spocjournal.com

BAB VI Pembahasan : Pembahasan Variabel Etika Confucius (Bagian 2)

Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, Drs, MM

5. Xin (Dapat Dipercaya)

Kepercayaan adalah hal yang paling penting bagi pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya. Menurut mereka, orang tua mereka dahulu dalam berbisnis tanpa menggunakan catatan. Mereka mencatat hutang piutangnya di kertas bekas rokok, namun pedagang eceran etnis Tionghoa tidak pernah mempermasalahkan ada nota atau tidak. Mereka dengan jujur membayar hutang kalau memang masih punya hutang. Tidak ada konflik dan perselisihan yang terjadi. Beda dengan saat sekarang semua bisnis harus ditata rapi dengan menggunakan surat jalan dan faktur yang jelas.

Ada salah satu responden yang bercerita, dia pernah berbisnis dengan orang Tionghoa di luar pulau dan mengirimkan barang dalam jumlah milyaran rupiah, namun sampai saat sekarang mereka tidak pernah bertemu di darat dan saling melihat wajah mereka.  Mereka sama-sama menjaga kejujuran bisnis hingga saat sekarang tanpa ada permasalahan. Mereka saling berjumpa  untuk pertama kali setelah  selama 6 tahun  bertransaksi. Kenyataan  ini menunjukkan kepercayaan adalah modal dasar dalam berbisnis bagi Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya. Hal itu sesuai dengan ajaran Confucius yang mengatakan: “Aku benci hal-hal yang mirip tetapi palsu. Aku benci akan rumput perusak yang dapat mengacaukan tunas yang baik. Aku benci akan kata-kata muslihat yang dapat mengacaukan kebenaran. Aku benci akan mulut yang tajam yang dapat mengacaukan sikap Dapat Dipercaya (Xin) …” (Bingcu VII B : 37 ayat 11, halaman 814).

Kebohongan dan ketidakjujuran sangat ditentang oleh ajaran Confucius sehingga ini menjadi prinsip bagi pedagang ecran etnis Tionghoa untuk dijauhi. Pedagang eceran etnis Tionghoa menjaga kepercayaan sebagai  aset perusahaan yang sangat mahal. Kejujuran dan dapat dipercaya adalah aset pokok dalam berbisnis yang perlu diperhatikan disamping aset-aset lain, misalnya modal kerja, pengetahuan (knowledge) dan keahlian (Ongky,2010 :13).  
Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya memberikan kredit kepada pelanggan yang sudah lama dikenal karena  pelanggan lama telah teruji akan kredibitasnya dan kemungkinan kecil melakukan kecurangan. Khususnya pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya memberikan kredit kepada pelanggan yang sudah lama kenal karena  mereka telah teruji akan kredibitasnya  dan kemungkinan kecil untuk melakukan kecurangan.

Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang sering memberikan kredit kepada pelanggan yang sudah lama kenal sebanyak 106 respondn (44%). Responden yang menyatakan selalu memberikan kredit kepada pelanggan yang sudah lama kenal sebanyak 79 responden (32%).

Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya juga sering mengembalikan kelebihan barang yang dikirim pemasok. Kelebihan barang memang merupakan kerugian bagi supplier dan merupakan keuntungan pihak perusahaan. Namun hal tersebut tidak akan dilakukan oleh pedagang eceran etnis Tionghoa sebab akan merugikan orang lain.
Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang menyatakan sering mengembalikan kelebihan barang yang dikirim oleh pemasok sebanyak 49 responden (20%). Responden yang menyatakan selalu mengembalikan kelebihan barang yang dikirim pemasok sebesar 159 responden (66%).

Responden yang menyatakan sering memberikan penjelasan sesungguhnya macam-macam barang dan harganya sebanyak 50 responden (21%). Responden yang menyatakan selalu memberikan penjelasan sesungguhnya macam barang dan harganya.  Menjaga nama baik perusahaan sangat penting agar pemasok maupun pelanggan tidak pindah ke pesaing. Untuk itulah nama baik perusahaan selalu dijaga.  Hasil penelitian menunjukkan responden yang menyatakan sering menjaga nama baik perusahaan sebanyak 30 responden (12%) dan yang menyatakan selalu menjaga nama baik perusahaan sebanyak 205 responden (84%).

Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya sering mengingatkan pemasok (supplier) kalau masih ada tagihan yang belum terbayar. Kadangkala ada supplier yang lupa menagih karena faktor administrasi dan sebagainya, namun hal tersebut tetap diingatkan oleh pedagang eceran etnis Tionghoa. Hal ini sesuai dengan ajaran Confucius bahwa harta yang diperoleh tidak halal akan habis tidak karuan.  Oleh karena itu sikap jujur dengan mengingatkan supplier kalau masih ada tagihan yang belum terbayar merupakan sikap terpuji bagi seorang pengusaha yang jujur (Xin).

Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang menyatakan sering mengingatkan pemasok (supplier) kalau masih ada tagihan yang belum terbayar sebanyak 92 responden (38%) dan yang menyatakan selalu mengingatkan pemasok kalau masih ada tagihan yang belum terbayar sebanyak 117 responden (49%).

Sementara hasil penelitian ini menunjukkan responden yang menyatakan sering bertanggungjawab kepada pembeli terhadap pengembalian barang rusak dalam jangka waktu garansi sebanyak 56 responden (23%). Responden yang menyatakan selalu bertanggung-jawab kepada pembeli sebanyak 160 responden (67%).

Pedagang eceran Etnis Tionghoa bisa sukses karena telah menerapkan etika Xin (Kepercayaan) dalam berbisnis sehingga kinerjanya meningkat. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian ini dimana nilai loading Xin sebesar 0.532. Oleh karena itu indikator Xin merupakan indikator kelima setelah Guanxi, Yin Yang, Ren dan Zhi yang berpengaruh terhadap variabel Kinerja Usaha (Y). 


6. Yong (Keberanian)

Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya berprinsip pada keberanian yang berstrategi. Keberanian yang berstrategi tidak lain mempertimbangkan kondisi dan situasi yang ada. Seperti dalam ajaran Confucius  bahwa seorang Junzi mengutamakan kebenaran. Apabila seseorang hanya mengutamakan keberanian tanpa kebenaran akan mengacaukan tak bedanya dengan perampok (Lun Gi XVII) dalam Indarto (2012:50). Artinya menjunjung keberanian itu tidak salah, tetapi keberanian harus dilandasi dengan  kebenaran (Yi). Keberanian yang memperhitungkan dan diperhitungkan secara teliti dan matang. Keberanian yang diperhitungkan dengan matang akan mengurangi resiko dan ini sesuai dengan ajaran Confucius bahwa “Kepada orang yang dengan tangan kosong berani melawan harimau, dengan tanpa alat berani menyeberangi bengawan, sekalipun binasa tidak merasa menyesal, Aku tidak akan memakainya. Orang yang kupilih ialah: yang di dalam menghadapi perkara mempunyai rasa khawatir dan suka memusyawarahkan rencana, sehingga dapat berhasil di dalam tugasnya” (Lun Gi Jilid VII:11 ayat 3, halaman 161). 

Keberanian (Yong) yang berstrategi adalah keberanian yang diimbangi dengan kecakapan, tidak tamak, banyak pengetahuan dan Kesusilaan (Li) hal ini seperti dikatakan Confucius: ”Harus mempunyai kecakapan seperti Cong Bu-tiong, tidak tamak seperti Bing Kong-too, berani seperti Pian Kiu dan segenap tingkah lakunya sesuai dengan Kesusilaan dan Musik. Demikianlah seorang yang sempurna itu.” (Lun Gi Jilid XIV:12, halaman 256).
Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya dengan instingnya sering menimbun barang dengan berani untuk keperluan yang akan datang sebanyak 56 responden (23%). Responden yang menjawab selalu menimbun barang dengan berani untuk keperluan yang akan datang sebanyak 160 responden (67%). Responden yang menjawab kadang-kadang sebesar 90 responden (36%). Hal tersebut menunjukkan sebagian besar pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya tidak mau mengambil resiko dalam menimbun barang untuk keperluan di masa mendatang. 

Di sisi lain pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya juga sering menolak pungutan liar oleh petugas sebanyak 69 responden (29%). Responden yang menjawab selalu menolak pungutan liar oleh petugas sebanyak 51 responden (21%). Umumnya mereka lebih kompromi hal ini bisa dilihat dari tanggapan yang kadang-kadang menolak 99 responden (41%).
Bagi pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya, investasi baru sangat penting untuk membesarkan perusahaan agar bisa bersaing. Keberanian investasi baru walau membawa konsekwensi resiko, namun sangat digemari oleh pedagang etnis Tionghoa. Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang menyatakan sering melakukan investasi baru sebanyak 93 (39%) dan yang menjawab selalu melakukan investasi baru sebanyak 37 responden (15%).

Dalam menghadapi panggilan dari kantor pajak, pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya sering menghadapi sendiri sebanyak 90 responden (38%) dan yang selalu menghadapi sendiri panggilan dari kantor pajak sebanyak 66 responden (28%).

Dalam perjalanan bisnis tentu saja tidak lepas dari perselisihan antara perusahaan dengan karyawan atau buruh. Bila hal itu terjadi biasanya pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya sering menghadapi buruh secara langsung sebanyak 101 responden (42%). Sementara responden yang menjawab selalu menghadapi sendiri secara langsung jika terjadi perselisihan dengan buruh sebanyak 100 responden (41%).

Pedagang eceran etnis Tionghoa bisa sukses karena telah menerapkan etika Yong (Keberanian) dalam berbisnis sehingga kinerjanya meningkat. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian ini dimana nilai loading Yong sebesar 0.508. Oleh karena itu indikator Yong merupakan indikator ketujuh (terakhir) berpengaruh terhadap variabel Kinerja Usaha  (Y). Ini menunjukan etnis Tionghoa tidak terlalu berani beresiko dalam bisnis, khususnya yang hubungan dengan birokrat (pemerintahan).


7. Yin Yang (Perubahan)

Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya memiliki rencana untuk memperluas atau memperbesar usaha. Hasil penelitian ini, didapatkan tanggapan responden yang setuju untuk memperluas dan memperbesar usaha sebanyak 125 responden (39%). Responden yang menjawab tanggapan sangat setuju sebanyak 94 responden (39%).
Untuk melakukan perubahan dan kemajuan dalam bisnis, maka kebanyakan keuntungan yang mereka peroleh dimasukkan kembali sebagai modal kerja. Hal inilah yang menyebabkan pedagang eceran etnis Tionghoa setiap tahunnya semakin banyak dagangannya. Banyaknya dagangan  nampak dari semakin penuh toko mereka atau bertambahnya gudang penyimpanan barang. Hasil penelitian ini didapatkan tanggapan responden yang menyatakan sering memasukkan kembali keuntungan sebagai modal kerja sebanyak 84 responden (35%). Responden yang menyatakan selalu  memasukkan kembali keuntungan sebagai modal kerja sebanyak 107 responden (45%).

Bagi pedagang eceran etnis Tionghoa memasukkan kembali keuntungan sebagai modal kerja lebih penting dibandingkan membeli sesuatu kebutuhan yang bersifat mewah dan untuk hidup berfoya foya. Mereka berprinsip memperkuat bisnis akan lebih menjamin kehidupannya dari pada hidup dengan glamour yang bersifat sementara. Oleh karena itu, tak heran kehidupan pedagang eceran etnis Tionghoa nampak tetap tidak berubah, namun modal kerja yang dimiliki semakin tahun semakin bertambah. 
Akhir-akhir ini banyak anak pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya yang sudah menyenyam pendidikan dan mulai terjun membantu orang tuanya. Meraka mulai menata manajemen dan sistem komputerisasi.  Dari hasil penelitian ini didapatkan tanggapan responden yang menyatakan sering berinovasi baru dalam perbaikan manajemen dan sistem komputerisasi sebanyak 107 responden (45%). Responden yang memberi tanggapan selalu berinovasi serta andil dalam perbaikan manajemen dan sistem komputerisasi sebanyak 69 responden (29%). Sisanya yang menjawab “tidak pernah” sebanyak 10 responden (4%), yang menjawab “hampir tidak pernah” 10 responden (4%), dan yang menjawab “kadang-kadang” 44 responden (18%).

Di samping pembenahan manajemen dan modernisasi tentunya pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya sering mencari terobosan bisnis baru sebanyak 113 responden (47%). Sementara yang memberi tanggapan selalu mencari terobosan bisnis baru sebanyak 75 responden (31%). Mereka merasa bahwa dalam kondisi saat sekarang ini belum merasa puas, sehingga ingin bisnisnya semakin maju dan berkembang. Dari hasil penelitian ini didapatkan tanggapan responden yang setuju dengan tidak puas akan kondisi saat sekarang sebanyak 110 reponden (46%), yang menjawab sangat setuju dengan kondisi tidak puas saat sekarang sebanyak 29 responden (12%), yang menjawab “sangat tidak setuju” 7 responden (3%), yang menjawab “tidak setuju” 19 responden (8%) dan yang menjawab “netral” 75 responden (31%).

Sikap tidak puas dalam tanda petik adalah sikap kebanyakan pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya yang menginginkan kehidupan usahanya tidak berhenti disitu saja. Mereka ingin ada perubahan sepanjang masa kearah yang lebih baik. Hal ini sesuai dengan ajaran Confucius tentang “pembaharuan diri setiap hari“ dalam segala bidang kehidupan. Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin, dan hari esok harus terus lebih baik daripada hari ini (Thai Hak Bab II :1, halaman 10). Hal itu menunjukkan pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya secara umum memiliki semangat perubahan dalam bisnis kearah kemajuan hal tersebut sesuai dengan ajaran Confucius yang mempercayai bahwa semua energi dalam alam semesta ini mengalami perputaran seperti halya pagi, siang, sore dan malam, lahir, besar, mati demikian terus berulang, tidak ada satu pun yang abadi kecuali perubahannya itu sendiri.  Sukses adalah hasil upaya manusia yang secara terus menerus belajar memperbaharui diri agar sikap baru selamanya. Hal tersebut sesuai hukum Fu atau kilas balik (the turning point) sesuai dengan apa yang digambarkan dalam Hexagram 24 Yi Jing –Kitab Perubahan (Lien Tjoe, 2007:60).
Menurut Bratayana Ongkowijaya bahwa Fu (Hok) adalah kembali  atau berpulang, maksudnya adalah diam (tidak beraktifitas) dan di sisi lain melakukan introspeksi/renungan/evaluasi untuk strategi ke depan. Dalam kondisi yang tidak menguntungkan sekali pun, sehingga berakibat buruk pada bisnisnya, tetap saja introspeksi dalam melihat prospek ke depan untuk mencapai kesuksesan. 

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya selalu berusaha mengembangkan bisnisnya tiada pernah berhenti dalam mencapai tingkatan yang lebih tinggi.

Pedagang eceran etnis Tionghoa bisa sukses karena telah menerapkan etika Yin Yang (Perubahan) dalam berbisnis sehingga kinerjanya meningkat. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian ini dimana nilai loading Yin Yang sebesar 0.623. Oleh karena itu indikator Yin Yang merupakan indikator kedua setelah Guanxi (0.763) yang berpengaruh terhadap variabel Kinerja Usaha (Y). 


8. Guanxi (Jaringan)

Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya umumnya memiliki jaringan atau koneksi bisnis dengan sesama pedagang baik di lingkungan kota Surabaya maupun diluar. Koneksi adalah ciri kas yang dimiliki pedagang eceran etnis Tionghoa sebagai jalan untuk mendapatkan informasi bisnis dan mendapatkan barang dagangan. Mereka yang memiliki koneksi lebih banyak memungkinkan untuk mendapatkan kesempatan yang lebih banyak dalam memperlancar bisnis. Guanxi atau koneksi didasarkan pada lima hubungan Confucius yang merupakan dasar dari ajaran Confucius dalam berbagai hubungan termasuk bisnis.

Dalam membentuk jaringan atau koneksi bisnis, pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya sering mengajak pelanggan makan bersama sebanyak 102 responden (43%) dan yang selalu mengajak pelanggan makan bersama sebanyak 41 responden (17%). Hal ini selaras dengan tradisi makan-makan (ciak) yang merupakan kegemaran pedagang eceran etnis Tionghoa. Hal tersebut bisa dilihat ketika para pedagang etnis Tionghoa bertemu dengan pelanggan (cugek), mereka pasti berkata: “apakah sudah ciak? Atau mari kita makan bersama? Pertanyaan tersebut sebagai penghargaan etnis Tionghoa kepada cugek yang sudah lama kenal dan baik.
Bagi pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabya lebih suka memiliki pelanggan berdasarkan referensi dari orang yang dikenal. Hal ini disebabkan sudah terseleksi tentang kepercayaannya juga lebih merasa aman. Dari hasil penelitian ini responden yang menyatakan setuju memiliki pelanggan berdasarkan referensi dari orang yang dikenal sebanyak 108 responden (45%) dan yang sangat setuju sebanyak 78 responden (32%).

Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya memiliki hubungan persaudaraan yang sangat tinggi (Heng Te/Xiong Di) sehingga mereka setuju berbisnis dengan seseorang yang ada hubungannya dengan keluarga atau saudara sebanyak 41 responden (17%). Sementara yang memberi tanggapan sangat setuju  berbisnis dengan seseorang yang ada ikatan keluarga sebanyak 61 responden (25%). Hal tersebut menunjukkan berbisnis dengan keluarga bisa nyaman dan bisa juga tidak (ada segi negatif dan positifnya).
Guanxi juga bisa dilakukan dengan menjalin hubungan atau keakraban,  misalnya ikut andil dalam mendorong bahkan ikut merasa sedih bila karyawan atau pelanggan terkena musibah atau sakit. Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang sering mengunjungi pelanggan atau karyawan yang terkena musibah atau sakit sebanyak 119 responden (49%) dan yang menyatakan selalu mengunjungi pelanggan atau karyawan yang terkena musibah atau sakit sebanyak 59 responden (25%). Mereka akan menyumbang atau memberi angpau kepada pelanggan atau karyawan yang sedang terkena musibah sakit atau kematian. Jarang mereka memberikan sumbangan kepada pelanggan atau karyawan yang sedang ulang tahun atau pernikahan. Hal itu disebabkan sakit dan kematian datangnya secara tiba-tiba tanpa ada perencanaan.

Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya juga sering mengirim ucapan Imlek, Natal, dan Idul Fitri sebanyak 104 responden (43%). Mengirim ucapan Hari Raya  Imlek, Natal, atau Idul Fitri mengingat hubungan bisnis itu bukan hanya dengan orang yang menganut satu agama tertentu saja, tetapi berdagang dengan semua  pemeluk agama tanpa pandang bulu. Bagi pedagang eceran etnis Tionghoa memberikan ucapan seperti itu kepada pelanggan maupun supplier disamping sebagai rasa menghormati juga akan mempererat persahabatan dan kekeluargaan. Hal ini seperti yang dikatakan Confucius: ”Di empat penjuru lautan, semuanya  saudara “(Lun Gi Jilid XII: 5 ayat 2, halaman 225). Sebab semua pelanggan maupun supplier yang beraneka ragam etnis, budaya, dan agama yang dipeluk merupakan keluarga yang harus dihormati seperti keluarga sendiri.
Dalam hal menyelesaikan segala persoalan bisnis biasanya pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya lebih menggunakan pedekatan kekeluargaan ketimbang hukum. Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang setuju menyelesaikan segala persoalan bisnis menggunakan pendekatan kekeluargaan ketimbang hukum sebanyak 91 responden (38%) dan yang menjawab sangat setuju sebanyak 130 responden  (54%).  Hal tersebut menunjukkan pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya tidak mau setiap perselisihan diselesaikan secara hukum. Mereka lebih suka diselesaikan dengan pendekatan kekeluargaan (secara Hoo Ping/He Ping). Sebab mereka sangat hati-hati sekali berurusan dengan aparat dan hukum dan bagi mereka itu sangat tabu sekali.

Pada umumnya pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya memiliki hubungan dengan rekan bisnis, baik di wilayah Indonesia maupun di luar negeri. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian ini, responden yang mengatakan sering bertukar informasi bisnis dengan rekan dalam maupun luar negeri sebanyak 111 responden (46%) dan yang selalu bertukar informasi bisnis dengan rekan bisnis di dalam maupun luar negeri sebanyak 36 responden (15%).

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan para pedagang eceran etnis Tionghoa secara global dalam bisnisnya memiliki jaringan yang baik dengan mereka yang ada di dalam maupun di luar negeri. Era globalisasi seperti sekarang ini hubungan bisnis secara global sangat diperlukan, khususnya untuk mendapatkan barang-barang baru yang terus mengikuti teknologi terkini dan perkembangan jaman. Pada umumnya mereka berhubungan dengan para pedagang dari China, Hongkong, Taiwan, dan Korea.
Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya menganggap penting adanya kelompok-kelompok atau paguyuban sosial seperti paguyuban olahraga bersama. Dari hasil penelitian ini menunjukkan responden yang menjawab sering mengikuti paguyuban sosial sebanyak 74 responden (31%), yang menjawab selalu mengikuti paguyuban sosial 30 responden (12%). Mereka telah membentuk paguyuban olah raga bersama seperti Thai Ci (senam pernapasan), bersepeda, Gym, Hash dan sebagainya. Paguyuban itu disamping mengurangi kejenuhan dalam bisnis juga menjalin hubungan di antara pedagang.

Sementara itu pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya sangat berhati-hati melakukan perjanjian bisnis dengan orang baru yang belum kenal. Dari hasil penelitian ini responden yang melakukan hal seperti itu sebanyak 123 responden (51%) dan yang sangat setuju dengan kehati-hatian itu sebanyak 89 responden (37%).  Oleh karena itu mereka tidak mudah memberikan kredit atau mengirimkan barang kepada mereka yang belum dikenal.

Bisnis yang didasarkan pada etika moral Ren, Li, Yi, Yong, Zhi, Xin, Yin Yang, Guanxi akan menciptakan etos kerja (kerja keras, loyalitas, dedikasi, berhemat dan pembelajaran diri) seperti hasil penelitian Rarick (2007: 23) dimana ada hubungan antara Ngolun dengan Etika Confucius dan Etos Kerja.   
Pedagang eceran etnis Tionghoa bisa sukses karena telah menerapkan etika Guanxi (koneksi atau hubungan) dalam berbisnis sehingga kinerjanya meningkat. Pedagang etnis Tionghoa pada umumnya memiliki Guanxi atau hubungan bisnis antar sesama pedagang baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dengan Guanxi pula menjadikan arus informasi dan komonikasi antar pedagang sangat intens sekali sehingga akan memudahkan untuk mendapatkan barang-barang baru yang urgen. Inilah kekuatan bisnis etnis Tionghoa dalam menghadapi persaingan bisnis di era globalisasi ini.  Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian ini dimana nilai loading Guanxi sebesar 0.763. Oleh karena itu indikator Guanxi merupakan indikator yang paling berpengaruh terhadap variabel Kinerja Usaha (Y).    


Sumber dari : disertasi Dr. Ongky Setio Kuncono, Drs, MM Pengaruh Etika Confucius Terhadap Kewirausahaan, Kemampuan Usaha dan Kinerja Usaha Pedagang  Eceran Etnis Tionghoa di Surabaya

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:162 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:873 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:113 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:234 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:129 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:400 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:294 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:228 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:171 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:714 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 89 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com