spocjournal.com

Nilai-Nilai Positif Budaya Tionghoa

Oleh : Js.Drs.Ongky Setio Kuncono,MM,MBA

PENDAHULUAN
     Berbicara masalah Tionghoa sering diidentikkan dengan bentuk/ciri khas bangunan, huruf-huruf , kaligrafi, simbul-simbul  naga, warna merah mencolok dan seterusnya. Kesemuanya itu di sebut dengan budaya Tionghoa yang konon oleh pemerintah Orde baru di hambat bahkan di larang untuk berkembang. Baru peperintahan Gus Dur larangan larangan itu ditiadakan.  Bentuk budaya diatas merupkan bagian terkecil dari budaya Tionghoa secara keseluruhan.
    Budaya Tionghoa sesungguhnya bukan hanya bentuk fisik saja melainkan mewujud secara spikis dalam bentuk “Etika Moral” atau “Budi Pekerti” yang justru sangat berharga bukan hanya bagi semua bangsa di dunia ini. Budaya Tionghoa dalam bentuk spikis tidaklah inclusive melainkan bersifat universal serta mampu mengangkat martabat kemanusiaan. Hal ini bisa kita lihat banyaknya buku modern yang membahas masalah kesehatan, ekonomi, ilmu pengetahuan, yang berkaitan dengan pemikiran Confucius, sebagai wakil dari budaya Tionghoa. Bangkitnya pemikiran Confucius yang dapat memajukan martabat manusia secara universal, menjadikan ajaran Confucius bukan hanya dimiliki oleh kaum Tionghoa saja.
    Di Indonesia setelah angin segar di hembuskan oleh Gus Dur, banyak kalangan mengembangkan  budaya Tionghoa dalam bentuk fisik melulu, hal ini dapat kita lihat dari maraknya kesenian barongsay, peringatan imlek di hotel-hotel berbintang, Kya-Kya (kembang Jepun) dan banyaknya makanan seperti permen, mainan, baju-baju bercirikan Tionghoa, bentuk bangunan dll.
    Bentuk fisik budaya Tionghoa di atas bukan tidak penting, akan tetapi, bila hal tersebut yang di tonjolkan tidak akan membawa perubahan yang positif bagi kalangan Tionghoa khususnya dan masyarakat pada umumnya. Yang lebih penting adalah bagaimana mengembangkan budaya Tionghoa dalam bentuk spikis seperti Etika moral, Ilmu kesehatan, Tusuk Jarum, Tai Chi, kesenian .
    Dewasa ini banyak orang Tionghoa sudah lupa dengan  budaya spikisnya dan menganggap  hal tersebut sangat kolot. Lunturnya pemahaman Tionghoa secara utuh hampir terjadi selama 30 tahun terakhir, dengan di tutupnya sekolah Tionghoa berarti pula terjadi kevakuman satu generasi, dalam memahami Tionghoa yang sudah barang tentu mengakibatkan tumbuhnya persoalan baru, misalnya rasa bakti terhadap orang tua ( budaya menentang orang tua), penipuan dan ketidak jujuran dalam dunia bisnis, pembunuhan akibat harta waris, dan ketimpangan moralitas yang tidak sesuai dengan ciri khas Tionghoa, hilangnya solidaritas serta terpecahnya kehidupan harmonis keluarga Tionghoa dengan masuknya budaya baru Barat yang lebih egoistis dan timbulnya eklusivisme baru akibat dari agama baru yang lebih cenderung konflik. 
    Sikap harmonis dalam keluarga dan menjauhkan diri dari konflik serta hidup selaras dengan watak sejati, bersahaja, jujur, dapat dipercaya, bekerja keras, tahan bantingan, tidak menyakiti orang lain, bijaksana dan seterusnya, merupakan sikap yang bercirikan Ketionghoaan. Ciri-ciri di atas merupakan ajaran moral yang harus dimiliki dan di pahami, oleh orang-orang Tionghoa dimanapun berada.
    Di Indonesia salah satu tempat terbesar di Asia Tenggara sebagai pusat pembelajaran etika moral Tionghoa adalah Boen Bio yang berada di kota Surabaya. Di Boen Bio inilah nilai-nilai Tionghoa dikembangkan melalui ceramah-ceraah, peneritan buku, seminar dan lain-lain. Sayangnya masih ada orang Tionghoa sendiri melihat kegiata Boen Bio bahkan tempat Boen Bio sebagai ritual. Padahal disisi lain Boen Bio dengan Khonghucu-nya sebagai budaya spikis yang harus di kembangkan.
    “Melly G Tan (LIPI) mengatakan “Berbagai analisa menekankan bahwa sistem nilai orang etnis Tionghoa bermuara pada ajaran Confucius, walaupun bagi kebanyakan dari mereka hal ini tidak di sadarinya. Sebenarnya dapat di katakana bahwa ada suatu tradisi yang di teruskan perilaku yang baik ataupun yang buruk”.
    Sebagai Etika Tionghoa yang dominan selama hampir dua ribu tahun. Ajaran Confucius telah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap aspek kehidupan dan kebudayaan orang Tionghoa. Orang-orang Tionghoa perantauan tidak menganggap diri mereka sebagai penganut Confucius, tetapi tata krama alamiah orang Tionghoa biasanya amat di pengaruhi Filsafat Confucius (David C L : 47). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian penulis terhadap Pedagang Eceran Etnis Tionghoa di Surabaya sekitar 88 % pedagang Etnis Tionghoa memahami dan menjalankan Etika Confucius dalam dunia bisnisnya. Sementara 7 % dari mereka tidak mengenal dan tidak menerapkan Etika Confucius, dan sekitar 5 % merasa ragu ragu apakah yang mereka laksanakan atau praktekan merupakan etika Confucius atau tidak.
             Dari hasil penelitian tersebut tentunya dapat disimpulkan bahwa tradisi Tionghoa yang diwakili oleh Etika Confucius masih kental dikalangan Etnis Tionghoa meskipun sebagian dari mereka telah menganut agama baru.  
    Seperti yang sering di kemukakan dalam sistem nilai yang di teruskan secara turun temurun terdapat hormat dan berbakti kepada orang tua dan yang lebih tua, bekerja keras dan berhasil dalam bentuk apapun, (untuk keharuman keluarga dan nama keluarga), ulet dan tahan bamting dalam menghadapi segala kesulitan, serta selalu berikhtiar untuk mencapai yang terbaik (achievement motivation atau n-ach yang tinggi).

CIRI KHAS TIONGHOA
    Dulu banyak pedagang Tionghoa menggunakan kertas rokok sebagai pengganti nota dalam transaksi bisnis yang berjumlah jutaan rupiah. Bahkan dalam perjanjian bisnis cukup di ucapkan tanpa melalui surat perjanjian yang di tempel materai. Perkawinan tidak melalui catatan sipil, melainkan cukup dihadiri kedua mempelai serta saksi-saksi. Kesemuanya itu berjalan dengan lancar tanpa ada penipuan bisnis dan tanpa ada perceraian. Sekarang justru sebaliknya banyak ketimpangan Etika Moral dan ciri ketionghoaan. Ciri khas Ketionghoaan bagaimanakah yang harus di pahami?
          Dr. Sinn Whor dari Singapura berpendapat bahwa pandangan hidup Khonghucu sangat sesuai untuk dunia usaha modern, walaupun ada keyakinan yang umum bahwa Khonghucu tidak begitu memperhatikan uang atau persoalan ekonomi. Khonghucu sangat menganjurkan mencari uang dengan sekuat kemampuan seseorang. Seorang ahli Singapura lainnya mengatakan bahwa usahawan harus mempelajari dan mengikuti analek sebagai dasar untuk melakukan tindak tanduk usahanya, karena hukum dagang dan perjanjian tidak sepenuhnya mengikat dan harus di dasarkan pada prinsip, yang mendalam, seperti kebajikan yang di anjurkan oleh Khonghucu.
    Dalam istilah Khonghucu, Seorang  ideal dinamakan “seorang yang terhormat” yang berarti seorang yang memiliki sikap yang jujur, dan moral yang tinggi dalam segala hal dan mentaati ritual yang tepat dalam tingkah lakunya. Seorang terhormat dalam pengertian Tionghoa, dengan demikian memiliki arti yang jauh lebih mendalam dari pada pengertian di Barat, dimana bersikap sopan saja sudah cukup untuk memperoleh sebutan diatas.
    Sopan santun seperti yang di ajarkan oleh Khonghucu didasarkan pada tiga prinsip yaitu menghormati kemuliaan manusia, kewajaran (apa yang tidak wajar, bagi seseorang tidak wajar juga bagi orang lain) dan revensibilitas (kesediaan untuk menjadi penerima tingkah laku dan perbuatan sendiri). Unsur lainnya yang selalu ditambahkan pada ketiga prinsip ini adalah “kewajiban” atau “ bakti” yaitu kewajiban seseorang kepada orang tua, majikan, langganan, dan Negara. Di bawah ini ada beberapa ringkasan nilai-nilai Tionghoa yang sejati :

1.Tidak Putus Asa
Etika Tionghoa menyiratkan bahwa nasib bisa dirubah oleh orang itu sendiri, melalui usaha dan jerih payah tanpa putus asa orang akan mampu mencapai kesuksesan. Tidak ada di dunia ini sesuatu di dapat dengan gratis, melainkan harus bekerja keras dan mempunyai kemauan yang tinggi.”carilah dan engkau akan mendapatkan, dan carilah itu di dalam diri (Bingcu VIIA:3). Konsep Yin Yang menggambarkan dibalik kelemahan ada kekuatan, di balik penderitaan dan kekurangan ada kejayaan dan kesuksesan. Orang Tionghoa harus menyadari bahwa ketika roda di bawah, harus berusaha semaksimal mungkin berusaha agar bisa merubah nasib dimana di kemudian hari roda bisa diatas. “Bila matahari telah mencapai rembang turunlah, ia dan bila bulan menjadi purnama susutlah ia.” Bila dingin pergi, panas datang, dingin pergi.” Sikap di atas menjadikan jiwa sekaligus konsep hidup orang Tionghoa yang di yakini sekaligus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Sadar atau tidak kita sebagai orang Tionghoa secara tidak langsung mendapatkan nilai-nilai ini dari orang tua kita sejak masih kecil, nilai-nilai tersebut terutama menumbuh dan membudaya dalam masyarakat Tionghoa sehingga bagi orang Tionghoa sukses itu diukur  dari kemampuan mencari nafkah disamping budi pekerti dan sosialisasi kepada lingkungannya. Sikap tidak putus asa banyak dimiliki oleh kalangan Tionghoa karena mereka telah digembleng dari kehidupan yang keras sejak masih kecil, hal inilah yang membedakan dengan orang-orang Barat yang lebih pasrah dengan tantangan. Di Barat khususnya Amerika kita sering menjumpai Geng-Genk (manusia Punk) yang berkeliaran di sudut kota besar, bermabuk-mabukan karena tidak tahan  dengan tantangan hidup. Sementara kebanyakan orang Tionghoa mampu menahan kesulitan dan penderitaan. Bagi orang Tionghoa penderitan merupakan hal biasa yang tidak harus di carikan pelariannya, melainkan harus di hadapi dengan gigih. Pelarian yang paling menyembuhkan ketika banyak persoalan  adalah makan kenyang dan bekerja lagi. Ciri khas diatas dewasa ini  mulai luntur lagi, genersi baru Tionghoa yang cenderung pergi ke diskotek, bar dan hiburan malam lainnya, yang semuanya sebagian dari tradisi Barat.

2. Maju dan Modern
Anggapan bahwa orang Tionghoa Pragmatis (menentang perubahan), statis adalah anggapan yang sempit dan  salah. Justru etika Tionghoa dalam konsepnya mendorong manusia untuk reformis dan dinamis. Inovasi baru, pengembangan produk, penataan ruang etalase, pembaharuan managemen, sistem, organisasi harus selalu berubah kearah yang baik.  Hari ini harus lebih baik dari pada hari kemarin, hari yang akan datang harus lebih baik dan terus lebih baik. “Bila suatu hari dapat membaharui diri, perbaharuilah terus tiap hari dan jagalah agar baharu selama-lamanya!” (Thai hak II:I). Pada dasarnya siapapun akan mengalami Fu-kilas balik The running point (W.P.Zhong : 6). Dalam Hexagram 24 Yi Jing –Kitab Perubahan- Book of change. Semua energy dalam alam semesta adalah siklikal, tidak ada satupun yang abadi, yang abadi adalah perubahan itu sendiri.  Konsep perubahan didasari oleh kalangan Tionghoa dimana setelah alam hari menjelang tidur selalu mengoreksi diri kelemahan dan kekurangan untuk di perbaiki di hari esok dan setiap tahunnya dengan perayaan tahun baru Imlek selalu hidup dalam suasana baru dalam segala aspek kehidupan.

3. Konsep Jien, Gie, Lee, Ti dan sin ( Ren,Zhi,Li,Yi,Xin )
    Konsep Etika Tionghoa meyakini bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan sikap asli, “Tiap bagian tubuh beserta pernannya telah di beri sifat-sifat asli oleh Tuhan YME. Tetapi hanya seorang Nabi dapat menggunakan semuanya itu dengan sempurna.” (Bingcu VIIA:38). Sifat sifat asli yang di berikan Tuhan berupa Jien (Cinta Kasih), Gie (kebenaran), Lee(kesusilaan), Ti(kebijaksanaan), dan Sin(dapat dipercaya). “Yang didalam Watak sejati seorang Kuncu ialah tumbuh dan meraga, membawa cahaya mulia pada wajah, memenuhi punggung sampai keemapat anggota badan, keempat anggota badan dengan tanpa kata-kata dapat menegrti sendiri.” (BingcuVIIA:4). Konsep Sin (dapat dipercaya) berkaitan dengan  kejujuran adalah konsep dasar yang digunakan oleh kalangan Tionghoa dalam praktek bisnis. Selanjutnya berbicara “kepercayaaan” sekaligus bicara “kejujuran” dalam arti yang luas.  Bisnis yang di landasi dengan kepercayaan akhirnya menjadikan orang-orang Tionghoa sukses dalam dunia bisnis. Sadar atau tidak dunia usaha di kawasan asia banyak di perankan oleh orang Tionghoa. Orang Tionghoa meletakkan dasar kejujuran pada urutan pertama setelah kemampuan, bagi orang Tionghoa kepandaian dan keahlian tidak ada artinya bila seseorang tidak memiliki kejujuran. Konsep Sin/Xin (kejujuran) juga di gunakan dalam menjalin hubungan antara suami dan istri, anak dengan orang Tua. Kita semua tidak bisa membayangkan jika bisnis berjalan tanpa adanya kepercayaan, begitu pula antara suami dan istri tidak ada kepercayaan. Kepercayaan harus diimbangi pula dengan kebijaksanaan (Zhi), Cinta kasih ( Ren) serta kesusilaan. Semua unsur di atas harus berjalan secara bersama-sama sehingga terjadilah kesempurnaan dalam menerapkannya.

Konsep Jien/Ren ( Cinta Kasih )
    Khonghucu menggunakan Cinta Kasih sebagai nama kolektif dari semua kebaikan/kebajikan. Nabi Khongcu bersabda : “Seorang Kuncu (susilawan/berbudi tinggi) sekalipun saat makan tidak melanggar Cinta Kasih, di dalam kesibukannya juga demikian bahkan di dalam topan dan bahaya  tetap demikian” (Lun Gie IV:3). “Cinta Kasih ialah mencintai manusia” (Lun Gie XII:22,1). Dalam kesempatan lain, Nabi Khong Cu bersabda “adakah Cinta Kasih itu jauh letaknya?” (Lun Gie IV:30) kalau aku inginkan Cinta Kasih, Cinta kasih itu sudah bersamaku.” Apa yang diri sendiri tiada inginkan, janganlah di berikan orang lain.”(Lun Gie XV:24). Cinta kasih sebagai kebaikan/kebajikan bersifat timbal balik. Seorang penguasa atau majikan harus bertindak sopan santun, sebelum ia berhak memeriksa kesetiaan menterinya dan karyawannya. Sama halnya dengan seorang ayah harus ramah dan sayang sebelum ia mengharapkan bakti anak-anaknya.    Seorang suami yang lembut dengan mudah hidup selaras dengan istrinya dan seorang istri yang kooperatif yakin suaminya lembut terhadapnya. Orang Tionghoa memahami bahwa hal-hal yang tidak baik untuk dirinya, tidaklah diberikan kepada orang lain.  Kalau dirinya ingin maju aka berusaha  juga agar orang lain maju. Bila kita menginginkan kesuksesan dan keberhasilan, maka kita berusaha juga agar orang lain sukses, dan berhasil. Sistem ini berkembang yang kemudian menjadikan tradisi yang terkenal dengan istilah “Guangzi” (kekeluargaan). Bisnis orang Tionghoa yang di landasi dengan sistem kekeluargaan, inilah yang menjadikan orang Tionghoa menganggap pesaing bukan lawan melainkan partner dalam memacu kemajuan. Orang Tionghoa menjdikan orang lain sukses melalui pmberian bukan berupa ikan, melainkan kail agar orang tersebut bisa mencari ikan sendiri. Pemberian/menolong orang yang malas bekerja sangat tabu bagi orang Tionghoa. Oleh karenanya pengemis dianggap sebagai parasit yang tak berguna. Pekerjaan apapun kasarnya asal halal bagi orang Tionghoa sangat terpuji dan di anggap anak yang berbakti.

Konsep Lee/Li (Kesusilaan)
    Lee atau tata upacara (Kesusilaan) menurut Khonghucu menyangkut banyak hal seperti tradisi, institusi, hukum, yang tertulis maupun yang tidak tertulis, adat dan konvensi. Lee/Li merupakan standar mengukur kelakuan. Kurang atau lebih standar  tersebut bukan Lee. Kebebasan dan tanggung jawab, merupakan dua muka yang berbeda dari satu benda. Seorang yang benar bebas yang dapat di katakan bertanggung jawab.


Konsep Gie/Yi (Kebenaran)
Seorang yang berperasaan sosial biasanya berperilaku bijaksana dan berterus terang. Ia akan mengatakan dengan sederhana pendapatnya mengenai hal-hal yang menyangkut kebaikan umum dan ia akan berkelakuan sesuai pendapatnya. Nabi Khong Cu bersabda “seorang muda hendaknya bersikap rendah hati, hati-hati sehingga dapat di percaya, menaruh cinta kepada masyarakat dan berhubungan erat dengan orang yang bercinta kasih. Bila orang telah melakukan hal itu dan masih punya tenaga., gunakan untuk mempelajari kitab-kitab.” (Lun Gie I:6)


Kesimpulan
    Masih banyak nilai-nilai Tionghoa yang belum di bahas disini, namun nilai-nlai di atas setidaknya bisa digunakan untuk acuan bagi orang Tionghoa agar kembali menggali nilai-nilai yang selama ini luntur. Sikap apriori dan alergi terhadp nilai Tionghoa sudah selayaknya tidak terjadi di Indonesia tercinta ini. Semua pihak harus memahami bahwa budaya tidak bisa dihapus, menghapus budaya sama saja  dengan membunuh manusia. Alangkah bijaknya kata-kata Sutan Takdir Alisjahbana yang perlu di perhatikan yakni “bukan meng-indonesia-kan orang Tionghoa, tetapi meng-Tioghoa-kan orang Indonesia.” Tentu saja apa yang di maksud beliau adalah nilai-nilai positif (budaya spikis) Tionghoa yang perlu di perhitungkan. Nila nilai budaya Tionghoa spikis dapat dijadikan kasanah budaya Bangsa Indonesia karena budaya Tionghoa spikis bersifat universal. Dengan pengembangan budaya Tionghoa spikis akan menambah kasanah memperkaya budaya Pancasila yang belakangan ini semakin di tinggalkan oleh sebagian remaja kita semua.

  
Daftar Pustaka
David CL Ch’ng.1995.”Sukses Bisnis Cina Perantauan”. Grafiti,PT.Intermasa, Jakarta
Wastu Pragantha zhong.1996.”Etika Bisnis Cina”.PT.Gramedia Pustaka Umum Jakarta
Kosasih Wardoyo.1995.Pergulatan Mencari Jati Diri, Seri Dian III,Yogyakarta
Jennifer gushman & Wang Gungwu. 1991,Perubahan Identitas Orang Cina di Asia Tenggara,PT.Temprint,Jakarta.


*Penulis adalah Mahasiswa Paska Sarjana Program Doctoral Universitas 17 Agustus 1945( Untag Surabaya).

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Silaturahmi Pengurus Matakin Di Hari Idul Fitri 1439 H Selama Tiga Hari

19-06-2018 Hits:25 Berita Foto

Silaturahmi Pengurus Matakin Di Hari Idul Fitri 1439 H Selama Tiga Hari

Bagi umat Islam, hari raya Idul Fitri adalah merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa. Idul Fitri memiliki arti yang berkaitan...

Read more

Matakin Prov. DKI melaksanakan sembahyang Duan Yang di Kelenteng Kongmiao TMII

19-06-2018 Hits:104 Berita Foto

Matakin Prov. DKI melaksanakan sembahyang Duan Yang di Kelenteng Kongmiao TMII

Tanggal 5 bulan 5 Yinli (Kongzili) tahun ini jatuh pada tanggal 18 Juni 2018. Umat Khonghucu dari wilayah prov. DKI...

Read more

Perlunya Jeda

21-05-2018 Hits:214 Berita Foto

Perlunya Jeda

Pagi hari ini, kami sengaja berjalan di persawahan Ubud. Tidak sengaja kami berkenalan dengan peternak bebek yang sangat ramah.

Read more

Jalan Santai Dalam Rangka Memperingati Hut Ke 211 Gereja Keuskupan Agung Jakarta

12-05-2018 Hits:293 Berita Foto

Jalan Santai Dalam Rangka Memperingati Hut Ke 211 Gereja Keuskupan Agung Jakarta

Tanggal 08 Mei 2018 Gereja Keuskupan Agung Jakarta memperingati Hari Ulang Tahun yang ke 211 (08 Mei 1807 – 08...

Read more

Kebaktian Akbar Depok

30-04-2018 Hits:353 Berita Foto

Kebaktian Akbar Depok

Kebaktian spektakuler di Depok Jabar yang dihadiri 1000 umat lebih dengan pembicara Ws. Ir Budi ST, MM dan Ws. HT....

Read more

Tokyo Ke Jakarta

13-04-2018 Hits:295 Berita Foto

Tokyo Ke Jakarta

Perjalanan pulang dari airport Haneda Tokyo. Tidak terasa 1 minggu perjalanan di negara Sakura. Kenangan indah untuk dilupakan.

Read more

Menuju Ke Tokyo

12-04-2018 Hits:167 Berita Foto

Menuju Ke Tokyo

Setelah sarapan pagi di hotel Marusansou, kami menuju ke Karuizawa Factory Outlet yang merupakan factory outlet terbesar. 

Read more

Gasho Village

11-04-2018 Hits:135 Berita Foto

Gasho Village

Setelah semalam mandi onsen, tidur bisa nyenyak sekali sehingga badan menjadi segar. Pagi ini harus bangun pagi untuk siap siap...

Read more

Dari Kobe Menuju Nara

10-04-2018 Hits:151 Berita Foto

Dari Kobe Menuju Nara

Perjalanan dari Kobe munuju Nara. Ada tempat berbelanja di Naramachi. Sebelumnya rombongan menyempatkan diri ke Todaiji Temple sebuah kuil dibangun...

Read more

Negara Sakura

09-04-2018 Hits:169 Berita Foto

Negara Sakura

Tiba di Kanzai-Osaka pagi tanggal 7 April 2018. Udara waktu itu 11 derajat celcius. Sesampainya di airport langsung menuju Osaka...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 471-480

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Menurut Anda apa yang paling penting dilakukan saat Imlek ?

Bersembahyang leluhur - 0%
Menerima Angpao - 0%
Membeli baju baru - 0%
Sembahyang di Kelenteng - 0%
Berkunjung ke sanak-saudara - 0%

Total votes: 0
The voting for this poll has ended on: March 30, 2018

Who's Online

We have 21 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com