spocjournal.com

Merenungi 18 Tahun Pengabdian


Oleh : Ws. Ir. Budi S. Tanuwibowo, MM

Moment of Truth

Waktu tepatnya lupa. Namun kira-kira terjadi 18 tahun lalu. Tahun 1992, menjelang "Munas" MATAKIN di Enteos Club. Sebuah pertemuan sahabat lama terjadi di Sunter. Tepatnya di rumah sahabat saya, Lie Liong Tjung. Lama tak bertemu, di rumah itulah saya bertemu kembali dengan Dq. Adji Djojo, aktivis pemuda Khonghucu, adik kelas saya sewaktu bersekolah di SMP V dan SMA I Tegal.

Dari pertemuan tidak sengaja itulah saya kemudian diajak Dq. Adji ikut menemani teman-teman MAKIN Tegal yang hadir dalam "Munas" atau lebih tepatnya Pertemuan Enteos. Di forum itu saya menunjukkan Ensiklopedi Anak Nasional yang saya susun, yang di dalamnya ada artikel tentang Agama Khonghucu dan Nabi Khongcu. Mungkin karena waktu itu berani tampil dan banyak bicara, sebagai orang baru saya langsung ditunjuk menangani bidang pendidikan. Inilah mungkin salah satu moment of truth yang merubah jalan hidup saya, dari seorang umat abangan yang tak peduli dengan lembaga menjadi "aktivis betulan".

Pertemuan Enteos itu sendiri akhirnya mengukuhkan kepengurusan MATAKIN yang baru, berbentuk Presidium, dengan Koordinator Dq. Hengky Wijaya. Ws. Chandra Setiawan terpilih sebagai Ketua Majelis Pimpinan Pusat Harian (MPPH).

Kontribusi tak Berarti

MATAKIN waktu itu masih bersifat "bawah tanah". Lokasi pertemuan acap berpindah-pindah dan  kebanyakan di rumah Ws. Wastu Pragantha Zhong, di Bendungan Hilir. Di pertemuan-pertemuan itu saya mulai berkenalan dengan banyak aktivis MATAKIN seperti : Ws. Chandra Setiawan sendiri, Js. Handry Nurtanto (almarhum), Js. Wawan Kurniawan dan aktivis darah biru (dari Keluarga Aktivis Khonghucu) seperti Dq. Uung Sendana L. Linggaraja dan Js. Wawan Wiratma.

Meski ketika itu saya duduk sebagai salah satu unsur penting di jajaran kepengurusan MATAKIN, namun jujur saya akui peranan dan kontribusi yang saya sumbangkan waktu itu tidaklah signifikan. Sumbangan yang cukup berarti hanyalah dalam penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga MATAKIN yang sebagian besar poinnya masih berlaku
hingga sekarang

Memang harus pula diakui bahwa pada masa itu kendala yang dihadapi MATAKIN dan organisasi ketionghoaan masihlah besar. Jangankan punya agenda atau acara yang terkait langsung dengan agama Khonghucu, untuk kegiatan umum kemasyarakatan seperti memperingati ulang tahun emas Kemerdekaan Republik Indonesia saja masih dilarang bila menggunakan nama MATAKIN. Baru pada tahun 1997-1998 beberapa aktivis MATAKIN banyak terlibat dalam Dialog Antaragama. Ws. Wastu Pragantha Zhong, Ws. Bingky Irawan, Ws. Chandra Setiawan dan saya sendiri terlibat aktif dalam MADIA (Masyarakat Dialog antar Agama).

Memperluas Silaturahmi, Memperkuat Persaudaraan

Dari berbagai dialog, berbagai seminar dan pertemuan, kami mulai mengenal dan dikenal banyak tokoh agama, universitas, politik dan pemerintahan. Mulai dari tokoh muda macam : Nasaruddin Umar, Budhy Munawar Rahman, hingga para tokoh senior di berbagai lapisan masyarakat. Hubungan dengan Gus Dur (almarhum), Djohan Effendi dan Nurcholish Madjid (almarhum) pun semakin erat. Mereka-mereka itulah yang kelak banyak membantu perjuangan MATAKIN dan duduk sebagai Anggota Kehormatan.

Awalnya, setiap mengikuti seminar, kami yang muda-muda hanya tampil sebagai peserta biasa. Sebagai penggembira. Kalau kita diharuskan tampil, terpaksa harus mengundang tokoh utama agama Khonghucu Indonesia, Xs. Tjhie Tjay Ing dari Solo. Atau kadang mengundang tokoh muda brilian, Ws. H. Ongkowijaya yang kini telah almarhum. Kalau pun terpaksa, kami yang muda-muda harus mempersiapkannya jauh-jauh hari. Namun, seiring dengan perkembangan waktu, kami menjadi terbiasa berbicara dari satu panggung ke panggung lain, dari satu topik ke topik lain. Bahkan acapkali bicara secara spontan tanpa persiapan.

Dari dialog, seminar dan pertemuan itu setidaknya kita bisa membangun tali silaturahmi. Yang semula asing, menjadi kenal. Yang sekedar kenal, menjadi akrab. Yang sudah akrab akhirnya tergerak membantu perjuangan MATAKIN. Lebih jauh lagi, nama saya dan Ws. Chandra Setiawan menjadi identik dengan MATAKIN. Demikian juga nama Dq. Uung Sendana dan Xs. Djaengrana Ongawijaya.

Menjadi Sekretaris Umum

Reformasi bergulir pasca kerusuhan yang hitam. Presiden Suharto yang hampir 32 tahun berkuasa mundur dan menyerahkan kepemimpinan kepada B.J. Habibie. Kementerian Agama dipimpin salah satu tokoh reformasi, A. Malik Fadjar. Beliau sangat akomodatif terhadap agama Khonghucu. Berkat jasa beliau MATAKIN boleh kembali mengadakan Munas. Beliau bahkan menyarankan agar MATAKIN bermunas di Asrama Haji, untuk membuktikan bahwa umat Islam bisa menerima kembali kehadiran agama Khonghucu. Munas ke XIII ini dibuka oleh Staf Ahli Menteri Agama, Amidhan.

Dalam Munas tersebut Ws. Chandra Setiawan terpilih sebagai Ketua Umum, saya sendiri sebagai Sekretaris Umum dan Js. Henny Loho sebagai Bendahara Umum. Setelah terpilih kami mulai mengaktifkan roda organisasi. Jalinan komunikasi keluar ditingkatkan, silaturahmi lewat keterwakilan di banyak organisasi diperlebar. MATAKIN makin dikenal, agama Khonghucu mulai dipahami para elit.

Secara sadar kami memilih jalur silaturahmi dan lobby, karena banyak pertimbangan rasional.
Pertama, ketiadaan sumber dana dan kelangkaan sumber daya. Maka perjuangan elit lebih diutamakan. Kedua, tidak ada perjuangan yang berhasil bila tidak didukung mayoritas umat maupun kekuasaan. Maka lobby ke elit ini dibangun agar ada kesepahaman dan pengertian. Ketiga, masyarakat Indonesia pada dasarnya berwatak baik, mudah simpati dan ringan tangan menolong. Maka ketika kami mulai menjalin dan mempererat persahabatan, mereka semua memahami dan membantu.
Dalam kapasitas sebagai Sekretaris Umum, saya mulai menggiatkan kontak-kontak organisasi maupun personal ke instansi pemerintah terkait, tokoh-tokoh agama, lembaga swadaya masyarakat dan pribadi-pribadi dari segala lapisan. Pada waktu itu umat Khonghucu pun berani turun ke jalan, demontrasi di depan Komite Pemilihan Umum, untuk menuntut hak-haknya. Sebagai pimpinnan demo ditunjuk Dq Uung Sendana.

Gus Dur menjadi Presiden ke 4

Tanggal 20 Oktober 2000, Gus Dur atau KH. Abdurrahman Wahid terpilih sebagai Presiden RI ke 4. Hal ini tentu sangatlah menggembirakan kami, mengingat beliau selama ini dikenal amat gigih dalam memperjuangkan kesetaraan hak-hak sipil umat Khonghucu.

Sebagai Ketua PBNU, Gus Dur dengan setia hadir membela pasangan Budi Wijaya-Lany Guito yang ditolak pencatatan pernikahannya oleh Kantor Catatan Sipil Surabaya. Bahkan, bersama dengan Prof. Dr. Sri Soemantri, SH, Bondan Gunawan, dll, Gus Dur sampai membentuk Yayasan Nur Kebajikan yang khusus dibuat untuk membela hak sipil umat dan kelembagaan Khonghucu.

Berita dicalonkannya Gus Dur sebagai Presiden kami dengar dalam perjalanan pulang kami - bersama Djohan Effendi - sehabis menghadiri Perayaan Hari Lahir Nabi 2550 di Hongkong. Bersamaan dengan itu kami mendengar berita dipilihnya Amien Rais sebagai Ketua MPR RI. Kami, umat Khonghucu merasa terharu, untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, umat Khonghucu disapa secara terhormat dalam Sidang Umum MPR RI, lewat Ketua MPR RI, Amien Rais.

Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional Pertama

Hari-hari terakhir di bulan Oktober 2000. Gus Dur baru beberapa hari menjadi Presiden dan mendiami Istana Negara. Pagi itu, di akhir bulan Oktober 1999, kami berdua bersama Ws. Bingky Irawan, menghadap Gus Dur di Istana Negara.

Kami berangkat dari Sunter. Tiba di depan Masjid Istiqlal, di bawah rel kereta api, tiba-tiba sebuah keajaiban terjadi. Kami berdua seakan mendapat ilham pada saat bersamaan untuk mengusulkan kepada Presiden KH. Abdurrahman Wahid agar umat Khonghucu diberi kesempatan untuk mengadakan Perayaan Tahun Baru Imlek secara nasional, setelah berpuluh tahun lamanya harus sembunyi-sembunyi dan kucing-kucingan merayakannya. Kami ingin Presiden hadir dalam perayaan tersebut, sebagai mana Presiden hadir pada perayaan Natal, Nyepi, Waisak dan perayaan-perayaan penting umat Islam.

Gus Dur, yang juga tokoh utama Islam dan lintas agama, dan sekaligus sebagai tokoh utama pembela umat Khonghucu tentu saja amat memahami permintaan ini, terbukti dari responnya yang sangat spontan. "Baik adakan dua kali! Satu di Jakarta, dua Perayaan Capgomeh di Surabaya". Kami berdua saling berpandang-pandangan. Satu saja kami sudah amat berterima kasih dan tidak mudah mengorganisirnya, apalagi dua sekaligus. Ketika kami mencoba mengatakan bahwa teman-teman dari agama lain pun hanya mendapat jatah sekali, Gus Dur mengatakan bahwa sekian lama toh umat Khonghucu tidak bisa merayakannya sama sekali.
Sepulang dari istana, kami berdua melaporkan hal ini kepada jajaran kepengurusan MATAKIN, khususnya Xs. Tjhie Tjay Ing dan Ws. Chandra Setiawan. Persiapan langsung dilakukan. Saya ditetapkan sebagai Ketua Panitia Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional I tahun 2000/2551 dan Ws. Bingky Irawan sebagai Ketua Panitia Perayaan Capgomeh Nasional 2000/2551. Kami bekerja paralel di Jakarta dan Surabaya.

Di tengah persiapan, kami menghadapi kendala, karena Inpres 14/1967 yang membatasi budaya, adat-istiadat dan agama orang Cina (istilah Tionghoa dalam Inpres tersebut) masih berlaku. Segera kami bertiga (kali ini bersama Ws. Chandra Setiawan selaku Ketua Umum MATAKIN) melaporkan hal ini kepada Presiden. Gus Dur menjawab pendek, "Gampang, nanti dibereskan".

Selang berapa lama, di hadapan para tokoh lintas agama yang menghadap beliau di Istana Negara, termasuk kami bertiga yang mewakili agama Khonghucu, Presiden KH. Abdurrahman Wahid mengatakan bahwa beliau baru saja membereskan persoalan yang membelenggu umat dan kelembagaan Khonghucu. Inpres 14/1967 dicabut dengan Keppres 6/2000, tertanggal 17 Januari 2000. Maka Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional I, tahun 2000/2551 pun mulus terlaksana di Balai Sudirman, pada tanggal 17 Februari 2000.

Tangis Haru Jutaan Umat

Rasa haru terpancar di wajah para tamu Undangan yang hadir dalam Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional I, tanggal 17 Februari 2000/2551, di Balai Sudirman Jakarta. Rasa rindu puluhan tahun bisa merayakan tahun baru imlek secara terbuka menyeruak dari dalam dada. Apalagi perayaan imlek ini sekaligus dihadiri dan diberikan sambutan oleh orang nomor satu Republik Indonesia. Kegembiraan meluap mendesak dari dalam sanubari, meledak dalam isak tangis Keluarga Besar MATAKIN dan Panitia, mengalirkan butir-butir air mata bahagia di sebagian besar Hadirin.

Dihadiri dan disaksikan langsung oleh Presiden RI dan Ibu Negara Hj. Shinta Abdurrahman Wahid, Wakil Presiden RI Megawati Soekarnoputri dan Taufik Kiemas, Ketua MPR RI Amien Rais, Ketua DPR RI Akbar Tanjung, puluhan menteri dan duta besar, ratusan tokoh agama dan masyarakat dan 3.000 an Undangan yang menyesaki Balai Sudirman, selaku Ketua Panitia, saya melangkah satu-persatu menuju mimbar. Anak kampung dari dukuh Paweden, Tegal, Jawa Tengah ini mencoba sekuat tenaga untuk menahan rasa haru yang gemuruh membahana. Puji syukur ke hadirat Tian, Shangdi, malam itu saya bisa memberikan laporan dengan tenang, lancar dan mulus.

Berita di media massa segera menyambut luas momen yang sangat bersejarah ini. Surat kabar, tabloid, majalah, radio dan televisi dibaca dan disaksikan seantero negeri. Ada yang masih nanar, ada yang menggerutu, ada yang terharu, namun yang jelas jutaan umat Khonghucu dan masyarakat Tionghoa menangis dengan butiran air segar bahagia, yang tertahan sekian lama. Terima kasih Gus Dur, terima kasih seluruh tokoh dan anak bangsa Indonesia.


Imlek di Tengah Kegalauan

Akibat berkait dari dicabutnya Inpres 14/1967, segala budaya Tionghoa yang selama ini "dilarang", menjadi bebas diekspresikan. Tahun Baru Imlek ditetapkan sebagai Hari Libur Fakultatif. Eforia muncul dimana-mana. Menjelang Imlek nuansa merah mewarnai mal dan pusat perdagangan. Agama Khonghucu yang selama ini tertutup kabut tebal, perlahan muncul di permukaan.

Dalam suasana baru itu, suasana tanah air sejatinya belum pulih dari masa peralihan rezim otoriter ke rezim demokrasi. Kerusuhan melanda di berbagai penjuru tanah air. Atas berbagai pertimbangan, Perayaan Imlek 2001/2552 dibuat lebih sederhana di Lapangan Tenis Tertutup Senayan. Untuk kedua kalinya saya mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Panitia.

Panggung Ambruk Mengantar Gus Dur ke Amerika Serikat

Tak lama setelah perayaan, situasi politik semakin memanas. Gus Dur lengser digantikan Megawati Soekarnoputri. Ketika Gus Dur keluar dari Istana dan berangkat berobat ke Amerika Serikat, para tokoh agama dan masyarakat melepasnya dalam panggung terbuka di Jalan Merdeka Utara. Dari MATAKIN hadir beberapa tokoh, diantaranya Ws. Chandra Setiawan selaku Ketua Umum dan saya sendiri selaku Sekrataris Umum

Dalam hingar bingar suara dan luapan emosi melepas Gus Dur, atas nama MATAKIN saya ikut memberi sambutan. Saya katakan bahwa bagi umat Khonghucu, Gus Dur menempati posisi yang amat khusus. Posisi yang tak bisa tergantikan. Bukan karena beliau seorang presiden, namun karena ia merupakan Bapak Umat Khonghucu, orang tua kami. Maka, marilah kita semua yang menghormati dan mencintai Gus Dur, mendoakan beliau agar segera sembuh dan kembali ke tanah air dalam keadaan sehat walafiat.

Ketika Gus Dur keluar Istana dan menuju panggung tersebut, antusiasme pengunjung makin tak tertahan. Panggung pun tak kuat menahan beban. Ambruk, namun tidak mengakibatkan terjadinya korban.

Imlek Menjadi Hari Libur Nasional

Waktu terus berlalu. Megawati Soekarnoputri naik menjadi Presiden RI ke 5, dengan Hamzah Haz sebagai Wakil Presiden RI. Situasi tanah air mulai membaik. Suhu politik mulai normal. Dalam suasana ini Perayaan Tahun Baru Imlek kembali digelar. Kali ini mengambil tempat di Arena Pekan Raya Jakarta, dengan Ketua Panitia Js. Handry Nurtanto (almarhum).

Presiden Megawati Soekarnoputri hadir didampingi Menteri Pendidikan A. Malik Fadjar yang saat itu menjabat sebagai Menteri Agama ad interim, serta beberapa menteri lainnya, diantaranya Menko Polhukam Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam sambutannya, Presiden menetapkan Tahun Baru Imlek menjadi Hari Nasional. Maka awal tahun baru Imlek tahun berikutnya menjadi hari libur bagi semua anak bangsa.

Disindir Xs. Tjhie

Dalam sebuah kesempatan - kalau tidak salah dalam perjalanan pesawat dari Jakarta menuju Pangkal Pinang - saya duduk di sebelah Xs. Tjhie Tjay Ing, tokoh legendaris agama Khonghucu. Ketika itu saya melihat wajah Haksu Tjhie (demikian beliau akrab dipanggil) tampak keruh. Rupanya beliau sedang memendam kesedihan yang mendalam.

Beliau sedih karena masa depan agama Khonghucu - menurut kacamata beliau - terancam. Generasi seangkatan beliau atau sedikit di bawahnya, satu per satu meninggalkan dunia. Sementara dari kalangan generasi mudanya amat sedikit yang mau terjun menjadi rohaniwan. Inilah yang mendukakan hati beliau.

Dalam perjalanan itu saya menyebut beberapa nama yang kiranya pantas untuk diteguhkan jadi rohaniwan, baik Jiaosheng, Wenshi atau Xueshi. Ketika mendengar beberapa nama yang saya usulkan tersebut, beliau mengatakan, "Ah, mereka tidak mau. Saya sudah bicara dengan mereka. Itulah problem kita. Yang mau, belum tentu mampu. Yang sebenarnya mampu, tidak mau!", kata Haksu Tjhie lirih.

Secara spontan saya bertanya, "Memang siapa yang menolak dan tidak mau Haksu?". Tanpa berpaling Xs. Tjhie berkata, "Tidak usah jauh-jauh. Salah satunya yang di sebelah saya ini".
Mendengar perkataan Haksu ini, saya langsung terpukul, tersindir telak. Padahal waktu itu saya sudah menjabat sebagai Sekretaris Umum MATAKIN.

Habis Gelap Terbitlah Terang

Di masa peralihan pemerintahan Presiden KH. Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri, Musyawarah Nasional (Munas) XIV MATAKIN digelar di Asrama Haji Pondok Gede. Munas XIV dibuka oleh Ketua MPR RI, Amien Rais. Pembukaan Munas sempat tertunda beberapa lama, karena pas akan dibuka, listrik padam. Padahal Ketua MPR RI sudah hadir. Karena terlalu lama, akhirnya dicarikan genset cadangan, karena genset yang ada dalam keadaan rusak. Di tengah Sambutan Ketua MPR RI, lampu baru menyala kembali.

Melihat fenomena ini, beberapa orang mulai punya penafsiran dan firasat sendiri-sendiri. Apalagi suasana gelap masih ditambah dengan hujan, Akhirnya setelah mengalami dinamika, Munas pun berakhir dan saya diberi amanat untuk memimpin MATAKIN masa bakti 2002-2006, dengan didampingi Js. Handry Nurtanto dan Js. Lindasari K. Wihardja  sebagai Wakil Ketua Umum, Dq. Dede Hasan Senjaya sebagai Sekretaris Umum dan Js. Henny Loho sebagai Bendahara Umum.

Dalam sambutan pertamanya sebagai Ketua Umum saya mengajak seluruh peserta Munas dan umat untuk optimis menatap masa depan agama Khonghucu. Kegelapan dan hujan yang mengawali pembukaan Munas bukanlah pertanda jelek. Kita harus yakin, sehabis gelap pasti terbitlah terang.


Js. Wawan Wiratma Meneruskan Estafet Kepanitiaan Imlek

Setelah tiga kali berturut-turut Perayaan Tahun Baru Imlek dirayakan secara nasional, tahun 2003/2554 menjadi perayaan pertama setelah Tahun Baru Imlek ditetapkan sebagai Hari (Libur) Nasional pada tahun sebelumnya. Meneruskan estafet kepanitiaan Imlek dari saya sendiri dan Js. Handry Nurtanto, selaku Ketua Umum MATAKIN yang baru saja terpilih menggantikan Ws. Chandra Setiawan, saya segera menetapkan Js. Wawan Wiratma sebagai Ketua Panitia, mengingat jarak waktu tersisa tinggal 2-3 bulan menjelang Imlek.

Puji syukur waktu persiapan yang mepet bisa dimanfaatkan secara baik dan berhasil memperluas relasi dan pendukung Perayaan Imlek, terutama di kalangan masyarakat Tionghoa non Khonghucu. Demikian juga dengan Perayaan Imlek tahun berikutnya, yang semakin diperluas dan mengambil tempat di Jakarta Convention Center.

Memasuki Tahun Pemilu 2004

Meski Tahun Baru Imlek telah ditetapkan sebagai Hari Nasional, namun sejatinya hak-hak sipil umat Khonghucu masih jalan di tempat. KTP Khonghucu masih bermasalah.

Pencatatan pernikahan pasangan Khonghucu juga masih menghadapi kendala. Apalagi hak-hak sipil lainnya, seperti : Pendidikan Agama dan Keagamaan Khonghucu, pendirian Tempat Ibadah Khonghucu, dll.

Maka momen Pemilu 2004 benar-benar dimanfaatkan untuk menjalin dan memperluas lobby-lobby ke berbagai institusi negara seperti : DPR RI dan fraksi-fraksinya, Mahkamah Konstitusi dan lembaga kepresidenan. Lobby serupa dijalin ke partai-partai politik, baik partai nasionalis maupun Islami. Tak ketinggalan kita menjalin dan memperkuat tali silaturahmi dengan para Calon Presiden dan Wakil Presiden, termasuk dengan Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi dan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla.

Lobby dan jalinan komunikasi seperti ini terus dibangun sampai sekarang, termasuk memperkuat jalinan komunikasi dengan tokoh-tokoh puncak masyarakat dan tokoh sentral lintas agama.

Berkat jalinan komunikasi yang kuat, maka secara umum mereka menjadi lebih mengerti persoalan yang dihadapi umat dan lembaga keagamaan Khonghucu. Mereka paham mengapa Khonghucu di Indonesia dihayati sebagai agama, sementara di Tiongkok sendiri hanya sebagai filosofi. Dari pemahaman ini kemudian tumbuh menjadi simpati dan dukungan luas.

Dukungan DPR RI dan Mahkamah Konstitusi

Puncak dari dukungan itu adalah rekomendasi dari DPR RI dan surat Mahkamah Konstitusi yang menegaskan realita keberadaan dan keabsahan agama Khonghucu di Indonesia, yang kemudian menjadi semacam landasan hukum bagi perlakuan/pelayanan pemerintah terhadap umat, kelembagaan dan agama Khonghucu di Indonesia.

Selama ini, pemerintah Indonesia melakukan berbagai kajian tentang agama Khonghucu, sampai ke Tiongkok. Keraguan muncul setelah mendapatkan jawaban bahwa di negeri asalnya, agama yang "diakui" oleh pemerintah Tiongkok tidak termasuk Khonghucu. Namun melalui penjelasan, pembuktian dan argumentasi yang panjang-berliku, akhirnya kebenaran mendapat jalan yang terang. Agama Khonghucu atau Ru Jiao dikembalikan statusnya sebagai agama. Ironisnya, ini belum terjadi di negeri asalnya sendiri, meski ratusan Confucius Institute (Institut Khonghucu) didirikan di berbagai negara oleh pemerintah Tiongkok. Lebih ironis lagi, namanya menggunakan Confucius, bukan Kong Zi atau Kong Fu Zi sebagai nama lazim di negeri asalnya.

Yang perlu diberi apresiasi justru sikap pemerintah Indonesia ketika Confucius Institute masuk ke Indonesia. Menghormati status agama Khonghucu dan Nabi Khongcu/Kong Zi/Confucius, terjemahan Confucius Institute dalam bahasa Indonesia, tidak menjadi Institut Khonghucu, melainkan Pusat Bahasa Mandarin, untuk menghindari kerancuan antara agama dan budaya Tionghoa yang memang dasarnya dilandasi oleh agama Khonghucu.

Indonesia Menjadi Negara Demokrasi III di Dunia

Tak disangka, Indonesia yang lima tahun sebelumnya baru berkutat melepaskan diri dari rezim Orde Baru, dalam waktu singkat telah keluar menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Presiden yang selama ini seakan tabu untuk diganti, kini malah dipilih secara langsung oleh rakyat.

Dalam situasi seperti itu, para tokoh lintas agama - termasuk Khonghucu - tidak tinggal diam. Di samping memberikan pelajaran moral politik, para tokoh agama juga menitipkan program ke para calon presiden, terutama yang menyangkut kebebasan beragama, penghormatan pada pluralisme, rasa keadilan dan hak-hak sipil. Dalam kaitan ini saya dan para tokoh lintas agama juga sempat melobi agar para calon, mantan dan presiden terpilih juga bisa berkumpul dalam satu kesempatan, sebagai contoh bagi rakyat untuk hidup berdampingan secara rukun, meski berbeda pilihan politik.

Tsunami Melanda Aceh dan Nias

Belum genap 100 hari memerintah, Presiden terpilih SBY harus menghadapi ujian maha berat, tsunami maha dahsyat di Aceh dan Nias. Ratusan ribu orang tewas dan hilang. Indonesia menangis, dunia menundukkan kepala. Seluruh anak bangsa terpanggil untuk menolong saudara-saudaranya, dunia tergerak membantu mengulurkan tangan dan simpati.

Keluarga umat Khonghucu pun terpanggil, baik sendiri-sendiri maupun lewat Majelis-Majelis Agama Khonghucu (MAKIN) di berbagai daerah. MATAKIN pun tidak tinggal diam. Bersama-sama dengan organisasi dan tokoh-tokoh masyarakat Tionghoa, didirikanlah Persatuan Masyarakat Indonesia-Tionghoa Peduli Bencana (PERMATA). Saya sendiri bersama dengan 24 tokoh masyarakat lainnya duduk di jajaran Presidium.

Pada Perayaan Tahun Baru Imlek 2004/2555 yang kepanitiaannya diketuai oleh Js. Sugeng Sentoso Imam, dilakukan Deklarasi Pendirian PERMATA, disaksikan oleh Presiden Republik Indonesia.

Kiprah PERMATA tidak hanya berhenti pasca tsunami Aceh. Sampai sekarang PERMATA tetap berkiprah. Yang terbaru PERMATA menolong korban bencana Gunung Merapi.
 
Berkah di Tahun Baru Imlek 2006/2557

Jika pada Imlek 2000/2551 umat Khonghucu dan masyarakat Tionghoa mendapat berkah atas dicabutnya Inpres 14/1967 dan pada Imlek 2002/2553 Tahun Baru Imlek ditetapkan sebagai Hari Nasional, maka pada Tahun Baru Imlek 2006/2557 hak-hak sipil umat Khonghucu mulai dipulihkan, bermula dari Surat Menteri Agama yang menegaskan bahwa agama Khonghucu juga mendapat pelayanan yang sama.

Mengulangi pidato tahun sebelumnya, Presiden kembali menegaskan komitmennya untuk menghapuskan segala peraturan diskriminatif yang membelenggu umat Khonghucu khususnya dan masyarakat Tionghoa umumnya.

Sebelum pidato Presiden, saya membacakan Narasi Imlek yang saya buat khusus dalam bentuk puisi. Begini bunyinya :

Kala angin musim semi menyapa,
Hati ini serasa berbunga,
Sudah enam kali serasa merdeka,
Sudah enam putaran waktu diperlakukan sama,
Disapa dalam jabat dan pelukan mesra,
Oleh saudara sebangsa dan pimpinan negara...

Kala mentari bergerak ke Utara,
Kebekuan berubah menjadi asa,
Mengalir hangat menuju muara,
Menuju adil menuju sentosa,
Menuju bijak menuju paripurna,
Menuju realita yang bukan wacana...

Tapi entah apa yang terjadi,
Keceriaan belum juga sampai ke taraf hakiki,
Kelurusan di atas masih berputar di bawah,
Kebijakan penentu belum menetes ke daerah...

Duka pasangan muda masih terjadi di seantero negri,
Cinta yang indah terganjal restu negara,
Impian hidup bahagia kabur ditelan waktu,
Secarik kertas yang didamba entah kapan bisa diterima???
Sementara itu buah cinta bertumbuh dewasa,
Dengan polos mereka berkata pada Sang Bunda,
Ibu, Guruku bilang agamamu belum ada di sekolah,
Pilih saja yang lain yang engkau suka...

Dan lihatlah apa yang terjadi,
Dokumen resmi telah berubah makna,
Menjadi saksi keterpaksaan,
Agama KTP beda dengan agama iman...

Ah, ah, Saudara,
Ini tahun baru hari bahagia,
Jangan mengeluh pantang berkesah,
Yakin dan percayalah,
Suaramu sudah dibawa angin sampai ke balik istana,
Didengar Sang Arif, Adil, Bijaksana...

Kini imlek pun sudah masuk putaran tujuh,
Saatnya palu harus diketuk,
Saatnya bengkok diluruskan,
Saatnya nurani yang harus bicara,
Saatnya empati mewujudkan makna,
Agar pasangan cinta tak lagi duka,
Agar sang bocah tak lagi gundah,
Dan dokumen negara mencatatkan kebenaran iman!

Selamat Tahun Baru Saudara,
Semoga duka berubah menjadi bahagia.

Huang Yi Shang Di,
Wei Tian You De,
Shanzai

Seperti tahun sebelumnya, pada Perayaan Tahun Baru Imlek kali ini, kepanitiaan tetap diketuai oleh Js. Sugeng Sentoso Imam.

Perkembangan yang Terus Membaik

Di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY, perkembangan agama Khonghucu dari tahun ke tahun mengalami perbaikan. SBY sendiri selalu hadir di setiap perayaan Imlek, baik dalam kapasitas sebagai Presiden maupun sebelumnya sebagai Menteri. Bahkan beliau juga menghadiri Perayaan Hari Lahir Nabi Kong Zi ke 2559 yang digelar di Lapangan Sepakbola Cibinong dan dihadiri 10.000 Umat dan Undangan.

Sementara itu perayaan Imlek semakin berkembang dan selalu diadakan di Jakarta Convention Center. Setelah Js. Sugeng Sentoso Imam, pemegang tongkat estafet selanjutnya adalah Dq. Joko Susanto pada 2007/2558, Dq. Peter Lesmana pada 2008/2559, Dq. Dede Hasan Senjaya pada 2009/2060 dan Js. Henny Loho pada 2010/2061.

Secara keseluruhan pelaksanaan Perayaan Tahun Baru Imlek selalu berjalan lancar, mulus dan sukses. Namun pada perayaan tahun 2007/2558 terjadi dinamika yang menyebabkan ketidakpastian penyelenggaraan Imlek sampai H-1. Ada keinginan pihak lain untuk menyelenggarakan Imlek nasional, meski sejak awal sudah jelas bahwa secara resmi Presiden hanya hadir sekali dalam setiap perayaan keagamaan resmi, kecuali yang terkait dengan Islam.

Presiden hadir dalam Perayaan Natal, Nyepi, Waisak dan Imlek, sebagai simbolisasi dan bentuk penghormatan pemerintah dan negara pada hari-hari besar umat dan agama Kristen-Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu. Akhirnya berkat kebijakan Presiden yang memang mengikuti Perayaan Tahun Baru Imlek dan mengetahui kiprah MATAKIN sejak awal, beliau memutuskan untuk hanya hadir pada Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional yang diadakan MATAKIN, yang merupakan wadah umat Khonghucu Indonesia satu-satunya. Beliau juga menegaskan bahwa hal semacam ini, tidak boleh terjadi di masa depan.

Hak-hak sipil dan pelayanan terhadap umat Khonghucu kemudian berangsur-angsur pulih secara keseluruhan. Meski masih ada masalah di beberapa daerah, secara umum umat Khonghucu sudah terlayani mendapatkan KTP sesuai agama yang diimaninya.

Dalam hal pencatatan sipil bagi pasangan Khonghucu, secara umum juga tidak bermasalah. Kalau pun masih ada masalah, itu semata disebabkan belum lengkapnya kehadiran MAKiN di seluruh tanah air.

Dokumen pencatatan sipil lainnya - baik yang resmi dari pemerintah maupun swasta - secara bertahap mulai menuliskan Khonghucu sebagai salah satu pilihan agama, seperti yang tercantum dalam doa perjalanan Garuda Indonesian Airways, Lion Airways, dsb. Meski belum menyeluruh, rasanya waktu yang akhirnya akan menentukan semuanya.

Meski pencatatannya masih belum sempurna, dalam Sensus Penduduk Nasional 2010 juga sudah mencantumkan agama Khonghucu. Demikian juga halnya dengan Formulir Pendaftaran Pemilih dalam Pemilu, termasuk sumpah untuk Anggota DPR/D yang beragama Khonghucu. Memang hasil dan akurasinya kita belum tahu. Namun sebagai langkah maju, bagaimana pun juga itikad dan niat baik pemerintah perlu kita hargai sebaik-baiknya.

Pendidikan Agama dan Keagamaan Khonghucu juga sudah menunjukkan titik terang. Beberapa peraturan pemerintah maupun keputusan Menteri Pendidikan Nasional juga sudah memberi ruang dan kesempatan yang sama untuk pendidikan agama dan keagamaan Khonghucu. Standar kurikulum sudah dibuat, bahan ajar agama Khonghucu praktis sudah final disetujui dari tingkatan SD hingga SMA. Workshop dan lokakarya untuk para calon guru juga sudah berkali-kali diadakan di berbagai kota oleh Kementerian Agama cq. Pusat Kerukunan Umat Beragama bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional.

Yang kini menjadi pekerjaan rumah dan perlu ditindaklanjuti adalah implementasi di lapangan,   pengembangan Sekolah Tinggi untuk mencetak guru agama Khonghucu dan penerbitan buku-buku dan bahan ajar agama Khonghucu.

Dalam hal pendirian tempat dan rumah ibadat, bisa dikatakan tidak mengalami masalah. Bahkan akhir tahun ini kita bisa menyelesaikan pendirian Rumah Ibadat Agama Khonghucu yang cukup besar dan megah di Taman Mini Indonesia Indah.

Rumah ibadat yang diberi nama Kelenteng "Kong Miao" ini terdiri atas tiga bangunan : Tian Tan (Altar Persembahyangan untuk Tuhan), Da Cheng Dian (Kelenteng Nabi Agung) dan Qi Fu Dian (Kelenteng Keberkahan) yang dilengkapi dengan Zao Jun Dong (Pendapa Malaikat Dapur) dan ornamaen –ornamen lain yang indah

Permasalahan tempat atau rumah ibadat yang masih mengganjal dan berpotensi menjadi bom waktu adalah soal Kelenteng lama yang sebagian telah diganti nama menjadi Vihara. Mengenai hal ini kami sudah menghadap Menteri Agama dan Presiden RI agar dapat diselesaikan secara bijaksana. Mudah-mudahan penuntasannya tidak terlalu lama.

Mengenai struktur pelayanan agama Khonghucu di Kementerian Agama, sampai sejauh ini masih dicantolkan di bawah koordinasi Pusat Kerukunan Umat Beragama di tingkat Pusat dan Bagian Administrasi di tingkat Daerah. Ke depan kami mengusulkan bisa di tingkat Direktorat Jenderal atau setidaknya di tingkat Direktur. Kalau pun belum bisa dilakukan, setidaknya ada nomenklatur tersendiri yang secara jelas menyebutkan agama Khonghucu.

Sementara itu, dalam kaitan kerja sama lintas agama atau agama dengan negara, negara sahabat maupun organisasi internasional, MATAKIN dan tokoh agama Khonghucu acapkali diajak dan diikutsertakan bahkan sampai ke forum-forum interfaith internasional di Malaysia, Filipina, Campuchea, Tiongkok, Australia, Selandia Baru, Belanda, Amerika Serikat dan bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dalam hal anggaran, meski tidak diberi anggaran langsung, namun banyak aktivitas MATAKIN dan MAKIN-MAKIN sudah dibiayai dari anggaran Kementerian Agama, Pemerintah Daerah setempat, maupun bekerja sama dan dianggarkan dari berbagai Departemen : Dalam Negeri, Luar Negeri, Pertahanan, Hukum dan HAM, Komunikasi dan Informasi, Pemuda dan Olahraga, Pemberdayaan Perempuan, Keluarga Berencana dll.

Tantangan ke Depan

Meski belum sempurna seratus persen, praktis keberadaan agama dan kelembagaan agama Khonghucu sudah mendapat tempat dan pengakuan sederajat. Demikian juga dengan hak-hak sipilnya. Secara bertahap sudah dipulihkan satu-persatu. Sekarang tinggal bagaimana kita menjawab semua tantangan yang ada. Seluruh umat Khonghucu, terutama generasi mudanya harus lebih tekun memacu diri, belajar lebih pintar dan keras, memperbesar jiwa pengabdian dan pengorbanan, lebih serius terlibat dalam organisasi, keumatan dan hubungan kemasyarakatan, serta memupuk keberanian untuk mengemban amanat dan meneruskan tongkat estafet kepemimpinan.

Banyak masalah yang harus kita hadapi secara spartan dan bersamaan, baik yang menyangkut aspek : kerohanian/keagamaan, pendidikan agama dan keagamaan, organisasi dan kaderisasi kepemimpinan, penerbitan dan informasi, pembangunan, pembenahan dan pengelolaan tempat ibadah, dll. Namun apapun dan berapa pun masalah yang kita hadapi, ujungnya adalah masalah kualitas sumber daya manusianya. Kalau SDM bisa dibangun, maka semua persoalan pasti bisa dijawab dengan baik.

Terkait dengan hal di atas, maka generasi muda selaku pemilik masa depan, harus benar-benar bisa menghayati peran dan tanggung jawabnya. Dengan berpedoman pada semangat untuk mewujudkan Zhi (Kearifan, Kebijaksanaan, Pencerahan, Visi, Misi dan Kemampuan Manajerial), Ren (Cinta Kasih, Ketulusan, Semangat Pengabdian) dan Yong (Keberanian Sejati, Kebenaran, Kesusilaan, Tahu Malu), semua beban dan tantangan yang bagaimana pun beratnya, dengan restu Tian, niscaya bisa diatasi.

Renungan Anak Kampung Paweden

Merenung dan menapaktilasi pengabdian 18 tahun di pusat denyut nadi dinamika umat Khonghucu Indonesia, serta menerawang kembali 50 tahun perjalanan hidup saya sebagai seorang  umat manusia, tak ada kata yang lebih tepat yang bisa saya ucapkan selain terima kasih dan rasa syukur yang amat sangat dalam ke Hadirat Tian, Tuhan Yang Maha Esa serta terima kasih tulus kepada orang tua, guru dan para sahabat.

Saya, seorang anak Kampung Paweden Tegal, sebuah kampung yang dulu terkenal sebagai Las Vegasnya kota Tegal, anak tunggal dari keluarga sederhana, telah diberi kemurahan dan karunia yang luar biasa dari Tian, untuk ikut menyumbangkan karya besar yang berguna bagi masyarakat banyak.

Karunia pertama, saya bisa diterima di salah satu perguruan tinggi utama Indonesia tanpa harus merepotkan orang tua, terutama dalam hal dana. Demikian juga ketika saya harus meneruskan ke jenjang pendidikan lebih tinggi.

Kedua, mendapat kesempatan dan tanggung jawab untuk memimpin operasional penulisan ensiklopedi terbesar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia, yang melibatkan 400 kontributor putra-putri terbaik bangsa dari segala bidang ilmu. Dalam waktu yang sama mendapat kesempatan dan peran untuk menyusun ensiklopedi sejenis untuk anak-anak.

Ketiga, dengan pengalaman yang sama sekali nol, mendapat kesempatan untuk memimpin Kepanitiaan Konvensi Penyembuh Prana (Chi) Dunia II dan V di Jakarta dan Bali.

Keempat, kembali mendapat kesempatan sejarah mengawali dan menjadi Ketua Panitia Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional pertama sepanjang sejarah Republik Indonesia, termasuk mengawalnya sampai ke sebelas dan dua belas kali berturut-turut.

Kelima, mendapat karunia dan kesempatan besar sejarah untuk bersama teman-teman pengurus dan umat Khonghucu memulihkan hak hidup dan hak sipil umat Khonghucu, yang meliputi : pencatatan sipil, KTP Khonghucu, pendidikan agama dan keagamaan Khonghucu, sensus penduduk, struktur pelayanan di Kementerian Agama, Perayaan Harlah Nasional Pertama yang dihadiri Presiden Republik Indonesia, pendirian Rumah Ibadat Agama Khonghucu : Kelenteng "Kong Miao" di Taman Mini "Indonesia Indah", dll. Dengan demikian bisa dikatakan praktis semua pekerjaan rumah dari luar sudah terselesaikan, meski belum sempurna.

Sekarang, di penghujung tahun 2010, saya hanya punya satu impian, agar MATAKIN tetap tegak berdiri membawa panji-panji ajaran agama Khonghucu, teguh dalam prinsip-prinsipnya yang berlandaskan ajaran Nabi Kong Zi, semakin maju dalam karya dan sumbangannya bagi bangsa dan kemanusiaan, dan dipimpin oleh generasi muda yang jauh lebih pintar, lebih tangguh, lebih bijak dan lebih segalanya dari seorang anak kampung Paweden, Tegal.

Generasi mudalah yang harus tampil. Masa depan adalah milik generasi muda. Merekalah yang tahu persis mau dan harus bagaimana. Sejarah MATAKIN selalu membuktikan tidak pernah kekurangan generasi muda. Saya dan generasi yang lebih tua, harus berani undur diri.

Melangkah surut ke belakang. Bukan untuk melepas tanggung jawab. Tetapi memberi ruang dan kepercayaan kepada mereka yang lebih muda usia, lebih muda pengalaman dan lebih muda spirit dan semangatnya.untuk maju ke depan.

Saya, para senior saya dan generasi yang usianya lebih tua dari tua dari saya, tidak boleh ragu bahwa generasi muda pasti bisa melakukan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. Kita yang lebih berumur harus tahu diri bahwa jarum jam kehidupan tidak bisa diputar mundur. Saatnya surut dengan terhormat.

Ayo Generasi Muda Khonghucu. Siap dan terimalah estafet tanggung jawab dan panji-panji agama Khonghucu. Lanjutkan dan Kembangkan !!

Shanzai.


* Ws.Budi S. Tanuwibowo, Ketua Umum MATAKIN 2006-2010

You have no rights to post comments

Berita Foto

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Prev Next

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

11-09-2017 Hits:186 Berita Foto

Dokumen Gili Iyang Dan Gili Labak Tour

Perjalanan Tour Jalan Sehat Trawas menuju ke dua Pulau Gili Iyang dan Gili Labak.

Read more

Pertemuan Di Polda jatim

08-09-2017 Hits:179 Berita Foto

Pertemuan Di Polda jatim

Surabaya, 8 September 2017. Silaturahim Kapolda Jatim bersama Forum Kerukunan Umat Beragama dalam Rangka Harkamtibmas.

Read more

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

08-09-2017 Hits:112 Berita Foto

Tenaga Pendidik Khonghucu Di Pangkal Pinang

Kegiatan Peningkatan Kualitas Kompetensi Tenaga Pendidik Agama Khonghucu Tahun 2017 yang diadakan di Hotel Puncak Lestari Pangkal Pinang mulai tgl....

Read more

Js. Maria Berpulang

07-09-2017 Hits:651 Berita Foto

Js. Maria Berpulang

Berita berpulangnya Js.Maria Engeline sangat mengejutkan bagi kita semua

Read more

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

05-09-2017 Hits:601 Berita Foto

Sembahyang Leluhur: Tradisi Atau Agama?

Talkshow interaktif dengan Nara Sumber Js. Liem Liliany Lontoh; Hotel Aston ruang Asoka Lt. 2; Manado, 01 September 2017.

Read more

Anti Narkoba

28-08-2017 Hits:111 Berita Foto

Anti Narkoba

Surabaya, 28 Agustus 2017 pertemuan BNN (Badan Narkotika Nasional) di Hotel Santika Surabaya yang dihadiri oleh beberapa sukarelawan.

Read more

Pulau Nan Indah

22-08-2017 Hits:191 Berita Foto

Pulau Nan Indah

Kami mengajak para pencinta alam Indonesia untuk berkeliling ke tiga pulau di Wilayah Sumenep-Madura.

Read more

Tokoh Matakin Berpulang

08-08-2017 Hits:1145 Berita Foto

Tokoh Matakin Berpulang

Wu Hu Ai Zai, telah kembali ke Haribaan Huang Tian, Xs Hanom Pramana Buanadjaja (Phwa Tjhiang Han/Pan Chang Han 潘昌汉)...

Read more

Nganjuk Penuh Kedamaian

27-07-2017 Hits:307 Berita Foto

Nganjuk Penuh Kedamaian

Kunjungan FKUB provinsi Jatim hari kedua di FKUB Kabupaten Nganjuk. Kunjungan di Nganjuk diterima di kantor Kesbangpol. Hadir dalam pertemuan...

Read more

FKUB Jatim Turba

26-07-2017 Hits:178 Berita Foto

FKUB Jatim Turba

Rapat koordinasi dan silaturahim FKUB Kabupaten Mojokerto yang dihadiri oleh jajaran pengurus FKUB Kabupaten Mojokerto, Bupati dan para Camat, Bakesbangpol,...

Read more

Harmoni Hidup & Keseimbangan Bisnis, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

 

Bisnis Yang Beriman & Beretika, karya dari  DR. Drs. Ongky Setio Kuncono, SH, MM, MBA

Gallery Download

Download Cahaya Setia 421-430

Silahkan Download Puisi ber-Gambar yang dapat dipakai untuk Profile Picture, Avatar, dll

Infografis & Slide

Foto Bersama di Khongcu Bio Denpasar

---------------------------

Foto Bersama Dispenkasi XXVII Bogor

 

Polling

Kegiatan Apa Yang Paling Anda Senangi Ketika Di Tempat Ibadah?

Berdoa / Sembahyang - 100%
Menyanyi / Bermain Musik - 0%
Mendengarkan Kotbah - 0%
Berdiskusi - 0%
Bertemu Teman-Teman - 0%

Total votes: 8
The voting for this poll has ended on: March 9, 2014

Who's Online

We have 88 guests and no members online

Kementrian Hukum & Hak Asasi Manusia
Hak Cipta Spoc Study Park Of Confucius No. 064687, Tanggal 25 Maret 2013

web development by harmonydesain.com