spocjournal.com

BAB VI Pembahasan : Karakteristik Responden


Oleh : Dr. Ongky Setio Kuncono, Drs, MM

Pada Bab ini dibahas tentang hipotesis yang dirumuskan dan didukung oleh fakta yang dapat diterima atau ditolak. Juga analisis hasil penelitian yang dihubungan dengan teori yang dikemukakan pada Bab II dan temuan penelitian terdahulu terhadap Etika Confucius, Kewirausahaan, Kemampuan Usaha dan Kinerja Usaha. Pembahasan ini akan menjawab masalah penelitian yang telah diajukan pada Bab III (jawaban sementara dari rumusan masalah) yang didukung dengan fakta atau ditolak dengan disertai penjelasan tentang makna empiris dan teoritis.
Hasil penelitian yang telah diuraikan pada Bab V akan dibahas relevansinya dengan teori-teori yang ada pada Bab II dan fakta-fakta empiris melalui observasi peneliti secara langsung di lapangan. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat diungkapkan temuan-temuan teoritis. Kemudian dalam pembahasan ini diakhiri dengan uraian keterbatasan dan kelemahan penelitian yang diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar penelitian selanjutnya.

Karakteristik Responden

Memahami  Etnis Tionghoa tidaklah mudah sebab orang Tionghoa itu unik sekali. Seratus orang Tionghoa bila diberi pertanyaan, maka seratus jawaban yang berbeda diungkapkan. Itulah orang Tionghoa yang penuh dengan teka teki kehidupan. Dalam buku berjudul ”Alam Pikiran Cina Sejak Confucius Sampai Mao Zedong” dengan jelas H.G.Creel (1989:3) mengungkapkan: “Dunia Timur yang penuh dengan teka teki rahasia ternyata memang penuh dengan teka teki rahasia, dan tidak mungkin memahami bangsa Cina yang penuh dengan kerahasiaannya itu”.   Dalam penelitian ini peneliti sebagai seorang Tionghoa yang  lama bergaul dengan orang Tionghoa juga mengalami kesulitan dalam mendapatkan data sebagai sampel penelitian, mengingat sikap orang Tionghoa yang tertutup, penuh dengan rasa curiga serta sulit memberikan informasi penting khususnya menyangkut kehidupan dan bisnisnya. Apalagi  kondisi pedagang eceran etnis  Tionghoa  yang pada umumnya sibuk sekali. Kebanyakan mereka berperan  sebagai kasir merangkap menjadi tenaga penjualan,  menerima telpon, melayani pelanggan dan kadang ikut secara langsung menyiapkan barang dagangannya. Hal inilah yang menyebabkan mereka  pada  umumnya tidak mau meluangkan waktu untuk mengisi kuisioner penelitian. Mengisi kuisioner akan memakan waktu banyak dan dianggap tidak efisien. Sebagian pedagang etnis Tionghoa  mengganggap bahwa  area bisnis merupakan hal yang paling rahasia dan tabu untuk diungkapkan kepada khalayak umum. Mereka jarang mau memberikan data data perusahaan maupun informasi, khususnya kepada para peneliti. Hal inilah yang menyulitkan peneliti dalam penelitian ini. Sebagian besar orang Tionghoa tidak memahami pentingnya penelitian sebagai bagian dari pengembangan ilmu demi kemanusiaan.

Dari kesulitan-kesulitan tersebut, peneliti mencoba mencari sampel dengan cara Guanxi. Peneliti meminta bantuan kepada para pedagang etnis Tionghoa yang sudah berhubungan baik untuk mengenalkan beberapa responden. Dengan cara ini ternyata sangat efektif untuk mendapatkan kuisioner walaupun  dengan cara Guanxi membutuhkan waktu dan tenaga banyak di lapangan. Peneliti harus berkali-kali mengunjungi responden untuk melakukan pendekatan personal agar mereka mau mengisi kuisioner. Dengan cara Guanxi ini, akhirnya kuisioner dapat terkumpul dengan baik.
Dalam mengumpulkan  kuisioner dengan cara Guanxi, peneliti mencari informasi pedagang eceran etnis Tionghoa yang ada di setiap kecamatan. Dari informasi itulah sampel diambil di tiap kecamatan. Dengan cara Guanxi peneliti mendapatkan responden yang benar-benar sanggup dan mau mengisi kuisioner yang ada. 
Selanjutnya peneliti mencoba membahasnya satu per satu indikator di masing-masing variabel sebagaimana uraian di bawah ini.


1. Status Perkawinan 

Hasil penelitian ini, jumlah responden adalah 216  responden (90%) telah menikah, 10 orang (4%) belum menikah dan 14 orang (6%) berstatus janda/duda. Dari data tersebut dapat disimpulkan status perkawinan responden yang telah menikah atau berkeluarga menempati peringkat pertama atau terbanyak.

Pedagang eceran etnis Tionghoa yang sudah menikah umumnya sudah memiliki usaha dan mereka yang sudah berkeluarga lebih memiliki kecenderungan untuk mencapai kesuksesan karena mereka telah memiliki tanggungjawab  yang besar untuk kelangsungan hidup keluarganya. Bagi etnis Tionghoa perkawinan merupakan hal yang pokok dalam rumah tangga. Hal ini bisa dilihat ajaran Confucius yang tersurat dalam Kitab Bingcu V A:2 : “Hal laki-laki dan perempuan hidup berkeluarga adalah hubungan terbesar di dalam hidup manusia” (Kitab SuSi, halaman 615).

Begitu pentingnya berkeluarga dalam kehidupan etnis Tionghoa sebagai awal kehidupan yang dianggap sudah siap, baik secara mental maupun material. Bagi orang Tionghoa yang telah mapan, mereka segera menikah dan setelah menikah mereka sudah mampu hidup sendiri dengan bekerja atau membuka usaha. Orang Tionghoa memiliki keyakinan bahwa setiap orang memiliki  hoky (rejeki / nasib). Apabila mereka sudah menikah berarti hoky seorang pria digabungkan dengan hoky perempuan menjadi lebih besar (kuat). Hal ini yang mendorong mereka sukses. Apalagi ketika mereka sudah memiliki anak, anak juga membawa Hoky atau keberuntungan. Sebaliknya mereka yang masih bujang hanya memiliki Hoky sendiri yang diyakini lemah dibandingkan mereka yang telah menikah.

Menurut Budi S.Tanuwibowo (Mantan Ketua Umum Matakin),  seorang  yang sudah menikah berkenaan dengan pengendalian diri, tanggungjawab yang lebih luas khususnya kepada keluarga, perencanaan hidup yang lebih matang, manajemen keuangan yang lebih ketat di satu sisi dan aura kebajikan yang menyatu di sisi lain (kalau harmonis dan saling menunjang). Hal itulah yang membuat Tian (Tuhan) berkenan sehingga hoky (keberuntungan) menyertai keluarga. Sepaham dengan Xs.Buanajaya Bing (Rohaniawan Khonghucu) seorang yang menikah adanya akumulasi kebajikan (De) dan semangat (Qi) suami istri saling mendukung yang berakibat pada melipatgandakan berkah. Hal ini sesuai dengan Kitab Shujing “Bila Kebajikan murni-esa, tiap gerak tiada yang tidak membawa berkah ….Tian menurunkan bencana atau berkah semata-mata hanya berdasar kebajikannya” (Shujing IV.VI.III.5).  Oleh karena itu, seorang Tionghoa yang sudah dewasa diharapkan cepat menikah. Menikah tidak perlu ditakuti sebab menikah adalah proses mencapai kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Confucius mengatakan: ”Sesungguhnya tiada yang harus lebih dahulu belajar merawat bayi baru boleh menikah“ (Thai Hak BAB IX: 2, hal 21). Bagi Etnis Tionghoa menikah adalah proses alam yang harus dijalani apabila ingin hidup secara benar (Yi) dalam mencapai keharmonisan. Kebanyakan mereka ketika bujang bekerja pada orang lain sebagai sarana belajar dalam berbisnis. Ketika ilmu dan pengalamannya sudah mencukupi mereka keluar dari pekerjaan dan mulai bisnis sendiri dari bekal yang telah dimiliki. 

Menurut Usman (2010:35) “Pria Tionghoa yang menikah mendapatkan seorang istri dan sekaligus seorang manajer keuangan”. Biasanya seorang perempuan Tionghoa yang telah menikah pandai mengelola kekuangan keluarga. Wanita Tionghoa yang sudah berkeluarga umumnya lebih mementingkan faktor ekonomi keluarga daripada hal-hal lain. Hal inilah yang menyebabkan mengapa para pedagang eceran etnis Tionghoa sukses umumnya telah berstatus menikah. Di samping peran istri untuk bisa hidup sederhana, pihak pria sudah tidak lagi memikirkan hal-hal lain kecuali konsentrasi untuk bekerja dan mengumpulkan harta. Mereka yang sudah menikah tidak lagi berfoya-foya dan menghamburkan uang. Berbeda dengan mereka yang masih bujang, umumnya hidup boros karena tidak memikirkan beban keluarga. 


2. Jenis Kelamin

Hasil penelitian ini  jumlah responden laki-laki sebanyak 202 responden (85%) artinya para pedagang eceran etnis Tionghoa  umumnya seorang laki-laki. Besarnya jumlah laki-laki sebagai pedagang dibandingkan perempuan disebabkan  tradisi Tionghoa yang selaras dengan ajaran Confucius yakni memberikan peluang lebih besar kepada anak laki-laki dalam mengurus perusahaan. Anak laki-laki pertama (sulung) biasanya memegang peranan utama dalam bisnis. Setelah mereka sukses biasanya adik laki-lakinya diangkat untuk membantu perusahaan. Kadangkala adik laki-laki mendapatkan modal untuk membuka usaha baru dari kakak sulungnya (apabila orang tua laki mereka telah tiada).
Sedangkan kaum wanita Tionghoa, kelak mereka menikah dan mengikuti suaminya sehingga mereka tidak mendapatkan prioritas. Tetapi ketika wanita Tionghoa menikah, biasanya mendapatkan modal kerja, baik berupa rumah, mobil atau perhiasan. Namun dewasa ini pedagang etnis Tionghoa sudah mulai modern dengan membentuk PT (Perseroan Terbatas) sehingga semua anak-anaknya tidak peduli laki-laki maupun perempuan mendapatkan saham perusahaan. Secara umum laki-laki mendapatkan prioritas memimpin perusahaan dan dalam pengambilan keputusan.

Pemberian prioritas kepada laki-laki sesuai ajaran Confucius. Dalam Kitab Iching atau Yaking, laki laki dilambangkan Kian (Langit) atau positif dan unggul (superior) seperti matahari, ketinggian, kekuatan, atau aktivitas. Dalam kenyataannya, laki-laki memiliki tugas keluar rumah seperti bekerja dan mencari nafkah. Sementara wanita dilambangkan sebagai Khun (bumi) adalah lawan (counterpart) negatif dan rendahan (inferior) dari laki-laki seperti bumi, bulan, kedalaman, kelemahan, atau pasif (Mace,1960:67 dalam Wijaya,1997:19). 

Dengan kata lain, wanita memiliki tugas mendidik anak dan mengatur rumah tangga. Tugas laki-laki dan perempuan memiliki sifat komplementer dan saling mengisi, saling melengkapi hanya saja fungsinya yang berbeda. Rarick (2007:24) mengatakan: “Confucius mendektekan peran penurut bagi wanita. Wanita perlu difokuskan di rumah dan tidak diijinkan mengambil keputusan. Wanita perlu dibimbing oleh suami mereka dan memberikan loyalitas dan bakti total kepada suami mereka. Wanita tidak diijinkan untuk memegang posisi penting dalam level birokrasi Cina termasuk sebagai pemimpin perusahaan”.
Sikap tunduk dan patuh  wanita terhadap laki-laki (dalam hubungan suami istri) dapat dilihat dari Kitab Bingcu III B:2 ayat 2, halaman 515, yaitu: “Seorang anak perempuan ketika akan berangkat menikah, sang Ibu memberi petuah-petuahnya. Ketika akan berangkat, diantar sampai di pintu lalu dinasehati:’Anakku yang berangkat menikah, berlakulah hormat, berlakulah hati-hati, janganlah berlawan-lawanan dengan suamimu.’ Memegang teguh sifat menurut di dalam kelurusan itulah Dao (Jalan Suci) seorang wanita”.
Ajaran tersebut menunjukkan wanita itu harus patuh terhadap pria dan peran wanita dibatasi sesuai kodratnya yaitu untuk mengurus rumah tangga.  Sedangkan untuk urusan bisnis diurus oleh suami atau kaum laki-laki.

Tabel 6.1. menunjukkan peran wanita dan laki-laki dimana laki-laki dilambangkan dengan sifat agresif, diibaratkan dengan anggota badan sebagai kepala yang menjadi pemimpin, baik pemimpin keluarga maupun pemimpin dalam organisasi yang lebih luas termasuk pemimpin atau manajer perusahaan.


Dari ajaran Confucius sebagai dasar pemikiran yang menyebabkan dalam dunia bisnis pun laki-laki etnis Tionghoa lebih berperan dibandingkan wanita. Oleh sebab itu para pedagang eceran etnis Tionghoa umumnya dipegang laki-laki sebagai pimpinan perusahan.


3. Usia

Anak-anak dari etnis Tionghoa sejak kecil disekolahkan hingga pada level pendidikan yang memadai. Di samping sekolah, mereka belajar bisnis dengan membantu orang tua, khususnya mereka yang sudah SMA dan perguruan tinggi. Untuk itulah sejak usia remaja mereka telah dikenalkan bisnis sehingga setelah lulus sekolah mereka sudah siap untuk berbisnis. Sebelum itu, pada umumnya mereka bekerja di perusahaan sahabat atau perusahan lain untuk menggali pengalaman, sehingga setelah dianggap pandai, mereka  diberi modal oleh orang tua untuk membuka usaha. Bisnis baru itulah yang biasanya membutuhkan waktu yang lama untuk maju. Oleh karena itu usia responden umumnya sudah mencapai usia matang, yaitu sekitar 40 - 50 tahun.  
Berdasarkan ajaran Confucius, seperti yang dikatakan mereka sendiri  bahwa ”Pada usia 15 tahun, sudah teguh semangat belajarKu, usia 30 tahun tegaklah pendirian, usia 40 tahun tiada lagi keraguan dalam pikiran, usia 50 tahun telah mengerti akan firman Tian (Tuhan), usia 60 tahun pendengaran telah menjadi alat yang patuh (untuk menerima kebenaran), usia 70 tahun aku sudah dapat mengikuti hati dengan tidak melanggar garis Kebenaran” (Lun Gi Jilid II:4).
Lebih lanjut Confucius mengatakan: ”Orang yang sampai usia 40 tahun masih suka berbuat buruk, sepanjang hidupnya akan berbuat demikian” (Lun Gi Jilid XVII:26, halaman 312).

Ajaran Confucius tersebut memberikan batas usia 40 tahun keatas merupakan usia yang matang bagi seseorang, termasuk matang dalam berbisnis. Jadi sekitar usia itulah seharusnya mereka mulai menata bisnis sendiri (menjadi entrepreneur) atau memisahkan diri dari bisnis orang tua maupun saudara dan mulai mandiri.
Banyak pedagang eceran etnis Tionghoa yang walaupun sudah menikah masih tetap bisnis secara bersama-sama dan setelah dirasa mampu mereka membagi atau memisahkan bisnisnya dari keluarganya. Untuk itulah usia yang matang bagi pedagang etnis Tionghoa sekitar umur 40 tahun keatas. Seperti apa yang dikatakan Confucius, “Kita harus hormat kepada angkatan muda, siapa tahu mereka tidak seperti angkatan sekarang .Tetapi apabila sudah berumur empat puluh (40) tahun, lima puluh (50) tahun, belum juga terdengar perbuatannya yang baik (sukses), bolehlah dinilai memang tidak cukup syarat untuk dihormati” (Lun Gi Jilid IX:23, halaman 189).
Jadi usia 40 sampai 50 tahun adalah usia maksimal untuk meraih kesuksesan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian ini, usia responden sekitar  40-49 tahun yang paling banyak. Sebanyak 104 responden (43%) merupakan angka tertinggi dimana pada usia itu kebanyakan pedagang eceran etnis Tionghoa berdikari.
Pedagang eceran etnis Tionghoa juga memiliki semangat kerja yang tidak pernah luntur, di usia yang sudah mencapai 60 tahun keatas yang merupakan usia pensiun ternyata ada sebanyak 30 responden (13%) masih aktif bekerja. 


4. Lamanya Usaha

Keuletan dan ketekunan menjadi ciri khas pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya. Pada umumnya mereka merancang bisnis dan menekuninya dalam waktu yang relatif lama. Pedagang eceran etnis Tionghoa yang sukses memiliki bisnis yang tidak berganti-ganti, melainkan fokus pada bisnis yang digelutinya sampai berhasil. Oleh sebab itulah pedagang eceran etnis Tionghoa memiliki bisnis dan menekuninya dalam waktu yang cukup lama. Mereka memiliki rencana bisnis yang panjang sehingga mereka memiliki cukup banyak pelanggan maupun pemasok. Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya secara bertahap tetapi pasti  dalam meraih kesuksesan, mereka dengan tekun dan bertahan tapi pasti menggeluti bisnisnya dengan belajar dari kekurangannya  dan selalu memperbaiki kekurangannya sehingga mereka berhasil. Hal ini seperti yang diajarkan oleh Confucius bahwa untuk mencapai kegemilangan itu harus berusaha sungguh-sungguh dan diawali dari hal yang kecil secara bertahap menuju hal yang besar. Ketekunan dalam bekerja seperti yang diajarkan Confucius “Tekunlah di dalam Kebajikan itu” (Thai Hak BAB I :1). Artinya etnis Tionghoa harus tekun dalam segala hal termasuk belajar maupun bekerja. Bagi etnis Tionghoa tidak ada istilah tenaga tidak mencukupi, bila tenaga tidak mencukupi berhenti sejenak setelah itu mulai lagi beraktifitas. Seperti yang dikatakan Confucius: ”Kalau tenaga tidak mencukupi dapat berhenti di tengah jalan. Mengapa engkau membatasi diri sendiri? (Lun Gi Jilid VI:12, halaman 151). 

Ajaran Confucius tersebut menjadikan pedagang etnis Tionghoa tidak mau merubah bisnis yang ditekuni. Mereka secara maksimal belajar secara sungguh-sungguh sehingga menjadi ahli dalam bisnisnya. Mereka paham betul dan menguasai betul bisnis yang ditekuninya.
Bagi pedagang eceran etnis Tionghoa bekerja sungguh-sungguh tanpa terkecuali dalam mencapai kesuksesan. Konsep belajar sungguh-sungguh seperti ajaran Confucius berikut: ”Maka seorang Junzi (susilawan) tidak pernah tidak berusaha dengan sungguh-sungguh. Mereka tekun dalam meneliti segala hal yang berhubungan dengan pekerjaannya sehingga betul-betul menguasai (menjadi ahli). Pedagang eceran etnis Tionghoa sangat teliti dalam mempelajari bisnis dan teliti tentang berbagai macam barang yang dijual. Mereka tidak pernah putus asa dalam mengejar kesempurnaan dalam bisnisnya. Mereka belajar seperti yang diajarkan oleh Confucius yaitu:  “Pandanglah tebing sungai Ki, hijau berkilau jajaran bambu. Adakah seorang Junzi yang senantiasa tak boleh dilupakan. Laksana dibelah, dikikir itulah cara belajarnya. Laksana dipahat, digosok itulah cara membina dirinya. Betapa teliti dan tekun itulah cara meluruskan hatinya. Betapa terang dan mulia itulah yang menyebabkan orang hormat kepadanya, dan adakah seorang Junzi yang senantiasa tak boleh dilupakan itulah melakukan Jalan Suci (Dao) yang jaya dan Kebajikan yang mencapai puncak kebaikan, maka rakyat tidak melupakan“ (Thai Hak BAB III : 4).
Maksud perkataan tersebut apabila ditujukan kepada pedagang eceran etnis Tionghoa tidak lain agar mereka memiliki semangat belajar dan bekerja secara tekun, teliti dan tanpa putus asa. Maka tidak heran apabila ketekunan dan usaha yang keras menjadikan pedagang eceran etnis Tionghoa memiliki usia panjang dalam menekuni bisnisnya.    
Hasil penelitian ini didapatkan angka lamanya usaha lebih dari 15 tahun keatas sebanyak 115 responden (47%). Lamanya usaha pedagang eceran etnis Tionghoa tersebut menunjukkan orang Tionghoa dalam berbisnis betul-betul menekuni hingga memiliki usaha yang stabil dan berjalan hingga waktu yang lama. Hal itu juga menunjukkan orang Tionghoa dalam berbisnis memiliki perencanaan yang matang guna mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan.


5. Tingkat Pendidikan

Pendidikan adalah hal yang paling penting dalam kehidupan masyarakat Tionghoa. Khususnya pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya, pendidikan itu wajib dimiliki. Pendidikan bisa secara formal maupun secara non formal.   Pedagang eceran etnis Tionghoa disamping mendapat pendidikan formal, umumnya mereka mendatangkan guru di rumah untuk belajar. 
Hasil penelitian ini menunjukkan 100 responden (42%) mengenyam pendidikan SMA. Angka tersebut selisih sedikit dengan yang berpendidikan S1 (sarjana) sebanyak 99 responden (41%). Hal tersebut menunjukkan tingkat pendidikan  pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya cukup tinggi meskipun dari mereka belum ada yang mencapai tingkat doktoral.


6. Agama Yang Dianut

Agama yang dipeluk atau dianut oleh pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya beraneka ragam. Hal ini menunjukkan pedagang eceran etnis Tionghoa telah memiliki wawasan dan pandangan global. Mereka telah menyesuaikan diri dengan alam dan kondisi dimana mereka berada. Pada umumnya orang Tionghoa memiliki tingkat toleransi yang tinggi tentang agama. Bagi orang Tionghoa  kehidupan  itu adalah agama, agama itu kehidupan. Artinya perbuatan baik manusia,  hubungan antar manusia dan aktifitas sehari-hari merupakan amal keagamaan. Oleh karena itu pedagang eceran etnis Tionghoa bisa menerima konsep universal keagamaan manapun juga. Pedagang eceran etnis Tionghoa  mendapatkan barang dan menjual barang dari berbagai kelompok agama yang berbeda. Hubungan yang intensif dalam bisnis dengan berbagai kalangan agama menjadikan orang Tionghoa memiliki agama yang bervariasi. Begitu pula dengan adanya perkawinan campuran antara etnis Tionghoa dengan sesama etnis Tionghoa atau dengan suku lainnya menjadikan mereka menganut agama yang berbeda-beda.  

Dari penelitian ini, pedagang eceran etnis Tionghoa, walau mereka menganut beraneka ragam agama tetapi mereka masih mengenal dan memahami ajaran etika Confucius.  Hal ini sangat menarik karena etika Confucius masih diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.  Bagi pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya,  etika Confucius merupakan way of life yang dijadikan etika dalam pergaulan hidup, termasuk dalam berbisnis.  Orang Tionghoa beranggapan agama adalah hubungan pribadi antara manusia dengan Tian (Tuhan) yang sangat personal. Sementara masalah etika merupakan hubungan manusia dengan sesamanya. Hal ini menunjukkan orang Tionghoa bisa menerima etika agama secara universal. Bagi mereka apapun agamanya yang penting etikanya Confucius. Etika menurut etnis Tionghoa merupakan tuntunan yang bersifat universal dan siapa pun dan apa pun  agama  serta golongannya secara bebas bisa melaksanakan etika demi kebaikan dalam hubungan kemasyarakatan. Untuk itulah banyak dijumpai pedagang etnis Tionghoa walau pun beragama Khatolik atau Budha, mereka masih melakukan tradisi-tradisi Confusius.

Meskipun pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya yang menjadi objek penelitian ini beragam agamanya tetapi mereka tetap mengikuti tradisi Confucius yang sudah mendarah daging. Kadangkala mereka tidak menyadari apa yang dilakukannya (dalam kehidupan sehari-hari) merupakan penerapan etika Confucius yang sebagian besar dipahami dan diketahui dari orang tua mereka. Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya walau telah memeluk berbagai agama, namun mereka tidak terlalu menonjolkan agama yang dianut. Misalnya seorang muslim Tionghoa jarang memakai sarung dan memakai peci sebagai lambang seorang muslim. Juga seorang Tionghoa Confucius tidak memakai pakaian adat Cina yang menonjol. Sikap dan tingkah laku mereka tidak bisa dipisahkan karena agama yang dianut. Mereka memiliki kesamaan dalam menghadapi pelanggan dan sahabatnya. Kesamaan dalam berbisnis disebabkan oleh etika Confucius yang telah mendarah daging dan diterapkan di dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Hasil penelitian ini menunjukkan pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya memiliki beragam agama. Jumlah penganut agama Hindu sangat kecil sekali, hanya 1 persen dari total responden. Ada hal yang paling menarik, dari 55 responden yang beragama Khatolik yang berjumlah 50  responden (91%)  menerapkan etika Confucius dalam kehidupan sehari-hari. Sementara yang ragu-ragu sebanyak 3 responden  (6%),  sedangkan  3 prosennya tidak menerapkan etika Confucius. Berbeda dengan yang beragama Kristen dimana dari 57 responden sebanyak 42 responden (74%) menerapkan etika Confucius. Yang ragu-ragu sebanyak 5 responden (9%), dan 17 prosennya tidak menerapkan etika Confucius dalam kehidupan sehari-hari. 

Angka terbesar yang beragama Khatolik menerapkan Etika Confucius diduga karena adanya Inkulturasi yaitu nilai-nilai, budaya, maupun tradisi di luar Khatolik yang dianggap baik dan tidak bertentangan dengan ajaran agama boleh dilaksanakan (Liturgi Romawi dan Inkulturasi) (Wali Gereja Indonesia, 2008). Ketentuan ini sesuai dengan Dokumen Konsili Vatikan II (audium Etpes, 1965) dan juga Lumen Gentium (Terang Bangsa Bangsa) (Waligereja Indonesia, 2010).
Menurut Romo Elent Bon,Svd (yang juga sebagai responden dalam penelitian ini) bahwa dasar-dasar memperbolehkan menerapkan budaya, adat istiadat, etika lokal juga didasarkan pada kitab Matius Bab V : 13-16, Petrus Bab VI : 17-18, Kisah Rasul Bab XVII.

Oleh karena itu, mengapa banyak orang Khatolik yang menerapkan etika Confucius dalam praktek bisnis meskipun mereka memiliki Iman Khatolik. Dari 50 responden yang beragama Budha, 40 responden (80%) menerapkan etika Confucius dalam kehidupan sehari-hari, yang ragu-ragu sebanyak 7 responden (14%), dan yang tidak menerapkan etika Confucius dalam kehidupan sehari-hari sebanyak 3 responden (6%). Dari 9 responden yang beragama Islam ada 7 responden (78%) menerapkan etika Confucius dalam kehidupan sehari-hari, dan hanya 2 responden (22%) yang tidak menerapkan etika Confucius dalam kehidupan sehari-hari. 
                                                                                                     

7. Mengenal dan memahami Etika Confucius

Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya mengenal dan  memahami etika Confucius bersumber dari belajar sendiri, dari teman, orang tua, sekolah dan tempat ibadah. Selama hampir 35 tahun pemerintahan Soeharto dengan memancung ajaran Confucius dengan ditutupnya sekolah-sekolah Confucius serta dilarangnya budaya Cina, ternyata tidak membuat pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya melupakan maupun menjauhkan diri dari pemahaman Confucius. Ada pula dari mereka yang sudah tidak mengenal ajaran Confucius, bahkan mereka sudah tidak lagi mengerti apakah yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari adalah etika Confucius.
Sebagian besar pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya yang memiliki Guanxi (hubungan) dengan berbagai pedagang dari China (Tiongkok), Singapura, Hongkong, Taiwan, Korea, Malaysia dan sebagainya bisa jadi mereka menggali dan memahami ajaran atau etika Confucius dari mereka juga. Tradisi bisnis dan jaringan bisnis dengan tanpa ada semacam tulisan, tetapi secara tersirat mereka telah menjalankan aturan bisnis berdasarkan etika Confucius. Untuk itulah mengapa banyak pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya yang mengenal  dan memahami ajaran atau etika Confucius.      

Dari hasil penelitian ini, 17 responden  (7%) yang tidak mengerti dan tidak memahami sama sekali ajaran atau etika Confucius. Hal ini menunjukkan bahwa ada sebagian orang Tionghoa yang sama sekali meninggalkan ajaran Confucius. Namun sekitar 223 responden (93%) mereka memahami dan mengerti ajaran Confucius dari berbagai sumber, seperti dari orang tua mereka sebanyak 107 responden (45%) dan ini yang terbanyak dari jumlah responden. Sisanya mengenal Confucius dari teman, sekolah, belajar sendiri dan tempat ibadah.

Mengerti dan memahami  Etika Confucius dari orang tua menunjukkan etika Confucius berkembang dan dikembangkan oleh lingkungan keluarga secara turun temurun dan mentradisi dalam kehidupan.      

Adapun sumbangsih tempat ibadah yang hanya 10% menunjukkan banyak pedagang etnis Tionghoa yang jarang pergi ke tempat-tempat ibadah mereka. Bagi pedagang eceran etnis Tionghoa, beribadah tidak harus secara jemaat (bersama-sama). Sebab mereka bersama keluarga bisa melakukan ibadah di rumah masing-masing. Inilah yang dikatakan Confucius merupakan family religion (agama keluarga). 


8. Penerapan Etika Confucius

Pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya dalam kehidupan sehari hari mencerminkan etika dan ajaran Confucius. Etika Confucius dijadikan way of life  yang mencerminkan pada tingkah laku dan perbuatan dalam kehidupan bisnisnya. Walaupun ada sebagian dari generasi baru yang sudah tidak lagi memahami maupun mempraktekkan etika Confucius dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dunia bisnis aturan tak tertulis itu masih sering dilaksanakan oleh etnis Tionghoa. Misalnya orang Tionghoa itu harus Cingjay, Cengli, jujur dan selalu menjaga hubungan. Masalah Hopeng, Hongly dan Hoky sudah tidak asing lagi dalam masyarakat etnis Tionghoa. Nilai-nilai tersebut bukan menjadi semboyan melainkan telah mendarah daging dalam kehidupan dan nampak dengan jelas dalam praktek bisnis pedagang eceran etnis Tionghoa di Surabaya.

Hasil penelitian ini, ada sebagian dari pedagang eceran etnis Tionghoa yang tidak memahami bahkan tidak mengenal apalagi menerapkan etika Confucius dalam kehidupan sehari-hari, tetapi jumlahnya relatif sedikit yaitu 17 responden  (7%).  Mereka itu umumnya telah melepaskan atau meninggalkan ajaran Confucius dan menjalankan tradisi atau etika baru sesuai dengan agama yang mereka yakini saat ini.

Di sisi lain didapatkan sikap keragu-raguan dari responden tentang apakah yang mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari merupakan etika Confucius atau bukan. Sikap keragu-raguan tersebut ada pada 13 responden  (5%). Sebaliknya pedagang eceran etnis Tionghoa yang menerapkan etika Confucius dalam kehidupan sehari-hari jumlahnya jauh lebih besar atau lebih banyak, yaitu 210 responden (88%).  

Sumber dari : disertasi Dr. Ongky Setio Kuncono, Drs, MM Pengaruh Etika Confucius Terhadap Kewirausahaan, Kemampuan Usaha dan Kinerja Usaha Pedagang  Eceran Etnis Tionghoa di Surabaya

Comments   

 
0 #1 Darwin Tantiono 2014-05-24 22:57
:-) Thank atas disertasi yang menarik ini...
 

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:160 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:171 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:101 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:643 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

05-09-2017 Hits:595 Berita Foto

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

Talkshow interaktif dengan Nara Sumber Js. Liem Liliany Lontoh; Hotel Aston ruang Asoka Lt. 2; Manado, 01 September 2017.

Read more

Anti Narkoba

28-08-2017 Hits:110 Berita Foto

Anti Narkoba

Surabaya, 28 Agustus 2017 pertemuan BNN (Badan Narkotika Nasional) di Hotel Santika Surabaya yang dihadiri oleh beberapa sukarelawan.

Read more

Pulau Nan Indah

22-08-2017 Hits:190 Berita Foto

Pulau Nan Indah

Kami mengajak para pencinta alam Indonesia untuk berkeliling ke tiga pulau di Wilayah Sumenep-Madura.

Read more

Tokoh Matakin Berpulang

08-08-2017 Hits:1145 Berita Foto

Tokoh Matakin Berpulang

Wu Hu Ai Zai, telah kembali ke Haribaan Huang Tian, Xs Hanom Pramana Buanadjaja (Phwa Tjhiang Han/Pan Chang Han 潘昌汉)...

Read more

Nganjuk Penuh Kedamaian

27-07-2017 Hits:307 Berita Foto

Nganjuk Penuh Kedamaian

Kunjungan FKUB provinsi Jatim hari kedua di FKUB Kabupaten Nganjuk. Kunjungan di Nganjuk diterima di kantor Kesbangpol. Hadir dalam pertemuan...

Read more

FKUB Jatim Turba

26-07-2017 Hits:176 Berita Foto

FKUB Jatim Turba

Rapat koordinasi dan silaturahim FKUB Kabupaten Mojokerto yang dihadiri oleh jajaran pengurus FKUB Kabupaten Mojokerto, Bupati dan para Camat, Bakesbangpol,...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 38 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com