spocjournal.com

Bencana Alam Dan Konservasi Lingkungan Dalam Perspektif Agama Khonghucu Dl Indonesia



oleh : Ws. Budi S. Tanuwibowo*)

A.    PENDAHULUAN
Banjir, kekeringan, luapan sungai, tanah longsor, hujan di luar musim, lumpur panas, angin puting beliung, gunung meletus, badai, gempa bumi dan tsunami adalah sederetan panjang bencana (alam) yang secara berturutan menimpa tanah air kita. Nyaris bencana demi bencana tak henti-hentinya menyapa kita. Belum tuntas penderitaan yang satu, datang menyusul peristiwa tragis yang lain. Belum kering air mata penderitaan rakyat di daerah tertentu, menyusul isak tangis berkepanjangan dari daerah lain. Duka derita itu semakin bertambah lengkap dengan datangnya berbagai penyakit dan tragedi yang lain. Demam berdarah, busung lapar, flu burung, berbagai kecelakaan di darat, laut dan udara, adalah sederet lengkap episode duka di tanah Indonesia. Sementara di balik permukaan gunung es, dengan jumlah korban yang tidak dapat diketahui pasti besarnya, mengancam bahaya HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkoba yang tak kalah mengerikan dan tak pernah terbayangkan.

* Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN)
Akibat bencana demi bencana itu, muncullah keluh kesah dan caci maki yang tiada habisnya. Perang wacana dan opini marak di media massa. Para tokoh dan umat beragama sibuk menggelar doa dan sembahyang bagi keselamatan bangsa dan tanah air. Namun rupanya deretan bencana itu tak jua mau berhenti begitu saja. Orang-orang lantas bertanya-tanya ‘Mengapa Tuhan tak mau mengabulkan permohonan dan doa bangsa lndonesia?’. Orang-orang lantas menduga, jangan-jangan Tuhan sudah sedemikian jengkelnya, bosan dan pada akhirnya menjatuhkan hukuman kepada bangsa kita yang sarat dosa dan dusta, dengan bencana demi bencana yang datang saling susul-menyusul tiada habisnya.

Tapi benarkah semua bencana itu merupakan hukuman dari Tuhan Khalik Semesta Alam? Benarkah penyebabnya hanya faktor alami semata? Kita semua tidak bisa menjawabnya secara pasti. Sampai dengan hari ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memang belum mampu secara tepat memperkirakan kapan akan terjadi gempa bumi atau tsunami. Namun kalau kita mau jujur dan tulus menilik ke dalam diri, bencana-bencana alam yang lain, seperti : banjir, kekeringan, luapan sungai, tanah longsor, hujan yang datang diluar musim, lumpur panas, angin puting beliung - atau mungkin juga termasuk gunung meletus dan badai - langsung atau tidak langsung adalah akibat dari perilaku manusia yang ceroboh, serakah, tidak bertanggung jawab dan hanya berpikir jangka pendek belaka. Alam yang begitu banyak menopang kehidupan manusia, telah dieksploatasi habis-habisan seakan tidak akan disisakan sedikit pun untuk esok hari. Padahal generasi yang akan datang, sebagai pemilik sah masa depan kehidupan, juga masih membutuhkan limpahan kasih sayang dari alam semesta. Sungguh manusia yang mengaku sebagai makhluk yang paling berakal budi, telah menjadi begitu bodohnya melakukan perbuatan demi perbuatan yang justru dapat membahayakan kelestarian alam, kelanggengan dan kelangsungan hidup anak cucu dan keturunannya sendiri di kelak kemudian hari.

B. BENCANA ALAM, KESALAHAN MANUSIA ATAU HUKUMAN DARI  TUHAN DAN ALAM SEMESTA?

Di atas sudah dipaparkan bahwa sampai sekarang ilmu pengetahuan belum bisa mendeteksi secara pasti kapan akan terjadi gempa bumi dan tsunami. Namun sedikit banyak faktor-faktor yang menjadi penyebabnya telah dipelajari secara luas. Berangkat dari sini sebenarnya manusia bisa mencegah atau setidaknya memperkecil skala bencana dan dampak negatifnya. Namun yang terjadi adalah tidak munculnya sebuah kesadaran untuk segera berbenah diri.

Kita bisa melihat secara jujur tingkah-polah kita sendiri selama ini. Pepohonan ditebang semaunya tanpa upaya penanaman kembali yang memadai. Hutan-hutan digunduli habis-habisan. Bukit-bukit penyangga dihancurkan. Bangunan didirikan di tanah-tanah konservasi yang seharusnya menjadi daerah resapan. Pembangunan rumah dan prasarana tidak mentaati kaidah hidrologi dan anthropologi. Pertumbuhan kota tidak dimbangi dengan pembangunan drainase yang memadai. Penggunaan bahan bakar, pestisida dan air condition tidak dilakukan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan. Pembuangan sampah dan limbah beracun, dilakukan di sembarang tempat. Perilaku ceroboh manusia karena berbagai sebab terjadi dimana-mana, serta sederet panjang perilaku tidak bertanggung jawab lain adalah penyebab utama berbagai bencana alam yang selama ini terjadi. Bahkan bukan tidak mungkin bila gempa bumi dan tsunami juga disebabkan akumulasi kebodohan manusia dalam jangka waktu tertentu, yang pada akhirnya akan menimbulkan kerusakan dan ketidakseimbangan lingkungan.

Sampai di sini orang kemudian bertanya-tanya, “Lantas dimanakah peranan ajaran agama?” Semua agama pada dasarnya menekankan pentingnya hubungan harmonis antara Umat dengan sesama Manusia, Tuhan dan Alam Semesta. Namun pada kenyataannya ketiga hubungan itu tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya, seperti yang diajarkan agama. Jangankan dengan sesama manusia yang tidak dikenal secara pribadi; dengan istri, suami, saudara dan bahkan dengan orang tua dan anak sendiri pun manusia masih bisa bertindak kejam tak terbayangkan. Jangankan terhadap tumbuhan, binatang dan alam semesta yang terlihat pasif dan diam ketika dieksploatasi, Tuhan pun kalau perlu dijual untuk memenuhi syahwat ekonomi, politik dan kekuasaan. Sungguh kehidupan dan cara beragama kita ini perlu dikaji dan ditata ulang secara jujur dan radikal, sehingga pertumbuhan tempat ibadah, nantinya benar-benar berbanding lurus dengan perbaikan moral, etika dan spiritual masyarakat; dan bukan sebaliknya seperti yang sekarang terjadi. Tempat ibadah tumbuh bak cendawan di musim penghujan. Dari Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi mendapatkan pelajaran agama dan ceramah keagamaan. Sinetron bernafaskan agama marak di media massa. Namun pada kenyataannya korupsi semakin marak dan membudaya. HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkoba makin meluas mengancam eksistensi masa depan bangsa. Tatanan dan nilai-nilai moral telah bergeser jauh. Rasa malu hilang dari kamus dan hati sanubari bangsa kita

Seluruh agama, pada hakikatnya melihat manusia, alam semesta dan Tuhan sebagai satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan dalam kaitan terbangunnya kehidupan makro yang lestari dan harmonis. Dalam bahasa Khonghucu disebut Tian, Di, Ren. Berbekal pesan dan firman Tuhan yang disampaikan lewat para nabi, manusia diajarkan dan juga disadarkan untuk hidup sesuai dengan Jalan Suci atau Jalan Kebenaran Tuhan. Dalam pandangan agama Khonghucu misalnya, disebutkan bahwa Watak Sejati, Xing atau Fitrah Manusia sesungguhnya merupakan firman Tian atau Tuhan itu sendiri. Dengan demikian menjadi jelas bahwa Watak Sejati manusia pada dasarnya baik dan bersih. Namun karena kebiasaan dan sekaligus kelemahannya, maka Watak Sejati itu kemudian terkontaminasi dari skala kecil sampai tahapan yang ekstrim. Untuk itulah manusia perlu dibimbing kembali ke dalam Jalan Suci atau Jalan Kebenaran agar kembali menuju Watak Sejatinya. Bimbingan inilah yang kemudian dinamai ajaran agama(1). Dalam praktiknya, di samping mendapat pesan Tuhan melalui firmanNya, manusia juga mendapat teladan hidup lewat contoh dan perilaku para nabi itu sendiri. Sayangnya sejarah membuktikan perilaku manusia semakin hari semakin menyimpang, termasuk dalam kaitan hubungannya dengan bumi dan alam semesta. Bumi dan alam semesta, beserta segala isinya, kenyataannya hanya menjadi objek pelampiasan seluruh keserakahan, ketamakan dan sekaligus kebodohan manusia dari masa ke masa.

Dari paparan di atas menjadi jelas bahwa kalau ditelusuri secara jernih, maka berbagai bencana alam yang terjadi sesungguhnya buah dari perbuatan manusia sendiri. Meski terkesan datang sebagai fenomena alam biasa, namun sesungguhnya alam hanya merespon ketidakseimbangan yang terjadi akibat ulah manusia sendiri secara akumulatif, untuk kemudian alam secara alami mencari keseimbangan baru. Dengan demikian menjadi jelas pula tindakan menyalahkan alam dan berkeluh-kesah kepada Tian, adalah tindakan sia-sia. bila tidak diikuti kesadaran diri yang kuat, untuk berusaha keras melakukan pembenahan demi pembenahan setiap hari(02).

C. TELADAN PARA NABI
Sejak jaman dahulu para orang bijak sudah menyadari akan pentingnya keseimbangan alam dan kelestarian kehidupan. Entah mendapat firman, pencerahan atau karena kesadaran diri sendiri, para orang bijak itu, termasuk para nabi, telah menekankan pentingnya harmoni kehidupan. Mereka amat menyadari bahwa bencana alam bukanlah semata hukuman Tuhan. Di dalamnya ada hukum sebab akibat yang sangat logis. Ini disadari betul oleh para bijak dan nabi sejak jaman dulu. Kisah nyata di jaman Raja Suci dan Nabi Purba Yao ( 2357 sM- 2255 sM), Shun (2255 sM- 2205 sM) dan Yu (2205 sM- 2197 sM), serta teladan yang diberikan oleh Nabi Shang Tang  (1766 sM- 1753 sM ) dan Tian Zhi Mu Duo atau Nabi Agung Kong Zi sendiri (551 sM- 479 sM), adalah sebuah bukti bahwa kesadaran untuk menjaga keseimbangan, keharmonisan dan kelestarian alam sudah muncul sejak ribuan tahun lalu. Bahkan dalam gaya bahasa sinisme yang sangat menyindir kesombongan manusia dikatakan bahwa burung pun sudah bersiap-siap menambal sarangnya yang bocor kala dirasakan hujan akan tiba(3). Manusia sebagai makhluk yang dikaruniai akal budi berlebih seyogyanya mau berencana jangka panjang, karena kunci kesuksesan setiap hal amatlah ditentukan oleh rencana jangka panjang yang baik. Dikatakan lebih lanjut bahwa orang yang tidak mau memikirkan hal-hal yang masih jauh, sesungguhnya kegagalan sudah menantinya di ambang pintu(04).

Ketika Yao berkuasa di sebuah wilayah yang kini menjadi bagian dari Republik Rakyat Tiongkok, wilayahnya sering dilanda banjir. Setiap kali terjadi banjir, rakyatlah yang amat menderita. Apalagi pada waktu itu mayoritas rakyat tinggal di tepian sungai, karena mata pencaharian utama saat itu adalah pertanian, yang tentunya amat tergantung dari air sungai. Menyadari hal itu Yao khusus menugaskan Yu, salah seorang menterinya, untuk mengatasi banjir dengan cara menyelaraskan aliran sungai-sungai yang ada. Ketika Yao wafat dan digantikan Shun, Yu tetap dipercaya untuk menyelesaikan tugasnya. Akibat komitmen yang tinggi dari Yao dan Shun serta dedikasi dan tanggung jawab luar biasa dari Yu, akhirnya banjir yang seringkali terjadi itu berhasil diatasi secara tuntas. Ketika Shun wafat, Yu lah yang kemudian ditunjuk menggantikannya pada tahun 2205 sM. Karena kebesarannya, Yu terkenal sebagai The Great Yu atau Yu Agung, salah satu nabi dalam Ru Jiao atau agama Khonghucu dan sekaligus pendiri Dinasti Xia 2205 sM- 1766 sM, dinasti pertama dalam sejarah Tiongkok kuno.

Kisah pengabdian Yu ini begitu luar biasa. Selama pekerjaan besar itu dilakukannya bertahun-tahun, ia tidak pernah sekalipun pulang ke rumahnya; meski beberapa kali dalam perjalanan tugasnya ia harus melewati rumahnya. Berkat keahlian dan kerja keras yang ia lakukan, Yu dikenang sebagai 'lnsinyur' pertama dalam sejarah kemanusiaan. Banjir yang semula menjadi langganan rutin bisa diatasi dengan baik. Aliran sungai yang ada bisa diselaraskan. Ini membuktikan bahwa sesungguhnya ujian yang datangnya dari Tuhan bisa diatasi, karena sesungguhnya Tuhan tidak pernah menguji manusia melebihi batas kemampuannya. Namun ujian yang disebabkan oleh kebodohan, ketamakan dan keserakahan manusia sendiri; sulit untuk diatasi(05).

Lain lagi kisah Shang Tang (1766 sM- 1753 sM ) pendiri Dinasti Shang (1766 sM- 1122 sM). Suatu saat dalam perjalanan dinasnya ia menjumpai sekelompok orang yang sedang menangkap burung dengan jaring-jaring yang sangat rapat. Ini membuat semua burung, baik yang berukuran besar maupun yang masih kecil, tidak mudah menghindar dan kemudian tertangkap. Apa yang dilakukan Shang Tang? Dia lalu merobek jaring-jaring itu di beberapa tempat, sehingga memudahkan anak-anak burung yang terjaring melepaskan diri. Shang Tang berkata bahwa kelangsungan hidup burung itu juga perlu dijaga. Bila semuanya ditangkap, maka akan terjadi kepunahan dan ketidakseimbangan alam.

Nabi Agung Kong Zi juga memberi teladan yang tak kalah heroik. Ia tidak mau memanah burung yang sedang hinggap atau beristirahat. Selain 'menghormati' makhluk yang sedang atau butuh istirahat, ia juga memberi kesempatan Si burung untuk menghindar dan menyelamatkan nyawanya. Sementara si pemanah dituntut untuk selalu belajar melatih diri. Bila ia tidak mampu memanah burung yang sedang terbang, ia memang tidak pantas mendapatkan burung tersebut. Namun bila ia memang berkemampuan, ia layak mendapatkannya. Nabi Kong Zi juga tidak suka menjaring ikan. Beliau lebih suka memancingnya. Dengan memancing Nabi memberi kesempatan dan pilihan kepada ikan untuk menghindar(06).

D. NASIHAT NABI DAN PARA BIJAK TENTANG PENTINGNYA MENJAGA  KELESTARIAN    LINGKUNGAN

Agama Khonghucu mempunyai 3 (tiga) Himpunan Kitab Suci yakni : Wu Jing, Si Shu dan Xiao Jing. Wu Jing terdiri atas 5 (lima) Kitab : Shu Jing, Si Jing, Yi Jing, Li Jing dan Chun Qiu Jing. Si Shu terdiri atas 4 (empat) Kitab : Da Xue, Zhong Yong, Lun Yu, dan Meng Zi. Wu Jing ditulis oleh Nabi Kong Zi sendiri berdasarkan ajaran dan wahyu yang diterima para nabi sebelumnya dan beliau sendiri; sedangkan Si Shu dan Xiao Jing ditulis oleh murid, cucu murid dan cicit murid Nabi Kong Zi, berdasarkan ajaran dan wahyu yang diterima Nabi Kong Zi. Baik Wu Jing, Si Shu dan Xiao Jing, di dalamnya dapat kita jumpai ayat-ayat yang berbicara tentang perlunya keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup.

Memang, karena para nabi agama Khonghucu lahir pada jaman kuno, lebih dari 2.500 tahun yang lalu, ayat-ayat tentang pelestarian alam tentunya tidak selengkap seperti apa yang digambarkan ilmu pengetahuan sekarang, yang bicara soal pencemaran udara, kimia, dsb. Namun kelestarian gunung, hutan, hewan dan tumbuhan cukup banyak dibahas di Wu Jing, Si Shu dan Xiao Jing. Beberapa ayat di antaranya yang dibahas di sini, setidaknya bisa memberi gambaran besar bahwa setiap agama, termasuk Khonghucu, juga sangat menaruh perhatian akan pentingnya kelestarian lingkungan.

Zeng Zi, salah satu murid utama Nabi Agung Kong Zi yang menulis Da Xue, mengatakan bahwa memotong pohon dan hewan ada waktunya. lntinya harus diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu kelestarian pohon dan hewan itu sendiri. Nabi Kong Zi malah bersikap lebih tegas menanggapi kata-kata Zeng Zi tadi. Orang yang memotong pohon dan hewan tidak pada waktunya, disebutnya tidak berbakti.(07). Dalam agama Khonghucu, salah satu hukuman yang paling berat, adalah ketika seseorang dikatakan tidak berbakti, baik kepada orang tua mereka, yang dituakan, guru, masyarakat, bangsa dan kemanusiaan. Salah satu wujud perilaku laku bakti atau Xiao adalah mampu menjaga nama baik dan warisan orang tua. Dengan demikian bila seseorang tidak bisa ikut menjaga kelestarian alam, maka sebenarnya ia pantas juga disebut tidak berbakti.
Dalam Li Ji, Bab Yue Ling larangan itu lebih dipertegas. Sarang-sarang telur, serangga yang belum berbentuk, hewan yang masih muda, juga dilarang untuk diganggu.(08) Menangkap ikan pun tidak boleh dengan cara membendung dan menguras sungai atau rawa. Di samping cara ini bisa mengakibatkan semua ikan, baik yang besar atau kecil, habis terkuras, juga akan mengganggu kelestarian lingkungan yang telah terbentuk selama ini. Hewan-hewan dan tumbuhan lain yang tidak diminati manusia pun, pada akhirnya juga akan ikut terganggu dan atau
ikut terbuang secara percuma.(9)

Pada satu kesempatan Meng Zi juga memberikan nasihat tentang pentingnya menjaga kelestarian alam pada seorang raja yang berkonsultasi padanya. Pada intinya Meng Zi mengatakan bahwa salah satu kunci menjadi raja yang dicintai adalah bila mampu mensejahterakan rakyat. Salah satu cara mensejahterakan rakyat adalah dengan menjaga kelestarian sumber penghidupan, seperti tanaman, hewan, sungai, gunung dan hal-hal lain yang terkait dengannya(10).

E. AGAMA SEBAGAI LANDASAN PERILAKU MANUSIA DALAM HUBUNGANNYA DENGAN SESAMA, TIAN DAN ALAM SEMESTA

Dari keteladanan para nabi, orang bijak jaman dahulu dan firman Tian yang tertuang dalam Kitab Suci, jelaslah bahwa sebenarnya ajaran agama memberikan nasihat yang cukup bagi manusia untuk berperilaku ramah dan santun terhadap lingkungan. Namun kenyataannya nasihat bijak yang sudah difirmankan ribuan tahun lalu dan tertuang dalam kitab-kitab suci itu seakan menguap begitu saja dalam realita kehidupan manusia. Di sini diperlukan pendekatan multi dimensi untuk mencapai hasil yang lebih optimal.

Ada sebuah kisah menarik dalam perjalanan hidup Nabi Kong Zi. Ketika itu beliau diangkat menjadi Menteri Kehakiman. Negeri Lu yang sedang dalam keadaan kacau. Perselisihan terjadi dimana-mana, bahkan di antara anak dan orang tua sendiri. Pencurian dan tindak kejahatan lain juga marak terjadi. Dengan sikap tegas beliau menghukum siapa saja yang bersalah tanpa kecuali. Belum lama menjabat, suatu ketika beliau kaget sendiri melihat penjara-penjara telah penuh namun kejahatan tidak juga berkurang. Mulailah beliau merubah kebijakannya. Kebutuhan dasar rakyat dipenuhi lebih dulu, pendidikan digalakkan dan setelah dasarnya dianggap cukup kuat barulah diberi pendidikan moral. Dalam waktu singkat penjara-penjara menjadi kosong, kejahatan menurun drastis dan tercipta Kedamaian dan Keharmonisan Agung. Rumah-rumah tidak perlu dikunci. Barang-barang yang ditinggal di tengah jalan pun tetap aman. Belakangan Nabi Kong Zi dipercaya menjadi Perdana Menteri.

Dan cerita di atas, setidaknya ada 2 (dua) hal yang bisa kita lakukan. Pertama agama bisa menjadi faktor penguat moral masyarakat agar lebih sadar, termasuk kesadaran untuk menjaga lingkungan hidup. Meski demikian, pendekatan melalui ajaran agama saja tidaklah cukup dan harus tetap dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan rakyat dan pendidikan. Kedua, penjabaran dan atau penyebaran ajaran agama yang selama ini terkesan tidak seimbang, dalam artian hanya bicara soal hubungan vertikal dengan Tuhan - itu pun kebanyakan hanya bicara soal surga, neraka dan risiko bagi orang-orang yang dianggap berdosa -  tanpa bicara hubungan dengan sesama manusia dan lingkungan, kiranya akan lebih baik bila diperkaya dengan pembahasan urusan hidup sehari-hari, agar lebih seimbang dan sekaligus mampu menjawab dan mengatasi persoalan kekinian yang dihadapi.

Meski ajaran agama seharusnya menekankan hal-hal yang dipaparkan di atas, namun pada praktiknya tidaklah mudah. Kenyataannya para tokoh agama kebanyakan hanya fasih bicara soal kehidupan sesudah mati dan ritual, ketimbang harus bicara soal kehidupan dan kemanusiaan dengan pendekatan moralitas/budi pekerti, tanpa bumbu berlebihan soal hukuman surga neraka. Dengan demikian semua majelis agama perlu membekali rohaniwannya untuk tidak sekedar mampu membicarakan permasalahan sosial dan kehidupan sehari-hari, tetapi juga mampu memberikan solusi dalam kacamata moralitas agama. Dalam hal lingkungan hidup misalnya, sang rohaniwan harus bisa menjelaskan perilaku keseharian kita yang kurang baik dan dampaknya bagi kelestarian lingkungan, lewat penjelasan ilmiah dan dikaitkan dengan pandangan dan nilai-nilai agama. Hanya dengan cara ini agama bisa lebih membumi dan mampu menjawab kebutuhan moral dan spiritual masyarakat modern. Hanya dengan cara yang lebih seimbang ini agama diharapkan bisa berperan sentral dalam harmonisasi hubungan manusia dengan sesamanya, Tuhan dan semesta alam.

Bila agama bisa bicara soal aktual kehidupan dan memberikan pertimbangan moral, etika dan sekaligus spiritual, maka agama bisa memperkaya perspektif umat dan sekaligus menyuburkan kembali jiwa yang gersang akibat dilindas modernisasi dan mekanisasi kehidupan. Dengan demikian agama bisa menjadi solusi alternatif untuk mengatasi kehidupan yang makin sulit dan kompleks, termasuk mengatasi berbagai persoalan lingkungan hidup dan keseimbangan alam yang semakin hari semakin mengkhawatirkan.

F. KESIMPULAN DAN HARAPAN
Salah satu pokok ajaran agama Khonghucu adalah anjuran agar manusia terus tekun belajar tanpa henti mencari hakikat setiap perkara. Dengan demikian  setiap persoalan dapat diketahui secara persis ujung pangkalnya.(11). Dengan meneliti hakikat setiap perkara pulalah kita akan tahu bahwa berbagai bencana alam yang selama ini terjadi berturutan di tanah air kita, pada dasarnya disebabkan kesalahan akumulatif kita sendiri yang tidak mampu mengelola alam dan seisinya secara bijak. Demi mengejar keuntungan sebesar-besarnya misalnya, hutan ditebang habis-habisan. Meski penanaman kembali dilakukan, namun tidak serta merta mampu menggantikan kerusakan yang telah terjadi. Erosi meluas, lapisan tanah yang subur terkikis, arus air menjadi lebih deras, daya serap tanah menurun, sungai-sungai menjadi dangkal, longsor dan banjir lebih sering terjadi, dsb.

Pada satu kesempatan Nabi Kong Zi mengingatkan bahwa keuntungan adalah harapan dan dambaan setiap orang. Namun apalah artinya kalau dicapai dengan jalan yang tidak benar dan tidak bertanggung jawab.(12). Nasihat itu kiranya masih tetap relevan. Janganlah demi mengejar keuntungan jangka pendek, kelestarian dan keseimbangan alam yang menjadi taruhannya.

Menyadari hal di atas, maka menjaga kelestarian dan keseimbangan alam adalah kewajiban dan tanggung jawab kita bersama. Jalan terbaik untuk menjaga kelestarian dan keseimbangan lingkungan adalah dengan hidup secara harmonis dengan alam. Nasihat para pakar lingkungan dan juga nasihat para nabi yang tertuang dalam kitab-kitab suci wajib ditaati. Bila tidak maka suatu saat nanti kita sendiri pun akan terkena dampak negatif rusaknya lingkungan. Sebuah ayat indah dalam Zhong Yong, XVI, 3, ada baiknya kita renungkan bersama, “Demikianlah Tian menjadikan segenap wujud masing-masing dibantu sesuai dengan sifatnya. Kepada pohon yang bersemi dibantu tumbuh, sementara kepada yang condong dibantu roboh”(13). Nah, apakah kita akan tetap meneruskan kebiasaan buruk kita selama ini ataukah kita akan segera sadar berbenah diri dan merawat alam semesta tempat kita bernaung(14); sepenuhnya merupakan pilihan kita sendiri. Semoga kesadaran menyapa dan menggugah hati nurani kita. Shanzai.

CATATAN KAKI

  1. Firman Tian (Tian Ming) dinamai Watak Sejati (Xing). Hidup mengikuti Watak Sejati dinamai menempuh Jalan Suci (Xiu Dao). Bimbingan menempuh Jalan Suci dinamai Agama. (Zhongyong, Bab Utama, 1).
  2. Pada tempayan Raja Tang terukir kalimat, “Bila suatu hari dapat  memperbaharui diri, perbaharuilah terus tiap hari dan jagalah agar baharu selama-lamanya ” (Da Xue II, 1).
  3. Di dalam Kitab Sanjak tertulis, sebelum udara mendung dan hujan,  kukumpulkan akar berlumpur untuk menambal, menutup pintu sarangku. Kini, hai, manusia di bawah; beranikah menghinaku (Meng Zi, IIA, 4, 3)
  4. “Di dalam tiap perkara bila ada rencana yang pasti, niscaya dapat berhasil; bila tanpa rencana yang pasti, niscaya gagal. Di dalam berbicara bila lebih dahulu mempunyai ketetapan, niscaya tidak gagap. Di dalam pekerjaan bila lebih dahulu mempunyai ketetapan, pasti tidak akan terjadi keterlanjuran. Di dalam menjalankan sesuatu bila lebih dahulu mempunyai ketetapan, niscaya tidak akan menemui jalan buntu. Di dalam berusaha hidup sesuai dengan Jalan Suci bila lebih dahulu mempunyai ketetapan, pasti tidak akan mengalami keputusasaan. (Zhong Yong, XIX, 16).
  5. “Di dalam Kitab Sanjak (Shi jing) tertulis, “Tekun hidup sesuai Firman, memberkati diri banyak bahagia.” Di dalam Kitab Tai Jia tertulis, “Bahaya yang datang dari ujian Tuhan dapat dihindari, tetapi bahaya yang dibuat sendiri tak dapat dihindari.’ Ini kiranya memaksudkan hal itu.” (Meng Zi, IIA, 4, 6).
  6. Nabi mau memancing tetapi tidak mau menjaring. Mau memanah burung tetapi  tidak mau yang sedang hinggap (Lun Yu, VII, 27).
  7. Zeng Zi berkata “Pohon dipotong hanya pada waktunya; burung-hewan dipotong hanya pada waktunya”. Nabi Kong Zi bersabda “Sekali memotong pohon, sekali memotong hewan tidak pada waktunya itu tidak berbakti” (Xiao Jing, 45)
  8. Dikeluarkan larangan menebang pohon-pohonan. Jangan melempar jatuh sarang-sarang. Jangan membunuh serangga yang belum berbentuk. Demikian pula hewan yang masih dalam kandungan; makhluk yang masih muda; burung-burung yang baru belajar terbang; juga anak-anak rusa dan telur (Li Ji, Yue Ling, IVA, I, 18-19).
  9. Para nelayan jangan membiarkan aliran sungai dan rawa mengalir hingga kering atau membendung. Jangan menguras seluruh air dari bendungan dan kolam untuk menangkap seluruh ikannya. Pemburu juga dilarang membakar gunung dan hutan.(Li Ji, Yue Ling, II 14).
  10. Bila dapat memahami hal itu baginda akan insaf pula tidak mengharapkan mempunyai penduduk lebih banyak dari negara-negara tetangga. Maka janganlah mengganggu saat rakyat mengerjakan sawahnya, sehingga hasil bumi tidak kurang untuk dimakan; jangan diperkenankan penggunaan jala yang bermata rapat untuk menangkap ikan, sehingga ikan dan kura-kura tidak kurang untuk dimakan; dan pemotongan kayu di hutan harus ditentukan waktunya, sehingga kayu di hutan tidak kurang untuk dipergunakan. Bila hasil bumi, ikan dan kura-kura tidak kurang dimakan; kayu di hutan tidak kurang untuk dipergunakan, niscaya rakyat dapat memelihara keluarga yang hidup dan dapat mengurus baik-baik bila ada kematian, sehingga mereka tidak menyesal (Meng Zi, IA, 3, 4).
  11. Tiap benda mempunyai pangkal dan ujung, dan tiap perkara mempunyai awal dan akhir. Orang yang mengetahui mana yang dahulu dan mana yang kemudian, ia sudah dekat dengan Jalan Suci (Da Xue, Bab Utama, 3).
  12. Nabi Bersabda, “Kaya dan berkedudukan mulia ialah keinginan tiap orang, tetapi bila tidak dapat dicapai dengan Jalan Suci, janganlah ditempati. Miskin dan berkedudukan rendah ialah kebencian tiap orang, tetapi bila tidak dapat disingkiri dengan Jalan Suci, jangan ditinggalkan. (Lun Yu, IV, 5).
  13. Demikianlah Tian menjadikan segenap wujud, masing-masing dibantu sesuai dengan sifatnya. Kepada pohon yang bersemi dibantu tumbuh, sementara kepada yang condong dibantu roboh (Zhong Yong, XVI, 3).
  14. Meng Zi berkata, “Pohon di Gunung Niu mula-mula memang rimbun indah. Tetapi karena letaknya dekat dengan sebuah negeri yang besar, lalu dengan semena-mena ditebang; masih indahkan kini? Benar dengan istirahat tiap hari tiap malam, disegarkan oleh hujan dan embun, tiada yang tidak bersemi dan bertunas kembali. Tetapi lembu-lembu dan kambing-kambing digembalakan di sana, maka menjadi gundullah dia. Orang yang melihat keadaan yang gundul itu lalu menganggapnya memang selamanya belum pernah ada pohon-pohonnya. Maka kalau dirawat baik-baik tiada barang yang tidak akan berkembang. Sebaliknya kalau tidak dirawat baik-baik tiada barang yang tidak akan rusak (Meng Zi, VIA, 8.1 dan 8.3).

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:162 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:873 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:113 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:234 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:129 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:400 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:294 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:228 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:171 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:714 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 44 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com