Tuhan YME Dan Dunia

Oleh : Prof. Dr. Dr. Dr. Lee T Oei

Tuhan YME ( Tian ) sebagai sumber kekuatan dan inspirasi kehidupan. Dengan meningkuti jalan Nya serta mengabdi kepada Surga, ketika matipun kita akan merasa damai dan tentram ( Dr.Setio Kuncono,SH,SE,MM ).

Dunia dari sudut pandang Agama Konfuciani adalah penataran cipta yang terus –menerus, dan manusia mempunyai kemampuan dan kesanggupan giat ikut-serta dalam penataran cipta ini. Agama Konfuciani telah mencapai ketinggian baru didalam Uraian Dalam Kitab Perubahan. Suatu tatanan rumit tentang serba semboyan jagadsuthi (kosmologis) telah dirumuskan, yaitu buram agama tentang T’ai-chih (Mutlak besar) dan yin-yangi (tenaga abwaha/negatif dan bhawa /positip yang bekerja di dalam alam semesta). Carakin (analisa) rinci tidak akan ditayangkan disini. Cukup demi kepentingan kita bersama mencamkan beberapa wacana kunci kitab Uraian.

“Gerak berturut-turut yin dan yang merupakan tarekat (Tao). Apa yang dihasilkan Tarekat adalah baik, dan menyedarinya adalah alam perseorangan. Manusia yang berbelas-kasih melihatnya dan menamakannya cinta-kasih (jen). Manusia yang berkebijaksaan melihatnya dan menamakannya hikmah. Dan manusia pada umumnya bertindak menurutnya setiap hari tanpa mengetahuinya, dengan demikian. Tarekat orang berjiwa besar penuh dilaksanakan. Semangatnya diejawantahkan dalam cinta-kasih, tetapi disembunyikan didalam mahanah (fungsi). Semangatnya mengembangkan segala sesuatu tanpa membagi keinginan cewendikiawan lain. Alangkah sempurnanya, kebijakannya yang nyata dan hasil-pencapaiannya yang agung! Hasil –pencapaiannya agung, karena memliki segala sesuatu, dan kebajikannya banyak, karena membaharui segala sesuatu setiap hari. “

Beberapa ciri-ciri mulia sudut pandang Agama Konciani diungkapkan didalam wacana di atas. (1) Para agamawan Konfuciani percaya, bahwa dunia merupakan penataran cipta cergas begerak menuju kepenyempurnaan nilai-nilai yang senantiada bertambah. Dan terdapat alasan agama dalam manusia, untuk baginya menginsyafi amanat penciptaan dalam alam semesta. (2) Dari sudut pandang widyagama (epistemolagi), betapapun, tidak setiap manusia dapat menginsyafi amanat mendalam itu, walaupun kenyataannya, bahwa kekuatan cipta rinci berjalan tanpa henti-hentinya  didalam hidupnya sehari-hari. Dunia seorang bersangkut-paut dengan pengertiannya tentang dunia. Di sini ditemukan akar terdalam keinginan seorang cendekiawan yang mengambilnya sebagai tugasnya mencerahkan rakyat dan mendesak mereka berselaras dengan ukuran kenyataan terdalam. (3) Perbedaan antara tarekat Attputtamah (Transcendent) =Tuhan YME) dan tarekat cendekiawan adalah perbedaan antara: yang satu tanpa ikhtiar dan tanpa batas, dan yang lain dengan ikhtiar luar biasa dan dengan batas manusiawi. Manusia dapat meniru Tarekat Tuhan YME dan giat ikut-serta dalam penataran-cipta alam semessta tanpa mampu tepat menyamai Attputtamah. Swadara-sthitah (obyektip). Dunia manusiawi tidak pernah mencapai kesempurnaan mutlak. Secara pengalaman, betapapun, cendekiawan, setelah segala ikhtiarnya, tidak kecewa dalam hatinya, sebab ia telah senantiasa bekerja mengikuti kekuatan cipta di alam semesta dan telah memenuhi takdir-manusiawinya yang khusus. Di sini, kita dapat melihat jelas pertemuan dan perisahan antara Tarekat Tuhan YME dan tarekat manusia.

Sangat menarik untuk diperhatikan, bahwa terdapat persamaan antara istilah-istilah “T’ien dan “Tuhan YME”. Terdapat persetujuan menggunakan istilah “Shang-ti”j (Tuhan Yang Mahatinggi) untuk menterjemahkan “{Tuhan” nasrani. Shen,k istilah yang digunakan orang-orang Madhyanagara (Tionghoa) mutakhir untuk menterjemahkan “Tuhan”, muncul pada Uraian Kitab Perubahan dalam hubungan kata-kata seperti berikut:

“Perubahan berarti penciptaan dan penciptaan yang pantang berhenti. Ch’ien1 berarti menyempurnakan bentuk, dan k’unm berarti mengikuti tauladan bentuk. Keyuhanan berarti menuju ketarekat peristiwa alamiah sepenuhnya, agar mengetahui masa depan. Adil menyesuaikan dan menampung sepantasnya. Dan, yang tidak dapat dijajaki dalam  kerja yin dan yang dinamakan rokh. “

Ch’ien dan k’un adalah dua nama sadgarit (hexagram) terpenting. Ch’ien adalah lambang bagi Tuhan YME, penciptaan, dan K’un, lambang bagi dunia, makanan. Penulis condong menterjemahkan Shen sebagai “roks”. Tidak ada apa-apa lebih daripada perasaan  terpesona terhadap sesuatu yang tidak dapat dijajaki, dan dari sebab itu, mahanah (fungsi), beda tajam dari tekanan Barat atas bahan. Orang Madyanagra, nampaknya telah berhasil melambangkan Attputtmah (Trancendent)dalam bentuk kasat-mata, Azas penciptaan anwiksiki (metafisik) dalam bentuk perorangan, Tuhan Yang Mahatinggi. Karenanya, tauhid mahanah (keesaan fungsionil) tumbuh subur di Tanah Naga.

Pada akhir ahala Chou, agama pada umumnya menikmati masa keemasan. Ketika ahala Han, Agama Konfuciani dijadikan agama satpathagami (ortodoks) ahala. Tetapi agama Konfuciani memburuk menjadi pengkajian kitab bahari yang suka menonjolkan keilmuan, atau agama uddhakara (eklektik) yang memungut tafsir harafiah tentang persatuan antara Tuhan YME dan manusia serta cenderung menghasilkan dan bantu memperkembangkan kepercayaan-kepercayaan takhajul. Walaupun perlembagaan Agama Konfuciani telah berlangsung sejak ahala Han, wawasan pada tingkat agama dihidupkan pula hanya pada ahala-ahala Sung dan Ming oleh Mazhab-mazhab Konfuciani Baru. Ajaran azasi Agama Konfuciani utuh dan lengkap dipelihara, hanya perumusan pikiran menjadi lebih rinci, karena ransang yang diterima dari tantangan-tantangan Agama Buddha dan Agama Tao. Beberapa perkembangan dalam Agama Konfuciani baru, yang penting bagi perbincangan kita, dapat diikhtisarkan sebagai berikut:

  1. Pada peringkat manusia, buram baru lin (azas) dan ch’io (tenaga kebendaan)dikembangkan, azas T’ai-chi (Mutlak Besar) ditegakkan , dan ajaran-ajaran luas-mendalam tentang jagadsuthi (kosmologi) diusahakan, bahkan melingkup hakekat rokh dan nyawa mendapat penjelasan dalam pengertian pengaruh-mempengaruhi antara azas dan tenaga kebendaan. Sayap serba-gagasan Agama Konfuciani Baru yang diwakili Lu Hsiang-shan dan Wang Yang-Ming meningkatkan pikiran kedalam azas anwiksiki (metafisika ).
  2. Pada peringkat manusia, ajaran tentang alam manusia yng jauh lebih rumit dirumuskan. Perbedaan antara alam kebendaan manusia dan alam susila diadakan. Cara teratur tentang tata-tertib pribadi dikembangkan, dan pengertian lebih menerobos tentang bagaimana mengembangkan pikiran asli seeorang, menyedari akan alam asli seseorang, dan membentuk persatuan sempurna dengan Tarekat, sungguh-sungguh ditekuni. Bagi agamawan Konfuciani, alam kebendaan manusia tidak hakiki jahat. Alam manusia susila harus tergantung pada alam kebendaan manusia demi menyempurnakan tujuannya. Betapapun, seorang budak berkecenderungan merebut kedudukan majikannya. Sekali hal ini dikerjakan, kejahatan-kejahatan tidak tercegah menyusul. Lha, ini dinamakan, “fool-itik”!

Kaum agamawan ahala Sung membuat carakin (analisa) mendalam tentang alam kebendaan manusia untuk menanggapi tekanan Agama Buddha atas segi nafiah (negatip) penghidupan manusia.

Wacana-wacana tertentu hal-ihwal mayarasa (sentimen) umum kaum Agamawan Konfuciani Baru, telah amat baik diungkapkan oleh kata-kata Chang Tsai dalam makalah beliau, “Prasasti Sebelah Barat”
“Tuhan YME adalah ayahandaku dan bumi, ibundaku. Meskipun makhluk sekecil aku, mendapatkan tempat karib di antara mereka . . . . . . . .  …   ..
“Seorang yang mengenal azas perubahan-bentuk, akan mahir meneruskan pemeliharaan surga dan dunia, dan seorang yang menerobos rokh pada peringkat yang tertinggi, akan mahir melanjutkan kehendak Surga dan Dunia.
“Kekayaan, kehormatan, pemberkahan dan kemanfaatan dimaksudkan bagi memperkaya hidupku, sedangkan kemiskinan, kedudukan rendah, dan kesusahan dimaksud membantu aku memenuhi jiwaku.
“Jika dalam hidup aku mengikuti dan melayani Surga dan Dunia, dalam kematian aku akan merasa damai. “
Dengan mengikuti terah-tumerah (tradisi) Konfuciani Kuno dan lokasya (tradisi) Konfuciani Baru ahala-ahala Sung dan Ming dalam pengkajian di depan, penulis berharap, telah membawakan keprihatinan tertinggi Agama Konfuciani.

Setelah ahala Ming, Agama Konfuciani pula menderita sesuatu penataran (proses) kemerosotan. Ketika ahala Ch’ing, serba-renung mengala pada serba-nyata (pragmatisme) dan pengkajian penulisan sejarah. Hingga abad keduapuluh adicita-adicita (ideologi-ideologi) lokakasya dikecam habis-habis berhubung pengaruh Barat, tetapi senantiasa terdapat perseorangan terkemuka membaktikan diri kepada pembangunan kembali wawasan pikir terah-tumerah.