spocjournal.com

Khonghucu Sebagai Strategi Etika Korporasi

Alicia Hennig

Diterjemahkan oleh :
Ongky SK,Drs,MM,MBA

Confusianisme dianggap sebagai salah satu jalur religi dan filsafat utama di Cina, diantara Budisme, Taoisme, agama yang popular, Legalisme Cina dan strategi militer 1.  Kontras dengan Budisme, asal mula Confusianisme adalah dari Cina. Karenanya Confusianisme dipandang sebagai satu tradisi tipikal Cina. Mengenai sejauh mana Confusianisme masih hidup hari ini yang dipertanyakan, setelah pergolakan politik abad yang lalu.

Sementara itu, etika bisnis telah menjadi satu isu serius baik bagi pemerintah dan bisnis di Cina. Pemerintah Cina telah mengambil berbagai langkah-langkah untuk merawat perilaku etis di area aktivitas bisnis. Di sisi lain, bisnis itu sendiri harus melalui sebuah transformasi, yang berarti bahwa perusahaan-perusahaan di Cina perlu untuk mengadakan strategi-strategi etika korporasi untuk memenuhi persayaratan yang ditentukan oleh pemerintah Cina.

Sebuah strategi etika korporasi penting baik bagi perusahaan pribumi maupun asing. Terutama dalam kasus perusahaan asing dengan mayoritas pegawai Cina, etika bisnis yang berasal dari belahan bumi bagian Barat akan menimbulkan banyak kesulitan. Untuk bisa mengembangkan etika korporasi yang cukup dalam kasus ini, perlu untuk memperhatikan perbedaan kultural yang ada. Pendekatan yang berorientasi Confusianisme menampilkan kemungkinan solusi berkaitan dengan masalah penyatuan budaya Cina ketika membangun etika korporasi.

Sementara pendekatan Confusius dalam etika korporasi juga memiliki dampak-dampak eksternal, berbicara tentang stakeholder dari luar organisasi, article ini hanya berfokus pada perspektif mengenai konsekuensi-konsekuensi internal. Karenanya, dua perspektif yang berbeda mengenai kemungkinan yang terjadi dari pendekatan Confusius pun digambarkan: Edward J. Romar dan James Weber secara umum menyokong strategi etika korporasi Confusius. Sedangkan Gary Kok Yew Chan dan Po Keung Ip dalam hal ini memegang satu pandangan kritis.

Confusianisme sebagai dasar yang pantas untuk etika korporasi
Di bagian ini ditampilkan beragam pertimbangan yang mendukung pendekatan Confusius, yang berasal dari artikel Edward J. Romar “Nilai Kebajikan adalah Bisnis yang Baik: Confusianisme sebagai Etika Bisnis Praktis”.

Edward J. Romar menyatakan bahwa Confusianisme memang dapat menyediakan sebuah pedoman yang bisa diterapkan untuk perilaku organisasional, karena sifatnya yang beriorientasi pada konteks dalam hal tugas dan tanggung jawab. Tanggung jawab datang bersama-sama dari perannya, dan sebagai gantinya peran ditentukan oleh hirarki yang terkonstitusi.

Dalam organisasi, hirarki tampak sangat diperlukan, karena ia menyediakan struktur dan karena itu juga keefektifan. Ia memiliki fungsi untuk membatasi skup perilaku, tugas-tugas dan kewajiban individu pegawai. Karenanya dalam sebuah lingkungan kerja, perilaku dari para individu sangat tergantung pada posisi mereka dan “terstruktur di seputaran proses-proses bisnis, pengetahuan dan area tanggung jawab” (Romar p. 120).

Confusius menyadari bahwa “masyarakat apapun membutuhkan kaidah untuk mengatur tindakan sosial” (Romar p. 120) dan ia melihat peraturan ini berpijak pada struktur hirarkis. Di sebuah lingkungan kerja, ada satu kebutuhan akan peraturan, sebagaimana yang digambarkan di atas. Karena organisasi mewakili sebagian dari masyarakat, maka Confusianisme dapat berlaku sebagai dasar dari peraturan. Sehubungan dengan hal ini, Confusianisme menggabungkan hirarki dengan dua jalan.

Pertama, ada satu ide tentang orang yang superior dalam konteks moral, yang dihubungkan dengan kepemimpinan. Orang yang superior secara moral akan memimpin jalannya menuju masyarakat yang bermoral dan adil. Moralitas dianggap sebagai “bagian penting dari setiap keputusan dan dasar dari perilaku individu” (Romar p. 120), karenanya sebuah peran moral adalah penting. Dalam kasus sebuah organisasi, ini artinya manajemen perlu memimpin dengan memberikan contoh: para pemimpin tidak boleh bertindak egois, melainkan perlu bertindak untuk kepentingan anak buahnya.

Kedua, dengan adanya hirarki ada ketergantungan dan skup tindakan yang terbatas, yang dipertimbangkan Confusius dengan menugaskan peran-peran dan tugas-tugas ke posisi-posisi tertentu. Dalam konteks individualitas yang terbatas ini, ada peran kemandirian dan adaptasi untuk dilakukan, kesuksesan kolektif ditekankan dan bukannya kesuksesan individu. Para pegawai memiliki pengaruh terbatas dalam hal tugas-tugas, pekerjaan dan hasil. Namun semua tindakan individu yang cenderung terbatas ini dapat menghasilkan kesuksesan kolektif.

Toh, kesuksesan kolektif memerlukan semua orang yang terlibat untuk mengetahui posisi, peran dan tugas-tugasnya dalam suatu proses dan menerapkan “perilaku yang pantas serta pengetahuan sampai selesainya tugas dan prosesnya” (Romar p. 122). Confusianisme mengakui bahwa kesuksesan kolektif terdiri dari kontribusi individual oleh agen pembantu dan oleh karenanya panggilan untuk otonomi moral dan tanggung jawab individu. Kemauan setiap individu untuk melakukan tugas dan tanggung jawab yang diberikan padanya adalah vital sifatnya untuk mencapai kesuksesan kolektif. saling ketergantungan antar manusia ini pada gilirannya membentuk ide tentang komunitas.

Kesuksesan kolektif dihubungkan lebih jauh dengan kebajikan, yang merupakan salah satu nilai terpenting yang dimiliki Confusianisme. Hanya jika manusia mengambil tanggung jawab untuk bertindak dengan luhur, maka baik kesuksesan individu maupun kolektif akan sangat mungkin dicapai. Disinilah Aturan Emas Confusius berperan, yang membawa kepada kebajikan, sebagaimana dikatakan oleh Mencius2  (Romar p.123). Aturan Emas menyajikan  prinsip penuntun dibalik tindakan, karena ia menyiratkan penerapan yang bijaksana dari standar moral. Ini termasuk kemampuan untuk mengambil posisi oposisi, untuk bisa memilih apa yang pantas dilakukan3.

Selanjutnya kebajikan diasosiasikan dengan  nilai-nilai Confusianisme lainnya, seperti kebaikan, toleransi dan sifat dapat dipercaya. Confusius menekankan sifat dapat dipercaya kontras dengan kepercayaan, karena kepercayaan perlu didapatkan. Saat ini sifat dapat dipercaya dan begitu juga kepercayaan merupakan dua nilai penting bagi bisnis. Di literatur manajemen kontemporer, pentingnya kepercayaan juga ditekankan seperti di terbitan Peter Drucker contohnya (Romar p.124).

Di sisi lain, kebajikan sendiri tidaklah cukup. Etika Confusius juga menggaris bawahi pendidikan dan pengetahuan moral. Karenanya, pencarian pengetahuan sepanjang hidup sehubungan dengan pengetahuan tentang tugas yang diberikan dan begitu juga pengetahuan moral pun ditekankan. Confusius percaya dengan kemampuan manusia untuk berkembang dan meningkat, yang memerlukan sikap rajin belajar.

Kontribusi Confusianisme lainnya pada peningkatan sercara umum dari perilaku organisasional adalah perilaku berbasis-etiket yang dihubungkan dengan istilah bahasa Cina li. Istilah ini mengimplikasikan pengetahuan fundamental tentang penggunaan yang pantas dari bahasa dalam konteks sosial atau bentuk yang cukup pantas dalam membicarakan seseorang contohnya telah dijelaskan dalam buku-buku Confusius. Pengetahuan yang mendalam tentang hal-hal yang telah disebutkan bersifat vital bagi organisasi. Untuk manajemen, permasalahan ini semestinya menjadi prioritas, karena kepentingannya dalam mencapai kesuksesan Romar p.121).

Contoh-contoh dari penerapan Confusianisme
Pada bagian kedua dari artikel ini, ditampilkan tiga contoh perusahaan yang dipimpin dengan berdasar pada Confusianisme. Disusul dengan ringkasan singkat, yang menunjukkan keuntungan dari pendekatan Confusius dalam hal strategi etika korporasi.

Dalam publikasinya yang berjudul “Menggunakan Teladan Praktek Bisnis untuk Mengidentifikasi Sistem Nilai Etika Budhis dan Confusianisme”, James Weber menjelaskan beragam perusahaan, yang telah dipimpin menggunakan nilai-nilai Confusianisme. Inti dari nilai-nilai ini adalah praktek Aturan Emas Confusius sebagaimana yang dikatakan Weber “Apa yang tidak ingin dilakukan padamu, janganlah kau lakukan kepada orang lain”4 , sebuah orientasi kangka panjang, dipimpin oleh teladan, nilai yang sebenarnya dan pada akhirnya perilaku yang menunjukkan bahwa kebenaran perlu dipilih ketimbang keuntungan (Weber p.522).

Salah satu contoh Weber adalah Grup Weizhi dari Xian5 , yang budaya perusahaannya dideskripsikan dengan empat nilai inti: kebaikan, ketulusan, kerajinan dan kebijaksanaan. Perilaku korporasi mereka menekankan pentingnya kepuasan pelanggan dan perhatian terhadap kebutuhan para pegawainya.
Contoh lainnya adalah perusahaan Taiwan bernama Sinyi Real Estate. Didirikan pada tahun 1981 oleh Chun-ci Chou, pada prinsip kepercayaan dan kejujuran dalam berbisnis, yang berarti sinyi dalam bahasa Cina. Chou adalah pendukung ajaran Confusius dan kepercayaannya terhadap Confusianisme direfleksikan dalam kode etika personalnya. Sebuah pendekatan kolektif terlihat dari fokusnya pada kerja tim dan tujuan-tujuan organisasional, yang dilengkapi dengan “sistem penghargaan yang terpusat pada tim” (Weber p.529). Keuntungan juga tidak dipandang sebagai tujuan utama, mengikuti tradisi Confusius, sifat dapat dipercayalah yang menjadi tujuan utama.

Contoh ketiga dan terakhir adalah Asuransi Ping An, yang didirikan pada tahun 1988. Saat ini merupakan perusahaan asuransi terbesar kedua di Cina. Pada tahun 1992 Asuransi Ping An mulai mengembangkan sebuah pendekatan Confusius, yang berdasar pada kode-kode sosial dan moral Confusius. Etika perusahaan mereka meliputi “Empat pilar pertumbuhan keuntungan”, yang mencakup “model bisnis konsumen-sentris, operasi berdasarkan-peraturan, manajemen performa berdasarkan-pasar, dan manajemen informasi yang terintegrasi dan platform disepanjang perusahaan” (Weber p.530). nilai-nilai inti tentang perilaku adalah hormat, integritas dan kesetiaan terhadap pelanggan, rekan kerja dan atasan. Dibandingkan dengan Sunyi, Asuransi Ping An tidak mengutuk keuntungan, yang mungkin mengherankan dalam konteks kebenaran Confusius versus prinsip keuntungan. Malahan, Asuransi Ping An mengembangkan sebuah motif keuntungan, sebagaimana yang dijelaskan diatas, yang tampaknya secara umum cocok dengan pengajaran Confusius.

Untuk disimpulkan secara singkat: Sebuah pendekatan Confusius mengenai strategi etika korporasi dapat membawa kepada sebuah organisasi yang lebih manusiawi, termasuk dalam orientasi jangka panjang, karena stakeholder tidaklah sekedar dianggap “sebagai jalan menuju akhir melainkan akhir itu sendiri” (Romar p.129). Lebih jauh, pendekatan Confusius mengakui satu bentuk komunitas dalam sebuah perusahaan, yang berarti bahwa tidak hanya ada satu tujuan, melainkan banyak tujuan untuk dicapai dalam rangka memenuhi semua kebutuhan yang ada. Oleh karenanya yang penting bukan hanya keuntungan dan kesuksesan organisasional, tetapi juga kebutuhan para pegawai dan pelanggan.

Mengapa Confusianisme tidak menyediakan dasar yang sesuai untuk etika korporasi
Dalam bagian akhir artikel ini ditunjukkan perspektif kritis dari Po Keung Ip dan Gary Kok Yew Chan dengan memperhatikan pendekatan Confusius dalam etika korporasi. Argumentasi di bawah ini berasal dari artikel mereka “Apakah Confusianisme Baik bagi Etika Bisnis di Cina?” dan “Relevansi dan Nilai Confusianisme dalam Etika Bisnis Kontemporer” yang keduanya dipublikasikan dalam Jurnal Etika Bisnis. Isu-isu utama didiskusikan dan daripadanya di bagian ini merupakan aspek-aspek negative dari kolektifisme dan struktur hirarki, yang secara umum membawa pada ketidaksetaraan dalam diri seseorang.

Confusianisme membantu perkembangan dua tendensi: kolektifisme dan hirarki. Bersama-sama, dua aspek ini membentuk sebuah kolektifisme vertical (Robertson p.415).

Ketika menerapkan sebuah pendekatan Confusianisme, tujuan-tujuan kolektifisme dan kolektifis memerankan peran utama. Merujuk pada kolektifisme, Po Keung Ip menggambarkan satu kelemahan dari satu dasar Confusianisme.

Masalah dari tujuan kolektifis adalah bahwa mereka menggelapkan kepentingan-kepentingan individu. Bahkan kepentingan individu mungkin dikorbankan atas nama tujuan kolektifis. Ip juga menyebutkan bahwa tidak ada kepentingan individu terpisah dari kepentingan kolektif (Ip p.468). Dalam kasus dimana sebuah perusahaan, ini berarti hanya ada satu tujuan bagi semuanya – kesuksesan organisasi. Sementara Edward J. Romar menekankan pada nilai dari kesuksesan kolektifis dalam konteks ini, Po Keung Ip justru mengkritik bahwa kesuksesan kolektifis hanya dapat dicapai dengan mengorbankan kepentingan-kepentingan individiu.

Dalam suatu masyarakat kolektifis, harmoni sangatlah penting. Namun, menjaga harmoni didalam sebuah perusahaan terkadang mencakup menekan kepentingan dan hak individu pegawai. Konflik juga ditekan dalam rangka menjaga harmoni6 . Pendekatan ini tidak menghasilkan solusi, ia lebih menunda konflik. Po Keung Ip mengatakan bahwa konflik tidak dapat diselesaikan tanpa mekanisme yang efektif dan satu “budaya kejujuran dan hormat” (Ip p.470). Hanya dengan debat terbuka dan bebaslah konflik dapat diselesaikan dan “harmoni asli” dapat dijaga (Ip p.470). Pendekatan Confusianisme sangat memelihara hirarki dan perilaku berdasarkan-peran dan karenanya tidak menawarkan banyak ruang untuk diskusi yang terbuka dan bebas dalam situasi konflik.

Kesulitan dan masalah yang dihaslkan dari struktur hirarki yang berdasarkan atas Confusianisme dihubungkan dengan isu utama yang kedua. Dengan struktur hirarki Confusius, timbul  paternalisme dan otoriterisme. Ip mendeskripsikan paternalism sebagai prinsip “ayah-tahu-yang-terbaik” (Ip p.469). Kombinasi dari otoritas patriarchal dan paternialisme membangun paternialisme otoriter, yang menghalangi anak-anak dan orang-orang secara umum untuk memilih dengan bebas dan membuat keputusan secara merdeka. Bahkan hal ini juga menghalangi orang-orang untuk mengembangkan kapasitas mereka sendiri dalam  hal membuat keputusan dan berpikir secara independen. Ip menyatakan bahwa “otoriterisme membawa sifat bermusuhan terhadap otonomi pribadi dan perkembangannya” (Ip p.469). Merujuk kepada sebuah perusahaan yang dipimpin dengan pendekatan Confusianisme, ini artinya kebebasan dan otonomi para pegawainya ada dalam bahaya. “Gaya pembuatan keputusan atas-bawah” ini juga, sebagaimana yang dikatakan Ip (Ip p.473), melahirkan budaya organisasi yang didominasi sikap penuh komando dan mengontrol.

Argumen lain yang menentang penerapan pendekatan Confusianisme adalah bahwa dalam lingkungan kerja, struktur semacam ini “akan bertentangan dengan ide tentang demokrasi partisipasi di tempat kerja yang berdasarkan pada kebebasan dan persetujuan sebagaimana yang dikeluarkan Kantianisme” (Chan p.354). Meskipun argumentasi ini cenderung bias terhadap Barat, ia juga sebagian merefleksikan  kritik dari Ip. Apakah pendekatan Kantan masuk akal di Cina adalah pertanyaan lain, tetapi poin utamanya adalah kebebasan dan otomoni dari para pegawai, yang lumayan terbatas ketika diterapkan pendekatan Confusius.

Konsekuensi-konsekuensi yang mana yang mengikuti untuk kesetaraan manusia ketika Confusianisme dipraktekkan di sebuah lingkungan kerja digambarkan dalam sebuah argumentasi final.

Po Keung Ip dalam artikelnya “Apakah Confusianisme Baik bagi Etika Bisnis di Cina?” memeriksa apakah pendekatan Confusius cocok dengan pedoman hak asasi manusia. Dia sampai pada kesimpulan bahwa nilai-nilai Confusianisme yang dipraktekkan dalam sebuah organisasi tidak sepenuhnya sesuai dengan pedoman hak asasi manusia, karena alasan-alasan sebagai berikut (Ip p.472).

Pertama, kolektifisme tidak kompatibel dengan kesetaraan karena tendensinya untuk  mengesampingkan kepentingan dan tujuan individu. Lebih jauh, kolektifisme menentukan nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan yang harus diikuti oleh individu. Sebuah kebiasaan pasif muncul sebagai hasil dari kebebasan dan otonomi individual yang terbatasi dan sebagaimana yang dikatakan Ip: “pegawai secara kebiasaan dikurangi kesempatannya untuk belajar dan mendapat tanggung jawab, juga menentukan pilihan dan keputusan.” (Ip p.473).

Akhirnya partikularisme, yang berevolusi dari tendensi kolektifis kekeluargaan dalam Confusianisme, menggerogoti prinsip kesetaraan. Sebuah pekerjaan atau promosi tidak seharusnya diputuskan dengan dasar pribadi seperti hubungan keluarga contohnya, melainkan dengan berdasar pada kapabilitas dan potensi seseorang. Jika tidak, prinsip meritokrasi pun akan dipertanyakan.

Kesimpulan
Pada pandangan pertama, penerapan pendekatan Confusius di sebuah perusahaan yang berlokasi di Negara-negara dengan warisan Confusius tampaknya cukup masuk akal. Tetapi masalahnya adalah sebagian besar tulisan tentang pendekatan ini secara umum hanya mengacu pada aspek positif Confusianisme saja.

Catatan

1. Contohnya Sun Zi (atau Sun Tsu) adalah seorang wakil strategi militer Cina yang populer

2. Mencius adalah pengikut ajaran Confusius yang paling populer. Ia membela filsafatnya setelah kematiannya melawan gerakan-gerakan yang menyainginya. http://plato.standford.edu/entries/mencius/
 
3. Aturan Emas Confusius kadang dianggap mirip dengan “Imperatif Kategorikal” milik Kant, tetapi yang belakangan sebenarnya melebihi Aturan Emas, lihat Dieter Schonecker dan Allen W. Wood, p.153f

4. Terjemahan aslinya agak berbeda: “Jangan memaksakan pada yang lain apa yang kamu sendiri tidak ingin lakukan.” Dalam Confusius Lun Yu, XV. 24., http://afpc.asso.fr/wengu/wg/wengu.php?]=Lunyu&no=415&lang=fr&m=NOzh

5. Contoh ini berasal dari artikel “Grup Weizhi dari Xian: Sebuah Perusahaan Cina yang Berbudi Luhur” oleh Po Keung Ip yang dipublikasikan di Jurnal Etika Bisnis 35 (2002): 15-26 sebagaimana yang ditambahkan James Weber.

6. “Masyarakat Cina lebih tidak ingin melaporkan tindakan tidak etis yang dilakukan atasannya ketimbang rekannya yang disebabkan jarak kekuasaan yang tinggi dari orang-orang Cina (cth. Orang-orang Cina lebih menerima hirarki).” dalam tulisan Gary Kok Yew Chan, p.357; Po Keung Ip juga mendeskripsikan fenomena ini sebagai “kerelaan domba” dan “balai satu-opini Cina”, p.469

Daftar Pustaka

Robertson, Christopher J., Bradley J. Olson, K. Matthew Gilley dan Yongjian Bao. “Sebuah Perbandingan Antar-Budaya tentang Orientasi Etika dan Kemauan Mengorbankan Standard Etika: Cina versus Peru.” Jurnal Etika Bisnis 81 (2008): 413-425. Springer. Web. www.ebscohost.com.

Romar, Edward J. “Kebajikan adalah Bisnis yang Baik: Confusianisme sebagai Etika Bisnis Praktis.” Jurnal Etika Bisnis 38 (2002): 119-31. Kluwer Academic Publisher. Web. www.ebscohost.com.

Schonecker, Dieter, dan Allen W. Wood. Immanuel Kant “Dasar dari Metafisika Moral” Sebuah Komentar Pengantar. Panderborn: Schoningh, 2007.

Warren, Danielle E., Thomas W. Dunfee dan Naihe Li. “Pertukaran Sosial di Cina: Pedang Bermata Dua Guanxi.” Jurnal Etika Bisnis 55 (2004): 355-372. Kluwer Academic Publishers. Web. www.ebscohost.com.

Weber, James. “Menggunakan Teladan Praktek Bisnis untuk Mengidentifikasi Sistem Nilai Etika Budhist dan Confusius.” Kajian Bisnis dan Masyarakat 114.4 (2009): 511-40. Blackwell Publishing. Web. www.ebscohost.com.

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:245 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:894 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:115 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:240 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:135 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:404 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:298 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:234 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:176 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:719 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 63 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com