spocjournal.com

Konsep Harmoni Confucius Dan Kesuksesan Perusahaan

Diterjemahkan oleh : Drs.Ongky Setio Kuncono,MM,MBA

Abstrak: Makalah ini mengajukan argument bahwa dengan menggunakan konsep Confucius tentang harmoni sebagai maksud strateginya sebuah perusahaan dapat menjadi sukses sekaligus etis. Menggunakan karya Peter F. Drucker, Michael Porter, dan Gary Hamel dan C. K. Prahalad, makalah ini mendiskusikan peran dari maksud strategi sebagai faktor yang berkontribusi terhadap suksesnya perusahaan. Makalah ini kemudian juga mendiskusikan bagaimana konsep Confucius tentang harmoni memenuhi konsep tentang maksud strategi dan bagaimana harmoni dapat memberikan kontribusi kepada perkembangan dari sebuah organisasi yang etis dan sukses. Makalah ini ditutup dengan sebuah diskusi singkat tentang penerapan etika Confusius dalam industri jasa finansial.

1.    Pengantar
Jatuhnya industry jasa finansial di Amerika Serikat telah mengirimkan gelombang keterkejutan ke seluruh ekonomi global. Ekonomi dunia mengalami resesi. Perusahaan-perusahaan harus melakukan penghematan besar-besaran, pegawai-pegawai di-PHK dan berapa lama serta berapa dalamnya kemunduran masih tidak diketahui. Sementara ini terjadi, para bankir Wall Street telah menghadiahi diri mereka sendiri dengan bonus-bonus yang jumlahnya mencapai lebih dari $ 18 miliar (Dash dan Bajaj, 2009). Meskipun pemberian bonus mungkin bukanlah hal yang illegal, tetapi hal itu tidaklah logis. Tahun 2008 sama sekali bukan tahun yang bagus bagi jasa finansial Amerika Serikat. Industry jasa finansial berada dalam kehancuran. Bank-bank Amerika telah menerima bantuan senilai miliaran dolar dan diperkirakan akan membutuhkan lebih banyak lagi. Banyak perusahaan termasyur yang bahkan harus gulung tikar dan lainnya dipaksa untuk merjer dengan perusahaan lain. Meskipun begitu, para bankir telah menemukan sumber-sumber untuk menghadiahi diri mereka sendiri untuk “kinerja yang bagus.”

Makalah ini akan membuktikan bahwa konsep Confusius tentang harmoni dapat memberikan kontribusi kepada baik susksesnya perusahaan maupun moral perilaku. Harmoni Confusius bukan berarti keseragaman dan kemotononan. Perbedaan dan ketidaksetujuan adalah aspek normal dalam kehidupan. Dengannya disambut keberagaman dan perbedaan. Apa yang diperlukan oleh harmoni adalah pengelolaan perbedaan dan keberagaman untuk kesuksesan bersama. Harmoni bertujuan utnuk membangun institusi dan individu yang sukses. Ketika diaplikasikan kepada aktifitas bisnis, harmoni dapat memberikan kontribusi dalam membentuk industri-industri yang kuat, perusahaan-perusahaan yang sukses dan individu-individu yang bermoral. Singkat kata, orang baik membuat bisnis baik.

Maksud Strategi
Lebih dari lima puluh tahun yang lampau, Drucker mendefinisikan tujuan dari perusahaan sebagai institusi yang fokus kepada pelanggan (1954). Dalam pandangannya, pelanggan mendefinisikan nilai melalui pembelian produk dan jasa dari suatu usaha. Misi dari perusahaan adalah untuk menyediakan produk-produk yang diperlukan pelanggan dengan memenuhi kebutuhan yang ada saat ini dan mengantisipasi kebutuhan yang mungkin muncul di masa yang akan datang. Menurut Drucker, persyaratan fundamental bisnis adalah pengetahuan  dan pemahaman. Untuk bisa memahami situasi bisnis dengan baik, suatu perusahaan perlu memiliki pengetahuan tentang lingkungannya, kemampuannya dan gangguan yang berpotensi muncul untuk menyamai diantara keduanya (1994). Lebih jauh, kesuksesan itu bergantung pada inovasi. Inovasi itu sendiri berdasarkan pada pengetahuan dan pemahaman dan memungkinkan perusahaan untuk terus menjadi kompetitif. Inovasi tidaklah bersifat sinonim terhadap perubahan meskipun inovasi sering berarti perubahan. Inovasi adalah kemampuan untuk mengembangkan secara komersial sebuah metode atau penemuan organisasional yang baru, dimana komersialisasi mencerminkan penerimaan pasar terhadap apa yang baru (1985). Bagi Drucker, maksud strategi adalah “teori perusahaan” yang menyadari kesejajaran kemampuan perusahaan dengan kebutuhan pelanggan.

Hamel dan Prahalad memfokuskan kepada konsep maksud strategi dan kompetensi-kompetensi inti. Maksud strategi adalah kondisi organisasional di masa depan yang ditetapkan secara tidak tepat.


“Perusahaan yang telah naik dalam kepemimpinan global. . .dimulai dengan ambisi yang diluar proporsi sumber daya mereka. Tetapi ambisi-ambisi ini menciptakan sebuah obsesi terhadap kemenangan di semua level organisasi dan ini mempertahankan obsesi tersebut dalam kurun waktu 10-sampai-20 tahun perjalanan pencarian akan kepemimpinan global. Kami memberi istilah pada obsesi ini ‘maksud strategi.’ (1989, p. 64).
“Mimpi yang memberi energi pada perusahaan… Maksud strategi adalah isitilah kami bagi mimpi yang hidup semacam itu… Saripati dari arsitektur strategi perusahaan, maksud strategi juga menyiratkan sebuah sudut pandang yang khusus tentang pasar jangka panjang atau posisi kompetitif yang ingin dibangun sepanjang dekade yang akan datang. Karenanya ia membawa satu rasa akan penemuan. Maksud strategi memiliki tepi yang emosional; tujuan yang dilihat pegawai sebagai sesuatu yang secara inheren bermanfaat. Karenanya ia menyiratkan suatu rasa akan takdir” (1994, p. 129).


Maksud strategi menyediakan arahan, fokus dan motivasi bagi keseluruhan organisasi. Sebagai tambahan, maksud strategi memainkan peranan sebagai konsep yang mengatur dalam arsitektur perusahaan dan perkembangan organisasional.

Jika maksud strategi adalah energi organisasional dan motivasional di organisasi, kompetensi-kompetensi intinya adalah fondasinya. Sementara kesuksesan langsung  merupakan hasil dari penerimaan pasar terhadap penawaran produk atau jasa saat ini, kesuksesan masa depan bergantung pada kemampuan untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan pasar, kebutuhan pelanggan dan kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk berkembang kemampuan organisasional yang diperlukan untuk mengembangkan produk-produk yang sukses.


“Perusahaan yang berjenis-jenis adalah suatu pohon yang besar. Batang dan dahan-dahannya adalah produk-produk intinya, ranting-ranting yang lebih kecil adalah unit-unit bisnisnya, daun-daun, bunga-bunga dan buahnya adalah produk hasil akhirnya. Sistem akar yang menyediakan makanan, nafkah, dan stabilitas merupakan kompetensi intinya. . .

Kompetensi-kompetensi intinya adalah pembelajaran kolektif di dalam organisasi, khususnya bagaimana mengkoordinasi kemampuan-kemampuan produksi yang beragam dan menyatukan aliran teknologi yang banyak jumlahnya. . .
Jika kompetensi inti pada intinya adalah tentang mengharmonisasikan aliran-aliran teknologi, ia juga adalah tentang organisasi kerja dan pengantaran nilai” (1990, p. 82).


Oleh karena itu, perusahaan yang sukses terorganisir secara hirarki dan harmonis dari kompetensi-kompetensi melalui produk hasil akhir. Semua kompetensinya menyediakan dasar-dasar yang memungkinkan perusahaan untuk mengeksekusi maksud strateginya karena maksud tidak akan pernah disadari kecuali jika organisasi memiliki keahlian dan kemampuan untuk mencapai takdir yang diinginkannya.

Sebagai tambahan, Hamel dan Prahalad tidak hanya menekankan pengambilalihan dan pengembangan kompetensi-kompetensi inti, tetapi juga bahwa perusahaan-perusahaan yang sukses haruslah menggunakan hubungan luar untuk lebih jauh mendapatkan atau mengembangkan kompetensi inti kritis. (1990, p. 80) Mereka merekomendasikan untuk melihat secara eksternal bagi para mitra yang dapat membantu meningkatkan usahanya. Perusahaan-perusahaan yang dikelola dengan buruk melihat hubungan eksternal sebagai sumber-sumber masukan atau pemotongan biaya. Sementara hal ini penting sifatnya, perusahaan yang dikelola dengan baik juga mencari kemitraan yang dapat membantu dalam perawatan dan akuisis akan pengetahuan kritis. Perusahaan yang dikelola dengan baik adalah organisasi yang melihat ke dalam dan ke luar dimana pelanggan merupakan pembenaran bagi semua hubungan internal dan eksternal.

Etika dan Harmoni Confusius
Confusianisme adalah salah satu filsafat dan sistem etika utama di dunia disamping juga Agama . Dengan menghadapi resiko penyederhanaan berlebihan, mungkin dapat dirangkum dengan satu kata: pengetahuan. Pembelajaran yang Hebat, contohnya, memerlkukan individu yang bermoral untuk “menyelidiki hal-hal” dan untuk memahami “apa yang merupakan akarnya dan apa yang merupakan ranting.” Semua pemahaman Confusius didasarkan pada pengetahuan. Para individu tidak dapat menjadi bermoral, peningkatan-diri adalah hal yang mustahil, dan hubungan-hubungan tidak dapat diadakan tanpa pengetahuan. Fundamental bagi Confusianisme adalah kebajikan. Philip Ivanhoe mendeskripsikan Confusianisme sebagai konsekuensionalisme karakter. “Konsekuensionalisme karakter mengakui bahwa hasrat akan kebajikan-kebajikan tertentu biasanya membawa kepada realisasi dari konsekuensi-konsekuensi tertentu yang baik yang disebut diatas dan diluar kepemilikan kebajikan itu sendiri” (2001, p. 56, ditulis miring di versi aslinya). Biasanya adalah kualifikasi penting. Perilaku yang baik sering membawa kepada hasil yang baik tetapi bahkan jika bukan itu yang terjadi, tetaplah baik untuk menjadi baik. Perilaku buruk tidak bisa membawa kepada hasil yang baik.

Etika Confucius menerapkan beberapa prinsip penting – tanggung jawab dan perkembangan individu, hubungan-hubungan, dan perilaku yang layak menekankan nilai moral – semuanya membawa kepada individu-individu yang bernilai moral, hubungan yang sehat dan pada akhirnya harmoni. Fokus utama dari etika Confusius adalah perkembangan moral dari individu manusia. Adalah kewajiban moral dari individu manusia untuk mengembangkan karakter yang baik dengan mendapatkan pengetahuan moral dan melalui pengembangan-diri, yang dapat didapat hanya melalui pembelajaran dan praktek. Perilaku didasarkan pada nilai-nilai seperti kebajikan, kebenaran, hormat, kepercayaan dan aturan emas. Namun, sementara para individu haruslah bermoral, perilaku adalah selalu rasional. Hubungan-hubungan didasarkan pada nama, seperti hubungan Confusius yang terkenal yaitu hubungan ayah/anak, teman/teman, atasan /bawahan,guru /murid dll

Nama menunjukkan bagaimana orang semestinya berlaku terhadap sesamanya dalam suatu hubungan dan nama didasarkan pada pengetahuan moral dan teknis, dimana pengetahuan teknis adalah pengetahuan yang diperlukan untuk melaksanakan nama tertentu dengan tepat. Sementara pengetahuan teknis penting sifatnya, pengetahuan moral yang membimbing pelaksanaannya. Orang-orang yang bermoral harus memenuhi nama mereka dengan tepat. Untuk melakukannya, seseorang harus hidup dengan melaksanakan nilai-nilai dan mematuhi aturan emas. Perilaku yang bermoral haruslah mengakui bahwa hubungan-hubungan bersifat timbal-balik dan seringnya didasarkan pada saling ketergantungan, dimana pemenuhan yang layak dari semua nama-nama dapam hubungan tergantung pada dilaksanakannya tiap nama dengan tepat. Kebajikan menuntut para individu dalam hubungan timbal-balik untuk menjadi suportif dan mendukung hubungannya sertia pada akhirnya meninggalkan para anggota hubungan dalam keadaan yang lebih baik, atau setidaknya, tidak lebih buruk dari sebelumnya. Aturan emas bersifat fundamental bagi Confusianisme. “Tsze-kung bertanya, ‘Apakah ada satu kata yang bisa menjadi peraturan praktek bagi keseluruhan hidup seseorang?’ Sang Master menjawab, ‘Tidakkah TIMBAL-BALIK merupakan kata itu? Apa yang tidak ingin dilakukan padamu, jangan lakukan pada yang lain” (Analects, XV, xxiii, p. 301). Penerapan dari nilai-nilai kebajikan Confusius dan aturan emas mengarahkan para individu untuk bertindak dalam hubungan untuk keuntungan bersama bagi semua anggota dari hubungan dan tidak hanya untuk individu sehingga kesuksesannya bersifat kolektif dan timbale-balik.

Penekanan pada nama-nama dan hubungan-hubungan telah diberai label masyarakat gadai (Lu, 2001). Dalam pandangan ini “komunitas gadai beralaskan pada “nilai-nilai yang dapat dibagi’. Nilai-nilai ini adalah ‘saling menghormati, pembagian kerja, pluralism, hirarki alami dan koeksistensi yang damai” (Lu, pp. 85-86). Kepercayaan (Xin) merupakan nilai cardinal yang mendukung hubungan gadai karena tanpa kepercayaan, hubungan timbal-balik tidak dapat berfungsi untuk keuntungan bersama.



(K)ita dapat membayangkan bahwa gadai atau komunitas xin akan menjadi satu dimana hubungan manusia akan dibangun dengan dasar kepercayaan yang setara (xin ren) dan gengsi yang patut dipuji (xin yu) yang diperoleh hanya dari nilai-nilai dari membawa beban dari komitmen seseorang dan menjaga keredibilitas (xin yong) seseorang, mengatur toko yang hebat dengan komitmen yang benar (xin yi), memperkatakan hati-pikiran seseorang dan kebenaran dan kesetiaan (xin shi), dan kemampuan untuk dipercaya (ke xin) dan kehandalan atau kemampuan untuk diandalkan (xin lai)… Untuk menjelaskan skenario ini dalam istilah-istilah Meng Zi (Mencius), manifestasi dari budi luhur, dimana xin adalah salah satunya, sangatlah dihargai dan benar-benar dimuliakan (Lu, pp.89-90).


Sementara semua anggota dari masyarakat gadai dikehendaki berperilaku dengan moral yang tinggi, nilai-nilai yang dimiliki bersama tentang hirarki alami dan pembagian tuntutan kerja lebih diperlukan, hingga para pempimpin berperilaku dengan etis. Dalam hubungan hirarki yang dikarakteristikkan dengan pembagian kerja, kekuasan dan aliran tanggung jawab mengalir ke atas. Dalam situasi ini semakin tinggi posisi seseorang dalam organisasi, semakin besar kontrol dan pengaruh yang dimilikinya dan semakin besar perilakunya berdampak pada orang-orang di bawahnya. Konsekuensinya, kebutuhan akan kepercayaan menjadi lebih penting, karena mereka yang berada di bagian hubungan yang lebih rendah memiliki kontrol yang lebih sedikit daripada mereka yang diatas.

Dalam hal ini, pembetulan nama-nama menjadi satu konsep Confusius yang sangat penting. Seperti pengamatan Confusius, jika sebuah hubungan tidak berjalan dengan layak, itu adalah karena nama-namanya tidak dipenuhi dengan tepat. Apa yang tidak tepat itu harus dibetulkan dan dikoreksi. Ketika nama-namanya dilakukan dengan tepat, hubungan akan berjalan dengan efektif. Ketika hubungannya tepat mereka akan menguntungkan semua pihak dalam hubungan tersebut. Jadi penganut Confusianisme memahami bahwa untuk mecapai hasil yang baik, hubungan haruslah sama-sama menguntungkan semua pihak di dalam hubungan tersebut. Ini membuat mereka kemudian skeptis tentang keuntungan individu. Meskipun diijinkan bagi individu untuk mendapat keuntungan, tapi ini haruslah tidak dengan  merugikan anggota lain dalam hubungan.



“Yang mulia. . . (a)pakah inti dari penyebutan kata “keuntungan”? Yang penting adalah bahwa ada kebajikan dan kebenaran. Jika Yang Mulia berkata, ‘Bagaimana aku dapat menguntungkan negaraku?’ dan seseorang serta pengacara berkata, ‘Bagaimana aku dapat menguntungkan orangku?’ maka yang diatas dan dibawah akan mencoba untuk mendapat keuntungan dengan merugikan yang satu sama lain dan Negara pun akan dibahayakan” (Lau, 1970, p. 49).
“Sekarang jika kamu mesti mempraktekkan kebajikan dalam pemerintahan negaramu, maka mereka dalam kerajaan yang mencari jabatan di kantor ingin menemukan tempat di kerajaanmu, semua pedagang ingin untuk menikmati perlindungan pasarmu, semua musafir ingin untuk pergi melalui jalanmu dan semua yang membenci penguasa mereka ingin untuk menyuarakan keluhan mereka kepadamu. Dengan begini, siapa yang bisa menghentikanmu menjadi raja yang sesungguhnya” (Lau, 1970, p. 58).


Kutipan dari Mencius diatas, karya awal Confusius klasik, mengilustrasikan beberapa aspek penting dari etika Confusius. Perilaku individu didasarkan pada nilai-nilai kardinal kebajikan dan kebenaran. Suatu hubungan haruslah menguntungkan bagi semua anggotanya. Para anggota senior harus memainkan peran yang khususnya penting dalam penciptaan masyarakat yang bermoral dengan mendemonstrasikan contoh yang baik. Confusianisme adalah etika kepemimpian yang memandang hirarki sebagai aturan yang alami. Oleh karena itu, jika menginginkan hubungan-hubungan dan masyarakat yang sukses, sangat penting bagi para pemimpin untuk menjadi orang yang baik. Pemimpin senior memang berkuasa dan kekuasaan harus dijalankan demi kepentingan dirinya dan mereka-mereka yang berada dalam tanggung jawabnya. Jika tidak, hubungan-hubungan dan organisasi tidak akan saling menguntungkan bagi semua pihaknya dan hasil yang baik tidak akan bisa didapat.

Ini membawa kita kepada diskusi tentang harmoni Confusius. Dalam konteks metafisika, harmoni adalah kesejajaran dari surga, bumi dan manusia menuju “mandat surgawi.” Dalam kondisi ini, semua hubungan dipenuhi dengan tepat dan semua hal berada dalam keseimbangan sempurna. Ini adalah kondisi yang harus diperjuangkan dan dicapai umat manusia. Ini mengilustrasikan esensi dari harmoni. Ini adalah tentang mengorganisir dan membawa bagian-bagian yang berbeda kepada hubungan yang kooperatif. Harmoni bukanlah tentang kesamaan; ia menyambut perbedaan dan keberagaman, selama yang berbeda dan beragam bergerak menuju kerja sama demi keuntungan bersama (li, p. 583).

Dalam Confusius Klasik awal, harmoni diilustrasikan dengan musik. Yang dibutuhkan untuk menciptakan musik adalah beragam instrumen musik yang berbeda-beda dimainkan bersamaan. Setiap instrumen membuat suara yang berbeda dan harus dimainkan oleh musisi yang berkemampuan. Dalam musik, perbedaan dapat digabungkan untuk menciptakan harmoni selama para musisinya memahami prinsip-prinsip bermusik dan mau menerapkannya dalam usaha kooperatif untuk keuntungan bersama para musisi dan penonton. Jika kita melanjutkan analogi ini, seorang musis dan instrument dapat menciptakan satu harmoni dengan memainkan nada-nada musik yang berbeda dengan tepat dan beberapa musisi dan instrumen dapat mencapai tujuan yang sama dengan bertindak serupa. Dalam hidup, seperti juga dalam music, para individu perlu berjuang untuk berlaku dengan tepat dan mencari hubungan yang harmonis untuk keuntungan bersama.

Namun, hidup tidaklah sesederhana itu dimana dalam semua situasi para individu memahami dan menerima tujuannya dan mau bekerja sama untuk mencapainya. Konflik merupakan bagian dari kehidupan manusia. Penganut Confusius juga memahami hal tersebut. Confusius ada dan harus dikelola dengan sukses. Sering, Confusianisme ditampilkan sebagai harmoni yang mendukung diatas semua hal lainnya. Ini adalah interpretasi stereotipikal. Meskipun harmoni memang merupakan nilai Confusius yang penting, etika Confusius mengakui ketidak setujuan dan perdebatan dan menyediakan metode manajemen konflik untuk menghadapinya (Leung et al., 2002). Orang-orang yang berakal sering tidak setuju tentang banyak hal. Yang penting adalah bagaimana pendekatan orang tersebut terhadap konflik dan ketidak setujuan. Jika ketidak setujuan dan perdebatan didekati dalam semangan kepercayaan, kerja sama dan kepentingan bersama, yang merupakan sifat-sifat fundamental Confusianisme, maka pengembangan-diri, perkembangan hubungan dan keuntungan bersama akan dapat muncul dalam proses dialektal dari interaksi. Meskipun harmoni adalah satu tujuan penting dalam hubungan manusia, ia tidak harus dicapai dengan mengorbankan kebajikan dan kebenaran, dia nilai-nilai kardinal Confusius. Dalam diskusi yang disebutkan diatas Mencius dengan jelas – meskipun dengan sopan dan penuh hormat – memberitahu raja tentang pentingnya kebajikan dan kebenaran. Tidak ada yang melebihi keduanya, bahkan tidak juga harmoni.

‘Seorang manusia yang menjagal kebajikan adalah tukang jagal, sementara orang yang  melumpuhkan kebenaran adalah tukang pukul. Ia yang merupakan keduanya adalah ‘orang buangan.’ Saya memang telah mendengar tentang hubungan pengasingan ‘Tchou’, tetapi saya belum pernah mendengar tentang pembuhuhan raja” (1. B: 9).


Bagi Mencius, nilai-nilai kardinal kebajikan dan kebenaran merupakan nilai dengan kepentingan tertinggi dan tidak dapat dikalahkan oleh harmoni. Sebaimana kutipan diatas menganjurkan bahwa penghilangan pemimpin yang tidak bermoral yang melanggar nilai-nilai ini adalah diijinkan dan, mungkin, diperlukan. Kepemimpinan yang buruk seharusnya tidak dihadiahi.


2. Penerapan Etika Confusius dalam Bisnis
Penerapan etika Confusius memiliki implikasi yang penting bagi kesuksesan manajemen bisnis. Jika kita melakukan pendekatan terhadap manajemen dari sudut pandang hubungan manusia, sangatlah berguna untuk memandang bisnis sebagai satu seri kompleks dari hubungan spesifik yang harus dilakukan dengan tepat jika suatu perusahaan ingin sukses. Hubungan-hubungan ini berprogres dari hubungan antara pekerja, ke hubungan antar perusahaan, sampai hubungan antara perusahaan dan pelanggan. Supaya hubungan bisa dilakukan dengan baik, mereka haruslah berada diantara individu-individu yang bermoral dan kompeten dengan pengetahuan dan karakter yang baik, nama-nama untuk dipenuhi dengan tepat. Karena sukses, baik dalam kehidupan peribadi maupun bisnis, pada akhirnya merupakan hasil yang didapat dari orang-orang yang kompeten yang menerapkan pengetahuan. Para manajer di berbagai posisi dengan tanggung jawab besar haruslah memiliki pengetahuan: pengetahuan tentang pelanggannya, pengetahuan tenang keahlian, kompetensi dan inovasi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan baik yang terpenuhi maupun tidak terpenuhi; dan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan yang pas secara efektif, yang adalah pengetahuan yang terpisah dari lainnya. Lebih lanjut, jika kita memandang hubungan sebagai gadai, kita dapat mengharap hasil yang baik seringnya karena konsekuensialisme karakter.

Kami telah berpendapat bahwa maksud strategi sebagai harmoni akan memampukan semua anggota dari hubungan perusahaan untuk fokus kepada perkembangan dan penerapan pengetahuan, dan untuk bekerja menuju asosiasi yang kooperatif dan sama-sama sukses yang nantinya akan memampukan suatu perusahaan untuk berjuang demi hubungan pelanggan yang sukses dalam jangka panjang. Disana tersisa dua permasalahan tambahan tentang harmoni dan maksud strategi dalam diskusi kami.

Sebagian penganut Confusianisme menganggap aktifitas bisnis sebagai sesuatu yang secara fundamental amoral karena kebutuhan akan keuntungan dan persaingan. Bagi penganut Confusianisme tradisional, aktifitas ini menunjukkan rendahnya karakter seseorang dan mereka menciptakan ketidakharmonisan. Jika kata “keuntungan” dipahami dalam arti sempit tentang pengejaran keuntungan pribadi maka, ya, ia sering bersifat tidak harmonis dan membawa kehancuran kepada hubungan yang berfungsi dengan baik. Jika kita memandang keuntungan dengan lebih luas sebagai penciptaan kemakmuran, maka pengejaran bisnis dan kesuksesan tidak hanya sekedar diterima tetapi bahkan diperlukan. Mencius mengakui kebutuhan akan produksi pertanian yang merupakan penciptaan keamkuran. Memang, di waktu lampau, kaisar atau penguasa perlu memilki pengetahuan dasar tentang pertanian dan memainkan peranan yang penting dalam ritual pertanian. Neo-Confusius memahami kebutuhan akan perdagangan dan membuat ketentuan spesifik untuknya dalam pendekatan mereka ke Confusianisme (Wood, 1995). Lebih lanjut, keuntungan diperlukan untuk kesuksesan usaha. Keuntungan merupakan hasil dari penciptaan kemakmuran , yang diperlukan untuk memenuhi hubungan dengan kreditor dan pemegang saham dan sangat penting sebagai dana untuk membiayai kesuksesan di masa depan. Tanpa keuntungan, suatu usaha tidak akan bisa memenuhi tanggung jawab sosial dan ekonomi.

Secara serupa, persaingan juga dipandang oleh banyak penganut Confusius sebagai satu manifestasi dari ketidak harmonisan. Persaingan bisa kelihatan seperti itu, khususnya di jaman industry dan transformasi perdagangan. Namun, kami dapat memahami hubungan antara persaingan dan harmoni dengan menerapkan diskusi-diskusi diatas menggunakan pandangan Michael Porter terhadap perkembangan industry. “Kehadiran pesaing yang tepat dapat menahan sekelompok keuntungan strategis yang masuk dalam empt kategori: meningkatkan keuntungan kompetitif, meningkatkan struktur industri saat ini, membantu perkembangan pasar, serta menghalangi jalan masuk” (1985, p. 202). Persaingan memberikan pelanggan pilihan dan tuntutan bahwa perusahaan bekerja dengan rajin untuk mengembangkan usahanya dan menawarkan produk dan layanan yang superior. Jika perusahaan bersaing dengan baik maka hasilnya adalah peningkatan industry dan organisasi serta perkembangan dan kepuasan pelanggan.

Dalam istilah Confusius, persaingan adalah satu hubungan tentang perubahan konstan diantara perusahaan dan pelanggan. Hubungan-hubungan ini dapat dipandang tidak hanya sebagai ketidaksetujuan, tetapi juga sebagai satu perdebatan dan dialog diantara semua anggota hubungannya. Hubungan yang kompetitif harus didekati tanpa tipu muslihat ataupun niatan untuk menghilangkan persaingan, karena persaingan adalah satu jalan menuju pengetahuan dan peningkatan. Persaingan merupakan satu bentuk dialog dimana pesertanya dapat merekonsiliasikan perbedaan-perbedaan yang dapat menghasilkan kesuksesan dan perkembangan bersama. Dalam hal ini, persaingan melambangkan sebuah proses berkesinambungan dari perkembangan menuju harmoni dan rekonsiliasi.

Ini membuka permasalahan yang terkait dengan pertimbangan moral dari para kompetitor. Seseorang harus melakukan pendekatan kepada hubungan-hubungan ini secara moral dengan menerapkan nilai-nilai kardinal kebajikan dan kebenaran, bersama dengan nilai-nilai yang berhubungan lainnya seperti rasa hormat dan kejujuran. Persaingan itu sehat. Perusahaan-perusahaan harus menyambutnya, dan mendekatinya dengan tepat jika mereka menginginkan peningkatan dan kesuksesan. Seseorang seharusnya tidak melihat persaingan sebagai musuh, melainkan sebagai kolaborator dalam mencari pengetahuan, peningkatan dan hubungan yang saling menguntungkan. Jika konsekuensionalisme karakter diimplementasikan, semua anggota dari banyak hubungan bisnis didalam dan diluar perusahaan akan memilki kesempatan terbaik untuk sukses.

Pengejaran harmoni adalah satu pencarian akan pembelajaran, pemahaman, dan pemenuhan. Ia memuaskan kebutuhan akan maksud strategi karena ia berjangka-panjang, motivasional, dan bermanfaat. Mencari harmoni berarti mengeksplorasi da n menyelidiki pengetahuan yang dibutuhkan baik oleh individu maupun untuk kesuksesan kolektif. Ia merupakan perjuangan untuk mengembangkan hubungan manusia yang berguna. Diatas itu semua, ia membutuhkan perkembangan manusia yang positif.

Kesimpulan
Kami memulai makalah ini degan kajian singkat tentang kehancuran pasar finansial global yang dipercepat dengan jatuhnya industri jasa layanan finansial Amerika Serikat. Ini disebabkan oleh perilaku egois dan destruktif para broker KPR dan bisnis perbankan investasi. Lawrence McDonald (2009) mengutarakan keegoisan dan kegilaan yang terjadi tidak lain adalah bisnis dengan asal KPR dan pemasaran berbagai sekuritas yang disokong KPR yang dijual oleh bank-bank investasi seperti Lehman Brothers (p. 182 ff). Tidak peduli apa potensi inovatif dari kendaraan investasi yang terstruktur, obligasi hutang dengan jaminan dan lain sebagainya, jika didasarkan pada praktek dengan awal KPR yang tidak jelas, tipu muslihat dan keserakahan, maka hampir pasti hasilnya adalah kejatuhan. Perilaku individu ditautkan pada keuntungan pribadi dan bukan hubungan yang saling menguntungkan. Ini didemonstrasikan dengan luas dengan perilaku terhadap pelanggan KPR yang dijuali produk yang menipu dan pemasaran sekuritas beracun kepada investor-investor yang tidak mengira. Maksud strategi menjadi hasil jangka pendek ketimbang fokus pada strategi, kompetensi inti, produk ulung, dan kesuksesan perusahaan jangka panjang. Pendek kata, ketidak harmonisan adalah semboyan dari industri jasa layanan finansial. Pada akhirnya, bukan hanya industri finansial mengalami kejatuhan, tetapi kejatuhannya termasuk pada krisis ekonomi global yang lebih luas.

Penerapan etika Confusius mungkin tidak mencegah jatuhnya industri jasa layanan finansial Amerika Serikat, tetapi mengikuti pedomannya mungkin telah memperingan level parahnya krisis. Dasar dari etika Confusius adalah konsekuensionalisme karakter, orang yang berbudi luhur yang melakukan namanya didalam hubungan yang saling menguntungkan. Jika kita menerapkan konsep ini pada organisasi bisnis, kita akan melahirkan sebuah perusahaan sebagai satu seri hubungan gadai  yang berawal dengan hubungan pensuplai melalui hubungan organisasional yang berpuncak pada hubungan pelanggan. Konsepsi tetnang perusahaan ini akan memfokuskan manajemen pada pengembangan pengetahuan, keahlian, perilaku dan hubungan yang penting untuk sukses jangka panjang. Dengan berfokus pada harmoni, hubungan akan saling menguntungkan dan perilaku dari tiap individu akan memberikan kontribusi kepada sukses jangka panjang individu dan perusahaan sebagaimana perkembangan industri.

Penghargaan
Makalah ini disampaikan di Budapest, Hungaria pada Konferensi Tahunan Manajemen, Pembandingan dan Perusahaan ke-7, 5-6 Juni, 2009 dan dipublikasikan di konferensi sebagai “Harmoni Sebagai Maksud Strategi: Bagaimana Konsep Confusius Tentang Harmoni Dapat Berkontribusi Pada Kesuksesan Perusahaan.”

Bibliografi


  1. Alan T. Wood, Batasan Autokrasi: Dari Nyanyikan Neo-Confusianisme ke Doktrin Hak-Hak Politik, University of Hawaii Press, Honolulu, HI, 1995.
  2. Chenyang Li, Ideal Confusius Tentang Harmoni, Filsafat Timur dan Barat, 56, 4, Oktober, 2006, pp. 583-603
  3. C. K. Prahalad, Gary Hamel (1990), Kompetensi Inti dari Perusahaan, Kajian Bisnis Harvard, Mei-Juni 1990, pp. 79-91
  4. D. C. Lau, Mencius Penguin Books, New York, 1970
  5. Eric Dash, Vikas Bajaj, Beberapa Cara Menemukan Lagi Bonus untuk Bankir, The New York Times, on line, 20 Januari, 2009
  6. Gary Hamel, C. K. Prahalad, Maksud Strategi, Kajian Bisnis Harvard, Mei-Juni, 1989, pp. 63-78 (1994) Bersaing Demi Masa Depan, Harvard University Press, Boston, MA
  7. James Legge, Confusius: Kumpulan Kesusastraan Confusius, Pembelajaran yang Hebat dan Doktrin tentang Makna, Dover Publications, New York, 1971
  8. Kwok Leung, Pamela Tremain Koch, Lin Liu, Sebuah Model Dualistik dari Harmoni dan Impikasinya bagi Manajemen Konflik dai Asia, Jurnal Manajemen Asia Pasifik, 19, 2002, pp. 201-220
  9. Lawrence G. McDonald, Patrick Robinson, Kegagalan Kolosal dari Akal Sehat: Cerita dari dalam tentang Jatuhnya Lehman Brothers, Crown Business, New York, 2009
  10. Michael Porter, Keuntungan KompetitifL Menciptakan dan Mempertahankan Performa yang Superior, The Free Press, New York, 1985
  11. Peter F. Drucker, Praktek Manajemen, 1954, Harper and Row, New YorkDisiplin Inovasi, Kajian Bisnis Harvard, Mei-Juni, 1985, pp. 67-72 Teori Bisnis, Kajian Bisnis Harvard, September-Oktober, 1994, pp. 95-104
  12. Philip Ivanhoe, Konsekuensionalisme Karakter: Sebuah Kontribusi Confusianisme Awal kepada Teori Etika Kontemporer, Jurnal Etika Agama, 19, N 1, Musim Semi 1991, pp. 55-70
  13. Zhao Lu, Masyarakat Gadai, Teori Confusius tentang Xin––pada Proposal Gadai Tu Weiming, Filsafat Asia, Vol.11, No. 1, 2001, pp. 80-101moni Confucius dan Kesuksesan Perusahaan


Edward J. Romar
University of Massachusetts Boston
100 Morrissey Blvd.
Boston, MA 02125-3393, USA
This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.


You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:245 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:894 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:115 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:240 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:135 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:404 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:298 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:234 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:176 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:719 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 60 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com