spocjournal.com

Teori Pembangunan Ekonomi : Penataan Ekonomi Secara Organis

Oleh : Xs. Dr. Oesman Arif, M.Pd

Xun Zi menggambarkan negara itu ibarat kelompok paduan suara. Pemimpin negara sebagai dirigennya, rakyat sebagai penyanyinya. Rakyat saat menyanyi harus mengikuti aba-aba dari pimpinan. Apabila ada rakyat yang berbuat lain dari perintah pimpinan maka terjadi kekacauan dalam negara. Dengan perkataan lain, negara ibarat kelompok paduan suara yang rusak dan kacau karena pesertanya menyanyi tidak memperhatikan aba-aba (Zhang, 1993: 153).


1. Masyarakat Negara sebagai Organisme 
Xun Zi menganggap negara sebagai organisme. Dia menata ekonomi juga berdasar filsafat Organisme. Pemimpin negara diumpamakan sebagai kepala yaitu konseptor yang memerintah rakyat yang merupakan anggota badan. Rakyat jumlahnya banyak, tetapi karena pendidikannya kurang, mereka tidak dapat memperbaiki sendiri ekonominya. Mereka perlu disatukan dan dibina sebagai bagian tubuh negara. Penjelasannya sebagai berikut, setiap daerah selayaknya menentukan komoditas yang akan diproduksi, sesuai dengan sumber daya alam dan sumber daya manusianya. Suatu daerah yang potensi sumber daya lautnya berlimpah, di situ dikembangkan usaha perikanan. Apabila di suatu daerah ada potensi untuk ternak mutiara, sebaiknya dikembangkan peternakan mutiara. Semua nelayan dihimpun oleh satu organisasi yang menampung semua hasil produksi dan menjualkannya. Dengan cara ini,  harga ikan tidak mungkin jatuh karena tidak ada persaingan harga. Dalam hal ini hak monopoli dimiliki oleh organisasi yang mempertimbangkan kepentingan bersama, produsen dan konsumen, bukan untuk keuntungan pribadi atau kelompok. Kapitalisme Organis dapat dikatakan bahwa ekonomi dikendalikan oleh moral, bukan oleh negara.

Para nelayan dan petani selalu mendapat bimbingan secara pribadi, menyangkut pekerjaan maupun kehidupan sehari-harinya. Apabila ada nelayan atau petani yang salah memanfaatkan uang yang diperolehnya, mungkin untuk berjudi atau berfoya-foya, organisasi itu wajib memberikan teguran keras. Kesejahteraan masyarakat nelayan dan petani perlu diatur oleh organisasi yang profesional, agar hidup mereka lebih baik. Dalam pandangan filsafat Organisme, manusia individu tidak dibiarkan hidup sendiri, berjuang sendiri, tetapi harus hidup dalam kesatuan jaringannya (Capra, 2004: 45).

Ekonomi ditata secara organis, artinya semua kegiatan ekonomi negara dikoordinasi bersama oleh pemerintah dan rakyat. Tujuannya supaya semua orang terlibat dalam kegiatan ekonomi. Di semua daerah, masyarakatnya digerakkan untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Menurut Xun Zi, semua daerah adalah bagian tubuh negara, maka dari itu tidak boleh ada daerah yang lumpuh, kecuali daerah itu tidak ada penduduknya. Bila tidak ada perhatian yang serius terhadap semua daerah oleh pejabat negara pasti banyak daerah yang tertinggal, yang pada saatnya, akan  menimbulkan konflik horisontal.

Suku-suku minoritas di Tiongkok pada zaman Xun Zi, sering menyerang tetangganya karena mereka ketinggalan di bidang ekonomi dibandingkan daerah lainnya. Yang sering terjadi pada saat itu, yaitu bila panenan gagal, atau terjadi bencana kekeringan, atau bencana alam lain, penduduk yang kelaparan menyerang desa atau wilayah tetangganya. Kekacauan dan kerusuhan dalam negara bersumber dari maslah ekonomi yang menentukan hidup dan mati manusia. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi suatu negara perlu diutamakan, sedangkan pembangunan politik, pembangunan sistem keamanan, dan penegakan hukum diperlukan untuk melindungi aktivitas ekonomi masyarakat.  Keadilan sosial dalam masyarakat akan dapat terwujud apabila sudah ada pemerataan kemakmuran bagi seluruh penduduk.

Dasar perekonomian yang diinginkan Xun Zi yaitu keadilan dan pemerataan. Yang penting bagi rakyat adalah cukup makanan dan pakaian hangat untuk musim dingin. Sektor pertanian perlu diutamakan agar kebutuhan dasar rakyat tercukupi. Apabila persediaan bahan makan dan pakaian berlimpah, rakyat tidak akan kelaparan dan kedinginan. Harga barang yang tidak terlalu mahal akan terjangkau oleh daya beli rakyat. Pemasaran lancar, produksi lancar, roda ekonomi berjalan lancar.

2. Bantuan Pemerintah Terhadap Pelaku Ekonomi
Sistem kapitalisme tidak melarang negara membantu kegiatan ekonomi masyarakatnya, bahkan negara ikut bertanggung-jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Menurut Nabi Kongzi, negara tidak perlu takut kekurangan, tetapi yang dikhawatirkan kalau tidak ada keadilan (Lun yu, jilid 3). Xun Zi menegaskan, utamakan keadilan dari pada keuntungan.  Dari dua pernyataan itu artinya bahwa ekonomi itu perlu dikerjakan untuk membawa kesejahteraan dan rasa keadilan bagi rakyat.

Dalam masyarakat negara berkembang, keadaan sebagian besar anggotanya sangat miskin, sebagian anggotanya sangat kaya. Masyarakat yang penduduknya dipisahkan oleh jurang ekonomi seperti itu tidak sehat. Negara perlu memikirkan cara menolong orang yang miskin agar tidak terlalu menderita hidupnya.

Xun Zi menjawab masalah itu dengan filsafat Organisme. Apabila masyarakat itu dipandang sebagai satu organisme maka tidak ada rakyat yang kekurangan. Dalam masyarakat Organis, semua masalah menjadi masalah bersama, dalam bahasa Jawa disebut gotong-royong. Rakyat dan pemimpin di negara berkembang kurang mempelajari filsafat, mereka juga tidak mempelajari filsafat Organisme sebagai jalan untuk memecahkan masalah mereka. Masyarakat negara berkembang lebih suka mencari jalan pintas untuk menyelesaikan masalah, pada akhirnya mereka terlilit utang yang membuat mereka menderita berkepanjangan.

Menurut Xun Zi, modal utama membangun ekonomi negara adalah percaya kepada kemampuan diri sendiri. Dengan hidup rukun, hati dan niat disatukan, seluruh rakyat dan pemimpinnya bekerja sama pembangunan pasti berhasil. Meskipun dimulai dengan susah payah, kerja sama yang baik akhirnya menghasilkan kemakmuran seluruh negara. Kerjasama yang terprogram dengan baik dengan pimpinan yang bijaksana akan menghasilkan keuntungan yang adil pembagiannya  (Zhang, 1993; 206).

3. Pemerataan Pembangunan Mewujudkan Keadilan
Sidney Hooks (dalam Bachtiar,1976) berkata bahwa apabila orang seluruh dunia ini makan di satu meja yang sama pasti tidak ada yang kelaparan, akan tetapi,  meja makan itu terlalu besar sehingga yang duduk di ujung utara tidak dapat melihat yang berada di ujung selatan. Orang yang duduk di ujung selatan sebaliknya juga tidak dapat melihat keadaan orang yang duduk di ujung utara.  Mereka tidak dapat melihat orang yang di ujung lain mendapat bagian makanan atau tidak.

Xun Zi membagi manusia dalam kelompok profesi dalam jumlah kecil. Kelompok-kelompok ini mempunyai keahlian dan pekerjaan khusus. Hasil kerjanya dipadukan dengan hasil kerja kelompok-kelompok yang lain. Cara ini memberi kesempatan mereka dapat menghasilkan pekerjaan yang besar. Selembar kain sutra dimulai dari beternak ulat sutra. Dari kepompong ulat diolah menjadi benang sutra, kemudian ditenun menjadi kain sutra, selanjutnya dijahit menjadi baju sutra. Berapa orang yang sudah mengerjakan baju sutra tersebut. Mereka semuanya terkoordinasi dalam proses pembuatan kain sutra. Dalam kelompok kecil setiap manusia lebih mudah dibina dan diawasi.

Apabila setiap orang dalam kampung didata keahliannya dan dibina dalam satu usaha bersama, masing-masing orang mendapat pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya. Di kampung tersebut tidak akan ada lagi yang menganggur, dan semuanya hidup sejahtera. Apabila setiap kampung berhasil membina warganya, maka seluruh rakyat negara hidup sejahtera.

Dalam masyarakat seperti ini tetap ada persaingan, tetapi bukan pada persaingan harga melainkan persaingan kualitas. Hasil produksi yang berkualitas baik harganya tinggi. Hasil produksi yang kualitasnya rendah harganya juga murah. Setiap hasil produksi tentu ada wujudnya yang bisa dilihat dan dinilai. Kualitas produk yang baik menjadi kebanggaan bagi pembuatnya. 

Menurut Xun Zi, pembangunan ekonomi itu perlu dibagi dalam batas wilayah yang jelas, sesuai dengan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusianya. Misalnya, wilayah pegunungan di daerah utara mempunyai potensi alam yang berbeda dengan wilayah pegunungan di daerah selatan, demikian juga karakter penduduknya dan ketrampilan mereka berbeda. Wilayah yang tanahnya subur dan banyak hujan, berbeda potensi ekonominya dengan wilayah yang tandus dan kurang hujan (Zhang, 1993: 206).

Dengan memperhatikan perbedaan wilayah itu, sebaiknya dipikirkan cara pembangunan ekonomi yang cocok sistemnya maupun produknya. Perlu diperhatikan bahwa sistem ekonomi di daerah itu tetap sebagai subsistem dari sistem ekonomi seluruh negara atau sistem ekonomi nasional. Negara perlu mengendalikan sistem ekonomi nasi8. Ajaran Xun Zi  dan Pembagian Wewenang

Pemikiran Xun Zi tentang pembagian wewenang berbagai institusi belum jelas. Xun Zi tidak membagi tugas antara yang membuat undang-undang, yang melaksanakan, dan yang mengawasi atau mengadili bagi pelanggar undang-undang.

Han Fei Zi, salah seorang murid Xun Zi, menjabarkan pembagian tugas dan wewenang atas tiga institusi yaitu institusi pembuat undang-undang, institusi pelaksana pemerintahan, dan intitusi peradilan. Ketiga institusi ini berdiri sendiri-sendiri tidak saling berhubungan. Han Fei Zi mensyaratkan bahwa undang-undang itu dibuat oleh orang yang pandai, yang ahli membuat undang-undang. Raja dan pemerintah sebagai pelaksana yang menjalankan undang-undang tidak perlu orang bermoral tinggi, tetapi orang yang mempunyai keberanian mengambil keputusan tegas. Orang-orang di yudikatif juga tidak perlu orang bermoral tinggi karena undang-undangnya sudah jelas tinggal dilaksanakan dan yang melanggar dihukum tanpa pandang bulu. Ajaran Han Fei Zi ini disebut aliran Legalisme (Fung, 1952: 313).

Sumbangan pemikiran Han Fei Zi untuk melengkapi pemikiran gurunya sebagian bisa diterima, seperti adanya pembagian wewenang tiga institusi tersebut.. Sembilan belas abad kemudian, di Prancis seorang filsuf bernama Montesquieu (1689-1755) mengajarkan teori Trias Politika untuk menjamin adanya semangat demokrasi dalam kehidupan bernegara, pemikiran ini ada kemiripannya dengan pemikiran Han Fei Zi. H. G. Creel hanya menyebutkan ada pengaruh Konfusianisme terhadap pemikiran demokrasi di Barat menjelang revolusi Prancis (Creel, 1982).

Han Fei Zi juga menyebutkan perlu adanya orang yang memegang kedaulatan tertinggi karena dalam negara perlu ada orang yang dapat membuat keputusan penting dan bertanggung jawab. Kedaulatan tertinggi itu dipegang oleh raja. Oleh karena itu, diperlukan raja yang bijaksana dan berani mengambil keputusan. Apabila rajanya lemah negaranya juga menjadi lemah.namun Han Fei Zi mengatakan raja itu tidak perlu bermoral, sangat bertentangan dengan Xun Zi (Fung, 1952: 323).

Ada perbedaan asumsi antara Xun Zi dan Han Fei Zi tentang orang bermoral. Menurut Xun Zi, orang bermoral itu bukan orang yang lemah dan selalu ragu-ragu mengambil keputusan. Orang bermoral itu juga dapat bertindak tegas dan berani melawan segala bentuk kejahatan. Dalam pemikiran Han Fei Zi orang yang bermoral itu lemah dan ragu-ragu mengambil keputusan, maka dia tidak suka orang seperti itu. Dari riwayat kematiannya membuktikan bahwa Han Fei Zi itu orang yang terlalu polos, terlalu jujur, tidak dapat menganalisa pikiran orang yang akan mencelakai dia. Han Fei Zi dipenjara oleh Li Si, saudara perguruannya sendiri, di dalam penjara dia dirayu supaya burnuh diri. Han Fei Zi percaya omongan Li Si dan bunuh diri dengan membenturkan kepalanya di dinding batu. Li Si memang orang yang berwatak jahat dan licik, Xun Zi mengetahui hal itu. Xun Zi memilih Li Si membantu negeri Qin karena sifatnya yang serakah dan ambisius itu, tentunya Xun Zi tidak menduga bahwa Li Si bisa berbuat sekejam itu terhadap saudara seperguruannya karena takut kedudukannya direbut.

Masyarakat Tionghua sampai dengan zaman sekarang tetap mengikuti pemikiran Xun Zi dan menolak ajaran Han Fei Zi. Legalisme tidak berkembang di Tiongkok. Andai kata ada unsur-unsur Legalisme diambil dalam kebijakan pemerintah tidak akan disebut sebagai unsur Legalisme, hal itu untuk menghindari menyakiti perasaan rakyat. Pada zaman dinasti Han, ajaran Konfusianisme dipakai sebagai ideologi negara, tetapi pemerintah banyak memasukkan unsur-unsur dari ajaran Legalisme dari Han Fei Zi tanpa diketahui oleh umum karena situasi negara memerlukan terapi yang tepat (Fung, 1952: 344).

Han Fei Zi dan Xun Zi meninggal pada tahun yang sama (233 SM). Han Fei Zi juga setuju dengan Xun Zi bahwa undang-undang merupakan salah satu cara untuk mendidik rakyat berkreasi dan menyejahterakan hidup mereka (Fung, 1952: 287). Ajaran Han Fei Zi digunakan oleh Li Si dalam menjalankan pemerintahan dinasti Qin (221-206 SM),. Pada waktu itu, semua kitab Klasik yang disimpan oleh rakyat dirampas dan dibakar oleh Li Si.

Filsafat Proses Organis dari Xun Zi berpedoman pada jalannya fungsi sistem organisme yang lancar. Asalkan semua organ berfungsi dengan baik organisme itu hidup dan sehat, dan proses berjalan lancar. Han Fei Zi memberikan poros pada sistem organisme dengan menekankan perlunya ada orang yang memegang kedaulatan tertinggi dalam negara. Proses itu harus berjalan pada porosnya, seperti roda berputar pada porosnya yang tidak ikut berputar. Pemegang kedaulatan tertinggi adalah poros yang mendukung proses agar berjalan ke arah yang benar. Orang yang menjadi poros harus bijaksana dan kuat, serta berani mengambil tindakan tegas. Dari analisis ini, pantas diakui bahwa Han Fei Zi  melengkapi pemikiran Xun Zi. Kombinasi pemikiran Xun Zi dan Han Fei Zi sebagai sumbangan besar bagi bangsa Tionghua yaitu membangun negara hukum yang didasari moral dengan pimpinan yang kuat sebagai porosnya.

Ajaran Han Fei Zi pantas diakui telah mempertegas ajaran Xun Zi sehingga konsep negara hukum lebih efektif dalam penerapannya. Pembagian kekuasan kepada tiga institusi sekarang dikenal dengan sebutan Trias Politika sebagai ide Montesquieu. Namun, sembilan belas abad sebelumnya ide itu sudah diungkapkan oleh Han Fei Zi untuk melengkapi ajaran gurunya. Ini membuktikan bahwa sejarah Tiongkok kurang dikenal oleh dunia. Xun Zi dan Han Fei Zi, guru dan murid, telah meletakkan konsep pembentukan negara hukum di Tiongkok yang perlu disempurnakan.
onal supaya semua barang produksi dalam negeri bisa dijual merata, dan tidak disaingi oleh barang produksi luar negeri.

Membangun ekonomi suatu daerah perlu mengutamakan kepentingan penduduk daerah itu. Pemerintah wajib memberi kebebasan kepada penduduk setempat untuk mencari nafkah sesuai dengan kemampuannya. Pembangunan negara adalah demi kemakmuran rakyat, bukan untuk memakmurkan penguasa. Daerah yang potensi perikanannya baik, dan penduduknya adalah nelayan, daerah itu sebaiknya dijaga sumber daya alamnya agar produktivitas ikan tetap terjamin. Manusia secara alami dapat hidup karena alam memberikan sumber makanan. Akan tetapi, sering terjadi perebutan kepentingan antara rakyat dan penguasa. Pada akhirnya kepentingan rakyat dikalahkan dengan alasan untuk kepentingan yang lebih besar. Di kota banyak orang membuka warung kaki lima di pinggir jalan digusur oleh pemerintah daerah karena dianggap merusak pandangan kota.

Di Jepang, tumbuh banyak perusahaan raksaksa yang memberi pekerjaan kepada ratusan orang, tetapi pekerja itu tidak merasa dirinya sebagai buruh. Mereka merasa sebagai bagian yang tidak terpisah dari perusahaan itu (Mubyarto, 2000). Perusahaan organismik ini tidak ada pemutusan hubungan kerja, kecuali memang perusahaan tutup. Para pekerjanya rela mengorbankan milik pribadinya disumbangkan kepada perusahaan apabila perlu, supaya perusahaan tetap hidup. Pekerja tidak menuntut haknya, sebaliknya mereka takut apabila mereka tidak menjalankan kewajiban dengan baik. Para pekerja Jepang mengutamakan memperjuangkan hak hidupnya dengan cara berkorban agar perusahaannya tetap berdiri. Xun Zi berkata manusia bijak dapat menggunakan harta dengan benar. Orang Jepang memilih kehilangan hartanya dari pada kehilangan pekerjaannya (Dubs, 1973 :22).

Kapitalisme Organis saat ini baru dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan di Jepang, belum menjadi model kapitalisme yang mendunia. Negara-negara berkembang mungkin dapat mengatasi kemiskinan dengan menerapkan ajaran Xun Zi, yaitu dengan mengambil semangatnya dan melakukan modifikasi yang tepat. Xun Zi memang tidak mengusulkan sistem Kapitalisme Organis, namun pemikirannya itu dapat dikembangkan menjadi sistem ekonomi Kapitalisme Organis. Modal utama yang diperlukan adalah pemimpin yang cerdas, jujur, bermoral, dan mempunyai semangat mengentaskan kemiskinan rakyat, dapat memimpin perusahaan milik bersama. Modal kedua adalah persatuan semua anggota kelompok yang mendirikan usaha, ketiga yaitu semangat dan keuletan semua anggotanya untuk mewujudkan perusahaan yang maju. Semua orang tidak boleh setengah hati bekerja. Setiap orang tidak bekerja sendiri-sendiri, tetapi bekerja dibawah koordinasi yang rapi.  

Sumber dari Disertasi Xs. Dr. Oesman Arif M.Pd yang berjudul : Penyelenggaraan Negara menurut Filsafat Xun Zi.

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:217 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:883 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:114 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:240 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:134 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:402 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:297 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:232 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:174 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:718 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 48 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com