spocjournal.com

Masyarakat Madani Perspektif Agama Khonghucu

Oleh : Ws. Dr. Chandra Setiawan, Ph.D

I. PEMBUKA
Sebagai orang beragama kita percaya seluruh alam semesta adalah  ciptaan Tuhan Yang Maha Pencipta. Manusia yang diciptakan di berbagai bagian planet  memiliki persamaan dan perbedaan satu dengan lainnya. Namun hakikatnya sebagai makhluk Tuhan manusia adalah sama. Pengakuan bahwa Tuhan itu Esa mempunyai hubungan positif bahwa manusia di mana pun berada pada dasarnya satu yang diikat oleh nilai-nilai kemanusiaan. Bahwa kebesaran Tuhan mengkaruniai bermacam-macam agama sebagai cahaya kebenaran, bukan berarti Tuhan membenarkan diskriminasi atas manusia. Manusia di hadapan Tuhan tetap sama , yang dinilai adalah Kebajikannya dan ketaatannya kepada perintah-Nya, bukan atas dasar formalitas agamanya atau kelas sosialnya.

Tiap-tiap anggota masyarakat merupakan perorangan yang lahir ke dunia berdasarkan takdir masing-masing. Setiap insan terikat kepada unsur-unsur asli di lingkungan kelahirannya tanpa ada pilihan lain; namun dalam kehidupan selanjutnya, tiap-tiap orang juga bebas untuk memilih pranata-pranata peradaban lain yang bukan aseli. Ia bebas memilih perannya di dalam peradaban nasional,

Bangsa Indonesia lahir bukan karena ‘kesamaan keturunan’  melainkan oleh kesamaan nasib, yaitu sebagai manusia yang dijajah oleh penjajah yang sama, dalam kurun waktu yang hampir bersamaan pula. Itulah sebabnya ketika merdeka, para pendiri negara ini, secara sadar dan bijaksana telah mencanangkan semboyan  yang baik sekali, yaitu “bhinneka tunggal ika”, yang menggambarkan pluralitas di satu sisi, dan di sisi lain menekankan persaudaraan dan kesamaan tujuan sebagai bangsa. Hal ini berarti suka tidak suka, mau tidak mau harus diterima bahwa bangsa Indonesia yang mendiami kepulauan Nusantara ini ditakdirkan secara kodrati memiliki sifat kemajemukan atau kebhinnekaan dalam suku, budaya, agama dan kepercayaan.

Permasalahannya, mengapa kemajemukan kita yang sesungguhnya telah diketahui dan diterima dengan penuh syukur, yang semestinya merupakan kekuatan yang luar biasa, kini menjadi potensi disintegrasi bangsa ?

Sebabnya tidak lain pemerintah Orde Baru mempunyai motivasi untuk terus berkuasa, sehingga kemajemukan masyarakat ditempatkan dalam kotak-kotak SARA. SARA begitu “sakral” , sehingga persoalan SARA bukannya diselesaikan, melainkan ditekan sedemikian rupa, bahkan dilarang untuk dibicarakan. Upaya untuk merubah kemajemukan atau pluralitas  menjadi bangsa yang serba homogen mengakibatkan kerapuhan di sana sini. Kebijakan yang lalu itu dapat kita ibaratkan mencoba menyamakan suara yang keluar dari berbagai macam alat musik, yang hasilnya adalah paduan suara yang tidak harmonis. Kerapuhan di sana sini itu akhirnya membawa bangsa Indonesia ke dalam situasi krisis multidimensional dan yang paling parah sebagian bangsa kita mengalami krisis moral, krisis identitas dan mempunyai kecenderungan biadab sehingga tidak ada lagi nilai-nilai kemanusiaan yang melekat. Kini permasalahan di depan mata kita yang masih tetap ada setidak-tidaknya meliputi:

  • Kesenjangan sosial ekonomi.
  • Konflik ‘pribumi’ vs. pendatang
  • Premordialisme SARA
  • Arogansi penguasa
  • Saluran politik yang tersumbat
  • Provokasi sebagai alat politik
  • Main hakim sendiri
  • Kerenggangan/ketidakharmonisan keluarga
  • Rendahnya rasa saling percaya diantara kelompok masyarakat.

Dari inventarisasi  permasalahan di atas jelaslah masalah yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini sangat komplek dan  bukanlah masalah perbedaan agama semata . Oleh karena itu 
harus ditangani lintas disiplin dan holistik yang harus melibatkan segenap komponen bangsa. Tidak mungkin dapat ditangani dan diselesaikan  oleh hanya tokoh-tokoh agama saja.  Pertanyaannya apa peran yang dapat dilaksanakan pemuka agama?

II.  GOLDEN RULE (Kaidah Kencana)

 Pemuka agama dapat menyebarluaskan dan menjadi teladan  bahwa semua agama menghendaki perdamaian dan sesungguhnya dapat bekerja sama untuk kebaikan bersama. Berikut ini ungkapan dari berbagai agama (oleh penulis diurutkan penyajiannya berdasarkan abjad) yang dikemukakan oleh Robert Muller, Rektor Universitas Perdaimaian PBB” yang mungkin dapat mewakili berbagai imbauan dari esensi “etik global”  yang diharapkan dapat dijadikan dasar untuk saling hidup berdampingan , bekerja sama secara sinergis di antara umat beragama.

Buddha :,”Keadaan yang tidak menyenangkan bagiku akan juga demikian bagi dia; dan bagaimana saya bisa membebani orang lain dengan keadaaan yang tidak menyenangkan saya?” ( Samyutta Nikaya V, 353.35-342.2)

Confusius ( 551- 479 sebelum Masehi),” Apa yang diri sendiri tidak inginkan, janganlah dilakukan kepada orang lain” ( Lun Yu: XV.24)

Hindu,”Siapa pun tidak boleh memperlakukan orang lain dengan cara yang tidak menyenangkan mereka sendiri; demikianlah esensi moralitas
( Mahabharata XIII 114,8).

Islam,” Tak seorang pun di antara kamu yang beriman sepanjang tidak mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” ( Empat puluh Hadits Nawawi,13).

Jainisme,”Manusia seharusnya acuh terhadap benda-benda duniawi dan memperlakukan semua ciptaan di dunia sebagaimana mereka sendiri ingin diperlakukan” ( Sutrakritanga,I.11.33).

Rabbi Hilel ( 60 SM- 10 M),” Jangan lakukan pada orang lain apa yang kamu tidak ingin mereka lakukan padamu” ( Shabbat 31a).

Yesus dari Nazareth,”Apa yang kamu ingin dari orang lain untuk lakukan padamu, lakukan juga pada mereka” ( Matius 7.2).

       Memenuhi harapan panitia berikut ini dikemukakan pandangan ajaran Khonghucu di dalam mewujudkan masyarakat madani ( civil society).

III. PANDANGAN AJARAN KHONGHUCU

Agama dalam iman Khonghucu adalah suatu bimbingan untuk hidup dalam Jalan
 Suci, hidup sesuai dengan Watak Sejati yang merupakan karunia Tuhan bagi setiap manusia ( Zhong Yong : Utama 1). “Orang yang oleh Iman menjadi sadar itulah hasil perbuatan Watak Sejati, dan  orang yang karena sadar beroleh Iman, itulah hasil (mengikuti) Agama”. ( Zhong Yong :XX:1)   Hal ini berarti setiap insan mempunyai kewajiban untuk mengharmoniskan daya hidup Rohani dan Jasmaniah yang bersifat Illahiah dan duniawi secara utuh agar mampu menikmati hidup dan mempertanggung jawabkan hidupnya kepada Tuhan. Pengejawantahannya adalah dalam perilaku bakti baik kepada Tuhan maupun kepada sesama manusia. Semua harus dilandasi iman. “Iman itu adalah pangkal dan ujung semesta, tanpa iman suatu pun tiada, maka seorang Jun Zi
( Luhur Budi) memuliakan Iman”. ( Zhong Yong XXIV:2).
Hal ini berarti setiap orang sesungguhnya harus melakukan dialog vertikal
( ‘dialog spiritual’ ) dengan Sang Pencipta dan dialog horizontal baik dengan dirinya maupun sesama manusia. Untuk itu tiada pilihan lain kecuali hidup di dalam Kebajikan. Hanya Kebajikan berkenan kepada Tuhan; tiada jarak jauh yang tidak dapat dijangkau
( tiada kesulitan yang tidak dapat diatasi) . Kesombongan hanya mengundang rugi/nahas, dan kerendahan hati akan menerima berkat, demikianlah senantiasa Jalan Suci Tuhan.

3.1 Kebajikan adalah pusat dari Ajaran Khonghucu.

Lebih dari 109 kali Khongcu berbicara tentang Kebajikan yang dapat diuraikan sebagai hubungan antara dua orang pribadi dan sebagai norma moral dari hubungan manusia. Sesuai dengan pengertian Khongcu Kebajikan adalah mencintai/mengasihi dan berbaik hati kepada orang lain. Bagaimana hal ini dapat dilakukan? Pertama, dari aspek pembinaan diri, Khongcu bersabda, “mengendalikan diri sendiri dan kembali kepada kesusilaan adalah kebajikan sempurna”. ( Lun Yu XII:1.1) Pengendalian diri ialah kemampuan membatasi diri sendiri dan kebajikan yang sempurna adalah norma-norma moral masyarakat. Hal ini artinya seseorang yang mampu mengendalikan dirinya sendiri dengan membatasi kata-kata dan perbuatannya  disesuaikan kepada norma moral masyarakat, dia dapat  sebagai manusia yang berkebajikan.

Ditinjau dalam kaitan hubungan antar pribadi. Khongcu bersabda” manusia yang berkebajikan tinggi, mengharapkan untuk membangun dirinya sendiri, upayakan pula membangun orang lain; menginginkan membesarkan dirinya sendiri, dia berusaha membesarkan orang lain”. Khongcu juga bersabda,”Janganlah berbuat kepada orang lain, seperti juga engkau tidak mengharapkan orang lain berbuat padamu dan inilah Kebajikan”. Artinya, “bila kau ingin tegak, maka bantulah orang lain juga tegak; bila kau sendiri ingin sukses, maka bantulah orang lain untuk sukses, dengan demikian engkau telah berbuat Kebajikan”. ( Lun Yu VI:30.3). “Di empat penjuru lautan semua adalah saudara! (Lun Yu XII:5)Dan bagi seorang guru harus “belajar tanpa jemu dan mengajar kepada orang lain tidak kelelahan”.( Meng Zi IIA:2.19)

Sebagai Kepala Daerah yang mengatur daerahnya, mereka seharusnya mengurus tugasnya dengan tegas, memenuhi komitmennya dengan tepat, pengeluaran yang cermat dan menunjukkan perhatian yang penuh cinta kasih kepada bawahan. Menilai dengan pengertian ini, maka kebajikan adalah kerangka norma/aturan moral yang oleh Khongcu diusulkan dan menjadi dasar moralitas universal.
    
3.2.  Nilai-Nilai Kebenaran
      Khongcu bersabda,”Pikiran manusia yang berbudi luhur/Jun Zi adalah tertuju kepada Kebenaran, pikiran manusia rendah budi/xiao ren tertuju pada keuntungan”. Khongcu mengakui bahwa setiap orang menginginkan untuk mencari kekayaan, namun kekayaan tersebut haruslah diperoleh dengan jalan yang layak (proper ways) dan dengan tujuan(means) yang tepat, inilah Kebenaran.

Beliau juga berkata,”Kekayaan dan kemuliaan adalah keinginan semua orang, bila hal tersebut tidak diperoleh dengan Jalan Suci, maka jangan laksanakan” ( Lun Yu IV:5.1). Hal ini menunjukkan kepada kita, bahwa Ajaran Khonghucu tidak berpikir bahwa kebenaran berlawanan dengan keuntungan pribadi, apa yang beliau tidak setuju ialah bila kekayaan dan kemuliaan diperoleh secara tidak layak dan tidak benar atau dapat dikatakan hanya untuk kepentingan diri-sendiri ( selfishness) atau mental mencari untung melulu. Beliau meminta manusia agar berpikir mengenai kebenaran dalam mencari keuntungan dan demikian pula bila melihat akan memperoleh keuntungan/ “gain”, maka dapat dikatakan, bila kebenaran dan keuntungan pribadi saling bertentangan, maka yang dimenangkan adalah pilihan pertama yaitu kebenaran.

Menghadapi kecenderungan seperti ‘pemujaan’ uang, hedonisme/ pemujaan pada kesenangan melulu, sikap masa bodoh, penipuan, penggelapan, pilih kasih dan lain-lain, merupakan produk sampingan sebagai persaingan kejam dari barang dagangan. Ajaran Khonghucu memberikan kita obat yang dalam hal tertentu dapat mengubah nilai manusia yang mentalnya mengutamakan keuntungan dan selanjutnya membantu membentuk pandangan yang beradab dan sehat bagi nilai-nilai kehidupannya.
   

3. 3.  Kesadaran Moral yang Berkualitas
Khongcu menaruh banyak perhatian kepada kebebasan dan martabat pribadi, terutama dalam kaitannya sebagai manusia. Khongcu bersabda,” manusia adalah makhluk yang sangat mulia di muka bumi”, sepadan dengan nilainya sebagai seorang manusia. Beliau juga bersabda,” Seorang panglima dengan sepasukan tentara masih dapat ditawan/dikalahkan, tetapi cita/keyakinan dari rakyat biasa tidak dapat dirampas”. ( Lun Yu IX:26).  Bahkan mengakui cita/keyakinan manusia biasa tidak dapat direnggut, kemuliaan pribadi tidak dapat dinodai (stain) dapat dikatakan, bahwa setiap orang mempunyai martabat pribadinya. Hal ini bagian yang paling penting dari Ajaran Khongcu. Meng Zi berkata,”Semua orang dikaruniai  Watak Sejati yang mengandung benih-benih :Cinta Kasih, Kebenaran, Kesusilaan dan Kebijaksanaan”. ( Meng Zi VIIA:21.3.4). Dapat dikatakan, setiap orang mempunyai kesadaran akan nilai-nilai dan kualitas moral dan kesadaran atau nilai-nilai adalah sangat berarti yang berbeda antara umat manusia dengan hewan dan dapat dikatakan bahwa nilai-nilai kesadaran adalah kesadaran moral dari makhluk manusia atau nilai yang sebelah-dalam dijadikannya manusia, orang harus berbuat kebaikan ketimbang kejahatan dan ini adalah satu-satunya jalan yang mencerminkan nilai seorang pribadi. Bila seorang berbuat kejahatan, dia akan kehilangan kehormatan pribadinya. Maka dari itu Meng Zi menunjukkan,”Karena itulah saya lebih menyukai hidup dan karena itulah saya lebih tidak menyukai mati”. ( Meng Zi VIA:10.2) Apa yang dimaksud oleh Bingcu ialah lebih penting seseorang memelihara nilai dan martabat ketimbang kehidupannya. Ajaran ini sangat berarti dalam membantu para remaja dengan cita-cita yang muluk dan meluruskan pikiran manusia. Karena sejak pembangunan ekonomi perdagangan dengan hasil sampingannya yang tidak sehat besar pengaruhnya kepada para remaja dan pemuda.
    


3. 4.  Ajaran Tengah/Zhong Yong
      Kehidupan yang harmonis, bukanlah kehidupan yang bebas sama sekali dari kesedihan dan kedukaan, karena pada dasarnya kesedihan, kegembiraan, kedukaan, perbedaan dan persamaan adalah bagian yang tak terpisahkan dari romantika kehidupan. Namun yang dimaksud dengan kehidupan yang harmonis adalah sebuah kehidupan yang masih dalam batas ‘Tengah’ atau kewajaran. Khongcu berpendapat, bahwa umat manusia harus menjaga hubungan secara harmonis dengan alam dan secara rasional mempertahankannya, demikian pula dalam menggali sumber-sumber alam. Dalam aspek metode manajemen, beliau menganjurkan agar mengkombinasikan antara kebajikan dan hukuman, yaitu  memperlakukan dengan moral yang dikaitkan dengan kekuatan hukum. Dalam bidang ekonomi, beliau menganjurkan agar kedua-duanya, hasil pembangunan dengan kerja keras, dan penghematan. Khongcu berpendapat bahwa hubungan antara peningkatan produksi dan ekonomi seharusnya dilakukan secara rasional.

Dalam metode belajar, beliau sangat menghargai kombinasi antara berpikir dan belajar. “Belajar tanpa berpikir adalah sia-sia ( labour lost), berpikir tanpa belajar adalah berbahaya”(Lun Yu II:15).  Dalam hubungan antara kebenaran dengan keuntungan pribadi, beliau menganjurkan agar manusia harus memikirkan kebenaran dalam menghadapi keuntungan pribadi, dan berpikir tentang kebenaran bila seseorang ingin memperoleh keuntungan. Berkaitan dengan urusan umum, beliau lebih mengutamakan dan menganjurkan bersikap baik dan rendah hati. Dalam masalah perbedaan budaya antara berbagai negeri dan bangsa, beliau memelihara kepentingan umum dan mengabaikan perbedaan.

Keluarga merupakan tiang utama tegaknya sebuah negara. Tanpa dukungan keluarga yang ber-Kebajikan, mustahil dapat membangun negara yang penuh kedamaian, sentosa, dan sejahtera. Lebih jauh lagi dikatakan mustahil dapat membangun sebuah keluarga yang baik, bila manusianya jauh dari sikap seorang Jun Zi ( Luhur Budi). Oleh karena itu seluruh manusia, dari “pimpinan tertinggi sampai rakyat jelata mempunyai kewajiban yang sama yaitu mengutamakan  pembinaan diri dan instrospeksi sebagai pokok” ( Da Xue Utama:6).

 

IV.  ETIK GLOBAL 

Berdasarkan apa yang dikemukakan di atas dari sisi ajaran Khonghucu sangat terbuka kemungkinan untuk bekerja sama membangun etik secara bersama mengingat kita satu sama lain saling bergantung.

Sekitar tujuh tahun lalu, tepatnya pada tahun 1993 Parlemen Agama-agama Dunia kedua telah mendeklarasikan sebuah Deklarasi Menuju Etik Global.  Etik global adalah etik agama-agama; di mana agama-agama bersatu untuk menunjukkan komitmennya untuk mengabdi kepada kemanusiaan dan dunia yang satu. Wawasan agama-agama diperluas menjadi wawasan global, di sana setiap agama bertemu dengan agama-agama yang lain dalam sebuah ikatan tanggung jawab terhadap kelangsungan kehidupan manusia dan kelestarian bumi dengan segenap isinya. Etik global merupakan komitmen bersama agama-agama untuk mengubah dan menyempurnakan masyarakat, termasuk di dalamnya komunitas agama-agama itu sendiri. Etik global merupakan batasan minimal etik yang dimiliki bersama oleh semua agama dunia. Ia tidak diarahkan untuk melawan siapa pun, namun mengundang mereka, baik yang beriman atau pun tidak, untuk menjadikan etik sebagai milik bersama dan berbuat sesuai dengannya.
       Deklarasi Awal Menuju Etik Global dapat dijadikan inspirasi orang-orang untuk hidup saling menghormati, saling memahami dan bekerja sama. “Tidak mungkin ada perdamaian antar bangsa-bangsa tanpa perdamaian antar agama-agama”. “Semua manusia harus diperlakukan secara manusiawi”. Berikut ini butir-butir penting dari yang dideklarasikan:

  • Kami saling bergantung. Masing-masing dari kami bergantung kepada kebaikan semuanya, karenanya kami menghormati komunitas makhluk hidup, umat manusia, binatang, tumbuhan,dan bagi pemeliharaan bumi, udara, air dan tanah.
  • Kami bertanggung jawab secara individual untuk semua yang kami lakukan. Semua keputusan, tindakan, dan kegagalan kami dalam bertindak mempunyai konsekuensi.
  • Kami harus memperlakukan orang lain sebagaimana kami ingin orang lain memperlakukan kami. Kami membuat komitmen untuk menghormati kehidupan dan martabat, individualitas dan keragaman, sehingga setiap orang diperlakukan secara manusiawi, tanpa kecuali. Kami harus mampu memaafkan, belajar dari masa lalu namun tidak membiarkan diri diperbudak oleh ingatan-ingatan kebencian. Dengan membuka hati untuk orang lain, kami harus melupakan perbedaan yang sempit demi komunitas dunia, yang mempraktikkan budaya solidaritas dan saling berhubungan.
  • Kami menganggap semua manusia sebagai keluarga. Kami harus berusaha berbuat baik dan murah hati. Kami harus hidup bukan untuk diri kami sendiri, namun juga harus baik dengan orang lain, tidak pernah melupakan anak-anak, orang tua, orang miskin, orang menderita, orang tidak mampu, para pengungsi, dan mereka yang kesepian. Tak seorang pun dapat dianggap dan diperlakukan sebagai warga negara kelas dua, atau diekploitasi dengan cara apa pun. Harus ada kerja sama yang sejajar antara laki-laki dan perempuan. Kami tidak boleh melakukan imoralitas seksual. Kami harus menyingkirkan semua bentuk dominasi atau penyalahgunaan.
  • Kami mengikatkan diri kepada budaya tanpa kekerasan, penghormatan, keadilan dan perdamaian.Kami tidak akan menindas, melukai, menganiaya, atau membunuh orang lain, meninggalkan kekerasan sebagai cara untuk mengatasi perbedaan.
  • Kami berjuang untuk sebuah tatanan sosial dan ekonomi yang adil, di mana setiap orang mempunyai kesempatan untuk meraih potensi yang penuh sebagai manusia. Ucapan maupun perbuatan kami harus dapat dipercaya dan penuh kasih sayang, berbuat baik untuk semua orang, dan menolak prasangka dan kebencian. Kami tidak boleh mencuri. Kami harus menentang dominasi yang rakus dari penguasa, martabat, uang, dan konsumsi untuk mewujudkan dunia yang adil dan damai. Bumi tidak bisa berubah menjadi lebih baik jika kesadaran individual kita tidak berubah terlebih dahulu. Kami berjanji untuk senantiasa meningkatkan kesadaran melalui disiplin pikiran, meditasi, doa atau pun pemikiran yang positip. Tanpa risiko dan kesiapan untuk berkorban tidak akan mungkin ada perubahan fundamental dalam situasi kita. Oleh karena itu, kami mengikatkan diri kepada etik global, untuk saling memahami, bermanfaat secara sosial, mengembangkan perdamaian, dan cara hidup yang ramah kepada alam.
  • Kami mengajak semua orang, beragama atau tidak, untuk melakukan hal yang sama.

        Kita tahu bahwa Etik adalah langkah teologis yang tidak mengarah kepada sebuah perumusan doktrinal belaka, tetapi sebuah gagasan teologis yang hendak diimplementasikan di dalam kehidupan nyata di masyarakat yang multi agama. Etik merupakan pelaksanaan dari keyakinan-keyakinan teologis yang hendak dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
        Oleh karena itu apa tidak mungkin dicoba untuk merumuskan etik Indonesia atau etik Padang – Sumatera Barat untuk persatuan dan kerukunan yang diolah dan dibuat bersama, lalu dimasyarakatkan bersama. Kesepakatan untuk saling menghargai, saling menyayangi sebagai saudara sebangsa. Barangkali cakupannya dapat meliputi etik pergaulan antar umat misalnya berkaitan dengan aqidah agar diantara pemeluk agama tidak saling mencemoohkan, merendahkan, menghina apalagi menghujat aqidah agama lain baik secara lisan maupun tulisan; berkaitan dengan penyebaran agama; bakti sosial, doa dalam upacara formal di dalam pemerintahan

V. PENUTUP

      Dewasa ini konflik antara wilayah dan negara-negara dapat terjadi di setiap tempat dan sembarang waktu, dan pertentangan antara materi dengan peradaban spiritual makin bertambah gawat. Negara kita saat ini menderita dengan bertambahnya kemerosotan moral, sementara industrialisasi maju makin bertambah besar.
      Menurut Khongcu, pemerintah adalah pembagi kekayaan, melalui pengawasan produksi dan konsumsi. Kepincangan pembagian kemakmuran lebih menyedihkan daripada kemiskinan. Karena terkonsentrasinya kekayaan pada segelintir orang akan menyebabkan kekosongan atau kemiskinan yang meluas, maka itu pemerataan distribusi kemakmuran sangat penting, demi keadilan dan dengan itu keharmonisan serta persaudaraan masyarakat tercipta.
      “Pemimpin negara yang hanya mengutamakan harta saja, menunjukkan dia seorang rendah budi. Jika perbuatan rendah budi itu dianggap baik, maka akan datanglah malapetaka bagi negara itu. Bila hal ini sudah terjadi meski datang seorang Baik, iapun tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Maka dikatakan ‘suatu negara janganlah menganggap keuntungan sebagai keberuntungan, tetapi pandanglah Kebenaran sebagai Keberuntungan” ( Da Xue: X:23).
      Idealnya Masyarakat Madani yang diidam-idamkan menurut Ajaran Khonghucu tersurat dalam Kitab Lee Ki (Kesusilaan) VII:I:2:
“ Bila terselenggara Jalan Suci Yang Agung itu , dunia bawah langit ini di dalam kebersamaan; dipilih orang yang bijak dan mampu, kata-katanya dapat dipercaya, apa yang dibangun/dikerjakan harmonis. Orang tidak hanya kepada orang tua sendiri hormat-mengasihi sebagai orang tuanya; tidak hanya kepada anak sendiri menyayangi sebagai anaknya. Menyiapkan bagi orang yang tua supaya tenteram melewatkan hari tua sampai akhir hayatnya; bagi yang muda- sehat mendapatkan kesempatan untuk berkarya dan bagi remaja mendapatkan pengasuhnya. Kepada para janda, balu, yatim-piatu, yang sebatang kara dan yang sedang sakit, semuanya mendapatkan perawatan. Yang pria mendapatkan pekerjaan yang tepat, yang wanita memiliki rumah tempatnya pulang.
Barang-barang berharga tidak dibiarkan tercampak ditanah, tetapi juga tidak untuk disimpan bagi diri sendiri. Orang tidak suka tidak menggunakan tenaga/kemampuannya, tetapi tidak hanya untuk diri sendiri. Maka segala upaya yang mementingkan diri sendiri ditekan dan tidak dibiarkan berkembang; perampok, pencuri, pengacau dan pengkhianat menghentikan perbuatannya, Maka pintu luar pun tidak perlu ditutup. Demikianlah yang dinamakan Kebersamaan Agung”.
                       
                                             ------------//----------------

*) penulis adalah Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN), sumbang saran ini disampaikan pada kegiatan seminar Nasional “Pluralisme Agama dalam Membangun Masyarakat Madani” oleh Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang bekerjama dengan Yayayasan Panca Dian Kasih Jakarta  pada hari Selasa , 20 Juni 2000 di Padang

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:245 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:894 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:115 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:240 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:135 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:404 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:298 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:234 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:176 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:719 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 17 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com