spocjournal.com

Nilai-Nilai Pribadi Manajer-Pemilik dan Dampaknya Terhadap Kinerja: Sebuah Analisa Empiris Tentang UKM Manufaktur di Jepang

M. D. PUSHPAKUMARI


Diterjemahkan oleh :
Ongky SK,Drs,MM,MBA

Abstrak
Sementara banyak perhatian tercurah pada ciri-ciri pribadi dari para manajer-pemilik/pengusaha Usaha Kecil dan Menengah (UKM), perhatian yang lebih sedikit diberikan kepada nilai-nilai mereka, khususnya diluar konteks barat. Nilai-nilai sangatlah penting dalam pengambilan keputusan dan membawa implikasi terhadap perilaku manajer-pemilik serta pendekatan dalam mengatur organisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memeriksa nilai-nilai pribadi para manajer-pemilik dan menguji secara empiris celah-celah yang ada dalam  penelitian empiris tentang nilai-nilai dan kesuksesan manajemen di UKM-UKM dalam konteks Asia. Data untuk penelitian ini didapat dari survei terhadap UKM-UKM yang bergerak dibidang industry manufaktur di Jepang. Dalam analisa data ditemukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara nilai-nilai dan kinerja UKM. Penemuan dan implikasi kemudian ditarik untuk pengembangan teori yang sedang berjalan serta praktek manajemen disektor UKM.

Kata kunci: UKM, Nilai, Kinerja

1.  Pengantar
Sektor usaha berukuran Kecil dan Menengah saat ini semakin diakui sebagai penggerak perkembangan ekonomi yang utama baik di Negara-negara berkembang maupun Negara-negara maju (Zacharakis et al. 2002). UKM merupakan sumber lapangan pekerjaan utama, pencipta pendapatan, pendorong inovasi serta kemajuan teknologi (Kotey dan Meredith, 1997).

Dibeberapa industri di dunia, level ketergantungan ekonomi terhadap perusahaan kecil dan menegah telah meningkat beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, setiap pemerintahan Negara semakin menekankan pentingnya sektor UKM mereka dan pada saat yang sama hal ini juga membuat pemerintah memberikan penekanan terhadap program pendampingan perusahaan dan kebijakan-kebijakan untuk mengembangkan sektor ini. Namun keefektifan kebijakan-kebijakan dan program ini tergantung pada pemahaman yang lengkap akan manajer-pemilik serta bagaimana mereka beroperasi. Dalam hal ini, khususnya pemahaman akan nilai-nilai pribadi manajer-pemilik sangatlah penting. Literatur yang ada diarea ini menyiratkan bahwa kepribadian manajer-pemilik, khususnya nilai-nilai serta tujuan-tujuan mereka sangatlah susah dibedakan dari tujuan-tujuan bisnis mereka (O’farrell dan Hitchins 1988; Bamberger 1983). Kilby (1993) mencatat bahwa nilai sangatlah penting dalam memajukan pemahaman yang konstruktif akan perilaku manusia serta perubahan yang pasti ada. Karenanya, akan terlihat bahwa sepertinya nilai-nilai pribadi mesti memiliki maksud tertentu, tidak hanya terhadap keputusan untuk mengejar kewirausahaan, tetapi juga cara yang digunakan para manajer-pemilik untuk menjalankan usahanya (Gasse 1977 ; Bird 1989 ; Bryan 1999). Lebih jauh juga dijelaskan bahwa  nilai-nilai pribadi para manajer-pemilik mempengaruhi manajemen dan praktek bisnis yang mereka gunakan dalam mengoperasikan usaha-usaha mereka dan, pada akhirnya, mempengaruhi juga kinerja bisnis mereka (Thompson dan Strickland 1986). Namun, dalil ini kekurangan dukungan empiris dalam konteks Asia dan semuanya terbatas hanya dikonteks Barat.
Khususnya, meskipun beberapa kajian telah memeriksa nilai-nilai manajer-pemilik dan hubungannya dengan kinerja UKM, sepengetahuan si penulis, belum ada penyelidikan empiris yang dilakukan untuk memeriksa hubungan semacam itu dalam konteks Asia. Toh, secara tersirat maupun terang-terangan, penelitian diwilayah ini sering didasarkan pada nilai-nilai barat seperti individualism, kekompetitifan, perolehan materi, dan etos kerja yang kuat (Hebert dan Link 1998 ; Cauthorn 1989 ; Schumpeter 1950). Nilai-nilai ini mungkin memiliki keterbatasan untuk diterapkan dalam semua ekonomi. Melihat kenyataan ini, memahami implikasi nilai untuk usaha yang sukses menjadi sangat penting. Oleh karenanya, kajian saat ini merupakan usaha untuk memeriksa nilai-nilai pribadi dari para manajer-pemilik dan hubungan dari nilai dan kinerja bisnis setelah mengambil contoh dari UKM manufaktur yang beroperasi diekonomi maju Jepang. Karena hampir semua kajian sebelumnya dilakukan di ekonomi maju Negara-negara Barat, kajian yang ini juga memfokuskan pada ekonomi maju Asia, yaitu di Jepang. Industry manufaktur sudah dikenal memainkan peranan penting dalam perkembangan ekonomi diseluruh dunia. Disisi lain, diakui bahwa sebagian besar dari prinsip ekonomi lebih konsisten dengan industri manufaktur ketimbang dengan industri-industri lainnya.
Makalah ini dibagi kedalam lima bagian. Bagian pertama mempertimbangkan latar belakang kajian dengan membicarakan tentang tujuan penelitian. Bagian kedua adalah tentang ulasan literatur sehubungan dengan konsep nilai-nilai, kinerja dan hubungan antara nilai dan kinerja. Bagian ketiga dari makalah ini menjelaskan metodologi termasuk sampel, pengumpulan data, analisa data yang diterapkan untuk menyelidiki permasalahan penelitian. Bagian keempat berisi tentang hasil dari analisa data serta mendiskusikan penemuan-penemuan penting. Bagian terakhir memberikan kesimpulan dari kajian.

2.    Ulasan Literatur
2.1    Nilai
Hofstede (2001) menetapkan sebuah nilai sebagai suatu tendensi yang luas untuk lebih memilih kondisi-kondisi tertentu dari suatu keadaan ketimbang kondisi lainnya. Rokeach (1972) menjelaskan bahwa nilai merupakan sebuah kepercayaan yang abadi akan suatu modus kelakuan spesifik atau kondisi akhir dari keberadaan lebih diinginkan daripada alternatifnya. Menurut definisi ini, sederhananya, nilai adalah sebuah kepercayaan yang spesifik dan abadi. Ia terutama timbul dari apa yang dipelajari seseorang dari apa yang diajarkan secara terang-terangan, maupun secara tersirat dari Sosialisasi. Lebih jauh dalam kata-kata Rokeach (1973), nilai adalah standar yang menuntun dan menentukan tindakan, sikap terhadap obyek dan situasi, ideologi, presentasi diri kepada orang lain, evaluasi, penilaian, pembenaran, perbandingan diri dengan orang lain, dan percobaan untuk mempengaruhi orang lain.
Schwartz (1992) mengkarakterisasikan nilai sebagai konsep atau kepercayaan yang berhubungan dengan kondisi akhir atau perilaku yang diinginkan yang melebihi situasi spesifik didalam pilihan bimbingan atau evaluasi perilaku serta kejadian-kejadian dan disusun berdasarkan kepentingan relatifnya. Lebih lanjut, Hofstede (2001) berkata bahwa nilai-nilai dipelajari sebelum penempatan ; mereka merepresentasikan mekanisme-mekanisme yang menghasilkan konsekuensi positif atua menghindarkan dari konsekuensi negative yang berkaitan dengan lingkungan sekitar.
Dalam literatur, terlihat bahwa nilai berhubungan dengan konsep-konsep lainnya. Morris, Schindehutte dan Lesser (2002) menyatakan bahwa nilai berhubungan dengan sifat tetapi tidak sama dengannya, dan sifat  menyiratkan perkembangan nilai-nilai tertentu. Juga ada hubungan yang erat antara nilai dan motif. Higgins (2000) berpendapat bahwa nilai memberikan fokus pengaturan kepada tindakan yang termotivasi dan bersasaran. Ketika seseorang memiliki nilai-nilai tertentu, ia berjuang untuk menjadi konsisten secara internal melalui motif dan tindakannya, dan menggunakan nilai untuk menuntun motif-motif serta tindakan-tindakannya tadi. Rokeach (1967) menyatakan bahwa nilai bisa merupakan mode tingkah laku yang dipilih dan ia yakin bahwa sebagian besar orang secara kasar memiliki 18 nilai terminal serta 60 nilai instrumental. Lebih lanjut, nilai ada dilevel-level yang berbeda. Nilai-nilai tertentu memang universal. Beberapa lainnya mungkin berhubungan dengan masyarakat, kehidupan keluarga serta kerja seseorang. Nilai dipegang oleh individu sama halnya nilai juga dipegang secara kolektif (Kilby 1993 ; Kluckhorn 1951). Ketika kolektif terlibat, nilai menjadi sebuah komponen dari kebudayaan. Hofstede (2001) mengidentifikasi perbedaan-perbedaan nilai diantara budaya-budaya yang berbeda.
Studi saat ini menganggap nilai relevan dengan kehidupan kerja. Kilby (1993) membedakan nilai yang didapat dari pekerjaan seseorang, serta nilai yang   ditugaskan melalui pekerjaan. Kareanya, nilai-nilai semacam itu seperti juga pencapaian prestasi, pertumbuhan pribadi, hubungan yang hangat, dan pemasukan yang tinggi dapat direalisasikan dalam pekerjaan seseorang; sementara menantang, menyenangkan, membosankan, dan membahayakan melambangkan tipe-tipe nilai yang diasosiasikan dengan pekerjaan-pekerjaan yang berbeda. Secara historis, nilai yang diasosiasikan dengan pengusaha adalah inovasi dan perubahan, individualism, kemandirian, prestasi, perolehan keuntungan pribadi, kompetisi, kerja keras, kesuksesan, dan resiko (Morris, Schindehutte dan Lesser 2002). Nilai-nilai ini lebih konsisten dengan nilai-nilai Barat. Didalam Literatur, prestasi, individualism, kebebasan, kerja keras, sifat kompetitif dak kekayaan diidentifikasikan dengan nilai-nilai Barat (Godsell 1991 ; Hebert dan Link 1998 ; Lipset 2000 ; Mangaliso 2001 ; McClelland 1961). Kemudian McGrath, MacMillan, dan Scheinberg (1992) menentukan bahwa pengusaha mencetak skor yang jauh lebih tinggi pada nilai-nilai jarak kekuatan, individualism, maskulinitas, dan lebih rendah pada penghindaran ketidakpastian, dibandingkan dengan mereka yang non-pengusaha, dan hasil ini rata tanpa memandang budaya Negara mereka. Gasse (1977) menemukan bahwa nilai untuk keterbukaan pikiran mempengaruhi tendensi untuk berinovasi serta tumbuh lebih cepat ; tidak ada bukti empiris sehubungan dengan hubungan ini. Studi yang dilakukan di Afrika Selatan mengungkapkan bahwa sebagian besar nilai-nilai prioritas dari pengusaha kulit hitam adalah kerja keras, hubungan yang hangat, tanggungjawab terhadap komunitas serta prestasi dan bagi pengusaha kulit berwarna adalah hubungan yang hangat, individualism, toleransi serta menjadi dihormati (Morris, Schindhutte dan Lesser 2002). Decarlo dan Lyon (1980) menjelaskan bahwa para pengusaha AS mengasosiasikan diri dengan nilai-nilai seperti kerja keras, ambisi, keberanian dan individualitas. Para manajer di AS disebut menempatkan nilai kreativitas dan inovasi lebih tinggi daripada nilai otomoni, kerja keras, optimism, dan vitalitas yang juga diasosiasikan dengan pengasuhan para pemilik usaha.
Namun, kajian literatur diatas menyarankan bahwa nilai-nilai pengusaha/manajer-pemilik usaha dalam konteks Asia belum mendapatkan perhatian dari para akademisi.

2.2    Kinerja
Kinerja jelas merupakan bagian sentral dari perhatian dalam penelitian berkenaan dengan perusahaan ukuran Kecil dan Menengah. Namun, seperti yang dikatakan oleh Venkatraman dan Ramanujam (1986) “perlakuan kinerja didalam penelitian mungkin merupakan salah satu isu penting yang mengkonfrontasi para peneliti akademik” (h. 801). Salah satu alasannya adalah, sayangnya, tidak selalu jelasnya apa arti dari kinerja atau apa definisi operasional yang pas. Lumpkin dan Dess (1995) menggunakan ukuran akuntansi seperti pertumbuhan penjualan, pembagian pasar, serta profitabilitas sejajar dengan indikator-indikator kinerja pada umumnya sebegaimana juga indikator-indikator lain dari kepuasan para stakeholder (pemegang kepentingan). Murphy, Trailer serta Hill (1996) mengkaji 51 artikel dan menemukan 71 ukuran operasional untuk kinerja yang berbeda, yang digolongkan dalam delapan dimensi utama dimana efisiensi, pertumbuhan dan keuntungan adalah yang paling sering digunakan. Reid dan Smith (2000) mengindentifikasi beberapa ukuran evaluasi kinerja relatifis yang menanyakan apa tujuan yang telah ditetapkan oleh suatu perusahaan, dan kemudian menyelidiki sampai pada titik dimana tujuan-tujuan ini telah dicapai. Didalam literatur, beragam ukuran digunakan dalam menentukan level kinerja dari perusahaan. Pengkajian yang dilakukan telah menggunakan baik ukuran finansial maupun non-finansial dari kinerja (Venkatraman dan Ramanujam 1987 ; Greely 1986). Lainnya menggunakan ukuran subyektif dan/atau obyektif untuk mengukur kinerja (Ramanujam, Venkatraman dan Camillus 1986). Ketika digunakan, ketiga ukuran yang berbeda ini memang pasti membawa hasil yang berkonflik karena mereka mengukur aspek-aspek kinerja yang berbeda dari perusahaan. Menanggapi masalah ini, Tosi dan Gomez-Mejia (1994) mengusulkan bahwa kinerja semestinya diukur dengan ukuran finansial serta non-finansial, dengan menggunakan  data subyektif dan obyektif. Pushpakumari dan Wijewickarma (2008) menggunakan baik ukuran finansial dan non-finansial seperti penjualan tahunan, keuntungan tahunan, jumlah pegawai, pembagian pasar dan reinvestasi pada bisnisnya untuk mengukur kinerja bisnis UKM. Dalam kajian saat ini, kinerja bisnis diidentifikasi dalah hal mencakup ukuran finansial dan non-finansial dari penjualan tahunan, keuntungan tahunan, jumlah pegawai, pembagian pasar dan reinvestasi bisnis.

2.3    Nilai Pribadi dan Kinerja Perusahaan
Rokeach (1973) menunjukkan bahwa nilai-nilai pribadi mempengaruhi segala perilaku. Penemuan ini ditekankan ulang oleh Kamakura dan Mazzon (1991) yang mencatat bahwa konsep nilai-nilai pribadi serta sistem nilai telah digunakan untuk memprediksi berbagai macam perilaku. Bandura (1986) mendefinisikan nilai pribadi sebagai cita-cita yang dijaga dalam segala keadaan. Mereka timbul dari pengalaman hidup dan mereka membimbing hasil perilaku (Allport 1961). Nilai-nilai pribadi melibatkan kesadaran diri dan secara sadar mempengaruhi pilihan dan perilaku. Mereka adalah standar yang mendasari evaluasi serta penilaian (Williams 1968). Nilai-nilai pribadi merupakan inti dari kepribadian dan mempengaruhi semua karakteristik lainnya, yang antara lain sikap, evaluasi, penilaian, keputusan dan komitmen (Feather 1988). Penemuan ini menunjukkan bahwa nilai-nilai pribadi membawa dampak dalam menentukan perilaku para manajer-pemilik didalam organisasi.
Kilby (1993) mencatat bahwa nilai-nilai sangatlah penting sifatnya dalam memajukan pemahaman yang konstruktif tentang perilaku manusia serta perubahan yang menjadi akibatnya. Karena itu akan tampak seakan-akan nilai-nilai priobadi seharusnya memiliki implikasi penting tidak hanya bagi keputusan untuk mengejar kewirausahaan, tetapi juga dengan cara bagaimana sang pengusaha/manajer-pemilik mengatur usahanya (Gasse 1977 ; Bird 1989 ; Bryan 1999).
Meskipun nilai-nilai pribadi tiap-tiap individu berbeda, orang-orang dengan nilai-nilai pribadi yang serupa dapat dikelompokkan untuk membentuk satu tipe personal. Manajer-pemilik yang sukses telah diidentifikasikan dengan nilai personal yang merujuk ke wirausaha (Rokeach 1973 ; England 1975 ; Cunningham dan Lischeron 1991 ; Silver 1988 ; De Carlo dan Lyon 1980 ; dan Birch 1987). Menurut para peneliti dan penulis ini, pengusaha memberikan nilai yang tinggi untuk ambisi, prestasi, keandalan, tanggungjawab, kerja keras, kompetensi, optimism, inovasi, keagresifan, kejujuran, kreatifitas, pengakuan sosial dan pertumbuhan. Berlawanan dengan pengusaha, para manajer-pemilik konservatif menilai rendah nilai-nilai diatas, tetapi menempatkan kesetaraan, kasih saying, welas asih, dan perlindungan sosial sebagai prioritas (Rokeach 1973 ; England 1975). Kotey dan Meredith (1997) mencatat bahwa dalam kenyataannya, para manajer-pemilik menunjukkan kombinasi dari kedua tipe nilai personal. Meskipun pengusaha akan memberikan nilai tinggi pada sebagian besar nilai-nilai, mereka bisa juga menjadi konservatif dalam aspek-aspek tertentu. Lebih jauh, Kotey dan Meredith (1997) dan Blackman (2003) menemukan bahwa nilai-nilai pribadi manajer-pemilik dan kinerja perusahaan sangatlah berhubungan secara empiris. Penelitian mereka juga membuktikan bahwa mereka-mereka yang berkinerja tinggi menunjukkan nilai-nilai wirausaha, sedangkan mereka yang berkinerja dibawah rata-rata menunjukkan nilai-nilai konservatif dari manajer-pemilik. Kombinasi antara nilai-nilai wirausaha dan nilai-nilai konservatif dari manajer-pemilik menghasilkan kinerja rata-rata. Namun, semua kajian diatas yang berhubungan dengan nilai dan kinerja dilakukan diekonomi Barat yang maju.
Dari sebuah kajian terhadap literatur diatas dan untuk menyelidiki tujuan penelitian, model penelitian konsep dasar berikut ini (Figur 1 (a)) pun dikembangkan untuk menguji nilai-nilai manajer pemilik serta hubungannya dengan kinerja perusahaan. Nilai-nilai manajer-pemilik ditentukan dalam dua puluh tujuh (27) butir nilai yang dibangun berdasarkan pada literatur (Kotey dan Meredith 1997 ; Blackman 2003) ; prestasi, otonomi, ambisi, keagresifan, kesetaraan, kekuasaan, kreatifitas, uang, energi, gengsi, keamanan, pengakuan sosial, kesenangan, welas asih, kesetiaan, kepercayaan, kompetensi, kompetisi, resiko, jaminan sosial, kasih sayang, pertumbuhan, inovasi, kejujuran, tanggungjawab, kerja keras, dan optimisme. Performa bisnis UKM diukur dalam hal campuran antara ukuran finansial dan non-finansial termasuk peningkatan keuntungan tahunan, penjualan tahunan, pembagian pasar, jumlah pegawai dan reinvestasi pada bisnis.
Untuk tujuan analisa, model kemudian dikembangkan dari hubungan-hubungan dasar diantara variabel-variabel berikut (Figur 1 (a)) dengan asosiasi diantara dimensi-dimensi variabel seperti di Figur 1 (b). Secara garis besar, nilai dapat dikategorikan kedalam tiga grup (Kotey dan Meredith 1997) ; nilai-nilai wirausaha, nilai-nilai konservatif, serta kombinasi antara nilai-nilai wirausaha dan konservatif (nilai-nilai campuran). Kinerja dapat diidentifikasi sebagai kinerja level tinggi, level sedang/rata-rata, dan level rendah. Kemudian, berdasarkan atas penemuan-penemuan dalam studi yang lalu, model ini menunjukkan bahwa manajer-pemilik dengan nilai-nilai pribadi yang bersifat wirausaha akan mencapai level kinerja yang rendah. Diantara dua dimensi ekstrim nilai-nilai personal adalah manajer-pemilik dengan nilai campuran yang sangat mungkin mencapai level kinerja sedang/rata-rata.
Metodologi penelitian yang diterapkan untuk menyelidiki model konseptual ini digambarkan seperti ini.



3.    Metodologi
3.1    Sampel
Untuk tujuan mencapai tujuan utama penelitian, sejumlah total tiga ratus dua puluh enam (326) UKM dipilih dari UKM-UKM manufaktur di Prefektur Aichi di Jepang. Prefektur Aichi merupakan prefektur ketiga terbesar dalam hal jumlah UKM dan juga menghasilkan pengiriman tertinggi di Jepang (Sensus Manufaktur 2007). Oleh karenanyka, prefektur ini memberi kontribusi yang tinggi kepada GDP (Pemasukan kotor pertahun) dan memainkan peranan penting dalam perkembangan ekonomi. Sampel dipilih menggunakan teknik sampling acak. Dua database elektronik yang dipelihara oleh Pemerintah prefektur Aichi dan Asosiasi Pengusaha Kecil Aichi (dari 2005 sampai 2007) digunakan untuk menarik sampel. Didalam database ini, hanya UKM manufaktur yang terdaftar saja yang dipertimbangkan. 176 UKM manufaktur dipilih dari database Pemerintah Prefektur Aichi dan 150 UKM manufaktur dipilih dari database Asosiasi Pengusaha Kecil Aichi. Totalnya ada 326 sampel UKM. Tercatat bahwa UKM manufaktur mempekerjakan jumlah pegawai terbanyak dibandingkan dengan sektor UKM lain di Jepang (White Paper 2007). Lebih lanjut, UKM yang mempekerjakan kurang dari 300 dimasukkan dalam sampel karena mereka dianggap sebagai UKM menurut Hukum Dasar Usaha Kecil dan Menengah yang menentukan UKM manufaktur di Jepang (White Paper 2007).

3.2    Pengumpulan Data
Peneliti mengumpulkan data yang terutama berhubungan dengan nilai-nilai manajer-pemilik serta kinerja bisnis, dan survei via surat dilakukan untuk mengumpulkannya. Metode kuesioner dipilih sebagai teknik utama pengumpulan data karena teknik ini memiliki keunggulan dibidang kecepatan, biaya, dan teknik ini juga serba guna.
Sebuah kuesioner yang terdiri dari empat bagian dikembangkan. Bagian pertama mancakup tujuh pertanyaan yang berhubungan dengan karakteristik si manajer-pemilik seperti usia, jenis kelamin, status perkawinan, kualifikasi pendidikan, pengalaman, alasan terpenting untuk memasuki bisnis dan apakah ia memiliki bisnis dari anggota keluarga. Bagian kedua diikuti dengan pertanyaan yang berhubungan dengan karakteristik perusahaan antara lain betuk hukumnya, industri dimana ia terlibat, usia, jumlah pegawai, dan jumlah manajer serta supervisor. Data ini kemudian digunakan untuk mengidentifikasi profil yang lebih bermakna dari sampel. Ketiga, sesuai dengan metodi yang diadopsi dari literatur, dalam mengukur nilai-nilai pribadi, dua puluh tujuh butir nilai yang berbeda diidentifikasi sebagaimana yang disebutkan di bagian 2.3. Didalam kuesioner, para partisipan diminta untuk menilai level kepentingan yang mereka berikan kepada setiap butir nilai pribadi menggunakan skala lima-poin Lickert dari “sangat rendah pentingnya” (skor 1) sampai “sangat tinggi pentingnya” (skor 5).
Bagian keempat merupakan Kinerja Bisnis yang diukur dalam hal penjualan tahunan, keuntungan tahunan, jumlah pegawai, pembagian pasar (lokal dan internasional) dan investasi dibisnis. Secara khusus, pembagian pasar dianggap sebagai total bagian pasar dalam konteks lokal dan internasional untuk memproduksi semua produk oleh perusahaan. Responden diminta untuk menilai tren dari butir-butir kinerja ini yang berhubungan dengan tiga tahun terakhir (2005 sampai 2007) menggunakan skala lima-poin Lickert dengan rentangan “sangat berkurang” (skor 1) sampai “sangat bertambah” (skor 5).
Semua pertanyaan yang dikembangkan merupakan pertanyaan tertutup, diketik berulangkali dan jawaban yang pantas perlu dicentang atau dilingkari, sehingga mengurangi waktu yang diperlukan untuk mengisi. Kuesionernya diuji awal dengan mengadministrasinya. Keandalan pengukuran nilai-nilai dan kinerja dievaluasi dan diketemukan dapat diterma dengan Alpha Cronbach 0.97 dan 0.82 berturut-turut. Kuesioner yang teradministrasi-sendiri ini dikirimkan kepada para manajer-pemilik dari 326 organisasi yang dideskripsikan di bagian 3.1 dari bulan Mei sampai Juni ditahun fiscal 2008.

3.3    Analisa Data
Dalam kajian ini, tujuan dari mencapai tujuan utama penelitian dan berdasarkan pada keadaan data yang dikumpulkan, teknik-teknik statistikal non-parametrik digunakan sebagai metode analisa data. Teknik statistikal non-parametrik ideal khususnya ketika data diukur dalam skala nominal (kategorikal) dan skala ordinal (urutan). Oleh karena itu, tes teknik non-parametrik Mann-Whitney U pun diterapkan untuk mengukur hubungan antara nilai-nilai manajer-pemilik dengan kinerja bisnis dari UKM. Teknik ini digunakan untuk menguji perbedaan-perbedaan diantara kedua grup independen dalam suatu ukuran yang berkelanjutan. Kemudian, tes ini merupakan alternatif non-parametrik bagi tes-t untuk sampel indipenden. Daripada membandingkan cara kedua grup sebagaimana dalam kasus tes-t, tes U Mann-Whitney benar-benar membandingkan median. Ia mengkonversikan skor dalam variabel-variabel yang berkelanjutan untuk mengurutkan sepanjang kedua grup, dan kemudian ia mengevaluasi apakah urutan kedua grup berbeda secara signifikan. Jika nilai yang terhitung (p) kurang dari 0.05, berarti hubungan diantara kedua variabel adalah signifikan. Apalagi, untuk menentukan pengaruh dari manajer-pemilik dan karakteristik perusahaan terhadap nilai-nilai pribadi, tes U Mann-Whitney dan tes Kruskal-Wallis digunakan berdasarkan jumlah grup yang terkategorikan. Tes U Mann-Whitney dapat diterapkan untuk membandingkan skor dalam dua grup dan tes Kruskal-Willis dapat digunakan untuk membandingkan skor dalam lebih dari dua grup. Lebih lanjut, statistic deskriptif seperti rata-rata dan standar deviasi (SD) dihitung untuk memeriksa nilai-nilai pribadi dari manajer-pemilik. Analisa statistic dibuat menggunakan SPSS (Pallant, 2001).

4.    Hasil dan Diskusi
4.1    Karakteristik Sampel
Total sebanyak seratus lima puluh empat (154) UKM meresponi Survei. Nilai respon untuk kuesioner yang disebar adalah sebesar empat puluh tujuh persen (47%). Karena ketidak lengkapan data, 10 kuesioner harus dibuang. Sisanya sebanyak seratus empat puluh empat (144) atau empat puluh empat persen (44%) dianggap sah untuk analisa data. Karakteristik sampelnya dijelaskan dibagian berikut ini.

4.1.1    Karakteristik Manajer-Pemilik
Menurut karakteristik manaer-pemilik dari sampel, sebagian besar manajer pemilik berusia diatas 50 tahun (58%). Detailnya, para manajer-pemilik direpresentasikan oleh mayoritas sebesar 96.5 persen manajer pria dan 3.5 persen manajer perempuan. 92 persen diantara mereka sudah menikah. Menurut kualifikasi pendidikannya, salah satu fitur yang penting adalah bahwa 68 persen dari para manajer-pemilik memiliki gelar sarjana. Kemudian, sebelum memasuki bisnisnya saat ini, 69 persen dari para manajer-pemilik telah memiliki pengalaman sebelumnya, sedangkan 31 persen tidak punya pengalaman sebelumnya. Alasan yang paling penting untuk memasuki usaha adalah karena itu merupakan usaha keluarga (72%) dan 69 persen anggota keluarga dari manajer-pemilik (ayah, ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan) memiliki satu usaha.

4.1.2    Karakteristik Perusahaan
Menurut karakteristik perusahaan dari sampel yang ada, mayoritas dari perusahaan (86%) beroperasi sebagai kerjasama modal gabungan sedangkan yang lainnya merupakan hak milik tunggal dan perusahaan terbatas. Hampir 71 persen dari perusahaan yang ada disampel merupakan perusahaan yang mempekerjakan kurang dari 100 orang karyawan. Sebagian besar dari perusahaan dalam sampel merupakan perusahaan yang lebih tua dan 86 persen dari UKM berusia lebih dari 30 tahun. Sumber finansial utama mereka adalah dari tabungan pribadi (45%) dan campuran dari tabungan pribadi, pinjaman keluarga dan pinjaman bank sebanyak 32 persen dari UKM. Produksi dari perusahaan adalah setara baik untuk bagian pasar lokal dan internasional. saat ini, 36 persen dari perusahaan beroperasi sebagai usaha keluarga, sementara sisanya bukan merupakan usaha keluarga. Sebagian besar dari perusahaan memiliki dua sampai lima manajer untuk menjalankan organisasi. Kemudian, dibawah ini Tabel 1 menunjukkan kategorisasi dari industri yang terlibat (didaftar menurut White Paper ditahun 2007) dari UKM yang ada dalam sampel. Mayoritas perusahaan beroperasi dalam industri produksi fabrikasi dan metal (20.8%), serta industri mesin (13.2%).

4.2    Memeriksa Nilai-Nilai Manajer-Pemilik
Respon terhadap pertanyaan yang berhubungan dengan ukuran nilai-nilai pribadi dari manajer-pemilik dijelaskan di Tabel 2 dibawah.
Persentase jumlah responden menurut level kepentingan dari setiap butir nilai diberikan di setiap sel dengan skor rata-rata dan standar deviasinya (SD) yang bersinggungan dengan setiap nilai.
Menurut Tabel 2, persentase yang terhitung dan nilai rata-ratanya mengilustrasikan nilai-nilai mana yang paling penting dan yang kurang penting. Seperti yang ditunjukkan, 75.7% dari manajer-pemilik UKM telah mengindikasikan “kepercayaan” sebagai nilai yang paling penting. Ini kemudian diperkuat dengan nilai rata-ratanya yang tinggi (4.74) dan SD terendah (0.49). Ambisi berada di tempat kedua dengan nilai rata-rata 4.52 9SD = 4.52) dan tanggungjawab ada di tempat ketiga dengan nilai rata-rata 4.51 (SD – 0.56). Sebagai tambahan untuk ketiga nilai-nilai manajer-pemilik ini, satu lagi butir nilai keempat telah mencetak skor diatas 4.40 (rata-rata). Butir-butir nilai ini adalah pencapaian, kesetiaan, energi, serta kreatifitas. Level nilai-nilai manajer-pemilik yang lebih tinggi dalam kehidupan kerja mereka yang mencetak angka diatas rata-rata 4.40 ditunjukkan di Figur 2.

Disisi lain, gengsi (Rata-rata = 2.81 dan SD = 2.81) adalah nilai yang paling kurang penting dalam bisnis. Level yang juga kurang penting dari tujuh nilai manajer pemilik yang mencetak skor dibawah 3.81 (rata-rata), (antara lain gengsi, kekuasaan, jaminan sosial, optimism, kasih sayang, pengakuan sosial serta kesetaraan) didalam usaha mereka digambarkan oleh Figur 3.
Data yang telah dianalisa diatas mengungkapkan bahwa penemuan yang penting konsisten dengan literatur. Yaitu, yang merupakan nilai paling penting dari UKM manajer-pemilik adalah nilai-nilai wirausaha seperti pencapaian, otonomi, ambisi, kreativitas, energi, kesetiaan, kepercayaan, kejujuran, dan tanggungjawab ketimbang nilai-nilai konservatif. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa memiliki level nilai-nilai wirausaha yang tinggi seperti ini merupakan karakteristik baik dari sebuah perusahaan yang sukses yang sejalan dengan literatur oleh Kotey dan Meredith (1997) serta Blackman (2003).

4.3    Pengaruh Dari Karakteristik Manajer Pemilik dan Perusahaan Terhadap Nilai-Nilai
Dalam memeriksa pengaruh dari karakteristik manajer-pemilik terhadap nilai-nilai; usianya, jenis kelaminnya, status perkawinannya, kualifikasi pendidikannya serta pengalamannya dianggap sebagai karakteristik kuat; usia serta ukuran perusahaan juga dipertimbangkan. Tabel 3 dibawah menunjukkan karakteristik yang diperiksa, uji statistikal terapan dan hasil dari level yang signifikan untuk menentukan pengaruh dari karakteristik manajer-pemilik dan perusahaan terhadap nilai-nilai pribadi manajer-perusahaan.
Menurut Tabel 3, ia menggambarkan bahwa hasil dari perbedaan level-level skor rata-rata yang signifikan untuk setiap karakteristik lebih besar dari 0.05 (i. e. 0.33, 0,73, 0.36, 0.37, 0.41, 0.29, 0.81 > 0.05). Karenanya, bukti ini menunjukkan bahwa karakteristik manajer-pemilik maupun perusahaan tidak memilik pengaruh yang signifikan terhadap nilai-nilai pribadi dari para manajer-pemilik UKM.




4.4    Hubungan Antara Nilai dan Kinerja
Untuk tujuan menyelidiki hubungan antara nilai-nilai dan kinerja, tiga kategori nilai: nilai wirausaha, nilai konservatif dan nilai campuran serta lima ukuran kinerja yaitu penjualan tahunan, keuntungan tahunan, jumlah pegawai, pembagian pasar serta reinvestasi dibisnis pun dipertimbangkan.  Didalam 27 nilai yang dicantumkan dalam kuesioner, pencapaian, otomoni, ambisi, keagresifan, kekuasaan, kreatifitas, gengsi, pengakuan-sosial, kesetiaan, kepercayaan, kompetisi, resiko, pertumbuhan, inovasi, kejujuran, tanggungjawab, kerja keras dan optimism dianggap sebagai nilai-nilai wirausaha dan, kesetaraan, keamanan, kesenangan, welas asih, jaminan sosial dan kasih sayang dianggap sebagai nilai-nilai konservatif (Kotey dan Meredith 1997 ; Pushpakumari dan Wijewickrama 2009). Kemudian, dikedua kategorisasi tersebut, dalam menentukan nilai-nilai wirausaha, rangking tinggi (dengan skor “high important/cukup penting” atau “very high important/sangat penting”) untuk nilai-nilai wirausaha yang diidentifikasi diatas dan rangking rending (dengan skor “low important/tidak penting” atau “very low important/sangat tidak penting”) untuk nilai-nilai konservatif yang dipertimbangkan. Sebaliknya, untuk menentukan nilai-nilai konservatif, nilai-nilai wirausaha dengan rangking rendah serta nilai-nilai konservatif dengan rangking tinggi pun dipertimbangkan. Soal perubahan variabel dari kinerja bisnis yang diukur menggunakan skala ukuran ordinal/berurutan, tes U Mann-Whitney digunakan untuk analisanya. Untuk menentukan apakah ada hubungan yang secara statistik signifikan diantara nilai-nilai dan perubahan dalam kinerja bisnis, tes ini digunakan terpisah untuk dua grup: nilai-nilai wirausaha dan nilai-nilai campuran dengan lima variabel kinerja yang berbeda. Untuk tujuan mengidentifikasi angka rata-rata perbedaan kinerja, skor rata-rata dari tiap variabel kinerja yang dihitung untuk dua grup yang berhubungan pun dipertimbangkan. Namun perlu dicatat bahwa hanya nilai-nilai wirausaha dan nilai-nilai campuran yang dipertimbangkan, karena tidak ada responden untuk nilai-nilai konservatif.
Hasil dari tes U Mann-Whitney (arti-berekor 2) yang berhubungan dengan dua kategori nilai wirausaha dan nilai campuran ditunjukkan di Tabel 4 dibawah ini beserta rata-rata kinerja yang berhubungan.


Menurut Tabel 4 diatas, rata-rata dari nilai wirausaha manajer-pemilik untuk penjualan adalah sebesar 3.52, tetapi kombinasi dari nilai-nilai wirausaha dan konservatif para manajer pemilik adalah 3.06. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata nilai wirausaha lebih tinggi daripada nilai campuran (3.52 > 3.06). Untuk menentukan level arti dari perbedaan ini, tes U Mann-Whitney pun digunakan. Hasil dari tes ini mengungkapkan bahwa perbedaan ini secara statistik signifikan (P < 0.05). Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ketika seorang manajer-pemilik memiliki nilai-nilai wirausaha, itu akan membawa peningkatan yang lebih besar dalam penjualan produksi UKMnya.
Dalam hal variabel-variabel kinerja yang lain, rata-rata dari nilai wirausaha (3.39, 3.39, 3.36 dan 3.70) juga lebih tinggu daripada rata-rata dari nilai campuran (2.89, 3.04, 3.13 dan 3.26) dari para manajer pemilik yang secara berurutan adalah keuntungan tahunan, jumlah pegawai, pembagian pasar serta reinvestasi. Perbedaan-perbedaan ini juga secara statistik signifikan pada level 5%, selain pembagian pasar. Oleh karena itu, pada level siginifikan 5%, terungkap bahwa para manajer-pemilik dengan nilai-nilai wirausaha memiliki kinerja tinggi dalam hal penjualan tahunan, keuntungan tahunan, jumlah pegawai serta reinvestasi kedalam bisnis dibandingkan dengan para manajer-pemilik dengan nilai campuran. Namun, terbukti bahwa untuk pembagian pasar adalah berbeda, dengan level signifikannya di level 10%. Jadi, tes ini melaporkan bahwa ada hubungan yang signifikan diantara nilai-nilai personal dari manajer-pemilik dengan kinerja bisnis UKMnya.

4.5    Perbedaan Antara Nilai-Nilai Barat dan Asia
Menurut analisa nilai, kajian saat ini mengungkapkan bahwa nilai-nilai yang paling penting adalah kepercayaan, ambisi, tanggungjawab, pencapaian, kesetiaan, energi dan kreatifitas. Dalam literatur, penelitian yang dilakukan dalam konteks Barat telah mengidentifikasi bahwa para manajer-pemilik yang sukses menunjukkan suatu tipe nilai pribadi yang merujuk ke nilai wirausaha, menempatkan kepentingan yang tinggi pada ambisi, pencapaian, keandalan, tanggungjawab, kerja keras, kompetensi, optimism, inovasi, keagresifan, kejujuran, kreatifitas, pengakuan sosial, dan pertumbuhan (Rokeach 1973 ; England 1975 ; Cunningham  dan Lischeron 1991 ; Silver 1988 ; De Carlo dan Lyon 1980 ; Birch 1987). Yang menarik, penemuan dalam kajian saat ini juga konsisten dengan beberapa nilai-nilai terpenting yang ditemukan dalam konteks Barat seperti ambisi, tanggungjawab, pencapaian dan kreatifitas. Disisi lain, kepercayaan, kesetiaan dan energi juga diidentifikasikan sebagai nilai-nilai yang paling penting untuk para manajer-pemilik di Jepang, berkebalikan dengan konteks Barat. Hal ini memang seperti yang diperkirakan, dan ini logis. Alasannya mungkin adalah budaya Jepang yang unik yang membangun, kepercayaan, kesetiaan dan energi di tempat kerja. fitur-fitur vital dari manajemen Jepang seperti itu memiliki pengaruh yang kuat bagi nilai-nilai kerja. Kemudian, mendukung hal ini, kepercayaan, kesetiaan, energi, tugas, kerja keras dan hubungan cenderung menjadi nilai-nilai yang penting dalam sebuah konteks Asia, dan merupakan prioritas terdepan dalam hidup (Morris dan Schindehutte 2005). Yang mengejutkan, optimism serta pengakuan sosial yang ditempatkan diatas dalam konteks Barat telah menjadi kurang begitu penting di Jepang. Ini merupakan perbedaan yang sangat mencolok dari konteks Barat dan Asia. Penemuan-penemuan ini bisa membantah kebutuhan akan model-model pengusaha/manajer-pemilik UKM yang berbeda yang nilai-nilainya spesifik dengan budaya, seperti misalnya model Asia dan barat untuk menjadi lebih bisa diterapkan.
Kajian ini mengindikasikan bahwa nilai-nilai pribadi dari manajer-pemilik dengan kinerja bisnis memang secara empiris berhubungan. Penemuan besar ini konsisten dengan studi sebelumnya yang dilakukan di Australia (Kotey dan Meredith 1997). Mereka juga menemukan bahwa para manajer-pemilik yang memiliki nilai-nilai wirausaha, memiliki kinerja yang tinggi yang juga sangat sejalan dengan studi ini.

5. Kesimpulan
Merskipun ada beberapa pembatasan, ada tiga kesimpulan penting yang ditarik dari kajian ini yang dapat memberikan pemahaman yang berguna untuk perkembangan teori yang sedang berjalan serta praktek-praktek manajemen disektor UKM.
Pertama, penelitian menunjukkan bahwa level nilai wirausaha yang tinggi dari manajer-pemilik membawa kepada tercapainya peningkatan kinerja bisnis, sedangkan nilai campuran dari manajer-pemilik membawa kepada tercapainya kinerja perusahaan yang sedang-sedang/rata-rata. Oleh karena itu, dapat digeneralisasikan bahwa nilai-nilai pribadi dari manajer-pemilik memang secara empiris berhubungan dengan kinerja usaha dalam UKM manufaktur. Untuk lebih spesifiknya, berdasarkan pada level kepentingan dari setiap variabel kinerja, kesimpulan yang ditarik adalah bahwa ada hubungan yang signifikan diantara nilai-nilai pribadi dengan penjualan, keuntungan, jumlah pegawai, dan reinvestasi dibisnis. Namun, ada hubungan yang lumayan signifikan antara nilai-nilai pribadi dengan pembagian pasar. Variabel-variabel kinerja ini diukur dalam konteks tren tiga tahun belakangan.
Kedua, level paling penting dari rangking nilai manajer pemilik yang tinggi adalah “kepercayaan”. Sebagai tambahan, tujuh nilai paling penting dari para manajer-pemilik dalam kehidupan kerja UKM mereka, dari rangking yang tertinggi adalah kepercayaan, kemudian disusul dengan ambisi, tanggungjawab, pencapaian, kesetiaan, energi dan kreatifitas. Sebaliknya, tujuh nilai dengan level kepentingan paling rendah dengan urutan dari nilai rata-rata paling rendah adalah gengsi, kekuasaan, jaminan sosial, optimism, kasih sayang, pengakuan sosial, dan kesetaraan. Dibandingkan dengan konteks Barat, perbedaan yang vital adalah bahwa kepercayaan, kesetiaan dan energi diidentifikasi sebagai nilai-nilai yang paling penting di Jepang. Pada saat yang sama, optimisme dan pengakuan sosial dianggap sebagai nilai yang paling kurang penting di Jepang tetapi dianggap sebagai nilai-nilai terpenting dalam konteks Barat.
Yang terakhir, diindikasikan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari karakteristik manajer-pemilik atau perusahaan mereka terhadap nilai-nilai pribadi mereka di UKM.
Hasil studi ini haruslah diinterpretasikan dibawah cahaya pembatasan yang jelas. Satu pembatasan dari studi ini adalah bahwa hasilnya juga merupakan subyek terhadap pembatasan-pembatasan yang berhubungan dengan semua survei via surat berkenaan dengan keandalan serta akurasi dari informasinya.
Ada kebutuhan untuk penelitian dimasa yang akan datang, untuk mengulangi penemuan-penemuan diatas dengan menggunakan ukuran-ukuran kinerja bisnis multidisipliner dan juga menerapkannya pada industri-industri lain. Disisi lain, perlu juga menyelidiki dampak dari nilai-nilai manajer-pemilik terhadap praktek manajemen UKM. Kemudian, untuk tujuan mengisi celah dalam penelitian, penting untuk melakukan sebuah riset komparatif untuk mengeksplorasi perbedaan-perbedaan diantara nilai-nilai barat dan timur dari para manajer-pemilik UKM.

Referensi
Allport, G. W. (1981), Pola dan Pertumbuhan dalam Kepribadian, New York: Holt, Rhineheart dan Wintson.

Bamberger, I. (1983), Sistem Nilai, Strategi dan Kinerja dari Perusahaan-Perusahaan Ukuran Kecil dan Mendium, Jurnal Usaha Kecil Internasional, 1 (4) (musim panas), 25-39.

Bandura, A. (1986), Fondasi Sosial dari Pemikiran dan Tindakan, Englewood-Cliffs, New Jersey, Prentice Hall.

Birch, D. L. (1987), Yankee Doodle Dandy, Inc. 9 (Juli), 33-36.

Bird, D. (1989), Perilaku Wirausaha, London: Scott Foresman & Co.

Blackman, A. J. (2003), Pengusaha: Intra-hubungan Antara Karakteristik, NIlai, Ekspektasi, Praktek Manajemen Mereka dengan Kinerja UKM, Disertasi Doktoral yang Tidak Diterbitkan, Griffith University, Australia.

Bryan, L. (1999), Pengusaha India-Amerika: Reservasi Rosebud dan Pine Ridge, Studi Kasus, Pablo, MT: Salish Kootenai College Press.

Cauthorn, R. C. (1989), Kontribusi Kepada Sebuah Teori Wirausaha, New York: Garland Publishing.

Kementrian Ekonomi, Edisi Perdagangan dan Industri (2007), Sensus Manufaktur, Tokyo: Biro Print Nasional.

Cunninghal, J. B. dan J. Lischeron (1991), Mendefinisikan Wirausaha, Jurnal Manajemen Usaha Kecil, 29 (1), 450-461.

DeCarlo, J. F. dan P. R. Lyon (1980), Menjuju Sebuah Teori Kontingensi Kewirausahaan, Jurnal Manajemen Usaha Kecil, 18(3), 37-42.

England, G. W. (1975), Manajer dan Nilainya: Sebuah Prospektif Internasional dari Amerika Serikat, Jepang, Korea, India dan Australia, Cambridge, Massachusetts, Ballinger Publishing Co.

Feather, N. T. (1988). Dari Nilai ke Tindakan: Lamaran Model Ekspektansi Nilai yang Dikirim Ulang, Jurnal Psikologi Australia, 40(2), 105-124.

Gasse, Y. (1977), Praktek dan Karakteristik Wirausaha: Studi Dinamika Usaha Kecil dan Keefektifannya dalam Lingkungan yang Berbeda, Sherbrooke, Quebec: Rene Prince.

Godsell, G. (1991), Pengusaha Diserang: Halangan menuju Kewirausahaan di Afrika Selatan Dalam Budaya Kewirausahaan. Dalam B. Berger, ed. Budaya Kewirausahaan, San Francisco, CA. ICS Press.

Greely, G. (1986). Apakah Perencanaan Strategis Meningkatkan Kinerja Perusahaan?, Perencanaan Jangka Panjang, 19 (2), 101-109.

Hebert, R. F. dan A. N. Link (1988). Pandangan Umum dan Kritik Radikal tentang Pengusaha, (Edisi kedua). New York, NY: Praeger Publishers.
Higgins, E. (2000). Membuat Keputusan yang Baik: Nilai dari Fit. Psikolog Amerika, 55, 1217-1230.

Hofstede, G. (2001), Konsekuensi Budaya: Membandingkan Nilai, Perilaku, dan Organisasi di Negara-Negara, Sage Publishing.

Kamakura, W. A. dan J. Mazzon (1991), Segmentasi Nilai: Sebuah Model untuk Pengukuran Nulai dan Sistem Nilai, Jurnal Riset Konsumen, (September) 18, 208-217.
Kilby, R. W. (1993), Studi Terhadap Nilai-Nilai Manusia, Lanham, M. D: University Press of America.

Kluckhorn, C. (1951), Nilai-Nilai dan Orientasi Nilai dalam Teori Tindakan, Dalam T. Parsons dan E. A. Shields, ed. Menuju Teori Umum Tindakan, Cambridge, MA, Harvard University Press.

Kotey, B. dan G. G. Meredith (1997), Hubungan Diantara Nilai-Nilai Pribadi, Strategi Bisnis, dan Kinerja Perusahaan Manajer/Pemilik, Jurnal Manajemen Usaha Kecil, April, 35(2), 37-61.

Lipset, S. M. (2000), Nilai-Nilai dan Kewirausahaan Dalam Diri Orang-Orang Amerika, Dalam R. Swedberg, ed. Kewirausahaan: Pandangan Ilmu Sosial, Oxford, U.K: Oxford University Press.

Lumpkin, G. T. dan G. G. Dess (1995), Kesederhanaan Sebagai Sebuah Proses Pembuatan Strategi: Dampak dari Kondisi Pengembangan Organisasional dan Lingkungan Terhadap Kinerja, Jurnal Akademi Manajemen, 38(5), 1386-1407.

Mangaliso, M. (2001), Membangun Keuntungan Kompetitif Dari Ubuntu: Pembelajaran Manajemen dari Afrika Selatan, Eksekutif Akademi Manajemen, 15(3), 23-35.

McClelland, D. C. (1961), Masyarakat yang Berprestasi, New York: Free Press.

McClenahen, D. C. (1991). Orang-Orang (masih) Keuntungan Kompetitif, Mingguan Industri, 240 (6 Mei), 54-57.

McGrath, R. I. MacMillan, dan S. Scheinberg (1992), Para Elitis, Pengambil-resiko, dan Individu yang Kasar? Sebuah analisa eksploratori tentang perbedaan budaya antara pengusaha dan non pengusaha, Jurnal Permodalan Bisnis, 7, 115-135.

Morris, M. dan M. Schindehutte (2005), Nilai-Nilai Wirausaha dan Perusahaan Etnik: Sebuah Pemeriksaan Enam Subkultur, Jurnal Manajemen Usaha Kecil, 43(4), 453-479.

Morris, M. dan M. Schindehutte, dan J. Lesser (2002), Kewirausahaan Etnik: Apakah Nilai itu Penting?, Jurnal Kewirausahaan New England, Musim Gugur 5(2), 35-46.

Murphy, G. D. J. W. Trailer, dan R. C. Hill (1996), Mengukur Kinerja Dalam Penelitian Kewirausahaan, Jurnal Penelitian Bisnis, 36, 15-23.

O’Farrell, P. N. dan D. W. N. Hitchins (1988), Teori-Teori Alternatif Tentang Pertumbuhan Perusahaan Kecil: Sebuah Ulasan Kritis, Lingkungan dan Perencanaan, 20, 1365-1382.

Pallant, J. (2001), SPSS Manual untuk Pertahanan, Open University press, Maidenhead, Philadelphia.

Pushpakumari, M. D. dan A. K. A. Wijewickrama (2008), Perencanaan dan Kinerja Organisasi UKM: Bukti dari Jepang, Konferensi Internasional tentang Pendidikan Bisnis dan Manajemen, Bangkok, Thailand.

Pushpakumari, M. D.  dan A. K. A. Wijewickrama (2009), UKM Jepang: Apakah Nilai Berdampak Pada Perencanaan dan Kinerja? Konferensi Internasional tentang Bisnis dan Manajemen, Universitas Sri Jayawerdenapura, Sri Lanka.

Ramanujam, V., N. Venkatraman, dan J. Camillus (1986), Tujuan Berdasarkan Evaluasi Sistem Perencanaan Strategi, Jurnal Ilmu Manajemen Internasional, 29, 299-306.

Reid, G. C. dan J. A. Smith (2000), Apa Yang Membuat Sebuah Bisnis Baru Mengawali Dengan Sukses?, Ekonomi Usaha Kecil, 14, 165-182.

Rokeach, M. (1967), Survei Nilai, Palo Alto, CA. Consulting Psychologists Press.

Rokeach, M. (1972), Kepercayaan, Sikap dan Nilai: Teori Tentang Organisasi dan Perubahan, San Francisco, CA: Jossey-Bass.

Rokeach, M. (1973), Kondisi Alami dari Nilai Manusia, London: The Free press, Collier, McMillan Publishers.

Schumpeter, J. A. (1950), Kapitalisme, Sosialisme, dan Demokrasi, New York: Harper dan Row Publisher.

Schwartz, S. H. (1992), Universal Dalam Konten dan Struktur dari Nilai: Kemajuan Teoritis dan Uji Empiris di Abad Dua Puluh, Kemajuan Dalam Psikologi Sosial Eksperimental, 25, 1-62.

Silver, D. A. (1988), Sebuah Potret Pengusaha, Akuntansi (UK), 102 (Februari), 77-80.

Thompson, A. A. dan A. J. Strickland III (1986), Formulasi Strategi dan Implementasi Tugas General Manajer, Plano, Texas, Business Publications, Inc.

Tosi, H. dan L. Gomez-Mejia (1994), Pemantauan Kompensasi CEO dan Kinerja Perusahaan, Jurnal Akademi Manajemen, 37 (4), 1002-1016.

Venkatraman, N. dan V. Ramanujam (1986), Ukuran dari Kinerja Bisnis dalam Penelitian Strategi: Sebuah Perbandingan Pendekatan, Kajian Akademi Manajemen, 1(4), 801-814.

Venkatraman, N. dan V. Ramanujam (1987), Diversifikasi dan Kinerja: Pemeriksaan Ulang Menggunakan Konseptualisasi Dua Dimensi Baru Tentang Keberagaman di Perusahaan, Jurnal Akademi Manajemen, (Juni), 380-393.

White Paper (2007), Perusahaan Kecil dan Medium di Jepang, Insititut Penelitian Usaha Kecil Jepang.

Williams, R. M. (1968), Nilai Dalam Ensiklopedia Ilmu Sosial, ed. D. Sillis, New York: McMillan, 203-207.

Zacharakis, A. L., H. M. Neck, W. D. Hygrave, dan L. W. Cox (2002), Pantauan Kewirausahaan Global, Wellesley, MA: Babson College.


You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:245 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:894 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:115 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:240 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:135 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:404 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:298 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:234 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:176 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:719 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 55 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com