spocjournal.com

Kecenderungan Mutakhir Agama Lain

Oleh: Prof. Dr. Dr. Dr. Lee T Oei

Roh Kebajikan berupa Xing adalah sebenarnya kekuatan dari luar manusia yang mempengaruhi  kehidupan mencapai hakekat Tuhan. Namun demikian ajaran Khonghucu menekankan pada penggalian diri untuk bisa menemukan kebenaran Tuhan. Kita wajib mengkaji lebih dalam lagi hal ini untuk mencerahan agama (Dr.Setio Kuncono,SH,SE,MM)

Tukar-pikiran antara dua lokakasya mungkin akan lebih berhasil bila kita mengalihkan perhatian ke perkembangan allahut (teologi) mutakhir di Barat dan membandingkan wawasannya dengan yang berkembang dalam kerangka Agama Konfuciani. Kecenderungan mutakhir yang penulis akan singkat ungkapkan di sini : (1) Allahut serba-penghidupan (teologi eksistensialis), (2) Penghapusan puranasastra (demitologisasi), (3) Pendekatan perlambangan pada bahasa agama, (4) Allahut kematihan Tuhan, (5)Penduniawian, dan (6) Buram jadi dan penciptaan. Ajaran-ajaran yang terdapat pada kecenderungan-kecenderungan bermacam-macam ini kiranya tidak selalu selaras satu sama lain, tetapi semua menunjukkan keinginan untuk menghidupkan kembali amanat Nasrani dan memugarkan kembali dalam cara sedemikian sehingga akan memberi jawaban pada kebutuhan-kebutuhan keadaan dewasa ini. Penulis berpendapat, bahwa kecenderungan-kecenderungan ini menuju pada ajaran-ajaran tertentu yang amat dekat pada apa yang lazimnya dianggap sebagai azas ajaran agama Konfuciani.

(1) Allahut Barat agaknya telah mendapatkan sumber ilham baru dalam perkembangan agama serba-penghidupan.38 serba-penghidupan sebagai kecenderungan menyangkal, bahwa cara berpikir swadhara-stithah (obyektip), ilmiah dapat mencapai pengertian penghidupan manusia lebih mendalam. Menurut Kierkegaard, “Kebenaran adalah Keadhikarna-saswadian (subyektipitas). “Agamawan serba-penghidupan merasa, bahwa hanya melalui satu lompatan kepercayaan dan melalui keberanian dan membuat putusan penghidupan,seorang akan menerima amanat Nasrani yang dari sudut pandang nalar manusiawi Nampak penuh purwacarita, teka-teki, dan bahkan kemustahilan. Agamawan Konfuciani setuju dengan agamawan serba-penghidupan, bahwa tidak melalui nazam (metodos) penyamarataan pengalaman, kita dapat menegakkan hakekat kekuatan cipta tertinggi di alam semesta. Penalaran tidak pernah dapat meraih azas agama tertinggi. Hanya melalui pencerahan sebelah dalam dan insyaf akan ukuran mendalam di dalam manusia, ia dapat merenggut kehalusan mahanah (fungsi) azas penciptaan. Tetapi Agamawan Konfuciani tidak hendak dalam segala pengertian menafi mahanah nalar. Masalah kepercayaan melawan penalaran nampak tidak terjadi pada mereka, sebab tepat melalui sepenuh ikhtiar mahanah nalar, azas pengubahan-bentuk diwahyukan kepada manusia. Nalar tidak sama dengan mahanah akal pikiran yang memimpin penalaran mantikiah (logis)dan penyamarataan pengalaman pada taraf daya-ingat. Nalar amat dalam menerobos hati kegaiban kawnii (kosmik).

(2) Terdapat kecenderungan kuat dalam terah-tumerah Nasrani dewasa ini untuk melaksanakan seni penghapusan-puranasastra demi melepaskan amanat Nasrani dari hubungannya dengan puranasastra. Usaha membetulkan salah-mengerti yang tidak perlu, agar mendapatkan kembali makna mendalam penetapan gereja, bahwa Tuhan bertindak sebagai Isa dalam Perjanjian Baru. Pemimpin gerakan ini, Rudolf Bultman.39 Nampaknya, betapapun, penghapusan-puranasastra tuntas tidak dapat dilaksanakan dalam lokakasya Nasrani. Paul Tillich berpendapat, bahwa “semua percobaan maulikah (radikal) menghapus puranasastra dalam agama cum-Cuma belaka.”40 Bagi Tillich penghapusan-puranasastra harus ditafsirkan sebagai penghapusan-pengharafiahann (deleteralisasi).41 Sebab itu, bukanlah suatu kebetulan, bahwa Tillich telah mengembangkan ajaran, bahasa agama adalah lambang, yang akan dibicarakan dalam alinea berikut. Dalam lokakasya Madhyanagara, betapapun, bentuk penghapusan-puranasastra yang lebih maulikah telah dilaksanakan sejak zaman Konfucius. Amanat Atputtamah (Transcendent)tuntas putus hubungan dengan purwasastra (puranasastra). Kegaiban mendalam pengidupan dinyatakan, manakala seorang dapat menyingkap sumber makna kaya-raya dalam hidupnya sendiri. Tauladan mahatma dibutuhkan demi menularkan pengalaman manusiawi yang bermutu kepada angkatan kemudian, tetapi kegaiban yang benar terletak di relung hati setiap orang. Tiada kepercayaan berupa wewenang luar membantu mendatangkan pencerahan seseorang.

(3) Dekat berhubungan dengan gerakan penghapus puranasastra adalah usaha Paul Tillich membentangkan watak dasar lambing bahasa agama. Ia tegas membedakan anatra: (a) mahanah (fungsi) tanda dan mahanah lambang ; (b) pengertian ilmiah dan cita-cita agama; dan (c) kepercayaan berdasarkan Atputtmah.42 Kecuali terjadi suatu sala-mengerti besa, agama pada taraf tertinggi tidak menentang pengetahuan berdasarkan pengalaman duniawi. Bahasa kepercayaan adalah lambang, sebab hanya bahasa lambang dapat mengungkapkan sesuatu yang tertinggi. Kecuali bagi wacana: “Tuhan adalah Hakekat Sendiri”, Tillich menganggap, bahwa semua wacana tentang Tuhan yang dibuat, pada hakekatnya, adalah lambang. Kalau segala wacana yang dimaksud harafiah, maka apa guna mengadakan hubungan dengan kenyataan diluar bahasa. Orang Madhyanagara tidak percaya, bahwa wacana harafiah sedemikian mungkin, sebab bahasa tidak pernah cukup mengemukakan kenyataan. Kenyataan dan pengalaman kenyataan datang terlebih dahulu, bahasa yang digunakan untuk mengacu mereka datang kemudian. Berdasarkan pengertian yang begitu sederhana tentang mahanah (fungsi) terbatas bahasa, orang Madhyanagara tercegah dari kebingungan membedakan antara lambang dan kenyataan. Agamawan Konfuciani gembira menerima pandangan, bahwa bahasa tentang segala sesuatu tertinggi sesungguhnya adalah lambang. Bahwasanya bahasa tidak dapat memenuhi makna adalah senantiasa dasar pikiran lokakasya agama Madhyanagara. Orang Madhyanagara amat-sangat mengerti, bahwa kenyataan dalam penataran (proses) tidak pernah dapat ditangkap kembali oleh sarana bahasa yang bikinan. Lambang tidak pernah lebih daripada penuding ke kenyataan. Dalam pengertian inilah, secara lawan-azas, diam adalah hubungan terbaik. Dengan demikian, orang Madhyanagara menikmati penggunaan bahasa lambang yang amat-sangat lunak untuk membawakan pengalaman tertinggi, tanpa pada waktu yang sama, memperkenankan lambang mengganti kenyataan, sebab semua lambang harus menuding di luar mereka sendiri ke sesuatu yang dilambangkan. Gerakan carakin-bahasa umum yang mengikuti mazhab Wittgenstein condong memulihkan makna ke perbincangan tentang pengkajian agama, setelah kasar diserang oleh serba-pasti mantikiah (logical positivism). Tetapi oarng Madhyanagara berpendapat lebih jauh, bahwa walaupun kalau bahasa penting, masalah terpenting tetap pengalaman kenyataan yang tidak dapat diganti dengan sesuatu bentuk carakin bahasa.

(4) Akhir-akhir ini perkembangan allahut maulikah (teologi radikal) di Amerika, yang dinamakan: Allahut Kematian Tuhan, telah mengejutkan pikiran umat Nasrani kolot.43 Para pemikir tidak satpathagami (ortodoks) ini mengumumkan, bahwa Tuhan mati dan buram Tuhan Nasrani terah-tumerah tidak penting bagi keadaan mutakhir atau bagi kehidupan manusia pada umumnya. Tidak seperti umat lokakasya, mereka cenderung sungguh-sungguh memasukkan-hati tantangan serba-dariah (ateisme). Bahkan mereka nampak berusaha mengembangkan seba-dariah Nasrani, yang hendak menjaga makna amanat Nasrani di dalam dunia yang semakin bersifat manusiawi, dengan melepaskannya dari kepercayaan usang akan buram Tuhan terah-tumerah. Dalam lokakasya Madhyanagara, nampaknya, Tuhan tidak pernah mati, paling sedikit, sejak zaman Konfucius, yang lebih-kurang lima abad sebelum datangnya zaman Nasrani. Perubahan yang dibawakan zaman baru ilmu pengetahuan dan laksinaka (teknologi), tidak sepertinya diperlukan membangunkan pikiran orang Madhyanagara untuk menolak akan kepercayaan akan Tuhan Yang Mahatinggi yang berbentuk dan bersifat perorangan. Orang Madhyanagara agaknya telah lama tegas membedakan amanat agama murni bebas, dari kepercayaan mutlak akan kekuatan adikodrati yang campur-tangan dalam rangkaian peristiwa alam.

(5) Kecenderungan penduniawian sangat menyolok-mata, dalam perkembangan Allahut, pada abad keduapuluh. Dietrich Bonhoeffer-lah yang mencipta semboyan: “manusia menjadi dewasa.” Maksudnya, manusia menjadi akil-baliqh, dalam pengertian, ia menolak menjadi mangsa agama yang coba membuatnya tergantung pada apa-apa tempat ia berada, dengan demikian, ia tidak lagi bebas. Sebaliknya, kehendak Tuhan-lah, ditampilkan sebagai Isa, yang memaksa manusia mengenal kesucian dunia dan dewatanta. Hal ini mengundang manusia menerima kewajibannya yang bebas dan swatranta bagi dunia. Tidak terdapat lebih banyak pembagian dunia ketimbang dalam dua taruhan, suci dan duniawi.44 Seperti dini dipercakapkan dalam karil (karya ilmiah)ini, suci dan duniawi tidak pernah tegas dibedakan dalam lokakasya Madyanagara. Tanpa mengabaikan amanat Atputtamah (Transcendent), Agamawan Konfuciani, yakin bahwa surga dan manusia dapat sempurna bersatu, dan manusia menempati kedudukan poros dialam semesta, sebab manusialah yang dapat membuat Tarekat besar, dan bukan Tarekat yang dapat membuat manusia besar.

(6) Setelah duaribu tahun bertanggung-jawab pada kepercayaan akan Tuhan sebagai Atputtamah murni, yang diluar semua perubahan, semua kejahatan, dan semua keterbatasan, terdapat kini suatu gerakan di Barat yang cenderung memugar kembali buram Tuhan, bahwa Tuhan sebagai Tuhan menjadi. Hal ini amat berbeda dengan buram terah-tumerah yang melambangkan Tuhan sebagai Hakekat, yang mengikuti tafsir filsafat Junani, lokakasya anwiksiki (ontologis). Whitehead dapt dikata penasehat gerakan ini. Para failasuf agama sebaya, seperti Charles Hartshorne dan Henry Nelson Wieman telah mencoba, masing-masing menurut jalannya sendiri, membangun buram-Tuhan baru, yang menitik beratnya kenisbian, perubahan antarcipta, dan lain-lain. Akibat memungut buram-Tuhan baru bak itu masih harus dilihat. Betapapun, terdapat kesangsian sedikit, bahwa aliran ini bergerak mendekat ke lokakasya Madhyanagara, yang condong tidak membicarakan Tuhan, tetapi tidak pernah menghindari mencari Mutlk Besar (T’ai-chi), dalam perkataan lain, suatu pengertian menerobos azas perubahan-bentuk dan penciptaan, yang bekerja di dalam semesta.

Kesimpulan
Pengamatan di atas sepenuhnya mengandung kebenaran. Dua lokakasya agama besar, dengan gagasan-gagasan yang pada pula Nampak berlawanan, ternyata dapat saling mendekat. Tukar-pikiran yang berarti, bukan tidak mungkin, tetapi terbukti menguntungkan kedua terah-tumerah. Fitnah bahwa Agama Konfuciani bukan agama, hanya menandakan kekurangan pengetahuan fihak pemfitnah akan hakekat-hakekat kedua agama. Setelah secara pengatahuan semesta dibuktikan diatas, bahwa Agama Konfuciani, sama seperti agama besar lain, hakiki adalah agama, kalau masih ada “umat” (diantara tanda petik) agama lain mencundang, bahwa agama Konfuciani bukan agama, si pencundang hanya menggunjing agama sendiri.

Pengalaman agama adalah sama dianatara umat manusia, tetapi pengejawantahannya barang kali amat berlainan. Sesuatu agama yang gagal menanggapi kebutuhan zamannya menuju kematian. Setiap agama besar di dunia melestarikan diri-sendiri dengan membuat perbedaan penting antara apa yang hidup dan apa yang mati di dalam lokakasya, dan dengan memugar kembali amanatnya, sedemikian rupa, sehingga menjadi bersangkut-paut dengan keadaan dewasa ini.

Bahaya peradaban mutakhir, kiranya, adalah perlawanan terhadap Perhadapan Abad menengah. Hatta, yang duniawi seolah-olah telah menaklukkan yang suci; dewasa ini, yang duniawi, bahkan-gerangan, naik-daun. Dengan segala kemajuannya, pikiran manusia lebih banyak diganggu di zaman mutakhir ketimbang di zaman-zaman sebelumnya. Manusia dapat berusaha menuju keuntungan perseorangan, menuju keadilan masyarakat, dan lain-lain, tetapi ikhtiar-ikhtiar itu tidak Nampak menyelesaikan masalah-masalah di dalam hatinya. Kalau pengenalan-penyakit keadaan mutakhir Paul Tillich betul, bahwa ancaman utama bagi manusia mutakhir adalah masalah ketakberartian, syahdan satu pencarian jawaban agama tidak dapat dicegah.45 Tetapi sebelum kita dapat pergi terlampau jauh menuju ke kelak-kemudian, kita terlebih dahulu harus tuntas-meneliti memeriksa dahulukala dari sudut pandang perbandingan. Harapan penulis, karil ini semoga membuka kemungkinan-kemungkinan kaya-raya bagi pengkajian, pemelitian dan usaha-usaha membangun, terutama bagi kaum pencundang dan asbun (asal-bunyi).

 

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:162 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:873 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:113 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:234 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:129 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:400 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:294 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:228 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:171 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:714 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 95 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com