spocjournal.com

BAB VI Pembahasan : Pembahasan Variabel Kewirausahaan


Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, Drs, MM

1. Visi

Pedagang eceran etnis Tionghoa harus memiliki visi dalam menjalankan usahanya. Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang memberikan jawaban setuju dimilikinya visi tersebut sebanyak 156 (65%) dan yang sangat setuju dengan dimilikinya visi dalam menjalankan usaha sebanyak 68 (27%). Jadi pedagang eceran etnis Tionghoa selalu melakukan segala upaya agar visi tersebut tercapai. Hal ini sesuai dengan tanggapan responden yang memberikan jawaban setuju sebanyak 137 (57%) dan yang menjawab sangat setuju sebanyak 45 responden (19%).

Mereka juga selalu mengaplikasikan visi tersebut kepada semua karyawanya agar dapat dipahami. Hal ini sesuai dengan tanggapan mereka yang memberikan jawaban sangat setuju sebanyak 134 responden (56%). Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian responden mempunyai visi yang jelas tentang bagaimana usahanya harus dan akan dikembangkan dalam mencapai kesuksesan. Visi yang jelas dan dapat dipahami oleh seluruh komponen perusahaan akan mendorong komitmen mereka untuk bersama-sama mewujudkannya.
Visi dan Misi bagi pedagang eceran etnis Tionghoa pada umumnya telah dibawa dan melekat menjadi budaya dan tradisi. Visi dan Misi itu selalu diucapkan. Misalnya setiap Hari Raya Imlek, mereka saling mengucapkan kata “Gong  He Xin Xi Wan Shi Ru Yi, semoga panjang umur, banyak rejeki, dan bahagia“. Menurut Benis dan Namus (1984) dalam Locke dan Assosiates (1997:70) visi merupakan target yang memberikan petunjuk atau arah keberhasilan pedagang eceran etnis Tionghoa dalam usahanya.

Pedagang eceran etnis Tionghoa bisa sukses karena telah memiliki Visi dalam menjalankan bisnisnya sehingga kinerjanya meningkat. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian ini dimana nilai loading Visi sebesar 0.805. Oleh karena itu indikator Visi merupakan indikator keempat setelah Motivasi (0.882), Percaya diri (0.846) dan Peluang (0.822) yang berpengaruh terhadap variabel Kinerja Usaha (Y). 


2. Perencanaan

Pedagang eceran etnis Tionghoa memiliki perencanan, baik pembelian maupun penjualan tahun berikutnya. Perencanaan pembelian dan penjualan biasanya dikerjakan sendiri oleh pimpinan perusahaan berdasarkan pengalaman tahun-tahun yang lalu. Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang memberikan jawaban sering membuat perencanan sebanyak 98 responden (41%). Perencanaan dibuat setelah melalui evaluasi yang mendalam atas masalah-masalah dan peluang yang ada. Dari hasil penelitian ini, responden yang menjawab setuju hal itu dilakukan sebanyak 131 (54%).

Pedagang eceran etnis Tionghoa membuat perencanaan yang disesuaikan dengan sumberdaya yang ada. Dari hasil penelitian ini responden yang menjawab sangat setuju sebanyak 132 responden (55%). Hal itu menunjukkan walaupun hanya mengelola bisnis eceran tetapi pemiliknya telah memiliki perencanaan dan berupaya agar perencanaan tersebut dapat berjalan dengan baik dan mendapatkan hasil seperti yang diharapkan. Perencanaan sangat penting sekali dalam sukses tidaknya usaha, dalam hal ini sesuai dengan ajaran Confucius bahwa “Di dalam setiap perkara bila ada rencana yang pasti, niscaya dapat berhasil; bila tanpa rencana yang pasti, niscaya gagal. Dalam berbicara bila lebih dahulu mempunyai ketetapan, niscaya tidak gagal. Dalam pekerjaan bila lebih dahulu mempunyai ketetapan, niscaya tidak akan berbuat terlanjur. Dalam menjalankan sesuatu bila lebih dahulu mempunyai ketetapan, niscaya tidak akan menemui jalan buntu. Dalam berusaha hidup sesuai dengan Jalan Suci bila lebih dahulu mempunyai ketetapan, niscaya tidak akan mengalami keputus-asaan” (Tiong Yong Bab XIX:16, halaman 67).  

Ajaran Confucius menjelaskan pentingnya perencanaan sebelum melakukan sesuatu. Dengan perencanaan secara matang akan menjadi petunjuk yang jelas agar setiap langkah-langkahnya akan terkontrol dan berjalan dengan baik sesuai dengan tujuannya. Sesuai dengan ajaran Confucius yaitu pentingnya kontrol dalam setiap perencanaan agar tercapainya tujuan perusahaan. Confucius berkata,” Seperti  yang dilakukan Negeri Ting dalam berkirim surat ke luar negeri, lebih dahulu Pi Sien  disuruh membuat  rencana. Si Siok disuruh memeriksa, menteri luar negeri Cu-I disuruh memperbaiki, dan Cu San dari Tong –li disuruh menyempurnakan” (Lun Gi Jilid XIV:8,halaman 254-255).
Ajaran tersebut menjelaskan pentingnya perencanaan, kontrol, perbaikan dan penyempurnaan dalam setiap langkah kegiataan. Dalam dunia binis bila hal itu dilakukan maka tidak akan ada rencana yang tidak berhasil, semuanya akan berjalan secara sempurna.

Hasil penelitian ini, pedagang eceran etnis Tionghoa paham betul pentingnya perencanaan dan pengawasan sebagai dasar dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Ini berarti pedagang eceran etnis Tionghoa telah menjalankan konsep-konsep manajemen dengan baik seperti pendapat Robbin dan Coulter (2007). Konsep menajemen memiliki empat fungsi dasar, yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), kepemimpinan (leading), dan pengendalian (controlling). Jadi perusahaan yang dikelola dengan manajemen yang baik akan lebih berhasil.  

Pedagang eceran etnis Tionghoa bisa sukses karena telah menerapkan Perencanaan dalam menjalankan bisnisnya sehingga kinerjanya meningkat. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian ini dimana nilai loading Perencanaan sebesar 0.805 sama dengan Visi (0.805) merupakan urutan ketiga setelah Motivasi, Percaya diri dan Peluang. Oleh karena itu indikator Perencanaan merupakan indikator ketiga yang berpengaruh terhadap variabel Kinerja Usaha.


3. Motivasi

Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya memiliki motivasi yang kuat untuk kemajuan perusahaan. Hal ini juga akan mendorong para karyawan melakukan aktifitasnya, sehingga mereka yang termotivasi akan berpengaruh pada kinerja dalam mencapai tujuan perusahaan (Gibson,1992). Menurut James (2001) umumnya manusia menggunakan 20% sampai 30% dari kemampuan yang dimilikinya. Dengan adanya motivasi tersebut diharapkan kinerja individu dapat mencapai 80% sampai 90%. Sebab karyawan adalah orang yang secara langsung terlibat dalam bisnis. Oleh karena itu karyawan perlu mendapatkan motivasi untuk mencapai tujuan perusahaan.

Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang menyatakan selalu memiliki motivasi sebanyak 134 responden (56%). Artinya mereka memiliki motivasi yang kuat untuk mencapai kesuksesan. Hal ini sesuai dengan ajaran Confucius yang memberikan dorongan  lebih agar orang lain mencapai kesuksesan. Ajaran Confucius tersebut berbunyi: “Memang ada hal yang tidak dipelajari, tetapi hal yang dipelajari bila belum dapat janganlah dilepaskan; ada hal yang tidak ditanyakan, tetapi hal yang ditanyakan bila belum sampai benar-benar mengerti janganlah dilepaskan, ada hal yang tidak dipikirkan, tetapi hal yang dipikirkan bila belum dapat dicapai janganlah dilepaskan; ada hal yang tidak diuraikan, tetapi hal yang diuraikan bila belum terperinci jelas janganlah dilepaskan; dan ada hal yang tidak dilakukan, tetapi hal yang dilakukan bila belum dapat dilaksanakan sepenuhnya janganlah dilepaskan. Bila orang lain dapat melakukan hal itu dalam satu kali, diri sendiri harus berani melakukan seratus kali .Bila orang lain dapat melakukan dalam sepuluh kali, diri sendiri harus berani melakukan seribu kali” (Tiong Yong Bab XIX: 20, halaman 69).

Sesuai pendapat The Liang yang dikutip oleh Jouke (1996:225), yaitu pekerjaan yang dilakukan oleh seorang manajer dalam memberikan inspirasi, semangat dan dorongan kepada orang lain, dalam hal ini karyawan, untuk mengambil keputusan. Pemberian dorongan ini bertujuan menggiatkan orang-orang atau karyawan agar mereka bersemangat dan dapat mencapai hasil. Manajer Tionghoa selalu melakukan dorongan kepada karyawannya dan terjun secara bersama-sama menyelesaikan pekerjaaan. Disamping itu mereka juga memberikan tauladan dan ikut memotivasi karyawannya secara langsung. 

Pedagang eceran etnis Tionghoa juga belajar dari pengalaman kegagalan maupun keberhasilan.  Responden yang menyatakan sangat setuju faktor belajar dari pengalaman kegagalan yaitu sebanyak 132 responden (55%).  Hal ini sesuai dengan ajaran Confucius yang mengajarkan senantiasa memeriksa diri atau mawas diri sehingga tiada cacat (Tiong Yong BAB XXXII: 2, halaman 91). ”Bila bersalah janganlah takut memperbaiki“ (Lun Gi Jilid I:8 ayat 4, halaman 98). Dengan mengoreksi diri akan kegagalan masa lalu maka hal itu akan menjadi pelajaran yang bermanfaat dalam melihat prospek ke depan.

Pedagang eceran etnis Tionghoa bisa sukses karena telah menerapkan Motivasi dalam aktivitas bisnisnya sehingga kinerjanya meningkat. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian ini dimana nilai loading Motivasi sebesar 0.882. Oleh karena itu indikator Motivasi merupakan indikator paling berpengaruh terhadap variabel Kinerja Usaha. Pedagang etnis Tionghoa selalu memiliki Motivasi yang kuat sehingga mendorong karyawan untuk bekerja lebih giat dan sukses.  


4. Inovasi

Pedagang eceran etnis Tionghoa  memiliki ide yang dapat dikembangkan menjadi usaha yang menguntungkan. Hal itu dapat dilihat dari pendapat responden yang menyatakan sering memiliki ide, yaitu sebanyak 147 responden (61%). Selain itu responden juga berani menerapkan ide-ide baru yakni jumlah responden yang menyatakan demikian sebanyak 140 responden (58%). Pedagang eceran etnis Tionghoa juga selalu mendiskusikan ide-ide baru tersebut kepada karyawannya. Responden yang memberikan jawaban sering sebanyak 156 responden (65%).

Dari uraian tersebut menunjukkan pedagang eceran etnis Tionghoa memiliki banyak ide dan berusaha untuk menerapkan ide-ide tersebut untuk kelangsungan usahanya. Hal ini sesuai dengan ajaran Confucius yang menyatakan ”Banyak-banyaklah belajar, pandai-pandailah bertanya, hati-hatilah memikirkannya, jelas-jelaslah menguraikannya dan sungguh-sungguhlah melaksanakannya” (Tiong Yong Bab XIX:19,halaman 69). Menurut Suryana (2003) dalam Suherman (2008:13) pengusaha yang kreatif dan inovatif sebagai dasar kiat untuk mencapai peluang bisnis yang sukses.

Pedagang eceran etnis Tionghoa bisa sukses karena telah memiliki Inovasi dalam menjalankan bisnisnya sehingga kinerjanya meningkat. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian ini dimana nilai loading Inovasi sebesar 0.792. Oleh karena itu indikator Inovasi merupakan indikator keenam setelah Motivasi (0.882), Percaya diri (0.846), Peluang (0.822), Visi (0.805) dan Prencanaan (0.805) yang berpengaruh terhadap variabel Kinerja Usaha (Y).


5. Peluang

Pedagang eceran etnis Tionghoa mencari informasi peluang usaha yang dapat dikembangkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang memberikan jawaban sering berjumlah 156 responden (65%). Mereka juga mengejar peluang usaha yang menarik dan mengerjakannya dengan tekun. Hal ini bisa dilihat dari jawaban responden yang menyatakan setuju berjumlah 149 responden (62%).

Pedagang eceran etnis Tionghoa juga tidak akan menyia-nyiakan peluang yang ada. Hal ini bisa dilihat dari jawaban responden yang menyatakan setuju berjumlah 104  responden (43%). Hasil penelitian ini menunjukkan pedagang eceran etnis Tionghoa selalu berusaha mencari peluang dan mengerjakan dengan tekun agar usahanya dapat berjalan dengan baik. Hal ini sesuai ajaran Confucius (Kitab Bingcu IV A:8, halaman 558) yang menyebutkan: ”Sungai Chong –long dikala jernih, boleh untuk mencuci tali topiku, sungai Chong-long dikala keruh, boleh untuk mencuci kakiku”. Jernih dan keruh dalam sungai Chong adalah dua sisi Yin Yang, dimana menurut Brantayana Ongkowijaya (cendekiawan Confucius yang juga responden) mengatakan ayat diatas menjelaskan dua segi yakni peluang atau kesempatan dan tantangan atau hambatan. Peluang dan tantangan ada di depan kita, hanya tergantung dari manusia sendiri mau menggunakan peluang itu atau tidak. Oleh karena itu dikatakan dalam Kitab Bincu VI A:6,halaman 689 “Carilah dan engkau akan mendapatkannya, sia-siakanlah dan engkau akan kehilangan”.

Pedagang eceran etnis Tionghoa tidak pernah menyia-nyiakan peluang yang ada. Hal ini bisa dilihat dari cara mereka melayani pelanggan. Setiap ada pelanggan yang mencari barang, mereka tidak pernah berkata “tidak ada” melainkan selalu mengatakan “tunggu sebentar“ dengan tujuan mencarikan barang kepada sesama pedagang.
Pedagang eceran etnis Tionghoa bisa sukses karena telah menerapkan Peluang dalam aktivitas bisnisnya sehingga kinerjanya meningkat. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian ini dimana nilai loading Peluang sebesar 0.822. Oleh karena itu indikator Peluang merupakan indikator terbesar pada urutan ketiga setelah Motivasi dan Percaya diri yang berpengaruh terhadap variabel Kinerja Usaha (Y). 


6. Percaya Diri

Pedagang eceran etnis Tionghoa sering menerapkan kiat-kiat khusus dan percaya untuk dapat mengatasi persaingan bisnis. Hal itu dapat dilihat dari responden yang memberikan jawaban sering sebanyak 104 responden (43%).         Mereka percaya akan kemampuan dan segala tindakannya.  Hal itu juga dapat dilihat dari tanggapan responden yang memberikan jawaban setuju sebanyak 172  (71%).  Mereka melaksanakan keyakinan tentang bisnis mereka tanpa ada keraguan sebagaimana responden memberikan jawaban setuju sebanyak 149 responden (62%). Keyakinan akan prospek bisnis sangat penting bagi pedagang eceran etnis Tionghoa. Sebab hanya dengan keyakinan yang kuat itulah mereka akan menekuni bisnisnya dengan sungguh-sunguh sampai berhasil.

Menurut Sumahamidjaja (1997:12) seorang yang memiliki kepercayaan diri tinggi akan memiliki kemampuan untuk bekerja sendiri dalam mengorganisasi, mengawasi dan meraih kesuksesan. Kecakapan diri akan menjadikan seseorang pecaya diri terhadap segala tindakan dan perbuatannya.  
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan pedagang eceran etnis Tionghoa memiliki kepercayaan diri yang cukup baik dan selalu berusaha meningkatkan kemampuannya dan berusaha mencari kiat-kiat agar dapat bersaing dan berhasil dalam menjalankan usaha. Seperti yang dikatakan Confucius: “Seorang Junzi akan susah kalau tidak memiliki kecakapan” (Lun Gi Jilid XV:19, halaman 279).

Pedagang eceran etnis Tionghoa bisa sukses karena telah memiliki Percaya diri dalam menerapkan bisnisnya sehingga kinerjanya meningkat. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian dimana nilai loading Percaya diri sebesar 0.846. Maka indikator Percaya diri merupakan indikator tertinggi pada urutan kedua setelah Motivasi (0.882) yang berpengaruh terhadap variabel Kinerja Usaha (Y).   


7. Pengambilan Resiko

Pedagang eceran etnis Tionghoa sering mencoba menjual produk baru. Hal ini bisa dilihat dari tanggapan responden yang menyatakan sering menjual produk baru sebanyak 117 responden (49%). Dalam kondisi saat sekarang dimana kemajuan teknologi serta kemajuan perangkat informasi yang begitu canggih, maka informasi barang begitu cepat. Untuk itulah pedagang eceran etnis Tionghoa  berani menggambil resiko dengan memasarkan produk-produk baru mereka. Menurut Bajaro dalam Wirasasmita (1994:21) seseorang yang berani mengambil resiko adalah orang yang selalu ingin menjadi pemenag dan memenangkan dengan cara baik.  Hal ini tampak dari karakteristik pedagang eceran etnis Tionghoa yang selalu berusaha mencoba hal-hal baru untuk meraih kemenangan sebagai orang pertama yang menjual produk sebelum pesaing lain menjualnya.

Selain itu, pedagang eceran etnis Tionghoa juga sering mencoba cara-cara baru penjualan atau semacam trik jitu menjual barang. Hal ini bisa dilihat dari tanggapan responden yang menyatakan sering berjumlah 104 responden (43%).              Mereka juga berani mengambil resiko terhadap keputusan yang telah diambil dan memiliki tanggung jawab atas kelancaran usahanya. Hal itu dapat dilihat dari tanggapan responden yang menyatakan sering berjumlah 152 responden (64%).
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan pedagang eceran etnis Tionghoa berani mengambil suatu resiko dan mencoba cara-cara baru serta bertanggungjawab atas keputusan yang telah diambilnya.  Mereka berani mengambil resiko berdasarkan pertimbangan dan perhitungan yang cermat. Mereka menjalankan usaha dengan keberaniannya mengambil resiko didasarkan pada Zhi (kebijaksanan) dan Yi (kebenaran).

Pedagang eceran etnis Tionghoa bisa sukses karena berani Mengambil resiko dalam menjalankan bisnisnya. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian dimana nilai loading Mengabil resiko sebesar 0.553. Oleh karena itu, indikator Pengambilan resiko merupakan indikator urutan terakhir yang berpengaruh terhadap Variabel Kinerja Usaha (Y).   


8. Adaptasi  

Pedagang eceran etnis Tionghoa menyatakan setuju menyesuaikan diri dengan mengikuti selera pembeli terhadap produk yang diminta pembeli. Hal ini dapat dilihat dari jawaban responden yang menyatakan sering sebanyak 102 responden (43%). Mereka sering beradaptasi terhadap berbagai perubahan yang terjadi di sekitar usahanya.  Hal ini dapat dilihat dari jawaban responden yang menyatakan sering  sebanyak 131 responden (54%). Mereka juga selalu melihat perkembangan produk baru untuk dijual di toko.  Hal itu bisa dilihat dari jawaban responden yang menyatakan sering sebanyak 156 responden (65%).

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan pedagang eceran etnis Tionghoa mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan usaha, baik beradaptasi terhadap kebutuhan dan keinginan konsumen maupun beradaptasi dengan produk maupun barang yang dijual. Hal itu sesuai dengan ajaran Confucius bahwa di mana pun berada harus bisa menyesuaikan diri. Dalam hal ini Confucius mengatakan: ”Di kala kaya dan mulia, ia berbuat sebagai layaknya seorang kaya dan mulia; di kala miskin dan berkedudukan rendah, ia berbuat sebagai layaknya seorang miskin dan berkedudukan rendah; di kala berdiam di antara suku I dan Tik, ia berbuat sebagai layaknya seorang suku I dan Tik; di kala ia sedih dan menghadapi kesukaran, ia berbuat sebagai layaknya seorang yang sedih dan berkesukaran.  Oleh karena itu seorang Junzi dalam keadaan bagaimana pun selalu berhasil menjaga dirinya”. (Tiong Yong Bab XIII:2, halaman 48).

Adaptasi atau penyesuaian diri sudah terbiasa dilakukan oleh pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya. Seperti juga dikatakan oleh Hanaco (2011:19) bahwa ”Masyarakat China memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa, mereka dapat hidup di mana saja tanpa kesulitan berarti. Hal ini jarang dimiliki bangsa lainnya. Yang sering terjadi, bangsa-bangsa tertentu memiliki keterikatan sangat tinggi dengan daerah atau negara asalnya dan tidak nyaman jika harus tinggal di negara lain”.
Adaptasi kehidupan juga diimbangi dengan adaptasi dalam mengelola bisnis sebagai ciri dari pedagang eceran etnis Tionghoa untuk meraih kesuksesan. Adaptasi sangat penting dalam segala hubungan, termasuk dalam berbisnis agar bisnis tidak statis tetapi terus mengikuti perkembangan. 

Pedagang eceran etnis Tionghoa bisa sukses karena telah memiliki Adaptasi dalam menerapkan bisnisnya sehingga kinerjanya meningkat. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian dimana nilai loading Adaptasi sebesar 0.732. Maka indikator Adaptasi merupakan indikator urutan ketujuh setelah Motivasi, Percaya diri, Peluang, Visi, Perencanaan dan Inovasi yang berpengaruh terhadap variabel Kinerja Usaha (Y).


Sumber dari : disertasi Dr. Ongky Setio Kuncono, Drs, MM Pengaruh Etika Confucius Terhadap Kewirausahaan, Kemampuan Usaha dan Kinerja Usaha Pedagang  Eceran Etnis Tionghoa di Surabaya

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:162 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:873 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:113 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:234 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:129 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:400 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:294 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:228 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:171 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:714 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 88 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com