spocjournal.com

Wirausaha dan Etika

Tibor R. Machan
Pusat Etika Bisnis dan Wirausaha Leatherby,
Fakultas Bisnis dan Ekonomi, Chapman University, Orange, California, USA
Diterjemahkan Oleh :
Drs.Ongky Setio Kuncono,MM,MBA

Kata kunci Wirausaha, Etika, Tanggungjawab moral, Kebijaksanaan
Abstrak Dalam bisnis dan kebudayaan yang mengikutinya, tidak banyak yang lebih penting daripada status moral dari wirausaha. Jika seorang pengusaha adalah seorang bajingan, seorang yang kasar, sistem yang menaungi orang semacam ini pastilah ternoda. Kritikan terhadap kapitalisme seperti yang diberikan oleh Robert Kuttner dan Earl Shorris berulang-ulang muncul di berbagai terbitan buku-buku mereka yang penting. Mereka mengikuti Kalr Marx, hanya saja tidak seperti Marx, mereka tidak melihat adanya sesuatu yang menjanjikan dari pasar bebas. (Marx beranggapan bahwa ini adalah tahapan penting dari perkembangan kemanusiaan!)

Tanpa legitimasi moral dari wirausaha – proses mengawali spekulasi komersial, dengan ambisius memasuki dunia perusahaan bisnis – lingkaran perdagangan dan bisnis ternyata secara konstan berada di bawah bayang-bayang awan mendung moral.
Ketika suatu sistem ekonomi politik kekurangan suport moral sebagai salah satu dari bahan pentingnya, sistem-sistem yang berkompetisi yang tidak memiliki kelemahan ini pun menjadi kuat meskipun mungkin bukanlah pilihan yang dapat dilakukan saat itu juga. Merekalah yang mengundang kesetiaan yang ‘ganas’ dari para idealis yang berkeras bahwa keadilan haruslah dikejar dan kejahatan haruslah diberantas.

Peranan wirausaha didalam kapitalisme
Mengapa penting untuk membangun status moral dari wirausaha? Kecuali dapat ditunjukkan bahwa wirausahaan melakukan apa yang layak secara moral sebagai seorang pengusaha, bahwa secara etika perannya patut dipuji, bukan hanya statusnya di pasar tetapi juga pasar itu sendiri menjadi lebih rentan terhadap kritik moral serius.
Mengapa begitu? Darah kehidupan pasar bebas adalah etika, dan ini sudah sangat dikenal. Banyak ekonom mulai menyadari hal ini, terlebih lagi Profesor Izrael Kirzner dari New York University. Beliau, seorang diri, hampir saja membangun ulang kebesaran awal dari kewirausahaan di sistem-sistem kapitalisme pasar bebas. Memang, menurut Kirzner (1974), kegiatan berwirausahalah yang membuat rasa keuntungan yang terbaik, yang adalah satu lagi bagian vital kapitalisme.
Namun, tanpa mendemonstrasikan juga bahwa wirausaha itu etis, pasar paling maksimal akan bersikap ramah kepada macam-macam perilaku moral masa bodoh; paling buruk pasar akan mendorong sifat moral tidak berperasaan dan mencoba menghalangi pengejaran akan tujuan-tujuan yang lebih signifikan secara moral, seperti misalnya ketertiban, menahan diri, keunggulan artistik, nilai-nilai keluarga. Contohnya ketika John Kenneth Galbraith (1958) dalam bukunya Masyarakat yang Makmur bahwa pasar bebas menghasilkan kegagalan “pasar” yang berlimpah-limpah, yang ada dalam pikikirannya adalah: pasar mengejar hal hal yang tidak penting, dan bukan tujuan-tujuan yang mulia. Sehingga para pemain utamanya tidak melakukan apa yang bernilai dan terhormat secara etika, malahan mereka melakukan hal hal yang merugikan atau, paling baik, hal-hal yang tidak berarti.
Ketika suatu sistem memiliki kerapuhan dalam salah satu bahan-bahan pentingnya, sistem-sistem kompetisi yang tidak terlalu mempunyai kelemahan pun menjadi sangat kuat, atau bahkan menjadi solusi alternative yang sukses. Gambaran diri mereka menjadi semakin baik, bahkan kalaupun kinerja mereka tidaklah terlalu bagus.
Kewirausahaan – kemunculan modal yang diperlukan untuk menjadi makmur – penting bagi kapitalisme – ia adalah mesin dari sistemnya. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Israel Kirzner, “Pengusaha … kami mengartikan seraya menyadari (dengan tanpa sumber daya apapun dari mereka) perubahan pola-pola dari ketersediaan sumber daya, kemungkinan-kemungkinan teknologi, dan kemungkinan-kemungkinan produk-produk baru yang akan menarik pelanggan”. Ia menambahkan bahwa “pemilik sumber daya darah-dan-daging sangat mungkin menjadi pengusaha mereka sendiri (seperti juga pengusaha darah-dan-daging sangat mungkin menjadi pemilik beberapa faktor jasa sendiri)” (Kirzner, 1974) [1]. Mereka yang berusaha menyatukan berbagai faktor produksi untuk mencapai hasil perusahaan bisnis yang sukses adalah sumber utama kapitalisme. Kepemilikan hanyalah salah satu fitur kapitalisme, fitur yang penting tapi tidak cukup untuk menjadikan sistemnya produktif. Mereka yang memiliki waktu-kerja dan modal yang telah diciptakan oleh pekerjaan yang sukses dari waktu-kerja serupa tidak selalu akan melanjutkan proses yang sama.
Manusia memiliki kehendak bebas. Ini berarti bahwa bahkan dalam kondisi ekonomi politik yang ideal mereka memiliki pilihan untuk melakukan apapun, juga memilih apa yang dilakukan, dengan modal yang ada pada mereka. Apa yang diperlukan oleh situasi lingkungan hukum yang ramah – pasar bebas yang menjual barang dan jasa, termasuk tenaga kerja dan keahlian, kebebasan berkontrak dan berasosiasi, kebebasan berdagang dan mengiklankan apa yang seseorang ingin jual – untuk mencapai kemakmuran adalah pengusaha. Inilah kunci penting untuk mengawali dan memotori perdagangan yang sukses.

Kebebasan dan Wirausaha
Beberapa berpendapat bahwa apa yang kita perlukan adalah lingkungan yang ramah, tapi ini tidak benar. Bahkan di masyarakat yang paling bebas sekalipun, banyak agen pasar potensial yang bisa jadi malas. Kemalasan bukan hanya didukung, tetapi juga tidak dicegah. Ini merupakan sebagain arti kebebasan: seseorang memiliki pilihan untuk menjadi produktif atau menjadi malas. Tidak cukup untuk menunjukkan bahwa umat manusia bebas dibawah kapitalisme, kecuali kegunaan-kegunaan yang merupakan tujuan sistem yang diusahakan manusia dapat membawa manfaat secara moral sendiri. Jadi pertanyaan yang perlu ditanyakan, kenapa seseorang perlu menjadi produktif, kenapa wirausaha perlu dipraktekkan, apa yang bagus tentangnya?
Menjawab bahwa wirausaha adalah tiket menuju kesempatan yang baik untuk kekayaan tidaklah cukup. Tentunya seseorang dapat berpendapat bahwa antara mencuri dan memproduksi, yang belakangan lebih terhormat. Tetapi bagaimana jika kepasifan – bentuk dari mistisisme religius yang melibatkan ketiadaan kehendak bebas, menjauhkan dari hal-hal duniawi (Webster’s New 20th, 1983) – diajukan sebagai salah satu alternative? Bagaimana dengan pertapaan – cita-cita religius bahwa seseorang dapat meraih level spiritual yang lebih tinggi dengan disiplin-diri dan penyangkalan-diri (Webster’s New 20th, 1983)? Bagaimana suatu sistem yang ramah terhadap wirausaha dapat dibela dibawah tekanan tantangan-tantangan yang kuat seperti itu?
Biarlah kita tidak menggurui diri kita sendiri. Tantangan yang paling serius terhadap kapitalisme datang dari mereka-mereka yang membantahnya dengan memungkinkan usaha kewirausahaan – dengan melindungi hak-hak kepemilikan pribadi dan pengejaran kebahagiaan didunia ini – sistem ini mengkorupsi kehidupan manusia. Ia cenderung mengijinkan komersialisasi hubungan manusia, menjadikan kita agen-agen ekonomi egois ketimbang identitas kita seharusnya, anggota masyarakat yang altruistis atau mementingkan kepentingan orang lain.
Tidaklah cukup untuk menjawab bahwa sistem kapitalisme memungkinkan orang-orang untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik dibumi ini. Hanya itulah yang perlu dibela. Mengapa kita mesti berjuang untuk kehidupan seperti itu pada awalnya?

Wirausaha untuk apa?
Para pengusaha secara eksplisit dan tidak tahu malu menempatkan diri mereka sendiri pada tugas pengayaan. Beberapa mengakui bahwa mereka melakukannya untuk alasan altruistis, beberapa cukup dermawan atau bahkan benar-benar altruistis dengan kekayaan yang mereka dapatkan. Tetapi sebagian besar dari mereka mendapatkan kekayaan dengan menyediakan barang dan jasa bagi orang-orang lain yang selanjutnya berkembang dibumi ini. Sebuah mall atau pusat perbelanjaan kontemporer yang konvensional, tempat penjualan mobil baru atau bekas, toko gudang diskon, atau pameran industrial – kesemuanya berusaha untuk mendemonstrasikan kepada pembeli potensial bahwa barang dan jasa yang dijual oleh si pengusaha ke publik akan menjadikan kehidupan lebih baik, lebih nyaman, lebih bisa dinikmati, lebih menantang, daripada kehidupan tanpa barang atau jasa yang dijual itu tadi.
Apa yang dapat dijadikan pembelaan untuk sebuah profesi, atau sebuah pekerjaan, yang didedikasikan untuk peningkatan kehidupan umat manusia didunia? Karena itulah inti profesi atau pekerjadaan pengusaha.

Pengusaha yang terdorong
Jawaban homo-economicus untuk masalah ini adalah untuk menyatakan bahwa kita semua sama-sama terlibat dalam pengejaran kepentingan diri. Seperti yang dinyatakan Milton Friedman secara ringkas berikut ini:

… setiap individu mengabdi untuk kepentingannya sendiri … Para Santo besar dalam sejarah telah mengabdikan diri untuk “kepentingan pribadi” sebagaimana orang kikir yang paling doyan uang mengabdi untuk kepentingannya sendiri. Kepentingan pribadi disini adalah apapun yang mendorong seorang individu (Friedman, 1976, p. 11).

Pandangan bahwa kita semua adalah yang-memaksimalkan-kegunaan tanpa belas kasihan dikatakan dengan paling baik oleh almarhum George Stigler:

… Manusia selamanya merupakan yang-memaksimalkan-kegunaan – dirumahnya, dikantornya (entah itu kantor publik maupun privat), digerejanya, dipekerjaan ilmiahnya – singkatnya, dimana-mana (Kuliah II, Kuliah Tanner, Harvard University, April 1980); dikutip di McKenzie, 1983, p. 6).

Posisi orang Austria pun tidak terlalu berbeda. Ludwig von Mises menyatakan:

Tindakan manusia tentunya selalu rasional … Ketika diterapkan pada puncak akhir dari tindakan, istilah rasional dan irasional menjadi tidak pantas dan tidak berarti. Akhir dari tindakan selalu adalah kepuasan yang didapat seseorang untuk beberapa keinginannya … Tidak ada manusia yang mempunyai kualitas untuk menyatakan apa yang akan membuat orang lain lebih senang atau kurang puas (von Mises, 1942, p.19).

Jika seseorang tidak dapat menahan diri untuk memuaskan keinginannya, jika mereka adalah kekuatan motif suatu tindakan – dan karena itulah mereka tidak dapat dievaluasi sebagai lebih atau kurang rasional, karena mereka adalah tetap – maka ia harus mengejar mereka.
Posisi ini menyerahkan semua tindakan demi-kepentingan-pribadi menjadi sebuah dorongan otomatis, sesuatu yang kita semua miliki dan terjemahkan kedalam berbagai bentuk pengejaran, baik itu yang berhubungan dengan wirausaha, spiritual, baik, kejam, menyedihkan maupun murah hati. Apa yang kita semua lakukan hanyalah apa yang kita harus lakukan, sebut saja, memainkan “kepentingan-kepentingan pribadi” kita dalam berbagai cara.
Yang diamankan oleh posisi ini bagi kapitalisme adalah semacam legitimasi ilmiah, tidak seperti apa yang coba diamankan oleh materialisme dialektikal untuk sosialisme – validitas empiris dan historis. Tentang persoalan “gen egois” kita – mengutip judul buku Richard Dawkins (1976) yang sangat populer di kalangan ekonom neo-klasik – kita terdorong untuk melakukan apa yang kita lakukan. Pengusaha adalah salah satu dari boneka-boneka yang berada dibawah kontrol make-up genetik kita, sebagaimana juga para Santo Besar dalam sejarah atau siapapun juga. Siapa yang dapat menyalahkan pengusaha? Tidak seorangpun. Sama seperti kita tidak bisa menyalahkan singa karena memakan zebra ataupun kriminal karena melakukan kejahatannya. Que sera, sera. Yang terjadi, terjadilah. Kondisi-kondisi pasar adalah alami adanya, kondisi-kondisi yang tidak dapat dihindari, sehingga tidak ada yang bisa dikritik disini. Ini hanyalah ilusi yang tertanam dalam bahwa kehidupan manusia bia menjadi sesuatu yang berbeda. Impian altruistis dari komunisme atau sosialisme atau komunalisme sebagai semacam komunitas manusia universal sangat tidak mengacuhkan peraturan-peraturan biologis yang mengontrol kehidupan. Meratapi proses pasar, termasuk yang enerjik , meskipun terkadang tidak menghasilkan apapun, intrik para pengusaha serupa dengan meratapi badai yang membuat piknik Sekolah Minggu kita yang telah terjadwal batal.

Kekeliruan dari homo economicus
Apa yang salah dari gambar ini? Ia mengurangi semua aksi (tindakan) menjadi sekedar reaksi dan karenanya pengusaha sebenarnya sama saja, kecuali kebetulan – bekaitan denagn apa yang terjadi yang mengikuti perilakunya – dari orang yang tak berguna, yang pemalas, pengangguran, tidak ada yang mempunyai dampak pasti terhadap apa yang terjadi. Pada level yang fundamental, posisi ini sangatlah pasti sampai-sampai ia meninggalkan pembenarannya sendiri mengawang di angkasa, dengan tidak pasti. Ini karena dengan pahamnya sendiri mereka yang berpegang padanya harus, sementara yang lain tidak, menyangkalnya. kedua sisi dapat dievaluasi secara independen, obyektif, berdasarkan pada analisa yang mantap, dan pemikiran yang bagus (Machan, 1996).
Semua pemikiran, oleh posisi ini, sama-sama valid bagi kita yang tidak dapat lari dari bias dan prasangka kita bahwa kita hanya melakukan apa yang harus kita lakukan. Toh pandangan ini menghapuskan dirinya sendiri dari urutan apa-apa yang mungkin benar karena dengan pahamnya sendiri kebenarannya tidak akan pernah bisa dikatakan (oleh kita). Tidak ada teori yang bisa jadi benar, dan ini membuat tidak mungkin untuk menentukan apakah ia benar. “Betul” atau “benar” merupakan property penilaian atau klaim yang dibuat oleh makhluk berakal yang berkenan memahami hal-hal dengan benar ataupun salah.
Mungkin telah dikatakan bahwa homo economicus tidak bisa menjadi bagian dari sistem deterministik atau pasti semacam itu karena bukankah ia berada diluar sana membuat keputusan dipasar? Bukankah pilihan merupakan batu pondasi dari kegiatan ekonomi?
Sebenarnya, apa yang dilakukan oleh seorang homo economicus adalah menyeleksi, berdasarkan atas keinginan dan dorongan dan pilihan yang ada bagi dirinya, seperti ketika sungai memilih satu jalur untuk mencapai lautan, atau burung menyeleksi bahan-bahan yang digunakan untuk membuat sarangnya. Seleksi saja tidaklah cukup. Adalah originasi, pengawalan tindakan, yang membuat suatu tindakan manusia yang bertanggungjawab. Adalah inisiatif kewirausahaan yang pada umumnya membedakan mereka yang sukses dengan mereka yang gagal di kapitalisme.

Jadi apakah pengusaha merupakan sosok yang berguna?
Seorang pengusaha juga adalah seorang penemu, seorang profesor informasi yang efektif, suatu faktor yang berguna dalam proses produksi dari kapitalisme. Seperti argumentasi dari Israel Kirzner, “pembedaan yang tajam harus ditarik antara cara-cara produksi yang dibuat dengan biasa, dan cara-cara produksi yang dibuat dengan kewirausahaan” dari awal, karena “kewirausahaan tidak dapat dibeli atau direkrut oleh si pengusaha” (Kirzner, 1974, p. 3). Tetapi banyak yang telah mencoba memahami pasar sebagai suatu sistem produksi, telah memperlakukan sang pengusaha sebagai satu faktor produksi. Seperti yang dicatat oleh Kirzner, untuk Schumpeter, contohnya, “cara-cara produksi mencakup semua agen yang diperlukan untuk memproduksi produk dalam suatu aliran melingkar” (Kirzner, 1974, p. 3). Ini mendukung pandangan pengusaha sebagai satu bagian dari suatu mesin pencetak kekayaan yang besar, bukan merupakan bagian yang menentukan dan problematic dalam hal apapun, satu bagian yang tanpanya semua lainnya tidak akan dapat bekerja.
Memang suatu konsepsi yang lebih humanistik yang bukan hanya diakui oleh orang-orang bisnis tapi juga semua agen ekonomi sampai adalah bahwa sampai ke level tertentu kita semua adalah pengusaha, hanya beberapa dari kita saja yang menjadi pengusaha profesional. Kita memutuskan untuk menggunakan sumberdaya yang ada bagi kita, mendapatkan otoritas untuk mengarahkan sumberdaya tersebut dengan mencari dukungan dari pihak lain yang juga membuat suatu keputusan kewirausahaan dengan memutuskan untuk mempercayai kita dengan sumberdaya ini, yang nantinya, tanpa usaha bersama ini tidak akan menjadi apa-apa. Memang benar, ketika keputusan-keputusan kewirausahaan semacam ini digagalkan, baik oleh faktor-faktor alami seperti bencana atau penyakit, atau oleh kriminal dan birokrat, proses produksi pun melambat hingga mencapai stagnansi, menghasilkan kekurangan dan semacamnya.
Namun, jika kita hendak melihat kegiatan kewirausahaan yang diawali oleh manusia sebagai sesuatu yang mungkin atau tidak mungkin diawali oleh kehendak manusia (dengan dukungan dari faktor-faktor produksi lain), dapat dipertanyakan, apakah ini hal yang baik? Perlukan kita menjadi pengusaha?

Beberapa penghalang untuk menjawab pertanyaan kita
Garis pertanyaan yang saya ambil mendapatkan banyak perlawanan dari aspek ilmu ekonomi yang mungkin paling gigih, yaitu scientism atau ilmuisme. Ini merupakan pandangan yang isinya bahwa pemikiran yang kuat meminta kita untuk mengikuti metode demonstrasi, bentuk-bentuk penjelasan dan bukti, yang telah diketemukan pantas dalam ilmu pengetahuan alam dasar (Sorell, 1991). Paham utamanya ditetapkan oleh para pengikut Lingkaran Vienna, sebuah grup yang dibentuk pada pergantian abad yang terdiri dari ilmuwan, insinyur, dan filsuf yang terganggu dengan arah yang dituju oleh filsafat dibawah kepemimpinan idealism neo-Hegelian. Pengaburan mengundang pengurangan.
Hasil yang paling penting dari ilmuisme bagi tujuan kita adalah permintaan dari para ahli ekonomi agar semua pemahaman akan kegiatan pasar diletakkan dengan menyesuaikan dengan bahasa ilmu alam. Dan ilmu alam utama yang membimbing lapangan ekonomi adalah mekanika klasik (Moorehouse, 1978). Dengan paham-paham mekanika klasik, setiap maksud haruslah efisien, setiap peristiwa mendahului serta produktif terhadap apa yang perlu dijelaskan.
Maka pengusaha tidak dapat memiliki peranan yang menonjol dan menentukan dalam kehidupan ekonomi karena perilakunya hanyalah satu mata rantai dalam sebuah rantai panjang hubungan sebab-akibat yang terus berkelanjutan. Tidak ada inisiatif pribadi dan individu yang mungkin ada dalam pandangan tentang pengusaha ini. Juga tidak mungkin, dalam pandangan ini, untuk melihat siapapun layak mendapatkan buah dari kerjanya, bahkan jika dimungkinkan untuk menyediakan beberapa pembelaan instrumentalis – cth: “Ini akan membawa kepada masyarakat yang lebih makmur” – terhadap adanya para pengusaha untuk mendapat keuntungan yang dihasilkan dari perilaku mereka.
Pembelaan instrumentalis tidak berfokus pada hak-hak pengusaha atau apakah ia layak atas pekerjaan yang bagus, melainkan pada stimulus yang menjaga profit akan menyediakan aktifitas kewirausahaan lebih lanjut. (dalam beberapa hal, ekonomi sisi-suplai menambahkan pada versi longgar dari analisis ini – dengan menghadiahi si produsen atau dengan tidak menempatkan halangan dihadapan mereka, pemerintah menstimulasi produksi.)

Kekurangan dalam gambaran mekanistis
Apa yang salah dengan mekanika klasik? Tanpa memasuki hal ini sepenuhnya, marilah pertama-tama kita catat bahwa ia ternyata adalah sebuah ilmu fisik yang terbatas. Ia bukanlah semacam ilmu metafisika yang mencakup semua. Banyak pengikut revolusi ilmiah, khususnya Newton, telah berharap mekanika klasik akan menjadi suatu ilmu metafisika yang mencakup semua. Ini telah membawa kepada banyak paradoks, termasuk paradoks-paradoks yang membawa para fisikawan modern untuk menggantikannya dengan pandangan fisika kuantum yang lebih komprehensif terhadap dunia. Ia juga gagal menjelaskan apa yang terjadi dikehidupan manusia, termasuk di pasar. Ia tidak mampu menjelaskan dengan masuk akal, misalnya, kegagalan kewirausahaan atau intelektual serta kesuksesan, atau menjelaskan kemungkinan rasionalitas berkenaan dengan hal-hal teoritis, dll, dll. Mekanika klasik dan positifisme logis yang lebih canggih yang dihasilkannya tidak cukup komprehensif untuk tujuan memahami kondisi alam semesta, khususnya bagiannya yang dihuni umat manusia.
Lebih jauh, ada pandangan alternative yang lebih sukses, meskipun ini bukanlah tempat untuk mengembangkannya. Mereka membuka rentang kemungkinan untuk tindakan-tindakan seperti apa yang dapat terjadi di alam. Beberapa darinya akan menjadi tipe yang mekanis, sehingga akan melibatkan apa yang oleh beberapa ilmuwan disebut “hubungan-sebab-akibat kebawah”, serta beberapa teleologi atau kebermaksudan yang diperkenalkan ulang, setidaknya sejauh yang berhubungan dengan hewan-hewan dengan kapasitas otak yang tinggi – untuk berpikir. Dan ini merupakan poin yang sangat krusial.

Daya tarik dari Ilmuisme
Yang paling ditakuti oleh semangat keilmiahan adalah dualism, harus membagi dunia menjadi dua alam yang terpisah, disepanjang garis filsafat yang diletakkan oleh Socrates-nya Plato, oleh Rene Descartes dan diteguhkan oleh Immanuel Kant. Pandangan inilah yang berpegang bahwa pada kenyataannya dua alam memang ada, alam natural dan spiritual, dan tidak akan pernah keduanya bertemu. Dualisme semacam inilah yang mengesalkan sebagian dari kita yang berpemikiran ilmiah, khususnya para ilmuwan sosial seperti misalnya para ekonom yang ingin memastikan bahwa disiplin ilmu mereka adalah terhormat, layak dipelajari, dan hasil studinya patut diperhatikan dalam prakteknya. Selain ilmu-ilmu sosial, tidak ada ilmu lain yang memerlukan pandangan dunia dualisme. Jadi mengapa ia perlu bisa diterapkan di dunia umat manusia?
Apakah ini adalah ketakutan yang masuk akal? Ilmuisme membuat kita tidak bisa memahami hal-hal sepertti kewirausahaan. Alasannya adalah karena kewirausahaan menganggap umat manusia dapat mulai bertindak sendiri, bahwa umat manusia memiliki kapasitas untuk mengawali tindakan, bahwa umat manusia memiliki suatu ukuran kebebasan dasar – kehendak bebas.

Ilmuisme adalah ilmu yang buruk
Ilmu mekanistik tidak dapat memahami hal ini. Apakah hal itu berarti bahwa kita terancam oleh dualism kecuali kalau kita bertahan dengan ilmuisme yang ketinggalan jaman? Seperti pengamatan Fraser Watts, “adalah salah untuk menganggap bahwa pandangan materialistik sederhana tentang badan adalah satu-satunya alternative untuk menjaga konsep dualistik dari jiwa; yang intinya untuk mengambil separuh dari dua bagian konsep Descartes tentang manusia tanpa menganggap separuh lainnya. Akan lebih membantu untuk mengembalikan pandangan Aristotelian tentang jiwa yang antedated dualisme Cartesian …” (Watts, 1994, p. 279). Idenya sebenarnya sangatlah familiar: alam telah berevolusi menjadi suatu sistem dengan banyak level kompleksitas, beberapa diantaranya benar-benar berbeda dari yang lain. Umat manusia benar-benar terbukti berbeda dengan hewan yang paling berkembang di dunia sekalipun. Dan hewan pada umumnya juga berbeda dengang tanaman, dan seterusnya. Singkatnya, ada suatu hirarki di alam. Sejalan dengan dimana beberapa hal mesti ada pada hirarki ini, kapasitas yang berbeda sungguh terlihat.
Kalau berhubungan dengan umat manusia contohnya, umat manusia mampu membentuk ide, seringnya mulai dengan ide-ide yang orisinil. Hewan umumnya memilki kemampuan pergerakan , berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Tanaman, hewan, dan manusia semuanya memerlukan asupan sedangkan hal-hal yang tidak bergerak tidak memerlukannya. Tapi dengan manusia, kapasitas diri untuk sebab-akibat atau determinasi telah terbukti ada di alam semesta. Ide ini memiliki kekuatan menjelaskan yang besar dalam hal kemampuan menjelaskan sebagian besar dari apa yang telah diakui akal sehat – tanggungjawab pribadi, perilaku benar dan salah, ide dan argumentasi yang baik dan buruk, tanggungjawab kriminal, kreatifitas artistik, keberagaman perbedaan yang besar diantara kebudayaan dan individu sepanjang sejarah dan diseluruh bumi, dll.
Jika ini semua benar, kenapa pernyataan bahwa manusia bergerak secara berbeda dari anggota alam lainnya, bahwa mereka memulai sendiri perilaku mereka yang signifikan, menjadi sangat diluar pertanyaan? Ini tidaklah diluar pertanyaan, kalau bukan karena pengaruh ilmuisme dan mekanika klasik.
Memang benar, ilmuisme adalah ilmu yang buruk. Ia menolak, dengan prasangka buruk, apa yang perlu diakui sebagai sebuah aspek alami, yaitu, kemungkinan tindakan-yang-disebabkan-diri-sendiri oleh umat manusia dengan kapasitas untuk mengambil keputusan orisinil, melakukan tindakan orisinil. Maka, ia adalah ilmu yang buruk yang menghalangi kemungkinan kewirausahaan untuk terjadi.

Konsekuensi dari memanusiakan ekonomi
Jika seseorang menambahkan faktor inisiasi pada suatu pemahaman akan perilaku manusia, kita mendapatkan pemahaman yang lebih kaya akan realita. Tetapi kita juga harus mengubah ekspektasi kita. Manusia yang dapat memulai sesuatu mungkin bisa juga gagal untuk melakukannya. Untuk alasan inilah pemanusiaan membawa suatu elemen normative atau moral, sesuatu yang oleh pemikiran ilmiah dipercaya dapat dihindari. Ketika kita sampai pada ekonomi, sebuah alam tentang aktifitas manusia, tidak ada cara menghindar dari mempertimbangkan apa yang terjadi dalam hal standar benar dan salah. Seperti yang dikatakan oleh Kirzner, “Dalam memutuskan untuk mengawali proses produksi, manusia telah menciptakan produknya” (Kirzner, 1974, p. 10). Sejalan dengannya, pengusaha adalah seseorang yang bisa dievaluasi karena telah menemukan dan mengumpulkan informasi serta dukungan modal yang membawa kepada suksesnya perusahaan – atau karena telah gagal melakukannya, atau telah melaukannya dengan lebih atau kurang sukses.

Wirausaha: apakah ia bermoral?
Bagaimana kita dapat menempatkan moralitas dengan pas kedalam sebuah ilmu sosial yang perlu tetap menjadi tepat dan ilmiah?
Pertama-tama, moralitas timbul dari satu pertanyaan dasar yang ditanyakan oleh semua umat manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. “Bagaimana saya harus membawa diri saya?” (Ini dapat dikatakan dalam berbagai cara, seperti yang telah kita lihat, termasuk “Standar apa yang harus saya ikuti dalam membawa diri saya?” dan “Apa yang harus saya lakukan?” serta “Apa yang layak dipuji, perilaku yang pantas?”). Umat manusia menanyakan pertanyaan ini karena mereka kekurangan insting, karena sebagian besar dari kelakukan mereka tidak ditentukan terlebih dahulu oleh kejadian-kejadian sebelumnya atau struktur genetic, bahkan ketika kejadian-kejadian tadi membentuk suatu kondisi yang membatasi apa yang dapat mereka lakukan.
Umumnya ada suatu rentangan alternatif yang tersedia bagi manusia dan dari alternatif-alternatif ini mereka akan memilih apa yang akan mereka lakukan. karena pilihan dari sebuah alternatif itu sendiri adalah sesuatu yang mereka lakukan dan tidak ditentukan untuk mereka, mereka perlu menjawab apakah alternatif yang manakah yang perlu diambil. Pada level yang paling fundamental, moralitaslah yang mengidentifikasi jawaban yang tepat.
Satu alam yang berisi pilihan yang murni dan belum ditentukan bagi semua umat manusia yang normal adalah pilihan untuk mengaktifasi pemikiran rasional mereka, tipe kesadaran spesifik mereka. Berpikir bagi beberapa orang tidaklah otomatis, ia perlu diinginkan atau diawali. Disinilah dimana mereka memiliki kebebasan dasar mereka. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ralph Waldo Emerson, “Kepandaian membatalkan Takdir. Sejauh mansuia berpikir, ia bebas … Pewahyuan akan Pemikiran membawa manusia keluar dari penghambaan, kepada kebebasan” (Ralph Waldo Emerson, “Takdir”, 1860). Ini cukup masuk akal, meskipun saya tidak akan mencoba untuk menetapkannya sebagai fakta (Machan, 1996, pp. 59-72). Ini menjelaskan bahwa area aktifitas manusia yang tidak dapat dijelaskan dengan referensi kepada penyebab-penyebab yang mendahuluinya merupakan formasi dari ide-ide. Hanya area inilah yang mencakup berteori, penilaian, perencanaan, pengambilan-keputusan – yang adalah, keseluruhan rentangan rasionalitas. Disinilah beberapa dari kita benar, dan beberapa lainnya salah. Inilah yang mengidentifikasi dimana terletaknya tanggungjawab mansuia, apakah itu diwilayah etika, hukum atau kinerja ilmiah dan intelektual. Kita bertanggungjawab, terutama, atas penilaian kita karena tindakan kita adalah merupakan tindakan, yang berbeda dari sekedar perilaku, berdasarkan bimbingan penilaian mereka.
Toh, di poin ini jugalah timbul sebuah kesulitan, satu kesulitan yang mengganggu bagi mereka yang berkeinginan untuk menggolongkan perilaku manusia dibawah hukum alam. Karena tidak seperti hal-hal lain di dunia, keabsahan manusia – logis, etis ataupun legal – adalah sukarela sifatnya. Tidak dapat diprediksi apakah seseorang benar-benar akan berpikir, apakah dia akan mengawali dan/atau mempertahankan usaha mental ini. Terserah pada masing-masing individunya. Seperti yang dikatakan oleh Lester Hunt:

Pemikiran yang terlibat disini  … mampu memproduksi banyak hasil yang berbeda-beda mengenai satu permasahalan secara tak terbatas. Rasionalitas dari hasilnya adalah fakta bahwa, dengan cara tertentu, adalah pantas sampai sejumlah total faktor, yang masing-masingnya mengakui dalam derajat yang berbeda-beda (Hunt, 1994, p. 22).

Memang, banyak dari pemikiran kita dapat diprediksi, tetapi hanya karena kita diketahui telah memikirkannya. Ketika seseorang mulai melakukan tugasnya untuk memahami sesuatu – memulai sebuah proyek penelitian, berusaha untuk hidup dengan sukses, mematuhi hukum yang berlaku di komunitas – ini adalah taruhan yang aman, seringnya seseorang yang melakukannya akan melanjutkannya. Seseorang mungkin melihatnya sebagai sebuah analogi dengan janji – kebanyakan orang akan berusaha untuk menepatinya, meskipun beberapa lainnya jelas tidak. Kita selalu dapt dikejutkan oleh teman-teman kita yang tiba-tiba membuang segala usaha mereka untuk berpikir, menilai, merefleksikan atau berteori dengan sukses. Tetapi kita biasanya dapat mengantisipasi bahwa banyak yang akan melanjutkan apa yang telah mereka tetapkan untuk dilakukan, yang sedikit banyak berarti mengambil dan melakukan tugas hidup sebagai manusia. Elemen moral dalam kehidupan manusia tidak menghasilkan hukum-hukum alam yang menghasilakn prediksi-prediksi yang dapat diandalkan, meskipun tidak juga bahwa tidak ada antisipasi adalah beralasan – sehubungan dengan bagaimana seseorang akan melanjutkan menjalankan tugas.

Moralitas dari tingkah laku yang bijaksana
Kebijaksanaan adalah sifat menerapkan diri secara rasional dalam hidup. Aristoteles dalam phronesis menyebutnya alasan praktis. Ia juga telah dipahami sebagai usaha yang terorkestrasi untuk hidup dengan baik, untuk berkembang, untuk memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya, untuk hidup dengan hati-hati, dan dengan ekonomis. Kebijaksanaan dapat dipahami dengan cara yang berbeda-beda, tergantung pada apa yang kita sendiri pahami – yaitu, apakah kita meletakkan dirikita sendiri menjadi makhluk yang pada pokoknya duniawi, makhluk spiritual yang menuju suatu kehidupan-setelah-mati, apapun. Tetapi mungkin paling masuk akal untuk memahami bahwa, sepengetahuan kita, kita adalah bagian dari alam dengan satu kehidupan untuk dihidupi dengan bergantung pada atribut-atribut serta kapasitas biologis kita.
Karena itu, kebijaksanaan merupakan nilai yang membimbing seseorang kepada kehidupan yang baik. Dan merupakan satu aspek yang penting dari kehidupan yang mementingkan pengamanan keuntungan yang menyuplai kesuksesan ekonomi.
Tingkah laku kewirausahaan merupakan spesialisasi dalam kebijaksanaan. Ia dapat menjadi baik ataupun buruk, sama seperti hampir semua tingkah laku manusia, karena tentunya seseorang bisa saja melakukannya secara berlebihan, sama seperti yang dapat terjadi pada nilai-nilai lainnya. Suatu kehidupan manusia yang baik melibatkan integrasi atau penyatuan semua nilai-nilai, suatu keseimbangan diantara mereka, sehingga seseorang – contohnya – tidak menjadi dermawan lebih dari yang seharusnya. Jika kebijaksanaan sendiri merupakan sebuah nilai manusia yang sejati, maka kewirausahaan pun merupakan sesuatu yang bermanfaat.
Seperti yang telah kita catat sebelumnya dalam makalah ini, beberapa filsafat dan agama menganggap kewirausahaan tidak berguna karena ia membawa kepada harta duniawi, pendapatan kekayaan. Ada beberapa tema dalam Kekristenan yang telah diinterpretasikan sebagai anti-perusahaan, seperti dalam hubungan Yesus dengan para pedagang. Ketika Yesus berkata, “Ada tertulis, Rumahku akan disebut rumah doa; tetapi engkau telah menjadikannya sarang penyamun,” ini menyiratkan dengan kuat bahwa penjualan dan pembelian serta penukaran uang sama dengan pencurian. Tentunya sentimen inilah yang beredar luas di banyak budaya, termasuk di peradaban Barat, seperti yang telah dijelaskan di bagian awal dari buku ini. Jika kita ingin menemukan ruang untuk kewirausahaan sebagai sesuatu yang tidak hanya dapat dilaksanakan secara ilmiah tetapi juga sebagai suatu kegiatan yang sepenuhnya benar secara moral, kita perlu mencatat bahwa kewirausahaan merupakan sesuatu yang pantas dipuji karena hubungannya dengan kebijaksanaan, suatu nilai kemanusiaan yang bonafide – bahkan merupakan yang pertama dari nilai-nilai utama.

Wirausaha dan politik
Setelah mencatat dengan singkat bahwa jelas ada sesuatu yang sepenuhnya bermoral tentang wirausaha, sekarang kita bisa mempertimbangkan kenapa wirausaha harus dihargai dan kenapa suatu komunitas manusia yang adil harus mebuat ruang yang pantas untuknya, menyambutnya sebagai satu bagian dari institusi mereka.
Tentu saja masyarakat yang bebas adalah masyarakat yang adil, karena hanya didalam kerangka inilah moralitas sendiri bisa berkembang. Orang-orang yang tidak bebas tidak bertindak karena pilihan mereka, tetapi karena apa yang dipaksakan kepada mereka secara legal. Kecuali tindakan seseorang melanggar hak-hak orang lain, sehingga menghalangi mereka untuk bisa menikmati wilayah otoritas pribadi, agen moral mereka, tidak ada kekuatan apapun dari pihak lain yang bisa memaksa orang tersebut. Apa yang dilakukan oleh kehormatan dan perlindungan hak-hak dalam sebuah masyarakat yang bebas adalah melindungi kondisi moral dari kehidupan manusia dalam sebuah komunitas. Seperti yang dikatakan oleh Ayn Rand:

“Hak” adalah sebuah konsep moral – konsep yang memberikan suatu transisi logis dari prinsip-prinsip yang membimbing tindakan seorang individu dan melindungi moralitas individual didalam suatu konteks sosial – hubungan antara kode moral seorang manusia dengan kode hukum dari suatu masyarakan, diantara etika da politik. Hak-hak individual adalah cara mengebawahkan masyarakat kepada hukum moral (Rand, 1968, p. 382).

Namun, juga ada kebutuhan untuk mengidentifikasi tempat spesifik dari kebijaksanaan dalam sebuah komunitas manusia yang adil. Inilah mesin produksinya. Inilah nilai spesifik, praktek yang mengedepankan nilai-nilai yang mempertahankan sehidupan seseorang dan membantu mengembangkannya. Inilah yang diterjemahkan dalam kewirausahaan didalam kerangka kehidupan ekonomi kita.
Karena hal ini, hanya sistem ekonomi laissez-faire  yang dapat memberikan keadilan bagi kondisi moral kita. Dalam sebuah sistem seperti ini, para pengusaha bebas untuk menciptakan dan memanen keuntungan-keuntungan yang oleh orang lain dianggap pantas untuk dianugerahkan kepada mereka jika kerja mereka telah mencapai target. Pengusaha bertujuan untuk menciptakan kekayaan melalui beragam cara-cara dan ia adalah asli – artinya tidak mengambil jalan pencurian, berbuat curang, penggelapan, atau cara-cara jahat lainnya dalam mendapatkan sarananya dan dalam menggunakannya – hasil yang dicapai adalah konsekuensi dari perilaku berbudinya.
Bahkan jika seorang pengusaha mungkin secara moral memiliki kelemahan di wilayah lain dari kehidupannya, sejauh ia menciptakan kekayaan, menjadi produktif, ini adalah hal yang baik dan apa yang didapatkannya haruslah tetap berada dibawah yurisdiksi pribadinya. Pemerintah yang membebani hasil kinerja wirausaha tadi dengan pajak berarti merongrong kondisi moral dari kehidupan komunitas manusia, sama seperti pemerintah yang mentransfer kekayaan dari para pengusaha yang sukses kepada para pengusaha yang tidak sukses. Sama juga dalam hal membebani pendapatan novelis dan seniman-seniman lain dengan pajak, dan kemudian membagi-bagi uang pajak tersebut. Tidak ada kontrak sosial yang dapat mengesahkan tindakan pemerintah semacam itu karena sebuah kontrak yang menghasilkan pihak ketiga yang bukan merupakan penandatangan kontrak adalah sebuah penipuan – sama seperti “kontrak” Mafia.

Kebijaksanaan dan hak-hak kepemilikan
Sangat penting untuk mempertimbangkan hal lain disini. Yaitu pengaruh moralitas terhadap perkembangan hukum. Dalam sebuah masyarakat yang bebas, sesekali akan muncul kasus-kasus sulit dimana para aparat hukum dan hakim harus memilih untuk menghormati panggilan untuk melindungi hak-hak tertentu diatas hak-hak lainnya. Hak berkembang secara hirarkis, dengan hak untuk hidup sebagai yang utama; kebebasan, kepemilikan dan hak-hak lain yang lebih spesifik menyusul berikutnya. Oleh karenanya, penting untuk menekankan urutan dari hak-hak ini.
Tidak ada yang meragukan bahwa iklim intelektual pada umumnya telah memegang pandangan yang merendahkan hak-hak kepemilikan pribadi. Mengapa? Karena komunitas itu telah memiliki pandangan yang merendahkan usaha individu untuk memperkaya diri. Dari jaman tulisan-tulisan tentang etika dari Immanuel Kant, kebijaksanaan telah diberi peran minimum secara moral dalam kehidupan manusia – Kan membagikan pandangan Pencerahan yang isinya bahwa tingkah laku untuk-kepentingan-sendiri adalah hampir otomatis, kita kurang lebih didorong untuk melakukan yang benar untuk diri kita sendiri, untuk menjadi bijaksana. Jadi Kant mengesampingkan hal ini dari filsafat moralnya yang sangat berpengaruh, filsafat yang menekankan – diatas segalanya – ke-tanpa-kepentingan sebagai penanda daripada perilaku moral. (Tentu saja bahkan sebelum Kant, pengejaran akan pengayaan duniawi telah, seperti yang kami catat, direndahkan secara luas.)
Oleh sudut pandang etika Kant serta neo-Kant, wirausaha tidak dapat menjadi layak-dipuji secara moral, karena tidaklah mungkin seorang pengusaha dapat dilihat bertindak tanpa kepentingan, tanpa memikirkan tujuan-tujuannya, khususnya dalam konteks keuntungan ekonomis.
Bahkan terpisah dari pengaruh Kant, ada usaha-usaha yang sama mendesaknya untuk mendemonstrasikan bahwa invidiualisme adalah sepenuhnya mitos belaka. Kewirausahaan tanpa individualisme hanyalah sekedar angan-angan. Kecuali seorang individu memiliki kapasitas untuk melakukan sesuatu sendiri – seberapa pun ini mungkin didukung oleh orang lain dan oleh segala macam fitur-fitur alam didunia yang digunakan oleh si individu – tidak aka nada konsep yang menonjol tentang pengusaha. Kaum sosialis tentu saja telah sangat bersemangat untuk menunjukkan bahwa individual hanyalah sebuah mitos dan kita semua adalah makhluk-spesies, hanyalah bagian dari sebuah organism besar, yang adalah masyarakat atau kemanusiaan. Bahkan setelah penurunan reputasi sosialisme, masih ada doktrin-doktrin kolektifis lainnya, seperti misalnya komunitarianisme, yang akan membuat individu manusia digolongkan dalam kesatuan sosial lainnya – cth., kelompok suku, etnis, ras, atau budaya, dll. Doktrin-doktrin ini juga menegaskan prioritas etika dari kepentingan orang lain, atau dari kepentingan grup, sebelum kepentingan diri sendiri. Pengaruh legalnya, khususnya dalam kasus-kasus sulit dimana tertinggal ambiguitas, dapat berbalik melawan ide tentang hak-hak kepemilikan dan kebebasan wirausaha.
Hasilnya adalah kapanpun klaim-klaim yang bertentangan tentang pelanggaran hak muncul – katakan saja, diantara hak kepemilikan dari pemilik-tanah dan hak hidup dari burung, ikan, atau kelompok-kelompok budaya – telah ada kecenderungan publik dan bahkan yudisial untuk menolak hak kepemilikan pemilik-tanah sekedar karena kekurangan manfaat moral. Tidak peduli ada seberapa banyak tradisi konstitusional tentang perhatian terhadap hak-hak kepemilikan pribadi, yang berlawanan dengan “pengambilan”, dengan iklim moral seperti ini tidak diragukan bahwa klaim yang mendukung si pemilik lahan akan jatuh ke telinga yang tuli[2]. “Yang mereka inginkan adalah kekayaan, dan tidak ada yang moral tentangnya kan? Para ahli lingkungan, kontrasnya, adalah orang-orang yang bermoral, mereka peduli akan makhluk hidup, jadi klaim mereka harus diberikan prioritas yang lebih tinggi”.
Kecuali status etika dari hak-hak kepemilikan ditegaskan ulang, kecuali diperjelas bahwa mereka yang menggunakan hak kepemilikan pribadi mereka dengan cara-cara kewirausahaan memiliki sebuah tujuan moral, bukan sekedar tujuan akan sesuatu yang bisa dibilang serakah atau tamak, kesempatan mereka untuk mendapatkan kemajuan dalam penentuan kebijakan publik pun akan menjadi minimum. Lebih jauh, dan mungkin bahkan lebih penting, kecuali jelas ditunjukkan dan terus-menerus ditekankan bahwa sifat alami manusia bukanlan, seperti klaim Marx, “kolektifitas manusia yang sebenarnya” melainkan termasuk sebagai sebuah elemen penting individualitas seseorang, persoalan dukungan kebijakan publik terhadap kewirausahaan akan terus gagal.

Kata penutup tentang wirausaha
Ini belum merupakan sebuah perlakuan yang komprehensif terhadap wirausaha. Apa yang ingin saya jelaskan dan dukung dengan susunan argument yang masuk akal adalah bahwa pengusaha melakukan hal yang mulia, bahwa ini cocok dengan pandangan naturalis dan ilmiah terhadap dunia, dan bahwa untuk bersikap adil terhadap kondisi moral dan normatif dari kewirausahaan memerlukan sebuah ekonomi politik kapitalis yang benar-benar bebas.
Alasan dari pendekatan ini tidaklah sulit untuk dimengerti. Persoalan tentang sebuah masyarakat yang bebas terletak pada banyak pertimbangan tetapi mereka yang mengkritik sistem ini sangat bersemangat khususnya untuk menemukan kelemahan dengan bagaimana beragam garis dukungan bergantung bersama. Jika pendekatan ilmiah tidaklah konsisten dengan pendekatan moral ataupun politik, ini akan dicatat. Contohnya, para ahli ekonomi neo-klasik cenderung menghalangi pertimbangan tentang apa yang benar secara moral dalam diskusi-diskusi mereka tentang proses pasar, tetapi yang lainnya, dengan tendensi politis yang lebih besar, mengklaim bahwa pasar mendorong tanggungjawab moral; namun lainnya mengklaim bahwa mereka mampu memprediksi bahwa dibawah kondisi pasar produktifitas serta kekayaan yang lebih besar akan bisa dicapai dimasyarakat, sementara yang lain tetap berpegang pada gagasan bahwa yang spesial dari pasar adalah bahwa tidak banyak yang bisa diprediksi sebagaimana sarana dan prasarana akan digunakan. Sangat sulit khususnya untuk mendemonstrasikan peranan moral dari hak kepemilikan pribadi didalam kerangka analisa ekonomi yang murni positif, karena hak-hak kepemilikan menimbulkan ketidak setaraan tertentu diantara mereka yang menggunakan kekayaannya dengan bijak dan mereka yang menggunakan kekayaannya dengan tidak bijak. Mengapa yang menggunakan dengan bijak harus bisa menyimpan yang mereka dapatkan jika mereka tidak layak, jika tidak ada tindakan kewirausahaan mereka yang berfaedah secara moral?
Saya telah memberikan argumentasi bahwa pendekatan positifis yang ekslusif atau pendekatan yang netral secara etika terhadap analisa pasar disini salah karena ia terletak pada pandangan bahwa umat manusia tidak mampu mengontrok apa yang mereka lakukan, tidak ada cara yang berarti untuk menentukan kalau apa yang mereka lakukan itu benar atau salah. Padahal faktanya umat manusia mampu membuat keputusan-keputusan penting, mengambil inisiatif untuk menerapkannya, dan melakukannya dalam kualitas yang berbeda-beda. Perilaku mereka hanya dapat diprediksi secara statistik dan secara luas, berdasarkan atas apa yang kita ketahui tentang kebiasaan pikiran dan tindakan mereka, bukan karena kita mengetahui faktor-faktor yang sepenuhnya menentukan apa yang akan mereka lakukan. Saya telah berpendapat juga bahwa salah satu fitur dari tingkah laku manusia yang layak dipuji secara moral adalah lebih mengembangkan kesejahteraan ekonomi seseorang – ini tertuang dalam bentuk mempraktekkan nilai kebijaksanaan. Dan para pengusaha adalah spesialis dalam hal ini, dimana untuknya mereka mendapat imbalan keuntungan dari orang lain, dan mereka layak mendapatkannya.
Dalam sebuah masyarakat yang berisi hubungan antara manusia yang adil, harus ada sebuah keramahtamahan yang konsisten dan terus-menerus terhadap wirausaha, karena tanpanya sebuah dimensi moral dari kehidupan manusia akan tertindas atau setidaknnya menyimpang dengan serius. Tanpa penyambutan seperti ini, kebijakan publik dan hukum akan memberi jalan bagi sentiment moral yang diterima secara luas, yang sedihnya, tidak tepat, contohnya permintaan akan kekuasaan Negara untuk mengatur yang semakin besar dan semakin besar, atau untuk mengatur-ulang masyarakat dan bukannya untuk membuatnya aman bagi inisiatif manusia yang alami.

Catatan

  1. Perlu dicatat bahwa bukan hanya seorang individu sendirian melainkan keseluruhan perusahaan dapat menjadi pengusaha. Tetap saja, apa yang terlibat adalah inisiatif untuk mencari kekayaan dengan menggunakan sarana dengan bijak dan terkadang berani; untuk informasi lebih banyak tentang ini, lihat Roberts dan Yates (1995).
  2. “Pengambilan” merupakan konsep yang digunakan di Amandemen Kelima dari Konstitusi Amerika Serikat, yang mengacu pada penyitaan milik pribadi oleh pemerintah untuk penggunaan publik yang semestinya dikompensasi sebesar nilai pasar.
  3. Makalah ini banyak menarik dari kontribusi penulis pada Bab 11 dari Chesner dan Machan (1999).


Referensi
Chesner, J.E. dan Machan, T.R. (1999), Bisnis dalam Perdagangan, Menilai Sebuah Profesi yang Terhormat, Hoover Institution Press, Stanford, CA.

Dawkins, R. (1976), Gen Egois, Oxford University Press, New York, NY.

Emerson, R.W. (1860), “Takdir”, dari koleksi esai, “Tingkah Laku dalam hidup”, (1860 direvisi 1876), Tersedia di internet di http://www.jjnet.com/emerson/fate.htm

Friedman, M. (1976), “Garis yang tidak berani kita seberangi”, Encounter, November.

Galbraith, J.K. (1958), Masyarakat yang Kaya, Houghton Mifflin, Boston, MA.
Hunt, L.H. (1994), “Sebuah argumentasi melawan tugas hukum untuk menyelamatkan”, Jurnal Filsafat Sosial, Vol. 36.

Kirzner, I. (1974), “Produsen, pengusaha, dan hak untuk memiliki”, Reason Papers, No. 1.

Machan, T.R. (1993), “Etika terapan dan kehendak bebas”, Jurnal Filsafat Terapan, Vol. 10.

Machan, T.R. (1996), Buku Pertama tentang Etika, University of Oklahoma Press, Norman, OK.

McKenzie, R. (1983), Batasan Ilmu Ekonomi, Kluwer-Nijhoff Pub., Boston, MA.
Moorehouse, J.C. (1978), “Fondasi mekanis dari analisa ekonomi”, Reason Papers, No. 4.

Rand, A. (1968), “Nilai dan hak”, dalam Hospers, J. (Ed.), Bacaan dalam Pengantar Analisa Filsafat, Prentice-Hall, Engelwood Cliffs, NJ.

Roberts, E.B. dan Yates, I.C. (1995), “Usaha-usaha perusahaan besar untuk berinvestasi dengan sukses di perusahaan-perusahaan kecil”, Jurnal Perusahaan Swasta, Vol. X No. 2, Spring.

Sorell, T. (1991), Ilmuisme, Routledge, London.

von Mises, L. (1949), Tindakan Manusia, Yale University Press, New Haven, CT.

Watts, F. (1994). “Kamu bukanlah apa-apa selain seonggok neuron”, Jurnal Studi Kesadaran, Vol. 1.

Webster (1983), Kamus Bahasa Inggris Abad keDua Puluh Webster, Simon dan Schuster, New York, NY.


You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:499 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:955 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:140 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:261 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:158 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:422 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:312 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:246 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:188 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:740 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 33 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com