spocjournal.com

Perkembangan Agama Khonghucu dan Pemahaman Puasa

Oleh : Tundra Kosasih

Nabi bersabda : “Sungguh Maha Besarlah Kebajikan Gui Shen, dilihat tidak nampak, didengar tidak terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia. Demikianlah menjadikan umat manusia di dunia BERPUASA, membersihkan hati dan mengenakan pakaian lengkap sujud bersembahyang kepada-Nya. Sungguh Maha Besar Dia, terasakan diatas dan di kanan-kiri kita. (Kitab Zhong Yung Bab XV).

 

 

 

Pendahuluan
Dari berbagai pertemuan dan diskusi saya berkesimpulan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia pada umumnya dan bahkan dari kalangan ummat serta sebagian generasi muda Khonghucu tradisional masih belum memahami dan mengetahui apa sebenarnya Agama Khonghucu. Bahkan masih ada yang menganggap agama Khonghucu diciptakan oleh Khonghucu.

Bagi masyarakat Indonesia non Konfusian pemahaman diatas masih bisa dipahami, demikian pula sebagian generasi muda dan ummat Khonghucu tradisional pun masih dapat dimaklumi.

Kondisi ini tercipta dimana setelah lebih dari 30 tahun sejak terbitnya Inpres No. 14 Tahun 1967 ummat Khonghucu “termarginalkan” dalam kehidupan kerohaniannya, bagi generasi muda yang lahir sekitar tahun 80-an, dalam kamus hidupnya jelas tidak ada lagi yang namanya istilah “Agama Khonghucu”, mereka yang lahir sekitar tahun tahun tersebut setelah menginjak usia sekolah, di sekolahpun sudah tidak ada lagi yang namanya pelajaran agama Khonghucu dan setelah dewasa serta memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dalam kolom agamanya pun tercantum agama Budha !
Sementara itu Kelenteng-Kelenteng yang tetap mempertahankan kehidupan kerohanian dengan Keimanan Khonghucu mendapat kendala dan tekanan luar biasa yang dirasakan oleh para pengurusnya, para guru agama Khonghucu bahkan tidak sedikit rohaniwan Khonghucu yang tidak kuat imannya akhirnya “hijrah” ke tambatan lain, semata-mata tuntutan “dapur keluarga” !

Pelayanan kerohanian kepada ummat menjadi mati suri, lebih lebih saat menghadapi pemberkatan pernikahan ummat, tidak dapat dilayani dengan nilai2 dan tuntunan didalam iman Khonghucu, ummat yang akan menikah di”dituntun/dipaksa” melakukan pemberkatan di Vihara ! yang pada saat itu bila pemberkatan pernikahan tidak dilaksanakan secara agama Budha, maka tidak dicatat di catatan sipil !

Namun tidak sedikit pula ummat Khonghucu yang “nekad” tetap berpegang teguh pada imannya, bukan tidak menjalankan ajaran Nabi Khongcu untuk hidup rukun (和 ) namun mereka berkeyakinan bahwa hal tersebut sudah menyangkut nilai-nilai akidah agama, yang pada akhirnya harus “rela” mencantumkan/ mencatatkan buah cinta kasih pernikahan mereka di Catatan Sipil dengan sebutan “anak diluar nikah dari seorang ibu bernama ………..…..”

Sementara pemerintah pada saat itu “cendrung menggiring” ummat Khonghucu menjadi ummat Budha dengan mengganti kolom agama yang semula Khonghucu menjadi agama Budha tanpa sepengetahuan yang bersangkutan ! dengan dalih SKB 3 Menteri hanya mengakui 5 Agama di Indonesia, dan tidak sedikit tempat ibadah ummat Khonghucu “Kelenteng”, terutama yang di pulau jawa banyak yang di “giring” menjadi Vihara sedangkan yang masih setengah-setengah kemudian berubah menjadi TITD (Tempat Ibadat Tri Dharma), yang belakangan setelah hak-hak sipil ummat Khonghucu di pulihkan menjadi “persoalan“ serius, tetapi belum “ditangani” secara serius oleh pemerintah, tidak sedikit pula  tempat ibadah Kelenteng di klaim sebagai tempat ibadah agama Budha, yang ironinya ummat Khonghucu harus “terusir” dari tempat ibadahnya sendiri !   Celakanya prahara yang dialami oleh ummat Khonghucu ini masih dianggap “persoalan intern” sebagaimana yang dialami oleh ummat Khonghucu Samarinda, Padahal siapapun tahu bahwa persoalan yang dihadapi ummat Khonghucu saat ini adalah akibat “perlakuan politik” pemerintah saat itu. Maka dari itu sayapun pernah mengusulkan kepada Puslitbang Kementerian Agama pusat yang pada saat mengadakan penelitian di Samarinda, bahwa untuk penyelesaian persoalan yang melilit ummat Khonghucu saat ini terkait “perebutan” tempat ibadah Kelenteng “kuncinya” ada pada “keberanian” pemerintah melakukan tindakan secara politis untuk menyelesaikan konflik yang timbul secara “damai” dengan melihat pada “fakta dan sejarah”.

Bahwa prahara yang melilit ummat Khonghucu tidak hanya dialami ummat Khonghucu di Samarinda, tetapi juga di beberapa kota di Pulau Jawa dengan “motif” yang hampir sama, “pengakuan tempat ibadah Kelenteng sebagai tempat ibadah agama tertentu dan atau klaim pengakuan kepemilikan tempat ibadah” sehingga ummat Khonghucu harus keluar dari sana! sehingga kami berkesimpulan adanya semacam “grand design” ataukah hanya suatu “kebetulan belaka”.

Khusus di Samarinda kamipun merasakan adanya tangan-tangan “misterius” yang turut bermain dengan menebarkan issue bahwa Kepres No. 6 Tahun 2000 hanya untuk kebebasan Budaya dan bukan agama, “pengakuan” terhadap agama Khonghucu hanya bersifat sementara untuk pencitraan pemerintah yang suatu saat dapat dicabut kembali, perubahan agama akan membawa dampak negative bagi nilai agama anak di sekolah, termasuk dampak bagi rekening-rekening di bank, bahkan pada paspor dan lain sebagainya, kesemuanya membuat keraguan ummat yang berakibat lambannya proses “pemulihan” secara fisik (kwantitas) ummat Khonghucu untuk kembali ke “fitrahnya”.

Walaupun saat ini kami tidak dapat menyangkal bahwa pemerintah melalui Kementerian Agama dan Pusat Kerukunan Ummat Beragama telah berupaya dan bekerja keras serta telah menghasilkan sekian banyak undang-undang dan peraturan-peraturan yang dikeluarkan terkait dengan pemulihan hak hak sipil ummat Khonghucu, Kedepanpun dalam mengatasi persoalan kompleks yang dihadapi oleh Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) dan Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN), kiranya kami masih sangat memerlukan perhatian khusus serta uluran tangan pemerintah, termasuk dalam membangun keyakinan dan kepercayaan ummat, khususnya bagi generasi yang pernah mengalami “trauma politik” masa lalu, demikian pula dalam penyelesaian konflik yang timbul akibat politik masa lalu pemerintah.

Ulasan diatas sengaja ditulis agar ummat tradisional Khonghucu maupun pemerintah khususnya Kementerian Agama dapat memahami persoalan-persoalan serta konflik yang timbul dan tidak “hanya” memandang persoalan yang timbul di tempat ibadah Kelenteng hanya sebagai “persolan intern”.

Agama Khonghucu
Istilah agama Khonghucu sendiri sesungguhnya kurang tepat dan bukan merupakan istilah aslinya, Khonghucu sendiri merupakan nama tokoh yang paling berpengaruh dalam perkembangan agama Khonghucu, nama Khonghucu sendiri merupakan dialek dari bahasa Hokkian, yang dalam bahasa Tionghoanya disebut K’ong Fu Tze ( 孔夫子),pada saat Mateo Ricci mendaratkan kapalnya di daratan Tiongkok, sebagaimana diketahui dari laporan Mateo Ricci ke Gereja Vatikan di Roma, dia mendapati bahwa ternyata disana sudah ada sebuah bentuk “kepercayaan” yang berkembang di daratan Tiongkok dan mempelajari bahwa ada seorang tokoh sentral yang paling berpengaruh dan yang kemudian di sebut sebagai Confucius dan ajaran disebut sebagai Confucianism.

Istilah agama “Khonghucu” itu sendiri justru dibawa kembali dan diperkenalkan oleh anak-anak Tionghoa yang pada awal abad ke-19 bersekolah di Belanda dan Negara-negara Barat lainnya dan setelah lulus kembali ke Hindia Belanda ( nama Indonesia pada saat itu ).

Anak-anak yang bersekolah serta mempelajari agama “Khonghucu” di Barat setelah kembali ke Hindia Belenda mendapatkan kenyataan bahwa agama “Khonghucu” yang ada di Hindia Belenda sudah tidak murni lagi, bahkan telah bercampur aduk dengan kepercayaan animisme dan berbagai tahayul yang dijalankan oleh orang tua mereka.

Menyadari kenyataan tersebut timbul “gerakan” yang ingin memurnikan kembali ajaran Khonghucu dengan salah satu bentuknya adalah mendirikan organisasi Tiong Hoa Hwee Koan yang bergerak dibidang pendidikan bagi masyarakat Tionghoa dengan tujuan utamakan memajukan pendidikan dan memurnikan kembali ajaran-ajaran Khonghucu.

Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) inilah yang dalam perkembangannya setelah beberapa kali mengalami perubahan nama sesuai jamannya, dan yang kemudian berubah nama menjadi MAJELIS TINGGI AGAMA KHONGHUCU INDONESIA (MATAKIN) seperti yang kita kenal sekarang ini.

Khonghucu sendiri bukanlah pencipta sebuah agama, agama “Khonghucu” itu sendiri telah ada sejak + 2500 tahun sebelum kelahiran Khonghucu, namun ajaran ini yang kemudian  disempurnakan Nabi K’ong Zi ( Khong Hu Cu ).
Sebagaimana yang di Sabda kan Nabi K’ong Zi dalam Kitab Lun Yi Jilid VII bagian Shu Er ayat 1 : “Aku hanya meneruskan, tidak mencipta, Aku sangat menaruh percaya dan suka kepada ajaran dan kitab-kitab yang kuno itu . . . . . “

Istilah agama “Khonghucu” di daratan Tiongkok lebih di kenal dengan sebutan Rhu Jiao ( 儒教 ).
Tulisan Tionghoa mempunyai karakteristik yang unit, huruf-huruf Tionghoa merupakan bentuk gambar yang berbicara ( Pictografi ).

Sebuah huruf Tionghoa dapat berupa gabungan dari 2 atau lebih huruf yang digabung jadi satu dan yang mempunyai makna yang berbeda dari masing-masing huruf yang digabungkan tersebut serta kadang berbeda bermakna dari asalnya, seperti yang terdapat pada huruf Rhu (儒) yang merupakan gabungan dari 2 buah kata, masing-masing berasal dari huruf Ren ( 人 )  yang berarti manusia dan huruf Xu ( 需 ) yang berarti yang diperlukan, sehingga huruf Rhu (儒) itu sendiri mengandung makna yang diperlukan oleh manusia sedangkan Jiao (教 ) mengandung arti ajaran atau bimbingan.

Sehingga Rhu Jiao (儒教 ) selengkapnya dalam iman Konfusiani mengandung makna suatu ajaran atau bimbingan yang dibutuhkan manusia untuk mencapai tujuan akhir hidup sebagai perwujudan Prima Causa dan Causa Finalis ( 终始=Zhong Shi ) yakni terwujudnya paduan harmonis Gui (鬼) dan Shen (神)
Sebagaimana di Sabdakan Nabi Kong Zi didalam Kitab Li Ji Bab XXI Bagian Ji Yi ( Makna Sembahyang ) ayat 1 : Semangat (气=Qi) itulah wujud berkembangnya dari pada Rokh (神=Shen), Badan jasad (魄=Bo) itulah wujud berkembangnya dari pada nyawa (鬼=Gui). Berpadu harmonisnya Gui (鬼) dan Shen (神), itulah tujuan tertinggi ajaran agama.

PEMAHAMAN DAN HIKMAH PUASA :
Pemahaman PUASA dalam iman Rhu (Khonghucu) tidak sama persis dengan pemahaman secara umum yang dikenal dalam keseharian masyarakat Indonesia, yakni tidak makan dalam waktu tertentu atau tidak makan hewan atau barang bernyawa (Vegetarian).
Puasa dalam iman Rhu lebih bertujuan mendukung terciptanya kondisi untuk membina diri (修身=Xiu Shen), yang mempunyai 2 prinsip tujuan yang akan dicapai,  yaitu :

  1. Dalam bentuk Pengendalian Nafsu atau dalam bahasa kitab Gua Yu (寡欲)
  2. Untuk Memperbaiki Kekeliruan atau Gai Guo (改过)

Dalam pelaksanaannya ada 2 (dua) cara “berpuasa” dalam agama Khonghucu, yaitu :
1. Berpantang ( 斋=Zhai ) dan  2. Berjaga ( 戒=Jie )
Sebagaimana pada awal tulisan ini saya menulis bahwa huruf Tionghoa mempunyai karakteristik yang unik, keunikan lainnya adalah sebuah bentuk huruf yang sama bilamana diletakkan pada kalimat yang berbeda, dapat mempunyai arti yang berbeda dan bahkan mempunyai bunyi/fonetik yang berbeda pula, ada pula beberapa huruf yang berbeda, dan berbeda makna pula tetapi mempunyai bunyi/fonetik yang sama, sebagai contoh zhai (斋) berpantang dan Cai (菜) sayur, huruf berbeda namun bunyinya/fonetiknya sama.

Banyak masyarakat Tionghoa Khonghucu menafsirkan “Zhai” disini sebagai Cai ( 菜=sayur), karena mempunyai bunyi/fonetik yang sama sehingga mereka hanya memakan sayur-sayuran, walaupun demikian apa yang dilakukan tidak seluruhnya salah.
Karena inti dari pada Zhai ( 斋 ) adalah melakukan makan berpantang untuk tidak makan makanan tertentu atau makan makanan tertentu saja atau makan secara bersela dan bukan tidak makan sama sekali.

Secara umum dari kedua bentuk “puasa” dalam iman Konfusiani dapat dibedakan sebagai berikut : puasa pada Zhai ( 斋 ) yang berhubungan dengan makan, sedangkan puasa pada Jie ( 戒 ) lebih terkait pada prilaku dan atau perbuatan.
Didalam Kitab Li Ji disebutkan :

Zhai ( 斋 ) :三日斋,指正斋三日( san ri zhai, zhi zheng zhai san ri ); Tiga hari bersuci diri penuh, untuk menciptakan keberesan suasana bathin.
Jie ( 戒 )   :七日戒,指散斋七日 ( qi ri jie, zhi san zhai qi ri ); Tujuh hari bersuci diri longgar, untuk mencapai ketetapan tujuan.

Demikian puasa yang dilaksanakan umat Khonghucu akan berbeda sesuai dengan maksud tujuan dilaksanakan puasa itu, namun memiliki ending yang intinya sama ; membina diri (修身).

Bagi orang tua umat Khonghucu yang akan mejalankan ibadah Keng Thi Kong ( 敬天公=Jing Tian Gong ) atau sembahyang Besar kepada Tuhan, biasanya puasa dilaksanakan mulai hari kedua setelah Tahun Baru Imlek sampai dengan hari ke 8 ( selama 7 hari ) untuk mempersiapan diri, dimana pada hari ke 8 tengah malam antara jam 23.00 s/d 01.00 melaksanakan sembahyang.

Saat ini di kios kios makanan banyak disediakan makanan-makanan “tiruan” yang terbuat dari tepung terigu yang sangat mirip dengan makanan aslinya seperti udang saos inggris, sate, daging panggang dan lain sebagainya, tetapi bagi umat Khonghucu yang melaksanakan Zhai/ berpantang misalnya tidak makan “daging”, walaupun sate atau daging panggang tersebut terbuat dari tepung terigu, tetap tidak boleh dimakan, karena secara kasat mata wujudnya tetap berupa “daging” dalam bentuk sate dan daging panggang, karena tujuan dari pada puasa Zhai dalam iman Khonghucu intinya adalah Gua Yu/pengendalian nafsu.

Demikian sedikit uraian tentang puasa dalam iman Khonghucu, semoga menambah wawasan dan membawa manfaat bagi para pembaca pada umumnya dan bagi ummat Khonghucu  khususnya
( Tulisan ini dibuat untuk memenuhi permintaan redaksi Majalah Pembinaan dan Info Keagamaan Ikhlas )

 

 

 

Comments   

 
0 #2 Muslim Linggouw林展發 2015-02-11 22:39
恩謝 前賢 大德 後學 ;Sangat Sependapat DG Anda前賢,Demi kebaikan kemajuan 孔教 儒家思想 Masalah di Intren MATAKIN Segra Saling Intropeksi Dan Perbaiki,! Jangan Saling Mencari Kesalahan kelemahan Kita Saling Sama Sama belajar Dan Umat Kita Jauh Ketinggalan,Sad arilah,! Kita Sama Sama belajar membina,! 同學習同修,! 咸有一德, 善哉,...
 
 
0 #1 Kamal Tanudjaya 2014-09-13 12:46
Terima kasih atas wejangan ini membuat saya lebih mengerti mengenai agama khong fu ce..mohon izin share ya
 

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:160 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:171 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:101 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:643 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

05-09-2017 Hits:595 Berita Foto

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

Talkshow interaktif dengan Nara Sumber Js. Liem Liliany Lontoh; Hotel Aston ruang Asoka Lt. 2; Manado, 01 September 2017.

Read more

Anti Narkoba

28-08-2017 Hits:110 Berita Foto

Anti Narkoba

Surabaya, 28 Agustus 2017 pertemuan BNN (Badan Narkotika Nasional) di Hotel Santika Surabaya yang dihadiri oleh beberapa sukarelawan.

Read more

Pulau Nan Indah

22-08-2017 Hits:190 Berita Foto

Pulau Nan Indah

Kami mengajak para pencinta alam Indonesia untuk berkeliling ke tiga pulau di Wilayah Sumenep-Madura.

Read more

Tokoh Matakin Berpulang

08-08-2017 Hits:1145 Berita Foto

Tokoh Matakin Berpulang

Wu Hu Ai Zai, telah kembali ke Haribaan Huang Tian, Xs Hanom Pramana Buanadjaja (Phwa Tjhiang Han/Pan Chang Han 潘昌汉)...

Read more

Nganjuk Penuh Kedamaian

27-07-2017 Hits:307 Berita Foto

Nganjuk Penuh Kedamaian

Kunjungan FKUB provinsi Jatim hari kedua di FKUB Kabupaten Nganjuk. Kunjungan di Nganjuk diterima di kantor Kesbangpol. Hadir dalam pertemuan...

Read more

FKUB Jatim Turba

26-07-2017 Hits:176 Berita Foto

FKUB Jatim Turba

Rapat koordinasi dan silaturahim FKUB Kabupaten Mojokerto yang dihadiri oleh jajaran pengurus FKUB Kabupaten Mojokerto, Bupati dan para Camat, Bakesbangpol,...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 54 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com