spocjournal.com

Gus Dur di mata orang Tionghoa Khonghucu

Oleh : Js.Drs.Ongky Setio Kuncono,MM,MBA *

PENDAHULUAN

Gus Dur di mata orang Tionghoa Khonghucu KH.Addurrahmat Wahid alias Gus Dur yang dilahirkan di Jombang, 7 September 1940 wafat di Jakarta , 30 Desember 2009 pada usia 69 tahun adalah tokoh besar Muslim Indonesia yang menjadi milik semua bangsa dan golongan. Beliau diangkat menjadi presiden menggantikan presisen B J Habibie pada hasil pemilu 1999. Masa pemenrintahan Abdurrahman Wahid dimulai pada 20 oktober 1999 dan berakhir pada Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Pada tanggal 23 juli 2001, kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden pada pemerintahan beliau.

Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara, kakek dari ayahnya KM Hasyim Asyari, pendiri Nahdiatul Ulama (NU) , sementara kakek dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri, adalah pengajar pertama yang mengajarkan kelas pada perempuan. Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim , terlibat dalam Gerakan Nasionalis dan menjadi Menteri Agama pada tahun 1949. Ibunya, Ny.Hj.Sholehah , putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang ( H Syamsul Hadi : 13 ).

Dalam wawancara dengan wartawan, seperti dilansir Tempo Interaktif, Gus Dur secara terbuka pernah menyatakan bahwa ia sesungguhnya masih memiliki darah Tionghoa dan keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak yang aslinya bernama Tan Eng Hwa. Tan A Lok dan Tan Eng Hwa merupakan anak dari Putri Campa, seorang putri Tiongkok yang menjadi selir Raden Brawijaya V. Tan Kim Han sendiri, berdasarkan penelitian yang dilakukan Louis-Charles Damais seorang peneliti Perancis , diidentifikasikan sebagai Syekh Abdul Qodir Al-Shini yang makamnya ditemukan di Trowulan, Jawa Timur . Abdul Qadir adalah seorang Cina Muslim yang merupakan kakak atau saudara tua dari Raden Patah . Sebagai seorang Perwira Militer Cina ia melakukan aliansi dengan Sayyid Usman Ngudung untuk melakukan gempuran militer terhadap Keraton Majapahit. 

Apabila pernyataan Gus Dur itu benar maka sudah barang tentu bahwa Gus Dur memiliki marga Tan dan dapat dilacak dalam kuburan yang ada di tanah air ini. Benar tidaknya pernyataan tersebut bukan menjadi hal yang penting, justru yang paling penting  Gus Dur adalah putra bangsa terbaik yang banyak sumbangsihnya terhadap peradapan manusia.

Gus Dur dimasa hidupnya adalah sosok yang tidak pernah lepas dari pemberitaan di media masa baik local maupun internasional. Gus Dur sebagai tokoh Islam sejati yang sangat pede dan bangga dengan pesantren yang membesarkannya sehingga bagi Gus Dur pesantren adalah jiwanya sebagai muslim yang dapat berkiprah dimanapun berada bahkan pesantren    menjadikan Gus Dur berani memasuki wilayah lain suatu wilayah diluar batas ( pasing over ). Gus Dur tidak lagi risih dan canggung dengan lingkungan manapun sehingga tak heran bila Gus Dur bisa masuk Kelenteng dan bicara dengan umat Khonghucu. Gus Dur meyakini bahwa untuk menjadi muslim yang baik tidaklah cukup hanya dengan memiliki keyakinan yang teguh atas keyakinan tauhidnya melainkan juga adalah orang yang sanggup untuk hidup bersama dengan masyarakat yang memiliki pandangan hidup, keyakinan, dan agama yang berbeda beda. Untuk itu diperlukan suatu keberanian untuk menghargai dan menghormati keyakinan agama yang berbeda beda itu. Hanya dengan cara demikian seorang Muslim sejati bisa terlibat dalam membangun kehidupan yang damai, adil dan sejahtera seperti cita cita masyarakat Madani.   Sikapnya yang demokratis dan humanis, menjadikan Gus Dur seorang bapak Bangsa yang melampaui garis garis sektarianisme yang masih kita rasakan sampai saat ini.   

Etnis Tionghoa khususnya Khonghucu merasakan bahwa Gus Dur menjadi bagian dari kehidupannya,  hal ini sangat masuk akal sebab segala persoalan dan keluhan keluhan yang dialami dapat ditampung oleh Gus Dur. Gus Dur dengan ketulusnnya mencari jalan keluar dari permasalahan yang ada tanpa menimbulkan efek bagi posisinya sebagai tokoh Islam.Gus Dur berani menerima segala resiko dari sepak terjangnya. Tak jarang beliau diejek, dicemooh, dihujat bahkan dikafirkan. Justru banyaknya hujatan dan perlakuan negative terhadap Gus Dur tidak menjadikan Gus Dur menjadi kerdil, melainkan Gus Dur semakin banyak mendapatkan simpati dan namanya semakin agung.  Ustad Chotir ( SARAS ) dari Jember pernah berkata bahwa sepak terjang Gus Dur banyak dihujad oleh sebagian umatnya bahkan orang disekitarnya, namun setelah Gus Dur wafat, mereka semua menghormat Gus Dur melebihi dari hujatan yang telah diterima nya.. Apa yang  dialami Gus Dur seperti  yang dikatakan oleh Rosul Bingcu ( dalam Kitab Agama Khonghucu ) bahwa “ Begitulah kalau Tuhan YME hendak menjadikan seseorang besar, lebih dahulu disengsarakan batinnya, dipayahkan urat dan tulangnya, dilaparkan badan kulitnya, dimiskinkan sehingga tidak punya apa apa, dan digagalkan segala usahanya. Maka dengan demikian digerakkan hatinya, diteguhkan Watak Sejatinya, dan bertambah pengertiannya tentang hal hal yang ia tidak mampu “ ( Bingcu VI B 15:2 ) .

Gus Dur telah mengalami ujian yang berat dengan kondisi kesehatan yang terus menurun, tetapi beliau tetap tegar ditengah tengah masyarakat tanpa megeluh akibat sakitnya. Beliau betul betul mencintai rakyatnya dan umatnya ketimbang dirinya sendiri. Gus Dur adalah orang orang besar yang telah berhasil melalui suatu proses pergulatan dalam sejarah yang panjang. Gus Dur telah ditempa dengan kondisi lingkuanan kehidupan yang beraneka ragam dan Gus Dur tetap tegar berdiri walaupun angin dan badai menerjang beliau. Maka tentu saja bahwa Gus Dur bukan sekedar seorang tokoh tetapi seorang yang setaraf dengan wali. Beliau dengan jitu telah melakukan apa yang disebut dengan Tripusaka, kebijaksanaannya mampu mengharmoniskan tiga pilar Kebijaksanaan, Keberanian dan  Ren=Cinta Kasih . Oleh karena itu banyak tokoh tokoh Khonghucu yang menyebut bahwa Gus Dur adalah seorang yang Ren seorang yang memahami kemanusiaan. Orang orang Khonghucu meyakini bahwa Gus Dur sebagai pemimpin yang mampu mengayomi dan membuat orang orang Khonghucu enjoy dan menikmati ajaran dan pemikirannya. Bagi orang Tionghoa bahwa penghormatan orang orang besar sepeti Gus Dur itu hukumnya wajib. Seperti dalam Kitab Lun Gi 16 pasal 8 “ Seorang Junzi ( insan Kamil ) memuliakan tiga hal : memuliakan Firman Tuhan YME, memuliakan orang orang besar dan memuliakan sabda para Nabi. Seorang rendah budi tidak mengenal dan tidak memuliakan Tuhan, meremehkan orang orang besar dan mempermainkan sabda para Nabi “

Bagi kami, Gus Dur adalah salah satu dari orang orang besar yang wajib dihormati dan dimuliakan namanya. Memuliakan nama Dus Dur tak lain adalah menempatkan Gus Dur sebagai Pahlawan Pluralisme. Umat Khonghucu telah menganggap Gus Dur sebagai Pahlawan walau secara resmi belum mendapat pengakuan dari pemerintah. Sebagai seorang Pahlawan bahwa legiminasi tergantung pada rakyat yang mengakui dan menghormati jasa jasa beliau. Banyak yang telah dilakukan Gus Dur dalam menumbuhkembangkan kehidupan yang demokratif, menghargai perbedaan, dan menjunjung kebenaran dengan semboyannya “Berani  membela yang benar “. Apa yang dilakukan Gus Dur sebaga upaya memebentuk masayarakat Madani yang harmonis tanpa ada penindasan kaum lainnya. Penulis menyakini bahwa apabila jiwa jiwa Gus Dur tersebut ada pada tingkat RT, RW, bahkan para pemimpin di Indonesia berwawasan Pluralis akan menjadikan Indonesia suatu Negara yang damai dan makmur di abad 21 ini.
 
Ketua umum MATAKIN ( Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) Budi Santosa Tanuwibowo  mengatakan bahwa Gus Dur dianggap sebagai Toa Pe Kong ( Orang Suci dalam pandangan Khonghucu ) ( Lihat Antara ). Bagi saya Gus Dur adalah Dewa Penolong  yang berani berkorban seperti tokoh Kwan Khong sebagai murid Khonghucu yang menjalankan konsep Tripusaka ( Kebijaksanan, Cinta Kasih dan Berani ). Julukan Gus Dur tersebut merupakan penghormatan dan penghargaan Gus Dur yang dianggap sebagai sesepuh yang bisa mengayomi masyarakat Tionghoa pada umumnya dan  khususnya Khonghucu. Berkat perjuanan Gus Dur, Khonghucu mendapatkan tempat yang layak di bumi Indonesia yang tercinta ini. Jauh sebelumnya Gus Dur ketika menjadi Ketua Nadatul Ulama ( NU ) pernah datang ke Surabaya ikut mendukung umat Khonghucu dalam persidangan di PTUN Surabaya tentang perkawinan  antara Lany Guito dengan Budi Wijaya secara Khonghucu yang dipermasalahkan oleh Kantor Catatan Sipil. Dukungan Gus Dur tersebut membuktikan bahwa beliau sangat memperhatikan kaum tertidas yang minoritas ini. Waktu itu Gus Dur mengatakan perlu adanya gerakan agar umat Khonghucu dapat keadilan dan perlakuan dalam rangka menghapus SK Mendagri No 477/74054/1978 yang didalamya hanya mengakui lima agama dan Khonghucu tidak ada didalamnya. Kata Gus Gur   “ Saya akan ikut dalam gerakan ini,” . Bahkan Gus Dur dengan cermat mengamati jalannya lembaga peradilan, namun menurut beliau bahwa keadilan bagi yang mencari keadilan belum dirasakan. Bagi Gus Dur Agama tidak ada kaitannya dengan budaya dan yang perlu dicatat, hari ini merupakan hari yang sangat menyedihkan bagi kebebasan beragama di Indonesia ( Bali Pos, 4 September 1996) . Pernyataan yang berani dan tegas tersebut sungguh tidak ada orang yang sanggup melakukannya pada situasi dan kondisi perpolitikan pada waktu itu ketika pemerintahan Orba berkuasa. Gus Dur berbeda, dengan ketulusannya beliau telah memperjuangkan bahkan mempertaruhkan jiwa dan raganya, jabatannya sebagai Ketua PBNU.  Gus Dur sebagai seorang yang super sibuk dengan senang hati  menyempatkan waktunya untuk beberapa kali hadir dalam persidangan, seminar Khonghucu, sungguh umat Khonghucu berhutang budi kepada beliau. Diluar dugaan bahwa kita tidak menyangka dikemudian hari ternyata  Gus Dur sendiri yang akhirnya mencabut SK Mendagri diatas. Tentu saja Gus Dur telah mempertaruhkan   jabatannya sebagai Presiden hanya untuk memperjuangkan  umat  Khonghucu. Sikap Gus Dur yang demikianlah itulah merupan penerapan konsep “Keberanian” yang ada dalam “ Tripusaka “.

Keberanian Gus Dur dan konsistennya sebelum menjabat Presiden hingga menjadi Presiden pantas kiranya  Gus Dur dijuluki sebagai seorang Suci seperti Toa Pe Kong maupun Kwan Khong, ini  bukan tidak beralasan, sebab kecintaan umat Khonghucu terhadap Gus Dur hingga ada sebagian umat yang ingin membuat Patung Gus Dur seperti patung patung para Suci . Upaya ini tentu banyak pro dan kontra disamping umat Islam sendiri tidak memperbolehkannya. Terlepas dari pro dan kontra tentang patung itu bahwa ada upaya umat Khonghucu untuk meletakkan Gus Dur di tempat yang tinggi sebagai seorang tokoh yang dianggap pantas. Bahkan kalau kita lihat di Lithang ( Tempat Ibadah Umat Khonghucu ) Boen Bio Surabaya di sebelah mimbar kotbah terpasang gambar Gus Dur. Gambar Gus Dur tersebut sebagai peringatan agar setiap orang yang datang di tempat ibadah itu mengingat jasa Gus Dur.

Kecintaan kaun Tionghoa terhadap Gus Dur yang akhirnya pada tanggal 10 Maret 2004 Gus Dur ditahbiskan sebagai “ Bapak Tionghoa “ oleh tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok , yang selama ini dikenal sebagai kawasan Pencinan. Selanjutnya organisasi Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles juga memberikan penghargaan karena menilai Gus Dur memiliki keberanian membela kaum minoritas, salah satunya dengan membela umat beraga Khonghucu di Indonesia dalam memperoleh hak haknya yang sempat terpasung selama era Orde Baru.

Gus Dur bukan milik umat Islam saja, Gus Dur menjadi milik bangsa Indonesia bahkan Internasional. Gus Dur  telah memposisikan dirinya sebagai bapak pelindung dan pejuang kemanusiaan. Sikapnya yang sederhana hampir saja semua orang tidak percaya bahwa seorang yang se caliber beliau itu mau naik Kijang bobrok. Pada suatu hari ketika saya dan beberapa teman dari Makin Boen Bio hendak menjemput Gus Dur di bandara, kami merasa minder kerena fasilitas mobil yang kami miliki tidak memadai. Kami berfikir bahwa perlu menyewa Sedan mewah untuk menjemput Gus Dur. Namun dalam kenyataannya Gus Dur tidak menghendaki hal demikian. Gus Dur ternyata tidak mau diistimewakan dengan penyediaan fasiitas yang mewah . Kesederhanaannya membuat orang orang Khonghucu tidak percaya kalau yang datang itu benar benar Gus Dur ketua PBNU . Hanya dengan memakai hem lengan pendek dan bersandal , beliau dengan tenang menghampiri kami. Inilah kesederhanan Gus Dur yang tidak mau merepotkan orang lain. Bagi Gus Dur hubungan persahabatan adalah segala galanya ketimbang meributkan urusan akomodasi.

 
KEBIJAKSAAN STRATEGIS

Selama hamper 32 tahun orde baru berkuasa, yang memberi perlakuan diskriminatif dan mengisolasikan golongan etnis Tionghoa, serta peristiwa pertengahan bulan Mei 1998, yang jelas menjadikan orang dan milik Tionghoa sasaran kekerasan yang amat dahsyat, dapat dipertanyakan apakah golongan ini sebagai warga Indonesia juga merupakan bagian dari bangsa Indonesia ? Menurut Mely G Tan bahwa selama Indonesia merdeka , dapat dikatakan bahwa perlakuan diskriminatif yang paling jelas terjadi dalam rezim Orde Baru Soeharto.

Dengan dikeluarkan aturan yang menutup semua sekolah yang berbahasa Tionghoa ( 1966 ), walaupun 1968 sampai 1974 diperkenankan adanya sekolah Nasional Proyek Khusus, yang krikulumnya nasional, tetapi diperbolehkan adanya mata pelajaran bahasa Tionghoa secara ekstrakulikuler. Tujuan dari sekolah ini adalah untuk menampung anak anak sekolah Tionghoa yang ditutup. Dalam tahun 1967 juga dilarang menggunakan aksara Tionghoa di tempat umum, seperti merek toko atau perusahaan , dilarang memasukan buku, majalah atau surat kabar dengan aksara Tionghoa . Tahun itu keluar pula peraturan yang menyeluruh mengenai agama, kepercayaan dan tradisi Tionghoa, seperti Tahun Baru Imlek, hanya boleh dirayakan di kalangan keluarga di dalam rumah atau dalam Kelenteng ( Inpres No 14, 1967 ). Belakangan yang terjadi justru didalam rumah atau Tempat Ibadah pun dilrang untuk melakukan aktifitas yang berbahu kebudayaan. Sebagai contoh nyata adalah banyak pengurus Klenteng ( termasuk penulis sendiri ) yang pernah dipanggil penguasa karena memainkan Barongsai di Tempat Ibadah . Begitulah orang orang Tionghoa banyak yang takut melakukan aktifitasnya termasuk kegiatan keagamaan. Semua kegiatan keagamaan harus dilaporkan dan dijaga oleh Sospol serta Militer, inilah kondisi kehidupan orang orang Tionghoa khususnya umat Khonghucu pada waktu itu.

Dalam kondisi yang memprihatinkan diatas, Gus Dur tampil sebagai Dewa Penolong yakni melalui Keppres RI Nomor 6 tahun 2000, Presiden Gus Dur, si Bapak Tionghoa Indonesia ( lihat Mustofa Liem ), mencabut Inpres yang memarginalkan etnis Tionghoa di segala bidang dan hanya menjadikannya sebagai binatang ekonomi. Keppres yang dikeluarkan oleh Gus Dur adalah Kebijaksanan strategis bagi kaum Tionghoa yang terus bergulir dan selanjutnya ditindaklanjuti oleh Presiden berikutnya Megawati Soekarnoputri dengan mengeluarkan Keppres nomor 19 Tahun 2002 di antaranya meresmikan Imlek sebagai Hari Libur Nasional.

Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa etnis Tionghoa benar benar diterima sebagai bagian integral bangsa ini . Ada regulasi yang menjamin kesederajatan atau kesetaraan etnis Tionghoa dengan anak bangsa yang lain. Sebagai contoh Undang Undang no 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan. Melalui UU itu, tidak ada sekat sekat lagi antara pribumi dan non pribumi. Siapapun , termasuk etnis Tionghoa yang lahir di negeri ini, adalah WNI.Kebebasan Bergama khususnya Khonghucu telah mendapatkan tempat yang layak di pemerintahan SBY dan juga segala urusan perkawinan secara Khonghucu telah berjalan dengan lancar. Bahkan sejak peringatan Imlek pertama nasional hingga perayaan imlek tahun 2013 kemaren , SBY mengatakan hadir secara berturut turut. Semoga para pemimpin bangsa dimasa mendatang tidak lagi berpikir mundur, melainkan terus konsekuen dengan Undang Undang Dasar 1945 dan Pancasila yang memberikan luang gerak bagi umat Khonghucu .

Perjalanan Etnik Tionghoa sampai pada saat sekarang ini, tentu saja diawali dari perjuangan Gus Dur sehingga etnik Tionghoa bisa hidup di Negara Indonesia tanpa ada pengkotak kotakan dan lebih daripada itu khususnya umat Khonghucu telah bisa bernafas secara bebas untuk menjalankan Ibadahnya serta mengembangkan jati dirinya secara bersama sama hidup dengan  pemeluk  agama lainnya.


AGAR GUS DUR SENANG

Prof.Dr.Ridwan Lubis dalam ceramahnya didalam Mukernas Dewan Rohaniawan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia di Surakarta mengatakan bahwa : “ Intruksi Menteri Agama RI nomor 01 Tahun 2006 tentang Sosialisasi Status Perkawinan, Pendidikan, dan Pelayanan Terhadap Penganut Agama Khonghucu adalah merupakan langkah strategis bagi umat Khonghucu “ Untuk itulah umat Khonghucu tidak perlu lagi minder dan malu malu menyuarakan dan mengamalkan agamanya di bumi Indonesia tercinta.

Agar supaya Gus Dur senang dan tetang, maka setelah etnik Tionghoa dan khususnya umat Khonghucu yang telah mendapatkan pengembalian status dan haknya sebagai warga Negara yang sama dengan warga Negara lainnya, maka umat Khonghucu harus berperan kepada Negara dan masyarakat untuk memberikan sumbangan pemikiran dan tenaga menuju masyarakat adil dan makmur yang bebas dari kemiskinan dan keterbelakangan hidup. 

Dr.Chandra Setiawan ( Tokoh muda Khonghucu ) dalam hal ini mengemukakan bahwa saatnya umat Khonghucu berkiprah lebih banyak lagi dalam masyarakat sehingga memiliki peran nyata terhadap pembangunan untuk Indonesia yang kita cintai. Banyak yang harus dilakukan oleh umat Khonghucu kepada negeri ini agar apa yang telah diperjuangkan Gus Dur tidak sia sia lagi. Kita semua harus banyak berbuat agar Gus Dur bisa melihat kita dengan senang di alam yang lain. Tidak ada lagi alasan ini dan itu bagi umat Khonghucu, melainkan didepan mata ini banyak pekerjaan besar yang harus cepat dikejar tidak dengan cara berlari melainkan dengan meloncat sejauh jauhnya agar bisa mengejar ketingglan yang ada.

Semoga apa yang telah diperjuangkan oleh Gus Dur dan para pemimpin selanjutnya terus memberikan ispirasi bagi umat Khonghucu untuk ikut andil dalam mengisi kemerdekaan, membentuk masyarakat yang damai sejahtera. Zhancai .

 
__________
Penulis : Direktur PT.Merak Jaya Transport, mantan Ketua Litbank Makin Boen Bio Surabaya dan sekarang sedang menyelesaikan Program Doktor Ilmu Ekonomi di Universitas 17 Agustus ( Untag ) Surabaya.


Daftar Pustaka

Sejuta Gelar Untuk Gus Dur,PT.Nawa Mulia Nusantara,Jakarta, Maret 2010

Greg Barton & Hairus Salim Hs,”Prisma Pemikiran Gus Dur “,PT. Lkis Printing Cemerlang, Yogyakarta,2000

H Syamsul Hadi,” Gus Dur Guru Bangsa, Bapak Pluralisme, Zahra Book, Jombang

Comments   

 
+1 #1 Abdullah 2013-06-22 09:35
Saya sangat terharu membaca tulisan di atas, dengan penuh kesadaran ternyata hari ini kita merindukan sosok beliau yang behati tulus memperhatikan sesuatu yang selama ini saya dan masyarakat muslim pada umumnya kurang tahu bahkan tidak tahu sama sekali "ada bagian dari bangsa ini yang telah lama termarginalkan" .

Tentunya siapapun orangnya, dari bangsa manapun asalnya, apapun latar belakangnya, bagi kami (masyarakat muslim) sangat menjunjung tinggi mereka dan mereka adalah bagian dari keluarga sekaligus sahabat.

Gus Dur is Real President for Indonesia, buta matanya namun tajam pandangan bashirahnya (mata hatinya), lumpuh fisiknya namun Mulia ruh dan hatinya, Langkahnya susah difahami karena dia melangkah untuk tujuan hikmah (suatu rahasia terdalam yang sulit dinalar namun lebih besar mashlahah (manfaat)nya.

Saya sangat merindukan beliau, semoga Tuhan melapangkan dalam kehidupan abadinya, dan memuliakannya disisi hamba-hamba Allah yang terpilih.
 

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Silaturahmi Pengurus Matakin Di Hari Idul Fitri 1439 H Selama Tiga Hari

19-06-2018 Hits:25 Berita Foto

Silaturahmi Pengurus Matakin Di Hari Idul Fitri 1439 H Selama Tiga Hari

Bagi umat Islam, hari raya Idul Fitri adalah merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa. Idul Fitri memiliki arti yang berkaitan...

Read more

Matakin Prov. DKI melaksanakan sembahyang Duan Yang di Kelenteng Kongmiao TMII

19-06-2018 Hits:104 Berita Foto

Matakin Prov. DKI melaksanakan sembahyang Duan Yang di Kelenteng Kongmiao TMII

Tanggal 5 bulan 5 Yinli (Kongzili) tahun ini jatuh pada tanggal 18 Juni 2018. Umat Khonghucu dari wilayah prov. DKI...

Read more

Perlunya Jeda

21-05-2018 Hits:214 Berita Foto

Perlunya Jeda

Pagi hari ini, kami sengaja berjalan di persawahan Ubud. Tidak sengaja kami berkenalan dengan peternak bebek yang sangat ramah.

Read more

Jalan Santai Dalam Rangka Memperingati Hut Ke 211 Gereja Keuskupan Agung Jakarta

12-05-2018 Hits:293 Berita Foto

Jalan Santai Dalam Rangka Memperingati Hut Ke 211 Gereja Keuskupan Agung Jakarta

Tanggal 08 Mei 2018 Gereja Keuskupan Agung Jakarta memperingati Hari Ulang Tahun yang ke 211 (08 Mei 1807 – 08...

Read more

Kebaktian Akbar Depok

30-04-2018 Hits:353 Berita Foto

Kebaktian Akbar Depok

Kebaktian spektakuler di Depok Jabar yang dihadiri 1000 umat lebih dengan pembicara Ws. Ir Budi ST, MM dan Ws. HT....

Read more

Tokyo Ke Jakarta

13-04-2018 Hits:295 Berita Foto

Tokyo Ke Jakarta

Perjalanan pulang dari airport Haneda Tokyo. Tidak terasa 1 minggu perjalanan di negara Sakura. Kenangan indah untuk dilupakan.

Read more

Menuju Ke Tokyo

12-04-2018 Hits:167 Berita Foto

Menuju Ke Tokyo

Setelah sarapan pagi di hotel Marusansou, kami menuju ke Karuizawa Factory Outlet yang merupakan factory outlet terbesar. 

Read more

Gasho Village

11-04-2018 Hits:135 Berita Foto

Gasho Village

Setelah semalam mandi onsen, tidur bisa nyenyak sekali sehingga badan menjadi segar. Pagi ini harus bangun pagi untuk siap siap...

Read more

Dari Kobe Menuju Nara

10-04-2018 Hits:151 Berita Foto

Dari Kobe Menuju Nara

Perjalanan dari Kobe munuju Nara. Ada tempat berbelanja di Naramachi. Sebelumnya rombongan menyempatkan diri ke Todaiji Temple sebuah kuil dibangun...

Read more

Negara Sakura

09-04-2018 Hits:169 Berita Foto

Negara Sakura

Tiba di Kanzai-Osaka pagi tanggal 7 April 2018. Udara waktu itu 11 derajat celcius. Sesampainya di airport langsung menuju Osaka...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 471-480

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Menurut Anda apa yang paling penting dilakukan saat Imlek ?

Bersembahyang leluhur - 0%
Menerima Angpao - 0%
Membeli baju baru - 0%
Sembahyang di Kelenteng - 0%
Berkunjung ke sanak-saudara - 0%

Total votes: 0
The voting for this poll has ended on: March 30, 2018

Who's Online

We have 92 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com