spocjournal.com

Confusius dalam Manajemen: Memahami Nilai-Nilai Kebudayaan Cina dan Praktek-Praktek Manajerial

Charles A. Rarick, Ph.D.
Fakultas Bisnis Andreas
Universitas Barry


Diterjemahkan oleh:
Drs.Ongky Setio Kuncono,MM,MBA

ABSTRAK
Sering disebut dengan “guru pertama Cina,” Confusius menetapkan nilai-nilai dan standar yang masih meresapi budaya Cina. Meskipun secara resminya diabaikan oleh pemerintah Cina semenjak revolusi komunis, Confusius dan pengajarannya tetap adalah fondasi dari kebudayaan Cina dan praktek-praktek manajerial. Baru-baru ini Confusius mengalami kelahiran baru dalam hal popularitas di Cina, dan ketertarikan yang diperbaharui ini belum mendapat tantangan dari pemerintah Cina. Dengan prinsip-prinsip Confusianisme sekali lagi berkembang secara terang-terangan di Cina, makalah ini menjelaskan pengajaran dari Confusius sendiri, dan menjelaskan bagaimana pepatah-pepatah kuno dari Orang Bijaksana yang Hebat ini mempengaruhi nilai-nilai modern dan praktek manajemen Cina.

PENGANTAR
Terlahir 500 tahun sebelum Masehi, sang guru dan filsuf besar, Confusius, membangun dasar kebudayaan Cina. Beliau secara umum disebut sebagai “guru pertama Cina” dan menarik murid pengikut dalam jumlah besar sepanjang hidupnya. Nasihat Confusius diberikan dalam bentuk oral kepada murid-muridnya, namun, sebentar setelah kematian sang guru besar murid-muridnya mulai menulis pesan-pesan yang mereka dapat dari sang guru, dan tulisan-tulisan ini menjadi Analects, atau “Pepatah-Pepatah Confusius” (Ames dan Rosemont, 1998). Sementara banyak pemikir-pemikir lainnya disepanjang sejarah Cina telah mempengaruhi kebudayaannya, termasuk Lao Tzu dan Sun Tzu, dapat dikatakan bahwa pengaruh terbesar dalam praktek-praktek manajerial serta kebudayaan Cina dapat dilacak ke Confusius dan sistem nilainya. Sistem ini adalah sistem yang penekanannya adalah pada pentingnya kerja keras, kesetian, dedikasi, pembelajaran, dan tata sosial. Selama ribuan tahun, sampai jatuhnya sistem imperial di Cina diawal 1900an, anak-anak sekolah Cina mengangkat tangan mereka berkaitan dengan Confusius diawal hari sekolah. Anak-anak membacakan pepatah Confusius sampai semuanya terekam secara permanen dimemori mereka. Dengan jatuhnya sistem imperial pemerintahan Cina, ajaran-ajaran Confusius pun tereliminasi; namun, tujuan-tujuan yang dibawa oleh Confusius tidak pernah benar-benar meninggalkan masyarakat Cina (Xing 1995; Lin dan Chi 2007). Sebagaimana yang dinyatakan oleh Spence (2005), “Walaupun laju perubahannya sangat cepat, Cina terus membawa gaung dari masa lalunya.” Lebih daripada budaya-budaya lain, masyarakat Cina berpegang erat pada masa lalu mereka yang panjang dan masih sangat dipengaruhi oleh filsafat-filsafat dan figur-figur historis penting. Untuk benar-benar memahami kebudayaan lain, diperlukan eksplorasi sumber-sumber nilai dari budaya tersebut. Ini khususnya tepat untuk kebudayaan Cina. Seperti yang diajukan oleh Wong (2005), para peneliti manajemen telah gagal mengapresiasi pentingnya sejarah dalam menjelaskan praktek-praktek manajemen masyarakat Cina. Sebuah pemahaman yang lebih dalam tentang sebuah budaya diperoleh ketika seseorang mengeksplorasi sejarah pendahulu dari keyakinan serta nilai-nilai masyarakat yang membentuk suatu kebudayaan. Dalam kasus Cina, seseorang harus menyelidiki pentingnya Confusius.
Meskipun Confusianisme secara resmi didiskreditkan oleh Mao, nilai-nilai kultural yang dibawanya meninggalkan bekas permanen dalam psikologis masyarakat Cina. Baru-baru ini, Confusianisme telah diperkenalkan ulang kedalam sistem pendidikan Cina (Mooney 2007; Osnos 2007) dan sejumlah institute Confusianis pun telah didirikan. Sebuah buku karya Yu Dan, seorang profesor kebudayaan dan media di Universitas Normal Beijing, yang menjelaskan ajaran Confusianis dalam istilah-istilah dasar (McGregor, 2007) baru-baru ini mencapai peringkat penjualan terbaik. Nilai-nilai Confusianis memerlukan seorang individu untuk pertama-tama menghormati kewajiban seseorang terhadap keluarga dan masyarakatnya. Seorang individu tidak dipandang sepenting kelompok. Kebutuhan individu dikorbankan supaya kepentingan kelompok dapat dicapai. Setiap orang memiliki tugas dan kewajiban kepada keluarga dan masyarakan yang mengalahkan tanggungjawab pada dirinya sendiri. Nilai-nilai ini membantu membentuk sebuah pola pikir manajerial yang memberikan penekanan lebih besar pada kolektifisme, kerja tim, usaha-usaha yang dijalankan keluarga, dan harmoni diatas konflik.
Kebudayaan Cina sangat berbeda dengan kebudayaan Amerika dalam sejumlah dimensi. Cina tidak hanya adalah masyarakat yang kolektifis, dimana Amerika cenderung menjadi sangat individualistis, kebudayaan Cina merupakan konteks tinggi yang artinya komunikasi dipandang sebagai sebuah proses multidimensional yang melibatkan lebih banyak dari kata-kata yang tertulis atau terucap. Kebudayaan Amerika cenderung merupakan konteks rendah dan sangat bergantung pada kata-kata tertulis, termasuk kontrak dan kepentingannya. Kebudayaan Cina cenderung tinggi dalam penghindaran ketidakpastian dan lebih tidak nyaman untuk berubah dibanding dengan Amerika. Tradisi sangatlah penting bagi masyarakat Cina dan kebudayaan Cina dapat diklasifikasikan sebagai kebudayaan yang berorientasi-masa-lampau. Kebudayaan Amerika cenderung bersifat masa kini dan berorientasi-masa-depan, dan tidak terlalu mengindahkan sejarah dan tradisi. Sebagai tambahan, Xing (1995) menjelaskan kebudayaan Cina sebagai intuitif, mengendalikan-diri, bergantung, tersirat, dan sabar. Ini dibandingkan dengan kebudayaan Amerika yang digolongkan sebagai rasional, agresif, independen, terang-terangan, dan tidak sabaran.
Ketika seseorang mendeskripsikan pendekatan manajerial masyarakat Cina, beberapa karakteristik yang lebih umum untuk disebutkan termasuk kolektifisme, harmoni, kontrol yang tersentralisasi, kepemimpinan paternalistis dan otoritaris, usaha-usaha yang dijalankan keluarga, ekspektasi untuk pegawai yang bekerja keras, dan jaringan organisasional yang kuat serta koneksi-koneksi bisnis. Karakteristik-karakteristik ini dipraktekkan baik di Cina maupun luarnegara oleh Diaspora Cina, dan praktek-praktek ini dapat dilacak kepada sistem nilai yang didiktekan oleh Confusius. Praktek-praktek ini dipengaruhi oleh Lima Hubungan dalam Confusianisme, Lima Nilai Kebajikan, dan Etos Kerja Confusianis. Lima Hubungan mendiktekan perilaku yang pantas dan peranan dari anggota organisasi; Lima Nilai Kebajikan memberikan sebuah kerangka moral bagi masyarakat serta menekankan pentingnya harmoni; Etika Kerja Confusius menekankan pentingnya kerja keras, kesetiaan dan dedikasi, penghematan, dan cinta belajar.

LIMA HUBUNGAN
Satu aspek penting Confusianisme melibatkan hubungan. Perilaku yang pantas didiktekan melalui pemikiran Confusianis berkaitan dengan hubungan seseorang dengan atasannya, orang tuanya, suami/istrinya, para tetua, dan teman-temannya. Confusius sangat memperhatikan hubungan dan kepantasan sosial. Sementara Confusius tidak mengarahkan nasihatnya kepada organisasi-organisasi bisnis, hubungan-hubungan ini bermanifestasi sendiri saat ini dalam praktek-praktek manajerial di Cina.
    Kesetiaan antara Raja dan Subyeknya
    Confusius mengajukan sebuah hirarki sosial yang kuat yang berdasarkan pada posisi. Hirarki tersebut akan terjaga melalui seorang pemimpin yang bijak yang bertindak untuk kepentingan subyeknya. Hubungan antara raja dan subyeknya ini memiliki orientasi feudal; namun, dijaman modern hubungan ini telah berubah dari kesetiaan kepada penguasa, menjadi kesetiaan kepada organisasi seseorang. Urutan dan hirarki merupakan aspek penting dalam organisasi-organisasi Cina. Dalam sebuah organisasi Cina yang tipikal, keputusan diambil oleh pemimpin di urutan atas organisasi dan semua orang diharapkan untuk menjalankan arahan-arahan dari pemimpin tanpa pertanyaan. Para pegawai diharapkan untuk setia dan berbakti kepada organisasi mereka dan sebagai balasannya, organisasi diharapkan untuk menjaga mereka. Perhatian holistik terhadap para pegawai ini bermanifestasi dalam cara-cara yang tidak biasa untuk organisasi-organisasi Barat. Para pegawai di banyak perusahaan Cina mengalami sebuah organisasi yang lebih paternalistic, perusahaan yang mungkin memberikan tempat tinggal, rekreasi, pendidikan, perawatan anak, dan keuntungan-keuntungan lainnya yang tidak umum diperusahaan Barat.

Hubungan antara ayah dan anak laki-lakinya
Confusius merasa ada hubungan spesial diantara seorang ayah dengan anak laki-lakinya. Ayah mesti membimbing anak laki-lakinya, dan si anak mesti menunjukkan hormat dan mematuhi nasihat ayahnya. Seperti seorang ayah yang menasihati, mengajar dan memberikan arahan kepada anak laki-lakinya, manajer Cina diharapkan untuk melakukan hal yang sama dengan pegawainya. Dalam masyarakat Confusianis, manajer berinteraksi dengan para pegawai mirip dengan bagaimana seorang ayah yang hanya memperhatikan kepentingan anak-anaknya. Dalam organisasi-organisasi Cina modern hubungan ini sekarang diperpanjang sebagian besar untuk mencakup kedua jenis kelamin. Confusius beranggapan bahwa organisasi yang peduli dan memelihara akan mendorong kepercayaan dan harmoni diantara para anggotanya. Para manajer Cina yang bertindak sebagai mentor memberikan teladan positif bagi para pegawainya memenuhi hubungan Confusius “ayah-anak” ini.
    Tugas antara suami dan istri
    Prinsip Confusianis ini mendiktekan peran-peran yang pantas untuk dimainkan oleh suami dan istrinya. Confusius mendiktekan sebuah peran penurut untuk para wanita. Ia merasa wanita perlu dikurung dirumah dan tidak diijinkan untuk mengambil keputusan. Wanita perlu dibimbing oleh suami mereka dan memberikan loyalitas dan bakti total kepada suami mereka. Wanita tidak diijinkan untuk memegang posisi penting dalam level birokrasi Cina. Peranan wanita di Cina kuno adalah peranan domestic dan penurut, dan bahkan sampai sekarang ketidak setaraan masih ada diantara pria dan wanita. Meskipun kesetaraan yang lebih besar berhasil dicapai dibawah komunisme, kebudayaan Cina masih memberikan penekanan dan kepentingan yang lebih besar bagi pria. Perbedaan persepsi masih ada di Cina berkaitan dengan peranan wanita di manajemen (Bowen, Wu, Hwang, dan Scherer 2007). Namun, di sisi yang lebih positif, prinsip Confusianis ini juga dapat digunakan untuk menjelaskan peranan yang tepat dari sosok pimpinan organisasi. Ketika organisasi dipandang sebagai sebuah perpanjangan dari keluarga, kita menemukan bahwa peranan utama dari pimpinan adalah untuk bertindak sebagai figur orangtua dalam menjaga harmoni, rasa hormat, dan kohesi didalam organisasi. Semua anggota organisasi memiliki tugas dan peranan yang spesifik di organisasi. Kontrol sosial dijaga melalui orientasi klan yang kuat dan hubungan-hubungan dibangun berdasarkan peran-peran yang ditentukan sebelumnya dan perilaku yang pantas yang mengalir dari peran-peran itu.

Ketaatan kepada yang lebih tua
Confusius menjaga bahwa yang muda harus hormat kepada senior-seniornya. Penghormatan usia masih merupakan aspek penting dalam budaya Cina, dan usia juga penting dalam menentukan pergerakan keatas di organisasi-organisasi ini. Adalah suatu hal yang tidak biasa bagi para manajer muda untuk menjadi lebih maju daripada para manajer senior, bahkan jika si manajer yang lebih muda mempunyai kualifikasi yang lebih baik, yang menurut standar Barat ia lebih pantas dipromosikan. Para manajer muda diharapkan untuk mendengar, mematuhi, dan menghormati senior-senior mereka, dan untuk menunggu giliran mereka sampai kepada level kemajuan. Sebagai balasan untuk kepatuhan tanpa syarat kepada yang lebih tua ini, organisasi dan anggota-anggota seniornya diharapkan untuk memenuhi kebutuhan dari para pegawai yang lebih muda. Para manajer senior dipandang sebagai figure pimpinan penting, mewakili usia, kebijaksanaan, dan perhatian kepada semua anggota organisasi. Organisasi mengurus anggota-anggotanya yang lebih muda dan para anggota lebih muda diharapkan untuk menunjukkan hormat kepada para seniornya.   

Saling percaya diantara teman
Seperti Lao Tze, penemu mistis Taoisme, Confusius menekankan pentingnya kerjasama diantara manusia. Saat ini, prinsip ini berarti para anggota organisasi harus bekerjasama untuk menjaga harmoni grup. Dalam kebudayaan barat, adalah pantas untuk memfokuskan perhatian pada individu. Kita menugaskan tanggungjawab individu dan memberikan pujian bagi para individu yang istimewa. Praktek seperti ini tidak dapat diterima dikebudayaan Cina. Tidaklah pantas untuk menyisihkan satu orang anggota dari kelompok untuk kemudian memuji anggota-anggota yang lainnya. Perilaku semacam ini bisa mengganggu keharmonisan grup. Sama halnya, tanggungjawab kolektif juga lebih disukai daripada tanggungjawab individual. Fokus kepada individualisme mendasari kepercayaan bahwa para anggota kelompok dapat saling mengembangkan satu sama lain. Confusius percaya bahwa ketika individu-individu diperlakukan sebagai sebuah kelompok, dan didorong untuk menjaga harmoni didalam kelompok, hasil yang lebih besar pun dapat dicapai.

LIMA NILAI KEBAIKAN
    Sebagai tambahan terhadap menjaga harmoni melalui hubungan, Confusianisme mendorong lima nilai: ren, atau kebajikan; yi, atau kebenaran;  li, atau kepantasan; zhi, atau kebijaksanaan; dan xin, atau bisa dipercaya. Para manajer Confusianis diharapkan untuk peduli, bermoral, menjaga martabat mereka, memiliki kebijaksanaan, dan dapat dipegang kata-katanya. “Gentleman” Confusius diharapkan untuk hidup sesuai dengan standar yang lebih tinggi; sebuah standar yang tidak selalu terlihat dalam manajemen Cina saat ini.
    Dalam budaya Confusius, para manajer diharapkan untuk menunjukkan ren, yang artinya kebijaksanaan atau humanisme. Ren terkadang diterjemahkan sebagai “niat baik” atau kebaikan kepada orang lain.  Seorang manajer Confusianis diharapkan untuk menjadi seorang manajer berperilaku baik dan untuk mengatur dengan kebaikan. Seorang manajer diharapkan untuk fokus kepada membangun hubungan dan untuk menjadi lebih ramah. Para manajer Cina secara tradisi telah menghargai dedikasi, kemampuan untuk dipercaya, dan kesetian lebih daripada penampilan semata. Setiap pegawai berkerja sebaik kemampuan mereka dan bekerja untuk kebaikan kelompok. Perbedaan-perbedaan performa individu tidak dipandang penting selama kelompok berfungsi secara efektif. Peranan manajer adalah untuk menjaga harmoni dan niat baik diseluruh organisasi.
Sebuah aspek penting dari pemikiran Confusianis berkenaan dengan orientasi etis. Yi, atau kebenaran berarti bahwa seorang manajer diharapkan untuk menegakkan standar perilaku moral yang tertinggi. Kepentingan diri sendiri harus dikorbankan demi kebaikan organisasi. Dalam banyak kasus, kita dapat melihat para manajer Cina yang menegakkan yi, tetapi dalam beberapa kasus, standar tinggi ini diganggu hanya untuk berperilaku menyelamatkan muka. Yang cukup menarik, sudah diajukan bahwa orientasi etika Confusius telah diadopsi oleh para manajer Barat. Contohnya, Romar (2004) telah menyarankan bahwa etika Confusianis adalah konsisten dengan, dan merupakan dasar dari, banyak ide-ide manajerial yang dikembangkan oleh pemikir Barat, Peter Drucker.
    Perilaku pantas, atau li, didiktekan melalui pemikiran Confusianis dalam hal hubungan seseorang dengan atasannya, orangtuanya, suami/istrinya, orang yang lebih tua, dan teman-temannya (Lima Hubungan). Confusius sangat memikirkan hubungan dan kepantasan sosial. Istilah Confusianisme li sebenarnya merujuk kepada ritual. Ritual-ritual yang dimanifestasikan tidak hanya dalam peran-peran dan perilaku yang pantas, tetapi juga untuk upacara-upacara dan proses-proses sosial lainnya. Praktek-praktek bisnis dan kebudayaan Cina kadang dipandang sejauh formalitas, dan terlalu direncakan dan diatur oleh standar-standar Barat. Sebuah pepatah Cina, “air menetes, dan dengan waktu, akan melubangi batu granit” (Chien 2006) menunjukkan pentingnya kesabaran dan sebuah orientasi jangka panjang. Ritual-rituan dan peran-peran yang pantas di Cina dapat dipandang tidak fleksibel dan menghabiskan waktu menurut para pengamat Barat.
Bagi masyarakat Cina, proses mendapatkan kebijaksanaan telah selalu dijunjung tinggi. Kebijaksaaan dan usia dianggap berhubungan dekat dalam kebudayaan Cina, dan tidaklah mengagetkan untuk menemukan rasa hormat yang besar diberikan kepada anggota masyarakat yang lebih tua. Ini direfleksikan dalam pilihan-pilihan personil, dan kemungkinan bahwa pegawai yang lebih tua akan menjadi orang-orang yang ditemukan di posisi-posisi yang lebih senior di organisasi, tidak peduli bagaimana kemampuannya. Dengan terus berjalannya Cina menuju kapitalisme pasar, perubahan-perubahan didalam orientasi manajerialnya pun akan terjadi, meskipun dengan kecepatan yang lebih pelan. Namun tampaknya ada “jurang generasi” yang berkembang diantara para manajer level junior dan senior di Cina. (Tang dan Ward 2003), dan perusahaan-perusahaan wirausaha di Cina mungkin tidak sepenuhnya menjaga derajat rasa hormat terhadap usia dibandingkan dengan kemampuan. Namun tetap saja kebijaksanaan, baik melalui usai maupun pendidikan, masih dihargai tinggi di organisasi-organisasi Cina.
Akhirnya, para manajer Confusianis diharapkan untuk memiliki xin, atau dapat dipercaya. Sebagai tambahan dari menjadi orang yang dapat dipercaya, manajer juga diharapkan setia kepada misi dari organisasi. Manajer Cina bertanggungjawab untuk menjaga kontrol dan memastikan agar semua bawahannya mengikuti kebijakan-kebijakan, konsisten dengan misi organisasi. Di Cina, kita menemukan orientasi yang kuat untuk membangun serta menjaga kepercayaan. Kepercayaan berawal dari sang pemimpin dan difasilitasi dengan menjaga harmoni di organisasi, bahkan sampai pada level dimana para pegawai menjadi terindoktrinasi dalam “jalur perusahaan atau partai.” Sekali lagi, ciri-ciri pribadi seperti kepercayaan dapat dipandang lebih penting daripada kemampuan atau performa.

ETOS KERJA CONFUSIANIS
Sosiolog Jerman Max Weber (1905) beranggapan bahwa Confusianisme akan menjadi sebuah kekuatan penghambat perkembangan ekonomi di Asia. Beliau beralasan, ikatan sosial yang kuat yang diciptakan oleh prinsip-prinsip Confusianis tidaklah kondusif untuk bisa mencapai prestasi individual yang dibutuhkan untuk mendorong sebuah sistem kapitalistis. Weber berargumen bahwa Protestanisme merupakan orientasi spiritual yang paling kondusif untuk mengembangkan kapitalisme. Beliau berpendapat bahwa Protestanisme mendorong para individu untuk mencari pendapatan materialistis dalam hidup ini karena kerja keras serta prestasi dianggap sebagai bagian dari rencana Tuhan untuk umat manusia. Sedangkan Katolikisme terlalu banyak menekankan pada keselamatan dalam kehidupan berikutnya yang akan berguna untuk perkembangan ekonomi, yang menjadi masalah di Confusianisme adalah pemikiran dan kekhawatiran yang berlebihan terhadap kesejahteraan kelompok untuk memulai pendapatan ekonomi. Orientasi yang kuat terhadap pencapaian prestasi duniawi dan individu dibutuhkan oleh masyarakat supaya ia bisa makmur. Tampaknya Weber mungkin salah dalam asumsinya.
Dasar filsafat Confusianisme telah menciptakan etos kerja tertentu di Cina dan Asia Timur yang tidak terlalu terpisah dari etos Protestan yang diajukan oleh Weber. Etos Kerja Confusianis terdiri dari keyakinan terhadap nilai kerja keras, kesetiaan kepada organisasi, penghematan, dedikasi, harmoni sosial, cinta akan pendidikan dan kebijaksanaan, dan perhatian kepada kepantasan sosial. Elemen-elemen Etos Kerja Confusianis kesemuanya memiliki aspek-aspek positif bagi perkembangan ekonomi. Elemen-elemen tersebut juga membawa dampak positif bagi perkembangan masyarakat. Confusius mengakui bahwa untuk membangun Negara, pengorbanan tertentu harus dilakukan oleh individu. Pengorbanan pribadi untuk memajukan kepentingan Negara ditemukan di semua masyarakat Confusianis, termasuk Cina. Ketika seseorang membandingkan Etos Kerja Protestan dengan prinsip-prinsip ajaran Confusius, jelas bahwa ada lebih banyak persamaan daripada perbedaannya. Kedua etos kerja menekankan kerja keras dan penghematan. Dalam kedua pendekatan tersebut, para pegawai diharapkan untuk mencapai suatu bentuk pemenuhan-diri, dan mungkin juga pemenuhan spiritual melalui dedikasi dan bakti kepada pekerjaannya. Daripada berkonsentrasi pada keselamatan spritiual, para penganut diharuskan untuk fokus pada pencapaian dalam kehidupan. Confusius tidak memberikan penekanan pada pentingnya menghormati roh dan, sama dengan Protestanisme, mengkhotbahkan soal pencapain prestasi dalam kehidupan. Perbedaan antara etos kerja Confusianisme dan Protestan pada intinya adalah dalam hal fokus kepada pencapaian prestasi individu ataukah kelompok. Dimana Etos Kerja Protestan memandang individual sebagai unit analisa yang layak, Etos Kerja Confusianis menempatkan nilai pada pencapaian kelompok dan harmoni sosial. Pencapaian lebih berfokus-kelompok didalam masyarakat-masyarakat Confusianis dan kegagalan ekonomi dipandang memiliki konsekuensi masyarakat yang lebih tersebar luas. Etos Kerja Confusianis menjaga interkoneksi sosial yang tidak umum ditemukan dalam kebudayaan barat. Seringnya interkoneksi ini berdasarkan keluarga, khususnya dalam kebudayaan wirausaha Cina.
Jaringan informal yang meliputi seluruh dunia diantara orang-orang Cina diluar negeri telah membantu mendorong ledakan kapitalisme Cina. jaringan ini sekarang dapat dilihat juga di Cina daratan begitu juga masyarakat Cina yang telah mengadopsi ekonomi pasar yang lebih giat. Kesuksesan bagi masyarakat Cina difasilitasi melalui guanxi atau koneksi (Chatterjiee, Pearson dan nie 2006). Hubungan dekat ini memberikan informasi, kontak, dan pembiayaan untuk para anggota jaringan. Kaum Cina diluar negeri telah sukses dalam usaha bisnis mereka karena telah mampu menjaga kesatuan dan solidaritas, dan juga telah menerapkan Etos Kerja Confusius. Banyak dari usaha-usaha mereka – meskipun berukuran besar dan seringnya multinasional – yang berbasis keluarga, memberikan apa yang dalam kebudayaan Cina disebut unit dorongan dan solidaritas yang bahkan lebih kuat. Kekhawatiran tentang kemakmuran dan keberlangsungan klan beserta para anggotanya merupakan hal yang teramat penting bagi masyarakat Cina. Seperti yang dikatakan oleh Peter Drucker (1994), “Apa yang mengikat perusahaan multinasional ini bukanlah kepemilikan ataupun kontrak hukum. Melainkan kepercayaan dan kewajiban setara yang melekat dalam keanggotaan klan.” Orientasi klan yang kuat ini lebih sukses dalam menjaga komitmen untuk tujuan dibandingkan dengan yang bisa dicapai oleh pengaturan hukum apapun.

KESIMPULAN
Confusianisme tetap merupakan kekuatan sosial yang dominan dalam masyarakat Cina selama dua ribu tahun. Sampai ke Dinasti Han, ajaran Confusius terus dijaga melalui mekanisme informal yang menyalurkan kebijaksanaan dari generasi ke generasi. Dengan pembangunan Dinasti Han dan sistem administrasinya yang sangat tertata, didirikanlah sebuah sekolah untuk mendidik pembantu pemerintahan. Analects pun menjadi bagian dari materi pengajaran di akademi ini, dan para pelajarnya diharuskan lulus ujuan Confusianisme untuk bisa bekerja di pemerintahan. Persyaratan ini dilanjutkan, pada sebagian besar, sampai pada jatuhnya sistem imperial di Cina. Confusius bertanggungjawab dibalik kecintaan masyarakat Cina akan hirarki dan kontrol, gaya manajemen paternalistis dan otokratis, serta pentingnya hubungan keluarga dan koneksi bisnis.
Analects Confusius, meskipun ditulis lebih dari 2500 tahun yang lalu, memberikan kontsruksi yang berguna untuk menjelaskan manajemen modern di Cina. Membangun etika kerja yang konsisten dengan nilai-nilai Confusius terbukti bermanfaat. Kepemimpinan dibawah tradisi Confusius menekankan perhatian holistic terhadap kesejahteraan para pegawai, perhatian terhadap harmoni didalam kelompok, kerja tim, dan pengorbanan-diri. Disaat yang sama, para pemimpin Confusius cermat dan menuntut loyalitas serta dedikasi kepada organisasi. Mereka mengharapkan para pegawai untuk bekerja tanpa kenal lelah demi kebaikan kelompok, organisasi, serta Negara. Mereka cenderung menjadi otokratis dan menjaga kontrol yang ketat atas organisasi. Cina, lebih daripada Negara-negara lain, berpegang erat kepada masa lalunya, dan keyakinan, praktek, serta nilai-nilai manajerial saat ini dipengaruhi kuat oleh tradisi Confusianismenya.

Referensi
Ames, R. dan H. Rosemont. (1998). Analects Confusius: Sebuah terjemahan filosofis. New York: Ballantine.

Bowen, C., Y. Wu, C. Hwang, dan R. Scherer. (2007). Berpegang pada separuh langit? Sikap terhadap wanita sebagai manajer di Republik Rakyat Cina. Jurnal Internasional Manajemen Sumber Daya Manusia, 18(2), 268-283.

Chatterjee, S., C. Pearson, dan K. Nie. (2006). Hubungan bisnis yang saling berhadapan dengan Cina Selatan: Sebuah studi empiris tentang relevansi guanxi. Jurnal Manajemen Asia Selatan, 13 (3), 59-75.

Chien, M. (2006). Sebuah studi manajemen sumber daya  lintas budaya di Cina. Kajian Bisnis, Cambridge, 6(2), 231-237.

Drucker, P. (1994). Kekuatan super baru di Asia. Jurnal Wall Street, 20 Desember.
Lin, C. dan Y. Chi. (2007). Filsafat manajemen Cina – studi pemikiran Confusius. Jurnal Cambridge Bisnis Akademi Amerika, 11(1), 191-196.

McGregor, R. (2007). Mengapa Cina yang cepat-berubah kembali ke Confusius. Times Finansial, 11 April.

Mooney, P. (2007).  Confusius kembali: Di Cina, karya filsfuf paling berpengaruh yang pernah dilarang kini dipelajari dan dirayakan. Catatan Pendidikan Tinggi, 20 April.

Osnos, E. (2007). Orang bijak selama bermasa-masa kembali: Apa arti dari menjadi orang Cina di Abad ke-21? Sebuah generasi mencari jawaban dalam kebijaksanaan Confusius yang tumbuh dirumah sendiri. Knight Ridder Tribune News, 31 Mei.

Romar, E. (2004). Harmoni manajerial: Etika Confusianis dari Peter F. Drucker. Jurnal Etika Bisnis, 51(2), 199-210.

Spence, J. (2005). Cina dulu dan masa depan. Urusan Luar Negeri, Januari/Februari, 146. 44-46.

Tand, J. dan A. Ward. (2003). Wajah manajemen Cina yang berubah. London: Routledge.

Xing, F. (2005). Sistem kebudayaan Cina: Implikasinya bagi manajemen lintas-budaya. SAM Jurnal Manajemen Maju, 60(1), 14-20.

Weber, M. (19050. Etika Protestan dan semangat kapitalisme. (Edisi terjemahan 2002 oleh S. Kalberg). Oxford: Blackwell Publishers.

Wong, L. (2005). Manajemen Cina sebagai diskusi: “Cina” sebagai sebuah teknologi diri dan kontrol? Bisnis dan Manajemen Asia, 4, 431-453.


You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:245 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:894 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:115 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:240 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:135 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:404 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:298 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:234 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:176 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:719 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 52 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com