spocjournal.com

Studi Konfuciani Di Barat 1662 – 1990 Bagian 2

(Confucian Studies in the West 1662 – 1990)
Oleh : Dr. Thomas Hosuck Kang, Ph D
Diterjemahkan oleh : Alm. Ny. Js. Tjiong Giok Hwa

 


5. Pengaruh Barat atas Konfucianitas di Timur
Pertengahan abad XIX, setelah China dikalahkan dan dipaksa membuka pintu negerinya bagi bangsa-bangsa Barat, pandangan terhadap Konfucianitas sama-sekali berbeda dari saat Matteo Ricci dan para pengikutnya yang berusaha menyesuaikan diri dengan kebudayaan China, khususnya Konfuciani. Para missionaris itu, Protestan maupun Katholik yang datang ke China, memandang rendah China sebagai negeri penyembah berhala dan kegelapan, yang menantikan penyelamatan Kristiani dan berganti agama; berusaha membuktikan Konfuciani sebagai aliran konservatif yang keras kepala, tidak menuntut umatnya bermurah hati dan bersemangat pengabdian melainkan hanya mengajarkan berfikiran netral dan berhati dingin. Para missionaris nekad memburu Konfuciani keluar dari masyarakat China untuk menciptakan suatu kekosongan dalam pemikiran China. Kaum radikal di China mengumandangkan semboyan dalam kekosongan itu; Konfucius adalah idola yang tidak berkekuatan, dan hanya merupakan fosil daripada masa lampau. Para cendekiawan Barat yang terkemuka yang mengunjungi China mengkritik kekakuan sistim nilai Konfuciani, yaitu: sistim keluarga Konfuciani yang berakar kepada prinsip bakti dianggap sebagai penghalang perubahan sosial dan pembangunan bangsa. Konfucianitas mereka kritik sebagai sesuatu yang statis, melekat kepada yang lampau tanpa memperkenankan perubahan. Mereka ingin membantu rakyat China mengubah masyarakatnya. Kaum missionaris Kristen bertekad mengkristenkan dunia Konfuciani di China seperti juga telah diupayakan di seluruh Asia pada akhir abad XIX dalam era kebangkitan perdagangan Barat dan penaklukan dengan militer yang mendapatkan kemenangan bulat sekaligus meliputi ras, politik, keagamaan dan budaya dengan keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Hal itu menghancur luluhkan budaya Konfuciani di Asia Timur. Kaum missionaris Kristen besar tanggung jawabnya dalam mengecilkan nama baik Konfuciani dan juga dalam mengebiri aspek keagamaan dalam konfuciani sejak masa akhir abad XIX. Bahkan seorang missionaris Presbyterian, James Legge, yang kiranya adalah orang paling kuat dan berpengaruh, yang mengabdikan diri sebagai sarjana Konfuciani dan menjadi juru bicara dan interpreter besar untuk dunia Barat, berubah menjadi pendukung agresif agama Kristen di China. Menurut dia, ia telah menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk mengenal Konfuciani dan Taoisme dan berusaha keras membawa para pemeluknya untuk beriman Kristiani. Ia mempelajari Kitab-Kitab Suci Konfuciani dan Taoisme dengan membandingkan Konfuciani dan Taoisme dengan Kristiani, menghitung satu persatu kesamaan dan perbedaannya dan akhirnya menyimpulkannya dengan berkata: Apa yang telah kukatakan tentang Konfucianitas dan Taoisme menunjukkan kepada kita bahwa yang dibutuhkan di kekaisaran China ialah Kristianitas. Seorang Kristen yang benar ialah orang yang berprilaku terbaik. Kini tembok penyekat yang memisahkan China dengan bangsa-bangsa lain telah dirobohkan, saya percaya, hanya dengan mengadopsi Kristianitas mereka dapat menjadikan rakyatnya mampu mempertahankan apa yang di milikinya, dan mengangkat harkat-martabatnya dalam masyarakat. China adalah tanah yang terpilih, barangkali saya boleh berkata: tanah yang terpilih Gereja Presbyterian Inggris. Legge percaya bahwa masyarakat Konfuciani bukan tanah gersang melainkan kebun yang subur tempat iman Kristiani tumbuh. Kepercayaan baru itu, sekali dinyalakan, akan segera menjalar seperti padang belantara terbakar. Kemudian setelah itu, William B Lipphard menggambarkan Angin Barat (pengaruh Kristiani) melanda Angin Timur (budaya Konfuciani) sebagai: Kini (pada awal tahun 1920-an) dalam diri mahasiswa (yang telah beralih kepada iman Kristiani) yang bergerak maju menampilkan harapan masa depan China adalah kemukjijatan modern yang lain, suatu kesempatan besar dengan berbagai kemungkinan dan menghasilkan sesuatu yang gilang-gemilang. Dengan cara ini para missionaris Kristiani dan orang-orang Timur yang beralih iman tegak untuk pembaratan dan modernisasi dan mereka menyebabkan jatuhnya Konfucianitas dan membagi orang-orang yang anti Kristen menjadi dua: umat Konfuciani yang ekstrim konserfatif dan nasionalistik di Jepang, Korea dan Taiwan; dan yang mengambil jalan hidup masyarakat yang militan materialistik, keduanya akhirnya menyapu bersih semua keberhasilan kaum missionaris yang telah dicapai selama lebih dari dua abad di Asia Timur. Kemudian, Lipphard menggambar- kan reaksi orang-orang China terhadap Kristianitas di antara rakyat China pada tahun 1930 sebagai berikut: Orang-orang China yang menjadi tamu kaum missionaris takut menerima secangkir teh yang dengan sopan ditawarkan kepada mereka, karena mereka percaya hal itu akan mengubah hatinya menjadi berhati asing dan membuat mereka bersedia percaya ajaran asing dan beribadah kepada Tuhan asing.

6. Kekuatan dan Kelemahan, dan Ciri Khas Studi Konfuciani di Barat.
Ada beberapa titik kuat dan titik lemah studi Konfuciani di Barat dan di sini akan kami ungkapkan beberapa di antaranya. Titik kuatnya adalah: Pertama, kontribusi umum kaum cendekia di Barat terhadap studi Konfuciani, catatan - catatannya yang berharga. Sementara pada umumnya orang-orang di Asia Timur melemparkan begitu saja tradisi Konfuciani seolah hanya topi usang; suatu aliran studi Konfuciani di Barat meskipun seumpama sungai kecil, namun mempertahankan kelangsungan hidupnya secara terbuka. Yang kedua, filsafat Barat yang ilmiah dan sistimatis tidak hanya membantu memelihara suatu inspirasi yang segar, tetapi juga membuka perspektif yang cerah untuk studi Konfuciani. Yang ketiga, terjemahan dan studi Konfuciani dalam bahasa - bahasa Barat menebarkan Konfucianitas ke seluruh penjuru dunia. Keempat, beberapa lembaga pendidikan tinggi Barat seperti Universitas Columbia dan Universitas Hawai merangsang agar kaum terpelajar tertarik kepada studi Konfuciani; Kelima dan yang terlebih dari semuanya, hasil studi Konfuciani yang memberi semangat justru mulai mengalir kembali dari Barat ke Timur. Titik kelemahan dalam studi Konfuciani di Barat ialah: Pertama, beberapa kaum cendekiawan, terutama kaum cendekiawan Kristen di Barat, mencoba menerapkan metodologi sepihak yang membanggakan diri sendiri dalam metodologi, teori dan praktek-praktek yang didasarkan atas teologi Kristen untuk menginterprestasi / menerangkan tentang Konfucianitas agar mengaktifkan nilai-nilai dan sifat keagamaan Konfuciani dan bahkan menyatakan kelebihan / superioritas mereka terhadapnya. Kedua, kalau psykolog di Barat adalah hanya pengetahuan baru / modern, sedangkan psykologi Konfuciani bermula kepada Konfucius. Dalam arti umum dan luas, Konfucius kiranya adalah psykolog sosial pertama atau pakar tentang prilaku dalam hubungan antar manusia; Mencius (Mengzi) adalah psykolog pertama tentang bathin manusia; dan kaum Konfuciani-Baru adalah psykolog tentang ilmu jiwa dalam. Ketiga, karya-karya sastra Konfuciani yang penting adalah demikian banyak dan khususnya terjemahan sumber-sumber Konfuciani-Baru yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Barat adalah masih baharu dalam taraf bayi, sebagaimana diungkapkan oleh Profesor Chan. Keempat, kumpulan biografi tokoh-tokoh Konfuciani, kamus Konfuciani dan penerbitan-penerbitan jurnal Konfuciani adalah juga menanti panggilan darurat dari padang-belantara. Penampilan istimewa dalam studi Konfuciani di Barat: studi perbandingan tentang Konfuciani memiliki ciri khas yang menarik. Pertama, Konfucianitas dibandingkan dengan berbagai agama dan filosofi; dan Konfucius, Mencius dan Cu Hi dengan tokoh-tokoh filosofi Barat dalam berbagai hal. Kedua, Kitab Perubahan (Yi Jing) sudah menjadi paling populer diantar orang-orang Barat, baik cendikiawan maupun pembaca umum. Jumlah buku-buku studi tentangnya mendekati 500 masukan, jumlah terbesar makalah tentang satu subyek dalam studi Konfuciani, variasi terjemahan dan interpretasi dari teksnya sampai kepada aplikasinya dalam hidup sehari-hari. Ketiga, disertai doktoral tentang hal-hal yang berkait Konfuciani juga banyak dihasilkan Universitas-Universitas di Barat. Akan hal jumlahnya, variasi isinya, keluasan pengetahuan dan kualitasnya, serta melibatkan berbagai bangsa, sungguh menjadikan studi Konfuciani itu suatu yang unik. Keempat, hal lain yang merupakan kontribusi penting studi Konfuciani di Barat ialah telah meluaskan subyek studi Konfuciani,  tidak hanya dalam filosofi dan agama; sebagai contohnya, hal-hal yang menyangkut problema politik, ekonomi, seni, wanita, modernisasi dan seterusnya.

7. Prospek dan Proposal
Perpustakaan Konggres (The Library of Congress) menjadi sumber koleksi informasi terbesar di dunia tentang Konfucianitas. Berdasarkan koleksi ini, jumlah dan bobot studi Konfuciani dapat dibandingkan dengan agama-agama besar lain dalam tiga aspek. Pertama, jumlah yang terdaftar di dalam sistem komputer LC secara kasar : 9500 masukan tentang Kristianitas; 4500 tentang Judaisme; 3700 tentang islam; 1900 tentang Buddha Dharma; 700 tentang Konfucianitas. Kedua, nomor pada LC (sampai tahun 1980) menyangkut berbagai agama itu: 37600 untuk Kristianitas; 6500 untuk Islam; 4800 untuk Judaisme; 8000 untuk Buddha Dharma; 2100 untuk Konfucianitas. Ruang yang digunakan untuk Klasifikasi sejumlah 500 pages (BR-BX) untuk Kristianitas; 84 pages (BQ) untuk Buddha Dharma; 27 pages (BM) untuk Judaisme; 9 pages (BP) untuk Islam; hanya 3 pages (B,BL,PL) untuk Konfucianitas. Sebagai tembahan untuk perbandingan nomor ini, penerbitan-penerbitan terakhir yang terdaftar dalam Books in Print (1986-1987) yang menunjukkan arus penerbitan tentang agama-agama besar adalah sebagai berikut: Kira-kira 1000 judul untuk Kristen, 840 untuk Islam, 600 untuk Buddha, 530 untuk Judaisme, 95 untuk Konfucianitas. Dinilai dari statistik ini, studi Konfucianitas jauh tertinggal di belakang agama-agama lain. Agar dapat mempromosikan studi Konfuciani dan memenuhi kebutuhan dunia jaman sekarang ini, dituntut adanya modernisasi Konfucianitas dan cara studinya perlu ada pembenahan. Dalam hal ini perlu ada dua perubahan drastis. Yang pertama, diperlukan pembaharuan interpretasi tentang Konfucianitas untuk memenuhi tuntutan dunia modern; yang lain, diperlukan organisasi lembaga-lembaga Konfucianitas dan cara studinya wajib dibebaskan dari monopoli China, dari filosofinya dan dari bahasanya agar menjadi independen dan bebas di dunia ini. Konfucius tidak lebih lama lagi hanya Konfuciusnya China, karena beliau terlalu besar untuk dimonopoli oleh satu negara atau ras saja. Beliau adalah Konfuciusnya dunia, di dalamnya tiada diskriminasi berdasarkan asal rasnya, kebangsaannya, jenis kelaminnya, warna kulitnya dan agamanya. Dengan demikian studi Konfuciani juga bukan milik China atau Asia Timur saja, tetapi milik dunia. Pusat Konfucianitas harus didirikan dalam lokasi yang bebas dan cocok seperti Washington DC. Karena di situ agama mendapatkan kebebasan dan tanpa kontrol, untuk mengembangkan pertemuan para cendekiawan, pusat studi, pusat informasi, koleksi perpustakaan, program pelatihan untuk menjadi pakar Konfuciani dan proyek penerbitan Konfuciani, yang semuanya berkaitan dengan studi Konfuciani.

8. Kesimpulan
Akankah Konfucianitas tetap hidup? Penelitian singkat tentang penerbitan-penerbitan Konfuciani dalam bahasa-bahasa Barat ini menunjukkan ada stagnasi studi Konfuciani bila dibandingkan dengan studi agama-agama besar lain di dunia ini. Tetapi, betapapun itu tidak berarti matinya Konfucianitas. Konfucianitas mungkin surut sebagai paham sistim sosial yang aktif di Asia Timur, tetapi tidak akan mati sebagai akar budaya yang mengontrol tabiat manusia sehari-hari di kawasan kebudayaan Konfuciani. Hal ini merupakan faktor bawah sadar bathin orang-orang Timur. Konfucianitas, adalah sistim yang menjadi pola / teladan, menyeragamkan hajat mengembangkan kooperasi  / kerjasama yang harmonis demi tercapai tatanan sosial (meski tanpa adanya ancaman hukuman) yang mengacu tercapainya tujuan kemanusiaan yang tertinggi: cinta kasih dan kebahagiaan. Sistem ini telah memiliki akar budaya yang berdiri atas orientasi Cinta Kasih (Jien) dan Kebenaran atau kesadaran akan kewajiban (Gi), terjalinnya lima hubungan hirarkhis dalam masyarakat (Ngo Lun), dan sistim nilai sosial dari kekeluargaan sampai kebangsaan. Struktur sosial di kawasan budaya Konfuciani telah mengalami perubahan oleh dua ideologi asing yang saling bertentangan.: Demokrasi Barat dan Komunisme. Maka, penekanan terhadap seluruh struktur dan fungsi sistem prilaku Konfuciani telah berubah dari sifat kekeluargaan kepada kolektifisme atau nasionalisme dalam menentukan orientasi, pengharapan dan sistem nilai. Meskipun demikian, harus dikatakan prilaku umum yang terpateri di kawasan budaya Konfuciani masih tetap membentuk ; yaitu dalam prilaku yang menekankan cinta belajar, konsisitensi antara pengetahuan dan praktek dan menilai atau memprediksi tabiat orang berdasar aktifitas dan tampangnya, yang semuanya berasalkan kepada Konfuciani. Jadi apapun paham atau isme yang muncul / menang dengan menyerang dan mengkritik Konfucianitas, ternyata sifat-sifat Konfucianilah yang tetap hidup di dalam ‘isme’ baru itu sebagai pengontrol mekanisme lembaga kemasyarakatan yang baharu itu; dan dengan demikian, nilai-nilai Konfuciani di masa mendatang, kiranya akan tetap diterima untuk kian dipelajari sebagai pengetahuan perihal prilaku.

Konfucianitas telah bangkit dan datang kembali. Beberapa waktu yang lalu, Profesor Wing-tsit Chan memprediksikan kebangkitan Konfusiani dari bukti sejarah, dikatakan bahwa innovasi Konfuciani Baru pada abad XII memberi Konfucianitas wajah baru. Konfuciani Baru itu telah mendominasi kehidupan dan pemikiran Barat dan paham baru, Konfuciani Baru masih mempunyai juru bicara - juru bicara dan siap memberi kemungkinan untuk pembaharuan sekali lagi. Memang benar bahwa Konfucianitas pernah menjadi hati, mata, telinga dan mulut orang Timur. Baru-baru ini, R. Mac Farquhar menggambarkan kembalinya Konfucianitas sebagai berikut: untuk dua ratus tahun sejak awal revolusi industri, Barat telah mendominasi dunia, tetapi kini dominasi itu terancam, bukan saja oleh orang-orang Rusia ataupun oleh orang Arab, tetapi lebih mendasar oleh orang-orang Timur yang menjadi pewaris Konfucianitas yang sebegitu jauh sebagai satu-satunya yang telah menyediakan kekuatan ekonomi, politik dan militer menjadi tantangan terhadap budaya Eropa-Amerika. Betapapun, ini bukan cara Konfucianitas akan bangkit. Konfucianitas akan bangkit dengan cara yang baharu. Menurut Professor Julia Ching, Konfucianitas akan bangkit dan menjadi kekuatan mengubah, bukan sebagai paham / ideologi tetapi sebagai pengaruh spiritual, baik di Asia Timur maupun di kawasan luarnya. Konfucianitas boleh mati dari nilai-nilai yang terikat waktu dan usang, selanjutnya menjadi lahir kembali sebagai hasil paduan baru dengan nilai-nilainya yang tidak terbatas waktu, menjadi muda dan melayani era baharu — sebuah era peleburan warisan budaya Timur dan Barat sebagai warisan bagi segenap manusia. Inilah saat untuk memperhatikan Konfuciani dan menyemangati studi Konfuciani di Barat, juga di Timur. Melalui studi-studi ini, Timur dan Barat, keduanya mencari landasan umum untuk dialog bagi dunia esok yang akan datang, dapat saling belajar dan membantu satu sama lain dan bekerjasama untuk dunia yang lebih baik, tidak lewat persaingan demi superioritas, tetapi melalui saling bekerja sama.  

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:499 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:955 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:140 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:261 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:158 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:422 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:312 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:246 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:188 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:740 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 34 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com