spocjournal.com

Manajemen Diri

Oleh : Js. Drs. Ongky Setio Kuncono, MM, MBA
Beberapa literature buku manajemen yang saya pelajari memberi gambaran umum bahwa manajemen adalah mengatur orang lain untuk mencapai tujuan organisasi baik dalam organisasi perusahaan maupun organisasi pemerintah. Mary Parker Follet mendefinisikan manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini mengandung arti bahwa para manajer mencapai tujuan organisasi melalui pengaturan orang  lain untuk melaksanakan berbagai tugas yang mungkin diperuntukan, atau berarti dengan tidak melakukan tugas-tugas itu sendiri. Pengertian-pengertian manajemen di atas tidak mengarah pada bagaimana mengatur diri pribadi seorang manajer, melainkan mengarah pada orang lain yang di manajemen. Pemahaman manajemen yang seperti ini masih kurang sempurna dalam mengolah sumber daya untuk mencapai sasaran organisasi. Manajemen secara utuh ala Confucius, mencakup bagaimana mengatur dirinya sendiri baru mengatur orang lain untuk mencapai tujuan. Konsep baru tersebut di ambil dari pemahaman Profesor Tu Wei-ming dalam mendalami ajaran Konfusianisme secara moral memberikan ajaran keteladanan dan contoh yang dilakukan secara personal. Menurutnya, “Bukan tanpa humor jika kelompok pemimpin tertarik membicarakan Konfusianisme atau mempromosikannya, tugas pertama mereka adalah mengkaji diri mereka sendiri untuk melihat dapatkah kepemimpinan mereka menjadi teladan. Untuk dapat memberikan pengaruh kepada orang lain, kepemimpinan mutlak di gali dari diri sendiri seperti dalam kutipan Confucius :
    “ Orang jaman dahulu yang hendak memperbaiki Dunia, ia lebih dulu berusaha mengatur negerinya, untuk mengatur negerinya ia lebih dulu mengatur rumah tangganya; untuk membereskan rumah tangganya, ia lebih dulu membina dirinya; untuk membina dirinya, ia lebih dulu meluruskan hatinya; untuk meluruskan hatinya ia lebih dulu memantapkan tekadnya; untuk memantapkan tekatnya ia lebih dulu mencukupkan pengetahuannya; dengan cukup pengetahuannya, akan dapat memantapkan tekadnya; dengan memantapkan tekadnya, akan dapat meluruskan hatinya; dengan hati yang lurus akan dapat membina dirinya sehingga dapat membereskan rumah tangganya dan setelah  itu mengatur negaranya sehingga tercapailah damai di dunia. Karena itu, dari raja sampai rakyat jelata, ada satu kewajiban yang sama, yaitu mengutamakan pembinan diri sebagai pokok. Adapun dari pokok yang kacau itu tidak pernah di hasilkan penyelesaian yang teratur-baik, karena hal itu seumpama menipiskan benda yang seharusnya tipis. Hal ini adalah suatu yang belum pernah terjadi”. Apa bila pesan moral di atas di terapkan dalam diri dalam seorang manajer dalam me-manajemen untuk mencapai tujuan organisasi, maka bukan tidak mungkin akan menghasilkan suatu tujuan bukan hanya untuk lingkungan organisasi semata, namun lebih berfungsi dan bermakna pada suatu perbaikan lingkungan. Secara moral, konsep Confucius bisa menjadi dasar bagi masyarakat warga (Civil Society) karena mengajarkan setiap orang untuk melakukan kewajibannya dalam belajar menjadi manusia yang bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, bukan semata-mata untuk diri pribadinya yang terpisah, melainkan sebagai kesatuan dengan memperbaiki lingkungannya. Seorang manajer yang memahami konsep ini akan selalu memandang bahwa diri sendiri sebagai central untuk mengimplementasikan tujuan organisasi bersama dengan lingkungannya secara terpadu. Barang kali ini adalah penemuan mutakhir di akhir abad XXI tentang menajemen adalah bagaimana secara totalitas manusia harus mengatur dirinya sendiri sebelum mengatur orang lain. Hal ini sesuai dengan ajaran Khonghucu “ Kalau seseorang dapat meluruskan diri, apa sukarnya mengurus pemerintah? Kalau tidak dapat meluruskan diri, bagaimanakah mungkin meluruskan orang lain? “ ( Lun Gi XIII:13 ).Artinya bahwa jarang seorang manajer itu sukses apabila dia tidak memiliki kemampuan mengatur dirinya labih dahulu. Seorang manajer yang sukses selalu memiliki kiat menata karakter pribadinya, melihat kedalam apa kelemahan dirinya sebagai langkah untuk melakukan perbaikan diri. Hanya dengan cara demikian, barulah mereka mampu mengatur orang lain dengan tepat.

PERENCANAAN (PLANNING)
Manajemen secara umum tidak bisa di lepaskan dari perencanaan sebagai hal yang utama dikerjakan. Perencanaan adalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan juga penetuan strategi, kebijaksanaan, proyek, program, prosedur, metoda, system, anggaran dan standart yang di butuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan banyak terlibat dalam fungsi ini. Semuanya itu di arahkan keluar-diluar diri sendiri, perencanaan secara intern (diri sendiri) adalah adanya ketetapan yang matang dari diri sendiri baik dalam bicara (tutur kata), sikap mental yang di dalamnya nilai-nilai kejujuran, dapat di percaya, kebijaksanaan, kebenaran, cinta kasih yang berkemanusiaan, dan berbagai sumber dalam diri di jadikan sebagai landasan dalam me-manajemen.perencanaan dari dalam adalah bagaimana seseorang mempersiapkan diri secara mental untuk melakukan aktifitasnya sebagai manajer. Konsep ini jelas di kemukakan oleh Confucius “Di dalam tiap perkara bila ada rencana yang pasti, niscaya dapat berhasil; bila tanpa rencana yang pasti, niscaya gagal. Di dalam berbicara bila lebih dahulu mempunyai ketetapan (rencana pribadi) niscaya tidak gagap. Di dalam pekerjaan bila lebih dulu mempunyai ketetapan, niscaya tidak akan berbuat terlanjur. Di dalam menjalankan sesuatu, bila lebih dahulu mempunyai ketetapan, niscaya tidak akan menemui jalan buntu. Di dalam berusaha hidup, sesuai dengan jalan suci, bila lebih dahulu mempunyai ketetapan, niscaya tidak akan megalami keputusasaan.”

Manajemen Confucius memiliki gagasan yang mendalam dalam pembentukan mental manajemen secara matang dan kemudian di jadikan sebagai keteladanan yang di praktekkan secara berkesinambungan. Pemahaman bahwa anggota organisasi akan patuh pada manajer atau pimpinan bukan berdasar  atas rasa takut kalau tidak menjalankan tugas akan di pecat, melainkan tumbuh kesadaran yang mendalam bahwa apa yang dilakukan manajer sebagai seorang yang paripurna perlu di jadikan ketauladanan. Menjalankan tugas bukan lagi melihat siapa yang memerintah atau siapa yang membuat program, melainkan melihat seberapa besar manfaat dari program tersebut. Hanya dengan cara ini akan menjadi manajer/ pemimpin yang tidak sempit pandangannya, yang tidak bersifat “ concoisme“ tetapi menjadi pemimpin yang jernih pikirannya dan luas pandangannya. Jauh dari sikap emosioanal yang menganggap dirinya paling benar dalam pengambilan keputusan. 
Mencius murid Confucius melihat secara mendalam intisari ajarannya, kemudian menyimpulkan sebagai berikut : pertama, setiap manusia diberi perasaan simpati, kemampuan untuk merasakan belas kasihan terhadap penderitaan orang lain. Kedua, setiap manusia diberikan rasa malu, rasa malu memberikan semacam rangsangan untuk memiliki rasa bermoral. Ketiga, setiap manusia memilii rasa hormat dan kerelaan. Keempat, setiap manusia diberikan kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan salah dan untuk lebih mengutamakan yang benar. Menurut Mencius, karakteristik ini merupakan sifat bawaan setiap umat manusia. Sungguh sangat luar biasa, tidak bisa kita bayangkan apa yang terjadi bila seorang manajer tidak memiliki sifat-sifat diatas. Apa yang akan terjadi apabila manajer tidak mempunyai rasa malu, atau tidak memiliki rasa belas kasihan, tidak meiliki rasa hormat, tidak bisa membedakan benar dan salah. Tentu saja manajer tersebut tidak akan pernah bisa mengatur orang lain dengan benar.

PRODUKTIVITAS
Produktivitas secara umum seperti banyak dalam buku teks mengandung arti sebagai perbandinagn antara hasil yang di capai (output) dengan keseluruhan sumber daya di gunakan (input). Meurut dewan produktivitas nasional mempunyai pengertian sebagai sikap mental yang selalu berpandangan bahwa mutu kehidupan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Bagi seorang manajer tentunya selalu berusaha agar dirinya produktif yang selanjutnya berupaya agar orang lain (khususnya karyawannya) juga produktif. Confucius mengatakan bahwa kalau kita ingin maju, berusaha agar orang lain maju. Konsep tesebut berlaku bagi seorang manajer yang berusaha agar diri sendiri dan orang lain (karyawan) produktif. Produktivitas seperti dalam Kitab Su Si di sebutkan bahwa “Bila suatu hari dapat memperbaharui diri, perbaharuilah terus tiap hari dan jagalah agar baharu selamanya”. Pembaharuan diri secara terus menerus adalah suatu upaya untuk meningkatkan kemampuan dan keahlian manusia yang pada dasarnya akan meningkatkan kinerja sekaligus produktivitas kerja seseorang. Dengan kata lain bahwa produktivitas memiliki dua dimensi. Dimensi pertama adalah efektifitas yang mengarah kepada unjuk kerja yang maksimal yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas, dan waktu. Yang kedua yaitu efisiensi yang berkaitan dengan upaya membandingkan input dengan realisasi penggunannya atau bagaimana pekerjaan tersebut di laksanakan. Dua dimensi tesebut masih kurang lengkap, maka ada tambahan yang ketiga adalah kepuasan manajer mampu menerapkan nilai-nilai moralitas kepada karyawan atau dengan kata lain mampu menjelmakan potensi dirinya secara pribadi untuk kepentingan organisasi. Sisinilah yang di sebut dari bagian pembinaan diri hasil dari manajemen diri. Implementasinya lebih secara kekeluargaan sebagai contoh pandangan Confucius yang mengatakan bahwa hendaknya pemimpin memerintah pembantunya sesuai dengan kesusilaan (Li) dan seorang pembantu mengabdi kepada pemimpinnya dengan kesatyaan.

Manajemen diri pada akhirnya menjadikan seorang manajer yang tidak memerintah dengan tangan besi, melainkan memerintah melalui ketauladanan yang dijiwai oleh nilai-nilai kebajikan. Hanya dengan cara yang demikian itulah akhirnya akan tercapai kesuksesan sesuai dengan Jalan Tian ( Tian Dao ).

KESIMPULAN
Harus ada perubahan dalam memahami manajemen saat sekarang, dimana diri sendiri sebagai manajer harus di manajemen agar mampu memanajemen orang lain. Konsep inilah yang dinamakan manajemen Confucius yang membedakan dengan majemen pada umumnya.
Daftar Pustaka

  1. Husein Umar,” Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi”,PT.Gramedia Pustaka Utama,Jakarta,2000.
  2. Handoko Hani,”manajemen”, Edisi II, BPFE, Yogyakarta, 1986.
  3. 3.Tu Wei-Ming, “Etika Konfusianisme”, PT.Mizan Publika, Cetakan I, 2005

_________________________

Penulis :

  • Mahasiswa Pasca Sarjana Program Doctoral Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
  • Mahasiswa Si ( Hukum ) Universitas Kartini Surabaya
  • Direktur PT.Merak Jaya Transport
  • Reporter Spoc


You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:499 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:955 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:140 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:261 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:158 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:422 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:312 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:246 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:188 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:740 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 32 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com