spocjournal.com

Epistemologi Xun Zi (Bagian 1)

Oleh : Xs. Dr. Oesman Arif, M.Pd

Guna memahami suatu ajaran filsafat sebaiknya mempelajari epistemologinya supaya dapat memahami jalan pemikiran filsufnya (Whitehead 1929: 6). Epistemologi menjelaskan dasar pertimbangan yang digunakan oleh filsuf untuk menetapkan ajarannya. Misalnya, Xun Zi menyatakan bahwa pedoman hidup yang benar itu ajaran Nabi Kongzi. Untuk mengetahui pendapat Xun Zi itu benar atau salah perlu dipelajari alasannya. Epistemologi mempelajari konsistensi berpikirnya, dan menguji kebenaran isi pendapatnya.

Epistemologi atau disebut juga Filsafat Ilmu Pengetahuan terkait dengan kayakinan Ontologinya. Kaum Materialisme meyakini bahwa yang ada itu hanya materi. Epistemologinya memperkuat keyakinan Ontologi mereka dengan berbagai alasan yang menurut mereka masuk akal. Pendukung Filsafat Idealisme mengembangkan Epistemologi juga untuk mempertahankan keyakinan Ontologi mereka dengan berbagai alasan. Ontologi adalah pemikiran abstrak yang telah menjadi keyakinan, dan tidak dapat dibuktikan benar atau salah. Apabila ada orang yang menyatakan bahwa filsafat Materialisme itu yang benar, kata-kata itu tidak bermakna karena dia hanya membela keyakinannya sendiri. Sebaliknya, pengikut filsafat Idealisme juga tidak dapat membuktikan kebenaran keyakinannya. Keyakinan memang tidak perlu dibuktikan kebenarannya.

Xun Zi menyebut San Cai sebagai Ontologinya juga merupakan keyakinan. Menurut dia keyakinan itu mudah dipahami karena dapat dilihat dan dialami oleh semua orang. Xun Zi dan semua pengikut ajaran Nabi Kongzi sependapat bahwa kebenaran suatu pendapat atau teori itu hanya dapat dibuktikan apabila sudah berhasil dalam pelaksanaannya. Xun Zi mengembangkan filsafat terapan bukan filsafat teoritis. Konsep Yin Yang juga bersifat abstrak, namun kebenarannya harus dilihat dalam kenyataan di lapangan.

Alan Watts menyatakan bahwa kini filsafat Barat mengalami kebuntuan karena sangat menggantungkan pada epistemologi yang terfokus pada metodologi (Watts. 2000: 1). Di Barat ilmu filsafat perkembangannya sangat subur, banyak aliran dengan ajaran bervariasi, masing-masing mempunyai gaya dan coraknya sendiri. Namun, orang Barat mengembangkan filsafat Teoritis. Kebenaran suatu pendapat harus diuji dahulu dengan logika. Pernyataan yang tidak benar menurut kaidah Logika tidak dianggap benar, meskipun dalam praktik di lapangan terbukti benar. Misalnya, orang masuk angin badannya dikerok dengan minyak dan uang logam sembuh, kebenaran itu sifatnya tidak ajeg dan tidak ada dasar ilmiahnya. Beberapa pukuh tahun yang lalu, ilmu pengobatan Tusuk Jarum juga dianggap tidak ilmiah karena memakai Epistemologi yang berbeda dengan Epistemologi Barat.  

Di Tiongkok, muncul banyak aliran filsafat, tetapi perkembangan ajarannya tidak banyak variasinya. Filsafat Tiongkok mempunyai sifat sebagai filsafat terapan, bukan filsafat teoretis. Filsafat Xun Zi lebih dominan dari pada filsafat lain di Tiongkok karena mengembangkan filsafat politik, filsafat pendidikan, filsafat hukum, dan ilmu-ilmu sosial lain. Dengan perkataan lain filsafat Xun Zi membahas berbagai masalah penting yang dihadapi masyarakat Tionghua. Xun Zi telah menjabarkan filsafatnya menjadi filsafat praktis dan realistis, akibatnya Filsafat Xun Zi menjadi filsafat yang sangat akrab dengan kehidupan rakyat.

Menurut Koento Wibisono (1983: 11), filsafat Barat yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan teknologi zaman modern ini adalah aliran Positivisme dari  Auguste Comte (1798 – 1857). Ia menyebutkan hukum tiga tahapan perkembangan, yaitu tahapan Theologis, tahapan Metafisis, dan tahapan Positif. Menurut Comte, kebudayaan manusia mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan pemikiran masyarakatnya.

Tahapan pertama, disebut tahapan Theologis orang mengembalikan akar permasalahan kepada yang maha mutlak, yaitu Tuhan. Pada tahapan ini orang suka berpikir tentang hal yang sulit untuk dijawab, karena semua fenomena yang ditemukan selalu dicari dasar yang terdalam. Misalnya, orang bertanya tentang kekuatan yang mengatur alam semesta. Pertanyan ini sulit dijawab dengan memuaskan karena tidak ada seorang pun yang melihat ‘kekuatan’ itu. Tahapan ini juga mengalami perkembangan mulai dengan Fetisisme, Politeisme, dan Monoteisme.  

Pada Tahapan kedua, yaitu tahapan Metafisis yang merupakan tahapan transisi untuk memasuki tahapan positif. Orang telah mulai menggunakan akal budinya untuk memahami realitas. Orang sudah melepaskan diri dari mitos kekuasaan yang maha mutlak. Pada tahapan Positif orang sudah melepaskan diri dari pemikiran abstrak, dan telah melakukan penelitian untuk menemukan hukum-hukum yang berlaku umum.

Dipandang dari hukum tiga tahap dari Comte, pemikiran Meng Zi berada pada tahapan Theologis karena berpegang pada Thian Ming (  天  命 ) atau Firman Tuhan sebagai takdir dari Tuhan. Ajaran Xun Zi sudah masuk ke tahapan Metafisis menuju Realisme Positif. Dia tidak lagi berpegang pada Firman Tuhan, tetapi berpegang pada kebebasan manusia untuk memilih perjalanan nasibnya sendiri. Tuhan tidak menentukan nasib manusia, tetapi manusia harus mencari akal untuk memperbaiki nasibnya dengan membangun kebudayaan yang rasional, dan menjalin kerja sama  dengan orang lain.

Ajaran Meng Zi masih termasuk agama Khonghucu karena tugas Meng Zi menyebarkan ajaran agama Khonghucu. Ajaran agama pendekatannya selayaknya Theologis. Sedangkan ajaran Xun Zi sebagai filsafat pendekatannya sudah selayaknya metafisis. Dengan demikian, sudah jelas ada perbedaan antara agama Khonghucu dengan Filsafat Xun Zi. Nabi Kongzi memang tidak mengajarkan filsafat maka tdak ada filsafat Nabi Kongzi. Xun Zi mengembangkan filsafat dengan dasar ajaran agama Khonghucu, tanggung jawabnya ada pada Xun Zi. Semestinya namanya juga filsafat Xun Zi. Masyarakat yang tidak memahami perbedaan filsafat Xun Zi dengan agama Khonghucu telah mencampur aduk agama Khonghucu dengan filsafat Xun Zi, dan menyebutnya filsafat Nabi Kongzi. Harapan saya, keterangan saya ini dapat meluruskan pemahaman yang salah.

1.  Pengalaman Sejarah sebagai Sumber Pengetahuan
Mao Ze Dong (Mao, 2003: 68) sebagai seorang penganut Materialisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang benar adalah kenyataan yang ada dalam masyarakat. Dia menolak cinta kasih sebagai sumber pengetahuan karena menurut dia ajaran cinta kasih adalah warisan zaman feodal. Pendapat Mao ini sudah didahului dengan prasangka buruk kepada feodalisme. Padahal feodalisme adalah produk dari sejarah Tiongkok masa lalu. Orang berfilsafat tidak boleh berprasangka buruk terhadap segala yang ada. Prasangka buruk itu akan membuat orang berpikir bias, tidak mendapat pengetahuan yang benar.

Xun Zi mengakui bahwa sumber pengetahuan adalah semua kenyataan yang bisa dilihat dan ditangkap dengan panca indra, dan yang dapat dipikirkan, serta dapat dirasakan. Sejarah, karya sastra, dan karya seni lain juga menjadi sumber pengetahuan Manusia juga mempunyai prehensi, atau gambaran abstrak tentang segala yang diketahui untuk memahami realitas. Manusia juga mempunyai kepekaan koseptual dan fisiskal untuk membuat tindakan yang tepat saat menghadapi masalah. Kepekaan fisikal yaitu tindakan fisik sebagai reaksi terhadap kejadian yang muncul. Orang melihat rumah terbakar tindakan fisiknya yaitu mengambil air atau pasir untuk memadamkan api.

Kepekaan konseptual yaitu kepekaan yang mendorong orang berpikir untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Misalnya, orang melihat di kotanya sering terjadi kebakaran yang menelan ribuna rumah penduduk, orang tersebut membuat penelitian untuk menemukan cara agar tidak lagi terjadi kebakaran seperti itu. Kemajuan budaya masyarakat sangat bergantung pada tokoh masyarakat yang mempunyai kepekaan konseptual. Para cendekiawan dan pemimpin masyarakat diharapkan mempunyai kepekaan konseptual yang melebihi orang biasa. Orang kebanyakan biasanya hanya mempunyai kepekaan fisikal karena daya abstraksinya terbatas. Kemampuan Prehensi seseorang bergantung pada daya abstraksi dan daya imaginasi orang tersebut. Nabi Kongzi menekankan perlunya pendidikan kesusastraan dan kesenian untuk membangun daya abtraksi dan daya imaginasi siswa. Xun Zi juga mengingatkan bahwa kesuksesan pembangunan negara bergantung pada daya abtraksi dan daya imaginasi para pemimpinnya.

Menurut Xun Zi, banyak orang tidak menyadari kedekatan letak mata dan telinga dengan otak. Tuhan menciptakan manusia seperti itu bertujuan supaya semua informasi yang masuk lewat mata dan telinga dibawa langsung ke otak. Banyak orang lupa menggunakan otaknya mengolah informasi yang sudah diperolehnya. Informasi yang diperoleh mata dan telinga langsung dikeluarkan dari mulut. Mulut memang tidak berfungsi untuk berpikir, tetapi untuk berbicara. Informasi dari mata atau telinga yang langsung keluar dari mulut, tidak disaring oleh otak, membahayakan  hubungan persahabatan (Zhang 1993: 4).     

Manusia wajib mengunakan matanya dengan baik, melihat segala sesuatu harus cermat. Manusia juga wajib menggunakan telinganya dengan baik, mendengarkan suara atau perkataan harus diperhatikan dengan cermat. Manusia juga wajib menggunakan hidung untuk mencium bau dengan cermat. Manusia wajib menggunakan lidah dan mulut untuk merasakan makanan dengan teliti. Manusia juga wajib menggunakan indra perasa untuk mengenali barang halus dan kasar, panas dan dingin. Apabila manusia tidak dapat mempergunakan panca indra yang diberikan Tuhan itu dengan baik akan menderita karena tidak dapat mengenal kenyataan di luar dirinya dengan benar (Zhang, 1993: 19).

Pengalaman sejarah hanya dapat dibayangkan dalam angan-angan para ahli sejarah. Guna memahami pengalaman sejarah, orang membutuhkan kepekaan konseptual. Pertimbangan hati dan otak menghasilkan kecerdasan dan kepekaan intelektual. Manusia yang memiliki  kecerdasan otak dan kepekaan intelektual lebih mudah dibina menjadi orang yang bijaksana dan bermoral. Sebaliknya, otak yang bebal dan hati yang tumpul akan sulit untuk menerima konsep-konsep baru yang berbeda dengan konsep yang sudah diyakininya (Zhang, 1993: 17).

Pengetahuan manusia yang benar menurut Xun Zi bukanlah pengalaman pribadi, melainkan pengalaman sejarah, yaitu pengalaman seluruh bangsa dari generasi ke generasi. Orang perlu teliti membaca sejarah, jangan terjebak pada kekaguman masa lampau atau sebaliknya ada dendam sejarah karena sejarah adalah proses yang tidak berhenti. Orang perlu mengabtraksikan semua pengalamannya, termasuk hasil bacaannya menjadikannya Realitas. Kemampuan mengabtraksikan pengalaman ini oleh Whtehead disebut prehensi. Abstraksi yang lengkap tentang Realitas disebut prehensi yang komprehensif.

Menurut Xun Zi, realitas sekarang akan berubah menjadi realitas baru pada saat yang akan datang, hal itu tidak dapat dihindari. Orang merasa senang atau tidak senang dengan realitas yang ada sekarang tetap perlu dan wajib menyiapkan realitas yang baru agar lebih baik dari sekarang. Perubahan realitas itu diarahkan dan ditentukan oleh banyak faktor, yaitu faktor dari dalam dirinya sendiri maupun faktor dari luar dirinya. Nasib manusia sebagai individu dan sebagai bangsa juga akan berubah yang ditentukan oleh faktor dari dalam maupun dari luar. Xun Zi mengajarkan agar manusia selalu memperbaiki faktor dari dalam diri sendiri dan faktor luar agar proses berjalan menciptakan realitas yang lebih baik seperti yang kita kehendaki.

Faktor dari dalam diri manusia dapat diperbaiki melalui belajar dan membina diri. Sistem pendidikan yang baik sangat diperlukan untuk memperbaiki faktor dari dalam. Perbaikan faktor dari luar yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah sistem pelayanan masyarakat yang baik, penegakan hukum yang adil dan berkebajikan, sistem pertahanan dan keamanan yang berbudaya dan bermoral, pembangunan ekonomi yang adil dan merata.  

Xun Zi mengakui bahwa keadaan masa kini sebagai hasil proses sejarah. Semua faktor yang mempengaruhi proses itu perlu dipelajari dengan mendalam karena tidak dapat diketahui faktor yang paling dominan. Hasil dari proses juga ditentukan oleh faktor waktu dan kesempatan yang tidak terduga. Berbagai faktor lama dan baru pada saat yang bersamaan bekerja sama, dan menghasilkan keadaan masa kini. Xun Zi berpendapat bahwa perhatian orang selayaknya mengutamakan  keadaan masa kini, bukan masa lalu (Zhang,1993: 20).

2.  Pengetahuan dan Kesadaran
Alan Watts menjelaskan bahwa kesadaran orang Barat bersifat memusat. Kesadaran itu digambarkannya sebagai lampu sorot atau lampu senter, sehingga yang dilihat hanya yang terkena sinar saja. Berbeda dengan kesadaran orang Tionghua yang bersifat holistik, digambarkan sebagai lampu minyak yang sinarnya menyebar. Dengan lampu minyak, seluruh ruangan menjadi terang, dan semua benda terlihat jelas. Sinar yang menyebar menyebabkan posisi setiap benda terhadap benda yang lain dapat dilihat dengan jelas. Untuk memahami Filsafat Tiongkok, orang perlu menggunakan kesadaran lampu minyak, atau kesadaran hollistik, agar dapat melihat posisi semua benda (Watts, 2000: 15).

Nabi Kongzi mengajarkan bahwa setiap orang perlu selalu sadar akan posisinya sendiri. Menurut Xun Zi, dari ajaran tersebut dapat disimpulkan bahwa negara wajib memberi posisi yang jelas kepada setiap warga negaranya. Warga negara yang tidak mempunyai pekerjaan berarti tidak mempunyai posisi, akibatnya mereka itu mudah terseret dalam perbuatan jahat. Para penganggur yang tidak mempunyai ketrampilan dapat diberi tugas menjadi penjaga malam (Zhang, 1993: 301).

Setiap manusia, disadari atau tidak, pasti mempunyai pola pikir tertentu. Terbentuknya pola pikir seseorang adalah hasil proses yang terjadi pada masa sebelumnya. Pola pikir tersebut juga terbentuk dari kebiasaannya, pekerjaannya, dan pergaulannya. Ada pun macam pola pikir itu antara lain: pola pikir tradisional, pola pikir otoritarian, pola pikir referensial, pola pikir fragmentaris, dan pola pikir hollistik. Tiap pola pikir itu akan memberi corak kehidupan yang berbeda. Misalnya, pola pikir tradisional dimiliki oleh masyarakat yang kurang pergaulan dan kurang pendidikan, mereka lebih suka mengikuti kebiasaan yang sudah mereka lihat sehari-hari. Pola pikir otoritarian disebabkan karena pendidikan yang eksklusif selama puluhan tahun oleh guru yang mempunyai otoritas yang sangat  besar. Xun Zi mengharapkan masyarakat Tionghua mempunyai pola pikir yang konstruktif dan terbuka. Apabila mengahdapi maslah tidak bereaksi sepontan

Kesadaran manusia dibentuk oleh proses yang panjang, yang dipengaruhi oleh faktor pendidikan, faktor pengalaman, faktor pergaulan dan faktor bacaannya. Menurut Fransisco Varela (dalam Capra, 2004), kesadaran pada pengalaman manusia menempati ‘daerah mental’ di otak yang meliputi banyak dimensi, seperti penciuman, pendengaran, penglihatan, dan emosi. Kesadaran manusia itu cakupannya terlalu luas. Dalam kehidupan praktis, kesadaran manusia tentang realitas itu berbentuk pola pikir. Artinya, dengan pola pikirnya itu manusia memahami realitas.

Pola pikir manusia akan berubah kalau pengetahuannya berubah. Perubahan itu bisa cepat atau lambat bergantung pada banyak faktor pendorongnya. Apabila pengetahuan orang cukup banyak dan sering berdiskusi yang mendalam, kesadaran manusia itu akan terus meningkat, pola pikirnya juga berubah. Menurut Mao Ze Dong (2003), orang yang tidak memihak Sosialisme setelah melalui pendidikan sosialis dan diskusi tentang ajaran Sosialisme pada akhirnya akan memahami Sosialisme dan membela Sosialisme.        

Xun Zi mengarahkan perhatiannya pada perilaku manusia dan benda-benda yang dipergunakan manusia. Dia mengajarkan supaya manusia bersifat terbuka kepada orang lain. Artinya, setiap orang akan dikenal oleh orang lain dan juga mengenal orang lain. Misalnya, semua petani berpakaian seragam petani, para guru berseragam guru. Mereka masing-masing dengan pakaiannya menyadari posisinya. Seorang petani tidak perlu merasa rendah diri karena sebagai petani. Para guru berseragam guru juga tidak merasa rendah diri dengan kedudukannya. Diharapkannya masing-masing orang menduduki posisinya sendiri dengan rasa bangga (Zhang, 1993: 60).

Menurut Wang Yang Ming (dalam Julia Ching, 1976), ajaran Nabi Kongzi mempunyai epistemologi sendiri, yaitu teori yang benar adalah teori yang bila dipraktikkan akan membawa hasil yang bermanfaat, disebutnya Zhi Xing He Yi (  知   行  合  一   ). Orang Tionghua dengan epistemologi itu tidak peduli dengan rasional atau irasional. Contohnya, ilmu pengobatan tusuk jarum, secara ilmu medis Barat tidak ada teori yang dapat menjelaskannya, tetapi kenyataannya ilmu tusuk jarum dapat menyembuhkan penyakit. Pengetahuan Feng Shui tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, tetapi dipercaya banyak orang memberi manfaat besar. Hal ini membuktikan bahwa orang yang mempunyai keyakinan yang menimbulkan optimisme mendorong dia untuk bekerja keras. Sebenarnya ilmu tusuk jarum dan Feng Shui juga mempunyai dasar teorinya sendiri yaitu dari kitab Yi Jing, yang tidak dipakai di negeri Barat. 

Xun Zi menjelaskan bahwa realitas itu sendiri juga bisa berubah yang disebutnya mengalami transformasi. Realitas yang mengalami transformasi tidak menjadi realitas baru, hanya berubah bentuk. Apabila manusia salah mengenali realitas ia tidak dapat membuat keputusan yang benar. Orang bijak budiman atau junzi (  君 子 ) menggunakan dialektika dalam berpikir agar tidak tersesat. Hati mengarah pada jalan kebenaran, dan Jalan Kebenaran itu mengacu pada keteraturan, dengan memahami dialektika tersebut orang mempunyai prinsip yang dapat menciptakan pemerintahan yang baik dan bersih (Dubs, 1973: 50).   

Dalam proses mengamati dengan panca indra, kemudian dilanjutkan dengan proses menganalisis atau berpikir, putusan terakhir pada hati nurani. Apabila hati nurani ini dangkal  maka keputusan itu bersumber dari perasaan suka atau tidak suka. Namun, Xun Zi mengajarkan agar pemimpin dalam memutuskan perkara besar tidak menggunakan hati nuraninya yang dangkal. Akan tetapi, menggunakan hati nurani yang penuh dengan nilai luhur, sehingga keputusannya membawa manfaat besar kepada rakyatnya (Zhang, 1993: 15).

Wang Yang Ming (dalam Julia Ching, 1976) menjelaskan bahwa manusia sebaiknya mempunyai pengetahuan yang baik atau Liang Zhi ( 良 知 ). Dari pengetahuan baik ini dikembangkan menjadi kecakapan atau keahlian yang baik atau Liang Neng ( 良 能 ). Pengetahuan baik dan kecakapan baik bila sudah menyatu dalam hati menjadi kebaikan hati atau Liang Xin (  良  心 ), yang disebut juga hati nurani. Dengan kebaikan hati atau hati nurani manusia dapat mengambil keputusan yang terbaik.

Penjelasan tersebut menegaskan pendapat Xun Zi bahwa orang baik itu adalah orang yang dapat membuat keputusan yang benar dan baik. Keputusan yang benar dan baik itu bergantung pada hati nuraninya karena kebenaran dan kebaikan itu sudah menyatu dengan hati nuraninya. Xun Zi tidak senang kepada orang yang pandai bersiasat dan melakukan tipu muslihat. Xun Zi mengkritik strategi perang Sun Zi ( 孙  子 ) atau Sun Tsu yang menggunakan tipu muslihat dan akal bulus untuk memenangkan pertempuran. Menurut Xun Zi, strategi perang Sun Zi itu akan menimbulkan dendam dan kebencian, tetapi tidak menyelesaikan masalah. Hal yang sebaliknya, strategi perang yang diusulkan Xun Zi adalah menyadarkan musuh untuk mengakhiri permusuhan dan menggantinya dengan kerja sama yang saling menguntungkan (Zhang, 1993: 308).    

Dalam bahasa Jawa ada ungkapan yang mengatakan ” menang tanpa ngasorake”, artinya menang tetapi tidak membuat musuhnya merasa kalah. Dengan istilah Xun Zi dikatakan kemenangan yang sejati adalah apabila musuh berubah menjadi teman. Apabila prinsip ini dipakai dalam pergaulan internasional bisa meredakan ketegangan dunia. Namun, perlu diingat teori Yin Yang bahwa dua pihak yang bermusuhan dapat didamaikan apabila kekuatannya seimbang.

Sumber dari Disertasi Xs. Dr. Oesman Arif M.Pd yang berjudul : Penyelenggaraan Negara menurut Filsafat Xun Zi.

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:186 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:179 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:112 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:651 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

05-09-2017 Hits:601 Berita Foto

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

Talkshow interaktif dengan Nara Sumber Js. Liem Liliany Lontoh; Hotel Aston ruang Asoka Lt. 2; Manado, 01 September 2017.

Read more

Anti Narkoba

28-08-2017 Hits:111 Berita Foto

Anti Narkoba

Surabaya, 28 Agustus 2017 pertemuan BNN (Badan Narkotika Nasional) di Hotel Santika Surabaya yang dihadiri oleh beberapa sukarelawan.

Read more

Pulau Nan Indah

22-08-2017 Hits:191 Berita Foto

Pulau Nan Indah

Kami mengajak para pencinta alam Indonesia untuk berkeliling ke tiga pulau di Wilayah Sumenep-Madura.

Read more

Tokoh Matakin Berpulang

08-08-2017 Hits:1145 Berita Foto

Tokoh Matakin Berpulang

Wu Hu Ai Zai, telah kembali ke Haribaan Huang Tian, Xs Hanom Pramana Buanadjaja (Phwa Tjhiang Han/Pan Chang Han 潘昌汉)...

Read more

Nganjuk Penuh Kedamaian

27-07-2017 Hits:307 Berita Foto

Nganjuk Penuh Kedamaian

Kunjungan FKUB provinsi Jatim hari kedua di FKUB Kabupaten Nganjuk. Kunjungan di Nganjuk diterima di kantor Kesbangpol. Hadir dalam pertemuan...

Read more

FKUB Jatim Turba

26-07-2017 Hits:178 Berita Foto

FKUB Jatim Turba

Rapat koordinasi dan silaturahim FKUB Kabupaten Mojokerto yang dihadiri oleh jajaran pengurus FKUB Kabupaten Mojokerto, Bupati dan para Camat, Bakesbangpol,...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 55 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com