spocjournal.com

Mengkritisi Tulisan Chapra Tentang Ilmu Ekonomi Pembangunan

Oleh : Drs.Ongky Setio Kuncono,MM,MBA

1. Mengkritisi tulisan M.Umer Chapra tentang “ Ilmu Ekonomi Pembangunan : Pelajaran Yang Masih Harus Dikaji “.

Bahwa memahami pemikiran Chapra dalam dalam hanya satu Bab buku sungguh sangat kurang sebab banyak kajian kajian Chapra yang sangat mendasar khususnya masalah perekonomian model Islam yang banyak dilontarkan. Dr.M Umer Chapra , adalah seorang ekonom muslim yang paling produktif dan pelopor lahirnya disiplin Ilmu Ekonomi Islam . Chapra menyakini benar bahwa bahwa ajaran Islam yang universal dan komprehensip dapat dijadikan premis intelektual bagi ilmu ekonomi yang sesuai dengan karakter individu dan umat Muslim.

Umar Chapra dengan seluruh  potensi intelektualnya dipersembahkan untuk menggali  dan menggagas sebuah sitem ekonomi yang beliau yakini akan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan sejati, lahir dan batin, dunia dan akhirat. Sebuah system perekonomian yang harmoni dengan hukum yang berlaku dan berdaulat di semesta alam dan jagat raya pada hakekatnya adalah satu karena berasal dari satu Tuhan yaitu Allah swt. Dalam pandangan beliau, subsistem keuangan merupakan bagian terpenting dari sebuah system perekonomian suatu peradapan. Dalam subsistem inilah semua mode transaksi bisnis secara umum berlaku dan beroperasi.
Baginya Kezaliman akan melanggengkan praktek pengambilan hak orang lain secara sistematis dan abadi sehingga menimbulkan fenomena sosio-ekonomi dimana yang kaya semakin kaya dan miskin semakin miskin.  Dalam hal ini Chapra berupaya secara maksimal untuk meninjau esensi dan hakekat ( interest,usuary,faidah atau riba ) dari sudut pandang ekonomi dan syariah Islam.

Tugas kami yang ditujukan untuk menyamakan pemikiran Chapra dengan membaca Bab II dari salah satu tulisan , memang Ilmu Pembangunan merupakan pelajaran yang harus dikaji ulang dalam hal ini dikarenakan banyaknya permasalahan yang ada dalam masyarakat khususnya masalah kesejahteraan yang masih belum bisa dipecahkan oleh ilmu Ekonomi Pembangunan. Banyak permasalahan kehidupan yang menyangkut kesejahteaan dan kebahagian belum bisa dijawan oleh Ekonomi Pembangunan.  Para ahli Ekonomi mencari cari model untuk memberikan jawaban atas pemecahan kesejahteraan dan kebahagian yang mulanya mengganggap bahwa kesejahteraan dan kebahagiaan dapat diukur dengan tingkat pendapatan seseorang. Dengan kata lain bahwa semakin tingginya tingkat pendapatan akan semakin menjadikan masyarakat sejahtera dan bahagia. Menurut Chapra kenyataan ini justru tidak demikian. Chapra beragumentasi bahwa   Secara empiris meskipun peningkatan pendapatan dratis di beberapa Negara sejak perang dunnia kedua , tetapi tingkat kesejahteraan dinegara Negara tersebut tidak mengalami peningkatan, justru menurun tajam. Menurut Chapra biasanya kebahagiaan diukur berdasarkan tingginya pendapatan hanya sampai batas dimana semua kebutuhan biologis dapat dipenuhi. Diluar itu masih ada kebutuhan lain yang dapat meningkatkan kebahagiaan juga harus dipenuhi. Salah satu kebutuhan non materi yang terpenting adalah keadilan dan pemerataan  ( pemerataan pembanguan yang tidak pandang bulu ) , rasa aman, keluarga atau masyarakat yang harmonis, kemerdekaan dan perdamaian.

Selanjutnya Chapra dalam kesimpulannya mengatakan jika  ilmu  ekonomi pembangunan berharap dapat berperan dalam peningkatan kesejahteraan semua lapisan masyarakat maka secepat mungkin  harus bergerak menuju Fase keeempat (4). Karena pada Fase ini , yang menjadi penekanan tidak hanya kemakmuran yang bersifat ekonomi saja , tetapi kesejahteraan dalam arti luas, dimana kesejahteraan yang luas hanya dapat dicapai dengan adanya dukungan dari factor sosio ekonomi dan politik yang relevan. Faktor lain yang harus dipastikan adalah keadilan, keharmonisan rumah tangga dan social, kedamaian,dan keamanan. Dalam hal ini masalah moralitas menjadikan hal yang bisa menunjang kepada kesejahteraan secara utuh.

Dari pendapat Chapra tidak ada yang perlu dirisaukan karena konsep kebahgian dan kesejahterann menjadi tujuan semua orang sekaligus tujuan pembangunan ekonomi dinegara manapun . Para pendiri RI Soekarno dan tokoh Ekonomi Indonesia waktu itu Bung Hatta juga memiliki cita cita luhur tentang kesejahteraan lahir bathin ( kesejahteraan materi dan nom materi ). Konsep ekonomi kesejahteraan dan kebahagian nampaknya akan sejalan dengan konsep yang sudah banyak dilontarkan. Walaupun nantinya ada perbedaan landasan dan konsep tujuan kesejahteraan secara umum dengan kesejahteraan dan kebahagian yang dimaksud dengan Chapra berbeda namun demikian pendapat Chapra masih bisa ditoleransi.  Memang bicara kesejahteraan dan kebahagiaan bukan menjadi dominasi konsep Chapra semata . Alangkah baiknya kita melihat konsep kesejahteraan di Negara China sebagai dalil yang dapat digunakan untuk menunjang sekaligus mendukung konsep kebahagiaan dan kesejahteraan yang dilontarkab Chapar ( dalam kontek buku BAB 2 saja ).   Memasuki  abad dua puluh satu kita nyatakan lagi bahwa tidak cukup untuk menggunakan standar sederhana GNP ( Grosss Nasional Product ) untuk menilai kualitas hidup masyarakat di  dinegara Negara berbeda . Kita harus melihat juga pada GNH ( Gross Nasional Happiness ) ( Yu Dan : 17 ). Dengan kata lain, untuk menngevaluasi apakah suatu Negara benar benar kaya dan kuat, kita seharusnya tidak hanya melihat dari kecepatan dan skala pertumbuhan ekonomi saja , kita harusnya lebih melihat pada perasaan sebagian besar warga Negara- Apakah saya merasa aman ? Apakah saya bahagia ? Apakah saya benar benar setuju pada kehidupan yang saya jalani ? Berbicara masalah kebahagian itu menurut Karstini ( 2010 ) bersangkutan dengan perasaan, kebiasaan bisa ditumbuhkan sendiri, jadi diri sendirilah yang bisa menentukan bahagia atau tidak ( Yatim, desember 2010 ). Sehingga dengan demikian berbicara kebahagiaan adalah hal yang sangat individual dan relative. Melalui pendekatan pengukuran perasaan masyarakat kita bisa melihat hasil penelitian dimana pada akhir tahun 1980 an, Tiongkok mengambil bagian dalam suatu survey Internasional, yang pada saat itu menunjukkan kebahagiaan penduduk hanya sekitar enam puluh empat  persen ( 64 % ) .Di tahun 1991, Tiongkok mengambil bagian dalam survey lagi. Indeks kebahagiaan telah meningkat, mencapai sekitar tujuh puluh tiga persen ( 73 % ). Hal ini dicapai dari peningkatan standar hidup, sebaik semua reformasi yang telah dilaksanakan pada saat itu. Namun pada saat mengambil bagian dalam survey ketiga kalinya, di tahun 1996, indeks kebahagiaan telah merosot menjadi enam puluh delapan persen ( 68 % ) . Hal ini menimbulkan teka teki besar, menunjukan bahwa meskipun secara material dan budaya masyarakat sedang berkembang, orang orang yang menikmati buah dari keadaan masyarakat tersebut mungkin mengalami kebingungan spiritual yang sangat komplek.
Mirip dengan pandangan Chapra, bahwa kebahagian hanya bisa dicapai bukan dari segi materi saja, melainkan harus di dipuaskan pada segi spiritual.
Dari pandangan ini ( dalam bab 2 ) tentunya semua orang akan setuju dan mendukung pemikiran tersebut diatas. 

Pertanyaan yang pertama, kami diharuskan untuk bisa berpola pikir sama dengan Chapra  sejalan dengan pikiran Chapra, tentang Ilmu ekonomi ilmu ekonomi pembangunan : pelajaran yang masih harus dikaji .

a. Banyaknya kegagalan system ekonomi dan belum adanya system ekonomi yang baik untuk diaplikasikan. Sejak fase pertama 1776 ketika Adam Smitt mempublikasikan “ Wealth Nasion “ dengan kerangka kerja laissez-faire kapitalis yang beranggapan kekuatan pasar dengan sendirinya akan mendorong pertumbuhan dengan meningkatnya efisiensi . Dalam hal ini perekonomian mengandalkan kekuatan pasar, norma norma yang berlaku di keluarga, masyarakat , Negara dan nilai nilai moral pun sepenuhnya diabaikan.
Ternyata system perkonomian diatas gagal karena dianggap tidak memiliki kemampuan dan kekuatan pasar untuk mendorong pembangunan.

b. Sistem ekonomi dengan melibatkan pememerintah secara agresif untuk mendorong pembangunan yang secara umum dipengaruhi oleh Keynesian dan Sosialis. Namun kelemahannya adalah terjadi pembengkakan deficit yang kemudian dibiayai melalui ekspansi moneter dan hutang, dan pada akhirnya terjadi infansi dan menimbulkan beban untang yang berat. Dalam fase ini nilai nilai moral masih juga terabaikan.
Papa fase 1 dan 2 ini juga belum bisa mendorong terwujudnya keadilan . Kegagalan fase ke dua dimana ternyata pemerintah lemah dalam menciptakan lapangan pekerjaan sehingga banyaknya ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah . system ini dianggap gagal juga.

c. Sistem Ekonomi dengan focus perhatian dari ilmu ekonomi pembangunan sekali lagi telah bergeser kepada liberalism dan pasar. Terjadi kebangkitan anti intervensi dan prokebebasan pasar ala ilmu ekonomi klasik. Pada system ini adanya pengakuan terhadap peran keadilan dalam pembangunan

d. Sistem ini ada penyesuaian dimana pengakuan bahwa pasar dan Negara tidak bisa mencakup istitusi social secara keseluruhan.  Dalam sistem ini adanya kebutuhan untuk memasukkan peran social, kelembagaan, politik dan factor factor sejarah dan memanfaatkan potensi mereka untuk mengakselerasikan pembangunan . Adanya saling  ketergantungan antara sosio-ekonomi, factor budaya, dan good governance dalam mendorong pembangunan sangat penting. Penyesuaian kedua, adalah perhatian yang lebih besar terhadap keadilan . Penyesesuaian ketiga, bahwa stabilitas makro ekonomi merupakan prasarat utama bagi pembangunan dan keadilan.  Juga adanya pengakuan yang lebih luas terhadap peran “ modal social”( rasa saling percaya antar sesama, norma norma perilaku, dan jaringan social ) dalam pembangunan, sebagai penganti dari modal fisik dan modal manusia yang diakui sebelumnya. Sedangkan Jaringan social ( seperti keluarga, marga,suku dan kelompok social lain ) dapat membantu masyarakat menghindari perilaku menyimpang.
Pada fase ini adalah kembali menekankan “ modal social “  yang memokuskan perhatiannya pada pengentasan kemiskinan dan meningkatkan keadilan, karena keduanya sangat penting bagi upaya realisasi kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat.
 
e. Fase ke Lima
Fase ini adalah fase penerapan nilai nilai dalam masyarakat khususnya nilai yang berkaitan dengan ajaran agama sehingga masyarakat akan takut karena bila melanggar akan kena sangsi di akherat. 
 
Menurut kami memang benar bahwa memasuki abad 21 , nilai moralitas harus dijalankan dalam menumpang kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Menurut saya dengan menerapkan moralitas ( nilai nilai ) positif akan mendorong kearah pembangunan yang berkeadilan. Semua masyarakat termasuk mereka yang memiliki pandangan dunia yang sekuler, menyatakan bahwa pembangunan dengan keadilan dan stabilitas adalah sebagian dari tujuan mereka. Tujuan ini mungkin tidak sulit untuk dicapai jika terdapat sarana dan prasarana yang memadai .Namun , kenyataan pahitnya adalah bahwa sarana dan prasarana tidak hanya langka, tapi juga, di sejumlah Negara yang juga dibebani dengan ketidakseimbangan ekonomi makro dan beban hutang yang berat ( kita bisa lihat Indonesia sebagai contoh ) . Dengan situasi seperti itu , tidaklah mungkin bisa menyelesaikan tujuan pembangunan dengan keadilan dan stabilitas tanpa realokasi sarana sarana yang langka dari kegunaan yang tidak efisien dan tidak sewajarnya kepada yang tidak hanya efisien, tetapi juga pantas. Cara yang tepat untuk melakukan realisasi tersebut secara sukses adalah tidak ada cara lain kecuali suntikan dimensi moral kepada semua individu dan keputusan secara kolektif yang berdapak , baik secara langsung maupun tak langsung, kepada alokasi distribusi sarana sarana. Bahkan tidak mungkin untuk merealisasikan efisiensi dan kewajaran tanpa bantuan criteria moral.

Kajian tentang hubungan moralitas dalam sumbangsihnya dalam menunjang kebahagian dan sekaligus kesejahteraan kita bisa lihat dari beberapa tulisan Pengaruh Motivasi Spiritual Karyawan Terhadap Kinerja Religius : Studi Empiris di Kawasan Industri Rungkut Surabaya ( Sier ) oleh Muafi, juga Pengaruh Etos Kerja Islami Terhadap Kinerja Karyawan oleh Irwan Baduu, juga Analisa Pengaruh Locus of Control Terhadap Kinerja Dengan Etika Kerja Islam Sebagai Variabel Moderating oleh Soraya Eka Ayudiati . Tulisan tulisan diatas telah mengkaitkan nilai moralitas keagamaan dalam hubungannya dengan pencapaian kinerja atau kesuksesan bisnis. Apa hubungannya dengan pandangan Chapra ? tentu saja para penulis telah menyajikan nilai moral dan agama dalam mencari model ekonomi yang sesuai dengan kebutuhan saat sekarang ini. Hampir semua penelitian setuju dan sepakat bahwa masalah moral diletakkan pada porsi yang terdepan dalam mengatur perekonomian. Maka bicara moral atau nilai nilai yang disodorkan Chapra dalam buku dalam bab 2 ( tugas ) idenya sangat cemerlang. 
 
Pandangan kebelakang bahwa semua penelitian penelitian tersebut tidak lepas dari benang merah Tesis Max Weber yang pada waktu juga mengkaitkan hubungan antara etika ( moral ) dengan tingkat kesuksesan bisnis. Maka  Chapra telah berusaha mengembangkan pola pikir baru dan mencari hubungan bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan hanya bisa ditempuh melalui penerapan nilai nilai moral yang dilandasi agama. Gagasan tersebut tidak akan menyimpang jauh dari apa yang dibahas oleh beberpa peneliti dan Tesis Max Weber tersebut . Chapra dalam hal ini berbicara tentang modal social yang telah lama dilupakan, yang mefokuskan perhatiannya pada pengentasan kemiskinan dan meningkatkan keadilan, karena keduanya tersebut sangat penting bagi upaya realisasi kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat. Pada gilirannya, hal ini membawa pada diskusi tentang konsep saling percaya, norma norma perilaku dan jaringan social, yang pada mulanya merupakan pantangan bagi ilmu ekonomi. Menurut Chapra ketiga hal diatas menjadi rem perekat social. Rasa saling percaya antar sesama sangat penting berkaitan dengan kesepakatan dan transaksi transaksi bisnis, selanjutnya dikatakan bahwa tidak adanya saling percaya pembangunanpun bergerak mundur. Pandangan tentang “kepercayaan” yang juga mungkin bisa kita kaitkan dengan “ kejujuran” menjadikan tema sentral saat sekarang. Hancurnya Negara dan hancurnya sendi sendi ekonomi dan tentu tidak akan tercapainya kesejahteraan , tentu saja akibat dari hilangnya “kepercayaan”.   Sejalan dengan pemikiran Chapra, hasil penelitian di beberapa kota besar seperti China,Taiwan, Singapora,Malaysia  dan Hongkong menghasilkan kesimpulan bahwa “ Kepercayaan” merupakan modal dasar bagi prilaku bisnis sehingga apa yang menjadi pemikiran Chapra telah dibuktikan oleh hasil penelitian dan secara keilmuan bisa dipakai sebagai rujukan.  Kita bisa melihat kasus di  China sebagai suatu Negara yang perekonomiannya dan kesejahteraan masyarakatnya meningkat, dikarenakan China telah melakukan perubahan besar besarnan dalam pandangan ekonominya dengan memasukan nilai moral Confucius dalam setiap kebijaksanaan. Hasilnya China menjadi kekutan ekonomi yang besar yang diperhitungkan oleh dunia. Dari contoh yang ada di China, memberikan dukungan  pandangan Chapra dimana sumbangsih etika moral sangat besar dalam pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Disini , disebutkan studi relevan yang mengekplorasi pengaruh pendekatan etika Confucius terhadap perkembangan perekonomian dan bisnis secara singkat sudah cukup. Hofsete dan Bond ( 1988 ) menemukan bahwa nilai nilai tertentu dari apa yang mereka istilahkan “ Dinamisme Confucius “ sangat berhubungan dengan pertumbuhan ekonomi Negara Negara. Meneliti pengaruh dari etika Confucius Klasik terhadap ekonomi agraris, ekonomi komersial Neo-Confucianis, polotik ekonomi reformis Confucianis dan Confucianis Modern dalam ekonomi globall. Omatowski ( 1999 ) melacak perkembangan historis dari pengaruh Confucius terhadap perkembangan ekonomi Jepang. Shibusawa Eiichi, seorang industrialis terkemuka, mendorong etika Confucius dalam praktek bisnis Jepang dikombinasikan dengan keahlian bisnis modern. Pada Jepang konteporer, gagasan Confucius mengenai hirarki dan hubungan kekerabatan tampak nyata dalam piramida organisasi dari perusahaan keluarga, seperti oya geisha ( perusahaan orang tua ), kogaisha ( perusahaan anak ), dan magogaisha ( perusahaan cucu ) ini ditandai dengan hubungan ketergantungan dan control, serta demontrasi kemurahan hati yang dibalas dengan tindakan yang menunjukkan loyalitas diantara deretan yang berbeda dari struktur keiretsu ( Gary Kok Yew Chan ).
Contoh penerapan etika moral ( nialai nilai agama ) Confucius di China merupakan contoh juga yang bisa dilakukan dalam menerapkan pemikiran Chapra walau situasi dan konsis serta konsep dasarnya mungkin berbeda.

Sebagai landasan untuk pembangunan ekonomi Isu tentang kedamaian, keadilan serta keharmonisan yang dilontarkan oleh Chapra merupakan  isu yang juga dibicarakan oleh para tokoh dunia. Kedamaian, keadilam dan keharmonisan sebagai moralitas akan membawa kemakmuran dan kesejahtaraan umat manusia apabila diterapkan dalam kehidupan social masyarakat .  Seperti pada tahun 1988, 74 pemenang Nobel dunia membuat pernyataan di Paris bahwa jika manusia ingin hidup dalam kedamaian dan kemakmuran di abad 21, maka mereka harus melihat kebelakang 2.500 tahun yang lalu dan mencari kebijaksanaan Confucius ( in 1988, 74 Nobel Prize winners made the assertion in Paris that if human being want to live peace and properity in the 21 st century, they mush lokk back 2,500 years and seek the wisdom of Confucius ) ( Youmin Zhang ). Etika dan moralitas bisa bersandar pada agama manapun yang bersifat universal, beberpa kajian di Indonesia pun selalu akan mendukung pandangan Chapra tentang Moralitas dari nilai agama sebagai modal social. Seperti Mochammad Maksum ( Pengaruh Etika Kerja Dan Komitmen Pada Organisasi Terhadap Kepuasan Kerja) , Alwiyah Jamil ( Pengaruh Etika Kerja Islam Terhadap Sikap Sikap Pada Perubahan Organisasi : Komitmen Organisasi Sebagai Mediator), Etika Ekonomi ( Bisnis) dalam Menghadapi Pasar Bebas), Nur Alian As’adi ( Pengaruh Etika Kerja Islam Terhadap Kinerja auditor Dalam Kantor Akuntan Publik Di Surabaya ), 
Kesimpulannya adalah, kami sangat mendukung dan setuju bahkan sejalan dengan pemikiran ekonomi pembangunan yang menurut Chapra pelajaran yang harus dikaji ulang, sebab masih banyak hal yang perlu dikembangkan untuk memasukan ide ide cemerlang model ilmu pembanguan yang tepat untuk abad 21 ini.

2. Dalam menjawab pertanyaan kedua, kami diarahkan pada ketidaksetujuan gagasan Chapra, tentunya kita harus melihat beberapa hal diantaranya :

A. Gagasan Chapra pada fase kelima ( 5 ) yang merupakan gagasan untuk menerapkan nilai nilai moral yang bersumber pada Agama agar diterapkan secara terlembaga ke dalam  masyarakat. Dan bila masyarakat dan Negara betul betul patuh dan takut kepada Allah akan hukuman di Akherat, maka mereka dengan sendirinya akan menjalankan nilai moralitas  dengan sungguh sungguh . Rupanya gagasan Chapra lebih cenderung kepada penerapam nilai agama dalam medesain ekonomi pembangunan. Apakah bentuk Negara agama juga bisa menjamin kemakmuran dan kebahagian suatu masyarakat. Kenyataannya bahwa banyak Negara Agama yang justru terjadi penyimpangan, ketidakadilan, peperangan dan korupsi. Sehingga dengan demikian bukan karena agamanya, melainkan kembali kepada individu manusia dalam merapkan nilai nilai agama. Kalau sudah bicara masalah Individu, tentunya menyangkut Iman yang kadangkala sulit untuk diukur. Dalam buku Chapra beragumentasi bahwa kesalahan Negara agama dari “ lemahnya pemimpin “ , maka pemimpin harus diganti dengan pemimpin yang “ tegas “ dalam menerapkan nilai nilai agama. Masalahnya akan tibul lagi bahwa dalam hal ini timbul suatu kekuasaan yang diktaktor ( penguasa yang streng ) dalam mengelolah pembangunan ekonomi. Model semacam ini justru  tidak akan bisa mencapai tujuan pembangunan yang sejahtera karena akan melanggar sendi sendi demokrasi dan kebesasan sebagai fitrah manusia yang juga pemberian Tuhan.

B. Menurut saya gagasan Chapra merupakan gagasan yang utopia, artinya cita cita ideal tentang kesejahteraan dan kebahagiaan tidak pernah bisa tercapai secara mutlak. Apabila ukuran kesejahteraan dikaitkan dengan kepuasan individu dilihat dari bukan sisi material, melainkan dari segi spiritual tentunya ukurannya akan relative. Albert Einstein Dalam Bukunya ( Ilmu Dalam Perspektif ) mengatakan bahwa “ Meskikah orang orang Indian yang primitive itu hidupnya tidak bahagia bila diubandingkan dengan kita kita  yang modern ini ? Tentu saja jawabnya belum tentu. Begitu pula orang orang yang hidupnya di kolong jembatan apakah hidupnya juga tidak bahagia ? maka, jawabnya juga belum tentu. Maka mengukur kebahagiaan dan kesejahteraan diluar prinsip ekonomi jawabnya adalah relative ( tergantung sama orangnya sendiri ) . Kalau masyarakat diberi dorongan nilai nilai agama tentu semua orang akan setuju sebab nilai itu baik untuk menunjang proses pembangunan, akan tetapi apabila nilai nilai itu harus dilembagakan dan dijadikan pedoman oleh Negara untuk mengatur perekonomian tentunya ide Chapra akan kesulitan terealisasi. Alasannya adalah : 

1. Manusia tetaplah manusia, dia bukan Allah yang sempurna dan tidak pernah melakukan kesalahan. Oleh karena itu tidak ada seorang yang hidup didunia ini mampu menjalankan agamanya dengan sempurna seperti para Nabi –nya. Maka manusia tetap saja bernafsu, korupsi, berkeinginan, sehingga tidak mungkin suatu masyarakat bisa digeneralisasi. Sebagai contoh semua orang harus hidup sederhana, semua orang harus mengumsumsi barang yang sama. Berdasarkan alasan  diatas, maka sulit kiranya pendapat Chapra mendapat dukungan dari masyarakat ( kondisi real ).

2. Kebahagiaan yang hakiki yang juga kesejahteraan yang hakiki adalah tidak mungkin dicari didunia ini. Jadi ukuran ukuran ekonomi tradisional ditambah dengan keadilan dan pemerataan, keadilan dan seterusnya secara pendekatan masih bisa dicapai. Akan tetapi kesejahteraan hakiki tidak akan bisa tercapai didunia ( hanya angan angan) . Kalau mau mencapai kesejahteaan yang hakiki ya di Surga ( setelah kematian nanti ).

C. Gagasan Chapra bisa terbalik dari tujuan utamanya mencapai kemakmuran dan kebahagian  yang riil kearah kemakmuran dan kebahagiaan hakiki yang justru gagal . Dalam kondisi dimana saat sekarang ini banyak terjadi kegagalan pembangunan akibat dari rendahnya kepercayaan masyarakat , misalnya korupsi dan ketidakjujuran pejabat Negara menjadikan mereka tidak mampu menggunakan sumber daya yang ada untuk kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat. Akan tetapi sekali lagi bahwa pemahaman akan kepercayaan masyarakat terhadap Negara dan berkembangnya penyimpangan etika dalam masyarakat disamping membawa dampak pada proses pembangunan yang menuju kepada kesejahteraan dan kemakmuran bukan semata mata  bisa dimasukkan imu Ketuhanan yang menjadikan opium masyarakat justru menuju kepada kebahagian  semu.  Dengan kata lain bahwa apabila pendapat Chapra tentang perlunya peranan Agama untuk mencapai tingkat kebahagiaan bisa disalahgunakan oleh pemegang otoriter ( dalam hal ini pemerintah , bisa juga lembaga ) untuk opium masyarakat dari kekecewaan kegagalan materi diahlihkan untuk menikmati kebahagiaan diluar materi. Bagaimanapun juga bahwa ukuran kemakmuran dan kebahagiaan akan dapat dicapai melalui pemenuhan kebutuhan dari penndapatnnya. Sisanya adalah kebahagiaan yang harus dicapai secara relative oleh manusia itu sendiri dalam hubungannya interpersonal dengan Tuhan sebagai khalik Penciptanya. 

D. Tidak ada Negara manapun yang sampai saat ini rakyatnya merasakan keadilan dan keamanan serta kebahagiaan dalam tanda petik ( ! ) . Maka Ilmu Ekonomi Pembangunan walaupun perlu dikaji ulang tidak akan mampu menembus kesejahteraan dan kebahagiaan per person person, tidak akan mencapai kesejahteraan yang hakiki. Sebab kesejahteraan yang hakiki hanya ada di Akherat. Kita ini sekarang hidup dalam fase kehidupan didunia maka bagaimanapun juga kehidupan di dunia ini tidak lepas dari kaidah ukuran manusia yang manusiawi . Kaidah manusiawi tidak lepas dari kebutuhan yang dijabarkan Maslow


Daftar Pustaka
Gary Kok Yew Chan,2008, The Relevance and Value of Confucianism in Contemporary Business

Ethics, Journal of Business Ethics, 77: 347-360,Doi 10.1007/s10551-007-9354-z.

Kastini,2010,Majalah Yatim, desember 2010. 

Max Weber,The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism,

Yu Dan,2009, 1000 Hati Satu Hati ,Gerbang Kebajikan Ru,Cetakan pertama, Bandung

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:245 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:894 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:115 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:240 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:135 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:404 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:298 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:234 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:176 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:719 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 29 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com