spocjournal.com

Munculnya Bank Syariah Mengabaikan Prinsip Halal di Indonesia

Oleh : Djoko Sumarno, Mahasiswa Semester V Universitas Kartini Surabaya

Kata Pengantar
Tulisan Mas Djoko Sumarno ini layak untuk dibaca oleh mahasiswa sebagai bentuk opini yang cerdas dan teliti. Mas Djoko telah berusaha melihat kondisi dilapangan tantangan kedepan untuk melakukan perubahan (barangkali produk) yang menarik bagi bank Syariah.Tulisan ini sebagai tauladan bagi mahasiswa lainnya untuk ikut aktif dalam proses pembelajaran. Selamat berkarya untuk Mas Djoko (Dr.Drs.Setio Kuncono,SH.,MM.,MBA)

I. Pendahuluan

Berbagai upaya yang dilakukan Pemerintah untuk mengangkat perekonomian negeri ini lewat dunia perbankan nampaknya masih jauh dari harapan. Betapa tidak Undang-Undang Perbankan no.7 tahun 1992 yang menyebabkan carut marut, tumbuh dan berkembang bank secara liar sehingga sepak terjang bank bisa merugikan masyarakat tanpa bisa dikontrol oleh Pemerintah. Hingga terbitlah Undang-Undang no. 10 tahun 1998 yang mana dalam pasal2nya Pemerintah memiliki wewenang mengambil alih bank-bank yang bermasalah untuk disehatkan. Tujuannya adalah agar tidak terjadi kekacauan dalam masyarakat akibat dari permasalahan yang timbul berkaitan dengan kelalaian yang dilakukan oleh bank yang bersangkutan. Namun Undang-Undang  no.10 tahun 1998 justru menjadi boomerang bagi Pemerintah dalam menangani dunia perbankan di Indonesia. Ini terbukti dalam menangani kasus Bank Century yang masih menyisahkan banyak persoalan di negeri ini. Untuk mengimbangi keburukan dunia perbankan maka kehadiran bank syariah di Indonesia menjadi alternatif bagi masyarakat untuk kembali menanamkan kepercayaan terhadap dunia bank.

Dewasa ini semarak penggunaan kata syari’ah dalam kalangan muslimin dinegara ini. Pantas untuk disyukuri karena secara langsung atau tidak telah menunjukkan semangat kaum muslimin untuk kembali merujuk agamanya. Namun juga harus diperhatikan dan disadari jangan sampai hal ini hanya sebagai nama dan jorgan semata tanpa kesesuaian dengan syari’at yang suci dan mulia ini. Karena itulah perlu adanya upaya meluruskan istilah dan nama syari’ah tersebut agar benar-benar mewakili syari’ah islam yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Diantara nama dan istilah ini adalah perbankan syari’ah atau bank syari’at yang didefinisikan dengan insitusi atau lembaga yang melakukan aktivitas langsung perbankan diatas asas dasar islam dan kaedah-kaedah fikihnya. Institusi ini mulai merata dan menampakkan jati dirinya ditengah-tengah banyaknya bank-bank konvensional dinegara ini.

Islam menginginkan satu system ekonomi yang adil sehingga yang kuat tidak menindas yang lemah dan yang kaya menjajah yang miskin. Juga agar harta tidak hanya berputar pada orang-orang kaya saja sehingga menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Seperti yang tercantum dalam Al Qur'an :

- Surah Al Imron (3;130)
Wahai Orang-orang yang beriman janganlah kamu memakan riba' dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu beruntung.

- Surah Al Baqarah (2;275)
Orang-orang yang memakan riba' tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan  riba'. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba'. Barang siapa mmendapat peringatan dari Tuhan-nya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya. Dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barang siapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal didalamnya.

- Surah An Nisa' (4;29)
Wahai Orang-orang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar) kecuali dalam perdagangan beerlaku atas dasar suka sama suka diantara kamu.Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh Allah Maha Penyayang kepadamu.

- Surah Al Jasiyah (45;18)
Kemudian kami jadikan engkau (muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutiulah (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui.

 

II. Permasalahan

Krisis demi krisis melanda ekonomi dunia hingga banyak sekali bank-bank konvensional yang gulung tikar. Lihat saja dinegara Indonesia saja dalam tahun 2001 M –versi buku Bank Syari’at dari teori ke praktek- telah ada  63 Bank yang sudah tutup, 14 bank telak di take over dan 9 bank lagi harus direkapitulasi dengan biaya ratusan triliyun rupiah. Ditambah harapan banyak kaum muslimin yang ingin kembali menerapkan ajaran islam dalam seluruh aspek kehidupannya khususnya dalam masalah ekonomi dan perbankan dan munculnya kebangkitan islam diera tahun tujuh puluhan. Semua ini mendorong para peneliti bertekad menerapkan system ekonomi islam (Islamic economic system) dengan mengkonsep perbankan syari’ah sebagai alternative pengganti perbankan konvensional. Namun waktu itu keadaan dan situasi yang menyelimuti Negara-negara islam belum mendukung harapan, pemikiran dan tekad tersebut.

Kemudian mulailah adanya usaha-usaha riil untuk menerapkannya dan mencari trik dan cara yang beraneka ragam untuk mengeluarkan profit keuntungan dan sejenisnya dari lingkaran riba. Kemudian muncul setelah itu dalam dunia islam usaha-usaha yang lebih riil berupa penolakan terhadap realita yang diimport dari barat dizaman penjajahan. Usaha-usaha ini mengarah kepada realisasi pengganti perbankan ribawi dengan perbankan syari’ah. Usaha-usaha ini bertambah cepat dengan banyaknya kaum muslimin yang enggan menyimpan hartanya di bank-bank konvensional dan enggan bermuamalah dengan riba.
Sekarang yang menjadi pertanyaan Mampukah Bank Syariah menggantikan peranan Bank Umum Konvensional di masyarakat kita yang nota benenya beragama Islam ?
Merubah wajah perbankan menjadi sesuai syariat dengan tetap mempertahankan fungsi dari perbankan tersebut, tentu saja merupakan tantangannya cukup berat. Bagaimana tidak? Disatu sisi harus menggantikan fungsi perbankan tersebut dan disisi lain tidak boleh melanggar syariat.
Dari sini idealnya perbankan syariat syari’at harus mampu menunaikan hal-hal berikut ini:

  1. Bank syari’at harus mampu menunaikan semua fungsi yang telah dilakukan bank-bank ribawi berupa pembiayaan (Financing), memperlancar dan mempermudah urusan muamalaat, menarik dana-dana tabungan masyarakat, kliring dan transfer, masalah moneter dan sejenisnya dari praktek-praktek perbankan lainnya.
  2. Bank syari’at harus komitmen dengan hukum-hukum syari’at disertai kemampuan menunaikan tuntutan zaman dari sisi pengembangan ekonomi dalam semua aspeknya.
  3. Bank syari’at harus komitmen dengan asas dan prinsip dasar ekonomi yang benar yang sesuai dengan ideologi dan kaedah syari’at islam dan jangan sekedar menggunakan dasar-dasar teori ekonomi umum keuangan yang tentunya dibangun diatas dasar mu’amalah ribawiyah.

Tiga perkara ini harus ditunaikan bank syari’at agar dapat berjalan seiring perkembangan zaman dengan semua fenomena dan problema kontemporernya.

III. Pembahasan

Sebuah OPINI mengatakan :
Keberadaan bank syariah dan bank konvesional di Indonesia ini tak menunjukkan perbedaan yang signifikkan, dan hal ini juga tak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di jejak pendapat di CNN Arab yang membahas tentang: “Apakah Anda percaya bahwa bank-bank Islam berbeda dari bank konvensional dalam hal transaksi mereka sesuai dengan hukum Shariaa Islam?”. Dan berdasarkan hasil korespondensi tersebut didapati hasil sekitar 88% tidak dan hanya 12% yang mengemukakan iya dari sekitar 1.974 korespondensi yang mengikuti jejak pendapat tersebut, hal ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang tidak puas dan yakin tentang bank syariah, walaupun mungkin jejak pendapat tersebut bukanlah hal yang tidak terlalu ilmiah, tetapi hal ini memungkin kita agar dapat memahami opini publik, bahwa publik menginginkan bank syariah lebih memiliki kreatifitas dan kemampuan yang lebih dari bank konvesional untuk menarik pelanggan.
Hal ini berarti inovasi baru harus banyak dilakukan oleh Bank Syariah agar dapat mengerti dan memperbaiki citra bank syariah di indonesia. Bukan hanya dalam hal-hal kartu atau pelayanan lainnya, tetapi hal-hal yang lebih jelas agar bank syariah tersebut bisa menyerupai bahkan sama dengan bank syariah pada zaman Rasulullah SAW.
Pendapat  Prof. DR.H.Muhibbin, M.Ag , Ada beberapa faktor yang menyebabkan bank-bank   syariah kurang diminati umat Islam :

  1. Adanya perbedaan pandangan tentang bunga bank konvensional dengan berbagai alasan yang sama-sama kuat. Sebagaimana diketahui bahwa sampai saat ini  belum terdapat kata sepakat mengenai hukum bunga bank; ada diantara ulama yang menetapkan secara tegas bahwa bunga bank itu termasuk riba, sehingga hukumnya haram
  2. Adanya sebagian orang dan pihak yang semacam “memaksakan kehendak” serta menghakimi pihak lain, sehingga menimbulkan antipasti dan sikap yang kontraproduktif.
  3. Kurang dapat bersaingnya produk-produk bank syariah dengan bank konvensional , sehingga menyebabkan masyarakat muslim yang berpikir pragmatis tidak mau berpaling ke bank syaraiah.

Fatwa MUI tentang Bunga Bank
Ketetapan Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia tentang bunga bank terdiri atas tiga bagian:

Pertamapengertian bunga dan riba. Dalam keputusan tersebut dikatakan bahwa bunga bank adalah tambahan yang dikenakan untuk transaksi pinjaman uang yang diperhitungkan dari pokok pinjaman tanpa mempertimbangkan pemanfaatan/hasil pokok tersebut, berdasarkan lamanya peminjaman (durasi), dan diperhitungkan secara pasti di awal berdasarkan prosentase. Selanjutnya, dalam keputusan tersabut dijelaskan bahwa riba adalah tambahan tanpa imbalan  yang terjadi karena penangguhan dalam pembayaran yang diperjanjikan sebelumnya . Ini adalah riba nasî`at.

Kedua, dalam keputusan tersebut ditetapkan bahwa praktek pembungaan uang dalam berbagai bentuk transaksi saat ini telah memenuhi kriteria riba yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad Saw., yakni riba nasî`at. Dengan demikian, praktek pembungaan uang termasuk salah satu bentuk riba, dan haram hukumnya. Terdapat tambahan informasi sebagai lanjutan dari keputusan tersebut, yaitu bahwa praktek pembungaan uang banyak dilakukan oleh Bank, Asuransi, Pasar Modal, Pegadaian, Koperasi, dan Lembaga Keuangan lainnya, termasuk juga dilakukan oleh orang-orang tertentu secara perorangan.

Ketiga, hukum bermu`amalah dengam bank yang menggunakan sistem bunga (bank konvensional). Dalam keputusan tersebut masih ditetapkan dua hukum mengenai bermu`amalah dengam bank konvensional: bagi penduduk yang tinggal di daerah yang sudah terbentuk Lembaga Keuangan Syari`ah; dan bagi penduduk yang tinggal di daerah yang belum terbentuk Lembaga Keuangan Syari`ah.

Umat Islam yang tinggal di suatu daerah yang sudah terbentuk Lembaga Keuangan Syari`ah, tidak diperbolehkan (haram) melakukan transaksi yang didasarkan pada perhitungan bunga. Dengan kata lain, umat Islam yang tinggal di suatu daerah yang sudah terbentuk Lembaga Keuangan Syari`ah, diharamkan melakukan transksi dengan bank konvensional; dan juga diharamkan melakukan transaksi dengan orang lain dengan menggunakan pearhitungan bunga seperti yang dilakukan di bank-bank konvensional.
Umat Islam yang tinggal di suatu daerah yang belum terbentuk Lembaga Keuangan Syari`ah, diperbolehkan melakukan kegiatan transaksi di lembaga keuangan konvensional dengan alasan keterpaksaan .

IV.Kesimpulan
Ijtihad adalah sebuah usaha yanag sungguh-sungguh yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Qur’an maupun hadist dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang. Namun pada perkembangan selanjutnya, diputuskan bahwa Ijtihad sebaiknya hanya dilakukan para ahli agama Islam. Tujuan Ijtihad adalah untuk memenuhi keperluan umat manusia akan pegangan hidup dalam beribadah kepada Allah, disuatu tempat tertentu atau pada suatu waktu tertentu.
Meskipun Itjihad diperbolehkan menurut hukum Islam namun panglima tertinggi dalam menentukan Halal dan Haram adalah Al Qur’an dan itu tidak bisa ditawar-tawar lagi. Seperti halnya menentukan bunga bank yang masih terjadi perdebatan dikalangan ulama tentang kehalalannya, maka mari kita kembali ke Al Qur’an.
Ini dipertegas  dalam Al Qur'an Surah Al Baqarah ayat 275, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba'... Pandangan ini juga mendorong maraknya perbankan syariah dimana konsep keuntungan bagi penabung didapat dari sistem bagi hasil bukan dengan bunga seperti pada bank konvensional,  karena menurut sebagian pendapat (termasuk Majelis Ulama Indonesia), bunga bank termasuk dalam riba'. Lalu bagaimana  suatu akad itu dapat dikatakan riba' ? Hal yg mencolok dapat diketahui bahwa bunga bank itu termasuk riba' adalah ditetapkan akad diawal. Jadi ketika kita sudah menabung dengan tingkat suku bunga tertentu, maka kita akan mengetahui hasilnya dengan pasti, berbeda dengan prinsip bagi hasil yang hanya memberikan nisbah bagi hasil bagi deposannya, dampaknya akan sangat panjang pada transaksi selanjutnya, yaitu bila akad ditetapkan di awal / presentasi yang didapatkan penabung sudah diketahui, maka yang menjadi sasaran untuk menutupi jumlah bunga tsb adalah para pengusaha yang meminjam modal dan apapun yang terjadi, kerugian pasti akan ditanggung oleh peminjam, berbeda dengan bagi hasil yang hanya memberikan nisbah tertentu pada deposannya, maka yang dibagi adalah keuntungan dari yang didapat kemudian dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati oleh kedua belah pihak, contoh nisbahnya adalah 60 % ; 40% maka bagian deposan 60% dari total keuntungan yang didapat oleh pihak bank.

Saran
Melihat kondisi Bank Syariah yang kurang diminati masyarakat Indonesia yang 90% beragama Islam maka sebaiknya Pemerintah meninjau kembali Undang-Undang Perbankan khususnya untuk Bank Syariah. Karena apabila Pemerintah membiarkan kondisi ini maka keberadaan Bank Syariah di Indonesia bagai menebar garam dilautan (sia-sia belaka red). Kemudian produk-produk bank Syariah  harus mampu bersaing dengan bank-bank Konvensional yang keberadaannya lebih dulu dibanding Bank Syariah. Bila Pemerintah Tetap tidak melakukan inovasi terhadap keberadaan Bank Syariah saat ini maka Kehadiran Bank Syariah akan Games Over alias MATI.

DAFTAR PUSTAKA

  • DR. Drs.Ongky Setio Koncono, SH, MM. (Hukum Perbankan)
  • Buku Bank Syariah dari Teori Ke Praktek karya Muhammad Antonio Syafi’i
  • Penerapan Prinsip Syari’ah karya Abdul Ghofur 2008.
  • www.koperasisyariah.com
  • Wikipedia

Comments   

 
0 #1 Arsyad 2013-12-12 10:41
apakah dengan munculnya bank syariah, perekonomian perbankan di indonesia menjadi negara yang perekonomian sejahtera.
 

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Perlunya Jeda

21-05-2018 Hits:89 Berita Foto

Perlunya Jeda

Pagi hari ini, kami sengaja berjalan di persawahan Ubud. Tidak sengaja kami berkenalan dengan peternak bebek yang sangat ramah.

Read more

Jalan Santai Dalam Rangka Memperingati Hut Ke 211 Gereja Keuskupan Agung Jakarta

12-05-2018 Hits:239 Berita Foto

Jalan Santai Dalam Rangka Memperingati Hut Ke 211 Gereja Keuskupan Agung Jakarta

Tanggal 08 Mei 2018 Gereja Keuskupan Agung Jakarta memperingati Hari Ulang Tahun yang ke 211 (08 Mei 1807 – 08...

Read more

Kebaktian Akbar Depok

30-04-2018 Hits:320 Berita Foto

Kebaktian Akbar Depok

Kebaktian spektakuler di Depok Jabar yang dihadiri 1000 umat lebih dengan pembicara Ws. Ir Budi ST, MM dan Ws. HT....

Read more

Tokyo Ke Jakarta

13-04-2018 Hits:257 Berita Foto

Tokyo Ke Jakarta

Perjalanan pulang dari airport Haneda Tokyo. Tidak terasa 1 minggu perjalanan di negara Sakura. Kenangan indah untuk dilupakan.

Read more

Menuju Ke Tokyo

12-04-2018 Hits:135 Berita Foto

Menuju Ke Tokyo

Setelah sarapan pagi di hotel Marusansou, kami menuju ke Karuizawa Factory Outlet yang merupakan factory outlet terbesar. 

Read more

Gasho Village

11-04-2018 Hits:100 Berita Foto

Gasho Village

Setelah semalam mandi onsen, tidur bisa nyenyak sekali sehingga badan menjadi segar. Pagi ini harus bangun pagi untuk siap siap...

Read more

Dari Kobe Menuju Nara

10-04-2018 Hits:119 Berita Foto

Dari Kobe Menuju Nara

Perjalanan dari Kobe munuju Nara. Ada tempat berbelanja di Naramachi. Sebelumnya rombongan menyempatkan diri ke Todaiji Temple sebuah kuil dibangun...

Read more

Negara Sakura

09-04-2018 Hits:138 Berita Foto

Negara Sakura

Tiba di Kanzai-Osaka pagi tanggal 7 April 2018. Udara waktu itu 11 derajat celcius. Sesampainya di airport langsung menuju Osaka...

Read more

Bersama Setiadi Joyosentoso

04-03-2018 Hits:553 Berita Foto

Bersama Setiadi Joyosentoso

Setiadi Joyosetoso bos PT. Surya Putra Barutama yang beralamat di jalan Kedurus 23 adalah sosok seorang bisnisman yang merangkak dari...

Read more

Pasar Turi Tradisionil Singkawang

03-03-2018 Hits:265 Berita Foto

Pasar Turi Tradisionil Singkawang

Pagi ini rombongan menuju pasar tradisionil. Pasar tersebut tidak seperti pasar lainnya yang kelihatan jorok. Di dekat pasar ada bubur...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 471-480

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Menurut Anda apa yang paling penting dilakukan saat Imlek ?

Bersembahyang leluhur - 0%
Menerima Angpao - 0%
Membeli baju baru - 0%
Sembahyang di Kelenteng - 0%
Berkunjung ke sanak-saudara - 0%

Total votes: 0
The voting for this poll has ended on: March 30, 2018

Who's Online

We have 59 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com