spocjournal.com

Membangun Rasa Halus Hati

Oleh: Xs.Tan Tjoe Seng

Ada Sesuatu yang amat langka, tidak banyak, malah mungkin belum pernah dibawakan dalam uraian ajaran agama, padahal sebetulnya sangat perlu untuk kita ketahui dan itu memang telah kita lakukan, karena itu adalah salah satu pedoman hidup bagi hidup kita sebagaimana yang Nabi sabdakan,”Bercitalah menempuh Jalan suci, berpangkallah pada Kebajikan, bersandarlah pada Cinta Kasih, dan bersukalah didalam Kesenian.” (Lun Yu VII:14). Dalam menempuh Jalan Suci tidaklah sedikit cobaan, rintangan dan ujian. Karena itu mula2 Nabi mengingatkan “Ren You Sien Yuan” - bila engkau punya niat sempurna - tekad yang membaja - ada kesungguhan didalam hatimu, berpangkallah pada Kebajikan (agar menjadi pendorong ketika sedang lemah), bersandarlah pada Cinta Kasih (agar tidak ingkar dari Jalan suci), dan bersukalah dalam Kesenian (agar jadi penghibur ketika sedang susah) , memang buat apalah galau - susah-kecewa-gelisah dan resah karena hal itu hanyalah akan merugikan diri sendiri dan sama sekali tidaklah merugikan orang lain, dan akhirnya Nabi mengatakan “Tian Pie Cung Ce” - Tian pun akan mengabulkan.

Bagaimanakah pandangan Nabi Kongzi tentang Kesenian? Tentang musik dan nyanyian? Benarkah Nabi seorang yang ahli tentang Kesenian, tentang musik dan nyanyian? Kalau kita mau mempelajari sejarah kejadiannya kitab2 suci kita, terutama kitab suci yang mendasari yaitu kitab Wu Jing yang disusun dan disempurnakan oleh Nabi Kongzi dengan kitab Chun Qiu, kitab Wu Jing itu sebelum terjadinya peristiwa pembakaran kitab2 pada jaman Qin dinasti 213 SM disebut Liu Jing karena terdiri dari 6 buah kitab yang satu diantaranya ialah kitab tentang Musik (Yue Jing). Hal ini menunjukkan kepada kita betapa besarnya perhatian Nabi pada musik dan nyanyian yang sudah ada sejak jaman Kuno (Nabi baginda Huang Di, Yao dan Shun), sejak ribuan tahun sebelum kelahiran Nabi Kongzi karena kesenian, musik dan nyanyian itu diyakini sebagai suatu alat untuk meningkatkan nilai rohani kita sebagai manusia atau katakanlah untuk membangun moral dan budi yang luhur.

Tentang betapa pentingnya hal musik dan nyanyian dalam ajaran agama Khonghucu, dapat kita lihat didalam kitab Lunyu terdapat lebih tak sedikit pasal ajaran Nabi Kongzi tentang berbagai macam hal yang berkaitan dengan musik dan nyanyian yang perlu kita kumpulkan karena letaknya yang tidak berurutan melainkan terpencar satu sama lainnya didalam kitab tersebut agar dengan mudah dapat kita pelajari. Per-tama2 tentang kesukaan Nabi Kongzi kepada Kesenian, musik dan nyanyian kepada guru besar musik negeri Lu Nabi bersabda,”Hal yang dapat diketahui tentang music ialah, pada mulanya suara harus cocok, selanjutnya suara music itu harmonis, meninggi menurun dengan nada jernih dan tidak ter-putus2, demikianlah sampai akhirnya.” (Lun Yu III:23). Demikianlah Nabi telah membantu guru besar musik negeri Lu yang bernama Ci ketika beliau mulai bertugas untuk memperbaiki dan menyempurnakn nyanyian Kwan Chie sehingga berhasil Shuai xing atau menyesuaikan baik nada dan biramanya maupun sanjak2nya dapat dinyanyikan dengan harmonis indah dan sempurna serta merdu terdengar.

Tentang musik Kwan-chi Nabi bersabda,”Sanjak Kwan-chi itu menggembirakan, tidak melanggar Kesopanan, mengharukan tetapi tidak membuat orang merana.” (Lun Yu II:2). Demikianlah sanjak Kwan-chi atau nyanyian lama yang berisikan ajaran bagaimana mengatur ketertiban didalam mengatur rumah tangga, dlsb. Seperti:  adanya ketulusan diantara raja dan menteri, kepengasuhan diantara orangtua dan anak, kewajiban diantara suami dan isteri, keselarasan diantara kakak dan adik, dan kepercayaan diantara kawan dan sahabat. Semuanya itu dilantunkan dengan sangat indah dan lemah lembut, selaras dengan sifatnya masing2 sehingga bagi orang yang halus perasaannya atau berperangai halus,  akan tersentuh kalbunya dan dapat merasakan alunan tinggi atau rendahnya mutu sebuah sanjak atau nyanyian, yang menjadikan Nabi Kongzi dikenal pula sebagai seorang kritikus , yang sangat pandai pada jamannya.

Dalam hal ini tentang musik Siau Nabi bersabda,”Sungguh indah dan sempurna.”, tentang musik Bu Nabi bersabda,”Sungguh indah, namun belum sempurna.” Apakah musik “Siau” dan apakah musik “Bu” itu? Mengapa Nabi Kongzi memandang musik “Siau” lebih bermutu lebih berbobot ketimbang musik “Bu”? Musik “Siau” adalah musik yang dikenal sebagai musik yang paling kuno di Tiongkok. Musik ini diciptakan untuk memuji Nabi baginda Shun sebagai seorang yang kedalam dirinya mempunyai kesucian sebagai Nabi dan keluar dirinya mempunyai keagungan sebagai seorang raja yang arif bijaksana dan sangat dicintai rakyatnya karena ia selalu berada didalam Watak sejati seorang Junzi “yang tidak bertambah oleh kebesaran dan tidak menjadi rusak oleh kemiskinan” itulah Nabi Baginda Shun yang bijak bestari. Sedangkan musik “Bu” adalah musik yang diciptakan untuk memuji kaizar Bu Ong dari dinasti Qiu, seorang kaizar yang baik dan berjasa besar sehingga mendapatkan kedudukan yang agung sebagai seorang raja besar setelah merobohkan Tiu Ong sebagai raja terakhir dinasti Siang atau Ien yang kejam, tidak adil, dan berlaku sesuka hatinya. Tentang hal ini diceritakan didalam dongeng Hong Sien / penganugerahan sebagai malaikat oleh Kiang Cu Gee / Chiang Ce Ya setelah terjadi perang besar antara balatentara Bu Ong dengan Tiu Ong dipadang Bok Yap. Jelaslah mengapa musik Siau itu lebih bermutu ketimbang musik Bu. Musik Siau dengan Ren (kemanusiaan) memanusiakan manusia dengan kemanusiaan, sedangkan musik Bu dengan kekerasan memanusiakan manusia sehingga dalam sifat Kebajikannya musik Bu belum sebanding dengan musik Siau.

Masa kehidupan Nabi baginda Shun dengan Nabi Kongzi lebih kurang 20 abad. Pada mulanya Nabi tidak menyadari bahwa musik “Siau” itu adalah musik untuk memuji Shun yang agung. Lalu bagaimanakah Nabi telah menemukan dan mengenal lagu kuno yang amat berkesan itu bagi beliau? Tentang hal ini adalah kesan yang diperoleh Nabi setelah mendengar betapa indah lagu pujian kebesarannya ketika Nabi berada di negeri Cee. Nabi mendengar lagu “Siau”, tiga bulan tidak dapat merasakan kelezatan daging, lalu bersabda,”Tidak kusangka begitu besar pengaruh musik atas manusia.” (Lun Yu VII:14). Tentang besarnya pengaruh music atau kesenian bagi manusia dapat kita jumpai banyak peristiwa didalam kehidupan yang terkadang menimbulkan hal yang negative. Namun demikian disini kita bisa melihat betapa kegemaran Nabi Kongzi pada lagu2 yang indah dan bersifat suci. Kegemaran Nabi itu didukung oleh semangat belajar yang besar untuk mempelajari tentang kesenian terlebih pada waktu di negeri Cee itu Nabi sedang semangat2nya karena beliau baru berusia 36 tahun.

Dikisahkan  tentang cara belajar Nabi Kongzi, bukan saja hanya giat didalam belajar, melainkan juga sangat luar biasa hati2 dan telitinya sehingga beliau faham dan tahu betul apakah tujuan belajar. Di dalam episode hikayat Nabi ketika beliau belajar musik diceritakan bagaimana caranya Nabi Kongzi belajar musik. Pada suatu ketika Nabi mendengar disuatu tempat adalah seorang guru musik bernama Su Siang. Nabi Kongzi lalu pergi berkunjung, dan ketika mendapat kenyataan bahwa kemashyuran Su Siang itu memang sepantasnya, Nabi lalu memohon supaya diterima menjadi murid, Nabi pun berjanji akan belajar dengan sepenuh hati. Guru musik itu lalu member pelajaran kepada Nabi Kongzi, agar Nabi dapat mengetahui dan membedakan ber-macam2 bunyi, dan kemudian dengan musik memainkan sebuah lagu dihadapan Nabi  yang mendengarkan baik2. Setelah selesai, guru musik tersebut memberi sedikit waktu, supaya Nabi dapat memahami pelajaran itu. Lewat 10 hari ketika guru music itu meminta Nabi untuk memainkan lagu itu dengn musik, karena guru itu akan memberikan pelajaran tentang music yang lainnya, Nabi Kongzi meminta 5 hari lagi, dan sesudah lewat 5 hari kembali Nabi meminta 5 hari lagi. Ketika waktu yang kemudian telah berlalu, Nabi menjumpai gurunya dan menyatakan bahwa apa yang telah diajarkan sudah betul2 dipahami, sebagai buktinya dengan music Nabi memperdengarkan lagu itu yang dibunyikan dengan begitu indah dan bagusnya, sehingga dengan merasa heran  guru music itupun lalu berlutut dihadapan Nabi seraya berkata,”Engkau adalah seorang Junzi yang tidak membutuhkan pelajaran lagi dariku, dan mulai dari saat ini aku akan menganggap diriku sebagai murid-Mu.”

Peristiwa ini barangkali cukup untuk kita bisa mengerti, betapa tingginya kepandaian Nabi Kongzi tentang musik, namun demikian sudah barang tentu, disamping bakat yang dimiliki, juga dibantu oleh iman atau kesungguhan hati dan kegiatan belajar dan selalu dilatih, dengan tidak pernah merasa jemu untuk memahami hingga mengerti dan meyakini pelajaran itu, dengan sangat hati2  dan teliti hingga sempurna atau betul2 menjadi tahu apa yang tadinya belum diketahui. Prihal Nabi sampai 2 kali minta diundur untuk memperdengarkan lagu yang dipelajarinya itu, menunjukkan bahwa Nabi belumlah merasa puas kalau pelajaran yang dipelajarinya itu belumlah betul2 sempurna. Kebanyakan orang biasanya, kalau oleh gurunya dijanjikan akan diberikan pula pelajaran yang baru, lalu cepat2 menerima begitu saja meskipun pelajaran yang lalu belum dapat dikuasai atau dipahaminya. Oleh karena itu hendaknya kita miliki keyakinan, bahwa kita akan mendapatkan hasil yang menyenangkan hati, apabila kita mempunyai kegiatan dan ketelitian seperti Nabi Kongzi yakni, memahami pelajaran yang lama atau yang telah lalu terlebih dahulu, untuk kemudian barulah menerima pelajaran yang baru, dlsb. Atau dengan istilah lain ialah “step by step” atau “setahap demi setahap” seperti juga murid Nabi yang bernama Ze Lu, merasa khawatir menerima pelajaran yang berikutnya sebelum pelajaran yang pertama diterimanya itu  betul2 sudah dipahami.

Lagu, nyanyian, musik yang dihargai oleh Nabi Kongzi, sudah barang tentu bukanlah music dan nyanyian yang sembarangan, melainkan adalah yang selain indah, merdu,dan menarik, juga adalah musik yang dapat menggugah membangkitkan semangat bagi kehidupan, yakni yang dapat mewujudkan udara dan angin segar atau suasana yang diliputi kesucian, dan yang mampu meningkatkan cara berpikir dan membina diri / prilaku, serta rohani kita ketingkat kesucian yang lebih tinggi lagi. Demikianlah arti musik bagi Nabi Kongzi, yaitu yang ada kaitannya dengan Kesusilaan, sopan santun hidup, kepantasan, aturan dan musik dapat dilaksanakan secara parallel bersamaan, seiring sejalan, dan dipandang sebagai alat yang penting untuk membimbing rohani kita, agar dapat membangun rasa halus hati, dan menjadi Junzi atau seorang Susilawan, manusia paripurna yang gentleman, umat Ru, yang terpelajar. Pada suatu hari Nabi bersabda,”Orang sering berkata,’Kesusilaan! Kesusilaan!’ Tetapi, apakah itu hanya berarti mempersoalkan (sumbang-menyumbang)  batu giok, kain sutera saja? Orang sering berkata,’Musik! Musik! Apakah itu hanya berarti mempersoalkan menabuh lonceng dan tambur saja?” (Lun Yu XVII:11) Tentang hal ini, ada yang member arti bahwa, kalau orang berkata tentang batu giok dan kain sutera, adakah sesuatu yang memberikan keindahan pada batu giok dan kain sutera itu? Apakah ada lukisan atau gambar yang menjadikan batu giok dan kain sutera itu Nampak indah lagi?  Dan kalau orang bicara tentang musik, itu bukanlah sekedar segala macam alatnya, melainkan adakah semangat dalam sebuah lagu yang diciptakan hingga dapat memberikan pengaruh, berpengaruh atas fikiran dan rohani atau batin manusia.

Apakah yang Nabi maksudkan dengan musik, dan bagaimana luhurnya pandangan Nabi Kongzi akan musik, Nabipun bersabda,”Bangunkan hatimu dengan Sanjak, tegakkan pribadimu dengan Kesusilaan, dan sempurnakan dirimu dengan musik!” (Lun Yu XVII:8). Jelaslah akan apa yang dimaksudkan oleh Nabi bahwa, dengan belajar sanjak pikiran akan jernih dan perasaan halus akan bangkit, dengan memahami Li – kesusilaan – peraturan – peradaban – pertimbangan untuk pantas berlaku benar akan berwujud, dan akhirnya bimbingan rohani atau prilaku yang bajik dapat kita sempurnakan dengan mempelajari musik. Akan tetapi meskipun demikian, musik yang disukai dan dipuji Nabi Kongzi, adalah musik yang jauh berbeda dengan musik yang kebanyak populer di masyarakat luas, musik yang digemari dan dipuji Nabi bukanlah musik yang akan membangkitkan nafsu hewani, bukanlah music yang hanya dapat membuat kaki dan tangan berkerejetan gatal ingin berdansa, menari, bukanlah musik yang akan membius pikiran yang lalu membayangkan dalam mimpi atau berkhayal hal2 yang muluk tetapi mudh musnah itu, bukan pula musik yang dapat menimbulkan birahi, bukan juga musik yang menjdikan orang berani mati dimedan perang, melainkan musik yang dimaksudkan oleh Nabi adalah untuk meningkatkan kesucian rohani umatnya, karena manusia itu dikodratkn Tian untuk lebih meningkat agar lebih baik dan lebih baik lagi sejalan dengan situasi dan kondisi masing2 pada masanya, masa muda 1-25 tahun ibarat musim semi, masa dewasa 25-50 tahun ibarat musim panas, masa tua 50-75 tahun ibarat musim gugur, dan lanjut usia 75-100 tahun bagaikan musim dingin.

Lagu2 musik yang bersifat rendah dan merusak moral pada jaman Nabi 2563 yang silam, juga sudah ada dan berkembang luas dikalangan rakyat yang dikatakan orang  sebagai musik modern. Akan tetapi, musik yang mendapat perhatian dan hendak dikembangkan Nabi adalah musik dan nyanyian2 yang lahir pada jaman Nabi Baginda Shun, yang lahir lebih kurang 2000 tahun sebelum Nabi lahir. Fu Sheng Yan Yuan bertanya kepada Nabi Kongzi tentang bagaimana mengatur pemerintahan. Nabi pun bersabda,”Pakailah penanggalan dinasti He”, “gunakanlah ukuran kereta pada jaman dinasti Siang”, “kenakanlah topi – mahkota kebesaran kerajaan Ciu”, dan “bersukalah didalam musik  Siau dan Bu”, sebaliknya “jauhilah musik negeri Teng dan jauhilah orang2 yang pandai memutar lidah.” Musik negeri Teng itu membangkitkan nafsu dan orang2 yang pandai memutar lidah itu membahayakan.” (Lun Yu XV:11). Musik dari negeri Teng beserta nyanyian2nya itu telah ada dan berkembang begitu populer pada Jaman Nabi Kongzi yang dianggap sebagai musik modern. Dalam hal ini Nabi bersabda,”Aku benci kepada warna ungu yang merebut kedudukan warna merah asli, Aku benci kepada musik negeri Teng yang merusak keindahan musik pujian, Aku benci kepada orang yang tajam lidah sehingga dapat membawa kehancuran bagi Negara dan rumah tangga.” (Lun Yu XVII:8). Demikianlah disini kita beroleh penjelasan bahwa 2563 tahun yang lalu pun lagu2 klasik pujian yang indah telah terdesak oleh lagu2 liar yang munculnya belakangan, hal ini menjadikan ahli2 musik klasik seperti Nabi kongzi menjadi tidak senang dan karena itu beliau ingin mengembangkan keindahan lagu2 pujian supaya musnahlah lagu2 yang dapat merusak moral manusia karena hal itupun dapat mengacaukan Jalan suci, menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah karena pandainya orang bersilat lidah.

Tentang kepandaian Nabi Kongzi dalam menabuh alat musik dikisahkan, tat kala Nabi di negeri Wee, menabuh semacm alat musik yng dibuat dari batu, ketika itu lewatlah seorang yang mendukung keranjang rumput dimuka pintu kediamannya lalu berkata,”Sungguh sepenuh hati memukulnya.” (punya niat untuk menolong dunia). Sebentar kemudian ia berkata pula,”Sungguh jelas! Lagunya merayu seperti berkata ‘tiada orang yang mengenal Aku’ (ia bodoh,kukuh, dan keras hati) Tetapi kalau tiada orang yang mau mengenalnya, mengapa tidak dihentikan saja? ‘menyeberangi sungai bila airnya dalam, menyeberanglah beserta pakaian; bila airnya dangkal, bolehlah menarik pakaian keatas’.” Nabi bersabda,”Sungguh tegas orang itu. Tetapi apakah sukarnya kalau begitu?” Inilah keritik / celaan untuk Nabi Kongzi yang ingin terus berjuang menolong dunia yang sedang kalut. Keritik/celaan itu memang sering digunakan oleh kaum Taoisme yang lebih suka menjauhkan diri dari segala kekacauan, dan apa yang dilakukan oleh mereka itu Nabi Kongzi menganggap bahwa itulah yang termudah, sedang untuk berjuang melawan keburukan didunia ini itulah yang sangat sukar. Demikianlah 2 tujuan yang berlainan antara Kung Jiao dan Dao Jiao, tapi meskipun demikian yang penting diperhatikan adalah “Bagaimana orang mendengar orang yang menabuh alat musik itu, lalu bisa mengetahui bagaimana isi hati dan tabiatnya orang yang memainkan itu.”  Dan dalam  hal ini  barangkali tidaklah akan pernah terjadi kalau Nabi Kongzi bukan seorang ahli tentang musik yang cetusan perasaan hatinya dapat terasakan dan menyentuh kalbu orang lain ketika mendengar tabuhan alat musik dan lagu yang dinyanyikannya.

Tingginya arti ilmu musik Tiongkok kuno menyebabkan para ahli musik, bila orang membunyikan tetabuhan alat musik, lalu dapat diketahui bagaimana watak, kesukaan orang, apakah orang itu sedang gembira, sedih dan merana. Jadi, bukan sebab lagu yang dimainkan itu memang bersifat gembira atau sedih, melainkan caranya memukul, meniup atau menggesek tetabuhan alat musik itu yang bila dimainkan oleh seorang ahli musik itu memiliki semangat yang mampu menggetarkan rasa hati manusia. Maka dalam hikayat dan syair2 Tiongkok kuno, acap kali dikemukakan kisah2 yang menarik yang berkaitan dengan musik diantaranya, ketika Nabi Kongzi mengalami bahaya jiwa di negeri Kong. Orang mengira bahwa Nabi Kongzi adalah Yang Ho, seorang musuh yang dibenci. Bentuk tubuh mereka agaknya bersamaan. Nabi Kongzi dikepung dan orang2 negeri Kong memperkeras penjagaan sehingga murid2 merasa khawatir. Nabi Kongzi sendiri tetap tinggal agung dan tenang. “Apakah,” bersabdalah Beliau (Lun Yu IX:5), “Sehabis mangkat Raja Bun, kebudayaan tidak diserahkan kepadaku? Jika Tuhan hendak memusnahkan kebudayaan ini, tentu aku, suatu manusia yang baru datang dikemudian, tak akan mendapatkan itu; tetapi jika Tuhan tak ingin memusnahkan kebudayaan ini, apakah orang2 Kong dapat berbuat terhadap diriku?” Zi Lu ingin melawan orang2 Kong ini, tapi Nabi Kongzi mencegahnya. “Bagaimana,” berkata beliau, “Dapatkah seorang yang mengajar Cinta Kasih dan Kebenaran bertindak seperti orang lain? Jika Aku tidak menerangkan kitab Syair dan kitab Hikayat, tidak mempelajari kesopanan dan musik dengan kamu sekalian, ini adalah kesalahanku. Tapi jika Aku mengajar ajaran raja2 dahulu kala dan kecintaan terhadap zaman purbakala, dan oleh karena ini mendapat kesusahan, ini bukan kesalahanku, melainkan nasib, menyanyilah, Aku akan mengiringimu!” Zilu kemudian memukul siternya dan menyanyilah Nabi Kongzi mengiringi. Sehabis menyanyi 3 buah lagu, orang2 Kong mulai sadar bahwa rombongan ini bukanlah gerombolan penjahat dan lalu memerdekakan kembali Nabi Kongzi dan murid2nya.  Demikianlah kisah pengembaraan Nabi bersama murid2 yang ada kaitannya dengan ditabuhnya musik dan dilantunkannya nyanyian yang sanggup menggetarkan hati dan jiwa orang yang mendengarnya.

Kisah menarik yang berkaitan dengan musik yang lainnya yang terkenal juga terdapat dalam San Guo kisah perang 3 negara (Han, Gwie dan Go) ketika Kong Beng/Cu Kat Liang menjaga kota Hsi Cheng yang sudah kosong dengan hanya mempunyai sedikit balatentara untuk menahan penyerbuan balatentara Suma Ie yang dalam jumlah balatentara yang besar. Tapi Kong Beng tidak pernah putus akal. Ia memerintahkan membuka semua pintu kota. Balatentara yang ada diperintahkannya menyamar menjadi petani dan pedagang, dlsb. Dan Kong Beng sendiri duduk diatas paseban dari tembok kota dengan ditemani 2 orang anak kecil yang memegang sebuah pedang dan kebutan atau Ban Sut tanda dari kekuasaan kesucian, dan ia sendiri asik memainkan alat musik semacam kecapi (Yang Kim). Dan ketika Suma Ie dan balatentaranya datang, dihadapannya telah terpentang lebar pintu kota, timbullah perasaan curiga dalam hatinya, dia merasa khawatir Kong Beng tengah memasang jebakan. Dan kekhawatiran itu semakin men-jadi2 ketika Suma Ie mendengar lagu dari kecapi yang dimainkan oleh Kong Beng yang menyatakan keadaan fikirannya sedang tenteram, senang hati dan gembira dari Kong Beng yang memainkan alat musik itu. Hal itu tentu tidak akan pernah terjadi kalau kota itu betul2 kosong. Maka dengan tidak memakai lamanya waktu, Suma Ie memerintahkan balatentaranya mundur karena menurutnya situasi dalam keadaan bahaya.

Demikianlah musik (Gak) yang dapat menghalus rasakan seseorang juga merupakan salah satu mata pelajaran dalam Perguruan Confucius pada waktu itu disamping yang lainnya antara lain Adat istiadat, Ceremonie (Lee), Konsentrasi, memanah (Sia) Olah raga berkuda (Gie) dan berhitung, Arithmetic (Si), dlsb. Kepedulian, penghargaan Nabi Kongzi akan musik dan nyanyian, bila Nabi mendengar orang menyanyikan lagu yang baik, niscaya minta diulangi dan kemudian ikut bernyanyi (Lun Yu VII:32). Penjelasan singkat ini menunjukkan kepada kita betapa besarnya kepedulian dan penghargaan Nabi Kongzi akan musik dan nyanyian yang menarik, sehingga begitu mendengar lalu mencoba mempelajarinya, dan disinilah Nampak kesuritauladanan Nabi Kongzi yang membimbing dan umatnya yang belajar untuk selalu mengikuti segala yang baik dan indah. Dan kalaulah kesukaan dan kepandaian Nabi Kongzi  akan musik dan nyanyian tidak begitu besar, niscaya ajaran Nabi Kongzi tidak berpengaruh kuat didalam kerohanian dan kebudayaan Tionghoa, niscaya tidak akan mendarah daging dalam jiwa setiap umatnya. Maka untuk kemajuan agama Khonghucu, karena bukan agama yang mengembangkan orang melainkan oranglah yang mengembangkan agama, alangkah baiknya jika para pemeluk agama Khonghucu tidak melupakan untuk menyebar luaskan pelajaran dan kesuritauladanan Nabi Kongzi yang berkaitan dengan musik, nyanyian yang baik dan indah seperti juga yang disuritauladani oleh seorang murid Nabi yang bernama Cu Yu. Dikisahkan ketika Nabi sampai dikota Bu Sing yang diperintah oleh Cu Yu, Nabi mendengar suara musik dan nyanyian. Dengan amat gembira dan tersenyum Nabi bersabda,”Mengapa memotong ayam sampai menggunakan golok pemotong lembu?” Cu Yu menjawab,”Dahulu Yan mendengar Guru bersabda,’Seorang pembesar bila mau belajar menempuh jalan suci, niscaya akan dapat benar2 mencintai rakyatnya; dan rakyat jelata bila mau belajar menempuh Jalan suci, niscaya akan mudah diberi tugas.” Nabi bersabda,”Hai, murid2, ucapan Yan ini benar, kata2-Ku tadi hanya untuk kelakar saja.” (Lun Yu XVII:4). Kota Bu Sing adalah sebuah kota yang penting, karena disitu terletak pertahanan keamanan untuk menjaga serbuan musuh, maka kebanyakan penduduknya terdiri dari anggauta balatentara yang berperangai sangat galak dan garang. Namun Cu Yu berhasil mengadakan perubahan dikalangan rakyat melepas pakaian perang dengan pakaian biasa dan mengganti senjata dengan alat musik dan kegemaran menyanyi, sehingga didalam kesiap siagaan balatentaranya tidak lagi Nampak garang, melainkan memiliki rasa halus hati yang tercermin pada senyum diwajahnya. Hal inilah yang sangat menggembirakan Nabi Kongzi.

Nabi Kongzi telah menyadari, bahwa pendidikan Kesusilaan dan musik dalam ajaran beliau itu, sudah barang tentu ada syarat2 yang wajib dipenuhi. Dalam hal ini Nabi bersabda,”Bagi seorang yang tidak berperi Cinta Kasih, apakah arti Kesusilaan? Bagi seorang yang tidak berperi Cinta Kasih, apakah arti musik?” (Lun Yu III:13). Ayat suci yang singkat ini, menunjukkan kepada kita bahwa, seperti upacara kebaktian agama yang disertai musik dan nyanyian2 yang baik dan suci itu, tidak ada gunanya bagi seorang yang rendah budi, tidak ada gunanya bagi seseorang yang prilakunya bertentangan dengan perikemanusiaan . Oleh karena itu, barang siapa yang ingin mendapatkan bermanfaatnya Le dan Gak, Kesusilaan dan music, ia harus mempunyai semangat dan kemauan yang keras untuk Ko Cek Bu Tan Kay  atau bila bersalah jangan takut memperbiki diri dan senantiasa Ceng Sim Siu Sin Khek Khie Hok Lee atau mempunyai tekad untuk senantiasa mengendalikan nafsu2-nya dan mengarahkannya kepada kehidupan yang dipenuhi Susila (Lun Yu XII:1). Sampai tua Nabi Kongzi tetap exis pada pendidikan musik dan nyanyian.

Dalam hal ini Nabi bersabda,”Sekembaliku dari negeri Wee ke negeri Lo, musik telah ditertibkan sehingga nyanyian pujian dan pujaan telah ditempatkan pada kedudukannya yang benar.” (Lun Yu IX:15). Setelah mengembara selama 13 tahun dari negeri yang satu kelain negeri , Nabi kembali kenegeri Lo dalam usia 69 tahun, dan 3 tahun kemudian wafatlah Nabi. Dalam usia lanjut Nabi tetap peduli pada musik dan nyanyian walaupun kitab Gak King (Kitab tentang music) telah musnah, akan tetapi nyanyian2nya yang terpilih telah disusun dalam kitab Si King atau Sanjak yang telah diterjemahkan dalam banyak bahasa. Tentang Kitab Si King Nabi bersabda,”Ada 300 sanjak lebih isi kitab Sanjak tetapi dapat diringkas menjadi sebuah kalimat, yaitu pikiran jangan sesat.” (Lun Yu II:12)

Penjelasan singkat tentang isi kitab Sanjak yang disabdakan oleh Nabi Kongzi ini, menunjukkan kepada kita betapa besarnya perhatian Nabi Kongzi kepada seluruh isi kitab tersebut,   yang diantaranya ada yang ditulis seribu tahun sebelum lahir Nabi Kongzi, yang dikumpulkan, dipilih dan disusun sampai menjadi kitab Si King yang sekarang ini, dapatlah kita bayangkan betapa susah payahnya. Apakah yang dimaksud oleh sebuah kalimat yaitu  pikiran kita janganlah  sesat?  Mengzi berkata,”Dikala menyenangi mengharapkan seseorang supaya terus hidup, akan tetapi sebaliknya  manakala membenci mengharapkan orang itu supaya cepat mati, itulah pikiran sesat dan kalut.” (Mengzi).

Pada jaman Kuno di Tiongkok,  telah menjadi kebiasaan seorang raja setiap tahunnya, pemerintah mengirimkan utusan keseluruh negeri, untuk mengumpulkan dan mencatat nyanyian rakyat. Hal ini dilakukan agar pemerintah dapat mengetahui bagaimana perasaan seluruh rakyatnya tentang kesedihan dan kebahagiaannya yang terhimpun dalam kitab Si King yang merupakan suara rakyat. Demikian pula halnya dengan negeri2 yang besar dan kecil, masing-masing mempunyai nyanyian kerajaan untuk memuja leluhur dan memuji raja2 yang baik dan berjasa, yang dinyanyikan dengan diiringi musik setiap kali diadakan upacara sembahyang. Disini dapat kita ambil kesimpulan bahwa semasa hidup Nabi,  hal musik dan nyanyian sudah sangat maju, demikian pula halnya dengan para ahli sanjak dan musik yang tidaklah sedikit jumlahnya.Tentang hal ini dicatat, (Karena 3 keluarga besar negeri Lo merusak adat istiadat) Pemimpin umum music, Ci,  lari ke negeri Cee; pemimpin music saat makan kedua,Kan, lari ke negeri Cho, pemimpin musik pada saat makan ketiga, Liau, lari ke negeri Chai; pemimpin musik saat makan keempat,Khwat, lari ke negeri Chien; penabuh tambur, Hong Siok, lari ke seberang sungai Hoo; penabuh tambur kecil,Bu, lari kedaerah sungai Han dan pembantu pemimpin musik, Yang, serta penabuh alat musik batu,Siang, lari ke seberang lautan.” (Lun Yu XVIII:9). Tentang penabuh alat musik dari batu (Khing) yang bernama Siang, konon banyak orang mengira ia pergi ke Jepang. Delapan orang ahli musik yang menyingkir dan dicatat itu hanyalah dari kerajaan Lo saja, itu belum termasuk para ahli musik dan nyanyian diseluruh kerajaan2 dilingkungan dinasti Chiu yang ratusan negeri jumlahnya.
Kesukaan Nabi Kongzi akan music dan nyanyian otomatis menjadi kesukaan umat Khonghucu. Kesukaan ini pada umumnya sudah berjalan sejak dulu hingga kini. Kesukaan ini yang  merupakan bagian dari pendidikan Agama Khonghucu sampai sekarang kelihatannya masih berjalan terus terlebih dengan munculnya para musisi lagu2 pujian agama Khonghucu yang patut dihargai agar mereka dapat meningkatkan hasil karyanya  sesuai dengan yang menjadi pengharapan Nabi, memilih music yang halus dan agung yang dapat meningkatkan nilai kesucian batin/rohani, sebab sejak dulu hingga kini selalu saja bermunculan lagu2 baru yang merusak moral dan ini berbahaya. Akan tetapi bahaya ini bisa ditolak bila kita suka memahami kitab Sanjak dengan nyanyian2 yang terpilih indah. Biarlah pengaruh Kongzi dalam pendidikan musik dan nyanyian dapat membantu membina kehidupan rohani umat Khonghucu khususnya, segenap umat didunia pada umumnya. Shan Zhai! (Xs.T.)

Taman bacaan: - Ceramah Kwee Tek Hoay – Soekaboemi, Nabi Khongcu sebagai manusia – Dr.Kwik Tjie Tiok – Solo, 151 th yayasan Sukhaloka – Surabaya, - Riwayat  Nabi Khongcu – MATAKIN, - Su Si Ngo King – MATAKIN, - SAK Th ke XV No.43/44 Edisi Sincia 2524 – MATAKIN, - Cerita Sam Kok – 300 Cerita Remaja – Ws.Dhyana Tikgianto - Solo

 

 

 

 

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

14-11-2017 Hits:162 Berita Foto

DAK 25 Jam Jatim, Jateng, DIY 25 - 27 Desember

DAK (Diklat Agama Khonghucu) bukan sekedar pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan rohaniwan saja

Read more

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

28-10-2017 Hits:873 Berita Foto

Pemuda Khonghucu Dari Berbagai Daerah Ikrar Di Hari Sumpah Pemuda.

Bogor, 28 Oktober 2017, Ketua Panitia acara Js.Kuh Sambih dalam undangannya mengatakan bahwa kami pemuda Khonghucu pun harus mampu bergerak...

Read more

Gili Trawangan

25-10-2017 Hits:113 Berita Foto

Gili Trawangan

Pagi ini kami harus bangun pagi untuk menyeberang pulau kecil yakni Gili Trawangan.

Read more

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

21-10-2017 Hits:234 Berita Foto

Delapan Pesan Dari Jakarta Dalam Kongres Khonghucu Dunia

"Membangun Harmoni dan Jalan Tengah untuk Mewujudkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia" dihasilkan butir-butir pemikiran sbb :

Read more

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

16-10-2017 Hits:129 Berita Foto

Srikandi Gunung Sindur Berjoget

Kebaktian di Makin Gunung Sindur minggu 15 Oktober 2017 dipenuhi umat di berbagai daerah di sekitarnya.

Read more

Mengajar Dan Kunjungan

25-09-2017 Hits:400 Berita Foto

Mengajar Dan Kunjungan

Pada tanggal 23 September 2017 saya mengajar S2 program M.Ag di UIN Syarif Hidayahtullah Jl.Cempaka Putih Tangerang Selatan Banten.

Read more

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:294 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:228 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:171 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:714 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 68 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com