, tidak mampu meminjam dan tidak bisa berusaha karena biaya modal atau tarif bunga sangat mahal. Akibatnya mereka semakin jauh tertinggal di belakang si kaya.

 

VI. JASA JASA BANK (FEE BASED)

A. AL WAKALAH

  1. PENGERTIAN AL WAKALAH
    BERARTI PENYERAHAN, PENDELEGASIAN ATAU PEMBERIAN MADAT OLEH NASBAH KEPADA BANG SYARIAH.
  2. CONTOH AL WAKALAH :
    A.AGENCY
    B.ADMINISTRATION
    C.COLLECTION
    D.PAYMENT
    E.CO ARRANGER,DLL

B. AL KAFALAH (GUARANTY)

  1. PENGERTIAN AL KAFALAH :
    JAMINAN YANG DIBERIKAN OLEH PENANGGUNG KEPADA PIHAK KETIGA UNTUK MEMENUHI KEWAJIBAN PIHAK KETIGA UNTUK MEMENUHI KEWAJIBAN PIHAK KEDUA ATAU YANG DITANGGUNG, AL KAFALAH YANG DIKELUARKAN BANK DISEBUT BANK GARANSI.
  2. JENIS AL KAFALAH :
    1. KAFALAH BIN NAFS (PERSONAL GUARANTEE)
    2. KAFALAH BIL MAL (JAMINAN PEMBAYARAN UTANG)
    3. KAFALAH BIT TASLIM (MENJAMIN ATAS PENGEMBALIAN BARANG YANG DISEWA)
    4. KAFALAH ALA MUNJAZAH (PERFORMANCE BONP ATAU JAMINAN PRESTASI, MISAL KONTRAKTOR)
    5. KAFALAH AL MUALLAQAH (JAMINAN UNTUK INDUTRI, ASURANSI, BANK GARANSI LAINNYA)

C. AL HAWALAH (TRANSFER SERVICE)

  1. PENGERTIAN : PENGALIHAN UTANG KEPADA YANG MENAGGUNG (TRANSFER KEWAJIBAN UNTUK MEMBAYAR UTANG)
  2. APLIKASI DI PERBANKAN :
    1. ANJAK PIUTANG (FACTORING)
    2. POST DATED CHECK, SETELAH CEK JATUH TEMPO BANK YANG MENAGIH
    3. BILL DISCOUNTING, BANK MENAGIHKAN BILL/ BUKTI UTANG DENGAN MENDAPAT FEE.

D. AR RAHN (MORTGAGE/ BARANG JAMINAN)

  1. PENGERTIAN : MENAHAN SALAH SATU HARTA SEIPEMINJAM SEBAGAI JAMINAN ATAS PINJAMAN YANG DITERIMA
  2. MANFAAT :
    1. MENJAGA NASABAH LALAI UNTUK MEMBAYAR
    2. MEMBERI RASA AMAN KEPADA PEMILIK DANA
    3. MEMUDAHKAN DEBITUR UNTUK PINJAM DI BANK

E. AL-RADH

  1. PENGERTIAN : MEMINJAMKAN HARTA KEPADA ORANG LAIN TANPA MENGHARAPKAN IMBALAN APA-APA, DENGAN PERJANJIAN DAPAT DITARIK KEMBALI.
  2. APLIKASI PERBANKAN :
    1. PINJAMAN JANGKA PENDEK UNTUK NASABAH LAMA YANG SETIA
    2. UNTUK NASABAH YANG PERLU DANA CEPAT
    3. UNTUK MEMBANTU KEGIATAN SOSIAL

 

 

 

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Berita Kebaktian Chee It / Chuyi di Kongmiao TMII

17-07-2018 Hits:57 Berita Foto

Berita Kebaktian Chee It / Chuyi di Kongmiao TMII

Kebaktian Chee It / Chuyi di Kongmiao Jumat 13 Juli 2018 kali ini diisi dengan khotbah bertema menarik, yaitu "Rahasia...

Read more

Mengikuti Wisata Rohani Berziarah Ke Makam Nabi Kongzi Di Kota Qufu, 17-25 Juni 2018

06-07-2018 Hits:193 Berita Foto

Mengikuti Wisata Rohani Berziarah Ke Makam Nabi Kongzi Di Kota Qufu, 17-25 Juni 2018

Untuk yang ketiga kalinya penulis berkesempatan untuk berziarah dan mengunjungi makam nabi Kongzi di kota Qufu, pada perjalanan kali ini...

Read more

Kegiatan Jambore Penyuluh Agama Islam-Lintas Agama & Halal Bihalal 1439H

05-07-2018 Hits:180 Berita Foto

Kegiatan Jambore Penyuluh Agama Islam-Lintas Agama & Halal Bihalal 1439H

Kegiatan Jambore Penyuluh Agama Islam-Lintas Agama & Halal Bihalal 1439H di Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur bersama Menteri Agama.

Read more

Ketua MATAKIN DKI Jakarta Memimpin Doa Pada Acara Halal Bihalal 1439 H Dan HUT Ke 19 WKPUB DKI Jakar…

02-07-2018 Hits:178 Berita Foto

Ketua MATAKIN DKI Jakarta Memimpin Doa Pada Acara Halal Bihalal 1439 H Dan HUT Ke 19 WKPUB DKI Jakarta

Sabtu, 30 Juni 2018, Wadah Komunikasi & Pelayanan Umat Beragama (WKPUB) mengadakan acara Halal Bihalal 1439 H dan Hari Ulang...

Read more

Kebaktian Kelenteng "Kong Miao" Taman Mini Indonesia Indah

29-06-2018 Hits:121 Berita Foto

Kebaktian Kelenteng "Kong Miao" Taman Mini Indonesia Indah

Kelenteng Kong Miao Taman Mini Indonesia Indah yang terletak di kawasan Taman Mini Indonesia Indah setiap Chuyi (Chee It) dan...

Read more

Matakin Provinsi DKI Memperingati 3 Tahun Berpulangnya Xs. Tjandra Rahardja Muljadi Dan Ibu Oey Lauw…

25-06-2018 Hits:165 Berita Foto

Matakin Provinsi DKI Memperingati 3 Tahun Berpulangnya Xs. Tjandra Rahardja Muljadi Dan Ibu Oey Lauw Nio, Di Makin Jakarta Pusat

Hari Minggu tanggal 24 Juni 2018, bertempat di Litang Makin Jakarta Pusat Jalan Mangga Besar XIII Jakarta Pusat, Matakin Prov....

Read more

Bromo Saat Sekarang

20-06-2018 Hits:102 Berita Foto

Bromo Saat Sekarang

Liburan lebaran menjadikan gunung Bromo semakin ramai pengunjung. Sekitar 1000 kendaraan naik ke penanjakan, tentu saja membuat jalan macet.

Read more

INTI Menyatukan Suku Dan Agama Lewat Sahur Bersama Di Kalijodo

20-06-2018 Hits:87 Berita Foto

INTI Menyatukan Suku Dan Agama Lewat Sahur Bersama Di  Kalijodo

Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) melaksanakan Sahur Bersama Dra.Shinta Nuriyah Wahid M. Hum di RPTRA Kalijodo,

Read more

Silaturahmi Pengurus Matakin Di Hari Idul Fitri 1439 H Selama Tiga Hari

19-06-2018 Hits:59 Berita Foto

Silaturahmi Pengurus Matakin Di Hari Idul Fitri 1439 H Selama Tiga Hari

Bagi umat Islam, hari raya Idul Fitri adalah merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa. Idul Fitri memiliki arti yang berkaitan...

Read more

Matakin Prov. DKI melaksanakan sembahyang Duan Yang di Kelenteng Kongmiao TMII

19-06-2018 Hits:157 Berita Foto

Matakin Prov. DKI melaksanakan sembahyang Duan Yang di Kelenteng Kongmiao TMII

Tanggal 5 bulan 5 Yinli (Kongzili) tahun ini jatuh pada tanggal 18 Juni 2018. Umat Khonghucu dari wilayah prov. DKI...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 471-480

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Menurut Anda apa yang paling penting dilakukan saat Imlek ?

Bersembahyang leluhur - 0%
Menerima Angpao - 0%
Membeli baju baru - 0%
Sembahyang di Kelenteng - 0%
Berkunjung ke sanak-saudara - 0%

Total votes: 0
The voting for this poll has ended on: March 30, 2018

Who's Online

We have 43 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com