spocjournal.com

Kerukunan Dalam Pandangan Khonghucu*

Oleh: Xs. Tjandra R. Muljadi

Pendahuluan
Rukun, sepatah kata yang singkat atau sebuah kosa kata pendek, yang amat mudah untuk diucapkan tetapi sangat sukar untuk diwujudkan. Rukun suatu suasana kehidupan di lingkungan keluarga dan masyarakat bahkan antar bangsa yang diliputi oleh saling pengertian dalam kesepahaman yang diwarnai dengan tenggang rasa.
           
Suasana kehidupan seperti itu agaknya belum sepenuhnya dapat terwujud sepanjang sejarah keberadaan manusia di muka bumi ini, karena hingga kini masih banyak terjadi pertikaian, persengkataan, bahkan peperangan antar bangsa atau antar negara. Bahkan masih ada oknum yang sengaja melakukan aksi dan provokasi untuk menimbulkan kekacauan, menciptakan keresahan, mengobarkan adu domba dengan membangkitkan sentimen suku, agama, golongan atau yang dikenal dengan SARA yang berdampak bukan saja dapat menggoyahkan sendi-sendi kerukunan tetapi juga berimbas mempertajam rasa saling curiga yang bermuara pada konflik horisontal dan vertikal. Dampak dan imbas tersebut selain menjadikan suasana tidak nyaman dan tidak aman, juga dapat mengundang kesan negatif dari bangsa-bangsa lain terhadap bangsa kita.
           
Sungguh sangat memprihatinkan karena oknum yang melakukan aksi dan provokasi itu ternyata adalah sosok manusia yang mengaku dirinya beragama!
           
Apabila kosa kata RUKUN itu disimak, akan dapat ditemui suatu kandungan filosofis, yakni: R ialah responsif, yang berarti cepat tanggap atau tidak bersikap masa bodoh/tidak menaruh peduli. Atau dengan kata lain, kalau terjadi sesuatu masalah segera ditangani, jangan dibiarkan masalah itu berkembang. U ialah urun rembuk, maksudnya berunding atau memberikan dan menampung pendapat dalam suatu musyawarah untuk mufakat. K ialah kekeluargaan, maksudnya masalah yang timbul dihadapi secara bersama-sama dengan penuh tanggung jawab dengan semangat kekeluargaan. U ialah ujar-ujar, maksudnya tidak mengenyampingkan nasihat dan/atau amanat yang disampaikan oleh para sesepuh, juga yang dapat disimak baik yang tersurat maupun yang tersirat dalam kitab-kitab suci. N ialah nalar, yang berarti pikiran yang sehat atau berpikir secara logika.
           
Maka dari kelima huruf yang berbunyi RUKUN itu, dapat diperoleh suatu petunjuk bahwasanya dalam menghadapi suatu masalah perlu bersikap cepat tanggap dan segera dimusyawarahkan untuk mencapai mufakat dilandasi dengan semangat kekeluargaan disertai pikiran yang sehat tanpa mengenyampingkan nilai-nilai luhur dari ajaran agama. Dengan landasan tersebut, kerukunan bukan sesuatu yang mustahil untuk ditegakkan dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya kehidupan beragama di bumi Pancasila tercinta ini.
 
Kerukunan Nasional
Menteri Dalam Negeri dalam sambutan (tertulis) yang disampaikan pada pembukaan Kongres I Pemuka Agama se Indonesia pada tanggal 22 Agustus 2006 di Jakarta, antara lain mengemukakan bahwa kerukunan nasional merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keberadaan negara bangsa Indonesia, sebagai konsekwensi dari keanekaragaman bangsa. Komposisi warga negara saja terdiri dari orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan Undang-undang. Begitupun orang-orang bangsa Indonesia asli terdiri dari beragam suku bangsa, etnis, agama dan budaya.
Itulah sebabnya kita menyadari bahwa persatuan dan kesatuan nasional kita ke depan senantiasa dalam posisi yang dinamis dan bergerak dari faktor-faktor yang bersifat integratif bersama dengan faktor-faktor yang berifat disintegratif. Tugas kita bersama tentu saja adalah bagaimana memaksimalkan peranan faktor-faktor ingtegratif tersebut, dan pada saat yang sama meminimalisir adanya faktor-faktor yang bersifat disintegratif tersebut.

Pada bagian lain dalam sambutan tersebut, Mendagri menyatakan bahwa sepertinya hal ini merupakan rumusan yang sederhana. Tetapi sesungguhnya hal ini terkait dengan persoalan yang fundamental dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kerukunan nasional dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk termasuk di dalamnya kerukunan umat beragama.
 
Kerukunan Keluarga
Kerukunan dalam keluarga atau kerukunan internal merupakan basis yang kokoh dalam upaya menegakkan kerukunan lintas komunitas atau kerukunan eksternal. Menurut Beng Cu/Meng Zi (Mencius, 371 – 289 S.M.), bahwa  pokok dasar dunia itu terdapat pada negara, pokok dasar negara terdapat dalam rumah tangga, dan pokok dasar rumah tangga itu terdapat pada diri sendiri atau pada pribadi-pribadi terkait (Mengzi IV.A:5).
           
Dalam kitab Thay Hak/Da Xue IX:1 dinyatakan, bahwa Untuk mengatur Negara harus lebih dahulu membereskan rumah tangga. Jika tidak dapat mendidik keluarga sendiri tetapi dapat mendidik orang lain, itu hal yang tidak akan terjadi. Maka seorang Kuncu/Junzi (Insan Kamil) biar tidak keluar rumah, dapat menyempurnakan pendidikan di negaranya. Dengan berbakti kepada ayah bunda, dia turut mengabdi kepada Raja (Pemimpin). Dengan bersikap rendah hati, dia turut mengabdi kepada atasannya dan dengan bersikap kasih sayang, dia turut mengatur masyarakatnya.
Lebih jauh dalam kitab Thay Hak/Da Xue IX:3 & 5, dinyatakan, bahwa Jika dalam keluarga saling mengasihi niscaya seluruh Negara akan di dalam Cinta Kaih. Jika dalam keluarga saling mengalah niscaya seluruh Negara akan di dalam suasana saling mengalah. Tetapi apabila orang tamak dan curang niscaya seluruh Negara akan terjerumus ke dalam kekalutan. Demikianlah kesemua itu berperan. Maka dikatakan, sepatah kata dapat merusak perkara dan satu orang dapat berperan untuk menenteramkan Negara.
Maka teraturnya Negara itu sesungguhnya berpangkal pada keberesan dalam rumah tangga.    
           
Kepala keluarga sebagai pimpinan dalam rumah tangga amat diperlukan keteladanannya agar tercipta kondisi yang harmonis. Terdapat petunjuk dalam kitab Tiong Yong/Zhong Yong XIV bahwa 1.  Jalan Suci seorang Kuncu/Junzi (Insan Kamil-pen) seumpama pergi ke tempat jauh, harus dimulai dari dekat. Seumpama mendaki ke tempat tinggi harus dimulai dari bawah. 2. Keselarasan hidup bersama anak-istri laksana instrumen musik yang ditabuh harmonis. Kerukunan di antara kakak dan adik itu membangun damai bahagia. Hendaknya demikian engkau berbuat di dalam rumah tanggamu, bahagiakanlah istri dan anak-anakmu. 3. Dengan demikian yang menjadi ayah bunda akan tenteram hatinya. Dan dalam kitab Da Xue IX:6 dinyatakan, bahwa Betapa indah pohon Persik (Thoo), lebat rimbun daunnya, laksana nona pengantin ke rumah suami ciptakan damai dalam keluarga. Dengan damai dalam rumah (tangga), barulah dapat mendidik rakyat negara.
           
Sementara itu, Undang Undang No.10 Tahun 1992 tentang Perlindungan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera, antara lain menyatakan bahwa keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami/istri, atau suami istri dengan anaknya atau ayah dengan anaknya, atau ibu dengan anaknya. Sedangkan keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spitual dan material yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan serasi antar anggota dan antara keluarga dengan masyarakat dan lingkungan.
Sedangkan yang dimaksud dengan ketahanan keluarga adalah kondisi dinamik dari satu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan, serta mengembangkan diri dan keluarganya hidup harmonis meningkatkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin. Suatu keluarga disebut memiliki ketahanan dan kemandirian yang tinggi kalau keluarga itu dapat berperan optimal dalam mewujudkan seluruh potensi anggota-anggotanya.
Karena itu tanggung jawab keluarga meliputi tanggung jawab terhadap kesehatan anggota keluarga, pendidikan, ekonomi, sosial budaya dan lain-lain. Ketahanan keluarga erat kaitannya dengan upaya menggerakkan fungsi keluarga. Baik fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, sosialisasi dan pendidikan ekonomi dan pembinaan lingkungan. Fungsi ini pada dasarnya perlu dilaksanakan oleh setiap keluarga di Indonesia.
 
Peran Vital Pimpinan
Seperti disinggung di atas, bahwa keteladanan pimpinan sangat berperan, baik dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, tersirat dalam kitab Beng Cu/Meng Zi III.A:2,4 bahwa Kebajikan seorang pembesar laksana angin, sedangkan kebajikan rakyat laksana rumput. Kemana angin bertiup, kearah itu rumput merebah.

Dalam pada itu, kerukunan  lintas komunitas bagaikan suatu konser dengan instrumen musik yang beragam bentuk dan bunyinya. Meskipun berbeda bentuk dan bunyinya namun jika instrumen-instrumen itu dimainkan dengan nada dasar yang sama untuk sebuah lagu, dengan konduktor yang baik, maka lagu yang dilantunkan akan terdengar sangat merdu. Sebaliknya kalau nada dasarnya tidak sama, maka lagu yang dilantunkannya itu akan terdengar tidak karu-karuan. Maka diingatkan dalam kitab Lun Gi/Lun Yu III:23, bahwa yang perlu diketahui tentang musik ialah pada permulaan suara atau nada harus cocok. Selanjutnya suara musik itu harmonis meninggi menurun dengan nada jernih dan tidak terputus-putus hingga akhir.

Terkait dengan itu, Nabi Kongzi menegaskan, bahwa seorang Kuncu/Junzi dapat rukun walau tidak sama, sedangkan seorang Siau-jin/Xiao-ren dapat sama tetapi tidak dapat rukun (Lun Gi/Lun Yu XIII:23).
 
Berawal Pada Diri Pribadi
Sebagaimana dimaklumi bahwasanya dalam satu keluarga terdiri lebih dari satu jiwa, maka apabila setiap pribadi dalam keluarga terkait mempunyai tujuan yang sama untuk mewujudkan kerukunan, niscaya tujuan tersebut dapat dicapai.

Dalam kitab Bengcu/Meng Zi VII.B:9 dinyatakan, bahwa Kalau diri sendiri tidak mau menempuh Jalan Suci, anak istri pun tidak akan mau menempuhnya. Menyuruh orang kalau tidak berlandaskan Jalan Suci, biarpun anak istri sendiri tidak akan mau melaksanakannya.   Dalam pada itu, Nabi Khong Cu menjelaskan, bahwa Dia membina diri untuk memberi sentosa kepada orang lain, dan  membina diri untuk memberi sentosa kepada seluruh rakyat. (Lun Yu XIV:42)   

Lebih lanjut Beng Cu menyatakan, bahwa Seorang Kuncu/Junzi selalu berusaha dengan membina diri dapat membawa damai bagi dunia. (Mengzi VII.B:32,2)
 
Pembinaan Diri
Jadilah engkau seorang umat Ji/Ru (baca: Khonghucu-pen) yang bersifat Kuncu/ Junzi. Jangan menjadi umat Ji yang rendah budi (Siau-jin/Xiao-ren atau manusia kerdil). > Simak Lun Gie/Lun Yu VI:13)

Seorang Kuncu memuliakan tiga hal yakni memuliakan Firman Tuhan YME, memulia kan orang-orang besar, dan memuliakan sabda para Nabi. Seorang Siau-jin tidak mengenal dan tidak memuliakan Firman Tuhan YME, meremehkan orang-orang besar, dan memperma inkan sabda para Nabi. (Lun Yu XVI:8)

Yang di dalam Watak Sejati seorang Kuncu ialah Cinta Kasih, Kebenaran, Kesusilaan, dan Kebijaksanaan. Inilah yang berakar di dalam hati, tumbuh dan meraga membawa cahaya mulia pada wajah,  memenuhi punggung hingga ke-empat anggota badan. Ke-empat anggota badan dengan tanpa kata-kata dapat mengerti sendiri.
Yang di dalam Watak Sejati seorang Kuncu ialah tidak bertambah oleh kebesaran dan tidak rusak oleh kemiskinan, karena dia adalah takdir yang dikaruniakan-Nya. (Mengzi VII.A:21)

Maka seorang Kuncu tidak boleh tidak membina diri. Jika bertekad membina diri, tidak boleh tidak mengabdi kepada orangtua. Jika bertekad mengabdi kepada orangtua, tidak boleh tidak mengenal manusia. Jika bertekad mengenal manusia, tidak boleh tidak mengenal kepada Thian/Tian (Tuhan Yang Maha Esa). > Simak: Lun Yu XIX:7.

Sang Susilawan (Junzi-pen) maju dalam kebajikan. Dia membina pekerjaannya dengan penuh satya dan dapat dipercaya, maka dia maju dalam kebajikan. Dia membina bicaranya sehingga mampu meneguhkan iman. Maka dia lestari mendiami pekerjaan /jabatannya. Dia tahu puncak yang harus dicapainya dan berhasil mencapainya. Dia tahu akhir tempat semayam dan mengakhirinya, demikianlah dia mampu menjaga Kebenaran. Maka dalam berkedudukan tinggi tidak menjadi sombong, dalam berkedudukan rendah tidak bersedih dan gelisah. Demikianlah dia giat membangun dan sibuk sepanjang waktu, meski terancam bahaya, tiada khilaf. (Ya Keng/Yi Jing, Babaran Rohani 2)

Dengan berpuasa, membersihkan hati, mengenakan pakaian lengkap, tidak melaku kan yang tidak susila, kita dapat membina diri. > Simak: Zhong Yong XIX:14.

Dengan meneliti hakikat tiap perkara dapat mencukupkan pengetahuan. Dengan cukup pengetahuan akan dapat mengimankan tekad. Dengan tekad beriman akan dapat meluruskan hati. Dengan hati yang lurus akan dapat membina diri. Dengan diri yang terbina akan dapat membereskan rumah tangga. Dengan rumah tangga yang beres akan dapat mengatur negeri. Dengan negeri yang teratur akan dapat dicapai damai di dunia.
Oleh karena itu, dari raja hingga rakyat jelata mempunyai satu kewajiban yang sama yaitu mengutamakan pembinaan diri sebagai pokok.
Adapun pokok yang kacau tidak akan pernah menghasilkan penyelesaian yang teratur baik, karena hal itu seumpama menipiskan benda yang seharusnya tebal dan menebalkan benda yang seharusnya tipis. Hal itu adalah sesuatu yang belum pernah terjadi. (Da Xue U:5-7)
 
Kesimpulan & Penutup
Bahwa keluarga yang terdiri dari beberapa jiwa merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Namun unit terkecil ini merupakan bagian yang paling berperan dalam menciptakan suatu kondisi dalam masyarakat. Untuk itu pihak Pemerintah perlu menunjang demi terwujudnya ketahanan keluarga agar dapat memenuhi fungsinya sebagaimana dimaksud dalam Undang Undang No. 10 Tahun 1992 sebagaimana disinggung di atas.

Bahwa apabila setiap pribadi dalam setiap keluarga mempunyai tujuan yang sama untuk mewujudkan kerukunan niscaya tujuan itu akan dapat dicapai.

Bahwa setiap pribadi secara kodrati  memiliki keluhuran yang wajib ditumbuh kembangkan dengan cara membina diri.

Bahwa sesungguhnya untuk memperoleh kegemilangan itu, tergantung pada upaya orang itu sendiri. (Da Xue I:4).
 
 * Disampaikan dalam acara sosialisasi kerukunan
   yang diselenggarakan oleh Bintal & Kesos Jakarta Utara
   di Wisma ITC Gubuk Jaya, Gadog-Puncak, Jawa Barat.
   Pada tanggal 27 – 28 Desember 2007.


You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:499 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:955 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:140 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:261 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:158 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:422 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:312 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:246 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:188 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:740 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 35 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com