spocjournal.com

Memahami Emosi

Oleh: Js.Drs.Ongky Setio Kuncono, MM, MBA

Pada suatu hari anak saya yang masih ingusan berkata bahwa dia tidak ingin di antar sopir naik mobil, tetapi tetap ngotot mengendarai sepeda motor ke sekolah. Pada saat seperti ini, tekanan darah naik, kegelisahan melanda kita, nasehat yang rasional mengenai bagaimana mengatasi persoalan tersebut sungguh sangat di butuhkan. Mungkin kita membutuhkan nasehat yang konstruktif dan masuk akal.. mungkin juga kita akan menemukan diri kita sendiri mengatakan hal-hal seperti berikut ini : ”sayang  suka atau tidak suka kamu harus di antar sekolah dengan supir, ayo pakai mobil saja, di jalankan berbahaya.” Atau kita bisa mengungkapkan emosi yang kita rasakan saat itu. Akan tetapi kita akan membiarkan emosi-emosi tersebut merusak keceriaan suasana hari itu. Pada saat dimana kita menghadapi situasi tersebut, secara spontanitas emosi tersebut akan menguasai diri kita yang pada akhirnya pikiran kita jadi tidak rasional. Emosi yang berkelanjutan apabila tidak di arahkan pada hal yang positif akan menjadi bomerang disamping secara psikis orang menjadi gelisah yang bisa berakhir pada rasa frustasi. Contoh konkrit adalah seorang miliarder dari Perancis  Thierry Magon de la Villehuchet menyayat nadi pergelangan tangan hingga tewas. Sekarang giliran taipan Jerman Adolf Merckle, menabrakkan diri ke kereta yang telah melaju tak jauh dari rumahnya gara-gara Merckle kehilangan aset senilai lebih dari 1 miliar Euro atau sekitar Rp. 15 triliun (Jawa Pos, 8 januari 2009). Kejadian di atas tentu saja di sebabkan rasa sedih dan kecewa yang mendalam menimpa dirinya. Rasa sedih, benci, kecewa merupakan pengalaman rasa yang merupakan emosi yang timbul setiap saat kapan saja, dan dimana saja kita berada. Kita tidak bisa menghilangkan emosi seperti menghilangkan pikiran dalam diri kita. Pikiran (akal) dan emosi merupakan anugerah Tuhan sejak manusia di lahirkan di dunia. Saya sependapat dengan ustad M.Chotir dari Jember (Paguyupan SARAS) yang mengatakan : Titipan Tuhan yang utama untuk manusia adalah pikiran (akal). Dengan pikiran (akal) manusia bisa buruk (jahat) maka disini lah pentingnya agama agar manusia menggunakan pikirannya dan juga mengarahkan emosinya pada porsi yang tepat. Confucius mengatakan: “Ada tiga ratus sajak isi Kitab Sajak, tetapi bisa diringkas dalam satu kalimat : “PIKIRAN JANGAN SESAT”. Persoalannya adalah bagaimana cara merangsang emosi tersebut agar bermanfaat baik terhadap orang yang kita ajak berorganisasi maupun terhadap diri kita sendiri. Emosi-emosi ini bisa berbentuk emosi yang positif seperti gembira, atau rasa senang, atau emosi negative seperti marah, frustasi, maupun perasaan bersalah. Menurut Mencius ( Bingcu )murid Confucius (Kongzi) bahwa Tuhan telah memberikan watak asli ( Xing) kepada manusia berupa Ren (cinta kasih), Li(kesusilaan), Zhi (kebijaksanaan), Yi (kebenaran), dan ( Xin )kepercayaan yang kemudian disebut sebagai watak sejati( Xing). Di samping itu juga Tuhan memberikan He, No, Ay, Lok (Sifat-sifat emosi dan nafsu) berupa gembira, marah, sedih senang yang keberadaannya tidak bisa di lepas dari manusia. Oleh karena itulah manusia menurut pandangan Confucius harus mengendalikan emosi tersebut bukan menghilangkan atau mematikan emosi tersebut. Gembira, marah, sedih, senang, sebelum timbul dinamai tengah : setelah timbul tetapi masih di dalam batas tengah, dinamai harmonis. Tengah itu pokok besar dunia, dan keharmonisan itu adalah cara menempuh jalan suci di dunia. (Zhong Yong Bab Utama : 4).  Para  psikologi seperti Fehr dan Russel menegaskan bahwa “setiap orang tahu apa itu emosi, sampai dia diminta untuk memberikan definisi tentang emosi itu sendiri. Tetapi tidak seorang pun dari mereka yang mengetahuinya. “ketika kita menggunakan istilah tersebut, emosi merupakan sebuah pengalaman rasa, kita merasakan adanya emosi, kita tidak sekedar memikirkannya. Ketika seseorang mengatakannya atau melakukan Sesuatu yang secara pribadi penting untuk kita, maka emosi kita akan meresponnya, biasanya dengan pikiran yang ada hubungannya dengan perkataan tersebut, perubahan psikis dan juga hasrat untuk melakukan sesuatu. Ada juga hasrat untuk melakukan sesuatu. Apabila ada mobil yang memotong di jalan raya hingga mengenai spion, mungkin kita akan merasa marah dan berpikir, siapa sih dia, beraninya ugal-ugalan di jalan.”

Psikis kita meninggi, dan kita merasakan adanya sebuah keinginan untuk membentaknya. Emosi-emosi itu bisa menjadi positif, tetapi bisa juga negative. Emosi yang positif secara personal menghasilkan perasaan yang menyenangkan. Apakah itu bangga, harapan, atau suatu kelegaan, emosi yang positif menghasilkan sesuatu yang baik pula. Dalam sebuah negosiasi, emosi yang positif ketika menghadapi orang lain bisa membangun kedekatan, sebuah hubungan yang di tandai dengan keinginan baik, pemahaman dan perasaan menjadi sebuah kebersamaan. Sebaliknya emosi yang negative secara personal menghasilkan perasaan susah, emosi itu juga kecil kemungkinannya untuk di gunakan dalam membangun kedekatan.
UJIAN TUHAN, EMOSI DAN KESABARAN

Secara medis ketika manusia emosi, maka oksigen yang berada di otak berkurang sehingga akan merasakan pusing dan berat. Jalan yang paling bagus untuk menangani ini adalah menghirup udara (Oksigen) sebanyak mungkin sehingga bisa mengalirkan oksigen tersebut kedalam otak. Bila oksigen di dalam otak cukup, lambat laun pikiran (akal) kita akan berfungsi kembali.  Ustad M.Chotir berpendapat bahwa hanya ada dua dimensi untuk mengatasi emosi yakni rasa bersyukur dan sabar akan di jauhkan dari rasa emosi negative. Lebih dari pada itu, orang sabar dan syukur mampu mengatasi persoalan yang serba tidak menentu. Kekayaan, pangkat dan kedudukan yang dimiliki manusia hanya bisa di ikat oleh sabar dan syukur. Orang yang hilang rasa kesabarannya, kecil kemungkinannya dia bisa berhasil, sebab Tuhan telah memiliki rencana, yang manusia tidak memahami. Agama Khonghucu mengajarkan adanya hubungan antara kebajikan dengan rejeki. Dan ini telah diteliti oleh penulis di lingkungan pedagang etnis Tionghoa di Surabaya. Pedagang yang menjalankan Ren,Yi,Yi,Xin secara signifikan kinerjanya meningkat.  Maka ketika ada persoalan yang menimpa kita, itu adalah juga pemberian Tuhan yang harus kita hadapi dengan lapang dada. Rasul Mengzi (Mencius) mengatakan; “Begitulah kalau Tuhan YME hendak menjadikan orang besar, lebih dahulu di sengsarakan bathinnya, di payahkan urat dan tulangnya, dilaparkan badan kulitnya, dimiskinkan sehingga tidak mempunyai apa-apa, dan di gagalkan segala usahanya. Maka dengan demikian di gerakkan hatinya, di teguhkan watak sejatinya, dan bertambah pengertiannya tentang hal-hal yang ia tidak mampu” (Mengzi VI B : 15). Tuhan telah menguji manusia agar manusia memiliki kekuatan dan ketangguhan hidup di samping juga mendorong agar manusia berkemauan yang tinggi dalam mengisi kehidupan ini, ujian dari Tuhan bersifat manusiawi, artinya tidak mungkin Tuhan menguji manusia di luar kemampuan yang dimilikinya. Ujian inilah yang kadang kala menimbulkan rasa emosi manusia yang berakhir pada ketidak sabaran dan rasa syukur manusia. Manusia selalu berkeinginan pada hal yang di harapkan, padahal tidak setiap harapan yang ia inginkan bisa terpenuhi 100%. Ketika apa yang kita inginkan di penuhi Tuhan kita merasa gembira (emosi positif), akan tetapi akan salah apabila keinginan yang tidak tercapai, kemudian menjadi benci dan gelisah (emosi negative). Keinginan yang tidak tercapai merupakan kehendak Tuhan dan ini perlu di sikapi sebagai ujian Tuhan dimana manusia harus sabar.


MENCAPAI IDEALISME HIDUP
Beberapa tahun ketika saya berceramah di berbagai tempat, saya selalu mengatakan bahwa menjadi seorang Khonghucu, yang ideal adalah menjadi Kuncu(Junzi). Artinya orang yang berbudi tinggi. Xs.Tjhie Tjay Ing mengartikan Junzi dengan susilawan sedangkan sarjana barat menyebutnya “gentleman”, orang yang unggul atau superior. Bagi saya seorang Junzi sama dengan santri dalam ajaran agama Islam dan sama dengan anak Allah bagi pemeluk agama Kristen. Akan tetapi perlu di tegaskan bahwa Junzi memiliki ciri-ciri tersendiri yang tidak bisa di gantikan dengan istilah lain. Prof. Dr. Lee T Oei memberikan ciri-ciri bagi seorang Junzi di antaranya orang yang bertujuan, bersikap tenang, menuntut diri sendiri, berusaha sungguh-sungguh, menyeluruh, tulus hati, jujur, murni dalam pikiran dan tindakan, cinta akan kebenaran, adil dan tidak miskin, berkebajikan, bijaksana, longgar hati, tabah hati (sabar), berwibawa, teguh, rukun, tidak menjilat, berkembang ke atas, berkemampuan, bersifat terbuka, baik hati, berwawasan luas (Ilmu), bercinta kasih, tenggang diri, tepa selira, bersyukur. Menurut alm.Ongko Widjoyo.MBA mengatakan bahwa seorang Junzi itu tertera dalam Kitab Da Xue adalah seorang yang memperbaharui dalam hidupnya. “Bila suatu hari dapat memperbaharui diri, perbaruilah terus setiap hari, dan jagalah agar baharu selama-lamanya. (Da Xue bab II : 1). Hari ini harus lebih baik dari pada hari kemarin, dan hari yang akan datang harus lebih baik dari hari ini. Untuk menjadi seorang Junzi sudah termasuk di dalamnya unsur sabar dan syukur. Sabar dan syukur adalah kunci seorang beragama di samping, berpikir, dan berusaha (Bisnis). Ketiga konsep dari M.Chotir itu juga ada pada ciri khas seorang Khonghucu. Sungguh saya merasa kagum dan hormat kepada ustad M.Chotir yang mampu memahami nilai keagamaan secara universal.
Konsep pertama adalah kewajiban manusia untuk menggali ilmu pengetahuan tanpa henti-hentinya, dengan ilmu itulah manusia bisa meningkatkan drajat hidupnya dengan mengembangkan kemajuan maupun tehnologi. Agama Khonghucu menuntut manusia untuk belajar sepanjang hidupnya ( learning to be human ), meniti hakekat perkara dan menemukan segala hal ( dalam arti menguasai ilmu dan teknologi ).  Konsep kedua, dalam perjalanan manusia harus sabar dan bersyukur. Sabar dan syukur dalam pengertian Khonghucu tetap berusaha keras meskipun hasilnya belum maksimal, tetapi  tidak menyesali.  Konsep ketiga berbisnis merupakan kewajiban, karena Tuhan telah memberikan titipan alam semesta ini hendaknya untuk di kelola dan di manfaatkan manusia untuk kemakmuran, sangatlah salah apabila peranan bisnis diperkecil dan  hubungkan kepada Tuhan diperbesar sehingga membuat manusia malas bekerja. Yang benar adalah bagaimana menyeimbangkan antara ibadah dengan kewajiban di dunia ini agar tercapailah keharmonisan yang abadi ( Keharmonisan Agung ).

KESIMPULAN :
    Ada keinginan manusia yang di penuhi oleh Tuhan dan ada keinginan manusia yang tidak dipenuhi Tuhan, Keinginan yang belum dipenuhi Tuhan hendaknya dihadapi dengan tabah dan syukur ( lapang dada ) . Manusia yang sering emosi yang berdampak pada sikap yang bertentangan dengan seorang beragama. Maka untuk mengatasi emosi yang juga pemberian Tuhan, manusia harus sabar dan bersyukur, tapi jangan lewatkan usaha yang sungguh sungguh.

PERPUSTAKAAN
1. Ongky SK,” Etika dan Keimanan Khonghucu”,Boen Bio,1996
2. Roger-Daniel S, “Keajaiban Emosi Manusia”,Think, Yogyakarta, Maret 2008.
3. Kitab Su Si, Matakin.


You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:499 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:955 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:140 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:261 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:158 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:422 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:312 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:246 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:188 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:740 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 29 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com