spocjournal.com

BAB VI Pembahasan : Pembahasan Variabel Etika Confucius (Bagian 1)

Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, Drs, MM

1. Ren (Cinta Kasih)

Menurut Liang dalam Lee T Oei (2003: 21) semangat etnis Tionghoa adalah Ren (Cinta Kasih) yang mengandung pengertian kebaikan, cinta kasih, kebajikan, peri kemanusiaan sejati, keprihatinan, manusia pada taraf terbaik, dan sebagainya. Ketika Hwan-thi (murid Confucius) bertanya tentang Ren, Confucius mengatakan Ren itu adalah “mencintai manusia” (Lun Gi Jilid XII:22, halaman 234).  Ren inilah yang menjadi sumber dari kebajikan yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari oleh orang Tionghoa dalam berbisnis.

Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya menganggap bisnis bukan sekedar mencari keuntungan, tetapi juga menjalin hubungan dan persahabatan. Kebenaran cita-cita yang paling tinggi bagi entrepreneur bukan sekedar mencari keuntungan saja. Ajaran Confucius menekankan pada bisnis secara benar (Yi) dalam mencari Li’ (keuntungan). Confucius mengatakan “Pikiran manusia yang berbudi luhur (Junzi) adalah tertuju pada kebenaran, pikiran manusia rendah budi (xiao ren) hanya tertuju pada keuntungan semata-mata.  Confucius mengakui setiap orang menginginkan mencari kekayaan, namun kekayaan tersebut haruslah diperoleh dengan jalan yang layak dan dengan tujuan yang tepat, inilah kebenaran. Confucius mengatakan: ”Kekayaan dan kemuliaan adalah keinginan semua orang, bila hal tersebut tidak diperoleh dengan Jalan Suci (Dao), maka jangan dilaksanakan” (Lun Gi IV:1).

Di sisi lain ajaran Confucius mengatakan meskipun  kekayaan itu penting, maka kebajikan itu lebih penting. Confucius mengibaratkan kebajikan itu sebagai pokok, sementara kekayaan sebagai ujung. Utamakan pokok dalam mencapai ujungnya, itulah kebenaran. Hal tersebut yang menyebabkan pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya tidak berpikir bahwa kebenaran berlawanan dengan keuntungan pribadi. Apa yang tidak dikehendaki oleh ajaran Confucius ialah apabila kekayaan dan kemuliaan secara tidak layak dan tidak benar atau dapat dikatakan hanya untuk kepentingan diri sendiri atau hanya mencari keuntungan saja (Ongky, 2009:39).
Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang menyatakan setuju bisnis bukan sekedar mencari keuntungan atau kekayaan, tetapi juga menjalin hubungan dan persahabatan sebanyak 59 responden (25%), responden yang mengatakan sangat setuju sebanyak 170 responden (71%) dan hanya 1 responden (1%) yang menyatakan tidak setuju.

Bisnis secara Ren diatas menunjukkan bahwa kegiatan bisnis memerlukan etika moral  seperti yang dikatakan Permadi dan Kuswahyono (2007: 43) bahwa bisnis tidak hanya bertujuan untuk mencari profit semata-mata, melainkan mempertimbangkan nilai-nilai manusiawi dan kepentingan masyarakat banyak. Hal ini bisa dilihat dari kebiasaan orang Tionghoa yang suka makan besama dengan pelanggannya.  Orang Tionghoa entertainment  makan bersama sebagai cara meningkatkan persahatan dan kekeluargaan.       

Banyak pedagang etnis Tionghoa meskipun sudah usia pensiun tetapi masih tetap bekerja disamping menjaga tubuh agar tidak sakit-sakitan.  Mereka sangat suka bertemu dengan pelanggan dan mereka bisa bercerita berbagai hal tentang kehidupan. Hal inilah yang menunjukkan bekerja bukan hanya mencari keuntungan melainkan juga mencari persahabatan.
Bagi pedagang eceran etnis Tionghoa  menjaga hubungan secara harmonis dengan pemasok maupun pelanggan sangatlah penting. Pemasok adalah sumber dimana pedagang mendapatkan barang dengan kualitas dan harga yang terjangkau. Apabila hubungan dengan pemasok sangat harmonis, dimungkinkan pemasok menjadi faktor pendorong dalam menghadapi segala persoalan pemasaran barang di lapangan. Keluhan-keluhan dan berbagai rintangan akan direspon oleh pemasok. Begitu pula dengan menjaga hubungan yang harmonis dengan pelanggan akan terjadi komunikasi timbal balik sekaligus dapat digunakan sebagai sumber informasi dalam memajukan perusahaan. Menjaga keharmonisan ketiga pelaku ekonomi baik pedagang, pemasok maupun pelanggan akan menguntungkan ketiga belah pihak dalam mencapai tujuan perusahaan. Hubungan harmonis  tersebut, di samping melanggengkan usaha dalam jangka pendek dan jangka panjang, juga membawa keuntungan dan pertumbuhan perusahaan secara bersama-sama. Untuk itulah mengapa pedagang eceran etnis Tionghoa selalu menjaga hubungan harmonis tersebut. Mereka bukan saja menjadi partner bisnis melainkan menjadi Hoping (sahabat) dalam pergaulan hidup. 

Hasil penelitian ini menunjukkan bagaimana responden menjaga hubungan harmonis dengan pemasok (supplier) dan pelanggan. Responden yang menjawab “sering”  sebanyak 48 responden (20%), yang menjawab “selalu” menjaga hubungan yang harmonis 183 responden (76%) dan yang menjawab “kadang-kadang” 9 responden (4%).
Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya juga memiliki hubungan kekeluargaan di antara mereka. Hubungan di antara etnis Tionghoa disamping karena unsur keluarga juga ditunjang dengan unsur Guanxi. Mereka saling tolong menolong, baik dalam kehidupan sosial maupun dalam hubungan bisnis. Mereka yang sudah saling kenal dan reputasinya baik dalam kelompoknya (kelompok di tempat ibadah, perkumpulan olahraga, maupun kelompok sosialnya) umumnya mereka memberikan semacam garansi atau jaminan untuk mengenalkan sahabat tersebut kepada sahabat lainnya dalam memberikan bantuan kredit, misalnya pemberian barang kepada mereka yang baru membuka usaha. Sehingga banyak orang Tionghoa yang semula dalam membuka usahanya tidak memiliki modal akhirnya bisa membuka toko dengan mendapatkan modal kerja dari sahabat-sahabatnya. Pada awal tokonya dibuka, umumnya mereka hanya menjual satu atau dua macam produk dengan volume penjualan yang relatif kecil, namun secara bertahap dengan ketekunan dan keuletan akhirnya usahanya bisa besar karena salah satunya berkat bantuan atau kredit yang diberikan oleh para sahabatnya. 
Dalam ajaran Confucius adanya tahapan yang pasti dalam melangkah diawali dari hal yang kecil menuju hal yang besar, dari hal yang mikro menuju makro. Dalam hal ini Confucius mengatakan ”Dao seorang Junzi itu seumpama pergi ke tempat jauh, harus dimulai dari dekat; seumpama mendaki ke tempat tinggi harus dimulai dari bawah” (Tiong Yong Bab XIV:1, halaman 50).

Kebanyakan dari mereka, awalnya   bekerja sebagai makelar atau menjual barang titipan dari sahabat-sahabatnya, lambat laun mereka setelah mendapatkan keuntungan dan mulailah secara perlahan membesarkan tokonya atau memperbesar volume barang dagangannya sehingga pada suatu saat mereka sudah bisa membeli barang dagangan dengan cara tunai. Pemberian kredit lunak kepada sahabat yang baru membuka usaha tersebut sesuai dengan ajaran Confucius, yaitu: “Bila menolong orang jangan diberi ikan, melainkan berilah kail”. Artinya memberi pertolongan tidak berbentuk uang tunai melainkan  berupa pekerjaan atau proyek sehingga mereka bisa mencari sendiri uang. Bagi orang Tionghoa, pemberian bantuan berupa uang tunai akan cepat habis digunakan tanpa ada bekasnya. Oleh karena itu,  orang Tionghoa khususnya pedagang eceran etnis Tionghoa selalu memberi dorongan, ide-ide, bahkan sarana pekerjaan bukan memberikan pertolongan hal yang sudah jadi.

Kesibukan pedagang eceran etnis Tionghoa, tidak menghalangi mereka untuk peduli dengan lingkungan kerja. Lingkungan kerja sangat penting sebagai penunjang keberhasilan bisnis sekaligus bisa meningkatkan kinerja. Lingkungan kerja yang tidak konduktif membuat perusahaan mengalami kemunduran. Untuk itulah mengapa pedagang eceran etnis Tionghoa sangat peduli dengan lingkungan kerja. Lingkungan kerja yang nyaman akan membuat anak buah (karyawan) semakin memiliki motivasi kerja. 

Hasil penelitian ini menunjukkan 79 responden (33%) menjawab sering memberikan pertolongan dan kelonggaran kredit kepada sahabat yang baru membuka usaha. Sebanyak 25 responden (25%)  menyatakan selalu  memberikan kredit kepada sahabat yang baru membuka usaha.    

Pedagang eceran etnis Tionghoa  juga memiliki sikap tepo saliro atau tahu menimbang rasa (perasaan) dengan orang lain. Dalam berbisnis bersikap apa yang tidak baik untuk perusahaan sendiri, janganlah diberikan kepada perusahaan lain. Confucius berkata “Shi Zhu Ji Er Bu Yuan, Yi Wu Shi Yu Ren” (Apa yang tidak diharapkan mengenai diri sendiri, janganlah diberikan orang lain) (Zhong Yong XII:3 dalam Bratayana,2008:35). Artinya berdagang dengan cara ini menjauhkan diri dari kebijaksanaan bisnis yang merugikan orang lain. Berdagang pada dasarnya harus menguntungkan kedua belah pihak. Berdagang dengan cara ini menjauhkan diri dari kebijaksanaan bisnis yang merugikan orang lain.
Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang menyatakan setuju dengan bisnis yang tidak baik untuk perusahaan  sendiri, jangan diberikan kepada perusahaan lain sebanyak 65 responden (27%) dan yang menyatakan sangat setuju sebanyak 116 responden (49%).  

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip Ren (Cinta Kasih) sangat diperhatikan oleh pedagang eceran etnis Tionghoa dalam menjalankan usahanya. Bisnis yang didasarkan pada prinsip-prinsip Ren (Cinta Kasih) maka memiliki hubungan yang harmonis di antara pemasok, pelanggan maupun karyawan sehingga memacu bertambahnya pelanggan yang setia hal tersebut sesuai dengan penelitian  Thomson dan Strickland (1996) dalam Pushpakumari (2009:2) bahwa nilai-nilai positif moral manajer akan mempengaruhi praktek bisnis dalam mengoperasikan usaha yang akhirnya mempengaruhi kinerja.  Sejalan dengan pendapat  Jon M.Hutnsman (2005) dalam It Pin (2006) bahwa tindakan etika justru lebih membawa keuntungan perusahaan dalam jangka panjang, terutama mencapai kinerja perusahaan.
Pedagang eceran etnis Tionghoa bisa sukses karena telah menerapkan etika Ren dalam praktek bisnis sehingga kinerjanya meningkat. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian dimana  nilai Loading Ren sebesar 0.573, merupakan urutan ketiga setelah Guanxi 0.763 dan Yin Yang 0.623. Oleh karena itu indikator Ren merupakan indikator ketiga yang berpengaruh terhadap variabel Kinerja Usaha (Y).      


2. Yi (Kebenaran)

Bisnis yang benar adalah bagaimana bisa menghargai rekan bisnis kapan harus menagih hutang yang sudah jatuh tempo, dan kapan harus membayar hutang dengan tepat. Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya paham benar akan hak dan kewajiban yang harus dilakukan. Hanya dengan menjaga hak dan kewajiban akan meletakkan dasar kebenaran (Yi) dalam bisnis sehingga kedua belah pihak tidak saling dirugikan melainkan sama-sama mendapatkan keuntungan. Hasil penelitian ini, responden yang menyatakan setuju mengenai hal tersebut ada 106 responden  (44%) dan  yang menyatakan sangat setuju sebanyak 123 responden (51%). Hal ini menunjukkan kedisiplinan hak dan kewajiban pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya cukup tinggi.

Ajaran Confucius menekankan pada konsekwensi dan kejujuran. Bisnis yang benar harus mendisiplinkan diri dengan menjaga agar barang yang dikirim sesuai dengan jumlah yang dipesan.  Pedagang eceran etnis Tionghoa sangat paham hal ini, mereka tabu melakukan hal yang merugikan konsumen. Mereka selalu konsekwen dengan pengiriman barang sesuai dengan jumlah yang diorder. Mereka tidak mau agar barangnya terjual banyak dengan cara mengirim lebih dari jumlah yang diorder.
Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang menyatakan “setuju” konsekwen dengan pengiriman barang sebanyak 75 responden (31%). Sementara responden yang menyatakan “sangat setuju” konsekwen dengan pengiriman barang sebanyak 164 responden (68%).

Bagi pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya bisnis yang benar (Yi) adalah bisnis secara cengli (bisa diterima kedua belah pihak tanpa ada yang dirugikan, masuk akal) sangat penting agar bisnis bisa berkesinambungan dan kedua belah pihak merasa puas. Bila hal ini terjadi, bisnis akan langgeng sepanjang masa.  
Menurut Oesman Arief, cengli berasal dari kata ceng = benar, li =hukum (hukum yang benar atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan adil). Bisnis yang adil dimana semua pihak mendapatkan keuntungan yang pantas. Untuk itulah Cengli menjadi hal pokok bagi pedagang dalam menjalin hubungan bisnis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang setuju dengan cengli atau bisa diterima kedua belah pihak, 71 responden (29%). Sementara yang menyatakan “netral” dan “sangat tidak setuju” masing-masing 1 responden (1%) dan yang menjawab “sangat setuju” sebanyak 167 responden (69%).

Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya juga tabu melakukan ciak (tidak membayar hutang). Hal ini disamping memalukan keluarga besarnya juga merupakan hal yang menyimpang dengan ajaran agama manapun. Ajaran Confucius sangat menentang seorang yang berbuat merugikan orang lain. Perbuatan Ciak dianggap seorang rendah budi. Bagi Confucius, seorang rendah budi akan jauh dari kesuksesan hidup. “Maka harta dan kemuliaan yang tidak berlandaskan Kebenaran (Yi), bagiKu laksana awan yang berlalu saja” (Lun Gie Jilid VII:16, halaman 163).

Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya umumnya sangat konsekwen memasarkan barang pada wilayah yang telah ditunjuk dan disepakati oleh agen. Apabila barang dipasarkan tanpa ada wilayah atau area akan menjadikan persaingan yang tidak sehat diantara pedagang sendiri dan hal itu akan merugikan pedagang yang wilayah pemasarannya dimasuki (dilanggar). Di sisi lain akan membuat harga penjualan menjadi hancur dan pada akhirnya akan merugikan semua pihak. Sikap dan perbuatan yang melanggar kesepakatan adalah tindakan yang tidak benar dalam dunia bisnis. Hal itu melanggar ajaran Confucius. Sikap konsekwen dengan perjanjian tersebut sesuai dengan ajaran Confucius bahwa apa yang diucapkan harus sesuai dengan yang dilaksanakan (Lun Gi Jilid II:13, halaman 107).  Artinya apa yang telah dijanjikan harus ditepati.
Hasil penelitian ini didapatkan responden yang menyatakan setuju memasarkan barang pada wilayah yang disepakati sebanyak 91 responden (38%). Sedangkan responden yang sangat setuju bagaimana memasarkan barang pada wilayah yang telah disepakai sebanyak 101 responden (42%).

Bagi pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya menimbun barang kebutuhan pokok sangat tabu, sebab hal itu merugikan masyarakat banyak. Dalam kondisi dimana masyarakat membutuhkan bahan kebutuhan pokok, sementara pedagang menimbun sehingga akan menyengsarakan rakyat sekaligus membuat masyarakat menjadi marah.
Sebaliknya menyebarkan barang kebutuhan pokok ketika masyarakat membutuhkan akan menjadikan masyarakat simpati dan menjauhkan diri dari perpecahan dalam masyarakat.  Confucius berkata bahwa: ”Penimbunan kekayaan akan membuat perpecahkan di antara rakyat; sebaliknya tersebarnya kekayaan akan menyatukan rakyat” (Thai Hak Bab X: 9, halaman 27).           

Ajaran Confucius melarang menimbun kekayaan, apalagi menimbun kebutuhan pokok yang merupakan kebutuhan bagi seluruh masyarakat yang tidak boleh ditunda atau dipermainkan di pasar. Kebutuhan pokok menyangkut kepentingan mendesak banyak orang, sehingga sangat tabu untuk ditimbun hanya untuk mencari keuntungan.
Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang menyatakan “setuju” tabu melakukan penimbunan kebutuhan pokok sebanyak 82 responden (34%). Responden yang menyatakan “sangat setuju” tabu melakukan penimbunan kebutuhan pokok sebanyak 91 responden (38%).

Membayar pajak adalah kewajiban bagi warga negara yang memahami hak dan kewajiban. Hal ini sesuai dengan ajaran Confucius tentang pentingnya mendahulukan pengabdian (kewajiban) dan membelakangkan hasil (haknya) (Lun Gi Jilid XII: 21,ayat 2, halaman 233). Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya membayar pajak sesuai dengan ketentuan akan lebih aman dan tenteram. Hanya saja dari mereka banyak yang mengeluh bahwa cara pembayaran pajak dirasa sangat sulit dan berbelit-belit. 
Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang menyatakan “sering” membayar pajak sesuai dengan ketentuan sebanyak 60 responden (25%). Responden yang menyatakan “selalu” membayar pajak sesuai dengan ketentuan sebanyak 154 responden (64%). 

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa bagi pedagang eceran etnis Tionghoa membayar pajak itu suatu kewajiban yang harus dilaksanakan. Tidak ada yang merasa rugi bila harus membayar pajak asalkan adanya suatu keadilan bagi seluruh pedagang atau pengusaha.

Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya menganggap bisnis bukan sekedar mencari keuntungan, tetapi juga menjalin hubungan dan persahabatan. Kebenaran cita-cita yang paling tinggi bagi entrepreneur bukan sekedar mencari keuntungan saja. Ajaran Confucius menekankan pada bisnis secara benar (Yi) dalam mencari Li’ (keuntungan). Confucius mengatakan: “Pikiran manusia yang berbudi luhur (Junzi) adalah tertuju pada kebenaran, pikiran manusia rendah budi (xiao ren) hanya tertuju pada keuntungan semata-mata. Confucius mengakui setiap orang menginginkan untuk mencari kekayaan, namun kekayaan tersebut haruslah diperoleh dengan jalan yang layak dan dengan tujuan yang tepat, inilah kebenaran. Confucius mengatakan: ”Kekayaan dan kemuliaan adalah keinginan semua orang, bila hal tersebut tidak diperoleh dengan Jalan Suci (Dao), maka jangan dilaksanakan” (Lun Gi IV:1). Di sisi lain ajaran Confucius mengatakan meskipun  kekayaan itu penting, maka kebajikan itu lebih penting. Confucius mengibaratkan kebajikan itu sebagai pokok, sedangkan kekayaan sebagai ujung. Utamakan pokok dalam mencapai ujungnya, itulah kebenaran.            
Hal itu yang menyebabkan pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya tidak berpikir bahwa kebenaran berlawanan dengan keuntungan pribadi, apa yang tidak dikehendaki ajaran Confucius ialah bila kekayaan dan kemuliaan secara tidak layak dan tidak benar atau dapat dikatakan hanya untuk kepentingan diri sendiri atau mencari keuntungan saja (Ongky 2009:39).

Oleh karena itu pedagang eceran etnis Tionghoa berusaha dan menjaga nama baik dengan cara menjual barang sesuai dengan contoh (sample) yang disepakati. Bagi mereka bisnis yang benar itu harus konsekuen dengan apa  yang ditawarkan.
Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang setuju bahwa bisnis bukan sekedar mencari keuntungan maupun kekayaan, tetapi juga menjalin hubungan dan persahabatan. Tanggapan  responden yang “setuju” sebanyak 59 responden (25%), sedangkan responden yang menyatakan “sangat setuju” sebanyak 170 responden (71%).
Pedagang eceran Etnis Tionghoa bisa sukses karena telah menerapkan etika Yi (Kebenaran) dalam berbisnis sehingga kinerjanya meningkat. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian dimana nilai loading sebesar 0.529. Oleh karena itu indikator Yi merupakan indikator keenam setelah Guanxi (0.763), Yin Yang (0.623), Ren (0.573), Zhi (0.573), Xin (5.32) yang berpengaruh terhadap Kinerja Usaha (Y). 


3. Li (Kesusilaan)

Pedagang eceran etnis Tionghoa  di Surabaya dalam berhubungan dengan pelanggan bersikap ramah tamah. Ramah tamah akan membuat pelanggan senang, dan juga menarik simpati pelanggan lebih loyal. Keramahtamahan adalah kunci bisnis etnis Tionghoa, sebab dengan ramah tamah akan menyenangkan pelanggan lama serta mendatangkan pelanggan baru. Hal ini sesuai ajaran Confucius yang mengatakan: “Apabila yang dekat disenangkan, maka  yang jauh akan datang” (Lun Gi Jilid XIII:16,halaman 245). Artinya apabila kita mau menarik pelanggan baru, maka pelanggan lama harus dipuaskan dulu. Hanya dengan cara inilah kita akan memiliki pelanggan yang loyal.  Dengan sikap ramah tamah akan membuat pelanggan senang dan pada gilirannya akan menarik simpati pelanggan. Sikap keramahtamahan dapat dilihat dari  hasil penelitian ini, responden yang menyatakan sering bersikap ramah tamah kepada pelanggan  sebanyak 55 responden (22%). Responden yang menyatakan selalu bersikap ramah tamah kepada pelanggan sebanyak 180 responden (75%). 

Menata pembicaraan agar dihormati dan disegani pelanggan serta agen maupun pemasok sangat diperhatikan oleh pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya. Bagi orang Tionghoa pada umumnya keramah-tamahan itu penting disamping membawa hoky (keberuntungan) akan menarik simpati pembeli yang pada akhirnya bisa menambah jumlah pelanggan. Pelanggan adalah raja yang harus dilayani dengan Li (kesopanan / kesusilaan). Para pedagang yang tidak ramah akan kehilangan pelanggan bahkan tidak akan mendapatkan kesempatan. Oleh karena itu perlu bersikap ramah tamah dengan menjaga pembicaraan agar mendapatkan simpati pelanggan. Hal ini seperti yang dikatakan Confucius bahwa seorang Junzi itu “Dilihat dari jauh nampak agung, setelah dekat ternyata ramah tamah, dan setelah didengar kata-katanya ternyata tegas“ (Lun Gi Jilid XIX:9).

Lebih lanjut Confucius mengatakan: ”Seorang Junzi itu berhati longgar dan lapang ; seorang rendah budi berhati sempit dan berbelit-belit” (Lun Gi Jilid VII:37)”. Seorang Junzi menjunjung tinggi tiga syarat hidup di dalam Jalan Suci (Dao). Di dalam sikap dan perilakunya, ia menjauhkan sikap congkak dan angkuh; pada wajahnya selalu menunjukkan sikap dapat dipercaya dan di dalam percakapan selalu ramah tamah serta menjauhi kata-kata yang kasar” (Lun Gi Jilid VIII:4 ayat 3 dalam Ongky, 2000:4).

Keramah-tamahan bagi pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya adalah bekal dalam setiap hubungan, juga modal yang paling penting dalam pengembangan bisnis. Mereka selalu menjaga pembicaraan dengan baik, sopan, dan berhati-hati bila melakukan penagihan.

Hasil penelitian ini didapatkan responden yang menyatakan sering menata pembicaraan agar dihormati dan disegani pelanggan serta agen atau pemasok sebanyak 71 responden (29%) dan yang menjawab “selalu” sebanyak 152 responden (63%).

Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya berpenampilan wajar dan sederhana dalam berpakainan maupun dalam melayani pelanggan. Kesederhanaan berpenampilan merupakan ajaran Confucius yang mengatakan: “Bila keaslian mengalahkan tata cara, orang akan bersikap udik. Bila tata cara mengalahkan keaslian orang akan bersikap juru tulis. Tata cara dan keaslian itu hendaknya benar-benar selaras. Dengan demikian menjadi seorang Junzi’ (Lun Gi Jilid VI:18, halaman 153), orang yang berpenampilan kepolosan lebih menonjol  akan menjadi udik (kuno), tetapi apabila orang penampilannya melebihi kepolosannya akan menjadi glamour. Yang benar bagaimana berpenampilan yang harmonis (tidak kuno dan tidak glamour), itulah kesederhanan yang sempurna.

Penampilan yang sederhana, sopan dan tidak glamour merupakan ciri dari pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian ini, responden yang menyatakan sering berpenampilan wajar dalam melayani pelanggan sebanyak 87 responden (36%) dan yang menyatakan selalu berpenampilan wajar dalam melayani pelanggan sebanyak 148 responden (62%).

Sementara itu pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya menyadari bahwa menghindar dari permasalahan hutang tidak akan menyelesaikan persoalan. Oleh karena itu ketika ada pemasok menagih hutang dan kebetulan tidak memiliki uang tidaklah menghindar untuk tidak mengangkat telpon. Umumnya mereka mengangat telpon dan berbicara dengan memberikan alasan-alasan yang tepat.

Hasil penelitian ini didapatkan responden yang menyatakan sering mengangkat telpon ketika ditagih hutang kendati tidak memiliki uang sebanyak 59 responden (24%) dan yang menyatakan selalu mengangkat telpon ketika ditagih hutang sebanyak 163 responden (68%).


4. Zhi (Kebijaksanaan )

Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya dalam hal kebijaksanaan dalam bisnis sangat memperhatikan demi kebaikan perusahaan maupun karyawan. Menurut Confucius bahwa kita semua harus mencontoh hal yang baik dari orang lain dan juga harus koreksi diri agar bisa bijaksana. “Bila melihat seorang yang Bijaksana, berusahalah menyamainya; dan bila melihat seorang yang tidak Bijaksana, periksalah dirimu sendiri” (Lun Gi JILID IV:17). Sikap bijaksana penting dalam menjalin hubungan dengan pemasok, karyawan maupun pelanggan dalam mencapai keuntungan bersama dan saling memuaskan semua pihak.

Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya sebagian besar memberikan bonus keuntungan kepada karyawan. Pemberian bonus akan memacu karyawan lebih giat bekerja disamping untuk meningkatkan kemakmuran karyawan.

Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang menyatakan sering memberikan bonus keuntungan kepada karyawan sebanyak 113 responden (47%) dan yang menyatakan selalu memberikan bonus kepada karyawan sebanyak 86 responden (35%).
Tradisi pemberian bonus atau disebut Hongly (bonus tahunan) biasanya dilakukan pada waktu Sincia (Imlek). Para pedagang jaman dahulu pada umumnya memberikan Hongly bisa sampai 5 x gaji  dan bagi karyawan yang sudah lama bekerja bisa juga sampai 10 x gaji. Tetapi dewasa ini Hongly tidak lagi diberikan seperti cara dahulu melainkan cukup hanya 1 x gaji saja.  

Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya kadangkala memberikan harga spesial atau potongan harga (discount) kepada pelanggan lama. Pemberian potongan harga khusus dimaksudkan agar pelanggan lama setia terhadap perusahaan. Bagi orang Tionghoa, pelanggan lama telah banyak memberi keuntungan perusahaan. Oleh karena itu potongan harga spesial diberikan  sebagai bagian bonus agar pelanggan tersebut bertambah maju usahanya sehingga lebih banyak lagi membeli barang dagangan. 
Hasil penelitian ini didapatkan responden yang menyatakan sering memberikan harga spesial kepada pelanggan lama sebanyak 87 responden (36%) dan yang menyatakan selalu memberikan harga spesial kepada pelanggan lama sebanyak 91 (38%).

Pemberian potongan harga kepada pelanggan lama didasarkan juga pada kecepatan pembayaran kredit serta kedisplinan (ketepatan)  dalam pembayaran. Umumnya discount (potongan harga) dalam bentuk persen atau dalam bentuk kuantitas discount (jumlah pembelian).

Pedagang eceran  etnis Tionghoa di Surabaya sangat paham bahwa kolega bisnis yang pailit tidak bisa membayar hutang atau mereka akan menjual aset-asetnya untuk melunasi hutang. Pembebasan hutang dilaksanakan apabila kolega bisnis sungguh-sungguh pailit  bukan sekedar berpura-pura pailit. Hal ini sesuai dengan ajaran Confucius bahwa membantu orang lain agar bangkit dari keterpurukan merupakan kebijaksanan sehingga bukan diri sendiri saja yang maju sementara orang lain mengalami penderitaan. Confucius mengatakan: “Bila ingin tegak, maka berusaha agar orang lainpun tegak; ia ingin maju, maka berusaha agar orang lainpun maju” (Lun Gi Jilid VI:30,ayat 3, halaman 157). 
Hasil penelitian ini didapatkan responden yang menyatakan sering membebaskan piutang kepada pelanggan yang pailit sebanyak 63 responden (27%) dan yang selalu membebaskan piutang sebanyak 30 responden (13%). Di sisi lain prosentase tertinggi adalah 105 responden (43%) dengan jawaban kadang-kadang. 

Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya memahami akan liburan bersama (cuti bersama) agar karyawan bisa melaksanakan liburannya dengan sebaik-baiknya dan bisa memanfaatkan waktu kerjanya dengan seefisien mungkin. Hal itu bisa dilihat dari hasil penelitian ini bahwa responden yang menyatakan sering memberikan cuti bersama karyawan sebanyak 87 responden (36%) dan yang selalu memberikan cuti bersama sebanyak 64 responden (27%).

Meskipun cuti bersama diberikan oleh pedagang eceran etnis Tionghoa, umumnya mereka juga sering memberikan lembur dalam pekerjaan. Kadangkala mereka melemburkan karyawannya pada hari minggu  untuk mengatur barang di gudang, membersihkan toko atau menyiapkan pekerjaan yang belum terselesaikan pada hari-hari kerja. Lembur semacam ini sering dilakukan oleh pedagang eceran etnis Tionghoa agar tidak mengganggu pekerjaan rutin di toko dalam kesehariannya.
Pedagang eceran etnis Tionghoa bisa sukses karena telah menerapkan etika Zhi (Kebijaksanaan) dalam berbisnis sehingga kinerjanya meningkat. Hal ini bisa dilihat dari hasil penelitian ini dimana nilai loading Zhi sebesar 0.573. Oleh karena itu indikator Zhi merupakan indikator ketiga sama dengan indikator Ren (0.573) setelah Guanxi (0.763), Yin Yang (0.623) yang berpengaruh terhadap variabel Kinerja Usaha (Y).

Sumber dari : disertasi Dr. Ongky Setio Kuncono, Drs, MM Pengaruh Etika Confucius Terhadap Kewirausahaan, Kemampuan Usaha dan Kinerja Usaha Pedagang  Eceran Etnis Tionghoa di Surabaya

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:162 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:873 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:113 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:234 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:129 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:400 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:294 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:228 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:171 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:714 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 83 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com